Cerita Dewasa – Cerita Mesum

Posted on April 5, 2014 | Category :Cerita Mesum | No Comments

Ceritasexterbaru.com:

http://www.difunde.com Cerita Dewasa, cerita 17 tahun, cerita seks, cerita tante girang, cerita malam pertama, cerita panas. Fri, 27 Apr 2012 17:49:14 +0000 en hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.3.1 http://www.difunde.com/bercinta-dengan-gadis-medan.html http://www.difunde.com/bercinta-dengan-gadis-medan.html#comments Fri, 27 Apr 2012 17:49:14 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=157

Kejadiannya sekitar tahun 2011 di Medan tempat aku kuliah di Universitas negri disana. Waktu itu usiaku gak lebih dari 24 tahun…dan aku juga belum pernah sekalipun melakukan hubungan sex dengan wanita siapapun. Dulu aku hanya melakukan Onani ataupun paling jauh melakukan Oral Sex dan Petting dengan Pacarku ataupun beberapa teman cewekku yang menjadi TTM ku.

Sampai akhirnya pada suatu malam, karena kebiasaan ku Clubbing dengan teman-temanku Iwan dan Are, aku berkenalan dengan seorang pengusaha malaysia di Pub Malem TVRN di senuah Hotel mewah di Medan. Bang Fandi begitulah namanya menawarkan minuman kepada kami, dan kebetulan disana sudah ada dua cewek cantik yang akhirnya ku kenal dengan nama Fitri dan Lili.

Dari awalnya aku sudah tertarik dengan Lili, cewek yang berhidung mancung, cantik putih dan berbadan cukup indah. sementara Fitri kulihat sedang bercengkrama dengan Are.

Kamipun ngobrol ngalor ngidul, dan minum sampe setengah sadar. Tapi karena aku orangnya susah mabok, maka long island ataupun minuman yg laein bagaikan orange juice saja buatku.

Tak terasa sudah pukul 3 pagi, dan keadaan hujan ders diluar. Karena susah pulang maka kami tawarkanlah Lili dan Fitri untuk pulang bareng dengan kami. Karenakeadan hujan, Bang Fadli menawarkan membuka dua buah kamar di hotel tempat pub tadi berada. Kamipun setuju. Tapi hanya Iwan dan aku saja yg menginap, sementara Are pulang langsung krumahnya, smentara Lili dan Fitri buka kamar disebelah kamar kami.

Setelah kurang lebih 1 jam di kamar, aku dan Iwan mulai gelisah karena kedinginan dan horny mengingat ada dua cewek cantik tinggal disebelah kamar hotel kami.

Akupun dengan nekat menuju sebelah kamar dan mendapatkan Lili dan Fitri menggunakan Tanktop dan celana Hotpan, ternyata mereka juga belum tidur.

Entah kenapa seperti membutuhkan kehangatan, akupun bergabung bersama mereka. Aku duduk di tempat tidur Lili dan bercerita berdua. Sementara tak berapa lama di tempat tidur satunya lagi Fitri sudah tertidur. Entah bagaimana ceritanya, akupun sudah dalam satu selimut dengan Lili. Perlahan karena suasana yang dingin, kupeluk dia dan mulai kucium dan kukulum bibir mungilnya, ternyata dia membalas. Perlahan kubuka pakaiannya dan kubuka bh nya. Disini mulai memanas, karena dengan berani tangannya bermain di ****** ku. Kukulum puting susunya, kujilat dan kuhisap hisap dan kuremas-remas buah dada ranumnya dengan penuh nafsu sampai Lili mendesah dan berkata, ” Ah…ndre, kamu pintar mencumbu ya..” Lili terus mengerang membuat kontolku semakin menegang keras. Ternyata Lili tidak tahan. Kepalanya langsung menuju kebawah dan membuka celanaku dan langsung menghisap Kontolku yang sedang tegang.
“Li…pelan-pelan, Fitri sedang tidur..”
Lili hanya tersenyum dan berkata “biarin gak apa-apa ndre..”, sambil terus mengulum dan menghisap-hisap ****** ku…Ternyata Lili lebih jago mengulum kontolku daripada mantan mantan pacarku dulu, dan tanpa sadar celana dalam kami sudah entah kemana.

Untuk pertama kalinya aku akan melakukan penetrasi kedalam Mrs V Lili. Dengan sedikit deg degan dicampur nafsu, kumasukkan batang penisku kedalam vaginanya, dan ‘sleb’…kehangatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya terasa diseluruh batang kontolku yang menegang. Lili langsung mengerang “Aaaaaghhh…Panjangnya Ndree..”
Aku tersenyum dan mulai menggerakkan badanku maju mundur. Ternyata begitu nikmatnya melakukan hubungan sex itu. Aku sampai tak sadar karena begitu nikmat dan benar-benar surga dunia. smpai akhirnya tiba-tiba terdengar suara Fitri..” Li..besok jangan kesiangan ya…!” Kami terdiam sejenak. Apakah Fitri tau perbuatan kami, tapi karena posisi lampu agak gelap, aku tidak melihat kalau Fitri terbangun atau tidak.

Pelan-pelan kuberbisik ke telinga Lili, “Di kamar mandi aja gimana Li..?” Lili mengangguk setuju, perlahan2 dengan badan telanjang kami pindah ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.

Dikamarmandi aku mengambil posisi duduk sementara Lili mengambil inisiatif untuk berada diatas dan menggoyang, memutar, dan membuat kontolku terasa seperti masuk kedalam lubang yang nikmat dan sangat hangat dan menghisapnya.

Tapi beberapa saat sebelum aku ejakulasi aku lihat ekspresi muka Lili yang berubah, dan tak lama dia mengerang penuh kenikmatan. Ternyata di Orgasme duluan, langsung dipeluknya tubuhku yg basah olh keringat, dan menciumi bibirku, mengulumnya dan mengerang serta mendesah penuh kenikmatan.

Aku tersenyum dan memeluknya, sambil berkata, “Yang aku belum keluar lo Li…kamu hutang satu…” Lili tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Maunya kapan.. sekarang..? Tanpa persetujuan dariku Lili langsung kembali menundukkan kepala mengulum Kontolku yang masih basah oleh cairan Orgasmenya, dan dengan cara yang sangat ahli dia menggoyangkan lidah, menggigit kecil kontolku, menghisap, mengulum. menjilati buah zakar sampai keujung kepala penisku. Ampun…aku gak tahan, dan gak kuat lagi…tangannya mengocok batang kontolku sambil mengulumi bagian kepala penisku. Sapai akhirnya aku terengah engah mengatakan, “Li..udah..udah…ampun…dahsyat…enak banget Li…ampun…udah mau keluar Li, berhenti…Please..” Dan bukannya berhenti, tapi Lili semakin ganas mengulum, menjilat, mempermainkan kontolku, kedua tangannya mengocok dan memijit semua daerah paling sensitifku…sampai akhirnya aku gak tahan lagi, disaat dia masih mengulum kepala penisku keluarlah semua sperma yang banyak sekali, memenuhi isi mulutnya dan sebagian wajah cantik Lili. Aku mengerang kenikmatan…AAAAAKKKHHHH…Dan berakhirlah puncak kenikmatan malam itu…Sambil mengelap wajahnya dan sebagian toketnya yang terkena Spermaku Lili tersenyum dan berkata ” Besok kamu harus kerumahku…kita ulangin lagi tanpa rasa takut ketauan Fitri ya…” Aku tersenyum dan menganggukan kepala tanda setuju.

Begitulah pengalamanku bercinta dengan Lili, dan ini bukan one night stand, karena setelah itu kami tetap saling telpon, bertemu, mkan malem, jalan berdua, dan melakukan aktifitas sex layaknya suami istri karena Lili tinggal sendiri dirumahnya bersama kakak perempuannya yang sering keluar kota, sehingga hubungan kami berjalan selama kurang lebih dua tahun sampai akhirnya harus berpisah karena kau harus pindah ke jakarta. Dan kabar terakhir aku mendengar dia sudah menikah dengan pengusaha dari malaysia dan mempunyai seorang anak yang diberi nama Seliandre yang kata temen2nya singkatan Selalu Lili dan Andre. Aku gak tau apa benar apa enggak, yang pasti aku masih selalu teringat kegilaan dan kenikmatan yang aku alami selama menjalani hubungan tanpa status dulu dengan Lili.

]]>
http://www.difunde.com/bercinta-dengan-gadis-medan.html/feed 0 http://www.difunde.com/cewe-counter-fastfood.html http://www.difunde.com/cewe-counter-fastfood.html#comments Fri, 27 Apr 2012 05:49:27 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=154

Satu malem aku nonton ndirian, tentang kiamat yang lagi heboh itu. bubaran filmnya, aku mampir ke satu resto fast food yang buka 24 jam, wah penuh deh ma orang2 yang idupnya malem, abege, tante2, dan sebangsanyalah. Karena laper aku pesen roti burger dan kopi panas. Saat itu dah ampir tengah malem, maklum deh aku nonton show yang terakhir. Di counter aku dilayani ma cewek, manis banget deh, toketnya lumayan menonjol dibalik seragamnya. Di dadanya ada name tagnya, terbaca namanya Mita. aku gangguin ketika pesen kopi, dia nanya, “pake susu gak om”. “Pake susunya Mita bole gak “. “enak aja si om” sembari tertawa geli. “Ya enaklah kalo dikasi Mita”. Dia cuma tersenyum. Aku menikmati roti dan kopi dipojokan. Gak lama aku duduk dipojokan itu, Mita menghampiriku membawa peralatan pembersih meja. Dia membersihkan meja yang berada disebelahku. Ruangan tempat aku duduk itu berupa lorong sehingga meja disusun jejer berdua, masing2 sisi menempel ke tembok sehingga ada space diantara 2 meja untuk lalulalang. Karena seragamnya yang mini, waktu Mita membungkuk diatas meja untuk menjangkau sisi meja yang menempel ketembok, roknya sangat terangkat sehingga aku bisa melihat pantatnya. Gak kelihatan cd, mungkin dia pake g string. Selesai membersihkan meja, dia beralih ke meja didepanku. Mejaku enggak karena masi ada aku duduk disitu. “Kok malem2 gini bebersih meja sih”. “Itu prosedurnya om kalo mo ganti shift”. “O abis ini kamu pulang”. “Iya om, shift ketiga dah standby, jadi kita shift dua kudu membersihkan semua meja. Memang dimeja lain yang gak didduduki tamu tampak cewek dengan rok mininya membersihkan meja, pemandangan indah melihat pantat cewek2 itu. “Mit, kamu gak pake cd ya”, kataku to the point. “enak aja, pakelah om, mo liat”. “Ya kalo mo liat cd nya kamu ya gak disini lah”. “Bole dimana ja om mau”. “Bener nih”. “siapa takut”. “Ya udah, aku tunggu sampe kamu selesai jam kerjanya”. Mita berlalu sambil tersenyum. Rupanya resto fast food 24 jam ini bener kata orang, banyak berkumpul prempuan2 bispak, sehingga banyak lelaki yang datang ekseini bukan untuk ngopi atawa makan burger tapi untuk berburu bispak. Gak taunya cewek counternya bispak juga. Gak apa sih, Mita cukup menggugak hasratku untuk menggelutinya malem ini.

Selesai kerja, Mita mengenakan pakeannya yang bukan seragam, biasalah jins ketat dan tanktop ketat juga yang menonjolkan lekak lekuk bodinya yang semlohai. Kamu cantik ya Mit, montok lagi”. “Ah si om bisa aja, temen2 Mita juga seksi semuanya”. “Kamu suka jalan ma tamu ya Mit”. “Kalo Mita suka ma tamunya dan tamunya ngajak ya Mita mau juga”. “Wah berarti kamu suka ma aku dong ya. Biasanya jalan kemana Mit”. “Karena dah tengah malem gini ya cek in ke hotel lah, kemana lagi”. “asik dong, brapa ronde maennya”. “Sukanya sih sampe pagi, 2-3 ronde gitu deh”. “Nikmat dong kamu”. “Ya nikmatlah om, kalo enggak nikmat ngapain juga dilakuin. Om ngelakuin juga karena pengen nikmat kan”. “Yoi”, jawabku. Mobil meluncur ke kediamanku. “Kamu masi sekolah Mit”. “Gak om, gak ada biaya, abis Smu ya Mita kerjalah disitu. Abis kerjaannya gampang, gak perlu keterampilan khusus”. Mangnya gak di train dulu sebelum kerja”. “Ditrain sih om sebulan, mulai dari bersihin wc dan dapur, bersihin piring, bersihin prabot masak, masak burger dan nyiapin pesanan tamu, sampe ngelayani tamu di counter”. “Terus kamu milih di counter ya, supaya bisa jalan ma tamu”. “Si om, bisa aja. Mita salah mulu kalo nyediain pesanan, palagi masak burgernya, makanya kerjaan Mita ya cuci piring dan ngelayanin tamu”. “Baiknya kamu gak didapur ya Mit”. “Napa om”. “Kalo kamu didapur aku gak bisa ketemu kamu dong”. “Iya ya, kita mo kemana ni om”. “Kerumahku ya”. “Kerumah, mangnya om gak takut ma yang dirumah”. “Yang dirumahku ya cuma aku, bentar lagi ma kamu”. “O tinggal sendiri toh, mau gak Mita temenin”. “Bener nih Mita mo nemenin aku”, agresif banget ni cewek pikirku. “Mau om, mita suka kok liat om, om tipenya Mita banget”. “Mangnya tipenya Mita kaya apa”. “Ya kaya om lah, ganteng, umur gak abege, atletis lagi badannya. Suka fitness ya om”. “Ya sekali2″. “Yang duakali2 diranjang ya om”. “Kok duakali2?” “Ya sekalinya kan di fitness center, duakalinya ya di ranjang, tul gak”. “Tul skale, pinter kamu, kamu kan fitnes nya juga diranjang kan, 3 ronde maen kan cape juga kaya ikutan fitnes”. “Cape sih om, palagi kalo bisa trus2an”. “wah kuat banget bisa trus2an”. “Ada juga sih om, tapi gak banyak, umumnya abis keluar ya istirohat dulu, napsu lagi baru maen lagi”. “Iya, jadi kamunya bisa istirohat juga”.

Kita dah sampe ke rumahku. aku membuka pintu pager dan pintu garsi, mobil masuk langsung ke garasi. Aku menutup pintu pager dan pintu garasi, Mita kugandeng masuk ke rumah lewat pintu penghubung anatar garasi dan dapur. “wah rumah om asik ya, minimalis banget. Karena aku tinggal sendiri maka rumahku gak besar, ada ruang tamu, ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga, dapur, tempat cuci pakean ada dihalaman belakang. Halaman belakang didisain agak luas, ada saung dipojok tembok halaman. “Tu saung buat apa om”. “Ya buat maen lah Mit, asik kan diudara terbuka”. Mita kugandeng menuju ke saung. Disaung ada matrasnya, lampu kunyalakan, redup jadi suasananya temaram. Kelambu yang ada di 3 sisi saung kulepas sehingga bisa menangkal nyamuk mengganggu, masih kutambahi juga dengan obat nyamuk yang harum. Aku menyalakan lilin aroma terapi untuk menambah romantisnya suasana. “wah om romantis amir”. “Kok amir Mit”. “Iya om, amat lagi cuti, yang ada amir”. “Bisa ja kamu”. Aku mengajak Mita duduk di matras, aku masuk lagi kerumah mengambil minuman kaleng cukup banyak”. “Banyak banget om minumannya”. “Kali nanti aus, daripada mondar mandir”.

Mita berbaring di matras, aku disebelahnya. Kelambu yang menutupi bagian depan saung kuturunkan juga. Aku menelungkup sedang Mita telentang. “Mit, kamu cantik ya, suka aku ngeliat kamu”. “Makanya om, mau gak Mita temenin tinggal disini”. Aku hanya tersenyum, pelan tapi pasti bibirnya kukecup. Mita kaget karena tindakanku itu, tapi dia segera merangkul leherku dan menyambut ciumanku. Cukup lama kami berciuman, aku mulai meraba toketnya, kuremas pelan. Mita melenguh, “om…” rupanya dia mulai terbakar juga. aku meremas toketnya dengan gemas, bergantian yang kiri dan kanan, sementara itu ciuman masih terus kulakukan. “Om….” Mita makin melenguh. “Mit, buka ya pakean kamu”. “Bukain dong”, jawabnya manja.

Tanktopnya kulepas, tersembullah toketnya yanmg montok dibalik branya yang kayanya kekecilan sehingga gak bisa meanampung seluruh toketnya, pentilnya yang besar menonjol dari balik branya. Segera pentilnya kumainkan dengan jari, “Om, diemut dong pentil Mita”. Pentilnya segera kujilati sambil terus meremas toketnya. Karena branya mengganggu usahaku utnuk mengemut pentilnya, segera kaitannya dipunggungnya kulepas sehingga terbebaslah toket montoknya dari branya. Pentilnya yang kecoklatan sudah mengeras, pertanda Mita juga sudah napsu. Kembali pentilnya kujilati dan kemudian kuemut pelan. “Om….”, lenguh Mita lagi. Toketnya terus kuremas gemas, kemudian tanganku menjalar kebawah, memainkan pusernya. Dia menggeliat kegelian, “Om, geli…” Tanganku terus saja menjelajah kebawah, kancing jinsnya kulepas, ritsluitingnya kuturunkan.

Tanganku menyusup kebalik cdnya, jembutnya lumayan lebat, teraba oleh jariku. Karena jinsnya ketat, jariku gak bisa menyusup sampe ke ke area nonoknya. Aku bangkit, kulorotkan jinsnya, Mita menganghkat pantatnya supaya aku mudah melepaskan jinsnya. Tinggallah gstring yang menutupi nonoknya, bener dugaanku. “Om dingin”, lenguhnya lagi. “Wah kamu cuma pake g string napsuin banget deh Mit. “Kalo dah napsuin kok om masi pakean lengkap”. Aku segera melepas pakeanku juga. Mita membelalak melihat kontolku yang kepalanya nongol dari atas cdku yang minim. “Ih, kon tol om gede ya, panjang lagi”. “Mangnya kamu belon pernah liat yang gede”. “Yang gede si sering, tapi kon tol om gede banget, wah sampe pagi ni ya om”. “Iya sayang, sampe kamu terkapar”. “wah nikmatnya, Mita dah pengen ngerasain dimasukin kon tol gede panjang kaya om punya deh”.

Aku mulai lagi merangsang Mita, Mita mengangkangkan pahanya ketika jariku mulai mengelus selangkangannya. Gstringnya dah basah, kayanya lendir nonoknya Mita dan banjir nih, dah siap banget buat dientot. Jariku nyelip kebalik g stringnya, mulai mengakses nonoknya. Terasa lendir yang membasahi nonoknya, jariku terus menyusup menjelajahi permukaan nonoknya sampe menemukan itilnya. Segera itilnya kuelus2 dengan jari, ini membuat Mita menggeliat2 saking napsunya, “Om, Mita dah pengen dimasukin om”. Aku gak perduli dengan lenguhannya, aku terus saja mengilik2 itilnya sehingga Mita makin menggelinjang gak karuan.

Setelah beberapa lama, kulepas gstringnya, jembutnya yang lebat melingkari daerah nonoknya, berbentuk segi3. aku menelungkup diselangkangannya dan mulai menjilati itilnya. Mita makin gak karuan ketika itilnya kuemut2. Gerakannya sangat liar, pertanda napsunya sudah sangat memuncak. “Om, ayo dong dimasukin, Mita dah gak tahan nih, om jahat deh, maenin Mita kaya gini”. lenguhnya sembari terus menggeliat2. kontolku terasa keras sekali, sudah siap untuk mengaduk2 no nok Mita. Cdku kulepaskan. “Om dah napsu ya”, masih bisa juga dia menggodaku. “Siapa yang gak napsu ngeliat kamu yang merangsang kayak gini”, jawabku sambil kembali meremas toketnya. pentilnya kuplintir2 juga.

Dia berbaring telentang. Paha dikangkangkannya sehingga nonoknya yang berwarna merah kehitaman merekah mengundang kontolku untuk segera memasukinya. Aku mengurut kontolku yang sudah ngaceng berat sambil sambil meraba dan meremasi toketnya yang sudah mengencang itu. Dia menjadi makin bernapsu ketika aku kembali meraba nonoknya dan mengilik itilnya. Dia meraih kontolku dan dikocok pelan. “Om geli, enak”, erangnya sambil mempercepat kocokan pada kontolku. Kuremasi toketnya sambil mengilik itilnya. nonoknya sudah makin kuyup saking napsunya. Dia meraih kontolku dan kuarahkan ke mulutnya. Dijilati seluruh kontolku dari ujung kepala sampai ke biji pelirnya, tak lupa dikulum sambil sesekali di sedot dengan kuat. “Ufffffff enak sekali Mit, terusin isapnya….isap yg kenceng”, aku mendesah2. Karena dia sudah nafsu, dengan kuat disedotnya ujung kepala kontolku sambil sesekali menggunakan ujung lidahnya memainkan lubang kencingnya. Segera aku memposisikan diriku supaya bisa menjilati dan menghisap nonoknya yg sudah terbuka itu. Ketika aku kembali menjilati itilnya dia mengelinjang kenikmatan sambil kepalaku di kempit dengan kedua belah pahanya, agar aku lebih lama menjilati nonoknya. Dengan dua jari, jari tengah dan telunjuk kumasukkan ke dalam nonoknya dan kukocok dengan lembut hingga dia mengerang-erang keenakkan. kontolku digenggam erat sambil terus menghisap-isap ujung kontolku. Cukup lama kami saling isap dan jilat.

Kini aku yang telentang dan dia berada di antara ke dua pahaku. Dia mengisap dan menggigit kecil ujung kontolku hingga aku kelojotan merasakan geli yang luar biasa. Segera aja aku menarik kepalanya agar melepaskan kontolku dari mulutnya, dan kini dia kurebahkan kembali, lalu aku menghisap pentilnya sebelah kanan sambil pentil yg satunya kumainkan dengan jariku. Dia sangat menikmati permainan ini sambil tangannya mengilik sendiri itilnya. Dia mengangkangkan pahanya dengan lebar dan setengah diangkat agar lebih mudah memasukkan jarinya. “Om,,,,,ayo masukin k ontol om di n onok Mita dong….. Mita udah kepengen nihh..” pintanya sambil mengarahkan kontolku ke arah nonoknya.
Dia yang sudah sangat kepengen, sengaja mengangkat pantatnya sehingga seluruh kontolku masuk ke dalam nonoknya. “Accchhhhhh…..”, desahnya. Kedua pahanya dilingkarkan di badanku agar kontolku menancap di nonoknya. aku menarik kontolku sedikit keluar lalu kumasukkan dalam-dalam, kutarik lagi kumasukkan lagi dengan ritme yang berirama membuat dia mengerang-erang keenakkan, kini dengan ritme yg lebih cepat aku menekan sekuat tenaga hingga mulutnya menganga tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun karena nikmat yang dirasakannya, membuat dia hanya sanggup mengelinjang-gelinjang keenakan. toketnya bergerak naik turun seirama dengan kocokan kontolku di nonoknya. “Om……..aaccchhhhh……Mita pengen puass dulu ya” pintanya

Tanpa menunggu jawabanku dia lalu berbalik sehingga berada di atas tubuhku, kontolku yang terlepas ketika kami berbalik badan dituntun ke nonoknya, lalu dengan jeritan kecil ” Aauuu…..” seluruh kontolku kini amblas masuk ke dalam nonoknya yg semakin licin itu. Kini dia sepenuhnya bebas menguasai kontolku, seperti orang naik kuda semakin lama semakin cepat gerakannya sambil tangannya meremas kedua toketnya sendiri. Kemudian dia brenti bergaya seperti naik kuda, tetapi tetap seperti posisi semula hanya kini dia menggesekkan nonoknya maju mundur sambil terus meremas sendiri toketnya hingga akhirnya dia mengejang-ngejang beberapa saat sambil menggigit bibir dan mata terpejam merasakan nikmat yang tiada tara itu, akhirnya dia terkulai di atas tubuhku beberapa saat.

Segera aku meminta agar dia nungging, posisi doggie style adalah posisi kegemaran ku, segera dia nungging sambil membuka lebar pahanya hingga aku dapat melihat dengan jelas nonoknya yang berjembut lebat. Kini kepala kontolku kuarahkannya ke nonoknya, dengan sekali dorong, masuklah sebagian kontolku ke dalam nonoknya. Dia menjerit kecil. Dia memundurkan pantatnya hingga amblaslah seluruh kontolku ke dalam nonoknya. Dengan kuat aku mendesakkan seluruh kontolku dengan irama yang beraturan hingga dia merasa kegelian lagi. Aku membasahi jari telunjukku dengan ludah dan kubasahi pula lubang pantatnya dengan air ludah. Sambil terus menggoyang kon tol, kumasukkan jari telunjukku ke pantatnya hingga seluruh jarinya masuk, sambil kutekan ke bawah hingga merasakan geseran kontolku di dalam nonoknya. Dia bisa menikmati permainan ini, berulangkali dia memintaku agar lebih keras lagi goyanganku sambil memaju mundurkan pantatnya. “uufffgggggghhhhhhhh….Enak Mit, nonokmu enak banget”, erangku. Aku mempercepat kocokan kontolku sambil menekan kuat kuat jariku yg ada di pantatnya. Tak lama lagi, aku mengejang, “Mit aku mo ngecret”, dan terasa semburan peju hangat di dalam nonoknya. kontolku berkedut menyemburkan peju berkali2.

Kami berbaring dimatras yang cukup lebar untuk berdua cukup lama. “Kamu punya body bagus Mit”, kataku sambil mencium pipinya perlahan. Karena dia masih diam saja maka wajahnya kupegang dan kucium bibirnya dengan perlahan. Dia membalas ciuman itu dengan membuka bibirnya, serta merta aku melumat bibirnya dan memasukkan lidahku. “Emmhh..” desahnya perlahan. “Kamu suka kan Mit maen ma aku”, bisikku di kupingnya. Dia hanya mengangguk. tangan kirinya kuarahkan untuk memegang kontolku. Walaupun belum keras tapi sudah berdiri tegak, k ontol itu berikut biji pelernya yang ditutupi jembut lebat. Dia mulai memegang kontolku dan ternyata walaupun masih lemas jari telunjuk dan ibu jarinya tidak dapat bersentuhan (membuat bentuk huruf O). “Aakkhh gedee bangeet om..” desahnya dengan suara parau. Kemudian aku mencium telinganya sambil berbisik, “Kamu kocokin dong..” Dia menuruti permintaanku dan perlahan jarinya meremas dan mulai mengurut ke atas dan ke bawah, dan dalam relatif singkat kontolku tersebut ngaceng dengan kokohnya di tangannya.
“Emmhh.. akhh..” desahku. Sementara dia terus mengocok kontolku, aku pun dengan nafsunya mengulum bibirnya dan langsung meremas toketnya yang telah mengeras. “Akhh enak om.” desahnya menggelinjang. Bibirnya kulepas dan mulutku langsung mendekat ke dadanya sambil terus meremas perlahan. pentilnya kuhisap sambil kujilat, toketnya berganti-ganti kuremas sehingga, “Akhh.uuff..” erangnya keenakan. Wajahnya sudah menengadah ke atas dengan posisi pasrah, sementara tangan kirinya terus mengocok kontolku yang besar dengan makin cepat, kadang-kadang diremasnya k ontolku dengan kuat. “Ooohh..”, desahnya, tangan kanannya menekan kepalaku ke dadanya sementara tangan kirinya sudah tidak beraturan mengocok k ontol besarku.

“Kamu mulus sekali Mit..” bisikku sambil mengusap pahanya. “Ahh om..” dia mendesah dan menggelinjangkan pinggulnya sambil merenggangkan pahanya ketika jari-jariku mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas nonoknya yang ditumbuhi jembut dan menyebarkan aroma yang khas. Kami sama-sama mendesah dan mengerang perlahan. “Emmhh..” desahnya sambil mengerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Jariku mulai menyentuh belahan nonoknya dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah. Belahan nonoknya sudah terlihat basah dan menjadi licin dan makin menyebarkan aroma yang membuat aku menjadi makin terangsang. Dia sudah melepaskan kontolku dan kedua tangannya terkulai lemas meremas kepalaku, kadang-kadang mengusap punggungku. tangan kiriku terus membelai belahan nonoknya, tangan kananku meremas toketnya, sementara itu mulutku menghisap pentilnya yang telah mengeras serta menjilati permukaan toketnya atau mengulum bibirnya.

Kurang lebih 20 menit aku telah merangsang sekujur tubuhnya. Dia hanya tersenyum puas dan pasrah kuraba dan kuremas. aku pun menciumi seluruh tubuhku yang telah polos, bahkan sampai ke punggung pun aku ciumi dengan penuh gairah. Sungguh sensasi luar biasa. aku terus membelai belahan nonoknya tanpa berusaha memasukkan jari tengahku tersebut kedalam no oknya yang telah terpampang dengan pasrah. Sementara dia telah dalam posisi rebahan dengan kaki terbuka mengangkang. aku melihat dia sudah pasrah dan seluruh badannya bergetar menahan napsu yang berkobar2.

Aku berlutut di depannya yang telah mengangkangkan kakinya sehingga posisi badanku sekarang telah berada di antara kedua kakinya yang mengangkang lebar dan nonoknya yang telah terlihat jelas telah basah. kontolku yang besar telah berada di depan permukaan nonoknya. aku mulai mengarahkan kontolku ke nonoknya yang telah terbuka sedikit akibat jari-jariku yang terus membelai belahan nonoknya. kontolku yang besar itu kutempelkan tepat di belahan nonoknya yang telah basah, secara perlahan menggeser di belahan nonoknya. “Oohh.. om.. enaakk.. ” erangnya. “Teruss digesek dan ditekan om.” pintanya. “Ya sayang..” kataku sambil mulai mempercepat gesekan di belahan nonoknya. “Tekan teruuss om..” erangnya yang makin lama semakin keenakan. “Enaakk..om.. puasin Mita lagi”, desahnya dengan suara yang telah parau. Posisi kakinya telah mengangkang dengan lebar membuat aku lebih leluasa menggerakkan dan kadang mendorong kontolku ke depan hingga lebih menekan dan menggesek belahan nonoknya. Kulihat nonoknya telah terbelah bibirnya karena tekanan dan gesekan kontolku, kepala kontolku mulai secara beraturan menyentuh dan mendorong itilnya. “Aahh.. aduuhh..ennaakk”, desahnya sementara tangannya telah berada di belakang punggungku dan sambil menekan pantatku. posisi kepala kontolku melewati itilnya, mencoba untuk terus menerobos liang nonoknya. Kepalanya sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak tinggal putihnya, sementara mulutnya terbuka mengerang. aku terus melanjutkan aksiku dengan posisi sama seperti sebelumnya. kepala kontolku terus kutekan ke nonoknya, tapi kutarik kembali, aku terus memajukan dan menarik pantatku dan makin lama semakin cepat . Kepala kontolku terus menekan itilnya berulang-ulang kadang masuk kadang di luar bibir nonoknya. “Akhh.. engg.. aakhh” dia mencengkeram pantatku kuat-kuat dan akibat sundulan kepala kontolku.

“Oohh..Mita..nyampe om.. uuff..aahh.. enaak..” erangnya kelonjotan dan bergetar seluruh badannya. aku merasakan siraman cairan hangat dari dalam nonoknya yang terus mengalir membasahi batang dan kepala kontolku, membuat kon tol itu menjadi mengkilap dan basah. “Kamuu..nyampe ya Mit..”. “Eeennakk.. oohh Mita.. puaass”, dia terus mengerang karena terus merasakan sundulan kepala kontoku di dalam nonoknya . Ternyata hanya sebatas leher kepala kontolku yang terbenam di dalam nonoknya dan terasa terus menggesek dinding nonoknya. “Teruss.. om.. tekan teruuss.. oohh.. benar enak.. ahh..” dia tersenyum puas melihat aku masih terus berusaha memberikan rangsangan di sekitar dinding nonoknya. “Kamu puass.. Mit. enak.. kan..” senyumku sambil menjilat bibirnya sendiri. “enak banget deh om, lebi nikmat dari yang pertama. Om pinter banget deh maenin it il dan no nok Mita, gak dimasukin ja Mita bisa nyampe lagi”.”Biar kamuu.. lebih puaas Mit..” kataku sambil terus menghujamkan sepertiga kontolku ke dalam liang nonoknya. Terdengar bunyi, “Sleepp.. ahhkk.. brreet..” rupanya nonoknya terus semakin basah dan semakin licin untuk kontolku yang terjepit di nonoknya. nonoknya terasa masi sempit.

Posisiku sudah menindih badannya. Sementara aku menaik-turunkan pantatku berirama. kontolku yang besar dan panjang itu sebagian telah keluar masuk di dalam nonoknya, sementara gerakannya makin lama semakin lincah karena nonoknya terus mengeluarkan cairan yang membuat kontolku terus dapat menerobos dinding nonoknya.

“Aakkhh..eennak..ruuss..tekan..om… Mita mau k ontol gedee.. ahh enaaknya nge ntot ma om..” dia kelojotan dihujami kontolku walaupun belum semua kontolku masuk menembus nonoknya. Dia terus memberikan remasan dipantatku dan kadang menekan pantatku ke bawah. ” n onok kamu masih sempit..sayang..oohh..nikmatnya.. n onok..kamuu.. enak.. adduuhh kontolku..dijepit..aah enak.. haa..mhh.. ennak..”.aku terus menekan agar kontolku lebih masuk lagi ke dalam nonoknya. Setelah 2 sampai 3 kali menekan kontolku ke dalam, pada saat menekan terakhir pantatku memutar ke kiri dua kali dan ke kanan dua kali.

Dia sudah tidak sempat lagi bergerak, posisinya hanya mengangkangkan kaki lebar-lebar dan tangannya hanya dapat memegang punggungku dan sekali menjambak rambutku. nafasnya tidak beraturan, yang ada hanya lenguhan dan lenguhan disertai erangan panjang. aku telah melakukan gerakan menghujamkan nonoknya yang sempit dan basah. Terlihat bibir nonoknya tertarik keluar dan terdorong masuk mengikuti gerakan kontolku. Tiga puluh menit sudah lewat, keringat telah membasahi badan kami berdua.

“Kamuu berbalik.” aku menarik kon tolku, terdengar bunyi “Plooff..” dan dia mengambil posisi menungging. Bibir nonoknya dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggirannya. aku mengambil posisi tepat di belakang pantatnya. Setelah lima kali meremas bongkahan pantatnya dengan penuh nafsu, sedikit demi sedikit aku mulai menempelkan kepala kontolku dibelahan nonoknya dan terus menggesekkan kepala k ontol tersebut ke atas dan ke bawah belahan nonoknya. “Aahh.. ennaak.. om..” desahnya terpejam. “Nikmatnya k ontol om..enak..Masukin om.. Mita mau nge ntot.. yang enak..aahhk”, dengan sedikit hentakan kepala kontolku mulai menerobos nonoknya. Perlahan aku melakukan gerakan maju mundur dan makin lama semakin cepat. kontolku sebagian sudah tenggelam di dalam nonoknya. “Ahhk.. uuff..enaak..oohhkk.. yaa.. teruus.. haak!” dia mengeram dengan nafas yang memburu, begitu juga aku. aku memegang pinggulnya sambil mendorong kontolku yang menghujam semakin dalam dinonoknya. “Hee.. aakhh.. okh..” nafas nya memburu dengan cepat sementara gerakan kontolku di dalam nonoknya terus keluar masuk dan kadang berputar seperti mengebor nonoknya. “Akhh..eennak.. giila..aduh….k ontol om mentook..mmffhh.. yaa terus..” erangnya. “Mita.. enak.. gilaa.. masuk..semuaa..mmffhh….” aku terus menghujamkan kontolku dalam-dalam ke nonoknya. Sementara dia hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala kontolku mentok di dinding rahimku. “Mita keluarr lagi..aku.. aahk enak..” erangnya terpejam.

Telah 20 menit aku memainkan kontolku di dalam nonoknya, keringatku telah menetes ke punggungnya. Dia benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga lagi. Kepalanya sudah rebah ke matras, sementara tangannya terkulai lemas, rambut telah basah semua dan badannya telah bermandikan keringat. “Aahk om, Mita.. lemes.. gila.. keluarin om..” pintanya memelas. “Yaa.. akh yak.. duh.. Mit.. aku keluarin.. huu.. enaak n onok kamu.. aku mau keluarr.. gila! Enaak.. aku mau keluaar.. aahh.. hak.. uuff.. oohk.. kamu hebat Mit..” aku melakukan gerakan sangat cepat menghentakkan kontolku sampai berbunyi, “Cepaak.. cepakk..” supaya kontolku masuk lebih dalam. Dia melakukan gerakan liar memutar dan memijat kontolku dengan nonoknya. “Mita juga.. mau keluar.. ahh.. lagi.. om”. “Gila.. aahh.. aku juga..keluaar.. haa.. nak..” Kami berdua nyampe bareng, terasa sekali semburan keras pejuku yang hangat dinonoknya. aku tersenyum puas sambil meremas toketnya dan mencium bibirnya. Dia telah terkulai lemas di matras. aku tetap dalam posisi memeluknya dari belakang sementara kontolku yang sudah mengeluarkan peju masih berada di dalam nonoknya, sampe menyusut mengecil dan terlepas. Lemas sekali, tapi nikmat

]]>
http://www.difunde.com/cewe-counter-fastfood.html/feed 0 http://www.difunde.com/mba-ira.html http://www.difunde.com/mba-ira.html#comments Thu, 26 Apr 2012 17:49:13 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=152

Kembali gw mau sharing pengalaman di ranjang gw dengan Mira, Kakak Ipar gw yang kita biasa panggil Mba Ira, yang dalam 5-6 bulan belakangan ini jadi tempat selingkuhan ranjang gw untuk penyaluran dan pelampiasan nafsu sex.

Bukan gw gak puas dengan isteri sendiri tapi dengan orang lain seperti Bro pada tahu dan alami pasti ada sensasi lain. Dan sensasinya makin asik …. asik …. klo selingkuhan ranjang kita ternyata adalah Kakak Ipar kita sendiri. Hehehe …… sexy dan cantik pula …. Mantaaab ….

Ceritanya persis pas lebaran kemarin. Seperti kebiasaan banyak keluarga pada saat hari Raya maka hari itu, lebaran hari pertama keluarga besar gw kumpul di rumah mertua untuk berlebaran. Setelah sukses mendapatkan durian runtuh pada akhir Juli yang lalu sewaktu gw ngentotin dia hampir nonstop selama 2 hari 2 malam pas gw diminta suaminya nungguin rumahnya saat dia dinas luar kota maka praktis belum ada lagi kesempatan yang gw dapatkan.

BTW dampak dari permainan yang hampir non stop itu Kakak Ipar gw itu harus ambil cuti kerja sehari karena katanya sakit klo jalan, bilang sama suaminya sih jatuh terkilir …. Hehehe … padahal dia kepayahan karena abis gw pake selama 2 hari 2 malam lewat vaginanya yang masih tetap rapat dan hangat, mulutnya yang mungil dengan permainan lidahnya yang luar biasa dan tentu saja second hole-nya yang belum pernah diberi ke siapa – siapa termasuk suaminya. Dan gw yakin kesakitan terbesar Ira gw rasa di second hole-nya Bro, karena sehabis permainan gila itu second hole-nya memar dan berdarah. Tapi waktu gw sempat tanya dia, ternyata dia seneng – seneng aja tuh …. Sori Kakak Ipar gw ambil keperawanan second hole dirimu ….

Nah kejadian di hari Raya kemarin itu begini ceritanya. Pas kita sudah acara sungkeman dengan orang tua (mertua gw) kita duduk – duduk di ruang tengah. Hari itu Ira berpakaian busana muslim putih dengan celana panjang putih yang tipis. Jadi keliatan ceplakan celana dalam Ira dan yang pasti jelas terlihat juga bahwa dia pake bh item karena itu transpasran banget dengan bajunya. Gila …. Emang mantab badannya loe Ra …. Dari pagi gw datang gw berusaha curi – curi pandang ke dia tiap ada kesempatan. Dan satu dua kali gw pergokin dia juga curi pandang ke gw dan tahu gak Bro curi pandangnya beberapa kali ke gundukan ****** gw ….. hahaha … kayaknya Ira mulai nikmatin dan kangen nih ama ade gw yang kalem tapi bongsor dan ganas itu. Pernah satu kali gw berhasil nangkap pandangan Ira pada saat Ira duduk depan di seberang gw. Matanya dengan muka mupengnya lagi menatap mesra selangkangan gw. Pas Ira sadar gw perhatiin, dia cuma mengerling manja. Hmmm …. Klo udh kayak gitu gw yakin bakalan kejadian nih dengan sukarela Ira minta gw garap atau jangan – jangan gw bakalan diperkosa Ira nih ….. hehehe …. Percaya diri boleh dong …..

Sewaktu kita lagi duduk bercengkrama di ruang tengah itu, tiba – tiba Ira bilang ke suaminya (masih ingatkan namanya ? …. Ruhan seorang GM yang menurut feeling Ira Ira punya simpanan setidaknya selingkuhan juga…. Jadi si Ira nih ada sedikit keinginan balas dendam dengan bersedia tidur sama gw Adik Iparnya …. Hahaha …. Yang untung ya gw ?) ….) “Mas Ruhan aku balik dulu ya karena parcelnya Mami ketinggalan tuh …. biar di supirin Dandy aja … mau ya Dan … Ran (Ira panggil Rani, isteri gw) pinjam Dandy sebentar ya ?”. Dan so pasti Kakak – Adik itu mengijinkan kita jalan berdua tanpa curiga …. Enaknyaaaaa …..

Dan dalam sekejap duduklah gw di belakang setir mobil Toyota Fortuner suaminya yang pake kaca rayban super gelap itu …. Belum lagi sampai di jalan raya Ira dah maksa minta cium … Tapi gw tetap santai karena gw harus nyetir kan. Tapi setelah gw bayar tol Ira gak bisa nahan diri dan terpaksa gw biarin aja. Ira maksa megang ****** gw. “Daaannnn boleh ya ?” minta Ira manja sambil tangannya mulai ngelolosin gasper celana gw … Belum juga gw jawab Ira dah keluarin ****** gw yang udah mulai tegang dan tanpa bak bik buk lagi bibir munggilnya mulai ngejilatin palkon gw. Ajiib ….. Wah … wah … sampe rumah nanti gw bales nih cewe.

Sambil berusaha tetap fokus ke jalan sesekali gw remes payudara dan pantat dia yang montok dan sekel itu . Ira …. Ira …. Loe memang perek gw …. Mantaaaaabbbb nih punya selingkuhan ranjang Kakak Ipar sendiri apalagi yang aktif model si Ira ini. Supaya nikmat tapi tetap aman akhirnya sepanjang tol gw hanya ambil jalur kiri dengan kecepatan cuma 60 – 70 km . Saat dia lagi ngoral beberapa kali sempat gw belai mesra rambut dan pipinya yang membuat Ira makin gila mainin ****** gw. Wuiih jarak Tol Kp Rambutan – Bogor terasa terlalu dekat Bro klo loe nyetir sambil dioral.

Sampai perumahan Ira berusaha menahan diri dulu. Tapi begitu masuk rumah Ira langsung lagi dengan aksinya. Gw didorong ke sofa merah di ruang tamu tempat Ira pernah gw embat second hole-nya. Ira dengan kasar membuka gasper dan langsung melorotin celana gw. Kembali Ira memainkan ****** gw di dalam mulut munggilnya. Kali ini gw gak mau tinggal diam, dengan posisi duduk gw leluasa ngebuka kancing bajunya dan dalam waktu singkat gw dah bisa melihat dua gundukan payudaranya terbalut bh hitamnya. Sungguh suatu pemandangan yang indah dan sensual melihat payudara putih itu dalam balutan bh hitamnya. Perlahan gw sentuh kedua bukit kenikmatannya tanpa gw buka bhnya. Ira hanya mengerakkan sedikit badannya merespon kenikmatan belaian gw dengan mulut tetap penuh dengan ****** gw yang memang gak muat dimulutnya.

“Addduuuh Daaannn punya kamu gede bangeeeet sih ….”
Ira masih ngemutin dengan lahap ****** gw. Gila liar banget sedotannya ditambah dengan gayanya yang nyibakin rambut ke kanan ke kiri. Sementara gw bergerilya mulai ngelepasin bh dan habis gw pilin payudaranya. Nih cewe dah punya 2 anak tapi toket masih sekel Bro. Mungkin karena dia rajin fitness kali ya ? Apapun penyebabnya yang jelas gw yang nikmatin hasilnya …. hehehe …..

Hampir 5 menit Ira ngoral gw dan pada satu kesempatan tiba – tiba dia berdiri dan ngelepasin semua pakaiannya. Ira merangsek ke atas yang membuat gw jadi posisi tiduran. Dalam satu gerakan Ira dah siap ngarahain ****** gw ke memeknya. Dan …. Slep .. slep … bless ….. Ira … oh … Ira loe emang enak banget Say. Hmmm …. Enaaaak Kaka ……

Dengan cepat Ira turun naik diatas ****** gw sambil bergaya erotis ngeremes payudaranya sendiri sambil bibirnya ngeluarin kata2 jorok … Aduuuh ****** kamu Daaan … atau kata2 yang gak konsisten … sebentar ngomong … Aduh sakit Daaan … eh gak lama … Aduh enak Daaaan … Oh yes … Oh No … Akhirnya setelah 5 menitan tubuhnya dia jatuh ke badan gw. Dadanya menempel ke dada gw. Gak lama dia mengerang panjang ….. Uuuuuuuuuhhhhh ….. Dandyyyyyy …… bersamaan gw ngerasain ****** gw dijepit vaginanya dan cairan hangat melumuri ****** gw.

Sekarang waktunya gw balas dia. Perlahan gw berguling berganti posisi dengan ****** gw masih menancap di vaginanya. Gw gak mau ngambil kenikmatan yang lagi dia rasakan. Setelah posisi gw di atas pelan – pelan gw cabut ****** gw … Ra …. Aku cabut ya … Ira hanya bisa ngangguk pelang.

Setelah lepas gw balikin dia tengkurap. Ira langsung ngerti. Pelan – pelan Ira bangkit dengan posisi doggy. Seperti biasa gw agak angkat pinggangnya sehingga posisi dia jadi nungging jadi bisa terlihat jelas lubang pantatnya yang bersih itu. Hmmm … kayaknya sekarang dah agak lebar dikit tuh … Gw jongkok dengan satu lutut menahan di lantai. Gw cium perlahan pantat dia yang putih bersih, bulat dan kenyal. Terus ke arah Second Holenya. Aduh Daaan … jangan second hole aku gak kuat Dan … sakiiit … rintihnya memelas manja. Gw gak jawab tapi malahan gw gamparin pantatnya beberapa kali sampai merah. Memang sex appeal dia ada di pinggang dan pantat. Buat Bro yang sempat liat video Luna Maya – Ariel nah bentuk pinggang dan pantat si Ira mirip seperti Luna Maya.

Perlahan gw tempelin palkon gw ke Second Holenya. Jangan Dan …. Pleaseeeee …. Dari depan aja yaaa ??? Rengek Ira sambil noleh ke gw. Gw diemin aja Bro. Sori Kakak … Second Holemu itu kenikmatan yang tak terperikan … sayang kalo gak dipake. Tangan kiri gw dah pegang pinggang kanan dia sementara tangan kanan masih ngarahin palkon … Gw sodok perlahan … ajiib … nikmaaaaatt …. Daaan pelan – pelan ya … Aduuuh … Pelan gw teken palkon gw. Wuiih rasanya nikmat banget waktu palkon gw mulai menyelusup ke lubang pantatnya. Palkon gw sekarang dah masuk, tangan kanan gw sekarang beralih pegang pinggang kanan dan tangan kiri gw melingkar di leher dia yang jenjang untuk kemudian memegang pundak kanan. Dia dah gw kunci. Dalam satu hentakan keras gw tembus Second Hole Ira ….. Oooooohhhh …… erangan panjang memelas itu keluar lagi dari mulutnya …. Gw kocok cepat ****** gw … Sengaja gw kasarin Ira …. Gw tarik badannya dengan tangan kiri gw yang melingkar di leher dan pundaknya. Sekarang badan Ira tertarik ke belakang dan payudaranya menjulang menantang. Gw remas payudaranya pake tangan kanan. Gw remes kasar …. Sekasar – kasarnya … Adduuuuh … uuuuh …. Ooooh … rancauannya dah bercampur sekarang antara keenakan dan kesakitan. Dan gw makin nafsu ….. Gw maju mundur ****** gw dengan cepat. Ira ngerintih kesakitan … Aduuuh Daaaan … ampuuun …. Saaaakiiiitttt ….. Busyet gw jadi makin kesetanan … terus gw kocok dia … toket dia abis gw remes puttingnya gw pelintir bergantian dengan pantatnya yang gw gamparin …. plak …. plak …… Wuiih … mantab sensaninya …

Sampai sekitar 10 menit gw kerjain Second Holenya. Butiran keringat halus mulai membasahi punggungnya. Rasa sakit bercampur kenikmatan terpancar di wajah cantiqnya. Gw sendiri terus bergerak ke puncak sampai akhirnya gw ngecroot di dalam lubang anusnya. Gw tahan palkon gw di second holenya seakan gw mau habisin peju gw …. Ada 4-5 tembakan meluncur deras dan memang pas gw tarik keluar ****** gw … mengalir deres peju gw. Buset banyak banget sampai penuh tuh Second Hole. Ajiiib … enak banget tuh lobang …. Gw berbaring di samping dia yang sekarang gak berdaya tengkurap dengan peju mengalir dari second holenya. Kenikmatan merajai seluruh indera gw.

Perlahan gw ngatur nafas gw yang memburu. Pas lagi ambil nafas gitu, tiba – tiba kita dikagetin suara dering HP. Gw kaget dan setelah gw kenalin nada deringnya bukan HP gw dan klo gitu pasti punya dia. Perlahan dia bangkit mencari HPnya. “Apa Say ? Oh iya agak lama karena tadi ada beberapa Ibu – Ibu komplek yang datang. Sebentar deh tuh si Dandi lagi keluar beli rokok katanya… Okay deh okay … Iya … Iya “ Hahaha … ngebohong nih yaaa …. dah abis loe jadi perek gw Ra ….

Hayuuu Daan balik …. tuh suamiku dah telpon. Tanpa nunggu jawaban gw dia masuk kamar mandi. Waduh sayang juga pikir gw nih … masih nanggung. Mekinya belum gw embat. Hmmm tapi nih ****** belum tegang lagi. Akhirnya gw remas2 sendiri ****** gw dan setelah mulai tegang gw susul dia ke kamar mandi yang emang gak dia kunci. Pas gw masuk dia lagi shower.

Gw hampirin dia gw pegang pinggangnya … Aduh udah Dan kita dah ditungguin tuh …Gw gak jawab tapi terus gw remas toketnya … Dia gak bereaksi … Artinya … ??? Go ahead my darling … Gw matiin shower dan gw bimbing dia ke arah toilet duduk yang tertutup yang ada dipojokkan. Gw naikin kaki kirinya ke toilet duduk yang ada. Dan tanpa diaba-aba tangan kanan dia langsung berpegangan di bagian atas dari toilet itu dan tangan kiri ke tembok. Pas banget karena memang toilet itu benar2 ada di sudut. Sedikit gw dorong badan dia agar mekinya terangkat. Wuih … masih merah Bro … Gw tempelin ****** gw … Dan gak perlu waktu lama karena memang masih basah gw dah berhasil masukin. Ini gaya yang gw suka … Gw masukin pelan sampai mentok terus tarik keluar … terus begitu sampai 3- 5 kali dan diakhiri denga satu sentakan keras menghujam. Setiap gw hujam mekinya maka erangan kenikmatan dari mulut munggilnya keluar …. Aduuuuh Daaann jangan kasar lagiii … Aduuuh enak gilaaa …

Setelah gw permainkan seperti itu selama 10 gerakan akhir Ira beraksi juga. Pantatnya mulai digoyang … dengan gerakan yang erotis. Dampaknya ****** gw kayak diperas Bro …. Ini yang paling gw suka dari permainan dia. Gw imbangin gerakan dia dengan gerakan menarik pelan menghujam keras. Sekarang gerakan gw sama dia dah seirama. Pada saat dia bergoyang gw menarik pelan dan pada saat gw menghujam dia menekan otot2 vaginanya yang membuat ****** gw terjepit dan diperas …. Terus begitu sampai akhirnya kita sama-sama mencapai puncak secara bersamaan ….

Thanks Ra …. Bisik gw ke telinga dia … Dia hanya mengerling dan tersenyum.

Nah abis kenikmatan di hari raya itu sampai sekarang gw secara rutin gw minta jatah ngentot ke dia. Minimal seminggu sekali gw minta jatah ke dia. Dan dia gak kuasa atau gak mau (gak ngerti deh) untuk menolak. Kalo pas ada kesempatan bisa 2 – 3 kali seminggu. Kayaknya gw lebih sering make meki dia dibandingin suaminya. Apalagi second holenya … cuma gw yang pake …

Gw paling sering ngentot dia di hotel biar aman. Tapi kalo pas ada kesempatan ya di mana aja gw entot dia asal situasi aman. Pernah gw entot dia di dapur rumahnya pas gw datang berkunjung (sebenarnya memang cari – cari kesempatan kalo dapat). Nah waktu itu suaminya ke beranda sebentar karena ada Pak RT datang. Langsung gw embat dia. Main singkat aja, gw singkap roknya, pelorotin celana dalam dan langsung eksekusi aja Bro gak ada lagi pemanasan … langsung crooot … crooooot … croooootttt ….. yang penting hajat tersalurkan …

Lain lagi cerita pas malam tahun baru kemarin. Gw berhasil ngentot dia di kolam renang. Kebetulan kita sekeluarga besar kumpul di villa keluarga di daerah Puncak. Pagi tanggal 1 semua masih pada tidur saat gw liat dia lagi berenang. Langsung gw manfaatin Bro … Tanpa buang waktu gw entot dia sambil berdiri di dalam kolam. Ajiib mikmat ….

Pokoke enak banget Bro … kapan gw mau ya gw tinggal entot dia. Dan sampe sekarang gw belum bosen. Mungkin suatu saat bosen kali ya tapi selama belum ada pengganti kayaknya gak bakalan gw lepasin dia.

Ira …. Loe emang nikmat Sistah …

]]>
http://www.difunde.com/mba-ira.html/feed 0 http://www.difunde.com/bersetubuh-di-bali-paradise.html http://www.difunde.com/bersetubuh-di-bali-paradise.html#comments Thu, 26 Apr 2012 05:49:10 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=148

Selasa

Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.

Rabu

Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.

“Bagus ya topiknya tadi” kata saya membuka pembicaraan.
“Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya”
“Nama saya Arthur” kata saya sambil memberikan kartu namaku
“Oh iya, saya Dewi” katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.

Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja

“Kamu sendiri saja ke seminar ini?” tanya saya.
“Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda”

Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.

“Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya” kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
“Halo, saya Arthur”
“Saya Henry” kata si pria.
“Saya Carol” kata si wanita.

Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.

Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.

“Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel” tanya Henry.
“Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant” sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.

Kamis

Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.

Jum’at

Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.

Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.

Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.

Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.

Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya

“Shit, kunci kartu gue mana ya?”
“Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club” kata saya.
“Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis” ujar Dewi.
“Telepon dari kamar saya saja” saya menawarkan.

Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar

“Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut”
“Lumayanlah, kecil-kecilan” kata saya sekenanya.

Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.

“Enak ya mendengar suara ombak” kata Dewi.

Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.

“Ummhh Arthur, you are so sexy” kata Dewi.

Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas tongkolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.

Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.

Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam tongkolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari tongkol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.

Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan tongkolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan tongkol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas tongkol Rudi.

Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum tongkol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap tongkolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali tongkolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali tongkol saya keluar masuk vagina Dewi.

Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama tongkolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan tongkolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami

“Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan” kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
“Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok” kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.

Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas tongkol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap tongkolnya. Setelah puas menghisap tongkol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata

“Satisfy me, bitch, suck my dick”

Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan tongkolku. Dewi menyambut tongkolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan tongkolnya dalam vagina Dewi dengan keras, tongkol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.

Rudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.

Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.

Tiba-tiba telepon berbunyi..

“Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?” tanya Henri.
“Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini” jawab saya.
“Wah, habis seks ya?” tanya Henri dengan semangat.
“Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol” tanya saya menduga-duga.
“Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh” kata Henri.

Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.

“Wah, kalian abis pesta pora nih” kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
“Kamu juga nih abis pesta dengan Carol” kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada tongkolku yang sudah berdiri.
“Mana Dewi?” tanya Henri.
“Di kamar mandi” jawabku.

Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening.

“Kelihatannya mereka sudah mulai” kata saya kepada Carol.

Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya.

Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.

Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan tongkolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.

Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali tongkol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala tongkolku.

Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan tongkolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan.

Sabtu

Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.

Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi

“Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun”

Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.

Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.

“Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir” tanya saya.
“Saya capek banget, pengen bubble bath” kata Carol.
“Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat” kata Dewi.
“Kita bertiga berendam aja yuk” saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol.

Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub.

tongkol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua.

Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok tongkolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi.

Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas tongkolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok tongkolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya.

“Balik dong badannya” kata Dewi.

Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap tongkolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan tongkolku ke vaginanya.

Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok tongkolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata

“Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita” kata Carol.
“Just go with the flow, jangan dilawan” kata Dewi.

Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas tongkolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub.

Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari tongkol dan remasan dari Dewi.

Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali tongkolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya.

Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.

*****

Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.

]]>
http://www.difunde.com/bersetubuh-di-bali-paradise.html/feed 0 http://www.difunde.com/cara-mendapatkan-tante-girang-tajir-kaya-raya.html http://www.difunde.com/cara-mendapatkan-tante-girang-tajir-kaya-raya.html#comments Wed, 25 Apr 2012 17:49:25 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=146

1. harus da kenal ntah dari temennya, pernah ketemu sebelumnya or at least lw curi2 denger namanya..bis tu coba tegor.
kebanyakan sih ga pernah sendiri. ntan itu ma banci or ma geng-nya

2. kalo di mall susah..karna sekarang dah nyebar n mall tambah banyak.daftar gw sih Plaza indonesia, Kelapa gading, n plaza senayan.bis tu ITC kuningan, ITC cempaka mas..yang paling gampang cari di gym aja..or biasanya lebih ke tempat clubbing yang exlusive kaya X2, Nu CHINA, K7, Blowfish, red square.

3. cara kurang lebih sama..lo tatap 1 – 3x.tampang pertama jual mahal.tampang ke dua lebih serius, seakan2 lw tertarik sama dia.ke tiga senyum..bis tu datengin d….kata2 manjur
a. kayanya kita pernah ketemu ya.
b. sering dateng kesini ya.
c. lagi nunggu siapa. (biar terkesan akrab)
d. or kalo lagi di gym, udah lama nge gym disini, ko ga pernah ngelihat. or lagi program apa nih.

kalo di cuekin, tiba tiba langsung pergi or mandang lw dengan sinis…ya udah..gagal tu namanya…kalo sukses lanjut ke langkah berikut.

4. bisa juga abis itu tanya, ada acara ga setelah ini, mau kemana, sudah makan blum, mau ngopi2, banyak deh.

5. bis tu baru ngobrol2.tuker no telp..sukur2 kalo bisa langsung janjian ketemuan berikut.karena jarang banget pas ketemu pertama langsung sukses…karena mereka biasanya milih2 pasangan…kalo ada yang bilang ketemu pertama langsung sukses..luar biasa lah..

6. trus pastiin lw tentuin orientasi lw…mau cari duit, sex gratis, temen ngobrol or long term relationship..

7. tante2 banyak modelnya…ada yang cantik tajir kesepian, cantik kesepian, biasa tajir kesepian, biasa tajir, biasa kesepian, minus tajir berat, minus kesepian..or yang gila banget ntah itu yang sadis, maniak, pelit, rese, over protective…

8. cuma kalo dia yang udah kecantol ma lw…ampuuuun.minta apa aja di kasih.

9. jangan lupa juga bro lw harus siap ma segala konsekuensinya…stress cry or very sad ati2 pren euits jangan waiting hit

good luck

]]>
http://www.difunde.com/cara-mendapatkan-tante-girang-tajir-kaya-raya.html/feed 0 http://www.difunde.com/pengalaman-kena-rogol.html http://www.difunde.com/pengalaman-kena-rogol.html#comments Wed, 25 Apr 2012 05:49:27 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=143

aku nak citerkan kat korang fasal pengalaman aku kena rogol dgn kawan kawan suami aku. aku nie baru kawin, tapi takda anak masa tu,ntah camana masa hari ulangtahun perkawinan aku yg pertama kami diraikan dlm satu majlis sederhana oleh kawan pejabat suami aku. kawan suami aku pulak
ada yg bujang dan ada yg dah kawin. aku nie pulak dikategori dlm wanita yg ada rupa dan bodylah, walau tak secantik ratu dunia tapi kalau lelaki tengok mesti menoleh 2 kali, bukan perasan tapi kenyataan kerana aku selalu mendapat pujian dr kawan-kawan suami aku sebab itu aku tahu malah ada yg berani ajak bergurau cara lucah dgn aku, tambah lagi kami laki bini open minded dan taklah terlalu kolot sgt, setakat nak ucap konek dan nonok tu biasalah terpacul dr mulut aku, tapi aku ni setakat berani cakap je, kalau ada yg cuba-cuba nak peluk aku atau ambil kesempatan aku melawan juga, bagi aku, nonok aku tu hanya utk lelaki bernama suami.so malam tu aku pakai baju seksi sikitlah…dengan tali halus dan leher lebar menampakkan pangkal tetek aku yg gebu dan padat ni, skirt pendek sampai pangkal peha…warna hitam lagi..lepas tu aku biarkan rambut aku yg paras bahu ni mengerbang.. dgn make up yg simple nampaklah keayuan semulajadi aku walaupun dah bersuami tapi disebabkan kami jarang dpt bersama kerana suami selalu keluar negara kerana tugasnya jadi kira bontot dan tetek aku nie taklah jatuh sgt sebab tak selalu ditenyeh laki tapi aku tetap bahagia dengannya. jadi sampai saja kami kerumah kawan yg organise majlis tu, aku bersalam dgn kawan2 suami tapi aku heran sikit sebab tiada wanita lain selain aku, bila aku tanya mereka kata isetri masing-masing tak free, kena jaga anak demamlah, ada yg kata gf takdalah, so aku tak kisahlah memandangkan majlis ni aku hadiri bersama suami, so acara makan dan potong kek pun bermula, aku tak sangka mereka hidangkan minuman keras…utk pengetahuan suami aku ni muallaf, india masuk islam dan most of hisfriend indialah…tapi aku tak kisah…cinta punya fasal. so malam tu laki aku pun mabuk jugalah termasuk juga aku..kononnya tak mahu minum tapi setelah dipaksa kawan2 suami dan demi menjaga hati mereka dan suami [nanti dikata aku tak sporting pula] so aku pun minumlah benda tu…aku ingat cognac ke…ntah apalah aku tak tahu.. yg aku tahu banyak botol minuman keras kat atas meja tu…kawan laki aku tu adalah dlm 7-8 org… legih kurang pukul 11 malam aku rasa aku dah mula mabuk sebab rasa pening semacam dan aku rasa nak gelak aje…aku minum tak banyak,,,rasanya 2 gelas je kott tapi disebabkan tak biasa minum jadi cepatlah aku ni mabuk, manakala laki aku pula aku tengok dah terlentok kat kerusi sambil tengok cerita apa ntah [video blue kalau tak silap] so salah sorang kawan laki aku tu.. nathan kalau tak silap aku, tanya aku nak baring ke? aku kata takpa, biar aku duduk sebelah laki aku..so aku pun duduk..ntah macamana aku hampir terjatuh betul-betul depan nathan, secara spontan nathan menarik tgn aku langsung tertarik tali baju aku yg halus tu..dahlah putus tali baju tu sebelah, so terlondehlah sikit dan menampakkan terus tetek aku yg sebelah tu…agaknya si nathan tu stim tengok tetek aku, maklumlah aku rasa malam tu semua org mabuk, so aku kata takapalah sambil menarik baju tu utk cover tetek aku yg terdedah tapi si nathan insist nak tolok aku…aku rasa dia sengaja ambil kesempatan utk memeluk aku, so aku tepis tgnnya sayangnya dia makin berahi pula bila aku melawan, dimasa yg sama kawan2nya yg lain tergelak melihat kelakuannya dan menggalakkan nathan supaya memeluk aku sekali lagi, aku minta pertolongan dr suami tapi dia dah terlalu mabuk, malah dah tertidur pun dikerusi tu [aku tahu dia minum dr awal majlis tadi lebih kurang kol 7mlm , dia minum tak henti-henti, agaknya dia lepasgian kott sebab sejak kawin dia tak minum lagi arak] bila tiada jawapan dr suami aku bergegas lari dan cuba masuk kebilik tapi kawan2nya yg lain mengepung aku keliling, aku menjerit tapi siapalah nak dengar sebab suara radio membatasi jeritan aku…dlm hati aku dpt rasa sesuatu yg burukpasti berlaku…lalu aku merayu kepada mereka supaya jgn mengapakan aku dan mengingatkan mereka bahawa suami ku adalah kawan mereka tapi dek kerana terlalu mabuk mereka tidak mengendahkan rayuan aku…nathan terus memeluk aku dr belakang manakala 2-3 org kawannya yg lain menangkap kaki dan
memegang tgn aku…lalu mereka beringkan aku kat lantai yg berkapet tebal tu…sakit juga kepala aku terhentak kat lantai…mereka terus memegang tgn aku kiri dan kanan serta kedua kaki aku…mereka kangkangkan kaki aku… nathan pula terus bertindak ganas dan menyentap pakaian aku..hingga
koyak rabak, aku menjerit tapi seorg dr mereka terus menekup mulut aku dgn tuala…aku jadi makin sesak nafas…dan aku dpt rasakan seluar dlm aku dibuka org…aku rasa ada tangan2 kasar mula meraba dan meramas tubuh badan aku, tetek aku menjadi sasaran mereka…aku meronta tapi tidak berdaya sebab 4 org dr mereka memegang aku, kemudian aku dengar mereka bersorak menmanggil nathan..nathan..nathan…sku lihat nathan mula terseyum sambil memandang tubuh aku yg terlantar berbogel tanpa seurat bbenangpun. dlm hati aku tahu apa yg mereka akan buat….aku masih cuba meronta dan menjerit sayangnya mulut aku tersumbat kain dan anggota badan aku dipegang kejab oleh mereka, seketika kemudian aku rasa nonok aku panas dan basah…aku cuba bgn dan aku dpt lihat nathan sedang menjilat nonok aku dng rakus, manakala kawannya yg 2 lagi sedang membuka pakaan mereka masing-masing… menampakkan btg konek mereka yg semuanya sedang tegang dan kerasss…aku makin takutt..aku menangis tapi tangisan aku sedikitpun tidak mereka hiraukan malah mereka terus mengusap konek masing-masing supaya ketegangannya berterusan, kemudian aku dpt rasakan nathan telah memasukkan btg koneknya kedlm nonok aku…akku ras asakit sgt keran dia merodok dgn rakus sekali… tersentak aku dibuatnya kerana koneknya agak besar dan panjang berbanding dgn suami aku…nathan tak henti2 memuji nonok aku ketat dan sedap serta sbgnya, kawan2nya yg lain tak sabar nak menjolok sama…ada yg terus menghisap dan menggentel tetek aku…tubuh badan aku digomol mereka bergilir-gilir…dlm masa yg sama nathan terus menerus menusukkan btg koneknya kedlm nonok aku selaju dan sekuat hatinya…berdecap-decap jugaklah bunyi air nonok aku tu, walaupun aku tahu aku dirogol mereka tapi kerana mabuk aku juga rasa steam dan sedap dilakukan begitu, lama-kelamaan rontaan aku makin lemah…malah aku membiarkan mereka melakukan apa saja ketubuh badan aku..dlm 20 minit kemudian nathan menjerit kessedapan..dia melepaskan air maninya dlm nonok aku sambil menghentakkan kuat koneknya kat nonok aku tu…dlm hati aku…sedaaappp juga keling nie punya konekk…. kemudian tiba-tiba seorg dr kawannya terus menarik nathan dan dgn cepat menjolokkan koneknya pula kedlm nonok aku yg sedang basah dng air mani nathan…dia terus menghayunkan konekknya berkali-kali dan tak sampai 10 minit dia pun terpancutkan air maninya dlm nonok aku…kemudian seorg demi seorang merodok nonok aku dgn konek mereka yg tegang dan keras itu, aku jadi lemah dan tak bermaya…selepas lelaki ke3 melepaskan air maninya kedlm nonok aku, lelaki ke4 tidak merodok terus, tapi dia lapkan sisa air mani tu dan menjilat semula nonok aku…dan spt yg lain dia juga melepaskan airmaninya kedlm nonok aku tu , seterusnya lelaki ke5,ke6, ke7 dan ke8 melakukan perkara yg sama…malah masa lelaki ke 6 merogol aku, aku bukan setakat steam aje, malah aku minta dia berbaring dan aku diatas…aku tunggang lelaki tu selaju yg boleh hingga aku climax berkali-kali…lelaki yg lain [yg dah sudah merogol aku] menjerit gembira sebab aku beri respon tanpa diduga…malah sambil aku menunggang lelaki tadi, aku hisap konek salah seorg lelaki yg masih menunggu giliran utk menjunamkan konekknya kesara nonok aku…aku makin ghairah dna bertindak liar…meraka makin suka dan gamat…terus ada yg menjilat bontot aku dna memasukkan jari kedlm lubang jubur aku…aku rasa makin sedap dan climax ntah berapa kali… adegan seterusnya berlangsung hingga kesemua lelaki merasa puas dgn layanan aku dan tak disangka nathan sekali lagi merangkul dan merodokkan koneknya
yg tegang semula…aku main dgn nathan hampir 1 jam berikutnya…seingat aku dr pukul 11 mlm sampai 2 pagi rasanya nonok aku dikerjakan oleh 8 org lelaki india/china dan melayu…aku betul-betul teruk dikerjakan mereka, tapi nasib baik jubur aku tak dirodok dgnkonek mereka…kalau tidak lagi teruk aku kena…mereka setakat jolok dgn jari jemari saja. selepas aku dirogol bergilir-gilir, mereka pun keletihan termasuk aku sendiri dan kami terlelap disitu juga dgn keadaan berbogel hingga kepagi kira-kira jam 10 pagi baru aku tersedar itupun setelah dikejut suami..aku menangis dlm pelukan suami dan ceritakan kat dia apa yg dah berlaku, sayangnya suami aku buat dono aje seolah-olah dia merestui kawan2nya merogol aku… seketika kemudian seorg demi seorg bgn dan bergegas mengenakan pakaian masing-masing, aku tengok nathan sudah siapkan minuman pagi, lepas minum pagi baru aku tahu bahawa suami aku berpakat dgn nathan dan suami aku kata kejadian itu adalah hadiah bagi hari ulangtahun perkawinan kami yg pertama kerana aku dulu pernah menceritakan pd suami tentang imiginasi nakal aku..iaitu kena rogol oleh lebih dr 5 lelaki dlm satu masa…rupanya imiginasi aku itu dipenuhik oleh suami aku sendiri dan kawan2nya yg bersetuju utk mengambil bahagian bila dia ceritakan pd nathan,…patutlah dia mabuk sakan malam tu…dan sekali lagi hari tu aku dikerjakan oleh 9 lelaki termasuk suami aku sendiri, kali ini aku yg merelakan diri aku di tenyeh oleh lelaki2 tu …bermacam aksi aku diperlakukan, dan acara mainan tu berlangsung hampir 4 jam berikutnya kerana masing-masing melanyak nonok aku sepuasnya dan selama yg mereka mampu bertahan…dan nathan is the best amongs them…hari tu aku tak kemana-mana selain kena fuck dgn lelaki tu bergilir-gilir, sementara menanti lelaki ke 9 menghabiskan permainan, lelaki pertama kembali tegang semula dan mahu menyetubuhi aku sekali lagi…pendek kata hari tu seharian tubuh badan dan nonok aku bermandi air mani lelaki…dan suami aku org yg paling gembira melihat impian aku jadi kenyataan..dan aku jugaturut gembira kerana dpt merasa konek lain selain dr suami aku… keesokannya aku demam…hampir seminggu baru aku kembali pulih…mana tidaknya 9 lelaki lanyak nonok aku berkali-kali, rasanya setiap sorang tu fuck aku 3 kali…bayangkan betapa penatnya aku dan sampai bengkak juga nonok aku kena kerjakan dek mereka…mau tak demam seminggu…nasib baik tak memudaratkan dan tak mengandung..kalau tidak, aku tak tahu anak sapa yg aku kandungkan tu…sebulan dr kejadian tu aku teruskan hubungan dgn nathan… setiap kali suami aku keluar negara, kehendak seks aku dipenuhi oleh nathan tanpa berselindungdr suami aku…dan perkara tu berlarutan hingga nathan berkahwin. sekarang masing-masing dah ada keluarga sendiri, aku ada 2 anak, tapi aku tak tahu anak sapa sebenarnya..sebab selain nathan dan suami ada juga 2-3 dr lelaki tu yg dtg fuck aku dgn rela aku sendiri…. untill now aku masih berhubung dgn salah seorg dr mereka tapi bukan nathan…suami aku seolah merestui perbuatan aku itu..malah kekadang dia jadi penonton dikala aku di kongkek jantan lain….aku tak tahu sampai bila perkara ini berlanjutan……
]]>
http://www.difunde.com/pengalaman-kena-rogol.html/feed 0 http://www.difunde.com/tiga-dara-dusun.html http://www.difunde.com/tiga-dara-dusun.html#comments Tue, 24 Apr 2012 17:50:15 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=33

Cenit bersandar di dinding, gadis itu duduk sambil memeluk kedua lututnya. Setengah busana atasnya masih rapi tapi seluruh rok dan celananya sudah terbuka. Menampakkan kedua paha yang putih mulus dan montok. Sementara tumpukan daging putih kemerahan menyembul di sela rambut-rambut hitam yang nampak baru dicukur.

Sedikit tengadah dan dengan tatapan mata sendu ia berujar lirih…

“Masukkanlah, Kak! Aku juga ingin menikmatinya….”

Aku hanya terdiam.. kami sama-sama sudah membuka busana bagian bawah, beberapa menit kemudian kami bergelut di pojok ruangan itu. Dengan penuh nafsu ku tekankan tubuhku ke tubuh gadis itu. Ia membalas dengan merengkuh leherku dan menciuminya penuh nafsu.

Tubuhnya terasa panas dan membara oleh gairah, bertubi-tubi kuciumi leher, pundak dan buah dadanya yang kenyal dan besar itu. Ia hanya melenguh-lenguh melepas nafasnya yang menderu. Setiap remasan dan kuluman… diiringi dengan erangan penuh kenikmatan.

Tanpa kusuruh ia membuka sebagian kancing bajunya. Menampakkan onggokan buah dada yang membulat dan putih. Tanpa membuka tali beha ia mengeluarkan buah dadanya itu dan mengasongkannya ke mulutku.

Dengan rakus kukulum buah dada besar Cenit sepenuh mulutku. Ia mengerang antara sakit dan enak. Nafasku pum semakin tersendat, hidungku beberapa kali terbenam ke bulatan kenyal dan hangat itu.

Puncak dadanya basah oleh air liurku yang meluap karena nafsu. Licin dan agak susah meraih puting susunya yang mungil kemerahan itu. Jelas sekali kulihat proses peregangannya. Semula puting susu itu terbenam, namun dalam sekejap saja dia keluar menonjol dan mengeras.

Cenit tahu susah mengulumnya tanpa memegang karena aku mencengkram erat leher dan pinggang gadis itu. Tanpa menunggu waktu ia memegangi buah dadanya dan mengarahkan putingnya ke mulutku.

Aku pun mengulumnya seperti bayi yang kehausan. Mengulum dan menyedot sampai terdengar berbunyi mendecap-decap. Kulihat gadis itu, dalam sayu matanya merasakan kenikmatan, bibirnya tersungging senyuman dan tawa kecil. ‘Gigit sedikit, Kak.’ pintanya padaku.

Aku menuruti kemauannya, dengan gigiku kugigit sedikit puting susunya. ‘Aih….’ Jeritnya lirih sambil menggigit bibir. Barangkali ia tengah merasakan sensasi rangsangan nikmat luar biasa di bagian itu. Kurasakan tubuhnya melunglai menahan nikmat.

Kemudian tubuh kami saling mendekap semakin rapat. Gairah dan rangsangan nikmat menjalar dan memompa alirah darah semakin kencang. Secara naluriah aku menyelusuri tubuh sintal Cenit.

Mulai dari leher, terus ke punggung, meremas daging hangat di pinggul… terus ke bagian bawah. Akhirnya menyelip di antara paha. Gadis itu membuka pahanya sedikit, mengizinkan tanganku menggerayangi daerah itu.

Dalam pelukan erat, tanganku mencoba masuk… ehm.. bagian itu terasa hangat dan basah. Cenit menggeser pantatnya sedikit. Kedua matanya memejam sembari menggigit bibir , desah-desah halus keluar tak tertahankan. Detak jantungku semakin kencang ketika kubayangkakn apa yang terjadi di’sana’.

Gadisku menggelinjang, nafasnya sesekali tertahan, sesekali ia seperti menerawang, apa yang dia harapkan? Aku tahu, dia menginginkan itu, dia mendorong-dorongkan pantatnya ke depan, agar bagian itu lebih tersentuh oleh jemariku.
Dengan penuh pengertian aku pun turun… dari leher… buah dada.. wajahku terseret ke bawah, menikmati setiap lekuk liku tubuhnya yang hangat. Setiap sentuhan dan gesekan menimbulkan rintihan lirih dari mulutnya. Wajahnya menengadah, matanya setengah terpejam, bibir agak terbuka, dan sedikit air liur menetes dari salah satu sudutnya.

“Teruskan, kak… jangan hentikan..!” pintanya. “Puaskan aku….?” katanya lagi tanpa rasa sungkan. Yah, tak ada rahasia di antara kami. Apa yang dia inginkan untuk memuaskan hasratnya, pasti dia minta, kapan saja kami bertemu. Begitu pula aku… kalau lagi pingin, dia pasti kasih.

Perlahan aku menyusuri tubuhnya ke bagian bawah. Sekarang aku sudah di atas perutnya yang mulus. Aku bermain-main sebentar di sana. seluruh tubuh Cenit memang sangat menggairahkan. Tidak ada lekuk tubuhnya yang tidak indah. Aku sangat menikmati semuanya.

Tiba-tiba Cenit memegang kepalaku, meremas sedikit rambutku dan mendorong kepalaku ke bawah. “Ayo, Kak, udah gak tahan nih..! Jangan di situ aja dong….Aih..” Aku menurut…. Dulu aku bilang aku ingin merasakan dan menjilati kemaluannya, dia bilang hal itu menjijikkan. Dalam keadaan terangsang dia sangat menginginkanya.
Sesampai di bagian itu… aku terpana menyaksikan pemandangan indah terbentang tepat di depan mataku. Setumpuk daging berwarna kemerahan berkilat di celah-celahnya …

Bagian itu, bibir kemaluan Cenit yang merah dan basah dipenuhi cecairan lendir yang bening. Dengan kedua jari telunjuk ku buka celah itu lebih lebar… Klentitnya menyembul… nampak berkedut karena rangsangan nikmat tidak terkira.

Berkali-kali ia berkedut… setiap denyutan dibarengi dengan nafas dan rintih tertahan gadis itu. Aku memandang ke atas. Ke arah payudaranya yang terbuka, putingnya semakin mengeras. Nafasnya terengah-engah, buah dada Cenit yang putih itu nampak naik turun dengan cepat. Kulihat lagi kemaluan gadisku itu… semakin merah dan merekah. Kubuka lagi dengan dua telunjukku… cairahn kental pun mengalir deras. Meluap dan merembes sampai ke sela paha, persis seperti orang yang sedang ngiler.
Cairan itu terus mengalir perlahan… sampai ke arah anus. Kemudian perlahan berkumpul dan akhirnya menitik ke lantai. Semakin lama semakin banyak titik-titik lendir bening yang jatuh di lantai kamar itu.

Terasa ia merenggut rambutku… dan menekankan kepalaku ke arah vaginanya yang sedang terangsang itu. Aku pun semakin bernafsu…. Dengan penuh semangat aku pun mulai mengulum dan menjilati seluruh sudut kemaluan Cenit…

“Ahh…. Ahhhh… nikmat sekali, Kak!” Cenit merintih, tubuhnya menegang, cengkramannya di kepalaku semakin kuat. Pahanya mengempot menekan ke arah mukaku, sementara kemaluannya semakin merah dan penuh dengan lendir yang sangat licin.

Aku pun semakin dalam menusuk-nusukkan lidahku ke liang senggamanya. Beberapa kali klentitnya tersentuh oleh ujung gigiku, setiap sentuhan memberi pengaruh yang hebat. Gadis itu melolong menahan nikmat… aku terus menyelusuri bagian terdalam vaginanya. Oh… hangat dan sangat-sangat basah. Tak bisa kubayangkan kenikmatan apa yang dirasakannya saat ini. barangkali sama nikmatnya dengan rangsangan yang kuperoleh dari kemaluanku yang juga sudah mengeras sedari tadi.

Rasanya sangat nikmat dan tergelitik terutama di bagian pangkal… rasanya ingin aku melepaskan nikmat di saat itu juga. Tapi aku harus menyelesaikan permainan awal ini dulu, gadis ini minta untuk segera di tuntaskan.

Semakin aku memainkan kemaluannya, semakin ia mengempot dan menekankan kepalaku ke arahnya. Sesekali aku menengadah menatap wajahnya yang merah. Tampak ia menghapus air liurnya yang mengucur dengan lidahnya yang merah itu.
Tiba-tiba ia tertawa mengikik… seperti ada yang lucu. Ia mengusap wajahku yang bergelimang cairan vaginanya. Sambil memandangku penuh pengertian. “Lagi, Kak” pintanya.

Aku mengulangi lagi kegiatan itu, ia pun kembali merintih-rintih menahan rangsangan hebat itu di kemaluannya. Beberapa kali klentit itu kusentuh dengan ujung gigi….
Tiba saatnya, dia sudah sampai mendekati puncak. Nafas semakin memburu dan tubuhnya menegang hebat beberapa kali. Tanpa sungkan lagi, ia mengeluarkan lolongan penuh kenikmatan ketika rasa enak itu tiba…

“Ohhhhh… hhhh…ahhhhhhhh…” jeritnya lepas. “Enak sekali…”

Pantatnya mengempot ke depan setiap denyutan nikmat itu menyergap vaginanya… dan setiap denyutan diiringi dengan keluarnya cairan yang lebih banyak lagi. Beberapa cairan itu bagaikan menyembur dari liang senggamanya, aku mundur sebentar, melihat bagaimana bentuknya vagina yang sedang mengalami orgasme.
Tegang, merah, basah… berkedut-kedut, cairan pun membanjir sampai ke kedua pahanya….. mengalir dengan banyaknya sampai ke mata kaki… Aku pun tidak tahan melihat keadaan itu, cepat aku berdiri… mengasongkan kemaluanku yang sudah tegang itu ke arahnya.

Ia memelukku, terasa tubuhnya bersimbah peluh, wajahnya yang memerah karena baru melepas nikmat itu disusupkannya ke leherku. Memelukku semakin kuat…

“Puaskanlah dirimu, Kak!”

Aku pun mendekap tubuh sintal itu semakin erat. Rasa nikmat berkecamuk di titik kemaluanku. Terasa semakin menegang dan mengeras…. Tapi aku ingin merasakan sensasi yang lain.

Kuturunkan kepala gadis itu ke bagian itu. Ia menurut, perlahan ia menyusuri tubuhku dari dada terus turun ke bawah. Seperti yang kulakukan tadi, mulutnya menciumi perutku dan terus turun… sesampai di bagian itu ia memandangi penis yang selama ini selalu dia senangi.

Ia menengadah.. memandangku dengan senyuman nakal…. “Besar sekali punyamu, Kak! Ini untukku untuk selamanya,” katanya sambil mengelus dan mulai meremas pangkalnya. Aku terkesiap… jemari lembut itu mulai mengocok-ngocok kemaluanku dengan penuh cinta.

“Nikmatilah, Kak! Aku ingin kamu menikmati dan merasakan kenikmatan seperti yang aku rasakan, kamu milikku, tidak boleh untuk orang lain….” Aku mengangguk sambil tersenyum, perempuan kalau sudah cinta dan ingin pasti mau melakukan apa saja.
Perlahan ia mulai mengocok pengkal kemaluanku… sesekali ia mengecup bagian kepalanya yang seperti topi baja itu. Lembut dan penuh kasih sayang. Beberapa kali pula ia menempelkannya di pipi sambil matanya terpejam.

“Ohh.. inilah yang aku impikan selama ini. Kepunyaanku milik kekasihku yang perkasa…”

Kemudian ia meningkatkan kocokannya, kedua jemari tangan menggenggam dan meremas-remas menimbulkan rasa geli luar biasa. Kemaluanku semakin menegang menahan nikmat.. keras dan enak.

Gadis itu sangat lihai mempermainkan jemarinya, seolah dia turut merasakan apa yang kurasakan. Sambil terus jongkok dan menciumi pangkal kemaluanku jemarinya terus juga digesekkannya.

Akhirny aku pun tak tahan lagi… aku merenggut rambut di kepalanya, tubuhku pun menegang. Aku mendorong pantatku ke depan, pahaku mengejang menahan sesuatu yang bakal kukeluarkan.

“Cenit…” kataku sambil mencengkram rambutnya. Ia menatapku, wajahnya tepat di ujung kemaluanku yang sedang dicengkeramnya. Gadis itu tersenyum kecil…. Dia senang menatapku yang sedang dalam puncak nikmat.

Maka, sambil setengah terpejam, aku pun mengeluarkan segalanya, kemaluanku meledak dalam genggaman tangan Cenit, menyemburkan air manikyang sangat banyak, mengenai seluruh muka gadis itu. Sebagian ada yang menyembur dan kena ke rambutnya. Kelopak mata gadis itu berkedip menahan serangan air mani yang mendarat di wajahnya…

“Hhhh…hhhh.hh,” perlahan nafasku mulai teratur… puncak itu sudah sampai, nikmat tak terlukiskan kata-kata.

Cenit bangkit berdiri dan menuju pojok ruangan. Paha dan pantat mulusnya nampak gemulai ketika ia melangkah. Gadis itu mengambil baju, mengusapkannya di wajah yang penuh cairan mani. Menoleh ke arahku sambil tersenyum, kemudian berjalan ke arahku. Merentangkan kedua tangan, memelukku dan menempelkan pipinya di pipiku.

“Enak ya, Kak”

Aku mengangguk, memeluk tubuh yang masih bersimbah peluh itu. Memandang matanya lekat-lekat. Ia membalas tatapanku, “Aku sangat mencintaimu, Kak. Kaulah milikku dan milikilah aku selamanya…”

Entah berapa lama kami berpelukan sambil berdiri.

Ketika angin berdesir melalui kisi-kisi jendela, terasa semuanya sudah mengendur. Jiwa dan raga sudah terpuaskan. Sekarang waktunya merapikan pakaian, duduk mengobrol di ruang tamu. Sebentar lagi teman-teman kost kekasihku akan pulang. Kami akan mengobrol di ruang tamu, bercanda, seperti tidak ada kejadian apa pun sebelumnya.

Tiba-tiba gadis itu berdiri seperti tersentak kaget. Ia memandangku sambil tersenyum kecil. Aku tak mengerti ketika ia menunjuk dengan sudut matanya ke arah lantai. Ha ha ha… hampir lupa, cairan itu masih berserak di lantai. Buru-buru ia pergi ke belakang dan kembali dengan secarik kain. Perlahan dia lap lendir-lendir itu dengan kain tadi.

“Ini punyaku…” katanya sambil menunjuk setitik cairan. “Dan ini punyamu, Kak!” hehe aku tersenyum. “Dari mana kamu membedakan keduanya?” tanyaku sambil mengambil sebatang rokok.

Seraya bangkit dan tertawa… “Punya perempuan dan laki-laki jelas beda. Punyaku lebih bening…”

“Tapi punyaku lebih enak kan?” kataku bercanda.

“Iya dong sayang…. ” katanya seraya menghampiriku dan mengusap wajahku penuh kasih dan sayang. “lain kali kita masukin ya . Kak. Aku ingin lebih menikmatinya..” bisik gadis itu, “Aku ikhlas demi Kakak…” bisiknya lagi di telingaku. Ia melingkarkan tangannya di leherku, aku pun memeluk tubuh sintal dan bermandi peluh itu lebih erat.

Malam belum begitu larut ketika aku dan Liani sedang asyik bercinta di ruang tamu rumah kostnya. Tubuh montok gadis itu terbaring pasrah di atas dipan sederhana yang terletak di salah satu sudut ruangan. Sedari tadi punyaku keluar masuk menyelusuri seluruh lipatan kemaluan gadis itu.

Berkali-kali gadis itu menggeram menahan rasa. Lipatan basah dan hangat itu terasa sesekali menyempit. Dia sungguh menikmatinya gesekan-gesekan itu, aku juga. Yang hebatnya, gadis satu ini sepertinya tidak memerlukan foreplay. Kami langsung melakukannya begitu saja. Cukup dengan tatapan mata, kami sudah tahu apa yang kami inginkan, kepuasan di malam yang basah oleh rintik hujan ini.

Jam delapan malam aku ada janji dengan Cenit kekasihku untuk bertemu di rumah kost khusus putri ini. Padahal malam ini bukan malam minggu seperti biasanya kami bertemu. Tapi dia sms aku minta ketemuan, ada yang penting katanya. Aku paham yang penting itu apa.

Yang aku tidak mengerti ketika aku tiba di rumah kost itu, ternyata dia tidak ada. Liani teman sekost nya yang menyambutku. Dia suruh aku masuk dan ketika kutanyakan kemana Cenit, dia bilang sedang keluar sebentar, ada perlu dan dia pergi dengan Rinay kawan sekampungnya. Dia bilang, kata Liani, suruh tunggu saja nggak akan lama kok. Liani, gadis lain desa yang bertubuh tinggi semampai berkulit putih dan berambut panjang itu menyuruhku duduk.

Tak lama dia pergi ke belakang , mau bikin minum katanya. Aku manut saja seraya mengambil sebatang rokok. Diam-diam kerhatikan tubuh gadis itu dari belakang ketika berlalu. Cukup lumayan, tinggi dan lumayan montok. Apalagi malam ini dia hanya menggunakan sehelai baju tidur sebatas lutut tanpa lengan. Menampakkan gumapalan-gumpalan indah khas gadis desa yang terbiasa bekerja cukup keras.

Tak terasa aku menghela nafas sambil menyaksikan pemandangan tubuh Liani yang gemulai menuju ke ruang belakang yang agak gelap itu. Pantatnya lumayan besar dan berisi, sementara kedua betis tampak putih mulus dengan tumitnya yang kemerahan. Kalau tidak ingat Cenit kekasihku, mungkin gadis ini pun sudah kupacari, tapi katanya dia sudah punya pacar, entah siapa aku belum pernah ketemu dengan lelaki yang katanya jadi pacarnya itu.

Tak lama kemudian gadis itu kembali sambil membawa nampan dengan segelas air putih. “Maaf, Bang, cuma ini yang aku sediakan,” katanya sambil setengah embungkuk meletakkan gelas itu di meja di hadapanku.

Tanpa sadar belahan dada gaun tidur gadis itu agak melorot, menampakkan dua bulatan putih yang mau tidak mau merasuk ke mataku. Kuakui tubuhnya sangat sintal. Walaupun tinggi semampai, tubuh itu tampak padat dan berisi. Buah dadanya tampak menantang tatkala ia berdiri.

Liani mengibas-ngibaskan rambut panjangnya di depanku. Bibirnya tersenyum. “Ada perlu apa, Bang? Kok tumben nggak malam mingguan ke sininya?” tanyanya sambil membenahi rambutnya yang indah itu. Ia menatapku dari sudut matanya.

Gadis yang satu ini memang memanggilku dengan sebutan ‘Bang’, tidak seperti yang lain memanggilku’Kakak’. Aduhai tubuhmu Liani sangat sintal dan lagak lagumu malam ini seperti bukan kepada orang lain saja.

Gadis itu duduk dengan santainya di depanku sembari memegangi nampan di perutnya. Tak ada canggung sedikit pun ketika mengangkat kedua kakinya dan membiarkan gaunnya yang selutut itu tertarik sampai ke batas paha. Aku menelan air liur ku sendiri. Di rumah kost yang sepi ini hanya kami berdua sementara Cenit dan Rinay entah ke mana….

“Masih lama mereka kembali, Liani?” tanyaku asal saja sambil meraih gelas minumku. Gadis itu menatapku lurus-lurus di mataku. Entah apa yang ada dalam benaknya malam ini. “Entah.” Katanya sambil menggeliat, merentangkan tangannya, kedua pangkal lengannya terangkat ke atas menampakkan ketiaknya yang bersih.

“Mungkin dua puluh menit atau setengah jam lagi mereka kembali. Katanya ada perlu, Bang.” Gadis itu menguap dengan enaknya di depanku. Kemudian ia menengadah menampakkan lehernya yang putih mulus itu. Hmm.. gadis ini agak-agak mirip Chinese walau sebenarnya bukan. Tapi terus terang aku cukup tertarik dengan kesintalannya.

“Kenapa gitu, Bang? Bosen ya… Nggak sabar ingin cepat ketemu.”

“Tahu aja perasaan orang…” jawabku sambil tertawa kecil.

“Hmm… tahu dong. Nggak sabar pengen… ”

“Pengen apa, hayo!”

“Pengen … ‘itu’ ya… ” katanya nakal sambil terkekeh.

“Itu apa? Itu … kalau itu kamu juga punya kan?” kataku agak sembrono. Gadis itu
merapikan posisi duduknya agak cepat. Tapi kemudian dia santai lagi sambil terus menggeliat, seolah ada kepenatan yang hendak dilepaskan dari tubuhnya itu. Dua gundukan dada itu menyembul dari balik gaun tidurnya yang berwarna biru itu. Tampak tali behanya yang berwarna hitam.

“Ngeliatin apa sih?” katanya sambil memperbaiki tali kutang yang agak melorot di bahunya. “Nggak.” Jawabku sekenanya. Ku lihat ia menatapku tajam. Aku balas menatap. Wajahnya tampak memerah. Aku menahan nafas. Apa rasanya gadis ini? apa bedanya dengan Cenit kekasihku?

Pikiran-pikiran itu berkelebat cepat begitu saja. Seolah dunia sudah jungkir balik. Tak ingat lagi dengan Cenit, dengan Rinay temannya yang barangkali akan pulang. Aku pun bangkit, meraih tangan gadis itu. Liani diam saja, tapi dia tersenyum sambil tertawa sedikit.

“Nggak ada waktu, Kak…” katanya pelan tapi membalas remasan tanganku. Kuselipkan jemariku di jemarinya, dia membalas. Matanya menatapku seolah mengatakan, kalau ingin melakukannya lakukanlah sekarang juga mumpung Cenit dan Rinay belum pulang. Dan itu tidak masalah apakah mereka akan tahu atau tidak, aku pandai menjaga rahasia.

Bisikan-bisikan itu mengiang di telingaku semakin membuat gairahku bangkit. Apalagi jika kulihat tubuh Liani yang montok dan dadanya yang naik turun menahan nafas yang mulai terengah.

Semakin lama remasan semakin erat. Tubuh kami semakin merapat dan terasa tubuh gadis itu memanas. Entah oleh nafsu entah oleh hasrat yang tertahan. Tidak, aku tidak akan menyia-nyiakan kehangatan yang disuguhkan gadis ini, meski bukan kekasihku, tapi… perselingkuhan selalu terasa nikmat.

Dia memang beberapa tahun lebih tua dari gadisku, cenderung lebih dewasa, tapi tak kusangka dia menyimpan kehangatan dan hasrat memadu cinta yang begitu terpendam dan panasnya memancar di malam ini.

“Kak… di dipan itu aja, yuk.” Ajaknya. Senyumannya dari wajahnya yang memerah kelihatan agak genit. Aku setuju, walau pun cuma dipan beralas kasur tipis jadilah. Yang penting aku bisa menikmati tubuhnya malam ini.

Maka, seperti orang kesetanan sambil berpeluk erat kami melangkah ke arah dipan. Di pinggir dipan ia melepaskan pelukanku, dan perlahan tapi pasti menurunkan gaun tidurnya.

Aku hanya bisa memandang mengagumi tubuhnya yang putih mulus dan penuh padat berisi itu. Sementara menurunkan celana dalamnya ia memandangku sembari menatap ke arah bawah. Oh, aku belum membuka celana panjangku, terlalu mengagumi kemolekannya….

Tak lama kemudian kami sudah berpelukan hampir tanpa busana. Dia berada di bawah dalam posisi tradisional. Siap dan menanti untuk dimasuki oleh lelaki yang bukan kekasihnya ini.

Kalau Cenit memerlukan fore play yang cukup lama sebelum terbangkitkan, dia barangkali tidak memerlukan itu. Atau… “Kalau malam begini… aku selalu membayangkan bersamamu, Bang. Bisiknya di telinga, kedua tangan melingkar erat di leherku. Pipinya menempel erat dipipiku.

“Benarkah?” jawabku sambil mencium pipi hangat itu. Liani mengangguk. “Kadang bayanganmu begitui jelas seolah merasuki tubuhku…. Kalau begitu aku suka… emmh.. basah, Bang.”

“Oh, ya?”

“Iya… coba kamu rasakan, Bang.” Katanya sambil menggerakkan pantatnya, menggesekkan tumpukan kemaluannya di batang penisku. Ya, terasa hangat dan basan…

“Sebelum kamu datang, aku sudah membayangkan dirimu.. emhhmmm… tanpa sadar ‘dia’ pun … sudah basah… Aku mencium telinga Liani, dia seperti merinding., tubuhnya menggelinjang karena merinding kegelian.

“Kadang…” bisiknya lagi, “Keluar banyak sekali, sampai membasahi celanaku… sekarang juga udah begitu, Bang.”

Ya, aku rasakan itu, sangat hangat dan sangat basah. Penasaran aku menyelusupkan jemariku ke daerah itu. Ya ampun! Sepertinya aku memasukkan tanganku ke seember lumpur yang hangat. Tak disangka, gadis pendiam ini ternyata menyimpan bara begitu panas. Sebuah rahasia yang selama ini dia pendam…

“Masukkan punyamu, Bang!” pintanya … “Aku udah gak tahan lagi, sedari tadi aku menahan rasa terhadapmu… jangan sia-siakan malam ini… walau sebentar, aku akan puas….”

Gadis itu menggelinjang sekali lagi, membetulkan posisi berbaringnya dan membuka pahanya sedikit lebih lebar agar mudah aku menggelosorkan kemaluanku ke liang senggamanya yang hangat itu.

Terasa meluncur dengan lancar memasuki kemaluan gadis itu. Terus masuk dan membenam sambil ke celah yang paling dalam. Gadis itu mengetatkan pahanya dan pantatnya mulai bergoyang ke kiri da ke kanan.

Tubuhnya terasa semakin memanas. Pelukannya begitu erat dan buah dadanya yang menempel menekan ke dadaku. Dia sudah begitu bernafsu, nafsu yang di pendam lama dan ingin di lepaskan dalam pelukanku malam ini juga.

Terus terang di menit-menit penuh cinta itu aku tidak ingat lagi dengan Cenit. Gadis ini butuh dipuaskan. Hasrat yang sudah menyeruak tidak bisa lagi di tarik surut ke dalam. Segala rem sudah di lepas dan kami pun melayang tanpa kendali menikmati semuanya malam ini….

Kurasa hujan di luar semakin deras. Titik air yang berjuta-juta itu seolah berlomba terjun ke bumi menimbulkan suara gemuruh tidak henti-hentinya. Tapi gemuruh itu tak sedahsyat gemuruh nafsu kami berdua, aku dan Liani yang tengah menikmati cinta.

Entah sudah berapa kali batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya. Sudah berapa kali pula dia menggepit-gepit dan memelukku dengan erat dengan kedua tangannya. Entah berapa kali ia terengah dan menggelinjang menggeram penuh nikmat.

“Hhhhhh… ehhhhhhh..hhhhhh….” erangnya setiap kumainkan dan kutekan pantatku ke kemaluannya. Luar biasa, setiap tekanan ke bawah di balasnya dengan tekanan ke atas.

Kurasa sudah sepuluh menit aku mengayun pinggul di atas tubuhnya. Liang kemaluannya terasa semakin rapat dan sangat licin, mencengkram kuat batang kemaluanku yagn menegang.

Aku kendurkan sedikit gerakanku. Mengalihkan perhatian ke tubuh bagian atas. Liani mengerti, ia meregangkan tubuhnya menarik kepalanya ke belakang, membiarkan buah dada besar yang putih berkeringat itu meenyeruak dari pelukanku. Buah dada gadis desa yang besar dan kenyal, tidak seperti payudara anak-anak kota yang besar tapi loyo….

Dua gumpalan kenyal itu pun kusergap dengan mulutku. Ku lahap dan kukunyah-kunyah sepuas hati. Putting susunya yang merah itu ku kulum dan kuhisap-hisap sambil kugigit sedikit.

Hanya sebentar saja, gadis itu menjerit tertahan….

“Ohhh.. geli, Bang!” aku terus mengulum…. Berganti ke kiri dan ke kanan, kemudian tanganku pun meremas-remas pangkal payudara Liani dengan gemas. Sangat kenyal, hangat dan enak rasanya.

“Aku udah gak tahan lagi… Bang,” rintihnya lirih, tubuhnya semakin panas dan berkeringat, tubuhku juga sama. Dalam hawa malam yang cukup sejuk karena hujan itu seolah tubuh kami mengeluarkan uap. Tubuh bugil bermandi keringat yang mengebulkan asap nafsu birahi tak tertahankan.

Setelah puas dengan buah dada kenyal itu, aku memeluk punggung gadis itu. Kurasa dia mengangkat lututnya, menggepitnya di pantatku. Kemudian ia menurunkan kedua tangannya dan memelukku di pinggang.

“Tekan-tekan lagi, BAng.” pintanya.

Aku juga sudah pingin merasakan gesekan kemaluannyai. Sambil saling berpagut erat aku mengayunkan lagi pantatku di atas rengakahan pahanya yang montok itu. Dia pun semakin menggepitk-gepitkan kakinya.

Sekarang kami konsentrasi ke setiap gesekan, setiap lipatan, setiap senti dari liang kemaluan Liani. Malam ini sunguh hanya milik kami berdua. Gesekan-gesekan itu semakin lama semakin berirama. Sementara Liani melakukan aksi yang menambah kenikmatan, ia menggepit… lalu menahan. Gepit tahan gepit tahan…. Oh tak terlukiskan enaknya bercinta dengan gadis ini.

Gesekan itu semakin intens kami lakukan. Sampai-sampai kami tak sadar kalau hujan sudah berhenti. Malam di luar terasa hening…. Tapi di atas dipan yang berbunyi kriak-kriuk ini dua tubuh saling memompa berpacu mengejar waktu. Takut kalau Cenit dan Rinay keburu pulang.

Aku pun mempercepat ayunanku… sehingga di malam yang menjadi sunyi ini terdengar jelas suara penisku yang keluar masuk ke kemaluan Liani. Beradu rsa dalam limpahan cairan kemaluan Liani..

‘Crekk.. Crekk.. Crekkk. Crek…Crekkk.. Crrek….

Kejantananku naik turun menggesek lipatan-lipatan dinding kemaluan gadis itu. Bunyinya terdengar jelas sekali di telinga kami berdua. Sesekali kutekan akan kuat, gadis itu membiarkan dan menerima tekanan itu, menggeolkan pantatnya berkali-kali agar kelentitnya lebih tersentuh pangkal atas kemaluanku yang keras.

“Tekan terus, Bang.. aihh…”

Aku menekan lagi sambil menggerakkan pantat ke kiri dan ke kanan. Mungkin dia merasa gatal dan ingin gatal itu digaRinay sampai tuntas…. PenggaRinaynya adalah batang kemaluanku yang dia cengkram dan dia benamkan sedalam-dalamnya.

“Ohhh..ohhhhhhhhh,” lolong gadis itu melepas nikmat. Seluruh liang senggamanya berkedut-kedut dan sembari menggepit kuat. Tubuh Liani menggelinjang dan menegang menahan rasa enak ketika ia mengeluarkan air mani kewanitanya.

“Eughhh…hhhhh… euuughhhhh….. ahhhhh… ” rintihnya sambil menyurupkan wajahnya ke leherku, lehernya nafasnya menderu, air liur berceceran dari bibirnya yang merah.

Saat itulah aku pun bersiap hendak keluar dan menyemburkan kenikmatan di kemaluanku. Tapi sesuatu menyebabkan aku berhenti …Masih dalam keadaan bersetubuh dengan Liani… ada sekelebat bayangan melintas. Aku memandang dengan ujung mataku, di lantai tampak ada dua bayangan seperti diam terpaku. Aku pun terkejut … bayangan siapa itu?

Perlahan kulihat wajah Liani yang matanya masih setengah terpejam. Kemudian matanya perlahan terbuka… Dia pun melihat bayangan itu dan menatap langsung ke ruang tengah. Samar-samar di bola matanya yang hitam itu kulihat dua sosok berdiri menatap ke arah kami.

Itu bayangan Cenit dan Rinay! Rinayanya sudah beberapa menit tadi mereka berdiri di sana, menatap kami yang sedang asyik memagut cinta. Apakah mereka tadi mendengar juga.. bunyi crek…crekk.crekk.. alat kelamin kami yang sedang berkelindan? Entahlah, aku tak berani membayangkan hal itu.

Anehnya, meski pun Liani sudah tahu kehadiran mereka, dia diam saja. Tidak memberi tanda bahwa kekasihku dan temannya sudah pulang. Bahkan seolah membiarkan mereka menonton kami yang sedang beradegan mesra di atas ranjang.

Terdengar bunyi deheman kecil, dehem khas suara perempuan. Seolah memaklumi kami yang masih dalam posisi senggama ini. hmmm… aku tahu itu suara Cenit, aku bisa membedakannya.

Sedetik dua detik aku tak tahu apa yang harus kuperbuat, kemudian Liani melakukan sersuatu yang tidak kuduga. Dia seperti melambaikan tangan dari balik punggungku. Menyuruh kedua ‘adik’ kostnya itu masuk ke kamar…

“Teruskanlah, Bang. Nggak apa-apa, kok….” Bisiknya di telingaku. “Ngapain malu.. kita kan sedang enak, kamu enak aku enak…. Mereka juga pasti maklum….”

Oh, ya? Bercinta dengan orang yang bukan pacar, dan dilihat oleh mereka pula? Apa pula ini?Exibit kah ini? Ya, sudah! Aku gak sempat memikirkan sejauh itu. Kalau bagi Liani tidak apa-apa, dan Cenit serta Rinay pun justru menikmati pemandangan ini…. kuteruskan saja.

Perlahan dua gadis itu berlalu, seperti tak terjadi apa-apa, kecuali tawa kecil Rinay yang terdengar. Aku memandangi mereka yang pergi menjauh, tiba-tiba Cenit menoleh ke belakang. Dia menatap mataku langsung, di bibirnya tersungging senyuman yang aneh … di situasi seperti ini… senyum yang tampak nakal.

Aku tak tahu apa akan terjadi sesudah ini, bagaimana hubunganku dengan Cenit? Bagaimana pula aku akan menemui mereka setelah ‘permainan’ penuh keenakan ini? Tak bisa lagi aku berlagak seperti seorang lelaki yang setia hanya pada satu perempuan. Tapi tampaknya Cenit pun tak keberatan jika aku mengencani kakak kostnya Liani.

Ah. Dunia ini memang aneh… di tempat yang tampaknya biasa-biasa saja ternyata tersimpan bakat-bakat cinta yang terpendam yang menanti untuk dikeluarkan dan dinikmati setiap lelaki semacam aku. Aku tak tahu harus bergembira atau… entahlah!

Aku meneruskan permainanku dengan Liani. Gadis itu sudah sampai ke puncak syahwatnya… kini giliran aku. Perlahan-lahan aku mulai memompa lagi … kemaluanku naik turun menggesek kemaluan Liani yang basah itu. Bunyi crek.. crek.. crek.. creeeek… terdengar ke segenap ruangan.

Aku agak termangu mendengar suara itu… tidakkah akan sampai ke telinga mereka berdua yang sekarang sudah ada di kamarnya?

“Terusin aja, Bang….. Kalo enak ngapain juga di berhentiin” bisik Liani seolah hendak menghapus keraguanku. Maka aku pun meneruskan lagi, kali ini dengan irama yang lebih cepat dan… tak lama kemudian creett…cretttt… sambil menekan aku keluarkan air maniku di dalam kemaluan Liani yang mencengkram erat itu. Oh nikmatnya.

Beberapa menit telah berlalu. Sesudah menghapus keringat di dadaku Liani mengenakan pakaiannya. Kemudian sambil bernyanyi-nyanyi kecil ia merapikan rambutnya yang kusut masai. Wajahnya tampak puas. Sangat puas telah beroleh kenikmatan yang selama ini didambakannya. Seraya membetulkan tali beha dan menyempalkan payudara besarlnya ia berkata.

“Bang, aku masuk dulu ke dalam…. Nanti Cenit kusuruh keluar, ya!”

Aku hanya mengangguk mengiyakan, gadis itu pun bangkit dan berlalu dari hadapanku. Sementara aku duduk termangu sambil menghisap sbatang rokok. Tak lama kemudian Cenit keluar menemuiku, kali ini tidak memakai busana yang dikenakannya tadi, tapi sudah berganti dengan gaun tidurnya yang berwarna pink. Bahannya yang halus menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi. Aku menelan ludah… pasti dia bakal marah karena kelakuan kami tadi.

Dia hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Tak tampak tanda-tanda emarahan di sana. sejenak dia hanya diam.. kemudian tiba-tiba dia bangkit dan ‘menyerbu’ ke arahku.

Melingkarkan tangannya di leherku dan menciumiku penuh nafsu. Aneh, dia tidak marah, bahkan setelah melihat kami bercinta seolah nafsunya bergelora ingin dipuaskan juga.

“Cenit… maafkan.. aku telah…” belum sempat kuselesaikan kalimatku dengan bernafsu dia mencari bibirku dan menciuminya dengan garang. Oh,… gelagapan aku dibuatnya. Aku tidak tahu, apakah dia marah atau sudah terangsang…. Aku balas ciuman itu, lidahnya terjulur dan bertemu dengan lidahku. Beberapa saat lamanya lidah kami berjalin berkelindan seperti tak mau lepas. Dengan rakus pula dia hirup air liurku, meneguk dan menelannya. Setelah puas giliran aku yang menghisap cairan mulut itu. Setelah itu kami melepas ciuman dan saling memandang selama beberapa saat.

Tanpa banyak berkata-kata dia menurunkan gaunnya ke bawah, menampakkan dua gumpal buah dada yang tidak memakai beha. Putting susunya meruncing dan tegang.

“Aku terangsang sekali melihat kalian berdua tadi…. ” katanya terengah sambil mengasongkan kedua susunya ke arahku. Aku pun menyambut, tangan kiriku meremas dan mulutku mengulum puting susu yang satunya. Tiba-tiba gerakankuterhenti. Dengan wajah kaget Cenit menatapku heran. Aku lupa mematikan puntung rokok yang ku hisap tadi. Gadis itu tersenyum dan kamipun melanjutkan permainan hangat ini. Buah dada besar montok dan kenyal itu kukunyah sepuas hati.

Cenit mendesah keenakan. Jemarinya mencengkram kepalaku, mengusutkan rambutku. Masih dalam posisi duduk ia mengangkang .. melepas gaunnya yang sudah setengah terbuka…. Dia pun tidak bercelana dalam sehingga gundukan vaginanya yang tebal dan tidak berambut itu merekah di depanku.

Cairan bening meluap keluar. Mengalir di sela-sela celah kemaluannya. Di tak pedulikannya. Dibiarkan lendir bening itu mengalir…. Bahkan dia menyuruhku untuk memegangnya… jemariku menyelusup ke liang senggama Cenit, hangat dan sangat basah oleh cairan pelicin.

Kusentuh klentitnya yang merah dengan ujung jemariku. “Akhh….” Cenit melolong tertahan. “Geli, Kak!” desahnya tersentak. Kemudian sembari memeluk leherku, dan mencium keningku dia mengajakku ke dipan tempat aku dan Liani tadi bercinta.

Tak banyak cingcong kurengkuh dan kugendong tubuh hangatnya ke dipan itu. Di sana dia kubaringkan. Tapi ketika aku hendak membuka celana, tiba-tiba ia mendudukkan tubuhnya yang sudah bugil itu. Aku heran, apa yang akan dia perbuat.

“Bukalah celanamu, Kak!” katanya tak sabar sembari menarik resleting celana panjangku. Setela memelorotkan celana dalamku, dengan sangat bernafsu ia memegangi pangkal kemaluanku yang kembali menegang.

“Besar dan nikmat….” Seru Cenit sambil meremas-remas kemaluanku.

“Sekarang giliranku…” katanya agak keras.

Ia turun dari dipan dan berdiri di sampingku, di dorongnya dadaku ke arah dipan, menyuruhku berbaring disana. Aku menurut. Setelah aku berbaring, Cenit pun menaikkan sebelah kakinya dan mengangkang di atas. Perlahan dia menekuk tubuhnya dan memelukku dari atas.

“Masukkan, Kak.” Pintanya dengan nada gemas. Ia memegang batang kelaminku itu dan memasukkannya ke dalam liang kemaluannya. Kemudian dengan agak kasar dia menghenyakkan pantatnya ke bawah agar kemaluanku masuk lebih dalam ke tubuhnya.

“Ehhhhh…. Hhhhh” desahnya kacau seperti anak kecil yang rakus menetek di susu ibunya. Dalam posisi di atas dia menaik turunkan pantatnya dengan cepat… oh… batang kemaluanku di cengkram dan di gesek-gesek seperti itu. Geli rasanya.

Posisi di bawah jarang aku lakukan…. Tapi kali ini aku menerima saja, karena tadi sudah lumayan capek meladeni Liani. Kali ini Cenit yang giat menekan-nekankan pantatnya, maksudnya supaya punyaku masuk lebih dalam.

Sembari memelukku erat, ia terus mengempot-ngempotkan pantatnya. Bunyi crek crek crek terdengar lagi… kali ini bahkan di tingkahi oleh jeritan-jeritan kecil yang keluar dari mulut kekasihku.

Aku terus berbaring sembari meremas-remas pantatnya yang mulai berpeluh itu. Cairan vagina terasa terus merembes dari kemaluan Cenit. Dia sudah sangat terangsang. Liang kemaluannya sangat basah dan panas. Sesekali ia menekan dan menahan. Seolah hendak melumat habis seluruh kemaluanku dengan vaginanya. Terang saja aku pun semakin keenakan.

Diam beberapa saat menahan tekanan, dia pun mengendurkan dan memulai lagi gerakan naik turunnya. Aku terus meremas-remas pantatnya. Dadanya yang kenyal itu menekan ke arah dadaku, hampir membuatku sesak nafas. Tapi aku pasrah.. lha wong enak rasanya.

Selama sepuluh menit Cenit bergerak naik turun, nggak cape-cape kelihatannya. Tubuhnya semakin basah oleh keringat, bahkan wajahnya sudah dipenuhi keringat sebesar-besar biji jagung. Sebagian mengalir ke ujung hidung dan menitik menimpa wajahku. Sesekali ia mengibaskan rambutnya yang tergerai..

Aku mencoba memiringkan kepala mencoba mengurangi titikan keringat di wajahku. Pada saat itulah kembali aku terkesiap. Di ujung ruangan, di pintu kamar Cenit, tegak sesosok tubuh perempuan menatap kami dengan matanya yang bulat.

Mata besar milik Rinay, teman sekost Cenit. Dia menatap kami tanpa berkedip. Tangan kanannya tertangkup di dada. Sementara yang kiri tampak meremas-remas ujung gaun tidurnya yang di atas lutut.

Ketika kami saling memandang… dalam posisi Cenit masih di atas dan asyik dengan empotan-empotannya. Perlahan tangan kiri Rinay mengangkat ujung gaun merahnya. Terus terangkat ke atas menampakkan paha gadisnya yang padat…

Entah sadar entah tidak gaun itu sudah sedemikian terangkat, sehingga aku bisa melihat celana dalam yang tersingkap. Kemudian ia menarik pinggir celana dalam itu… menampakkan segumpal tumpukan daging berbulu dengan celah merah di tengahnya.

Ujung jemari menyentuh bagian tengah celah itu. Menekannya dan memutar-mutarnya sedikit. Ya ampun… kemudian dia menatapku.. dengan mata setengah terpejam.

Saat itulah Cenit menengadah…. Dan menyurukkan kepalanya ke leherku, memelukku kuat dan mulai mendesah berkepanjangan. Pantatnya menekan kuat sampai seolah kemaluanku mau ditelannya sampai habis.

“Kak.. enak sekali.. ahh” terasa kemaluan Cenit berdenyut hebat, tubuhnya bergetar tak kuasa menahan nikmat… nafasnya sangat memburu… dan..

Dia pun lunglai dalam pelukanku…. Sementara air mani gadis itu mengalir tak tertahankan, meluap dan mengalir membasahi sampai bagian perutku.. aku peluk gadis itu di punggungnya… membiarkan ia mengendurkan syaraf setelah ia tadi sangat tegang menikmati puncak orgasmenya.

***

Sampai beberapa menit kami masih berpelukan, kejantananku yang masih tegang itu masih berada di dalam ’sangkar’-nya. Cenit diam tak bergerak dalam pelukanku, sepertinya dia lupa ada sesuatu yang bersemayam dalam tubuhnya.

Perlahan gadisku ini mengatur nafasnya yang tidak teratur. Setelah agak reda… perlahan dia bangkit dan melepas persetubuhan kami. Lambat ia mengangkat pantatnya ke atas. Perlahan alat kelaminku itu keluar dari vagina Cenit. Ketika sudah keluar seluruhnya…. Cairan vagina yang kental nampak melumuri batang kemaluanku. Ketika bagian ‘kepala’-nya akan keluar terdengar seperti bunyi plastik lengket yang basah akan di lepas..

Clep..crrrllek. Cenit tersenyum mendengar suara itu. Entah suara lipatan kemaluannya atau karena lendir yang begitu banyak melumuri batang kemaluanku.

Ia pergi ke tengah ruangan dan memakai gaunnya kembali, rona wajahnya menampakkan kepuasan yang tiada terkira. Sambil bernyanyi kecil, seperti baru sudah pipis, ia memebenahi rambutnya yang kusut masai. Dan berjalan ke belakang rumah, meninggalkanku yang hendak mengenakan celana dalam ku.

Belum sempat aku memakai celana itu, tiba-tiba Cenit sudah kembali. Membawa sehelai kain sarung dan menyuruhku mengenakannya. “Pakai ini aja, Kak!” katanya seraya mengambil celana panjang dan kolorku, melipatnya dan merengkuhnya dalam dada. Kemudian ia pun kembali ke belakang.

Tak lama kemudian ia datang lagi, membawaku segelas minuman, kalau tadi Liani membawakanku segelas air putih, kali ini Cenit menyuguhiku dengan teh manis. Aku segera mereguknya karena merasa kehausan, bayangkan saja melayani dua wanita secara bergilir tanpa istarahat sama sekali. Capek donk!

Ketika aku meminumnya, alis mataku terangkat, minuman apa ini? Rasanya kok pahit banget? Sebelum sempat bertanya Cenit berkata perlahan, “Itu sari dari akar Pasak Jagad Kak!”

“Haa?

Kekasihku tersenyum, itu kan obat kuatnya lelaki, kalau minum jamu itu pasti bakal melek semaleman, kataku sesudah menelan tegukan terakhir. Gadis itu hanya tertawa kecil. ‘Biar aja nggak tidur semaleman… besok kamu kan nggak kerja, tidur aja sepuasnya di sini.

Setengah jam kemudian kami masih ngobrol di ruang tamu. Masih terbayang-bayang permainan kami berdua barusan. Tak disangka begitu bernafsunya Cenit, sampai-sampai kuat main di atas hampir setengah jam lamanya, sementara aku anteng aja di bawah.

Tiba-tiba Cenit bangkit…”Kak,” katanya, “Aku ke dalam sebentar.” Aku mengiyakan saja, kupikir dia mungkin mau sedikit merapikan dandanannya yang agak amburadul itu.

Aku akan menghela nafas ketika terdengar dia memanggilku dari kamar.

“Sini sebentar, Kak!”

Aku pun bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya, sebelum tiba di pintu kamarnya aku melewati kamar Liani yang hanya dihalangi secarik kain gorden, diam-diam ku singkap tirai kamar itu. Tampak Liani tertidur pulas, masih mengenakan gaun yang tadi, pahanya yang terbuka nampak putih dan mulus.

Kamar berikutnya adalah kamar Rinay, hmmm… jantungku berdegup agak kencang. Apa yang dilakukannya tadi ketika aku dan Cenit sedang menikmati seks? Entahlah, aku tak tahu. Tapi aku pengen tahu sedang apa dia sekarang?

Perlahan kusingkapkan juga tirai pintu kamarnya itu. Kasur tempat tidurnya masih tampak rapi, bantal tersusun di tempatnya. Ke mana cewek itu? Kok nggak ada di biliknya? Sedikit heran aku terus melangkah menuju kamar Cenit.

“Masuklah, Kak! Jangan malu-malu, aku tahu kamu sudah berada di situ.” Kata Cenit lagi, bergegas aku pun masuk ke kamarnya…

Oh di sini rupanya Rinay, dia sedang tidur telungkup di dipan Cenit, sementara cewek ku itu sedang menyisir rambutrnya menghadap ke cermin. Tanpa mengacuhkan aku dia pun menyuruhku duduk di dipan dengan gerakan tangannya.

Dipan ukuran single itu lumayan sempit, apalagi sekarang sudah ada Rinay yang tidur di sana. Cenit berbalik menghadapku, ditatapnya aku dengan tajam. Kemudian perlahan dia mengalihkan pandangannya ke tubuh temannya yang masih telungkup itu.

“Terserah kamu, Kak. Mau di sini atau di kamarnya…. Aku ikhlas aja, yang penting…. Dia bisa juga ikut merasakan ….”
Aku melongo? Dia suruh aku menikmati pula tubuh Rinay!? Tubuh perempuan sintal yang sedang tertelungkup ini? Cenit mengangguk pasti.

“Kami lihat apa yang kalian lakukan, Rinay pun lihat kita tadi… kami bertiga bersahabat, resminya kamu memang milik aku… tapi.. berbagi antar sahabat tak ada salahnya, bukan? Lagi pula aku rela kok, selama tidak dengan yang lain selain mereka.”

Dalam hati aku cuma bisa mengangkat bahu. Kalau dia sudah mengikhlaskan temannya, dia tidak marah apalagi jadi membenci aku, lagi pula kalau dengan begitu dia jadi terangsang dan menikmati juga, apa salahnya.

Aku berpikir cepat, katakanlah malam ini adalah semacam sex party, dan aku menjadi rajanya sementara menjadi ratuku yang harus kupuaskan, oke saja sih. Hehehe. Kebetulan aku ingin mencobai juga tubuh Rinay yang berkulit sawo terang ini.

“Aku menunggu di kamarnya,” kataku kepada Cenit, cewek itu mengangguk setuju.

Dipan singel Rinay terasa cukup nyaman. Bantalan busanya masih cukup baru, dia memang belum lama kost di rumah ini, mungkin baru setengah tahun. Aku berbaring dengan rileks. Memandangi dinding kamar yang dipenuhi poster Cenit sambil memikirkan apa yang telah kudapat malam ini.

Mula-mula Liani menyerahkan dirinya kepadaku, kemudian Cenit yang memintaku untuk memuaskannya, dan sekarang Rinay, gadis paling pendiam yang jarang ngobrol denganku. Gadis ini pun menginginkan ku pula… hehehe.. dasar gede milik, yeuh

Semilir halus wangi parfum masuk ke hidungku.Terdengar pintu kamar terbuka, perlahan Rinay masuk ke kamar itu. Seperti orang baru bangun tidur. Ia langsung duduk di dipan itu, “Ada apa, Kak?” tanyanya seolah tak mengerti. Aku tersenyum, pandai juga dia menyembunyikan perasaan sebenarnya.

“Eh, kain sarung siapa yang kamu pakai itu, Kak?”

“Hehe.. ini pemberian Cenit tadi..”

Kedua bola mata gadis itu membulat… menatapku seolah tak percaya. Terus terang saja, dia cantik juga. Rambutnya yang ikal itu dibiarkannya tumbuh sampai sebatas punggung. Meski baru bangun ‘tidur’ tapi tak mengurangi kesegaran dan pesona cantik yang terpancar di wajahnya.

Aku menarik gadis itu ke pelukanku, tubuhnya terasa berat karena ia seperti menolak, tapi kemudian malah dia yang merangsek dalam dekapanku.

“Jangan , Kak! Nanti Cenit marah..” katanya berbasa-basi.

“Dia marah kalau aku tidak menayangimu juga….”

“Kamu bisa aja, Kak!” katanya sambil menengadah dan menyentuh pipiku. Aku mengecup bibirnya, dia sangat menikati kecupan kecil itu, matanya terpejam, tubuhnya melunglai, dan aku pun memeluk tubuh sintal itu lebih erat.

Ia membalas pelukanku dan membiarkan bibirnya kulumat… beberapa kali ia mengeluh nikmat. Terasa tubuhnya bergetar ketika aku mulai merengkuhnya. Kemudian aku pun mulai menyusuri seluruh lekuk dan liku tubuh gadis itu. Semakin lama tubuh itu terasa panas, setiap gumpalan dan tonjolan dagingnya terasa begitu membara dipenuhi gairah terpendam.

Aku membaringkan tubuhnya sementara kedua tangannya terus melingkar di leherku. Nafasnya terdengar agak memburu, gadis ini sudah mulai terangsang. Kuperiksa bagian kemaluannya dengan jemariku. Ternyata belum cukup basah, masih terasa agak kering. Kucumbu dia terus supaya gairahnya lebih menggelora….

Entah berapa lama kami saling mencium saling menyusup dan berkelindan, aku pulang suka buah dadanya. Sangat kenyal, besarnya pun sedang saja, tapi putting susunya sangat kecil, hanya sebesar biji kacang hijau. Tampak sekali putting itu sudah mengeras.

Ketika kuremas-remas buah dadanya, wajah gadis itu menengadah, matanya terpejam rapat, bibir agak terbuka. Setiap remasan adalah rangsangan bagi tubuh segar ini. Semakin intensif aku meremas, semakin intens juga dia menikmatinya. Ketika kuraba kemaluannya, lendir pelicin yang kental sudah mulai keluar.

Perlahan aku mengusap-usap jembut halus yang tumbuh di sana. Sesekali agak kutekan agar menyentuh bagian klentitnya. Tuibuhnya menggelinjang karena geli.

Perlahan tapi pasti cairan pelicin itu mulai keluar, merembes ke permukaan dan mengakibatkan jembut-jembut halus itu terasa mulai kuyup. Hmmm.. Rinay sudah siap untuk dimasuki. Sambil memegang pangkal kemaluanku aku pun memasukkannya. Terasa licin dan rapat. Batang kemaluanku seperti menembus lipatan daging hangat yang basah oleh lendir.

Creep…. Masuklah aku ke tubuh Rinay. Gadis itu melepas nafas panjang, merasakan nikmatnya gesekan di kemaluannya. Entah kenapa aku sangat-sangat terangsang dengan gadis ini, mungkin ini bukan yang pertama baginya, tapi… dia melakukannya seperti baru untuk pertama.

Sepuluh menit pertama kami mengadu rasa, menggesek-gesekkannya dengan gerakan rutin. Sementara Rinay pasrah saja sambil memelukku dan membenamkan wajahnya di leherku. Nafasnya semakin lama semakin memburu, tubuhnya semakin panas. Titik-titik keringat mulai keluar dan lama-lama peluhnya semakin membanjir.

Kota kecil ini memang lumayan panas meski di malam hari, apalagi rumah kost itu tidak berAC, tubuhku pun kembali berkeringat. Tapi kami tak peduli, kami terus berpelukan menikmati pergumulan itu.
Kami masih bergumul ketika akhirnya memasuki tahap kedua. Kukeluar-masukkan penisku secara berirama di liang kemaluannya yang pasrah itu. Gadis itu memelukku lebih kuat. Tak peduli dengan tubuh yang bersimbah peluh.

‘Crekecrekecrek…’. Sepuluh menit lamanya aku menggesek-gesek kemaluan Rinay dengan kemaluanku. Terasa punyaku semakin menegang keras. Kemudian aku menekan… Rinay membalas dengan mengempot ke atas. Menggerakkan pinggulnya berputar-putar, ganas sekali putarannya. Aku naik turunkan lagi pantatku beberapa kali, kemudian kutekan dalam-dalam….

“Ahhh…,” gadis itu mendesah nikmat. Kemudian membalas lagi dengan tekanan ke atas, sambil menggoyang pantatnya ke kiri dan kekanan. Lipatan kemaluannya yang hangat terasa semakin kenyal dan licin.

Beberapa kali kami melakukan itu, aku pun jadi tak tahan. Tapi dia belum mencapai puncak. Aku akan membuat dia duluan merasakan kenikmatan.

Aku pun semakin aktif mengocok dan menekan memek Rinay. Tulang kemaluan kami beradu, bibir kemaluanya yang tebal menahan tekanan itu dengan nafsu, terasa hangat dan sangat basah karena lendir mani Rinay sudah melimpah sedari tadi.

Dua menit kemudian gadis itu melolong merasakan vaginanya berdenyut nikmat.. “Ooohhhhh….”

Aku membantunya dengan menekan semakin dalam. Rinay pun membenamkan tubuhnya ke kasur, menahan tindihanku sambil melepas nikmat, seiring dengan mengalirnya air mani prempuan itu dengan lebih deras. Merembes dari lipatan-lipatan kemaluannya.

“Enak sekali, Kak…eigh oh…!”

Berbarengan dengan itu akan pun mencapai puncak. Kemaluanku terasa berkedut seiring dengan menyemburnya air maniku di liang senggama gadis itu. Sementara liang senggama Rinay pun menggepit-gepit tak terkendali karena tak kuasa menahan nikmat yang luar biasa.

Kami masih berpelukan ketika rasa nikmat itu tercapai sudah. Gadis itu diam dalam pelukanku, tubuhnya sangat basah oleh peluh. Hawa panas pun terasa menyergap. Berangsur kami saling melepas pelukan.

Perlahan gadis bangkit itu duduk dari posisinya. Gurat-gurat kepuasan terpancar di wajahnya yang cantik. Sekilas ku lihat memek Rinay yang masih merah dan bibirnya tampak membengkak, cairan-cairan lendir masih menetes dari sela kemaluannya.

“Enak, Rinay?” gadis itu mengangguk. Kemudian ia mengusap keringat yang menitik di dadaku. “Dadamu penuh dengan peluh, Kak. Sini kuusap,” katanya sambil mengelus lembut dadaku yang memang penuh dengan keringat.

Beberapa saat lamanya kami kemudian berbaring bersama di kasurnya yang sempit itu. Rambutnya yang ikal dan panjang itu kubelai. Ia bergerak, menyusupkan tangannya di leherku, kemudian memintaku terlentang, dia ingin tidur di dadaku, katanya. Beberapa saat kemudian Rinay pun jatuh tertidur, tak menyadari air liurnya yang menitik dari sudut bibir. Aku pun segera terbang ke alam mimpi.

Entah jam berapa kami terbangun. Ketika itu aku dan Rinay masih berpelukan, sementara di luar terdengar suara-suara seperti sedang bernyanyi. Oh, ternyata hari sudah siang. Itu adalah suara Cenit yang sedang bernyanyi kecil, sementara di kejauhan terdengar suara orang sedang mandi, barangkali Liani sedang membersihkan tubuhnya.

Rinay pun sudah mulai terjaga, ia masih memelukku, buah dadanya yang kenyal itu menempel erat di dadaku. Dari ruang tengah terdengar Cenit sepertinya sedang menyapu lantai. Sementara dari bibirnya terdengar nyanyian yang sekarang sedang populer.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, kemudian gorden disingkapkan, dan masuklah Cenit ke dalam kamar, menatap kami yang masih bugil hanya berselimut kain sarung.

“Hei, bangun! Belum puas juga ya!”

Aku pura-pura tidur sambil memeluk Rinay lebih erat. Gadis itu terkikik… tapi dia juga pura-pura meneruskan tidurnya. Cenit berlagak marah dan menarik kain sarung penutup tubuh kami.

“Apa mau diteruskan lagi tidurnya? Udah siang tauu,”

Aku menarik kain sarung itu, malu karena kemaluanku sedang menegang setelah beristirahat total beberapa jam. Tapi kalah cepat, Cenit sudah menangkap batang kemaluanku dan mengusap-usap dengan jemarinya.

“Oh, jauh lebih besar dari gagang sapu ini… pantesan enak sekali.” Guraunya sambil tergelak sendiri. “Ya udah, kalau kamu pengen lagi, Rinay. Tuh mumpung lagi berdiri…”

Hampir tak kuat aku menahan tawa dengan canda Cenit, tapi tampaknya Rinay menanggapinya dengan serius, dia menggerakkan pantatnya, memelukku dari atas dan mengempot ke bawah. Bibir kemaluannya terasa menempel di batang kemaluanku.

“Tuuh, kan! Pasti mau lagi deh! Terusin aja, Rinay. Enak kok!” sergah Cenit sambil memegangi pinggang gadis itu, menolongnya mengangkat panta, aku pun memegang pangkal kemaluanku, menghadapkannya ke memek Rinay yang hangat.

“Udah pas belum?” tanya Cenit, Rinay mengangguk, perlahan Rinay menurunkan pantatnya, maka…. Srrluuuup.. batang kemaluanku masuk lagi ke memek Rinay. “Main dari atas enak, lho Rinay! Tekan aja biar lebih kerasa…” bisik Cenit agak keras.

Seperti tak peduli kehadiran Cenit di kamar ini, kami mengulangi permainan semalam, tapi kali ini Posisi Rinay ada di atas. Kusuruh gadis itu menegakkan tubuhnya. Ia menurut dan mendorong tubuhnya dengan meletakkan telapak tangannya di dadaku.

Sekarang posisinya berubah, aku berbaring sementara Rinay duduk mengangkang di atasku. Alat kelamin kami telah menyatu, ketika ia sudah duduk dengan benar, nampak memeknya seperti sedang mengulum kemaluanku sampai ke pangkalnya. Kelentitnya nampak menonjol dan cairan itu kembali mengalir membasahi jembut-jembut halusnya.

Kami saling pandang sementara masih bersatu, bibir Rinay tersenyum, beberapa kali ia menyibakkan rambutnya yang kusut. Perlahan dia mulai mengayun, gerakanya seperti orang sedang naik kuda. Naik turun berirama.

Semenit aku lupa dengan kehadiran Cenit di sana. ternyata ia berdiri di belakang Rinay, memperhatikan kami yang sedang bercinta dengan gaya seperti itu. Gadis itu menyeringai lebar menampakkan sederetan giginya yang putih bersih.

Kemudian tiba-tiba ia membuka bajunya, menampakkan beha putih dengan buah dada besar di baliknya. Ia pun membuka beha itu, melemparkannya ke sudut kamar, menarik rok panjang, membuka celana dalam sampai akhirnya bugil sama sekali.

Ia pun menyerbu ke arahku, membenamkan wajahku di susunya yang besar dan kenyal, meremas-remas kepalaku dengan jemarinya. Sementara Rinay terus asyik mengayun-ayunkan pantatnya naik turun.

Aku memeluk punggung Cenit, mengulum dan mengunyah susunya yang kenyal. Cewek itu mendengus-dengus ketika putting susunya tergigit lembut.

Lama kami bercinta segitiga seperti itu, mungkin ada seperempat jam.

“Kita enak-enakan bareng, Kak.” Bisik Cenit sambil meremas. Aku setuju, dia sudah hampir sampai puncak, aku pun tak tahan dengan ulah Rinay, yang mengocok-ngocok dari atas….

Cenit melepas pelukannya dan naik ke atas ranjang, mendudukkan pantatnya di dadaku mengangkang lebar menampakkan memeknya yang tercukur rapi. Gundukan dagingnya putih mulus dan kemerahan, bibir kemaluannya tebal dan dipenuhi cairan kental dan hangat.

Ia memajukan memeknya sehingga sampai di mulutku. Kemudian mulai menekan ke arah mukaku. “Ahh… ayo Kak! Aku udah gak tahan lagi nih.”

Sambil meremas pinggang dan pantatnya aku pun beraksi. Mengganyang habis kue pie lembut dan basah itu. Cenit segera merintih-rintih ingin segera melepas nikmat. Sementar di belakangnya Rinay tiba-tiba mengempot dan menekan ke bawah,. Tubuhnya ambRinay ke depan, menimpa punggung Cenit yang sedang menekan mukaku.

Wajahku semakin tertekan oleh gumpalan memek Cenit, sementara pahanya menggepit kedua pipiku dengan kuatnya. Akkkh… aku hampir tidak bisa bernapas. Ya ampun!

“Keluarin bareng, Kak! Aghhh.. ahhh!”

Cenit menekan, Rinay mengempot, dan… aku sesak nafas!

Terdengar suara rintihan panjang berbarengan, Cenit dan Rinay sedang dirasuki kenikmatan. Terasa memek Rinay berdenyut-denyut sembari melepaskan cairan kewanitaannya, sementara mulutku semakin basah oleh cairan memek Cenit yang juga berdenyut melepas nikmat.

Kedua tubuh cewek itu lunglai setelah menikmati segalanya. Mereka ambruk berbarengan ke tubuhku. Berat sekali rasanya menahan dua tubuh perempuan sekaligus, montok-montok lagi.

Seperti menyadari hal itu, Cenit dan Rinay pun bangkit, perlahan Cenit turun dari ranjang, sementara Rinay pun perlahan mengangkat pahanya, kedua tangan bertumpu pada dadaku.

Saat itulah kemaluanku keluar dari liang sanggamanya, cleep.. terdengar seperti bunyi plastik lengket yang sedang dibuka. Tampak kemaluanku masih menegang dan basah bergelimang cairan memek Rinay.

Aku terdiam sejenak, tak tahu harus berbuat apa, karena aku belum lagi mencapai puncak gadis-gadis ini sudah menghentikan permainnya, ketika itulah tiba-tiba Liani masuk ke dalam kamar, melihat kepada Rinay dan Cenit yang sedang mengenakan pakaiannya kembali.

Ketika ia mengalihkan pandangannya ke arahku, matanya terpaku menatap kejantananku yang masih berdiri dengan perkasa, merah dan mengkilat bermandikan cairan kemaluan Rinay.

“Kasihkan sama Liani, Kak!” kata Cenit sambil menyempalkan susunya yang montok itu ke balik beha. Wajah Liani semburat memerah. Mungkin dia tadi mendengar lolongan Cenit dan Rinay yang berbarengan menahan geli dan enak. Aku tak tahu apakah dia juga sudah terangsang dan ingin di gelitik nikmat lagi?

Tampaknya iya, ia mengangkat roknya menampakkan kedua paha yang padat dan putih mulus. Sementara Rinay dan Cenit bergegas keluar kamar, meninggalkan kami berdua saja di sana. semerbak wangi harum tubuh Liasni menusuk hidungku. Gadis ini baru selesai mandi.

Liani naik ke ranjang bersiap-siap hendak memasukkan kejantananku ke memeknya yang, ya ampun, ternyata sudah bengkak merekah merah dan basah pula. Tapi siapa tahan menahan tubuhnya yang tinggi montok itu setelah tadi ditindih oleh dua gadis montok sekaligus.

Aku bangkit duduk, mendorong sedikit tubuh Liani, gadis itu seperti kaget. Tapi dia menurut. Kemudian kusuruh ia berdiri dan … ini dia aku ingin merasakan sesuatu yang lain.

Kusuruh ia berdiri membelakangiku dan menumpukan tangannya di dipan. Posisinya sekarang menungging di depanku, Liani mengerti, ia mengangkat pantatnya lagi, dari belakang disela-sela bongkahan pantatnya, nampak kemaluannya membelah. Cairan kental menitik-nitik banyak sekali.

Meski nafasnya ditahan, aku tahu gemuruh di dadanya sudah sedemikian hebat. Tampak dari buah dadanya yang menggelantung itu bergetar-getar menahan dentaman jantungnya yang meningkat dahsyat.

Aku ingin masuk dari belakang dan kemaluan Liani sudah siap untuk kutusuk dari arah itu. Liani semakin menunggit menampakkan bongkahan pantat dan memek yang merekah. Aku maju menyorongkan kejantananku ke arah belahan nikmat itu. Creepp.. kejantanankupun coba menerobos dan berusaha keras memasuki liang senggama Liani yang terbuka. Tapi gumpalan pantat Liani cukup menahan gerakananku.

Egghh.. aku mencoba lagi dan menekan lebih kuat ke depan. Akhirnya… masuk juga. Oh, rasanya seperti dipilin-pilin. Aku menekan lagi… kemaluan kami semakin berjalin, tapi bongkahan pantat Liani seolah menahan gerakanku sehingga aku harus menekan agak lebih kuat.

“Emhh….” rintih Liani tertahan. “Tekan , Bang…. Emmghhh”

Aku bergerak maju mundur dan menekan-nekan, sekujur batang kemaluanku rasanya seperti dicengkram. Sambil agak membungkuk aku mencoba meraih buah dada Liani, meremas keduanya dari belakang. Hangat besar dan sangat kenyal. Putingnya kuputar-putar dengan dua ujung jari. Membuat gadis itu menggelinjang hebat dan semakin mengangkat pantatnya tinggi-tinggi agar kejantananku masuk lebih dalam.

Tubuh kami semakin berkeringat ketika rasa enak itu semakin memuncak. Aku pun menekan dan menggosok-gosok lagi dinding memek Liani yang merapat. Agak sulit main dari belakang, tapi kami menikmatinya. Beberapa manit kami menikmati permainan itu. Tubuh Liani maju mundur tertekan oleh gerakan tubuhku.

Ketika sedang asyik tiba-tiba gorden kamar kembali terkuak. Sosok tubuh Rinay masuk berkelebat, seperti tak memperhatikan kami gadis itu menuju ke ujung dipan, ternyata celana dalamnya ketinggalan di sana.

Kami tak mempedulikan kehadirannya dan terus saling menekan. Aku menekan ke depan sementara Liani menekan ke belakang. Kemaluan kami sudah begitu menyatu erat bermandikan cairan kental. Tubuh kami pun menegang dan basah oleh keringat yang membanjir. Rasa nikmat semakin meningkat, semakin lama semakin hebat.

“Aghhh…hhhh” aku menggeram menahan rasa. Denyutan-denyutan penuh rasa nikmat menyerang kemaluanku. Liani merintih tak kalah dahsyat… bahkan lebih hebat dari erangan Cenit dan Rinay berbarengan.

“Bang… agh! Enak banget,…oh Aku gak tahan lagi!”

Samar kulihat Rinay mengenakan celana dalamnya…. Ketika itu pula aku dan Liani saling menekan hebat… menahannya dan merasakan detik-detik penuh kenikmatan. Nafas Liani melenguh-lenguh, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Memeknya menyempit dan … srrr….. keluar banjir yang hebat. Tubuhnya bergetar menahan rasa geli yang luar biasa. Aku pun menekan semakin dalam.

Mmhhh… berkali-kali kemaluanku seperti meledak dalam cengkraman memek Liani. Berkali-kali pula lipatan kemaluan gadis itu menyempit dan menggenggam kemaluanku kuat-kuat ketika ia pun melepas nikmat di pagi nan cerah itu.

Rinay mendehem kecil ketika kami menyudahi permainan itu dengan rasa puas. Liani menjatuhkan tubuhnya yang basah oleh titik keringat di dipan, menelentang dengan nafas masih terengah-engah. Bibir kemaluannya nampak membengkak, merah dan berkilat penuh dengan lendir. Rinay pun diam-diam keluar dari kamar, di dekat pintu ia menyibakkan rambut ikalnya, menjeling ke arahku, setelah itu ia pun berlalu.

]]>
http://www.difunde.com/tiga-dara-dusun.html/feed 0 http://www.difunde.com/gairah-liar-wanita.html http://www.difunde.com/gairah-liar-wanita.html#comments Tue, 24 Apr 2012 05:50:13 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=31

Jam weker dimeja kamarku berdering pada jam 09.00 pagi, memang aku mensetting pada jam itu, karena tadi sampai terdengar adzan subuh aku masih belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku menggeliatkan tubuhku terdengar kerotokan pada pinggangku, dengan malas aku bangkit dari tempat tidur… ups.. aku lupa kalo aku tadi tidur dengan tubuh telanjang bulat… kulihat tubuhku dari pantulan cermin besar.. mmm… dalam usia hampir kepala 4, kulihat tubuhku masih bagus dilihat… buah dadaku yang berukuran bra 36 B masih cukup kenyal, pinggangku masih ramping tak berlemak, pinggul dan pantatku kata mas Seno, almarhum suamiku adalah bagian yang terindah dari tubuhku, sangat seksi dan serasi dengan sepasang kakiku yang panjang… wajahku…? kata mas Seno lagi, katanya wajahku lebih pantas dibilang seksi daripada cantik… entahlah penilaian lelaki memang susah dijabarkan oleh perempuan….Sssssshhh… ooohhh… gila, lagi-lagi gairah birahiku meletup dengan tiba-tiba… di depan cermin besar itu aku meremasi buah dada montokku sendiri yang kian mengencang… ammpuuuun… sudah 2 hari 2 malam ini aku sangat menderita karena birahi gila ini… entah berapa belas kali selama 2 hari 2 malam ini aku bermasturbasi…sampe tubuhku benar-benar loyo.

Bahkan pada hari pertama aku sempat melakukan masturbasi di belakang kemudi mobil di tengah keramaian jalan tol, saking ngga ketahan… Semalam, dengan diiringi adegan-adegan syur film bokep koleksi almarhum mas Seno… aku melampiaskan hasrat birahiku secara swalayan, mungkin lebih dari 10 kali sampai pagi menjelang…Maka betapa jengkelku, sekarang belum setengah jam mataku terbuka, gelegak birahi itu meletup lagi… kali ini aku melawan, aku masuk kamar mandi, kuguyur tubuhku dengan shower air dingin… agak menggigil juga tubuhku…. Aku memang wanita berlibido tinggi. Sejak ABG aku sudah kenal masturbasi… menjelang lulus SMU aku mengenal persetubuhan dan berlanjut menjadi doyan disetubuhi… Masa kuliahku adalah masa euphoria sex, karena aku kuliah di Bandung sementara orang tuaku di Jakarta… pada awal masa kuliahku, aku pantas dijuluki Pemburu Seks… beberapa kali aku diusir dari tempat kost yg berbeda, dengan sebab yg hampir sama… yang aku ingat, sore pulang kuliah diantar teman kuliahku, aku lupa namanya… pokoknya keturunan Arab… aku lupa bagaimana awal mulanya, aku bisa nyepong kemaluan Arab ganteng itu di dalam kamarku dalam keadaan pintu ngga terkunci dan Ipah pembantu ibu kost yg nyinyir itu nyelonong masuk kamarku utk menaruh pakaianku yg habis diseterikanya… aku tengah terkagum-kagum dengan volume batang kemaluan Arab ganteng yang lebih besar dari lenganku dan minta ampun panjangnya.

Malam itu juga aku disidang dan harus keluar dari rumah kost itu. Tapi buatku ga ada masalah karena malam itu si Arab ganteng memberikan tumpangan sementara di rumah kontrakannya… tentu saja gairah birahiku yang binal dimanjakan oleh Arab ganteng itu… sepanjang hari… bahkan sampai beberapa hari aku tinggal di rumah kontrakan si Arab ganteng yang berantakan… Kejadian yg lain pernah juga tengah malam, lagi seru-serunya ML sama cowok baruku… tiba-tiba pintu didobrak petugas ronda yg rupanya sudah lama memperhatikan kebiasaanku masukin cowok malam-malam… cowokku dengan tengilnya berhasil kabur… sementara aku lagi-lagi terpaksa harus cari kost baru lagi… Satu lagi yang ga bakal aku lupa, affairku dengan bapak kost, biar sudah tua tapi ganteng dan handsome.. dan yang membuatku bertekuk lutut… mmm… aksi ranjangnya boo’… selalu membuatku bangun kesiangan esoknya… sayang aku menikmati kencan ranjang dengan bapak kost baru tiga kali keburu ketangkap basah sama istrinya… abis siang bolong bapak itu ngajakin naik ranjang… apesnya lagi aku ga akan mampu menolak, kalo tetekku sudah kena diremasinya… baru mau dua kali aku mendapatkan orgasme… eeh…pintu di ketok-ketok dari luar dan terdengar suara ibu kost memanggil namaku… mendengar itu bapak kost yg sedang memainkan batang kemaluannya di liang sanggamaku, jadi gugup dan efeknya justru membuatnya orgasme, untung gak telat nyabut… pejunya berhamburan di atas perutku banyak sekali…. bisa ditebak endingnya… aku harus angkat kaki dari rumah kost saat itu juga…

Nasihat sahabat-sahabatku, banyak merubah perilaku seksualku yang liar… Dengan susah payah aku berhasil menekan hasrat birahiku yang memang luar biasa panas dan aku mengumbarnya… awalnya mana sanggup aku menahan seminggu tanpa aktivitas seksual… bakal uring-uringan dan kepala terasa pecah… Sampai akhirnya aku ketemu dengan mas Seno aktivis mapala kakak kelasku… ngga hanya sosoknya yang jantan… permainan ranjangnyapun luar biasa… permainannya yang agak kasar, mampu membuatku mengerang-erang histeris… Aku ga nyesel, harus married dengan mas Seno karena keburu hamil. Buktinya aku berhasil menyelesaikan kuliah, walaupun sambil mengasuh Astari buah cintaku dengan mas Seno. Status ekonomi kamipun tergolong bagus… Sampai akhirnya 5 tahun yg lalu, kecelakaan mobil di jalan tol merenggut mas Seno dari kami berdua… Selama 5 tahun menjanda, mungkin karena kesibukanku mengurus dan melanjutkan usaha mas Seno yang sedang menanjak pesat dan keberadaan Astari anak tunggalku sudah menginjak usia gadis remaja, aku hanya 2 kali terlibat affair dengan lelaki yg berbeda, itupun juga hanya having fun semata, penyegaran suasana disela-sela kesibukan bisnis… Kehidupan seksualku datar, tanpa gejolak… sesekali aktivitas masturbasi cukup memuaskanku…

Setelah tubuh terasa segar, kukenakan kimono dan keluar kamar…

” Heee… Ron kamu disini..? kok ga sekolah..?” Kudapati Ronie di belakang komputer Astari. Ronie adalah kakak kelas Astari yang hampir setahun ini akrab dengan anak gadisku itu. Anak muda yang sopan dan pandai cerminan produk dari keluarga yang cukup baik dan mapan.

” Iya tante, saya hari ini kebetulan banyak pelajaran kosong jadi bisa pulang lebih awal dan tadi Tari minta tolong saya nungguin tante yg lagi sakit.. kali aja butuh apa-apa” Sahut Ronie sopan, membuatku terharu… Lumayan ngobrol dengan Ronie, penderitaanku agak berkurang…

” Ron, kamu bisa mijit ga..? tolongin pijitin tante dong bentar… leher tante kaku…” pintaku ke Ronie tanpa canggung, karena memang kami sudah akrab sekali, bahkan buatku Ronie kaya anakku sendiri. Ronie duduk menghadap punggungku pijatan demi pijatan kurasakan… tanpa kusadari sentuhan tangan lelaki muda itu terasa nikmat selayaknya sentuhan lelaki yang tengah membangkitkan birahi perempuan… aku mulai mendesah resah… percikan api birahi dengan cepat membakarku tanpa ampun…. sementara tanpa kusadari kimonoku sudah semakin melorot, terdesak tangan Ronie yang kini memijit daerah pinggangku, atas permintaanku sendiri untuk memijit lebih turun…. uuuhh… dadaku terasa sesak.. akibat tete’ku yang semakin mengencang…. aku ingin ada yang meremasinya… Sssshhh.. ooohhh… gilaaa… ngga tahaann… kupegang kedua tangan Ronie, tangan kiriku memegang tangan kirinya dan tangan kananku memegang tangan kanannya kutarik kedepan melingkari tubuhku dan kutangkupkan di buah dadaku…

” Eehh… tante…?” bisik Ronie bingung dari belakang tubuhku

” Ron… tolong remasi tete’ tante…” desisku resah… merasakan sentuhan tangan lelaki pada buah dadaku yg tengah mengencang…. Benar-benar hilang sosok Ronie yg sehari-hari adalah pacar Astari anakku.. yang ada dibenakku saat itu Ronie adalah lelaki muda bertubuh tegap… Ooouuh… Ronie mulai meremasi kemontokan buah dadaku…

” Yaaaaahh.. hhh…hhh… enaaaak Ronn.. ulangi lagi sayaaang.. oooohhh….” tubuhku menggeliat resah… kugapai kepala Ronie dan kutarik ke arah tengkukku yang terbuka karena rambutku kusanggul keatas… Ronie tak menolak dan melakukan permintaanku untuk menciumi tengkukku..

” Ciumi leher tante… hhhmmm..sssshhh.. yaaahh.. kecupin sayaaang.. aaaaccchh… sssshhh..” bisikan dan desah mesraku menuntun Ronie melakukan apa yg kuminta…Aku makin gemas, tubuhku gemetaran hebat… baju kimonoku tinggal menutupi tubuh bawahku karena tali pinggangnya masih terikat. Kubalikkan tubuhku, sejenak kupandangi wajah ganteng Ronie yang matanya terbelalak liar menatap nanar tubuh bagian depanku dengan mimik ngga karuan. Kulingkarkan kedua lenganku di lehernya dan dengan penuh gairah kusosot bibir manisnya… anak muda ini gelagapan menghadapi liarnya bibirku yang mengulum bibirnya dan nakalnya lidahku yang menggeliat menerobos masuk rongga mulutnya… Tapi insting lelakinya segera mengantisipasi, segera dapat mengatasi seranganku.

Baju seragam Ronie dengan cepat kulolosi dan… ooohh… dada yg gempal dan bidang dari salah satu tim inti basket di sekolahnya ini membuat gairahku semakin binal… Kudorong tubuh Ronie untuk rebah disofa… nafas jantannya mulai tak beraturan.. Mmm… pejantan muda ini mulai mengerang-erang dan tubuhnya menggelepar, tatkala bibir dan lidahku menjelajahi permukaan kulit dadanya, bungkahan dada jantannya kuremas dengan gemas.. Aksi bibir dan lidahku terus melata sampai ke pusarnya… Sssshhh… celananya tampak menggembung besar.. entah ada apa dibaliknya..? jantungku berdegup semakin kencang melihatnya… dan mataku terbelalak dibuatnya, sampai aku harus menahan nafas, ketika retsluiting celana abu-abu itu terbuka… kepala kemaluan jantan menyembul keluar dari batas celana dalamnya…. aku dengan tergopoh-gopoh karena tak sabar melorotin celana seragam sekalian dengan celana dalam putihnya sampai ke lutut Ronie… Ooooohhh my God..! teriakku dalam hati… menyaksikan batang kemaluan Ronie yang mengacung di antara pahanya… begitu macho, begitu gagah, begitu indah bentuknya… dengan kepala kemaluannya yang besar tampak mengkilat…

Tanganku terasa gemetaran ketika hendak menyentuh nya… Kembali tubuh Ronie menggerinjal kecil ketika tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… aku makin binal, kudekatkan wajahku untuk mengulum kepala kemaluan yang menggemaskan itu, sambil tetap tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… mendadak tubuh tegap itu meregang hebat diiringi erangan keras… dan bibirku yang setengah terbuka dan tinggal beberapa sentimeter dari kepala kemaluan itu merasakan semburan cairan hangat dengan menyebarkan aroma khas yg sangat kukenal dan kurindukan… apalagi kalo bukan peju lelaki… tanganku refleks mengocok batang kemaluan Ronie makin cepat sambil tanganku yang lain mengurut lembut kantung pelirnya…

Sementara kubiarkan peju yang sangat kental itu menyembur wajahku…. sesekali kusambut dengan lidahku… mmmm… rasa khas itu kembali dikecap oleh lidahku…Terus terang aku sempat kecewa, dengan bobolnya peju Ronie….Tapi beberapa saat batang kemaluan yang masih dalam genggamanku, kurasakan tak menyusut sedikitpun masih tetap keras… tanpa buang waktu, aku merangkak diatas tubuh Ronie yang menggelosoh di sofa… dengan posisi tubuhku jongkok mengangkangi tubuh Ronie, di atas kemaluan Ronie… kutuntun batang kemaluan perkasa yang masih belepotan peju itu kearah liang sanggamaku yang sudah basah kuyub dari tadi… wooohh… ternyata kepala kemaluan itu terlalu besar untuk masuk ke liang sanggamaku… Akhirnya dengan sedikit menahan perih, akibat otot liang sanggama yang dipaksa membuka lebih lebar.. kujejalkan dengan sedikit memaksa ke liang sanggamaku yang sudah tak sabar untuk segera melahap mangsanya….

” Iiiiihhh… bantu dorong sayang…. Oooooowwwwww…” Aku merengek panjang ketika sedikit demi sedikit amblas juga batang kemaluan Ronie menembus liang sanggamaku.. diiring rasa perih yang menggemaskan…

” Sssshhh… mmmhh… ayun pinggulmu keatas sayaaang..” kembali aku menuntun pejantan muda ini untuk memulai persetubuhan…

” Aaaww… aahh… ooww.. pelahan duluuu sayaaang… burung kamu gede banget… perih tauuk..” aku ngedumel manja… ketika Ronie mengayun pinggulnya kuat sekali… Terasa tubuhku bagaikan baterai yang baru dicharge… aliran energi aneh itu mengalir menyebar ke seluruh tubuhku… membuat aku semakin binal memainkan goyangan pinggulku… sementara Ronie ternyata cukup cerdas menyerap pelajaran, bahkan mampu segera mengembangkan… dengan posisi tubuhku diatas, membuatku sangat cepat mencapai orgasme… entahlah atau karena besarnya batang kemaluan Ronie yang menyungkal rapat liang sanggamaku, sehingga seluruh syaraf dinding liang sanggamaku rata dibesutnya… Luar biasa..! dalam waktu kurang dari lima menit setelah orgasmeku yg pertama, kembali aku tak dapat menahan jeritku mengantar rasa nikmatnya orgasme yang kedua… dan… hhwwwoooo…. aaaammmpppuuunnn..!!!! Rupanya Ronie tak mampu menahan lebih lama bobolnya tanggul pejunya… tubuhku dihentak-hentaknya kuat sekali… seakan ingin memasukkan seluruh batang kemaluan sepeler-pelernya ke liang sanggamaku… diiringi erangan mirip suara binatang buas sekarat…

Aku menangis menyesal setelahnya, berkali-kali Ronie memohon maaf atas kejadian yang terjadi siang itu…Tapi anehnya gairah seksualku yang meletup-letup tak terbendung itu, mereda setelah kejadian siang itu… Aktivitas berjalan normal kembali, tapi sudah hampir seminggu ini, aku tak pernah melihat Ronie datang ke rumah.

” Dia lagi sibuk Ma… dapat tugas antar jemput saudara sepupunya yang masih SD…” Jawab Astari ketika aku menanyakan tentang Ronie yang tak pernah muncul… Terus terang saja, sejak kejadian itu… pikiranku sangat kacau, disisi aku sebagai Mama Astari aku sangat menyesal dan sedih atas kejadian itu, tapi disisi aku sebagai seorang wanita yang masih punya hasrat dan naluri betina yang utuh… aku tak ingin melupakan kejadian itu… bahkan aku berharap kejadian itu terulang lagi….

Hampir sebulan lamanya Ronie tak muncul ke rumah, akupun maklum, Ronie sebagai remaja hijau, tentu mengalami shock dengan kejadian itu… disitulah muncul rasa berdosaku kepada Ronie dan Astari anakku… Tapi jujur sejujurnya ada terselip rasa rinduku memandang wajah anak muda itu… Aku sering mengintip dari balik gordiyn jendela, saat Astari turun dari boncengan Ronnie… kenapa hatiku berdebar-debar dan sedikit desiran birahiku menggelegak…

Pikiranku makin kacau… setelah beberapa kali kulihat Ronnie mulai nongkrong lagi dirumah… kulihat Ronnie masih salah tingkah di depanku, walaupun aku sdh berusaha menetralisirnya.. iiihhh tapi buat aku… otakku jadi ngeres begitu melihat wajah Ronnie yg innocent… betapa tidak… terbayanglah ekspresi wajahnya ketika tengah menyetubuhiku beberapa waktu yang lalu… ekspresi wajahnya yang begitu sensual dimataku pada saat dia melepas semburan spermanya… suara erangan dan nafas birahinya seakan nempel ditelingaku… maka kekacauan inilah yang mendorongku menerima tawaran Adrian seorang rekan bisnisku untuk makan siang di sebuah hotel berbintang dan setelahnya akupun tak menolak ketika ia mengajakku memasuki sebuah president suite di hotel itu, dengan alasan untuk mencari ketenangan membicarakan pekerjaan… walaupun yang terjadi kemudian adalah rayuan-rayuan mautnya yang kusambut positif… dari remasan tangan… kecupan bibir… jilatan lidahnya yang nakal pada leherku… desah resahku… remasan gemasku… dan… lolosnya pakaian kami satu persatu… payudaraku yang mengencang akibat remasan tangan dan cumbuan bibirnya… hhmmm… jilatannya pada clitorisku… batang kemaluannya yang berbentuk indah, perkasa… memaksa bibirku untuk mengulumnya… ooowww… nikmat hentakan tubuhnya menekan tubuhku… sodokan kejantanannya pada liang sanggamaku mengantarkan kenikmatan orgasmeku dua kali berturut-turut… 2 jam kami melewatkan waktu untuk making love siang itu, kekaguman Adrian atas permainan ranjangku yang begitu hot dan lihay… beberapa kali aku berkencan ranjang dengan Adrian lelaki tinggi besar berstyle dandy… kepuasan sex kuraih dengan sempurna dengan kelihayannya dia memperlakukan perempuan di atas ranjang… tapi bayangan sensual wajah bocah innocent bernama Ronnie itu tak juga sirna…

Sampai pada suatu malam hujan turun dengan deras… rupanya malam itu Ronnie sedang dirumah, berbincang dengan Astari di ruang tamu… sedangkan aku nonton TV diruang belakang…

” Ma, mas Ronnie mo pulang tuh…” terdengar suara Astari dari belakangku…

” Eh… pulang..? hujannya gede banget, tunggu reda aja.. jauh lagi rumah Ronnie..” jawabku spontan sambil bangkit dari dudukku berjalan ke ruang depan… kulihat jam memang sudah terlalu malam untuk bertamu…

” Ronn… ujan begini lebat, udah malem lagi… ntar ada apa-apa di jalan… sudah deh Mama kasih kamu nginep disini, tidur di kamar atas, besok subuh Mama bangunin kamu…” ujarku, terdorong rasa sebagai orang tua yg khawatir kepada anaknya… Ronnie menunduk salah tingkah ga berani menolak..

” Tapi Ronnie harus telpon rumah dulu tante…” sahutnya pelan… dan akhirnya justru aku yang menelpon kerumah Ronnie memintakan ijin orang tua Ronnie, yang ternyata menyambut baik…

Malam semakin larut, sementara hujan semakin hebat diserta guntur dan kilatan petir… Aku tergolek di ranjang, tak dapat memicingkan mata… Siang tadi kembali Aku melewati kencan ranjang dengan Adrian…. tapi… entah kenapa kali ini… susah sekali aku mencapai orgasme… sampai 2 kali Adrian menumpahkan spermanya… sedangkan aku tak sekalipun.. Gilaaa… kenapa justru sekarang wajah bocah itu yang terbayang-bayang di malam dingin ini… iiihhh… birahiku meletup- letup gila… ampuuunn… sekarang bocah itu ada dilantai atas… tunggu apa lagi..??? mmmm… bisikan setan.. aku tak mampu menahan tubuhku yang berjalan manapaki tangga… dan kini aku di depan pintu kamarnya… tanpa mengetuk kubuka pintu… ternyata Ronniepun masih belum tidur…

” Ronnie kamu belum tidur..?” tanyaku gagap… kenapa aku jadi salah tingkah sekarang…?

” Tante juga belum tidur…?” sahutnya… iiihh… jawabannya begitu tegas… aahh… siapa yg menuntunku duduk diranjangnya… mmm… darahku berdesir ketika tahu mata Ronnie menatap dada montokku yg memang tak mengenakan bra, sehingga puting susuku tercetak menonjol dibalik gaun tidurku yg memang berbahan tipis, sehingga semburat kecoklatan aura puting susukupun nampak jelas, kembali aku kehilangan kontrol… dan entahlah bagaimana awalnya dan siapa yang mengawali…. bibirku sudah dalam lumatan bibir Ronnie… sergapan nafsu birahiku tak dapat kuelakkan dan remasan lembut tangan lelaki muda pada buah dadaku melambungkan gairah seksualku… gelitikan lidah nakalnya pada puting susuku membuat tubuhku menggeliat erotis disertai erangan manjaku… satu demi satu pakaian beterbangan meninggalkan tubuh kami… aku begitu hot dan bergairah mencumbui tubuh pacar anakku itu… tapi aku sudah melupakan siapa Ronnie, yang aku tahu Ronnie adalah lelaki muda yang siap memenuhi kebutuhanku ooowww… aku tak menyangka kali ini Ronnie lebih lihay dan lebih berinisiatip melakukan serangan, sampai aku hampir tak percaya ketika Ronnie menyurukkan wajahnya di selangkanganku dan mencumbui bibir kemaluanku…

” Ronnn…. sssshhh…. kamu piiiinteer sekarangg… ooohh.. ammpuunn nikmaaaatnyaa…” desahku merasakan nikmat cumbuan lidahnya pada clitorisku, membuat Ronnie tambah semangat… Ketika permainan yang sesungguhnya berjalan… sebagai wanita dewasa yang telah berpengalaman menghadapi gairah lelaki… aku dibuat megap-megap menghadapi serangan pejantan muda ini… hajaran batang kemaluannya yang perkasa pada liang sanggamaku tak kenal ampun… membuat aku mengerang merintih bahkan menjerit setengah histeris… untung suara hujan yang lebat di timpa suara guruh meredam suaraku…. luluh lantak tubuhku dihajar aksi ganas Ronnie… tapi buatku adalah sebuah sensasi seksual yg sangat luar biasa.. yang mengantarku meraih dua kali kenikmatan orgasme…. tubuh telanjang kami terkapar lunglai di ranjang yang kusut spreinya, tak ada sesal kali ini…

“Ronnie jujur sama Tante… setelah waktu itu kamu maen sama perempuan mana…?” tanyaku datar dg nada dingin.

” Aaah… nggak, sekali-sekalinya cuma sama Tante Arsanti..” jawab Ronnie agak gugup menyebut namaku..

” ga mungkin, kamu mendadak bisa begitu canggih mencumbu Tante…?” desakku… dan akhirnya Ronnie menceritakan pengalaman setelah pengalaman seksualnya yang pertama, Ronnie banyak nonton blue film dan otak cerdasnya banyak menyerap gaya dan cara bercinta dari film-film biru yang ditontonnya…

“Mmmmm… kaciaaan… kamu tentunya kangen mencumbu Tante ya sayaang…?” bisikku sambil kudaratkan kecupanku ke bibirnya, tubuhku bergerak menindih tubuh atletis Ronnie, tubuhku direngkuh dan tubuh kami menempel ketat… kuajarkan permainan lembut… mmmm… anak pintar ini dengan cepat menguasai permainan baru yg kuajarkan… dengan telaten setiap inchi tubuhku dirambahnya dengan remasan, gerayangan tangannya yang nakal… jilatan dan kecupannya merambah setiap bagian tubuhku yang sensitif… tubuhku menggeliat erotis… kadang menggelepar liar… rintihanku mulai terdengar… tak dapat kutahan desah gelisahku… diselingi jeritan gemas…

” Ayo sayaang…hh..hhh… Tante udah ga tahan…” bisikku lembut, setelah aku nggak tahan lagi merasakan kuluman dan jilatan Ronnie pada clitorisku…

” Aoooouuuhhh… Roooonnn….hhh…hhhh…” suaraku terdengar bergetar memelas… mataku meredup sayu menatap wajah imut Ronnie, manakala liang sanggamaku untuk kesekian kalinya ditembus batang kemaluan bongsor milik Ronnie, namun kali ini Ronnie menekan pelan sekali, sehingga terjadi gesekan nikmaaaaat yang lama sekali… sehingga kedua kakiku yang melingkari pinggangnya seakan mengejang, tak tahan menahan kenikmatan yang luar biasa…

“Enaaak Tante..?” bisiknya lembut sambil tersenyum manis, ketika liang sanggamaku sudah tak ada tempat lagi bagi batang kemaluannya… iiih… menggemaskan bibirnya… aku menjawab dengan mengangkat alis… bibirku kembali menyambar bibir yang menggemaskan itu… ciuman dan kuluman panjang dimulai, dorongan gelegak birahi kami memang luarbiasa, permainan semakin panas dan semakin liar, ekspresi kami total menyembur tanpa kendali…kembali tubuhku dihentak-hentak oleh tenaga perkasa Ronnie dengan garangnya… jeritan dan rintihanku silih berganti ditimpa dengus nafas birahi ronnie yang mengeros buas…

“Aaaahhhkkk…. Roonnnie ssaayaang…. aammppuuunn…ooowww… ssshhh… niiikmaaat banggeet ssiih…???” rengekku dengan suara memelas, namun tarian pinggulku dengan gemulai masih dengan sengit mengcounter rajaman batang kemaluan Ronnie di liang sanggamaku sehingga terdengar bunyi berceprotan di selangkanganku… gillaaa.. susah untuk kuceritakan sensasi malam itu…

“Tante…hhh…hh.. Ronnie ampiir… sssshhh..” desis ronnie dengan suara bergetar… matanya garang menatapku… iiihhh mengerikan, tapi aku sngat menyukai ekspresi ini

” Ayoooo sayaanggg…. semburkan bareng Tante… ooouuuuhhhh….!!” Ya ammppuuun… mengerikan sekali… tubuhku terguncang-guncang hebat, akibat hentakan tubuh Ronnie menghajar liang sanggamaku pada detik puncak… mulutku menganga lebar tanpa suara, tanganku mencengkeram erat pinggiran ranjang…. dan entah apa yang terjadi, karena pada saat itu orgasmekupun meletus dahsyat…

Entah berapa lama suasana hening, hanya suara nafas kami terengah-engah yg terdengar…. hujan di luar rupanya sudah berhenti juga….

” Tante… boleh Ronnie pulang sekarang, hujan kayanya sudah berhenti…” suara Ronnie memecah keheningan…

” Hmmm… sebenernya Tante masih pingin meluk kamu, pingin cumbuin kamu sayaaang… ini ditinggal buat Tante aja yah..?” sambil kuremas batang kemaluan yg masih sembab…

“Titit kamu buat Tante aja ya sayaang… jangan buat orang lain… apalagi buat Astari… awas Tante bisa marah besar..” sambungku dengan nada serius… Ronniepun mengangguk tegas. Kuantar Ronnie ke garasi tempat motornya diparkir, kubiarkan tubuhku bugil, telanjang bulat…. Gila… digarasi masih sempat kulakukan oral sex… kutelan habis peju segar yg menyembur di dalam mulutku…. Capek yang luar biasa kurasakan setelahnya, badan rasanya lengket-lengket dan bau gak jelas…

]]>
http://www.difunde.com/gairah-liar-wanita.html/feed 0 http://www.difunde.com/seks-dengan-si-kembar.html http://www.difunde.com/seks-dengan-si-kembar.html#comments Mon, 23 Apr 2012 17:49:29 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=29

Badan Adi terasa pegal-pegal pagi itu, setelah kemarin malam tiba di rumah bibinya di Tasikmalaya. Perjalanan dari Jakarta dengan bis selama lebih dari lima jam membuatnya lelah. Karenanya pagi itu bibinya menyuruhnya untuk dipijat guna melemaskan otot-ototnya.

Semula Adi menolak karena dia tidak terbiasa dipijat. Tetapi setelah dia tahu yang akan memijatnya adalah Dea, perempuan yang setiap pagi membantu bibinya sehari-hari dan menyiapkan segala keperluan sebelum kepasar untuk berjualan, akhirnya Adi berminat juga. Sebagai anak SMA, pikiran-pikiran kotor tentang dipijiti perempuan melintas dibenaknya, siapa tahu dapat bonus setelah dipijat.

Sebelumnya Adi telah melihat Dea pagi itu ketika mempersiapkan keperluan bibinya yang akan berjualan di pasar. Dea perempuan berusia dua puluhan tahun, berwajah sangat lumayan dengan kulitnya yang kuning langsat dan tubuhnya yang padat berisi, terlihat dibalik kebaya yang dipakainya. Dea bukanlah pembantu, tugas utamanya hanya menemani sambil menunggui rumah ketika bibinya yang janda berdagang dipasar. Ia masih kerabat jauh dari bibinya, sedangkan suaminya sedang bekerja di Arab Saudi.

Kini sambil tengkurap dilantai beralaskan kasur tipis dengan hanya mengenakan kaus singlet dan kain sarung, Adi sedang menikmati pijatan Dea. Jemari tangan perempuan mulai memijati betisnya yang kaku. Pijatannya lembut tapi cukup bertenaga.

“Pijatan kamu enak, belajar dimana ?” tanya Adi membuka pembicaraan
“Ah, tidak belajar dari mana-mana, bisa sendiri” jawab Dea dengan logat Sunda yang kental.
“Oh begitu” kata Adi sambil terus merasakan pijatan
“Sudah lama ikut Bi Karta?” tanyanya lagi
“Sudah sekitar tujuh bulan” jawab Dea “Sejak Kang Sudin suami saya kerja ke Arab Saudi”
“Sudah lama juga ya” timpal Adi ” Kang Sudin suka pulang ?”
“Belum pernah, habis dikontraknya satu tahun sih. Jadi satu tahun baru boleh pulang” jelas Dea.
“Waduh lama juga ya. Apa ngga kesepian ?” tanya Adi memancing
“Yah, gimana lagi. Namanya juga cari rejeki” jawab Dea yang jemarinya mulai memijati paha Adi.

Dipijatinya paha itu mulai dari belakang lutut terus keatas menyusup kebalik kain sarung yang dipakai Adi. Dea agak jengah ketika tangannya menyusup hingga pinggul Adi dan menyadari pemuda itu tidak pakai celana dalam. Mukanya agak memerah tetapi tetap diteruskan pijatannya.

Bahkan sambil merenggangkan kedua paha Adi, tangannya menyusuri pijatan hingga mendekati pangkal paha. Dan karena licin oleh minyak, jemarinya nyelonong hingga menyentuh biji peler Adi.

“Aduh jangan disodok dong !” seru Adi pura-pura kaget.
“Aduh maaf, licin sih” ucapnya menahan malu. “Habis aden tidak pakai celana sih”
“Eh maaf, saya pikir biar semuanya kepijat” jawab Adi nakal.

Akhirnya setelah bagian paha Dea pindah kebagian pinggang dan Adi membuka kaus singletnya ketika pijatan itu terus kepunggung dan pundaknya.
Pijatan Dea memang terasa enak buat Adi atau karena yang memijatnya perempuan. Tapi yang terang selusuran jemari berminyak disekujur badannya telah membuat Adi merem-melek bersensasi, hingga tanpa sadar secara perlahan batang kontolnya menegang. Hal ini yang membuatnya gelagapan ketika Dea menyuruhnya terlentang untuk dipijat bagian depan.

“Eh bagian depannya juga ya?” tanyanya gugup.
“Iya, biar sekalian” jawab Dea terdengan merdu di telinga Adi.

Dengan perlahan diputar tubuhnya celentang, sementara tangannya sibuk membereskan kain sarungnya agar acungan batang kontolnya tidak terlihat.
Sebenarnya Dea tahu apa yang terjadi, tapi ia pura-pura tak melihat dan sambil tersenyum kecil meneruskan pijatannya mulai dari kaki lagi.

Sambil berbaring Adi berusaha bersikap tenang dan menikmati pijitan Dea sambil menatapi wajah Dea yang menunduk.Wajah Dea cukup menarik, rambutnya yang panjang digelung kebelakang, hidungnya bangir, bibirnya yang merah alami dengan bulu-bulu hitam halus diatasmya, mengingatkan Adi pada penyanyi dangdut Iis Dahlia. Demikian juga dengan tangannya berbulu halus.

Dan sesuatu yang menyembul dibalik baju kebayanya membuat Adi semakin naik spaning. Baju kebaya dengan belahan yang cukup rendah telah menampilkan juga belahan buah dada Dea yang putih. Ditambah dengan posisi Dea yang berlutut dan membungkuk, hingga belahan itu semakin mencuat. Apalagi kedua tangannya yang sedang memijat menekan buah dadanya dari samping sehingga gunung kembar yang padat berisi itu makin membusung.

Adi menelan ludah melihat itu sehingga membuat batang kontolnya semakin tegang, dan dengan malu-malu diberesi kain sarungnya agar menyamarkan tonjolan yang terjadi. Adi semakin gelisah ketika tangan Dea mulai merambahi pahanya. Disamping semakin jelasnya pemandangan pada buah dada itu, juga karena pijatan jemari Dea semakin mendekati pangkal pahanya.

Dea juga telah melihat perubahan itu sejak tadi. Perlahan hasratnya sebagai perempuan yang ditinggal lama oleh suami, bangkit. Tapi ada keraguan di dirinya, antara hasrat yang mulai menggelora dan kesetiaan kepada suami. Sambil menimbang-nimbang, jemari tangannya terus memijati kedua paha Adi yang kain sarungnya telah tersingkap keatas hingga hanya menutupi pangkal pahanya.

Adi pemuda delapan belas tahun yang masih hijau soal seks. Pengetahuan yang didapatnya cuma dari cerita teman, buku dan VCD porno. Hingga menghadapi situasi itu membuat dirinya grogi. Mau menerkam dia takut Dea berteriak dan menuduhnya mau memperkosa. Dia belum bisa melihat dan membedakan reaksi seorang perempuan.

Akhirnya dia memilih diam dan terus menikmati pijatan Dea yang kini makin keatas menyusup kebalik kain sarungnya. Jemari Dea memijiti pinggul dikiri kanan pangkal paha Adi. Hal mana membuat Adi semakin blingsatan apalagi secara sengaja atau tidak jemari Dea sesekali menyentuh bulu-bulu jembutnya.

“Manuknya bangun ya?” tanya Dea akhirnya sambil tertawa kecil menyadari ‘burung’ diselangkangan pemuda itu semakin mengacung.

Hasratnya rupanya telah mengalahkan kesetiaan. Tapi seperti juga Adi, Dea masih ragu-ragu terhadap reaksi pemuda itu.

“Ehh..iya” jawab Adi gelagapan ” Habis pijitan kamu enak sekali sih”
“Ah masa, tapi itu artinya aden normal” kata Dea menimpali
“Eceu ngga apa-apa, ngga tersinggung ?” tanya Adi
“Ah nggak apa-apa, saya pan sudah biasa lihat punya suami” jawab Dea makin berani.
“Oh iya” kata Adi juga semakin berani.
“Ngomong-ngomong bagus mana punya saya sama punya Kang Sudin ?” tanyanya lagi.
“Ah mana saya tahu, sayakan belum pernah lihat punya aden” jawab Dea memancing.
” Kalau mau lihat, ya dibuka saja” kata Adi sambil menyibakkan kain sarungnya hingga mencuatlah batang kontol yang telah sepenuhnya ngaceng.

Dea sedikit terkejut tapi dilihat juga batang kontol yang sudah tegang itu.

“Bagaimana ?” tanya Adi bernafsu.
“Eeee….nggg…. sama saja bagusnya. Cuma punya aden lebih besar dan panjang” jawab Dea sambil tertawa kecil dan tak sadar jemarinya yang memang berada disekitar pangkal paha itu mulai membelai bulu-bulu jembut keriting yang mulai tumbuh subur.

“Kata orang, perempuan lebih suka burung yang gede” pancing Adi berani.
“Ah, kata siapa ” jawab Dea tersipu sambil matanya tetap menatap batang kontol pemuda itu yang mengangguk-angguk, sementara itu jemarinya masih membelai bulu jembut menghitam dan nafasnya mulai memburu. Heran juga dia, masih bocah tapi burung nya sudah sebesar itu.

Memang batang kontol Adi lebih besar dan panjang dari kepunyaan Sudin suaminya. Dan Dea juga telah mendengar dari Iis sudaranya, semakin besar batang kontol lelaki semakin nikmat hujamannya dirasakan oleh memek perempuan.

“Ya kata orang, saya juga belum tahu” jawab Adi
“Belum tahu. Memang aden belum pernah melakukan ?” tanya Dea antusias.
“Belum, sayakan masih perjaka ting-ting nih. Ajarin dong” kata Adi semakin berani.
“Ah aden bisa saja, diajarkan apa sih ?” tanya Dea pura-pura bodoh.
“Diajarin bagaimana melakukannya ” kata Adi yang tangannya sudah memegang tangan Dea dan mendorongnya agar menyentuh batang kontolnya.

Dan Dea menuruti dengan membelai perlahan otot tegang itu.

“Benar aden belum pernah?” tanya lagi.
“Berani sumpah,” kata Adi meyakinkan ” melihat perempuan telanjang saja saya belum pernah”

Dea semakin tergerak, jemarinya semakin berani meremasi batang kontol Adi, yang membuat pemuda itu semakin bernafsu. Demikian juga dengan Adi, tangannya mulai berani merabai buah dada Dea dan meremasnya. Dea mengelinjang menikmati remasan itu. Telah lama ia tidak menikmati sentuhan lelaki.

Dan Adi semakin berani, jemarinya mulai membuka satu-persatu peniti di baju kebaya Dea yang telah pasrah. Mata Adi berbinar ketika peniti itu telah lepas semua dan buah dada ranum yang masih terbungkus oleh BH semakin menonjol keluar.

Segera saja ia bangkit duduk dan memegang pundak Dea yang juga bersimpuh pasrah. Dipandanginya seputar belahan putih mulus yang juga ditumbuhi bulu-bulu halus, kontras dengan kulitnya yang putih. Diusap-usapnya belahan dada itu perlahan yang membuat Dea semakin bergetar dan tangan Adi terus naik ke leher hingga ke dagu.
Diangkatnya dagu itu hingga muka Dea menengadah. Matanya terlihat pasrah namun menyimpan hasrat yang mengelora. Bibirnya merekah basah, mengundang untuk dikecup. Maka diciumnya bibir merah merekah itu dengan bernafsu.

Dea pun menyambut ciuman itu dengan hangat, sementara tangannya makin keras meremasi batang kontol Adi. Dan tangan Adi juga tidak tinggal diam, setelah membuka baju kebaya Dea, segera saja tangannya membuka pengait BH yang membungkus buah dada yang montok itu. Maka mencuatlah sepasang gunung montok yang sedari tadi menarik minat Adi.

Dea secara refleks semakin meremas dan mengocok batang kontol Adi ketika pemuda itu dengan bernafsu meremasi buah dadanya yang telah terbuka. Sementara itu ciuman mereka semakin bernafsu. Meski belum pernah bercinta dengan perempuan tapi soal ciuman dan rabaan, Adi cukup pengalaman. Hanya sebatas itulah yang dapat dilakukan bersama pacarnya, Dewi.

Adi mengeluarkan semua jurus menciumnya, lidahnya menjulur menjelajah ke dalam mulut Dea. Demikian juga dengan Dea, berusaha mengimbangi dengan kemampuan yang dimiliki. Melihat kemampuan pemuda itu, Dea ragu akan pengakuannya belum pernah bercinta dengan perempuan. Namun nafsu yang kian menggebu menghapus semua keraguannya, yang penting hasratnya harus tertuntaskan.

Setelah puas menciumi mulut Dea, perlahan mulutnya mulai menyusuri leher perempuan itu terus kebawah ke belahan dadanya yang ranum. Dea mendesah ketika ujung lidah Adi mulai menjilati seputar buah dadanya yang ranum, terus ke putingnya yang semakin mengeras dan menghisapnya seperti bayi.

“Ahh.. den, gelii.. ” rintih Dea.

Adi dengan bernafsu terus meremasi dan menghisap buah dada ranum yang itu. Dikeluarkan semua jurus bercinta yang dia ingat, untuk memuaskan hasratnya yang kian menggebu. Baru pertama kali itulah ia menciumi buah dada wanita secara utuh. Dengan Dewi pacarnya hanya sebatas meraba dan meremas, itu pun masih berpakaian.

Buah dada Dea yang padat berisi memang sangat menarik hasrat lelaki. Bentuknya padat berisi, tidak terlalu besar tapi montok. Ditambahi dengan bulu-bulu halus disekitarnya menambah daya tarik alias semakin nafsuin. Demikian juga dengan Adi dengan tidak puas-puasnya mulut dan tangannya secara bergantian meremasi dan melumati sepasang gunung montok nan lembut.

Dea dengan penuh gairah menikmati semua sentuhan itu. Dan Adi yang batang kontolnya terus dirangsang remasan tangan Dea, secara perlahan nafsunya semakin tinggi. Kocokan dan remasan itu dirasakan semakin nikmat sehingga batang kontolnya semakin tegang dan sensitif.

Seketika Adi bangkit berlutut dan melepaskan kulumannya dari buah dada Dea. Batang kontolnya yang telah sepenuhnya tegang itu ditempelkan diantara buah dada Dea yang montok dan digesek-gesekkan turun-naik . Dea mula-mula bingung, tapi kemudian mengimbangi dengan menekan kedua buah dadanya hingga batang kontol itu terjepit diantaranya.

Hal ini semakin menambah kenikmatan bagi Adi yang semakin giat mengesekkan batang kontolnya. Demikian juga dengan Dea yang baru pertama melakukan posisi itu, dirasakan ada sensasi lain batang kontol lelaki mengesek-gesek diantara belahan dadanya. Sementara itu Adi juga merasakan sensasi yang sama, sehingga tidak beberapa lama kemudian Adi merasa bahwa ia akan segera orgasme, maka dipercepat kocokannya dan tanpa bisa dicegah muncratlah cairan hangat dari lubang kontolnya yang masih terjepit diantara buah dada Dea.

“Ahc…!” rintih Adi sambil melepaskan hasratnya.
“….! ..…! ……!”

Sesaat Adi merasa persendiannya meregang oleh perasaan nikmat yang beberapa detik dirasakan.
Dea terkejut tidak menyadari pemuda itu telah orgasme. Dea baru sadar ketika dadanya yang menjepit batang kontol itu dilumuri cairan hangat yang sebagian lagi memerciki leher dan dagunya.

“Hi hi.. sudah keluar ya den ? ” kata Dea terkikik melihat batang kontol pemuda itu menumpahkan lahar panasnya diantara jepitan buah dadanya.

Tapi jepitan buah dadanya pada batang kontol itu tidak dilepaskan, Dea juga merasakan nikmat ketika seputar dadanya terasa hangat oleh percikan cairan putih kental yang dikeluarkan kontol pemuda itu

“Habis jepitan kamu enak sekali” jawab Adi menutupi rasa malunya.

Sebenarnya posisi itu dilakukan reflek saja ketika dirasakan mendekati orgasme. Dia tiba-tiba teringat film porno yang pernah ditonton dan ingin mempraktekkannya, dengan hasil nikmat yang luar biasa.

Keduanya kemudian terduduk. Dea sibuk membersihkan lumuran sperma didadanya dengan melap pada kainnya yang sudah terlanjur terkena. Nafasnya masih memburu. Sementara Adi masih mengatur nafasnya sambil membersihkan batang kontolnya yang masih separuh tegang. Nampak keduanya masih bernafsu untuk meneruskan ronde selanjutnya.

Terutama Dea, yang nafsu birahinya belum terlampiaskan, yang lalu bangkit berdiri dan segera membuka kainnya sambil mengeraikan rambutnya yang panjang. Adi penatap perempuan itu yang cuma memakai celana dalam. Tubuh telanjang Dea memang semakin terlihat menggairahkan.

Postur tubuhnya sedang saja dengan kulit putih khas gadis Sunda. Lekukan-lekukan ditubuhnya itulah yang membuat birahi lelaki langsung “konak”. Buahdadanya menggantung padat berisi dengan puting kemerahan yang sudah berdiri tegak mengacung di kedua puncaknya, serta pinggang yang ramping dan pinggul yang montok.
Kakinya dihiasi paha yang berisi dan betis yang ramping mulus. Semuanya, meski Dea gadis desa, terkesan terawat.
Apalagi ketika Dea membuka celana dalamnya, semakin jelasnya keseksian perempuan itu. Terpampanglah dengan jelas pangkal paha dengan bulu-bulu jembut menghitam lebat, kontras dengan kulitnya yang putih. Bulu-bulu jembut itu tidak hanya tumbuh di seputar pangkal pahanya tapi merebak tipis keatas hingga ke sekitar pusarnya.

Adi menelan ludah, perlahan batang kontolnya mulai bangkit. Hal itu memang yang dimaksud Dea untuk segera menaikkan nafsu pemuda itu.

“Tubuh kamu bagus betul, mengairahkan” kata Adi sambil menelan ludah dan segera bangkit berdiri hingga mereka saling berhadapan.

Batang kontol Adi yang telah tegang mengacung bebas yang segera ditangkap tangan Dea dan diremas-remasnya. Demikian juga dengan Adi. Tangannya segera menggerayangi buah dada ranum yang mempesonanya. Sementara tangan yang satunya menyusuri ke selangkangan Dea. Dirabanya bulu-bulu jembut yang lebat dan hitam itu. Dan sesuatu dibaliknya pastilah lebih menggairahkan.
Dea mendesah ketika jemari pemuda itu mulai merambahi bagian-bagian sensitifnya, lalu mereka saling berciuman kembali untuk semakin menaikkan nafsu masing-masing.

“Oh den….., terus den…ah..!” rintih Dea kian bernafsu ketika jemari Adi mulai menyusup ke selangkangannya dan menyentuh bibir memeknya yang telah basah.

Dengan ujung jarinya disusupkan ke belahan memek Dea yang telah merenggangkan kedua pahanya.

Kembali Adi ingin mempraktekkan film porno yang pernah ditontonnya. Disuruhnya Dea untuk berbaring terlentang sedangkan ia berada diatasnya. Kepalanya tepat diatas selangkangan Dea dan selangkangannya diatas kepala Dea.
Dea mula-mula bingung. Didepan mukanya batang kontol yang mengacung menggantung tegang seolah mau menghujamnya. Dengan polos batang kontol itu cuma diremas-remas. Tubuh Dea bergetar ketika dirasakan tangan, mulut dan lidah Adi mulai menjelajahi bibir memeknya dengan penuh nafsu.

Memang Adi mulai merambah lembah di pangkal paha wanita itu. Disibakkannya bulu-bulu jembut keriting yang melingkari lubang memek di selangkangan Dea. Matanya nanar melihat kemaluan perempuan untuk yang pertama. Belahan itu terlihat lembab dan ketika dengan jemarinya dikuakkan, terlihatlah memek yang putih kemerahan telah basah karena lendir birahi. Dengan tidak sabar dicium dan dijilatinya belahan itu. Harum.

“Ah…den, geli….” Rintih Dea menikmati sentuhan lidah pada memeknya yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Sudin suaminya dalam bercinta tidak memakai teknik macam-macam, mencium bibir, meraba dada, lalu langsung memasukan batang kontol ke dalam memeknya. Dan gayanya itu-itu juga, Sudin diatas, Dea dibawah. Beberapa menit kemudian Sudin keluar tanpa memperdulikan apakah istrinya juga puas. Selama Dea menikah dia belum pernah merasakan dan tahu tentang orgasme.

Karena itu apa yang dilakukan Adi terhadapnya merupakan pengalaman pertama yang sangat menggairahkan. Sekarang bukan Dea yang mengajari Adi tapi sebaliknya Adi yang pegang kendali.

‘Ayo dong De, manukku dihisap” kata Adi ketika dirasakannya Dea hanya memegang dan meremasi kontolnya saja.

Dea tertegun, ia belum pernah melakukannya, tapi keinginan tahunya lebih besar untuk mencoba. Perlahan didekatkan batang kontol dalam genggaman tangannya yang telah tegang itu k emulutnya yang terbuka. Terasa asing ketika kepala kontol yang keras dan kecoklatan itu menyentuh bibirnya.

“Pakai lidahnya De, jilati” perintah Adi.

Dea menuruti, ujung lidahnya perlahan dijulurkan menyentuh kepala kontol dan mulai menjilati.

“Ah.. ya terus De begitu, nikmat euy!” desah Adi diantara kesibukannya merambah hutan lebat berdanau hangat.

Sentuhan lidah Dea terasa nikmat, tapi Adi ingin yang lebih hot. Maka diturunkan pinggulnya hingga batang kontolnya itu semakin masuk kemulut Dea.
Dea menyambutnya dengan membuka mulutnya lebih lebar hingga kepala kontol yang besar itu masuk semua ke dalam mulutnya yang kecil. Digunakan lidahnya untuk mengelitik dan menghisap kepala kontol itu yang membuat Adi menggerinjal kenikmatan.

Dea ternyata cepat belajar. Kini mulut dan lidahnya semakin aktif mengulum dan menjilati batang kontol pemuda itu, meski masih kaku tapi tetap dirasakan Adi nikmatnya luar biasa. Dea juga merasakan sensasi lain dalam melakukannya, mengingatkannya sewaktu mengulum es lilin, disamping juga nikmat yang dirasakan dari jilatan lidah Adi di lubang memeknya.
Mulut mereka terus melakukan tugasnya masing-masing. Keduanya sama-sama belum pengalaman melakukannya, karenanya buat mereka sensasi yang dirasakan sangat luar biasa.

Adi yang berencana hanya dua hari di rumah bibinya bertekad selama mungkin tinggal dirumah bibinya untuk dapat terus bercinta dengan perempuan yang telah membuatnya kepelet. Sepuluh kali sehari juga dia sanggup melakukan. Dia merasa tidak rugi keperjakaannya hilang oleh perempuan ini.

Demikian juga dengan Dea, pengalaman yang tengah dialami kini telah membuatnya mabuk kepayang. Belum pernah selama ini dia merasakan nikmat yang sangat mengebu saat bercinta seperti sekarang. Kulumanan dan jilatannya pada batang kontol dan lubang memeknya yang dijilati mulut pemuda itu membuat seluruh tubuhnya bergetar dialiri setrum kenikmatan yang memabukkan. Hingga gairahnya semakin meninggi dan tanpa disadari orgasme yang belum pernah dirasakan melandanya.

“Aduh gusti..! Achh..!” desahnya parau ketika dirasakan sesuatu didalam memeknya berdesir-desir dan menjalar keseluruh tubuhnya mendatangkan kenikmatan luar biasa yang belum pernah dirasakan. Tiba-tiba tubuh Dea menjadi sangat sensitif mengerinjal kegelian menerima jilatan mulut Adi, hingga ditolaknya tubuh pemuda itu dari atas tubuhnya.

“Hi..hi geli ah!…” desisnya menahan tawa.

Adi bingung menanggapi kelakuan Dea, dia juga sama bodohnya.

“Eh kenapa sih ?” tanyanya bingung melihat Dea yang berbaring meringkuk mendekapkan kedua tangannya kedada sambil senyum-senyum.
“Engga tahu ya, perasaan tadi mau pipis tapi cuma terasa keluar didalam dan tiba-tiba kerasa geli semua” jawabnya juga bingung.
“Oh begitu, itu artinya kamu tadi orgasme” kata Adi setelah menganalisa jawaban Dea.
“Orgasme ?, apa itu ?” tanya Dea masih bingung.
“Itu sama seperti saya tadi keluarin air mani” jawab Adi.
“Oh begitu, tapi kok ngga keluar keluar airnya ?” tanyanya lagi
“Itu karena Eceu perempuan, keluarnya di dalaem” jawab Adi sekenanya, soalnya dia juga kurang paham masalah itu disamping nafsunya masih tinggi belum terlampiaskan.
“Ayo atuh dilanjutkan, si otong masih ngaceng nih” ajak Adi sambil mengacungkan batang kontolnya yang memang masih tegang.

Dea tersenyum penuh arti langsung berbaring celentang dengan kaki ditekuk dan kedua pahanya mengangkang. Rambutnya yang panjang tergerai di atas kasur. Adi segera pengatur posisi diatas tubuh Dea. Rupanya Adi ingin segera melakukan hubungan sex yang sebenarnya.

Dengan berdebar diarahkan batang kontolnya ke lubang memek Dea yang sudah basah. Tubuhnya berdesir ketika kepala kontolnya menyentuh bibir memek yang telah merekah.

“Ahhh..!” desis Dea merasakan nikmat sentuhan dan selusuran kepala kontol Adi yang besar di lubang memeknya yang sempit.

Adi perlahan mendorong pinggulnya hingga kepala kontolnya semakin meyelusup ke belahan memek yang telah basah itu.

“Ah..den terus masukin” desis Dea memberi semangat.

Telah beberapa bulan lubang memeknya tidak disinggahi kontol lelaki hingga debaran yang dirasakan seperti pada malam pertama.

Demikian juga dengan Adi, selusuran batang kontolnya pada lubang memek Dea yang lembut mendatangkan sensasi yang selama ini cuma dia angankan lewat mimpi. Dengan kekuatan penuh didorongnya batang kontolnya menerobos lubang kenikmatan yang paling dalam.

“Aduh gusti ! ” teriak Dea tertahan merasakan hujaman batang kontol yang besar dan keras itu ke lubang memeknya yang sempit.

Memang batang kontol Adi yang besar cukup seret masuk ke dalam lubang memek Dea yang meskipun sudah tidak perawan tapi masih cukup sempit.
Untung cairan birahi di dalam lubang memek Dea cukup licin hingga membantu masuknya batang kontol itu lebih dalam.

“Ah..! enak euy!” desis Adi ketika seluruh batang kontolnya telah tertancap di lubang memek Dea yang merasa nyeri sedikit pada lubang memeknya akibat besar dan panjangnya batang kontol itu. Tapi perasaan nyeri itu tak lama hilang ketika perlahan Adi mulai mengerakkan batang kontolnya keluar masuk lubang memeknya.

Dea merintih kenikmatan merasakan gesekan di dalam lubang memeknya, kedua pahanya semakin diregangkan. Demikian juga dengan Adi, gerakan maju mundur batang kontolnya di dalam memek Dea betul-betul mendatangkan kenikmatan yang luar biasa.

Adi merasa semakin bernafsu mengerakkan batang kontolnya yang kian keras dan tegang, hingga mendatangkan rasa nikmat yang selama ini cuma dihayalkan lewat mimpi. Kini secara nyata ia melakukan persetubuhan dengan perempuan yang bukan saja cantik dan bertubuh indah, tapi juga goyangan pinggulnya memberi kenikmatan yang lebih.

Memang Dea yang secara tak sadar berusaha mengimbangi gerakan Adi di atasnya, menggerak-gerakkan pinggulnya bagaikan penari jaipongan. Memutar, kadang menghentak maju. Hal mana membuat Adi semakin syurr.

“Ah ! De, yeah begitu. Enak sekali!” Desis Adi
“Ayo den, goyang terus biar tuntas” Dea juga tidak mau kalah memberi semangat.

Dan mereka semakin hot mengerakkan tubuhnya untuk mencari kenikmatan masing-masing. Mereka tidak memperdulikan lagi keadaan sekelilingnya, dalam pikiran mereka cuma ada bagaimana mencapai kenikmatan setinggi mungkin. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan perbuatan mereka dari balik jendela. Sepasang mata yang berbinar penuh nafsu.

Adi mendekap tubuh Dea dan membalikkan posisi mereka menjadi Adi di bawah dan Dea diatas.

“Ayo De, goyanganya ” pinta Adi agar perempuan itu lebih aktif.

Dan Dea yang berada diatas menjadi lebih leluasa menggerakkan pinggulnya, bukan hanya naik turun tapi juga memutar.

“Ah !” desis Adi ketika terasa batang kontolnya bagai dipelintir bila Dea memutar pinggulnya seperti orang sedang mengulek.

Tangan Adi tidak tinggal diam, diremasinya buah dada montok yang menggantung itu sehingga mendatangkan rangsangan bagi Dea.
Tubuh Dea menghentak-hentak bagaikan penunggang kuda liar. Belum pernah dia merasa senikmat ini dalam melakukan senggama. Semua gerakannya dilakukan secara naluri, karena dia belum pernah melakukannya dalam gaya demikian, tapi benar-benar mendatangkan kenikmatan yang sangat.

Demikian juga dengan Adi, pengalaman pertama yang benar-benar tak akan terlupakan.
Mereka terus melakukannya dengan lebih giat. Dea yang berada diatas seolah mengendalikan permainan. Perlahan dia tahu gerakan apa yang mendatangkan nikmat yang lebih buat dirinya dan juga pemuda itu. Gerakan batang kontol yang besar dan keras di dalam lubang memeknya telah pula menggesek-gesek kelentitnya, hingga semakin menambah gairahnya.

Perlahan tapi pasti nafsu keduanya semakin tinggi. Adi merasakan batang kontolnya semakin sensitif. Demikian juga dengan Dea yang di dalam lubang memeknya semakin berdenyut nikmat, sehingga semakin dipercepat goyangannya.

“Ayo De, gayang terus sampai tuntas ! ” teriak Adi keenakan dan bersamaan dengan itu batang kontolnya berdenyut-denyut dan tanpa bisa dicegah memuncratkan cairan kenikmatan didalam lubang memek Dea.

“…! …..!…. …!”
” Ahhh…..ahh !” desis Adi parau merasakan kenikmatan yang luar biasa.
“Ayo den keluarkan semuanya !” teriak Dea yang goyangannya semakin menggila karena merasakan juga nikmat oleh semburan cairan hangat dari kontol Adi didalam liang memeknya.

Sehingga tanpa disadari membuatnya mencapai klimaks yang belum pernah dirasakan.

” Duh Gusti !….. nikmat !” desisnya ketika dirasakan otot-otot di dalam lubang memeknya meregang dan terasa berdesir nikmat.

Lebih nikmat dari yang dirasakan sebelumnya, karena adanya gesekan batang kontol didalamnya.

Tubuh Dea ambruk menindih tubuh Adi. Tulang-tulangnya terasa mau copot. Nafasnya memburu dengan butiran keringat membasahi sekujur tubuhnya. Adi mendekap tubuh telanjang itu. Nafasnya juga memburu. Mencoba mengingat apa yang barusan dialami, tapi sukar dibayangkan. Sementara kemaluan mereka masih saling bertaut.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh pintu samping yang terbuka. Seketika itu mereka segera melepaskan dekapan dan membereskan diri. Adi segera meraih kain sarungnya demikian juga dengan Dea segera menutupi tubuhnya dengan kain kebayanya.

Dari pintu tengah muncul perempuan muda, mirip dengan Dea. Wajahnya memerah dengan senyum yang bergairah. Rupanya perempuan ini yang mengintip perbuatan keduanya dan tak dapat menahan hasrat atas apa yang disaksikan, hingga menerobos masuk untuk nimbrung.

“Maaf ya De, Iis tidak tahan ngeliatnya ” katanya sambil mendekati keduanya.
“Eh Iis, ada apa ?” tanya Dea gugup sambil terus merapikan pakaiannya.
“Ah kamu, jangan malu-malu. Iis sudah lihat dari tadi ” katanya lagi

Adi bengong melihat semuanya. Seorang perempuan, sangat mirip Dea, berada dihadapannya.

“Eh De, punya pacar tidak bilang-bilang. Siapa ini ?” tanya perempuan yang dipanggil Iis sambil melirik Adi dan tersenyum menggoda.
“Ini Den Adi, keponakannya teteh Karta” jawab Dea ” Jangan bilang kang Sudin ya”
“Oh, pantes ganteng, ngga heran Dede kepincut ” kata Iis menggoda
“Maaf ya den, ini Iis saudara kembar saya saya” kata Dea menerangkan.
“Ya ya…” ucap Adi baru mengerti, pantas mirip.
“Maaf ya den, bikin kaget. Habis permainan aden dan Dede seru sekali, saya jadi ngga tahan” kata Iis tanpa malu-malu.
“Eh…ngga apa-apa ” jawab Adi gugup.

Dea segera menarik Iis ke kamar dan berbicara serius. Tak lama Dea keluar dengan wajah memerah dan mendekati Adi.

“Maaf ya den, Iis kepingin juga main dengan Aden” kata Dea sambil menunduk.
“Hah ” Adi sedikit kaget ” suaminya dimana ?”
“Iis janda ” jawab Dea
“Oh begitu ” kata Adi ragu.

Berarti dia harus melayani dua perempuan sekaligus, kembar lagi,pikirnya.

“Kamu sendiri bagaimana, keberatan tidak ?” tanya Adi
“Itu sih terserah Aden” kata Dea
“Boleh deh, tapi kamu ikut juga ” kata Adi
“Maksud aden ?” tanya Dea tak mengerti
“Iya kita main bertiga” kata Adi lagi
“Bertiga, bagaimana caranya” tanya Dea lagi
“Gampang De, bisa diatur ” celetuk Iis yang menguping pembicaraan mereka.
“Ayo den ” ajak Iis tak sabar dan tanpa malu-malu segera membuka pakaiannya.

Tidak berbeda dengan Dea, Iis juga berkulit putih bersih. Hanya tubuhnya sedikit lebih tinggi. Tapi wajahnya memang mirip Dea, bak pinang dibelah dua. Dan ketika Iis telah telanjang bulat, maka sama seksinya dengan Dea. Buah dadanya padat berisi dengan puting susu yang kecoklatan, pinggangnya ramping, pinggulnya montok dengan bulu-bulu jembut di pangkal pahanya hitam lebat dan keriting.

Adi menelan ludah, tidak terbayangkan sebelumnya harus bercinta dengan dua perempuan kembar sekaligus.
Iis ternyata lebih agresif dari Dea. Didekatinya Adi dan langsung mengulum bibir pemuda itu dengan bernafsu membuat Adi sedikit gelagapan dan mencoba mengimbangi. Maka keduanya terlibat dalam cumbuaan yang bergelora disaksikan Dea yang masih tertegun.

Pengalaman hari ini benar-benar luar biasa bagi Dea. Pertama kali ia tidur dengan lelaki lain yang bukan suaminya dan mendapatkan kenikmatan yang menggetarkan. Sekarang ia menyaksikan saudara kembarnya sedang bergelut mesra dengan Adi. Baru pertama itu dia menyaksikan perempuan dan lelaki bercinta, di depan matanya pula.

Tanpa sadar ia menyimak semua perbuatan mereka dengan gairah yang perlahan bangkit. Iis memang lebih punya pengalaman dengan lelaki. Ia telah kawin cerai dua kali. Sedangkan tidur atau selingkuh dengan lelaki lain entah sudah berapa banyak. Karena itu Iis lebih aktif dan tahu bagaimana mencumbui lelaki dan memberikan rangsangan bagi pasangannya dan dirinya.

Kini mulutnya mulai merambahi dada Adi yang telah terlentang pasrah, sementara tangannya telah meremasi batang kontol besar yang telah tegang itu. Jilatan lidahnya didada Adi memberikan rangsangan yang nikmat bagi pemuda itu. apalagi ketika mulutnya semakin turun kebawah , ke perutnya terus ke pangkal pahanya.

Adi merem-melek keenakan ketika batang kontolnya mulai dijilati mulut Iis dengan penuh nafsu. Kuluman dan jilatan mulut Iis memang jauh lebih pintar dari Dea yang masih amatiran. Apalagi ketika Iis mengajak Dea untuk ikut nimbrung menjilati batang kontol yang semakin tegang mengeras itu.

Dengan patuh Dea, yang juga telah dilanda nafsu, mengikuti ajakan Iis. Maka batang kontol itu kini dikerubuti oleh jilatan dan kuluman mulut dua perempuan kembar. Iis seperti mengajari Dea bagaimana caranya memperlakukan kemaluan lelaki. Karena sehabis ia melakukan gerakan tertentu dengan mulutnya, disuruhnya Dea melakukan hal yang sama. Sehingga batang kontol Adi secara bergantian dikulum, dijilat dan dihisap oleh mulut kedua perempuan kembar itu. Adi benar-benar merasakan kenikmatan diperlakukan seperti itu, tubuhnya bergetar menahan rangsangan yang sedang melandanya.

Sementara itu Adi juga tidak tinggal diam. Kedua tangannya juga mulai merambahi pinggul kedua perempuan itu yang menungging. Tangannya merambahi belahan kemaluan si kembar yang juga telah merekah. Dengan jemarinya dirabai bibir kemaluan diantara lembah berbulu lebat itu. Jari tengahnya disusupkan kedalam lubang memek yang basah setelah sebelumnya mengelitiki kelentit yang membuat kedua perempuan itu mengelinjang geli.

“Ayo den terus, enak ah!” desis Iis keenakan.

Ketiganya terus saling merangsangi pasangannya hingga akhirnya Iis menghentikan kulumannya dan bangkit. Rupanya ia telah sangat bernafsu untuk menuntaskan birahinya. Langsung saja diatur posisinya sambil berjongkok mengangkangi batang kontol yang tegang dan masih dipegang Dea.

“Ayo De arahkan” pintanya

Diturunkan pinggulnya dan Dea dengan patuh mengarahkan batang kontol Adi yang dipegangnya ke lubang memek Iis yang merekah basah.
Iis segera menekan pinggulnya ketika kepala kontol itu telah tepat didepan lubang memeknya, sehingga dengan lancar batang kontol itu terhujam masuk ke dalam lubang kenikmatannya.

“Duh bapa !” desisnya merasakan nikmat ketika batang kontol yang besar dan keras itu mengelorosor masuk kedalam lubang memeknya yang telah gatal-gatal nikmat.

Adi juga merasakan kenikmatan yang sama dan semakin nikmat ketika Iis mulai mengerakkan pinggulnya turun naik dengan berirama. Adi mulai bisa merasakan bahwa goyangan Iis memang lebih pintar tapi lubang memek Iis terasa lebih longgar dibandingkan punya Dea. Mungkin karena Iis telah tidur dengan banyak lelaki sehingga lubangnya terasa lebih besar.

Tidak demikian dengan Iis hujaman batang kontol Adi dirasakan cukup besar dan keras sehingga mendatangkan kenikmatan yang sangat.
Tubuh Iis menghentak-hentak bagaikan penunggang kuda liar. Ditariknya Dea yang bengong agar menempatkan selangkangannya diatas mulut Adi untuk dijilati.

Maka kembali ketiganya terlibat dalam pertandingan yang seru dan nikmat. Adi sambil celantang menikmati batang kontolnya yang keluar masuk memek Iis sambil mulutnya mulai menjilati lubang memek Dea yang setengah berjongkok dengan kedua paha yang mengangkang. Sementara mulut Dea ikut pula melumati puting buah dada Iis yang sudah berdiri tegak dengan sombongnya karena birahi yang amat sangat yang melandanya.

Hujaman kontol Adi di lubang memeknya dirasakan sangat nikmat oleh Iis, entah karena sudah cukup lama tidak melakukan persetubuhan atau memang karena kontol itu panjang dan besar. Sehingga makin lama gerakan dan goyangan pinggul Iis makin menggila karena dirasakan puncak syahwatnya semakin dekat. Akhirnya dengan gerakan yang menghentak ditekannya pinggulnya kebawah sehingga batang kontol itu menghujam sedalam-dalamnya kedalam lubang memeknya.

“Duhh…!….ahhhh!” pekiknya panjang ketika dirasakan sesuatu berdesir didalam lubang memeknya dan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa.

Tubuhnya terasa lunglai dan ambruk mendekap tubuh Dea yang masih menjilati buah dadanya.

“Aduh De enaknya..” desisnya.
“Sudah keluar Is?” tanya Dea yang dijawab Iis dengan anggukkan.
“”Ayo atuh gantian, Dede juga sudah mau lagi” kata Dea tidak malu-malu lagi.

Iis sebenarnya masih mau melanjutkan gerakannya karena dirasakan batang kontol Adi yang masih terhujam di lubang memeknya masih terasa mengacung.

“Silakan” kata Iis sambil bangkit dan terlepaslah pertautan kemaluan mereka.

Memang batang kontol Adi masih keras mengacung. Rupanya kondisi Adi masih fit biarpun telah bertempur dengan dua perempuan. Kini ia ingin cari posisi lain, disuruhnya Dea menungging dan disodok dari belakang.
Pinggul Dea yang putih mulus dan montok mendongak keatas dengan belahan jembutnya yang berbulu lebat mengintip diantara pangkal pahanya. Adi menelan ludah melihat pemandangan itu. Sambil mengelus-elus batang kontolnya didekati pinggul perempuan itu yang sudah menunggu. Diarahkan batang kontolnya kebelahan yang terjepit diantara paha yang juga putih mulus.

Dengan dorongan lembut dimasukan batang kontolnya kedalam lubang memek itu. terasa sempit karena dengan posisi itu lubang memek itu terjepit kedua paha.

“Ah….!” Desis Dea ketika dirasakan batang kontol yang besar dan tegang menyelusup kedalam lubang memeknya.

Dengan memegang pinggul gadis itu perlahan digerakkan pinggulnya sehingga batang kontolnya mundur maju didalam lubang memek yang masih terasa sempit itu. Dea menggigit bibirnya merasakan nikmat demikian juga dengan Adi, gesekan batang kontolnya didalam lubang memek itu mendatang sensasi yang luar biasa.

Adi mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan berirama. Tubuh Dea ikut terguncang-guncang mengikuti gerakan itu.

“Ah …Den, terussss Den” desis Dea semakin bernafsu.

Sementara itu Iis juga mulai bernafsu lagi menyaksikan adegan yang tengah berlangsung, dengan perlahan ditempatkan tubuhnya dibawah tubuh Dea dengan kepalanya berada diantara paha Dea sedangkan pangkal pahanya yang mengangkang dibawah muka Dea untuk dijilati.

Tangan Iis merabai selangkangan Adi dan mengusap-usap biji pelernya serta merabai bibir kemaluan Dea yang sedang dihujami batang kontol Adi. Sementara Dea telah pula menjilati selangkangan Iis terutama bibir memeknya yang ditutupi rimbunan bulu-bulu jembut keriting.

Kembali ketiganya bertarung mancari kenikmatan. Adi berpikir berarti sehabis Dea, dia harus melayani Iis yang sudah mulai birahi lagi. Gila, pikirnya. Tapi ia yakin sanggup mengatasinya. Memang semangat mudanya membuatnya semakin penuh keyakinan untuk melakukannya. Maka goyangannya semakin cepat saja.

Dan Dea juga merasakan semakin nikmat, apalagi kelentitnya yang dirabai Iis membuatnya semakin naik birahi. Hingga akhirnya sesuatu mendesir didalam kemaluannya.

“Ah……uhh….ahhh!” pekiknya kesetanan merasakan orgasme yang kesekian kali di pagi ini.

Adi tahu Dea sudah klimaks tapi dirinya belum merasakan.

“Gantian De, memekku sudah gatel lagi” pinta Iis. Dea faham dan Adi mencabut batang kontolnya.

“Ayo Den, tuntaskan ” pinta Iis masih terbaring dengan kedua kaki mengangkang.

Adi segera mengatur posisi diatasnya dan langsung menghujamkan batang kontolnya ke lubang memek Iis yang telah menganga.

“Ahh ..!” desisinya sambil mendekap tubuh Adi erat.

Kembali keduanya berpacu menggapai nikmat masing-masing. Adi dengan hentakan-hentakan keras mengerakkan pinggulnya maju mundur menghujamankan batang kontolnya ke dalam liang memek Iis.

“Ayo den, tancap terus.” Desah Iis menikmati hujaman Adi yang secara perlahan merasakan bahwa batang kontolnya semakin keras dan sensitif.

Demikian juga dengan Iis, lubang memeknya semakin licin dan nikmat. Nampaknya keduanya akan segera mencapai puncak persenggamaan. Mereka berpacu semakin binal dan liar. Keduanya ingin menuntaskan permainan dengan kenikmatan yang setinggi-tingginya.

Hingga akhirnya Iis mendekap keras tubuh Adi sambil melenguh kenikmatan dan bersamaan dengan itu Adi juga mengerang.

“….!…..!….!”
“Ahhhh….ahhh!” desis Adi
“Duh bapa, enak sekali” desis Iis hampir bersamaan.

Tubuh keduanya meregang tapi berdekapan erat. Keringat bercucuran dan bersatu. Tuntas sudah pertempuran segitiga di pagi itu.

]]>
http://www.difunde.com/seks-dengan-si-kembar.html/feed 0 http://www.difunde.com/pelajar-asik-ml-bokep-film-download.html http://www.difunde.com/pelajar-asik-ml-bokep-film-download.html#comments Mon, 23 Apr 2012 05:52:21 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=136

Pelajar Asik ML bokep film download
Pelajar Asik ML bokep film download
]]>
http://www.difunde.com/pelajar-asik-ml-bokep-film-download.html/feed 0

http://www.difunde.com Cerita Dewasa, cerita 17 tahun, cerita seks, cerita tante girang, cerita malam pertama, cerita panas. Fri, 27 Apr 2012 17:49:14 +0000 en hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.3.1 http://www.difunde.com/bercinta-dengan-gadis-medan.html http://www.difunde.com/bercinta-dengan-gadis-medan.html#comments Fri, 27 Apr 2012 17:49:14 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=157

Kejadiannya sekitar tahun 2011 di Medan tempat aku kuliah di Universitas negri disana. Waktu itu usiaku gak lebih dari 24 tahun…dan aku juga belum pernah sekalipun melakukan hubungan sex dengan wanita siapapun. Dulu aku hanya melakukan Onani ataupun paling jauh melakukan Oral Sex dan Petting dengan Pacarku ataupun beberapa teman cewekku yang menjadi TTM ku.

Sampai akhirnya pada suatu malam, karena kebiasaan ku Clubbing dengan teman-temanku Iwan dan Are, aku berkenalan dengan seorang pengusaha malaysia di Pub Malem TVRN di senuah Hotel mewah di Medan. Bang Fandi begitulah namanya menawarkan minuman kepada kami, dan kebetulan disana sudah ada dua cewek cantik yang akhirnya ku kenal dengan nama Fitri dan Lili.

Dari awalnya aku sudah tertarik dengan Lili, cewek yang berhidung mancung, cantik putih dan berbadan cukup indah. sementara Fitri kulihat sedang bercengkrama dengan Are.

Kamipun ngobrol ngalor ngidul, dan minum sampe setengah sadar. Tapi karena aku orangnya susah mabok, maka long island ataupun minuman yg laein bagaikan orange juice saja buatku.

Tak terasa sudah pukul 3 pagi, dan keadaan hujan ders diluar. Karena susah pulang maka kami tawarkanlah Lili dan Fitri untuk pulang bareng dengan kami. Karenakeadan hujan, Bang Fadli menawarkan membuka dua buah kamar di hotel tempat pub tadi berada. Kamipun setuju. Tapi hanya Iwan dan aku saja yg menginap, sementara Are pulang langsung krumahnya, smentara Lili dan Fitri buka kamar disebelah kamar kami.

Setelah kurang lebih 1 jam di kamar, aku dan Iwan mulai gelisah karena kedinginan dan horny mengingat ada dua cewek cantik tinggal disebelah kamar hotel kami.

Akupun dengan nekat menuju sebelah kamar dan mendapatkan Lili dan Fitri menggunakan Tanktop dan celana Hotpan, ternyata mereka juga belum tidur.

Entah kenapa seperti membutuhkan kehangatan, akupun bergabung bersama mereka. Aku duduk di tempat tidur Lili dan bercerita berdua. Sementara tak berapa lama di tempat tidur satunya lagi Fitri sudah tertidur. Entah bagaimana ceritanya, akupun sudah dalam satu selimut dengan Lili. Perlahan karena suasana yang dingin, kupeluk dia dan mulai kucium dan kukulum bibir mungilnya, ternyata dia membalas. Perlahan kubuka pakaiannya dan kubuka bh nya. Disini mulai memanas, karena dengan berani tangannya bermain di ****** ku. Kukulum puting susunya, kujilat dan kuhisap hisap dan kuremas-remas buah dada ranumnya dengan penuh nafsu sampai Lili mendesah dan berkata, ” Ah…ndre, kamu pintar mencumbu ya..” Lili terus mengerang membuat kontolku semakin menegang keras. Ternyata Lili tidak tahan. Kepalanya langsung menuju kebawah dan membuka celanaku dan langsung menghisap Kontolku yang sedang tegang.
“Li…pelan-pelan, Fitri sedang tidur..”
Lili hanya tersenyum dan berkata “biarin gak apa-apa ndre..”, sambil terus mengulum dan menghisap-hisap ****** ku…Ternyata Lili lebih jago mengulum kontolku daripada mantan mantan pacarku dulu, dan tanpa sadar celana dalam kami sudah entah kemana.

Untuk pertama kalinya aku akan melakukan penetrasi kedalam Mrs V Lili. Dengan sedikit deg degan dicampur nafsu, kumasukkan batang penisku kedalam vaginanya, dan ‘sleb’…kehangatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya terasa diseluruh batang kontolku yang menegang. Lili langsung mengerang “Aaaaaghhh…Panjangnya Ndree..”
Aku tersenyum dan mulai menggerakkan badanku maju mundur. Ternyata begitu nikmatnya melakukan hubungan sex itu. Aku sampai tak sadar karena begitu nikmat dan benar-benar surga dunia. smpai akhirnya tiba-tiba terdengar suara Fitri..” Li..besok jangan kesiangan ya…!” Kami terdiam sejenak. Apakah Fitri tau perbuatan kami, tapi karena posisi lampu agak gelap, aku tidak melihat kalau Fitri terbangun atau tidak.

Pelan-pelan kuberbisik ke telinga Lili, “Di kamar mandi aja gimana Li..?” Lili mengangguk setuju, perlahan2 dengan badan telanjang kami pindah ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.

Dikamarmandi aku mengambil posisi duduk sementara Lili mengambil inisiatif untuk berada diatas dan menggoyang, memutar, dan membuat kontolku terasa seperti masuk kedalam lubang yang nikmat dan sangat hangat dan menghisapnya.

Tapi beberapa saat sebelum aku ejakulasi aku lihat ekspresi muka Lili yang berubah, dan tak lama dia mengerang penuh kenikmatan. Ternyata di Orgasme duluan, langsung dipeluknya tubuhku yg basah olh keringat, dan menciumi bibirku, mengulumnya dan mengerang serta mendesah penuh kenikmatan.

Aku tersenyum dan memeluknya, sambil berkata, “Yang aku belum keluar lo Li…kamu hutang satu…” Lili tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Maunya kapan.. sekarang..? Tanpa persetujuan dariku Lili langsung kembali menundukkan kepala mengulum Kontolku yang masih basah oleh cairan Orgasmenya, dan dengan cara yang sangat ahli dia menggoyangkan lidah, menggigit kecil kontolku, menghisap, mengulum. menjilati buah zakar sampai keujung kepala penisku. Ampun…aku gak tahan, dan gak kuat lagi…tangannya mengocok batang kontolku sambil mengulumi bagian kepala penisku. Sapai akhirnya aku terengah engah mengatakan, “Li..udah..udah…ampun…dahsyat…enak banget Li…ampun…udah mau keluar Li, berhenti…Please..” Dan bukannya berhenti, tapi Lili semakin ganas mengulum, menjilat, mempermainkan kontolku, kedua tangannya mengocok dan memijit semua daerah paling sensitifku…sampai akhirnya aku gak tahan lagi, disaat dia masih mengulum kepala penisku keluarlah semua sperma yang banyak sekali, memenuhi isi mulutnya dan sebagian wajah cantik Lili. Aku mengerang kenikmatan…AAAAAKKKHHHH…Dan berakhirlah puncak kenikmatan malam itu…Sambil mengelap wajahnya dan sebagian toketnya yang terkena Spermaku Lili tersenyum dan berkata ” Besok kamu harus kerumahku…kita ulangin lagi tanpa rasa takut ketauan Fitri ya…” Aku tersenyum dan menganggukan kepala tanda setuju.

Begitulah pengalamanku bercinta dengan Lili, dan ini bukan one night stand, karena setelah itu kami tetap saling telpon, bertemu, mkan malem, jalan berdua, dan melakukan aktifitas sex layaknya suami istri karena Lili tinggal sendiri dirumahnya bersama kakak perempuannya yang sering keluar kota, sehingga hubungan kami berjalan selama kurang lebih dua tahun sampai akhirnya harus berpisah karena kau harus pindah ke jakarta. Dan kabar terakhir aku mendengar dia sudah menikah dengan pengusaha dari malaysia dan mempunyai seorang anak yang diberi nama Seliandre yang kata temen2nya singkatan Selalu Lili dan Andre. Aku gak tau apa benar apa enggak, yang pasti aku masih selalu teringat kegilaan dan kenikmatan yang aku alami selama menjalani hubungan tanpa status dulu dengan Lili.

]]>
http://www.difunde.com/bercinta-dengan-gadis-medan.html/feed 0 http://www.difunde.com/cewe-counter-fastfood.html http://www.difunde.com/cewe-counter-fastfood.html#comments Fri, 27 Apr 2012 05:49:27 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=154

Satu malem aku nonton ndirian, tentang kiamat yang lagi heboh itu. bubaran filmnya, aku mampir ke satu resto fast food yang buka 24 jam, wah penuh deh ma orang2 yang idupnya malem, abege, tante2, dan sebangsanyalah. Karena laper aku pesen roti burger dan kopi panas. Saat itu dah ampir tengah malem, maklum deh aku nonton show yang terakhir. Di counter aku dilayani ma cewek, manis banget deh, toketnya lumayan menonjol dibalik seragamnya. Di dadanya ada name tagnya, terbaca namanya Mita. aku gangguin ketika pesen kopi, dia nanya, “pake susu gak om”. “Pake susunya Mita bole gak “. “enak aja si om” sembari tertawa geli. “Ya enaklah kalo dikasi Mita”. Dia cuma tersenyum. Aku menikmati roti dan kopi dipojokan. Gak lama aku duduk dipojokan itu, Mita menghampiriku membawa peralatan pembersih meja. Dia membersihkan meja yang berada disebelahku. Ruangan tempat aku duduk itu berupa lorong sehingga meja disusun jejer berdua, masing2 sisi menempel ke tembok sehingga ada space diantara 2 meja untuk lalulalang. Karena seragamnya yang mini, waktu Mita membungkuk diatas meja untuk menjangkau sisi meja yang menempel ketembok, roknya sangat terangkat sehingga aku bisa melihat pantatnya. Gak kelihatan cd, mungkin dia pake g string. Selesai membersihkan meja, dia beralih ke meja didepanku. Mejaku enggak karena masi ada aku duduk disitu. “Kok malem2 gini bebersih meja sih”. “Itu prosedurnya om kalo mo ganti shift”. “O abis ini kamu pulang”. “Iya om, shift ketiga dah standby, jadi kita shift dua kudu membersihkan semua meja. Memang dimeja lain yang gak didduduki tamu tampak cewek dengan rok mininya membersihkan meja, pemandangan indah melihat pantat cewek2 itu. “Mit, kamu gak pake cd ya”, kataku to the point. “enak aja, pakelah om, mo liat”. “Ya kalo mo liat cd nya kamu ya gak disini lah”. “Bole dimana ja om mau”. “Bener nih”. “siapa takut”. “Ya udah, aku tunggu sampe kamu selesai jam kerjanya”. Mita berlalu sambil tersenyum. Rupanya resto fast food 24 jam ini bener kata orang, banyak berkumpul prempuan2 bispak, sehingga banyak lelaki yang datang ekseini bukan untuk ngopi atawa makan burger tapi untuk berburu bispak. Gak taunya cewek counternya bispak juga. Gak apa sih, Mita cukup menggugak hasratku untuk menggelutinya malem ini.

Selesai kerja, Mita mengenakan pakeannya yang bukan seragam, biasalah jins ketat dan tanktop ketat juga yang menonjolkan lekak lekuk bodinya yang semlohai. Kamu cantik ya Mit, montok lagi”. “Ah si om bisa aja, temen2 Mita juga seksi semuanya”. “Kamu suka jalan ma tamu ya Mit”. “Kalo Mita suka ma tamunya dan tamunya ngajak ya Mita mau juga”. “Wah berarti kamu suka ma aku dong ya. Biasanya jalan kemana Mit”. “Karena dah tengah malem gini ya cek in ke hotel lah, kemana lagi”. “asik dong, brapa ronde maennya”. “Sukanya sih sampe pagi, 2-3 ronde gitu deh”. “Nikmat dong kamu”. “Ya nikmatlah om, kalo enggak nikmat ngapain juga dilakuin. Om ngelakuin juga karena pengen nikmat kan”. “Yoi”, jawabku. Mobil meluncur ke kediamanku. “Kamu masi sekolah Mit”. “Gak om, gak ada biaya, abis Smu ya Mita kerjalah disitu. Abis kerjaannya gampang, gak perlu keterampilan khusus”. Mangnya gak di train dulu sebelum kerja”. “Ditrain sih om sebulan, mulai dari bersihin wc dan dapur, bersihin piring, bersihin prabot masak, masak burger dan nyiapin pesanan tamu, sampe ngelayani tamu di counter”. “Terus kamu milih di counter ya, supaya bisa jalan ma tamu”. “Si om, bisa aja. Mita salah mulu kalo nyediain pesanan, palagi masak burgernya, makanya kerjaan Mita ya cuci piring dan ngelayanin tamu”. “Baiknya kamu gak didapur ya Mit”. “Napa om”. “Kalo kamu didapur aku gak bisa ketemu kamu dong”. “Iya ya, kita mo kemana ni om”. “Kerumahku ya”. “Kerumah, mangnya om gak takut ma yang dirumah”. “Yang dirumahku ya cuma aku, bentar lagi ma kamu”. “O tinggal sendiri toh, mau gak Mita temenin”. “Bener nih Mita mo nemenin aku”, agresif banget ni cewek pikirku. “Mau om, mita suka kok liat om, om tipenya Mita banget”. “Mangnya tipenya Mita kaya apa”. “Ya kaya om lah, ganteng, umur gak abege, atletis lagi badannya. Suka fitness ya om”. “Ya sekali2″. “Yang duakali2 diranjang ya om”. “Kok duakali2?” “Ya sekalinya kan di fitness center, duakalinya ya di ranjang, tul gak”. “Tul skale, pinter kamu, kamu kan fitnes nya juga diranjang kan, 3 ronde maen kan cape juga kaya ikutan fitnes”. “Cape sih om, palagi kalo bisa trus2an”. “wah kuat banget bisa trus2an”. “Ada juga sih om, tapi gak banyak, umumnya abis keluar ya istirohat dulu, napsu lagi baru maen lagi”. “Iya, jadi kamunya bisa istirohat juga”.

Kita dah sampe ke rumahku. aku membuka pintu pager dan pintu garsi, mobil masuk langsung ke garasi. Aku menutup pintu pager dan pintu garasi, Mita kugandeng masuk ke rumah lewat pintu penghubung anatar garasi dan dapur. “wah rumah om asik ya, minimalis banget. Karena aku tinggal sendiri maka rumahku gak besar, ada ruang tamu, ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga, dapur, tempat cuci pakean ada dihalaman belakang. Halaman belakang didisain agak luas, ada saung dipojok tembok halaman. “Tu saung buat apa om”. “Ya buat maen lah Mit, asik kan diudara terbuka”. Mita kugandeng menuju ke saung. Disaung ada matrasnya, lampu kunyalakan, redup jadi suasananya temaram. Kelambu yang ada di 3 sisi saung kulepas sehingga bisa menangkal nyamuk mengganggu, masih kutambahi juga dengan obat nyamuk yang harum. Aku menyalakan lilin aroma terapi untuk menambah romantisnya suasana. “wah om romantis amir”. “Kok amir Mit”. “Iya om, amat lagi cuti, yang ada amir”. “Bisa ja kamu”. Aku mengajak Mita duduk di matras, aku masuk lagi kerumah mengambil minuman kaleng cukup banyak”. “Banyak banget om minumannya”. “Kali nanti aus, daripada mondar mandir”.

Mita berbaring di matras, aku disebelahnya. Kelambu yang menutupi bagian depan saung kuturunkan juga. Aku menelungkup sedang Mita telentang. “Mit, kamu cantik ya, suka aku ngeliat kamu”. “Makanya om, mau gak Mita temenin tinggal disini”. Aku hanya tersenyum, pelan tapi pasti bibirnya kukecup. Mita kaget karena tindakanku itu, tapi dia segera merangkul leherku dan menyambut ciumanku. Cukup lama kami berciuman, aku mulai meraba toketnya, kuremas pelan. Mita melenguh, “om…” rupanya dia mulai terbakar juga. aku meremas toketnya dengan gemas, bergantian yang kiri dan kanan, sementara itu ciuman masih terus kulakukan. “Om….” Mita makin melenguh. “Mit, buka ya pakean kamu”. “Bukain dong”, jawabnya manja.

Tanktopnya kulepas, tersembullah toketnya yanmg montok dibalik branya yang kayanya kekecilan sehingga gak bisa meanampung seluruh toketnya, pentilnya yang besar menonjol dari balik branya. Segera pentilnya kumainkan dengan jari, “Om, diemut dong pentil Mita”. Pentilnya segera kujilati sambil terus meremas toketnya. Karena branya mengganggu usahaku utnuk mengemut pentilnya, segera kaitannya dipunggungnya kulepas sehingga terbebaslah toket montoknya dari branya. Pentilnya yang kecoklatan sudah mengeras, pertanda Mita juga sudah napsu. Kembali pentilnya kujilati dan kemudian kuemut pelan. “Om….”, lenguh Mita lagi. Toketnya terus kuremas gemas, kemudian tanganku menjalar kebawah, memainkan pusernya. Dia menggeliat kegelian, “Om, geli…” Tanganku terus saja menjelajah kebawah, kancing jinsnya kulepas, ritsluitingnya kuturunkan.

Tanganku menyusup kebalik cdnya, jembutnya lumayan lebat, teraba oleh jariku. Karena jinsnya ketat, jariku gak bisa menyusup sampe ke ke area nonoknya. Aku bangkit, kulorotkan jinsnya, Mita menganghkat pantatnya supaya aku mudah melepaskan jinsnya. Tinggallah gstring yang menutupi nonoknya, bener dugaanku. “Om dingin”, lenguhnya lagi. “Wah kamu cuma pake g string napsuin banget deh Mit. “Kalo dah napsuin kok om masi pakean lengkap”. Aku segera melepas pakeanku juga. Mita membelalak melihat kontolku yang kepalanya nongol dari atas cdku yang minim. “Ih, kon tol om gede ya, panjang lagi”. “Mangnya kamu belon pernah liat yang gede”. “Yang gede si sering, tapi kon tol om gede banget, wah sampe pagi ni ya om”. “Iya sayang, sampe kamu terkapar”. “wah nikmatnya, Mita dah pengen ngerasain dimasukin kon tol gede panjang kaya om punya deh”.

Aku mulai lagi merangsang Mita, Mita mengangkangkan pahanya ketika jariku mulai mengelus selangkangannya. Gstringnya dah basah, kayanya lendir nonoknya Mita dan banjir nih, dah siap banget buat dientot. Jariku nyelip kebalik g stringnya, mulai mengakses nonoknya. Terasa lendir yang membasahi nonoknya, jariku terus menyusup menjelajahi permukaan nonoknya sampe menemukan itilnya. Segera itilnya kuelus2 dengan jari, ini membuat Mita menggeliat2 saking napsunya, “Om, Mita dah pengen dimasukin om”. Aku gak perduli dengan lenguhannya, aku terus saja mengilik2 itilnya sehingga Mita makin menggelinjang gak karuan.

Setelah beberapa lama, kulepas gstringnya, jembutnya yang lebat melingkari daerah nonoknya, berbentuk segi3. aku menelungkup diselangkangannya dan mulai menjilati itilnya. Mita makin gak karuan ketika itilnya kuemut2. Gerakannya sangat liar, pertanda napsunya sudah sangat memuncak. “Om, ayo dong dimasukin, Mita dah gak tahan nih, om jahat deh, maenin Mita kaya gini”. lenguhnya sembari terus menggeliat2. kontolku terasa keras sekali, sudah siap untuk mengaduk2 no nok Mita. Cdku kulepaskan. “Om dah napsu ya”, masih bisa juga dia menggodaku. “Siapa yang gak napsu ngeliat kamu yang merangsang kayak gini”, jawabku sambil kembali meremas toketnya. pentilnya kuplintir2 juga.

Dia berbaring telentang. Paha dikangkangkannya sehingga nonoknya yang berwarna merah kehitaman merekah mengundang kontolku untuk segera memasukinya. Aku mengurut kontolku yang sudah ngaceng berat sambil sambil meraba dan meremasi toketnya yang sudah mengencang itu. Dia menjadi makin bernapsu ketika aku kembali meraba nonoknya dan mengilik itilnya. Dia meraih kontolku dan dikocok pelan. “Om geli, enak”, erangnya sambil mempercepat kocokan pada kontolku. Kuremasi toketnya sambil mengilik itilnya. nonoknya sudah makin kuyup saking napsunya. Dia meraih kontolku dan kuarahkan ke mulutnya. Dijilati seluruh kontolku dari ujung kepala sampai ke biji pelirnya, tak lupa dikulum sambil sesekali di sedot dengan kuat. “Ufffffff enak sekali Mit, terusin isapnya….isap yg kenceng”, aku mendesah2. Karena dia sudah nafsu, dengan kuat disedotnya ujung kepala kontolku sambil sesekali menggunakan ujung lidahnya memainkan lubang kencingnya. Segera aku memposisikan diriku supaya bisa menjilati dan menghisap nonoknya yg sudah terbuka itu. Ketika aku kembali menjilati itilnya dia mengelinjang kenikmatan sambil kepalaku di kempit dengan kedua belah pahanya, agar aku lebih lama menjilati nonoknya. Dengan dua jari, jari tengah dan telunjuk kumasukkan ke dalam nonoknya dan kukocok dengan lembut hingga dia mengerang-erang keenakkan. kontolku digenggam erat sambil terus menghisap-isap ujung kontolku. Cukup lama kami saling isap dan jilat.

Kini aku yang telentang dan dia berada di antara ke dua pahaku. Dia mengisap dan menggigit kecil ujung kontolku hingga aku kelojotan merasakan geli yang luar biasa. Segera aja aku menarik kepalanya agar melepaskan kontolku dari mulutnya, dan kini dia kurebahkan kembali, lalu aku menghisap pentilnya sebelah kanan sambil pentil yg satunya kumainkan dengan jariku. Dia sangat menikmati permainan ini sambil tangannya mengilik sendiri itilnya. Dia mengangkangkan pahanya dengan lebar dan setengah diangkat agar lebih mudah memasukkan jarinya. “Om,,,,,ayo masukin k ontol om di n onok Mita dong….. Mita udah kepengen nihh..” pintanya sambil mengarahkan kontolku ke arah nonoknya.
Dia yang sudah sangat kepengen, sengaja mengangkat pantatnya sehingga seluruh kontolku masuk ke dalam nonoknya. “Accchhhhhh…..”, desahnya. Kedua pahanya dilingkarkan di badanku agar kontolku menancap di nonoknya. aku menarik kontolku sedikit keluar lalu kumasukkan dalam-dalam, kutarik lagi kumasukkan lagi dengan ritme yang berirama membuat dia mengerang-erang keenakkan, kini dengan ritme yg lebih cepat aku menekan sekuat tenaga hingga mulutnya menganga tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun karena nikmat yang dirasakannya, membuat dia hanya sanggup mengelinjang-gelinjang keenakan. toketnya bergerak naik turun seirama dengan kocokan kontolku di nonoknya. “Om……..aaccchhhhh……Mita pengen puass dulu ya” pintanya

Tanpa menunggu jawabanku dia lalu berbalik sehingga berada di atas tubuhku, kontolku yang terlepas ketika kami berbalik badan dituntun ke nonoknya, lalu dengan jeritan kecil ” Aauuu…..” seluruh kontolku kini amblas masuk ke dalam nonoknya yg semakin licin itu. Kini dia sepenuhnya bebas menguasai kontolku, seperti orang naik kuda semakin lama semakin cepat gerakannya sambil tangannya meremas kedua toketnya sendiri. Kemudian dia brenti bergaya seperti naik kuda, tetapi tetap seperti posisi semula hanya kini dia menggesekkan nonoknya maju mundur sambil terus meremas sendiri toketnya hingga akhirnya dia mengejang-ngejang beberapa saat sambil menggigit bibir dan mata terpejam merasakan nikmat yang tiada tara itu, akhirnya dia terkulai di atas tubuhku beberapa saat.

Segera aku meminta agar dia nungging, posisi doggie style adalah posisi kegemaran ku, segera dia nungging sambil membuka lebar pahanya hingga aku dapat melihat dengan jelas nonoknya yang berjembut lebat. Kini kepala kontolku kuarahkannya ke nonoknya, dengan sekali dorong, masuklah sebagian kontolku ke dalam nonoknya. Dia menjerit kecil. Dia memundurkan pantatnya hingga amblaslah seluruh kontolku ke dalam nonoknya. Dengan kuat aku mendesakkan seluruh kontolku dengan irama yang beraturan hingga dia merasa kegelian lagi. Aku membasahi jari telunjukku dengan ludah dan kubasahi pula lubang pantatnya dengan air ludah. Sambil terus menggoyang kon tol, kumasukkan jari telunjukku ke pantatnya hingga seluruh jarinya masuk, sambil kutekan ke bawah hingga merasakan geseran kontolku di dalam nonoknya. Dia bisa menikmati permainan ini, berulangkali dia memintaku agar lebih keras lagi goyanganku sambil memaju mundurkan pantatnya. “uufffgggggghhhhhhhh….Enak Mit, nonokmu enak banget”, erangku. Aku mempercepat kocokan kontolku sambil menekan kuat kuat jariku yg ada di pantatnya. Tak lama lagi, aku mengejang, “Mit aku mo ngecret”, dan terasa semburan peju hangat di dalam nonoknya. kontolku berkedut menyemburkan peju berkali2.

Kami berbaring dimatras yang cukup lebar untuk berdua cukup lama. “Kamu punya body bagus Mit”, kataku sambil mencium pipinya perlahan. Karena dia masih diam saja maka wajahnya kupegang dan kucium bibirnya dengan perlahan. Dia membalas ciuman itu dengan membuka bibirnya, serta merta aku melumat bibirnya dan memasukkan lidahku. “Emmhh..” desahnya perlahan. “Kamu suka kan Mit maen ma aku”, bisikku di kupingnya. Dia hanya mengangguk. tangan kirinya kuarahkan untuk memegang kontolku. Walaupun belum keras tapi sudah berdiri tegak, k ontol itu berikut biji pelernya yang ditutupi jembut lebat. Dia mulai memegang kontolku dan ternyata walaupun masih lemas jari telunjuk dan ibu jarinya tidak dapat bersentuhan (membuat bentuk huruf O). “Aakkhh gedee bangeet om..” desahnya dengan suara parau. Kemudian aku mencium telinganya sambil berbisik, “Kamu kocokin dong..” Dia menuruti permintaanku dan perlahan jarinya meremas dan mulai mengurut ke atas dan ke bawah, dan dalam relatif singkat kontolku tersebut ngaceng dengan kokohnya di tangannya.
“Emmhh.. akhh..” desahku. Sementara dia terus mengocok kontolku, aku pun dengan nafsunya mengulum bibirnya dan langsung meremas toketnya yang telah mengeras. “Akhh enak om.” desahnya menggelinjang. Bibirnya kulepas dan mulutku langsung mendekat ke dadanya sambil terus meremas perlahan. pentilnya kuhisap sambil kujilat, toketnya berganti-ganti kuremas sehingga, “Akhh.uuff..” erangnya keenakan. Wajahnya sudah menengadah ke atas dengan posisi pasrah, sementara tangan kirinya terus mengocok kontolku yang besar dengan makin cepat, kadang-kadang diremasnya k ontolku dengan kuat. “Ooohh..”, desahnya, tangan kanannya menekan kepalaku ke dadanya sementara tangan kirinya sudah tidak beraturan mengocok k ontol besarku.

“Kamu mulus sekali Mit..” bisikku sambil mengusap pahanya. “Ahh om..” dia mendesah dan menggelinjangkan pinggulnya sambil merenggangkan pahanya ketika jari-jariku mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas nonoknya yang ditumbuhi jembut dan menyebarkan aroma yang khas. Kami sama-sama mendesah dan mengerang perlahan. “Emmhh..” desahnya sambil mengerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Jariku mulai menyentuh belahan nonoknya dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah. Belahan nonoknya sudah terlihat basah dan menjadi licin dan makin menyebarkan aroma yang membuat aku menjadi makin terangsang. Dia sudah melepaskan kontolku dan kedua tangannya terkulai lemas meremas kepalaku, kadang-kadang mengusap punggungku. tangan kiriku terus membelai belahan nonoknya, tangan kananku meremas toketnya, sementara itu mulutku menghisap pentilnya yang telah mengeras serta menjilati permukaan toketnya atau mengulum bibirnya.

Kurang lebih 20 menit aku telah merangsang sekujur tubuhnya. Dia hanya tersenyum puas dan pasrah kuraba dan kuremas. aku pun menciumi seluruh tubuhku yang telah polos, bahkan sampai ke punggung pun aku ciumi dengan penuh gairah. Sungguh sensasi luar biasa. aku terus membelai belahan nonoknya tanpa berusaha memasukkan jari tengahku tersebut kedalam no oknya yang telah terpampang dengan pasrah. Sementara dia telah dalam posisi rebahan dengan kaki terbuka mengangkang. aku melihat dia sudah pasrah dan seluruh badannya bergetar menahan napsu yang berkobar2.

Aku berlutut di depannya yang telah mengangkangkan kakinya sehingga posisi badanku sekarang telah berada di antara kedua kakinya yang mengangkang lebar dan nonoknya yang telah terlihat jelas telah basah. kontolku yang besar telah berada di depan permukaan nonoknya. aku mulai mengarahkan kontolku ke nonoknya yang telah terbuka sedikit akibat jari-jariku yang terus membelai belahan nonoknya. kontolku yang besar itu kutempelkan tepat di belahan nonoknya yang telah basah, secara perlahan menggeser di belahan nonoknya. “Oohh.. om.. enaakk.. ” erangnya. “Teruss digesek dan ditekan om.” pintanya. “Ya sayang..” kataku sambil mulai mempercepat gesekan di belahan nonoknya. “Tekan teruuss om..” erangnya yang makin lama semakin keenakan. “Enaakk..om.. puasin Mita lagi”, desahnya dengan suara yang telah parau. Posisi kakinya telah mengangkang dengan lebar membuat aku lebih leluasa menggerakkan dan kadang mendorong kontolku ke depan hingga lebih menekan dan menggesek belahan nonoknya. Kulihat nonoknya telah terbelah bibirnya karena tekanan dan gesekan kontolku, kepala kontolku mulai secara beraturan menyentuh dan mendorong itilnya. “Aahh.. aduuhh..ennaakk”, desahnya sementara tangannya telah berada di belakang punggungku dan sambil menekan pantatku. posisi kepala kontolku melewati itilnya, mencoba untuk terus menerobos liang nonoknya. Kepalanya sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak tinggal putihnya, sementara mulutnya terbuka mengerang. aku terus melanjutkan aksiku dengan posisi sama seperti sebelumnya. kepala kontolku terus kutekan ke nonoknya, tapi kutarik kembali, aku terus memajukan dan menarik pantatku dan makin lama semakin cepat . Kepala kontolku terus menekan itilnya berulang-ulang kadang masuk kadang di luar bibir nonoknya. “Akhh.. engg.. aakhh” dia mencengkeram pantatku kuat-kuat dan akibat sundulan kepala kontolku.

“Oohh..Mita..nyampe om.. uuff..aahh.. enaak..” erangnya kelonjotan dan bergetar seluruh badannya. aku merasakan siraman cairan hangat dari dalam nonoknya yang terus mengalir membasahi batang dan kepala kontolku, membuat kon tol itu menjadi mengkilap dan basah. “Kamuu..nyampe ya Mit..”. “Eeennakk.. oohh Mita.. puaass”, dia terus mengerang karena terus merasakan sundulan kepala kontoku di dalam nonoknya . Ternyata hanya sebatas leher kepala kontolku yang terbenam di dalam nonoknya dan terasa terus menggesek dinding nonoknya. “Teruss.. om.. tekan teruuss.. oohh.. benar enak.. ahh..” dia tersenyum puas melihat aku masih terus berusaha memberikan rangsangan di sekitar dinding nonoknya. “Kamu puass.. Mit. enak.. kan..” senyumku sambil menjilat bibirnya sendiri. “enak banget deh om, lebi nikmat dari yang pertama. Om pinter banget deh maenin it il dan no nok Mita, gak dimasukin ja Mita bisa nyampe lagi”.”Biar kamuu.. lebih puaas Mit..” kataku sambil terus menghujamkan sepertiga kontolku ke dalam liang nonoknya. Terdengar bunyi, “Sleepp.. ahhkk.. brreet..” rupanya nonoknya terus semakin basah dan semakin licin untuk kontolku yang terjepit di nonoknya. nonoknya terasa masi sempit.

Posisiku sudah menindih badannya. Sementara aku menaik-turunkan pantatku berirama. kontolku yang besar dan panjang itu sebagian telah keluar masuk di dalam nonoknya, sementara gerakannya makin lama semakin lincah karena nonoknya terus mengeluarkan cairan yang membuat kontolku terus dapat menerobos dinding nonoknya.

“Aakkhh..eennak..ruuss..tekan..om… Mita mau k ontol gedee.. ahh enaaknya nge ntot ma om..” dia kelojotan dihujami kontolku walaupun belum semua kontolku masuk menembus nonoknya. Dia terus memberikan remasan dipantatku dan kadang menekan pantatku ke bawah. ” n onok kamu masih sempit..sayang..oohh..nikmatnya.. n onok..kamuu.. enak.. adduuhh kontolku..dijepit..aah enak.. haa..mhh.. ennak..”.aku terus menekan agar kontolku lebih masuk lagi ke dalam nonoknya. Setelah 2 sampai 3 kali menekan kontolku ke dalam, pada saat menekan terakhir pantatku memutar ke kiri dua kali dan ke kanan dua kali.

Dia sudah tidak sempat lagi bergerak, posisinya hanya mengangkangkan kaki lebar-lebar dan tangannya hanya dapat memegang punggungku dan sekali menjambak rambutku. nafasnya tidak beraturan, yang ada hanya lenguhan dan lenguhan disertai erangan panjang. aku telah melakukan gerakan menghujamkan nonoknya yang sempit dan basah. Terlihat bibir nonoknya tertarik keluar dan terdorong masuk mengikuti gerakan kontolku. Tiga puluh menit sudah lewat, keringat telah membasahi badan kami berdua.

“Kamuu berbalik.” aku menarik kon tolku, terdengar bunyi “Plooff..” dan dia mengambil posisi menungging. Bibir nonoknya dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggirannya. aku mengambil posisi tepat di belakang pantatnya. Setelah lima kali meremas bongkahan pantatnya dengan penuh nafsu, sedikit demi sedikit aku mulai menempelkan kepala kontolku dibelahan nonoknya dan terus menggesekkan kepala k ontol tersebut ke atas dan ke bawah belahan nonoknya. “Aahh.. ennaak.. om..” desahnya terpejam. “Nikmatnya k ontol om..enak..Masukin om.. Mita mau nge ntot.. yang enak..aahhk”, dengan sedikit hentakan kepala kontolku mulai menerobos nonoknya. Perlahan aku melakukan gerakan maju mundur dan makin lama semakin cepat. kontolku sebagian sudah tenggelam di dalam nonoknya. “Ahhk.. uuff..enaak..oohhkk.. yaa.. teruus.. haak!” dia mengeram dengan nafas yang memburu, begitu juga aku. aku memegang pinggulnya sambil mendorong kontolku yang menghujam semakin dalam dinonoknya. “Hee.. aakhh.. okh..” nafas nya memburu dengan cepat sementara gerakan kontolku di dalam nonoknya terus keluar masuk dan kadang berputar seperti mengebor nonoknya. “Akhh..eennak.. giila..aduh….k ontol om mentook..mmffhh.. yaa terus..” erangnya. “Mita.. enak.. gilaa.. masuk..semuaa..mmffhh….” aku terus menghujamkan kontolku dalam-dalam ke nonoknya. Sementara dia hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala kontolku mentok di dinding rahimku. “Mita keluarr lagi..aku.. aahk enak..” erangnya terpejam.

Telah 20 menit aku memainkan kontolku di dalam nonoknya, keringatku telah menetes ke punggungnya. Dia benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga lagi. Kepalanya sudah rebah ke matras, sementara tangannya terkulai lemas, rambut telah basah semua dan badannya telah bermandikan keringat. “Aahk om, Mita.. lemes.. gila.. keluarin om..” pintanya memelas. “Yaa.. akh yak.. duh.. Mit.. aku keluarin.. huu.. enaak n onok kamu.. aku mau keluarr.. gila! Enaak.. aku mau keluaar.. aahh.. hak.. uuff.. oohk.. kamu hebat Mit..” aku melakukan gerakan sangat cepat menghentakkan kontolku sampai berbunyi, “Cepaak.. cepakk..” supaya kontolku masuk lebih dalam. Dia melakukan gerakan liar memutar dan memijat kontolku dengan nonoknya. “Mita juga.. mau keluar.. ahh.. lagi.. om”. “Gila.. aahh.. aku juga..keluaar.. haa.. nak..” Kami berdua nyampe bareng, terasa sekali semburan keras pejuku yang hangat dinonoknya. aku tersenyum puas sambil meremas toketnya dan mencium bibirnya. Dia telah terkulai lemas di matras. aku tetap dalam posisi memeluknya dari belakang sementara kontolku yang sudah mengeluarkan peju masih berada di dalam nonoknya, sampe menyusut mengecil dan terlepas. Lemas sekali, tapi nikmat

]]>
http://www.difunde.com/cewe-counter-fastfood.html/feed 0 http://www.difunde.com/mba-ira.html http://www.difunde.com/mba-ira.html#comments Thu, 26 Apr 2012 17:49:13 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=152

Kembali gw mau sharing pengalaman di ranjang gw dengan Mira, Kakak Ipar gw yang kita biasa panggil Mba Ira, yang dalam 5-6 bulan belakangan ini jadi tempat selingkuhan ranjang gw untuk penyaluran dan pelampiasan nafsu sex.

Bukan gw gak puas dengan isteri sendiri tapi dengan orang lain seperti Bro pada tahu dan alami pasti ada sensasi lain. Dan sensasinya makin asik …. asik …. klo selingkuhan ranjang kita ternyata adalah Kakak Ipar kita sendiri. Hehehe …… sexy dan cantik pula …. Mantaaab ….

Ceritanya persis pas lebaran kemarin. Seperti kebiasaan banyak keluarga pada saat hari Raya maka hari itu, lebaran hari pertama keluarga besar gw kumpul di rumah mertua untuk berlebaran. Setelah sukses mendapatkan durian runtuh pada akhir Juli yang lalu sewaktu gw ngentotin dia hampir nonstop selama 2 hari 2 malam pas gw diminta suaminya nungguin rumahnya saat dia dinas luar kota maka praktis belum ada lagi kesempatan yang gw dapatkan.

BTW dampak dari permainan yang hampir non stop itu Kakak Ipar gw itu harus ambil cuti kerja sehari karena katanya sakit klo jalan, bilang sama suaminya sih jatuh terkilir …. Hehehe … padahal dia kepayahan karena abis gw pake selama 2 hari 2 malam lewat vaginanya yang masih tetap rapat dan hangat, mulutnya yang mungil dengan permainan lidahnya yang luar biasa dan tentu saja second hole-nya yang belum pernah diberi ke siapa – siapa termasuk suaminya. Dan gw yakin kesakitan terbesar Ira gw rasa di second hole-nya Bro, karena sehabis permainan gila itu second hole-nya memar dan berdarah. Tapi waktu gw sempat tanya dia, ternyata dia seneng – seneng aja tuh …. Sori Kakak Ipar gw ambil keperawanan second hole dirimu ….

Nah kejadian di hari Raya kemarin itu begini ceritanya. Pas kita sudah acara sungkeman dengan orang tua (mertua gw) kita duduk – duduk di ruang tengah. Hari itu Ira berpakaian busana muslim putih dengan celana panjang putih yang tipis. Jadi keliatan ceplakan celana dalam Ira dan yang pasti jelas terlihat juga bahwa dia pake bh item karena itu transpasran banget dengan bajunya. Gila …. Emang mantab badannya loe Ra …. Dari pagi gw datang gw berusaha curi – curi pandang ke dia tiap ada kesempatan. Dan satu dua kali gw pergokin dia juga curi pandang ke gw dan tahu gak Bro curi pandangnya beberapa kali ke gundukan ****** gw ….. hahaha … kayaknya Ira mulai nikmatin dan kangen nih ama ade gw yang kalem tapi bongsor dan ganas itu. Pernah satu kali gw berhasil nangkap pandangan Ira pada saat Ira duduk depan di seberang gw. Matanya dengan muka mupengnya lagi menatap mesra selangkangan gw. Pas Ira sadar gw perhatiin, dia cuma mengerling manja. Hmmm …. Klo udh kayak gitu gw yakin bakalan kejadian nih dengan sukarela Ira minta gw garap atau jangan – jangan gw bakalan diperkosa Ira nih ….. hehehe …. Percaya diri boleh dong …..

Sewaktu kita lagi duduk bercengkrama di ruang tengah itu, tiba – tiba Ira bilang ke suaminya (masih ingatkan namanya ? …. Ruhan seorang GM yang menurut feeling Ira Ira punya simpanan setidaknya selingkuhan juga…. Jadi si Ira nih ada sedikit keinginan balas dendam dengan bersedia tidur sama gw Adik Iparnya …. Hahaha …. Yang untung ya gw ?) ….) “Mas Ruhan aku balik dulu ya karena parcelnya Mami ketinggalan tuh …. biar di supirin Dandy aja … mau ya Dan … Ran (Ira panggil Rani, isteri gw) pinjam Dandy sebentar ya ?”. Dan so pasti Kakak – Adik itu mengijinkan kita jalan berdua tanpa curiga …. Enaknyaaaaa …..

Dan dalam sekejap duduklah gw di belakang setir mobil Toyota Fortuner suaminya yang pake kaca rayban super gelap itu …. Belum lagi sampai di jalan raya Ira dah maksa minta cium … Tapi gw tetap santai karena gw harus nyetir kan. Tapi setelah gw bayar tol Ira gak bisa nahan diri dan terpaksa gw biarin aja. Ira maksa megang ****** gw. “Daaannnn boleh ya ?” minta Ira manja sambil tangannya mulai ngelolosin gasper celana gw … Belum juga gw jawab Ira dah keluarin ****** gw yang udah mulai tegang dan tanpa bak bik buk lagi bibir munggilnya mulai ngejilatin palkon gw. Ajiib ….. Wah … wah … sampe rumah nanti gw bales nih cewe.

Sambil berusaha tetap fokus ke jalan sesekali gw remes payudara dan pantat dia yang montok dan sekel itu . Ira …. Ira …. Loe memang perek gw …. Mantaaaaabbbb nih punya selingkuhan ranjang Kakak Ipar sendiri apalagi yang aktif model si Ira ini. Supaya nikmat tapi tetap aman akhirnya sepanjang tol gw hanya ambil jalur kiri dengan kecepatan cuma 60 – 70 km . Saat dia lagi ngoral beberapa kali sempat gw belai mesra rambut dan pipinya yang membuat Ira makin gila mainin ****** gw. Wuiih jarak Tol Kp Rambutan – Bogor terasa terlalu dekat Bro klo loe nyetir sambil dioral.

Sampai perumahan Ira berusaha menahan diri dulu. Tapi begitu masuk rumah Ira langsung lagi dengan aksinya. Gw didorong ke sofa merah di ruang tamu tempat Ira pernah gw embat second hole-nya. Ira dengan kasar membuka gasper dan langsung melorotin celana gw. Kembali Ira memainkan ****** gw di dalam mulut munggilnya. Kali ini gw gak mau tinggal diam, dengan posisi duduk gw leluasa ngebuka kancing bajunya dan dalam waktu singkat gw dah bisa melihat dua gundukan payudaranya terbalut bh hitamnya. Sungguh suatu pemandangan yang indah dan sensual melihat payudara putih itu dalam balutan bh hitamnya. Perlahan gw sentuh kedua bukit kenikmatannya tanpa gw buka bhnya. Ira hanya mengerakkan sedikit badannya merespon kenikmatan belaian gw dengan mulut tetap penuh dengan ****** gw yang memang gak muat dimulutnya.

“Addduuuh Daaannn punya kamu gede bangeeeet sih ….”
Ira masih ngemutin dengan lahap ****** gw. Gila liar banget sedotannya ditambah dengan gayanya yang nyibakin rambut ke kanan ke kiri. Sementara gw bergerilya mulai ngelepasin bh dan habis gw pilin payudaranya. Nih cewe dah punya 2 anak tapi toket masih sekel Bro. Mungkin karena dia rajin fitness kali ya ? Apapun penyebabnya yang jelas gw yang nikmatin hasilnya …. hehehe …..

Hampir 5 menit Ira ngoral gw dan pada satu kesempatan tiba – tiba dia berdiri dan ngelepasin semua pakaiannya. Ira merangsek ke atas yang membuat gw jadi posisi tiduran. Dalam satu gerakan Ira dah siap ngarahain ****** gw ke memeknya. Dan …. Slep .. slep … bless ….. Ira … oh … Ira loe emang enak banget Say. Hmmm …. Enaaaak Kaka ……

Dengan cepat Ira turun naik diatas ****** gw sambil bergaya erotis ngeremes payudaranya sendiri sambil bibirnya ngeluarin kata2 jorok … Aduuuh ****** kamu Daaan … atau kata2 yang gak konsisten … sebentar ngomong … Aduh sakit Daaan … eh gak lama … Aduh enak Daaaan … Oh yes … Oh No … Akhirnya setelah 5 menitan tubuhnya dia jatuh ke badan gw. Dadanya menempel ke dada gw. Gak lama dia mengerang panjang ….. Uuuuuuuuuhhhhh ….. Dandyyyyyy …… bersamaan gw ngerasain ****** gw dijepit vaginanya dan cairan hangat melumuri ****** gw.

Sekarang waktunya gw balas dia. Perlahan gw berguling berganti posisi dengan ****** gw masih menancap di vaginanya. Gw gak mau ngambil kenikmatan yang lagi dia rasakan. Setelah posisi gw di atas pelan – pelan gw cabut ****** gw … Ra …. Aku cabut ya … Ira hanya bisa ngangguk pelang.

Setelah lepas gw balikin dia tengkurap. Ira langsung ngerti. Pelan – pelan Ira bangkit dengan posisi doggy. Seperti biasa gw agak angkat pinggangnya sehingga posisi dia jadi nungging jadi bisa terlihat jelas lubang pantatnya yang bersih itu. Hmmm … kayaknya sekarang dah agak lebar dikit tuh … Gw jongkok dengan satu lutut menahan di lantai. Gw cium perlahan pantat dia yang putih bersih, bulat dan kenyal. Terus ke arah Second Holenya. Aduh Daaan … jangan second hole aku gak kuat Dan … sakiiit … rintihnya memelas manja. Gw gak jawab tapi malahan gw gamparin pantatnya beberapa kali sampai merah. Memang sex appeal dia ada di pinggang dan pantat. Buat Bro yang sempat liat video Luna Maya – Ariel nah bentuk pinggang dan pantat si Ira mirip seperti Luna Maya.

Perlahan gw tempelin palkon gw ke Second Holenya. Jangan Dan …. Pleaseeeee …. Dari depan aja yaaa ??? Rengek Ira sambil noleh ke gw. Gw diemin aja Bro. Sori Kakak … Second Holemu itu kenikmatan yang tak terperikan … sayang kalo gak dipake. Tangan kiri gw dah pegang pinggang kanan dia sementara tangan kanan masih ngarahin palkon … Gw sodok perlahan … ajiib … nikmaaaaatt …. Daaan pelan – pelan ya … Aduuuh … Pelan gw teken palkon gw. Wuiih rasanya nikmat banget waktu palkon gw mulai menyelusup ke lubang pantatnya. Palkon gw sekarang dah masuk, tangan kanan gw sekarang beralih pegang pinggang kanan dan tangan kiri gw melingkar di leher dia yang jenjang untuk kemudian memegang pundak kanan. Dia dah gw kunci. Dalam satu hentakan keras gw tembus Second Hole Ira ….. Oooooohhhh …… erangan panjang memelas itu keluar lagi dari mulutnya …. Gw kocok cepat ****** gw … Sengaja gw kasarin Ira …. Gw tarik badannya dengan tangan kiri gw yang melingkar di leher dan pundaknya. Sekarang badan Ira tertarik ke belakang dan payudaranya menjulang menantang. Gw remas payudaranya pake tangan kanan. Gw remes kasar …. Sekasar – kasarnya … Adduuuuh … uuuuh …. Ooooh … rancauannya dah bercampur sekarang antara keenakan dan kesakitan. Dan gw makin nafsu ….. Gw maju mundur ****** gw dengan cepat. Ira ngerintih kesakitan … Aduuuh Daaaan … ampuuun …. Saaaakiiiitttt ….. Busyet gw jadi makin kesetanan … terus gw kocok dia … toket dia abis gw remes puttingnya gw pelintir bergantian dengan pantatnya yang gw gamparin …. plak …. plak …… Wuiih … mantab sensaninya …

Sampai sekitar 10 menit gw kerjain Second Holenya. Butiran keringat halus mulai membasahi punggungnya. Rasa sakit bercampur kenikmatan terpancar di wajah cantiqnya. Gw sendiri terus bergerak ke puncak sampai akhirnya gw ngecroot di dalam lubang anusnya. Gw tahan palkon gw di second holenya seakan gw mau habisin peju gw …. Ada 4-5 tembakan meluncur deras dan memang pas gw tarik keluar ****** gw … mengalir deres peju gw. Buset banyak banget sampai penuh tuh Second Hole. Ajiiib … enak banget tuh lobang …. Gw berbaring di samping dia yang sekarang gak berdaya tengkurap dengan peju mengalir dari second holenya. Kenikmatan merajai seluruh indera gw.

Perlahan gw ngatur nafas gw yang memburu. Pas lagi ambil nafas gitu, tiba – tiba kita dikagetin suara dering HP. Gw kaget dan setelah gw kenalin nada deringnya bukan HP gw dan klo gitu pasti punya dia. Perlahan dia bangkit mencari HPnya. “Apa Say ? Oh iya agak lama karena tadi ada beberapa Ibu – Ibu komplek yang datang. Sebentar deh tuh si Dandi lagi keluar beli rokok katanya… Okay deh okay … Iya … Iya “ Hahaha … ngebohong nih yaaa …. dah abis loe jadi perek gw Ra ….

Hayuuu Daan balik …. tuh suamiku dah telpon. Tanpa nunggu jawaban gw dia masuk kamar mandi. Waduh sayang juga pikir gw nih … masih nanggung. Mekinya belum gw embat. Hmmm tapi nih ****** belum tegang lagi. Akhirnya gw remas2 sendiri ****** gw dan setelah mulai tegang gw susul dia ke kamar mandi yang emang gak dia kunci. Pas gw masuk dia lagi shower.

Gw hampirin dia gw pegang pinggangnya … Aduh udah Dan kita dah ditungguin tuh …Gw gak jawab tapi terus gw remas toketnya … Dia gak bereaksi … Artinya … ??? Go ahead my darling … Gw matiin shower dan gw bimbing dia ke arah toilet duduk yang tertutup yang ada dipojokkan. Gw naikin kaki kirinya ke toilet duduk yang ada. Dan tanpa diaba-aba tangan kanan dia langsung berpegangan di bagian atas dari toilet itu dan tangan kiri ke tembok. Pas banget karena memang toilet itu benar2 ada di sudut. Sedikit gw dorong badan dia agar mekinya terangkat. Wuih … masih merah Bro … Gw tempelin ****** gw … Dan gak perlu waktu lama karena memang masih basah gw dah berhasil masukin. Ini gaya yang gw suka … Gw masukin pelan sampai mentok terus tarik keluar … terus begitu sampai 3- 5 kali dan diakhiri denga satu sentakan keras menghujam. Setiap gw hujam mekinya maka erangan kenikmatan dari mulut munggilnya keluar …. Aduuuuh Daaann jangan kasar lagiii … Aduuuh enak gilaaa …

Setelah gw permainkan seperti itu selama 10 gerakan akhir Ira beraksi juga. Pantatnya mulai digoyang … dengan gerakan yang erotis. Dampaknya ****** gw kayak diperas Bro …. Ini yang paling gw suka dari permainan dia. Gw imbangin gerakan dia dengan gerakan menarik pelan menghujam keras. Sekarang gerakan gw sama dia dah seirama. Pada saat dia bergoyang gw menarik pelan dan pada saat gw menghujam dia menekan otot2 vaginanya yang membuat ****** gw terjepit dan diperas …. Terus begitu sampai akhirnya kita sama-sama mencapai puncak secara bersamaan ….

Thanks Ra …. Bisik gw ke telinga dia … Dia hanya mengerling dan tersenyum.

Nah abis kenikmatan di hari raya itu sampai sekarang gw secara rutin gw minta jatah ngentot ke dia. Minimal seminggu sekali gw minta jatah ke dia. Dan dia gak kuasa atau gak mau (gak ngerti deh) untuk menolak. Kalo pas ada kesempatan bisa 2 – 3 kali seminggu. Kayaknya gw lebih sering make meki dia dibandingin suaminya. Apalagi second holenya … cuma gw yang pake …

Gw paling sering ngentot dia di hotel biar aman. Tapi kalo pas ada kesempatan ya di mana aja gw entot dia asal situasi aman. Pernah gw entot dia di dapur rumahnya pas gw datang berkunjung (sebenarnya memang cari – cari kesempatan kalo dapat). Nah waktu itu suaminya ke beranda sebentar karena ada Pak RT datang. Langsung gw embat dia. Main singkat aja, gw singkap roknya, pelorotin celana dalam dan langsung eksekusi aja Bro gak ada lagi pemanasan … langsung crooot … crooooot … croooootttt ….. yang penting hajat tersalurkan …

Lain lagi cerita pas malam tahun baru kemarin. Gw berhasil ngentot dia di kolam renang. Kebetulan kita sekeluarga besar kumpul di villa keluarga di daerah Puncak. Pagi tanggal 1 semua masih pada tidur saat gw liat dia lagi berenang. Langsung gw manfaatin Bro … Tanpa buang waktu gw entot dia sambil berdiri di dalam kolam. Ajiib mikmat ….

Pokoke enak banget Bro … kapan gw mau ya gw tinggal entot dia. Dan sampe sekarang gw belum bosen. Mungkin suatu saat bosen kali ya tapi selama belum ada pengganti kayaknya gak bakalan gw lepasin dia.

Ira …. Loe emang nikmat Sistah …

]]>
http://www.difunde.com/mba-ira.html/feed 0 http://www.difunde.com/bersetubuh-di-bali-paradise.html http://www.difunde.com/bersetubuh-di-bali-paradise.html#comments Thu, 26 Apr 2012 05:49:10 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=148

Selasa

Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.

Rabu

Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.

“Bagus ya topiknya tadi” kata saya membuka pembicaraan.
“Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya”
“Nama saya Arthur” kata saya sambil memberikan kartu namaku
“Oh iya, saya Dewi” katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.

Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja

“Kamu sendiri saja ke seminar ini?” tanya saya.
“Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda”

Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.

“Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya” kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
“Halo, saya Arthur”
“Saya Henry” kata si pria.
“Saya Carol” kata si wanita.

Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.

Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.

“Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel” tanya Henry.
“Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant” sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.

Kamis

Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.

Jum’at

Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.

Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.

Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.

Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.

Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya

“Shit, kunci kartu gue mana ya?”
“Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club” kata saya.
“Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis” ujar Dewi.
“Telepon dari kamar saya saja” saya menawarkan.

Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar

“Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut”
“Lumayanlah, kecil-kecilan” kata saya sekenanya.

Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.

“Enak ya mendengar suara ombak” kata Dewi.

Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.

“Ummhh Arthur, you are so sexy” kata Dewi.

Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas tongkolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.

Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.

Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam tongkolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari tongkol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.

Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan tongkolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan tongkol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas tongkol Rudi.

Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum tongkol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap tongkolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali tongkolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali tongkol saya keluar masuk vagina Dewi.

Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama tongkolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan tongkolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami

“Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan” kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
“Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok” kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.

Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas tongkol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap tongkolnya. Setelah puas menghisap tongkol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata

“Satisfy me, bitch, suck my dick”

Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan tongkolku. Dewi menyambut tongkolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan tongkolnya dalam vagina Dewi dengan keras, tongkol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.

Rudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.

Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.

Tiba-tiba telepon berbunyi..

“Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?” tanya Henri.
“Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini” jawab saya.
“Wah, habis seks ya?” tanya Henri dengan semangat.
“Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol” tanya saya menduga-duga.
“Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh” kata Henri.

Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.

“Wah, kalian abis pesta pora nih” kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
“Kamu juga nih abis pesta dengan Carol” kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada tongkolku yang sudah berdiri.
“Mana Dewi?” tanya Henri.
“Di kamar mandi” jawabku.

Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening.

“Kelihatannya mereka sudah mulai” kata saya kepada Carol.

Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya.

Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.

Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan tongkolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.

Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali tongkol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala tongkolku.

Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan tongkolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan.

Sabtu

Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.

Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi

“Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun”

Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.

Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.

“Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir” tanya saya.
“Saya capek banget, pengen bubble bath” kata Carol.
“Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat” kata Dewi.
“Kita bertiga berendam aja yuk” saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol.

Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub.

tongkol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua.

Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok tongkolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi.

Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas tongkolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok tongkolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya.

“Balik dong badannya” kata Dewi.

Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap tongkolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan tongkolku ke vaginanya.

Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok tongkolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata

“Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita” kata Carol.
“Just go with the flow, jangan dilawan” kata Dewi.

Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas tongkolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub.

Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari tongkol dan remasan dari Dewi.

Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali tongkolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya.

Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.

*****

Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.

]]>
http://www.difunde.com/bersetubuh-di-bali-paradise.html/feed 0 http://www.difunde.com/cara-mendapatkan-tante-girang-tajir-kaya-raya.html http://www.difunde.com/cara-mendapatkan-tante-girang-tajir-kaya-raya.html#comments Wed, 25 Apr 2012 17:49:25 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=146

1. harus da kenal ntah dari temennya, pernah ketemu sebelumnya or at least lw curi2 denger namanya..bis tu coba tegor.
kebanyakan sih ga pernah sendiri. ntan itu ma banci or ma geng-nya

2. kalo di mall susah..karna sekarang dah nyebar n mall tambah banyak.daftar gw sih Plaza indonesia, Kelapa gading, n plaza senayan.bis tu ITC kuningan, ITC cempaka mas..yang paling gampang cari di gym aja..or biasanya lebih ke tempat clubbing yang exlusive kaya X2, Nu CHINA, K7, Blowfish, red square.

3. cara kurang lebih sama..lo tatap 1 – 3x.tampang pertama jual mahal.tampang ke dua lebih serius, seakan2 lw tertarik sama dia.ke tiga senyum..bis tu datengin d….kata2 manjur
a. kayanya kita pernah ketemu ya.
b. sering dateng kesini ya.
c. lagi nunggu siapa. (biar terkesan akrab)
d. or kalo lagi di gym, udah lama nge gym disini, ko ga pernah ngelihat. or lagi program apa nih.

kalo di cuekin, tiba tiba langsung pergi or mandang lw dengan sinis…ya udah..gagal tu namanya…kalo sukses lanjut ke langkah berikut.

4. bisa juga abis itu tanya, ada acara ga setelah ini, mau kemana, sudah makan blum, mau ngopi2, banyak deh.

5. bis tu baru ngobrol2.tuker no telp..sukur2 kalo bisa langsung janjian ketemuan berikut.karena jarang banget pas ketemu pertama langsung sukses…karena mereka biasanya milih2 pasangan…kalo ada yang bilang ketemu pertama langsung sukses..luar biasa lah..

6. trus pastiin lw tentuin orientasi lw…mau cari duit, sex gratis, temen ngobrol or long term relationship..

7. tante2 banyak modelnya…ada yang cantik tajir kesepian, cantik kesepian, biasa tajir kesepian, biasa tajir, biasa kesepian, minus tajir berat, minus kesepian..or yang gila banget ntah itu yang sadis, maniak, pelit, rese, over protective…

8. cuma kalo dia yang udah kecantol ma lw…ampuuuun.minta apa aja di kasih.

9. jangan lupa juga bro lw harus siap ma segala konsekuensinya…stress cry or very sad ati2 pren euits jangan waiting hit

good luck

]]>
http://www.difunde.com/cara-mendapatkan-tante-girang-tajir-kaya-raya.html/feed 0 http://www.difunde.com/pengalaman-kena-rogol.html http://www.difunde.com/pengalaman-kena-rogol.html#comments Wed, 25 Apr 2012 05:49:27 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=143

aku nak citerkan kat korang fasal pengalaman aku kena rogol dgn kawan kawan suami aku. aku nie baru kawin, tapi takda anak masa tu,ntah camana masa hari ulangtahun perkawinan aku yg pertama kami diraikan dlm satu majlis sederhana oleh kawan pejabat suami aku. kawan suami aku pulak
ada yg bujang dan ada yg dah kawin. aku nie pulak dikategori dlm wanita yg ada rupa dan bodylah, walau tak secantik ratu dunia tapi kalau lelaki tengok mesti menoleh 2 kali, bukan perasan tapi kenyataan kerana aku selalu mendapat pujian dr kawan-kawan suami aku sebab itu aku tahu malah ada yg berani ajak bergurau cara lucah dgn aku, tambah lagi kami laki bini open minded dan taklah terlalu kolot sgt, setakat nak ucap konek dan nonok tu biasalah terpacul dr mulut aku, tapi aku ni setakat berani cakap je, kalau ada yg cuba-cuba nak peluk aku atau ambil kesempatan aku melawan juga, bagi aku, nonok aku tu hanya utk lelaki bernama suami.so malam tu aku pakai baju seksi sikitlah…dengan tali halus dan leher lebar menampakkan pangkal tetek aku yg gebu dan padat ni, skirt pendek sampai pangkal peha…warna hitam lagi..lepas tu aku biarkan rambut aku yg paras bahu ni mengerbang.. dgn make up yg simple nampaklah keayuan semulajadi aku walaupun dah bersuami tapi disebabkan kami jarang dpt bersama kerana suami selalu keluar negara kerana tugasnya jadi kira bontot dan tetek aku nie taklah jatuh sgt sebab tak selalu ditenyeh laki tapi aku tetap bahagia dengannya. jadi sampai saja kami kerumah kawan yg organise majlis tu, aku bersalam dgn kawan2 suami tapi aku heran sikit sebab tiada wanita lain selain aku, bila aku tanya mereka kata isetri masing-masing tak free, kena jaga anak demamlah, ada yg kata gf takdalah, so aku tak kisahlah memandangkan majlis ni aku hadiri bersama suami, so acara makan dan potong kek pun bermula, aku tak sangka mereka hidangkan minuman keras…utk pengetahuan suami aku ni muallaf, india masuk islam dan most of hisfriend indialah…tapi aku tak kisah…cinta punya fasal. so malam tu laki aku pun mabuk jugalah termasuk juga aku..kononnya tak mahu minum tapi setelah dipaksa kawan2 suami dan demi menjaga hati mereka dan suami [nanti dikata aku tak sporting pula] so aku pun minumlah benda tu…aku ingat cognac ke…ntah apalah aku tak tahu.. yg aku tahu banyak botol minuman keras kat atas meja tu…kawan laki aku tu adalah dlm 7-8 org… legih kurang pukul 11 malam aku rasa aku dah mula mabuk sebab rasa pening semacam dan aku rasa nak gelak aje…aku minum tak banyak,,,rasanya 2 gelas je kott tapi disebabkan tak biasa minum jadi cepatlah aku ni mabuk, manakala laki aku pula aku tengok dah terlentok kat kerusi sambil tengok cerita apa ntah [video blue kalau tak silap] so salah sorang kawan laki aku tu.. nathan kalau tak silap aku, tanya aku nak baring ke? aku kata takpa, biar aku duduk sebelah laki aku..so aku pun duduk..ntah macamana aku hampir terjatuh betul-betul depan nathan, secara spontan nathan menarik tgn aku langsung tertarik tali baju aku yg halus tu..dahlah putus tali baju tu sebelah, so terlondehlah sikit dan menampakkan terus tetek aku yg sebelah tu…agaknya si nathan tu stim tengok tetek aku, maklumlah aku rasa malam tu semua org mabuk, so aku kata takapalah sambil menarik baju tu utk cover tetek aku yg terdedah tapi si nathan insist nak tolok aku…aku rasa dia sengaja ambil kesempatan utk memeluk aku, so aku tepis tgnnya sayangnya dia makin berahi pula bila aku melawan, dimasa yg sama kawan2nya yg lain tergelak melihat kelakuannya dan menggalakkan nathan supaya memeluk aku sekali lagi, aku minta pertolongan dr suami tapi dia dah terlalu mabuk, malah dah tertidur pun dikerusi tu [aku tahu dia minum dr awal majlis tadi lebih kurang kol 7mlm , dia minum tak henti-henti, agaknya dia lepasgian kott sebab sejak kawin dia tak minum lagi arak] bila tiada jawapan dr suami aku bergegas lari dan cuba masuk kebilik tapi kawan2nya yg lain mengepung aku keliling, aku menjerit tapi siapalah nak dengar sebab suara radio membatasi jeritan aku…dlm hati aku dpt rasa sesuatu yg burukpasti berlaku…lalu aku merayu kepada mereka supaya jgn mengapakan aku dan mengingatkan mereka bahawa suami ku adalah kawan mereka tapi dek kerana terlalu mabuk mereka tidak mengendahkan rayuan aku…nathan terus memeluk aku dr belakang manakala 2-3 org kawannya yg lain menangkap kaki dan
memegang tgn aku…lalu mereka beringkan aku kat lantai yg berkapet tebal tu…sakit juga kepala aku terhentak kat lantai…mereka terus memegang tgn aku kiri dan kanan serta kedua kaki aku…mereka kangkangkan kaki aku… nathan pula terus bertindak ganas dan menyentap pakaian aku..hingga
koyak rabak, aku menjerit tapi seorg dr mereka terus menekup mulut aku dgn tuala…aku jadi makin sesak nafas…dan aku dpt rasakan seluar dlm aku dibuka org…aku rasa ada tangan2 kasar mula meraba dan meramas tubuh badan aku, tetek aku menjadi sasaran mereka…aku meronta tapi tidak berdaya sebab 4 org dr mereka memegang aku, kemudian aku dengar mereka bersorak menmanggil nathan..nathan..nathan…sku lihat nathan mula terseyum sambil memandang tubuh aku yg terlantar berbogel tanpa seurat bbenangpun. dlm hati aku tahu apa yg mereka akan buat….aku masih cuba meronta dan menjerit sayangnya mulut aku tersumbat kain dan anggota badan aku dipegang kejab oleh mereka, seketika kemudian aku rasa nonok aku panas dan basah…aku cuba bgn dan aku dpt lihat nathan sedang menjilat nonok aku dng rakus, manakala kawannya yg 2 lagi sedang membuka pakaan mereka masing-masing… menampakkan btg konek mereka yg semuanya sedang tegang dan kerasss…aku makin takutt..aku menangis tapi tangisan aku sedikitpun tidak mereka hiraukan malah mereka terus mengusap konek masing-masing supaya ketegangannya berterusan, kemudian aku dpt rasakan nathan telah memasukkan btg koneknya kedlm nonok aku…akku ras asakit sgt keran dia merodok dgn rakus sekali… tersentak aku dibuatnya kerana koneknya agak besar dan panjang berbanding dgn suami aku…nathan tak henti2 memuji nonok aku ketat dan sedap serta sbgnya, kawan2nya yg lain tak sabar nak menjolok sama…ada yg terus menghisap dan menggentel tetek aku…tubuh badan aku digomol mereka bergilir-gilir…dlm masa yg sama nathan terus menerus menusukkan btg koneknya kedlm nonok aku selaju dan sekuat hatinya…berdecap-decap jugaklah bunyi air nonok aku tu, walaupun aku tahu aku dirogol mereka tapi kerana mabuk aku juga rasa steam dan sedap dilakukan begitu, lama-kelamaan rontaan aku makin lemah…malah aku membiarkan mereka melakukan apa saja ketubuh badan aku..dlm 20 minit kemudian nathan menjerit kessedapan..dia melepaskan air maninya dlm nonok aku sambil menghentakkan kuat koneknya kat nonok aku tu…dlm hati aku…sedaaappp juga keling nie punya konekk…. kemudian tiba-tiba seorg dr kawannya terus menarik nathan dan dgn cepat menjolokkan koneknya pula kedlm nonok aku yg sedang basah dng air mani nathan…dia terus menghayunkan konekknya berkali-kali dan tak sampai 10 minit dia pun terpancutkan air maninya dlm nonok aku…kemudian seorg demi seorang merodok nonok aku dgn konek mereka yg tegang dan keras itu, aku jadi lemah dan tak bermaya…selepas lelaki ke3 melepaskan air maninya kedlm nonok aku, lelaki ke4 tidak merodok terus, tapi dia lapkan sisa air mani tu dan menjilat semula nonok aku…dan spt yg lain dia juga melepaskan airmaninya kedlm nonok aku tu , seterusnya lelaki ke5,ke6, ke7 dan ke8 melakukan perkara yg sama…malah masa lelaki ke 6 merogol aku, aku bukan setakat steam aje, malah aku minta dia berbaring dan aku diatas…aku tunggang lelaki tu selaju yg boleh hingga aku climax berkali-kali…lelaki yg lain [yg dah sudah merogol aku] menjerit gembira sebab aku beri respon tanpa diduga…malah sambil aku menunggang lelaki tadi, aku hisap konek salah seorg lelaki yg masih menunggu giliran utk menjunamkan konekknya kesara nonok aku…aku makin ghairah dna bertindak liar…meraka makin suka dan gamat…terus ada yg menjilat bontot aku dna memasukkan jari kedlm lubang jubur aku…aku rasa makin sedap dan climax ntah berapa kali… adegan seterusnya berlangsung hingga kesemua lelaki merasa puas dgn layanan aku dan tak disangka nathan sekali lagi merangkul dan merodokkan koneknya
yg tegang semula…aku main dgn nathan hampir 1 jam berikutnya…seingat aku dr pukul 11 mlm sampai 2 pagi rasanya nonok aku dikerjakan oleh 8 org lelaki india/china dan melayu…aku betul-betul teruk dikerjakan mereka, tapi nasib baik jubur aku tak dirodok dgnkonek mereka…kalau tidak lagi teruk aku kena…mereka setakat jolok dgn jari jemari saja. selepas aku dirogol bergilir-gilir, mereka pun keletihan termasuk aku sendiri dan kami terlelap disitu juga dgn keadaan berbogel hingga kepagi kira-kira jam 10 pagi baru aku tersedar itupun setelah dikejut suami..aku menangis dlm pelukan suami dan ceritakan kat dia apa yg dah berlaku, sayangnya suami aku buat dono aje seolah-olah dia merestui kawan2nya merogol aku… seketika kemudian seorg demi seorg bgn dan bergegas mengenakan pakaian masing-masing, aku tengok nathan sudah siapkan minuman pagi, lepas minum pagi baru aku tahu bahawa suami aku berpakat dgn nathan dan suami aku kata kejadian itu adalah hadiah bagi hari ulangtahun perkawinan kami yg pertama kerana aku dulu pernah menceritakan pd suami tentang imiginasi nakal aku..iaitu kena rogol oleh lebih dr 5 lelaki dlm satu masa…rupanya imiginasi aku itu dipenuhik oleh suami aku sendiri dan kawan2nya yg bersetuju utk mengambil bahagian bila dia ceritakan pd nathan,…patutlah dia mabuk sakan malam tu…dan sekali lagi hari tu aku dikerjakan oleh 9 lelaki termasuk suami aku sendiri, kali ini aku yg merelakan diri aku di tenyeh oleh lelaki2 tu …bermacam aksi aku diperlakukan, dan acara mainan tu berlangsung hampir 4 jam berikutnya kerana masing-masing melanyak nonok aku sepuasnya dan selama yg mereka mampu bertahan…dan nathan is the best amongs them…hari tu aku tak kemana-mana selain kena fuck dgn lelaki tu bergilir-gilir, sementara menanti lelaki ke 9 menghabiskan permainan, lelaki pertama kembali tegang semula dan mahu menyetubuhi aku sekali lagi…pendek kata hari tu seharian tubuh badan dan nonok aku bermandi air mani lelaki…dan suami aku org yg paling gembira melihat impian aku jadi kenyataan..dan aku jugaturut gembira kerana dpt merasa konek lain selain dr suami aku… keesokannya aku demam…hampir seminggu baru aku kembali pulih…mana tidaknya 9 lelaki lanyak nonok aku berkali-kali, rasanya setiap sorang tu fuck aku 3 kali…bayangkan betapa penatnya aku dan sampai bengkak juga nonok aku kena kerjakan dek mereka…mau tak demam seminggu…nasib baik tak memudaratkan dan tak mengandung..kalau tidak, aku tak tahu anak sapa yg aku kandungkan tu…sebulan dr kejadian tu aku teruskan hubungan dgn nathan… setiap kali suami aku keluar negara, kehendak seks aku dipenuhi oleh nathan tanpa berselindungdr suami aku…dan perkara tu berlarutan hingga nathan berkahwin. sekarang masing-masing dah ada keluarga sendiri, aku ada 2 anak, tapi aku tak tahu anak sapa sebenarnya..sebab selain nathan dan suami ada juga 2-3 dr lelaki tu yg dtg fuck aku dgn rela aku sendiri…. untill now aku masih berhubung dgn salah seorg dr mereka tapi bukan nathan…suami aku seolah merestui perbuatan aku itu..malah kekadang dia jadi penonton dikala aku di kongkek jantan lain….aku tak tahu sampai bila perkara ini berlanjutan……
]]>
http://www.difunde.com/pengalaman-kena-rogol.html/feed 0 http://www.difunde.com/tiga-dara-dusun.html http://www.difunde.com/tiga-dara-dusun.html#comments Tue, 24 Apr 2012 17:50:15 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=33

Cenit bersandar di dinding, gadis itu duduk sambil memeluk kedua lututnya. Setengah busana atasnya masih rapi tapi seluruh rok dan celananya sudah terbuka. Menampakkan kedua paha yang putih mulus dan montok. Sementara tumpukan daging putih kemerahan menyembul di sela rambut-rambut hitam yang nampak baru dicukur.

Sedikit tengadah dan dengan tatapan mata sendu ia berujar lirih…

“Masukkanlah, Kak! Aku juga ingin menikmatinya….”

Aku hanya terdiam.. kami sama-sama sudah membuka busana bagian bawah, beberapa menit kemudian kami bergelut di pojok ruangan itu. Dengan penuh nafsu ku tekankan tubuhku ke tubuh gadis itu. Ia membalas dengan merengkuh leherku dan menciuminya penuh nafsu.

Tubuhnya terasa panas dan membara oleh gairah, bertubi-tubi kuciumi leher, pundak dan buah dadanya yang kenyal dan besar itu. Ia hanya melenguh-lenguh melepas nafasnya yang menderu. Setiap remasan dan kuluman… diiringi dengan erangan penuh kenikmatan.

Tanpa kusuruh ia membuka sebagian kancing bajunya. Menampakkan onggokan buah dada yang membulat dan putih. Tanpa membuka tali beha ia mengeluarkan buah dadanya itu dan mengasongkannya ke mulutku.

Dengan rakus kukulum buah dada besar Cenit sepenuh mulutku. Ia mengerang antara sakit dan enak. Nafasku pum semakin tersendat, hidungku beberapa kali terbenam ke bulatan kenyal dan hangat itu.

Puncak dadanya basah oleh air liurku yang meluap karena nafsu. Licin dan agak susah meraih puting susunya yang mungil kemerahan itu. Jelas sekali kulihat proses peregangannya. Semula puting susu itu terbenam, namun dalam sekejap saja dia keluar menonjol dan mengeras.

Cenit tahu susah mengulumnya tanpa memegang karena aku mencengkram erat leher dan pinggang gadis itu. Tanpa menunggu waktu ia memegangi buah dadanya dan mengarahkan putingnya ke mulutku.

Aku pun mengulumnya seperti bayi yang kehausan. Mengulum dan menyedot sampai terdengar berbunyi mendecap-decap. Kulihat gadis itu, dalam sayu matanya merasakan kenikmatan, bibirnya tersungging senyuman dan tawa kecil. ‘Gigit sedikit, Kak.’ pintanya padaku.

Aku menuruti kemauannya, dengan gigiku kugigit sedikit puting susunya. ‘Aih….’ Jeritnya lirih sambil menggigit bibir. Barangkali ia tengah merasakan sensasi rangsangan nikmat luar biasa di bagian itu. Kurasakan tubuhnya melunglai menahan nikmat.

Kemudian tubuh kami saling mendekap semakin rapat. Gairah dan rangsangan nikmat menjalar dan memompa alirah darah semakin kencang. Secara naluriah aku menyelusuri tubuh sintal Cenit.

Mulai dari leher, terus ke punggung, meremas daging hangat di pinggul… terus ke bagian bawah. Akhirnya menyelip di antara paha. Gadis itu membuka pahanya sedikit, mengizinkan tanganku menggerayangi daerah itu.

Dalam pelukan erat, tanganku mencoba masuk… ehm.. bagian itu terasa hangat dan basah. Cenit menggeser pantatnya sedikit. Kedua matanya memejam sembari menggigit bibir , desah-desah halus keluar tak tertahankan. Detak jantungku semakin kencang ketika kubayangkakn apa yang terjadi di’sana’.

Gadisku menggelinjang, nafasnya sesekali tertahan, sesekali ia seperti menerawang, apa yang dia harapkan? Aku tahu, dia menginginkan itu, dia mendorong-dorongkan pantatnya ke depan, agar bagian itu lebih tersentuh oleh jemariku.
Dengan penuh pengertian aku pun turun… dari leher… buah dada.. wajahku terseret ke bawah, menikmati setiap lekuk liku tubuhnya yang hangat. Setiap sentuhan dan gesekan menimbulkan rintihan lirih dari mulutnya. Wajahnya menengadah, matanya setengah terpejam, bibir agak terbuka, dan sedikit air liur menetes dari salah satu sudutnya.

“Teruskan, kak… jangan hentikan..!” pintanya. “Puaskan aku….?” katanya lagi tanpa rasa sungkan. Yah, tak ada rahasia di antara kami. Apa yang dia inginkan untuk memuaskan hasratnya, pasti dia minta, kapan saja kami bertemu. Begitu pula aku… kalau lagi pingin, dia pasti kasih.

Perlahan aku menyusuri tubuhnya ke bagian bawah. Sekarang aku sudah di atas perutnya yang mulus. Aku bermain-main sebentar di sana. seluruh tubuh Cenit memang sangat menggairahkan. Tidak ada lekuk tubuhnya yang tidak indah. Aku sangat menikmati semuanya.

Tiba-tiba Cenit memegang kepalaku, meremas sedikit rambutku dan mendorong kepalaku ke bawah. “Ayo, Kak, udah gak tahan nih..! Jangan di situ aja dong….Aih..” Aku menurut…. Dulu aku bilang aku ingin merasakan dan menjilati kemaluannya, dia bilang hal itu menjijikkan. Dalam keadaan terangsang dia sangat menginginkanya.
Sesampai di bagian itu… aku terpana menyaksikan pemandangan indah terbentang tepat di depan mataku. Setumpuk daging berwarna kemerahan berkilat di celah-celahnya …

Bagian itu, bibir kemaluan Cenit yang merah dan basah dipenuhi cecairan lendir yang bening. Dengan kedua jari telunjuk ku buka celah itu lebih lebar… Klentitnya menyembul… nampak berkedut karena rangsangan nikmat tidak terkira.

Berkali-kali ia berkedut… setiap denyutan dibarengi dengan nafas dan rintih tertahan gadis itu. Aku memandang ke atas. Ke arah payudaranya yang terbuka, putingnya semakin mengeras. Nafasnya terengah-engah, buah dada Cenit yang putih itu nampak naik turun dengan cepat. Kulihat lagi kemaluan gadisku itu… semakin merah dan merekah. Kubuka lagi dengan dua telunjukku… cairahn kental pun mengalir deras. Meluap dan merembes sampai ke sela paha, persis seperti orang yang sedang ngiler.
Cairan itu terus mengalir perlahan… sampai ke arah anus. Kemudian perlahan berkumpul dan akhirnya menitik ke lantai. Semakin lama semakin banyak titik-titik lendir bening yang jatuh di lantai kamar itu.

Terasa ia merenggut rambutku… dan menekankan kepalaku ke arah vaginanya yang sedang terangsang itu. Aku pun semakin bernafsu…. Dengan penuh semangat aku pun mulai mengulum dan menjilati seluruh sudut kemaluan Cenit…

“Ahh…. Ahhhh… nikmat sekali, Kak!” Cenit merintih, tubuhnya menegang, cengkramannya di kepalaku semakin kuat. Pahanya mengempot menekan ke arah mukaku, sementara kemaluannya semakin merah dan penuh dengan lendir yang sangat licin.

Aku pun semakin dalam menusuk-nusukkan lidahku ke liang senggamanya. Beberapa kali klentitnya tersentuh oleh ujung gigiku, setiap sentuhan memberi pengaruh yang hebat. Gadis itu melolong menahan nikmat… aku terus menyelusuri bagian terdalam vaginanya. Oh… hangat dan sangat-sangat basah. Tak bisa kubayangkan kenikmatan apa yang dirasakannya saat ini. barangkali sama nikmatnya dengan rangsangan yang kuperoleh dari kemaluanku yang juga sudah mengeras sedari tadi.

Rasanya sangat nikmat dan tergelitik terutama di bagian pangkal… rasanya ingin aku melepaskan nikmat di saat itu juga. Tapi aku harus menyelesaikan permainan awal ini dulu, gadis ini minta untuk segera di tuntaskan.

Semakin aku memainkan kemaluannya, semakin ia mengempot dan menekankan kepalaku ke arahnya. Sesekali aku menengadah menatap wajahnya yang merah. Tampak ia menghapus air liurnya yang mengucur dengan lidahnya yang merah itu.
Tiba-tiba ia tertawa mengikik… seperti ada yang lucu. Ia mengusap wajahku yang bergelimang cairan vaginanya. Sambil memandangku penuh pengertian. “Lagi, Kak” pintanya.

Aku mengulangi lagi kegiatan itu, ia pun kembali merintih-rintih menahan rangsangan hebat itu di kemaluannya. Beberapa kali klentit itu kusentuh dengan ujung gigi….
Tiba saatnya, dia sudah sampai mendekati puncak. Nafas semakin memburu dan tubuhnya menegang hebat beberapa kali. Tanpa sungkan lagi, ia mengeluarkan lolongan penuh kenikmatan ketika rasa enak itu tiba…

“Ohhhhh… hhhh…ahhhhhhhh…” jeritnya lepas. “Enak sekali…”

Pantatnya mengempot ke depan setiap denyutan nikmat itu menyergap vaginanya… dan setiap denyutan diiringi dengan keluarnya cairan yang lebih banyak lagi. Beberapa cairan itu bagaikan menyembur dari liang senggamanya, aku mundur sebentar, melihat bagaimana bentuknya vagina yang sedang mengalami orgasme.
Tegang, merah, basah… berkedut-kedut, cairan pun membanjir sampai ke kedua pahanya….. mengalir dengan banyaknya sampai ke mata kaki… Aku pun tidak tahan melihat keadaan itu, cepat aku berdiri… mengasongkan kemaluanku yang sudah tegang itu ke arahnya.

Ia memelukku, terasa tubuhnya bersimbah peluh, wajahnya yang memerah karena baru melepas nikmat itu disusupkannya ke leherku. Memelukku semakin kuat…

“Puaskanlah dirimu, Kak!”

Aku pun mendekap tubuh sintal itu semakin erat. Rasa nikmat berkecamuk di titik kemaluanku. Terasa semakin menegang dan mengeras…. Tapi aku ingin merasakan sensasi yang lain.

Kuturunkan kepala gadis itu ke bagian itu. Ia menurut, perlahan ia menyusuri tubuhku dari dada terus turun ke bawah. Seperti yang kulakukan tadi, mulutnya menciumi perutku dan terus turun… sesampai di bagian itu ia memandangi penis yang selama ini selalu dia senangi.

Ia menengadah.. memandangku dengan senyuman nakal…. “Besar sekali punyamu, Kak! Ini untukku untuk selamanya,” katanya sambil mengelus dan mulai meremas pangkalnya. Aku terkesiap… jemari lembut itu mulai mengocok-ngocok kemaluanku dengan penuh cinta.

“Nikmatilah, Kak! Aku ingin kamu menikmati dan merasakan kenikmatan seperti yang aku rasakan, kamu milikku, tidak boleh untuk orang lain….” Aku mengangguk sambil tersenyum, perempuan kalau sudah cinta dan ingin pasti mau melakukan apa saja.
Perlahan ia mulai mengocok pengkal kemaluanku… sesekali ia mengecup bagian kepalanya yang seperti topi baja itu. Lembut dan penuh kasih sayang. Beberapa kali pula ia menempelkannya di pipi sambil matanya terpejam.

“Ohh.. inilah yang aku impikan selama ini. Kepunyaanku milik kekasihku yang perkasa…”

Kemudian ia meningkatkan kocokannya, kedua jemari tangan menggenggam dan meremas-remas menimbulkan rasa geli luar biasa. Kemaluanku semakin menegang menahan nikmat.. keras dan enak.

Gadis itu sangat lihai mempermainkan jemarinya, seolah dia turut merasakan apa yang kurasakan. Sambil terus jongkok dan menciumi pangkal kemaluanku jemarinya terus juga digesekkannya.

Akhirny aku pun tak tahan lagi… aku merenggut rambut di kepalanya, tubuhku pun menegang. Aku mendorong pantatku ke depan, pahaku mengejang menahan sesuatu yang bakal kukeluarkan.

“Cenit…” kataku sambil mencengkram rambutnya. Ia menatapku, wajahnya tepat di ujung kemaluanku yang sedang dicengkeramnya. Gadis itu tersenyum kecil…. Dia senang menatapku yang sedang dalam puncak nikmat.

Maka, sambil setengah terpejam, aku pun mengeluarkan segalanya, kemaluanku meledak dalam genggaman tangan Cenit, menyemburkan air manikyang sangat banyak, mengenai seluruh muka gadis itu. Sebagian ada yang menyembur dan kena ke rambutnya. Kelopak mata gadis itu berkedip menahan serangan air mani yang mendarat di wajahnya…

“Hhhh…hhhh.hh,” perlahan nafasku mulai teratur… puncak itu sudah sampai, nikmat tak terlukiskan kata-kata.

Cenit bangkit berdiri dan menuju pojok ruangan. Paha dan pantat mulusnya nampak gemulai ketika ia melangkah. Gadis itu mengambil baju, mengusapkannya di wajah yang penuh cairan mani. Menoleh ke arahku sambil tersenyum, kemudian berjalan ke arahku. Merentangkan kedua tangan, memelukku dan menempelkan pipinya di pipiku.

“Enak ya, Kak”

Aku mengangguk, memeluk tubuh yang masih bersimbah peluh itu. Memandang matanya lekat-lekat. Ia membalas tatapanku, “Aku sangat mencintaimu, Kak. Kaulah milikku dan milikilah aku selamanya…”

Entah berapa lama kami berpelukan sambil berdiri.

Ketika angin berdesir melalui kisi-kisi jendela, terasa semuanya sudah mengendur. Jiwa dan raga sudah terpuaskan. Sekarang waktunya merapikan pakaian, duduk mengobrol di ruang tamu. Sebentar lagi teman-teman kost kekasihku akan pulang. Kami akan mengobrol di ruang tamu, bercanda, seperti tidak ada kejadian apa pun sebelumnya.

Tiba-tiba gadis itu berdiri seperti tersentak kaget. Ia memandangku sambil tersenyum kecil. Aku tak mengerti ketika ia menunjuk dengan sudut matanya ke arah lantai. Ha ha ha… hampir lupa, cairan itu masih berserak di lantai. Buru-buru ia pergi ke belakang dan kembali dengan secarik kain. Perlahan dia lap lendir-lendir itu dengan kain tadi.

“Ini punyaku…” katanya sambil menunjuk setitik cairan. “Dan ini punyamu, Kak!” hehe aku tersenyum. “Dari mana kamu membedakan keduanya?” tanyaku sambil mengambil sebatang rokok.

Seraya bangkit dan tertawa… “Punya perempuan dan laki-laki jelas beda. Punyaku lebih bening…”

“Tapi punyaku lebih enak kan?” kataku bercanda.

“Iya dong sayang…. ” katanya seraya menghampiriku dan mengusap wajahku penuh kasih dan sayang. “lain kali kita masukin ya . Kak. Aku ingin lebih menikmatinya..” bisik gadis itu, “Aku ikhlas demi Kakak…” bisiknya lagi di telingaku. Ia melingkarkan tangannya di leherku, aku pun memeluk tubuh sintal dan bermandi peluh itu lebih erat.

Malam belum begitu larut ketika aku dan Liani sedang asyik bercinta di ruang tamu rumah kostnya. Tubuh montok gadis itu terbaring pasrah di atas dipan sederhana yang terletak di salah satu sudut ruangan. Sedari tadi punyaku keluar masuk menyelusuri seluruh lipatan kemaluan gadis itu.

Berkali-kali gadis itu menggeram menahan rasa. Lipatan basah dan hangat itu terasa sesekali menyempit. Dia sungguh menikmatinya gesekan-gesekan itu, aku juga. Yang hebatnya, gadis satu ini sepertinya tidak memerlukan foreplay. Kami langsung melakukannya begitu saja. Cukup dengan tatapan mata, kami sudah tahu apa yang kami inginkan, kepuasan di malam yang basah oleh rintik hujan ini.

Jam delapan malam aku ada janji dengan Cenit kekasihku untuk bertemu di rumah kost khusus putri ini. Padahal malam ini bukan malam minggu seperti biasanya kami bertemu. Tapi dia sms aku minta ketemuan, ada yang penting katanya. Aku paham yang penting itu apa.

Yang aku tidak mengerti ketika aku tiba di rumah kost itu, ternyata dia tidak ada. Liani teman sekost nya yang menyambutku. Dia suruh aku masuk dan ketika kutanyakan kemana Cenit, dia bilang sedang keluar sebentar, ada perlu dan dia pergi dengan Rinay kawan sekampungnya. Dia bilang, kata Liani, suruh tunggu saja nggak akan lama kok. Liani, gadis lain desa yang bertubuh tinggi semampai berkulit putih dan berambut panjang itu menyuruhku duduk.

Tak lama dia pergi ke belakang , mau bikin minum katanya. Aku manut saja seraya mengambil sebatang rokok. Diam-diam kerhatikan tubuh gadis itu dari belakang ketika berlalu. Cukup lumayan, tinggi dan lumayan montok. Apalagi malam ini dia hanya menggunakan sehelai baju tidur sebatas lutut tanpa lengan. Menampakkan gumapalan-gumpalan indah khas gadis desa yang terbiasa bekerja cukup keras.

Tak terasa aku menghela nafas sambil menyaksikan pemandangan tubuh Liani yang gemulai menuju ke ruang belakang yang agak gelap itu. Pantatnya lumayan besar dan berisi, sementara kedua betis tampak putih mulus dengan tumitnya yang kemerahan. Kalau tidak ingat Cenit kekasihku, mungkin gadis ini pun sudah kupacari, tapi katanya dia sudah punya pacar, entah siapa aku belum pernah ketemu dengan lelaki yang katanya jadi pacarnya itu.

Tak lama kemudian gadis itu kembali sambil membawa nampan dengan segelas air putih. “Maaf, Bang, cuma ini yang aku sediakan,” katanya sambil setengah embungkuk meletakkan gelas itu di meja di hadapanku.

Tanpa sadar belahan dada gaun tidur gadis itu agak melorot, menampakkan dua bulatan putih yang mau tidak mau merasuk ke mataku. Kuakui tubuhnya sangat sintal. Walaupun tinggi semampai, tubuh itu tampak padat dan berisi. Buah dadanya tampak menantang tatkala ia berdiri.

Liani mengibas-ngibaskan rambut panjangnya di depanku. Bibirnya tersenyum. “Ada perlu apa, Bang? Kok tumben nggak malam mingguan ke sininya?” tanyanya sambil membenahi rambutnya yang indah itu. Ia menatapku dari sudut matanya.

Gadis yang satu ini memang memanggilku dengan sebutan ‘Bang’, tidak seperti yang lain memanggilku’Kakak’. Aduhai tubuhmu Liani sangat sintal dan lagak lagumu malam ini seperti bukan kepada orang lain saja.

Gadis itu duduk dengan santainya di depanku sembari memegangi nampan di perutnya. Tak ada canggung sedikit pun ketika mengangkat kedua kakinya dan membiarkan gaunnya yang selutut itu tertarik sampai ke batas paha. Aku menelan air liur ku sendiri. Di rumah kost yang sepi ini hanya kami berdua sementara Cenit dan Rinay entah ke mana….

“Masih lama mereka kembali, Liani?” tanyaku asal saja sambil meraih gelas minumku. Gadis itu menatapku lurus-lurus di mataku. Entah apa yang ada dalam benaknya malam ini. “Entah.” Katanya sambil menggeliat, merentangkan tangannya, kedua pangkal lengannya terangkat ke atas menampakkan ketiaknya yang bersih.

“Mungkin dua puluh menit atau setengah jam lagi mereka kembali. Katanya ada perlu, Bang.” Gadis itu menguap dengan enaknya di depanku. Kemudian ia menengadah menampakkan lehernya yang putih mulus itu. Hmm.. gadis ini agak-agak mirip Chinese walau sebenarnya bukan. Tapi terus terang aku cukup tertarik dengan kesintalannya.

“Kenapa gitu, Bang? Bosen ya… Nggak sabar ingin cepat ketemu.”

“Tahu aja perasaan orang…” jawabku sambil tertawa kecil.

“Hmm… tahu dong. Nggak sabar pengen… ”

“Pengen apa, hayo!”

“Pengen … ‘itu’ ya… ” katanya nakal sambil terkekeh.

“Itu apa? Itu … kalau itu kamu juga punya kan?” kataku agak sembrono. Gadis itu
merapikan posisi duduknya agak cepat. Tapi kemudian dia santai lagi sambil terus menggeliat, seolah ada kepenatan yang hendak dilepaskan dari tubuhnya itu. Dua gundukan dada itu menyembul dari balik gaun tidurnya yang berwarna biru itu. Tampak tali behanya yang berwarna hitam.

“Ngeliatin apa sih?” katanya sambil memperbaiki tali kutang yang agak melorot di bahunya. “Nggak.” Jawabku sekenanya. Ku lihat ia menatapku tajam. Aku balas menatap. Wajahnya tampak memerah. Aku menahan nafas. Apa rasanya gadis ini? apa bedanya dengan Cenit kekasihku?

Pikiran-pikiran itu berkelebat cepat begitu saja. Seolah dunia sudah jungkir balik. Tak ingat lagi dengan Cenit, dengan Rinay temannya yang barangkali akan pulang. Aku pun bangkit, meraih tangan gadis itu. Liani diam saja, tapi dia tersenyum sambil tertawa sedikit.

“Nggak ada waktu, Kak…” katanya pelan tapi membalas remasan tanganku. Kuselipkan jemariku di jemarinya, dia membalas. Matanya menatapku seolah mengatakan, kalau ingin melakukannya lakukanlah sekarang juga mumpung Cenit dan Rinay belum pulang. Dan itu tidak masalah apakah mereka akan tahu atau tidak, aku pandai menjaga rahasia.

Bisikan-bisikan itu mengiang di telingaku semakin membuat gairahku bangkit. Apalagi jika kulihat tubuh Liani yang montok dan dadanya yang naik turun menahan nafas yang mulai terengah.

Semakin lama remasan semakin erat. Tubuh kami semakin merapat dan terasa tubuh gadis itu memanas. Entah oleh nafsu entah oleh hasrat yang tertahan. Tidak, aku tidak akan menyia-nyiakan kehangatan yang disuguhkan gadis ini, meski bukan kekasihku, tapi… perselingkuhan selalu terasa nikmat.

Dia memang beberapa tahun lebih tua dari gadisku, cenderung lebih dewasa, tapi tak kusangka dia menyimpan kehangatan dan hasrat memadu cinta yang begitu terpendam dan panasnya memancar di malam ini.

“Kak… di dipan itu aja, yuk.” Ajaknya. Senyumannya dari wajahnya yang memerah kelihatan agak genit. Aku setuju, walau pun cuma dipan beralas kasur tipis jadilah. Yang penting aku bisa menikmati tubuhnya malam ini.

Maka, seperti orang kesetanan sambil berpeluk erat kami melangkah ke arah dipan. Di pinggir dipan ia melepaskan pelukanku, dan perlahan tapi pasti menurunkan gaun tidurnya.

Aku hanya bisa memandang mengagumi tubuhnya yang putih mulus dan penuh padat berisi itu. Sementara menurunkan celana dalamnya ia memandangku sembari menatap ke arah bawah. Oh, aku belum membuka celana panjangku, terlalu mengagumi kemolekannya….

Tak lama kemudian kami sudah berpelukan hampir tanpa busana. Dia berada di bawah dalam posisi tradisional. Siap dan menanti untuk dimasuki oleh lelaki yang bukan kekasihnya ini.

Kalau Cenit memerlukan fore play yang cukup lama sebelum terbangkitkan, dia barangkali tidak memerlukan itu. Atau… “Kalau malam begini… aku selalu membayangkan bersamamu, Bang. Bisiknya di telinga, kedua tangan melingkar erat di leherku. Pipinya menempel erat dipipiku.

“Benarkah?” jawabku sambil mencium pipi hangat itu. Liani mengangguk. “Kadang bayanganmu begitui jelas seolah merasuki tubuhku…. Kalau begitu aku suka… emmh.. basah, Bang.”

“Oh, ya?”

“Iya… coba kamu rasakan, Bang.” Katanya sambil menggerakkan pantatnya, menggesekkan tumpukan kemaluannya di batang penisku. Ya, terasa hangat dan basan…

“Sebelum kamu datang, aku sudah membayangkan dirimu.. emhhmmm… tanpa sadar ‘dia’ pun … sudah basah… Aku mencium telinga Liani, dia seperti merinding., tubuhnya menggelinjang karena merinding kegelian.

“Kadang…” bisiknya lagi, “Keluar banyak sekali, sampai membasahi celanaku… sekarang juga udah begitu, Bang.”

Ya, aku rasakan itu, sangat hangat dan sangat basah. Penasaran aku menyelusupkan jemariku ke daerah itu. Ya ampun! Sepertinya aku memasukkan tanganku ke seember lumpur yang hangat. Tak disangka, gadis pendiam ini ternyata menyimpan bara begitu panas. Sebuah rahasia yang selama ini dia pendam…

“Masukkan punyamu, Bang!” pintanya … “Aku udah gak tahan lagi, sedari tadi aku menahan rasa terhadapmu… jangan sia-siakan malam ini… walau sebentar, aku akan puas….”

Gadis itu menggelinjang sekali lagi, membetulkan posisi berbaringnya dan membuka pahanya sedikit lebih lebar agar mudah aku menggelosorkan kemaluanku ke liang senggamanya yang hangat itu.

Terasa meluncur dengan lancar memasuki kemaluan gadis itu. Terus masuk dan membenam sambil ke celah yang paling dalam. Gadis itu mengetatkan pahanya dan pantatnya mulai bergoyang ke kiri da ke kanan.

Tubuhnya terasa semakin memanas. Pelukannya begitu erat dan buah dadanya yang menempel menekan ke dadaku. Dia sudah begitu bernafsu, nafsu yang di pendam lama dan ingin di lepaskan dalam pelukanku malam ini juga.

Terus terang di menit-menit penuh cinta itu aku tidak ingat lagi dengan Cenit. Gadis ini butuh dipuaskan. Hasrat yang sudah menyeruak tidak bisa lagi di tarik surut ke dalam. Segala rem sudah di lepas dan kami pun melayang tanpa kendali menikmati semuanya malam ini….

Kurasa hujan di luar semakin deras. Titik air yang berjuta-juta itu seolah berlomba terjun ke bumi menimbulkan suara gemuruh tidak henti-hentinya. Tapi gemuruh itu tak sedahsyat gemuruh nafsu kami berdua, aku dan Liani yang tengah menikmati cinta.

Entah sudah berapa kali batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya. Sudah berapa kali pula dia menggepit-gepit dan memelukku dengan erat dengan kedua tangannya. Entah berapa kali ia terengah dan menggelinjang menggeram penuh nikmat.

“Hhhhhh… ehhhhhhh..hhhhhh….” erangnya setiap kumainkan dan kutekan pantatku ke kemaluannya. Luar biasa, setiap tekanan ke bawah di balasnya dengan tekanan ke atas.

Kurasa sudah sepuluh menit aku mengayun pinggul di atas tubuhnya. Liang kemaluannya terasa semakin rapat dan sangat licin, mencengkram kuat batang kemaluanku yagn menegang.

Aku kendurkan sedikit gerakanku. Mengalihkan perhatian ke tubuh bagian atas. Liani mengerti, ia meregangkan tubuhnya menarik kepalanya ke belakang, membiarkan buah dada besar yang putih berkeringat itu meenyeruak dari pelukanku. Buah dada gadis desa yang besar dan kenyal, tidak seperti payudara anak-anak kota yang besar tapi loyo….

Dua gumpalan kenyal itu pun kusergap dengan mulutku. Ku lahap dan kukunyah-kunyah sepuas hati. Putting susunya yang merah itu ku kulum dan kuhisap-hisap sambil kugigit sedikit.

Hanya sebentar saja, gadis itu menjerit tertahan….

“Ohhh.. geli, Bang!” aku terus mengulum…. Berganti ke kiri dan ke kanan, kemudian tanganku pun meremas-remas pangkal payudara Liani dengan gemas. Sangat kenyal, hangat dan enak rasanya.

“Aku udah gak tahan lagi… Bang,” rintihnya lirih, tubuhnya semakin panas dan berkeringat, tubuhku juga sama. Dalam hawa malam yang cukup sejuk karena hujan itu seolah tubuh kami mengeluarkan uap. Tubuh bugil bermandi keringat yang mengebulkan asap nafsu birahi tak tertahankan.

Setelah puas dengan buah dada kenyal itu, aku memeluk punggung gadis itu. Kurasa dia mengangkat lututnya, menggepitnya di pantatku. Kemudian ia menurunkan kedua tangannya dan memelukku di pinggang.

“Tekan-tekan lagi, BAng.” pintanya.

Aku juga sudah pingin merasakan gesekan kemaluannyai. Sambil saling berpagut erat aku mengayunkan lagi pantatku di atas rengakahan pahanya yang montok itu. Dia pun semakin menggepitk-gepitkan kakinya.

Sekarang kami konsentrasi ke setiap gesekan, setiap lipatan, setiap senti dari liang kemaluan Liani. Malam ini sunguh hanya milik kami berdua. Gesekan-gesekan itu semakin lama semakin berirama. Sementara Liani melakukan aksi yang menambah kenikmatan, ia menggepit… lalu menahan. Gepit tahan gepit tahan…. Oh tak terlukiskan enaknya bercinta dengan gadis ini.

Gesekan itu semakin intens kami lakukan. Sampai-sampai kami tak sadar kalau hujan sudah berhenti. Malam di luar terasa hening…. Tapi di atas dipan yang berbunyi kriak-kriuk ini dua tubuh saling memompa berpacu mengejar waktu. Takut kalau Cenit dan Rinay keburu pulang.

Aku pun mempercepat ayunanku… sehingga di malam yang menjadi sunyi ini terdengar jelas suara penisku yang keluar masuk ke kemaluan Liani. Beradu rsa dalam limpahan cairan kemaluan Liani..

‘Crekk.. Crekk.. Crekkk. Crek…Crekkk.. Crrek….

Kejantananku naik turun menggesek lipatan-lipatan dinding kemaluan gadis itu. Bunyinya terdengar jelas sekali di telinga kami berdua. Sesekali kutekan akan kuat, gadis itu membiarkan dan menerima tekanan itu, menggeolkan pantatnya berkali-kali agar kelentitnya lebih tersentuh pangkal atas kemaluanku yang keras.

“Tekan terus, Bang.. aihh…”

Aku menekan lagi sambil menggerakkan pantat ke kiri dan ke kanan. Mungkin dia merasa gatal dan ingin gatal itu digaRinay sampai tuntas…. PenggaRinaynya adalah batang kemaluanku yang dia cengkram dan dia benamkan sedalam-dalamnya.

“Ohhh..ohhhhhhhhh,” lolong gadis itu melepas nikmat. Seluruh liang senggamanya berkedut-kedut dan sembari menggepit kuat. Tubuh Liani menggelinjang dan menegang menahan rasa enak ketika ia mengeluarkan air mani kewanitanya.

“Eughhh…hhhhh… euuughhhhh….. ahhhhh… ” rintihnya sambil menyurupkan wajahnya ke leherku, lehernya nafasnya menderu, air liur berceceran dari bibirnya yang merah.

Saat itulah aku pun bersiap hendak keluar dan menyemburkan kenikmatan di kemaluanku. Tapi sesuatu menyebabkan aku berhenti …Masih dalam keadaan bersetubuh dengan Liani… ada sekelebat bayangan melintas. Aku memandang dengan ujung mataku, di lantai tampak ada dua bayangan seperti diam terpaku. Aku pun terkejut … bayangan siapa itu?

Perlahan kulihat wajah Liani yang matanya masih setengah terpejam. Kemudian matanya perlahan terbuka… Dia pun melihat bayangan itu dan menatap langsung ke ruang tengah. Samar-samar di bola matanya yang hitam itu kulihat dua sosok berdiri menatap ke arah kami.

Itu bayangan Cenit dan Rinay! Rinayanya sudah beberapa menit tadi mereka berdiri di sana, menatap kami yang sedang asyik memagut cinta. Apakah mereka tadi mendengar juga.. bunyi crek…crekk.crekk.. alat kelamin kami yang sedang berkelindan? Entahlah, aku tak berani membayangkan hal itu.

Anehnya, meski pun Liani sudah tahu kehadiran mereka, dia diam saja. Tidak memberi tanda bahwa kekasihku dan temannya sudah pulang. Bahkan seolah membiarkan mereka menonton kami yang sedang beradegan mesra di atas ranjang.

Terdengar bunyi deheman kecil, dehem khas suara perempuan. Seolah memaklumi kami yang masih dalam posisi senggama ini. hmmm… aku tahu itu suara Cenit, aku bisa membedakannya.

Sedetik dua detik aku tak tahu apa yang harus kuperbuat, kemudian Liani melakukan sersuatu yang tidak kuduga. Dia seperti melambaikan tangan dari balik punggungku. Menyuruh kedua ‘adik’ kostnya itu masuk ke kamar…

“Teruskanlah, Bang. Nggak apa-apa, kok….” Bisiknya di telingaku. “Ngapain malu.. kita kan sedang enak, kamu enak aku enak…. Mereka juga pasti maklum….”

Oh, ya? Bercinta dengan orang yang bukan pacar, dan dilihat oleh mereka pula? Apa pula ini?Exibit kah ini? Ya, sudah! Aku gak sempat memikirkan sejauh itu. Kalau bagi Liani tidak apa-apa, dan Cenit serta Rinay pun justru menikmati pemandangan ini…. kuteruskan saja.

Perlahan dua gadis itu berlalu, seperti tak terjadi apa-apa, kecuali tawa kecil Rinay yang terdengar. Aku memandangi mereka yang pergi menjauh, tiba-tiba Cenit menoleh ke belakang. Dia menatap mataku langsung, di bibirnya tersungging senyuman yang aneh … di situasi seperti ini… senyum yang tampak nakal.

Aku tak tahu apa akan terjadi sesudah ini, bagaimana hubunganku dengan Cenit? Bagaimana pula aku akan menemui mereka setelah ‘permainan’ penuh keenakan ini? Tak bisa lagi aku berlagak seperti seorang lelaki yang setia hanya pada satu perempuan. Tapi tampaknya Cenit pun tak keberatan jika aku mengencani kakak kostnya Liani.

Ah. Dunia ini memang aneh… di tempat yang tampaknya biasa-biasa saja ternyata tersimpan bakat-bakat cinta yang terpendam yang menanti untuk dikeluarkan dan dinikmati setiap lelaki semacam aku. Aku tak tahu harus bergembira atau… entahlah!

Aku meneruskan permainanku dengan Liani. Gadis itu sudah sampai ke puncak syahwatnya… kini giliran aku. Perlahan-lahan aku mulai memompa lagi … kemaluanku naik turun menggesek kemaluan Liani yang basah itu. Bunyi crek.. crek.. crek.. creeeek… terdengar ke segenap ruangan.

Aku agak termangu mendengar suara itu… tidakkah akan sampai ke telinga mereka berdua yang sekarang sudah ada di kamarnya?

“Terusin aja, Bang….. Kalo enak ngapain juga di berhentiin” bisik Liani seolah hendak menghapus keraguanku. Maka aku pun meneruskan lagi, kali ini dengan irama yang lebih cepat dan… tak lama kemudian creett…cretttt… sambil menekan aku keluarkan air maniku di dalam kemaluan Liani yang mencengkram erat itu. Oh nikmatnya.

Beberapa menit telah berlalu. Sesudah menghapus keringat di dadaku Liani mengenakan pakaiannya. Kemudian sambil bernyanyi-nyanyi kecil ia merapikan rambutnya yang kusut masai. Wajahnya tampak puas. Sangat puas telah beroleh kenikmatan yang selama ini didambakannya. Seraya membetulkan tali beha dan menyempalkan payudara besarlnya ia berkata.

“Bang, aku masuk dulu ke dalam…. Nanti Cenit kusuruh keluar, ya!”

Aku hanya mengangguk mengiyakan, gadis itu pun bangkit dan berlalu dari hadapanku. Sementara aku duduk termangu sambil menghisap sbatang rokok. Tak lama kemudian Cenit keluar menemuiku, kali ini tidak memakai busana yang dikenakannya tadi, tapi sudah berganti dengan gaun tidurnya yang berwarna pink. Bahannya yang halus menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi. Aku menelan ludah… pasti dia bakal marah karena kelakuan kami tadi.

Dia hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Tak tampak tanda-tanda emarahan di sana. sejenak dia hanya diam.. kemudian tiba-tiba dia bangkit dan ‘menyerbu’ ke arahku.

Melingkarkan tangannya di leherku dan menciumiku penuh nafsu. Aneh, dia tidak marah, bahkan setelah melihat kami bercinta seolah nafsunya bergelora ingin dipuaskan juga.

“Cenit… maafkan.. aku telah…” belum sempat kuselesaikan kalimatku dengan bernafsu dia mencari bibirku dan menciuminya dengan garang. Oh,… gelagapan aku dibuatnya. Aku tidak tahu, apakah dia marah atau sudah terangsang…. Aku balas ciuman itu, lidahnya terjulur dan bertemu dengan lidahku. Beberapa saat lamanya lidah kami berjalin berkelindan seperti tak mau lepas. Dengan rakus pula dia hirup air liurku, meneguk dan menelannya. Setelah puas giliran aku yang menghisap cairan mulut itu. Setelah itu kami melepas ciuman dan saling memandang selama beberapa saat.

Tanpa banyak berkata-kata dia menurunkan gaunnya ke bawah, menampakkan dua gumpal buah dada yang tidak memakai beha. Putting susunya meruncing dan tegang.

“Aku terangsang sekali melihat kalian berdua tadi…. ” katanya terengah sambil mengasongkan kedua susunya ke arahku. Aku pun menyambut, tangan kiriku meremas dan mulutku mengulum puting susu yang satunya. Tiba-tiba gerakankuterhenti. Dengan wajah kaget Cenit menatapku heran. Aku lupa mematikan puntung rokok yang ku hisap tadi. Gadis itu tersenyum dan kamipun melanjutkan permainan hangat ini. Buah dada besar montok dan kenyal itu kukunyah sepuas hati.

Cenit mendesah keenakan. Jemarinya mencengkram kepalaku, mengusutkan rambutku. Masih dalam posisi duduk ia mengangkang .. melepas gaunnya yang sudah setengah terbuka…. Dia pun tidak bercelana dalam sehingga gundukan vaginanya yang tebal dan tidak berambut itu merekah di depanku.

Cairan bening meluap keluar. Mengalir di sela-sela celah kemaluannya. Di tak pedulikannya. Dibiarkan lendir bening itu mengalir…. Bahkan dia menyuruhku untuk memegangnya… jemariku menyelusup ke liang senggama Cenit, hangat dan sangat basah oleh cairan pelicin.

Kusentuh klentitnya yang merah dengan ujung jemariku. “Akhh….” Cenit melolong tertahan. “Geli, Kak!” desahnya tersentak. Kemudian sembari memeluk leherku, dan mencium keningku dia mengajakku ke dipan tempat aku dan Liani tadi bercinta.

Tak banyak cingcong kurengkuh dan kugendong tubuh hangatnya ke dipan itu. Di sana dia kubaringkan. Tapi ketika aku hendak membuka celana, tiba-tiba ia mendudukkan tubuhnya yang sudah bugil itu. Aku heran, apa yang akan dia perbuat.

“Bukalah celanamu, Kak!” katanya tak sabar sembari menarik resleting celana panjangku. Setela memelorotkan celana dalamku, dengan sangat bernafsu ia memegangi pangkal kemaluanku yang kembali menegang.

“Besar dan nikmat….” Seru Cenit sambil meremas-remas kemaluanku.

“Sekarang giliranku…” katanya agak keras.

Ia turun dari dipan dan berdiri di sampingku, di dorongnya dadaku ke arah dipan, menyuruhku berbaring disana. Aku menurut. Setelah aku berbaring, Cenit pun menaikkan sebelah kakinya dan mengangkang di atas. Perlahan dia menekuk tubuhnya dan memelukku dari atas.

“Masukkan, Kak.” Pintanya dengan nada gemas. Ia memegang batang kelaminku itu dan memasukkannya ke dalam liang kemaluannya. Kemudian dengan agak kasar dia menghenyakkan pantatnya ke bawah agar kemaluanku masuk lebih dalam ke tubuhnya.

“Ehhhhh…. Hhhhh” desahnya kacau seperti anak kecil yang rakus menetek di susu ibunya. Dalam posisi di atas dia menaik turunkan pantatnya dengan cepat… oh… batang kemaluanku di cengkram dan di gesek-gesek seperti itu. Geli rasanya.

Posisi di bawah jarang aku lakukan…. Tapi kali ini aku menerima saja, karena tadi sudah lumayan capek meladeni Liani. Kali ini Cenit yang giat menekan-nekankan pantatnya, maksudnya supaya punyaku masuk lebih dalam.

Sembari memelukku erat, ia terus mengempot-ngempotkan pantatnya. Bunyi crek crek crek terdengar lagi… kali ini bahkan di tingkahi oleh jeritan-jeritan kecil yang keluar dari mulut kekasihku.

Aku terus berbaring sembari meremas-remas pantatnya yang mulai berpeluh itu. Cairan vagina terasa terus merembes dari kemaluan Cenit. Dia sudah sangat terangsang. Liang kemaluannya sangat basah dan panas. Sesekali ia menekan dan menahan. Seolah hendak melumat habis seluruh kemaluanku dengan vaginanya. Terang saja aku pun semakin keenakan.

Diam beberapa saat menahan tekanan, dia pun mengendurkan dan memulai lagi gerakan naik turunnya. Aku terus meremas-remas pantatnya. Dadanya yang kenyal itu menekan ke arah dadaku, hampir membuatku sesak nafas. Tapi aku pasrah.. lha wong enak rasanya.

Selama sepuluh menit Cenit bergerak naik turun, nggak cape-cape kelihatannya. Tubuhnya semakin basah oleh keringat, bahkan wajahnya sudah dipenuhi keringat sebesar-besar biji jagung. Sebagian mengalir ke ujung hidung dan menitik menimpa wajahku. Sesekali ia mengibaskan rambutnya yang tergerai..

Aku mencoba memiringkan kepala mencoba mengurangi titikan keringat di wajahku. Pada saat itulah kembali aku terkesiap. Di ujung ruangan, di pintu kamar Cenit, tegak sesosok tubuh perempuan menatap kami dengan matanya yang bulat.

Mata besar milik Rinay, teman sekost Cenit. Dia menatap kami tanpa berkedip. Tangan kanannya tertangkup di dada. Sementara yang kiri tampak meremas-remas ujung gaun tidurnya yang di atas lutut.

Ketika kami saling memandang… dalam posisi Cenit masih di atas dan asyik dengan empotan-empotannya. Perlahan tangan kiri Rinay mengangkat ujung gaun merahnya. Terus terangkat ke atas menampakkan paha gadisnya yang padat…

Entah sadar entah tidak gaun itu sudah sedemikian terangkat, sehingga aku bisa melihat celana dalam yang tersingkap. Kemudian ia menarik pinggir celana dalam itu… menampakkan segumpal tumpukan daging berbulu dengan celah merah di tengahnya.

Ujung jemari menyentuh bagian tengah celah itu. Menekannya dan memutar-mutarnya sedikit. Ya ampun… kemudian dia menatapku.. dengan mata setengah terpejam.

Saat itulah Cenit menengadah…. Dan menyurukkan kepalanya ke leherku, memelukku kuat dan mulai mendesah berkepanjangan. Pantatnya menekan kuat sampai seolah kemaluanku mau ditelannya sampai habis.

“Kak.. enak sekali.. ahh” terasa kemaluan Cenit berdenyut hebat, tubuhnya bergetar tak kuasa menahan nikmat… nafasnya sangat memburu… dan..

Dia pun lunglai dalam pelukanku…. Sementara air mani gadis itu mengalir tak tertahankan, meluap dan mengalir membasahi sampai bagian perutku.. aku peluk gadis itu di punggungnya… membiarkan ia mengendurkan syaraf setelah ia tadi sangat tegang menikmati puncak orgasmenya.

***

Sampai beberapa menit kami masih berpelukan, kejantananku yang masih tegang itu masih berada di dalam ’sangkar’-nya. Cenit diam tak bergerak dalam pelukanku, sepertinya dia lupa ada sesuatu yang bersemayam dalam tubuhnya.

Perlahan gadisku ini mengatur nafasnya yang tidak teratur. Setelah agak reda… perlahan dia bangkit dan melepas persetubuhan kami. Lambat ia mengangkat pantatnya ke atas. Perlahan alat kelaminku itu keluar dari vagina Cenit. Ketika sudah keluar seluruhnya…. Cairan vagina yang kental nampak melumuri batang kemaluanku. Ketika bagian ‘kepala’-nya akan keluar terdengar seperti bunyi plastik lengket yang basah akan di lepas..

Clep..crrrllek. Cenit tersenyum mendengar suara itu. Entah suara lipatan kemaluannya atau karena lendir yang begitu banyak melumuri batang kemaluanku.

Ia pergi ke tengah ruangan dan memakai gaunnya kembali, rona wajahnya menampakkan kepuasan yang tiada terkira. Sambil bernyanyi kecil, seperti baru sudah pipis, ia memebenahi rambutnya yang kusut masai. Dan berjalan ke belakang rumah, meninggalkanku yang hendak mengenakan celana dalam ku.

Belum sempat aku memakai celana itu, tiba-tiba Cenit sudah kembali. Membawa sehelai kain sarung dan menyuruhku mengenakannya. “Pakai ini aja, Kak!” katanya seraya mengambil celana panjang dan kolorku, melipatnya dan merengkuhnya dalam dada. Kemudian ia pun kembali ke belakang.

Tak lama kemudian ia datang lagi, membawaku segelas minuman, kalau tadi Liani membawakanku segelas air putih, kali ini Cenit menyuguhiku dengan teh manis. Aku segera mereguknya karena merasa kehausan, bayangkan saja melayani dua wanita secara bergilir tanpa istarahat sama sekali. Capek donk!

Ketika aku meminumnya, alis mataku terangkat, minuman apa ini? Rasanya kok pahit banget? Sebelum sempat bertanya Cenit berkata perlahan, “Itu sari dari akar Pasak Jagad Kak!”

“Haa?

Kekasihku tersenyum, itu kan obat kuatnya lelaki, kalau minum jamu itu pasti bakal melek semaleman, kataku sesudah menelan tegukan terakhir. Gadis itu hanya tertawa kecil. ‘Biar aja nggak tidur semaleman… besok kamu kan nggak kerja, tidur aja sepuasnya di sini.

Setengah jam kemudian kami masih ngobrol di ruang tamu. Masih terbayang-bayang permainan kami berdua barusan. Tak disangka begitu bernafsunya Cenit, sampai-sampai kuat main di atas hampir setengah jam lamanya, sementara aku anteng aja di bawah.

Tiba-tiba Cenit bangkit…”Kak,” katanya, “Aku ke dalam sebentar.” Aku mengiyakan saja, kupikir dia mungkin mau sedikit merapikan dandanannya yang agak amburadul itu.

Aku akan menghela nafas ketika terdengar dia memanggilku dari kamar.

“Sini sebentar, Kak!”

Aku pun bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya, sebelum tiba di pintu kamarnya aku melewati kamar Liani yang hanya dihalangi secarik kain gorden, diam-diam ku singkap tirai kamar itu. Tampak Liani tertidur pulas, masih mengenakan gaun yang tadi, pahanya yang terbuka nampak putih dan mulus.

Kamar berikutnya adalah kamar Rinay, hmmm… jantungku berdegup agak kencang. Apa yang dilakukannya tadi ketika aku dan Cenit sedang menikmati seks? Entahlah, aku tak tahu. Tapi aku pengen tahu sedang apa dia sekarang?

Perlahan kusingkapkan juga tirai pintu kamarnya itu. Kasur tempat tidurnya masih tampak rapi, bantal tersusun di tempatnya. Ke mana cewek itu? Kok nggak ada di biliknya? Sedikit heran aku terus melangkah menuju kamar Cenit.

“Masuklah, Kak! Jangan malu-malu, aku tahu kamu sudah berada di situ.” Kata Cenit lagi, bergegas aku pun masuk ke kamarnya…

Oh di sini rupanya Rinay, dia sedang tidur telungkup di dipan Cenit, sementara cewek ku itu sedang menyisir rambutrnya menghadap ke cermin. Tanpa mengacuhkan aku dia pun menyuruhku duduk di dipan dengan gerakan tangannya.

Dipan ukuran single itu lumayan sempit, apalagi sekarang sudah ada Rinay yang tidur di sana. Cenit berbalik menghadapku, ditatapnya aku dengan tajam. Kemudian perlahan dia mengalihkan pandangannya ke tubuh temannya yang masih telungkup itu.

“Terserah kamu, Kak. Mau di sini atau di kamarnya…. Aku ikhlas aja, yang penting…. Dia bisa juga ikut merasakan ….”
Aku melongo? Dia suruh aku menikmati pula tubuh Rinay!? Tubuh perempuan sintal yang sedang tertelungkup ini? Cenit mengangguk pasti.

“Kami lihat apa yang kalian lakukan, Rinay pun lihat kita tadi… kami bertiga bersahabat, resminya kamu memang milik aku… tapi.. berbagi antar sahabat tak ada salahnya, bukan? Lagi pula aku rela kok, selama tidak dengan yang lain selain mereka.”

Dalam hati aku cuma bisa mengangkat bahu. Kalau dia sudah mengikhlaskan temannya, dia tidak marah apalagi jadi membenci aku, lagi pula kalau dengan begitu dia jadi terangsang dan menikmati juga, apa salahnya.

Aku berpikir cepat, katakanlah malam ini adalah semacam sex party, dan aku menjadi rajanya sementara menjadi ratuku yang harus kupuaskan, oke saja sih. Hehehe. Kebetulan aku ingin mencobai juga tubuh Rinay yang berkulit sawo terang ini.

“Aku menunggu di kamarnya,” kataku kepada Cenit, cewek itu mengangguk setuju.

Dipan singel Rinay terasa cukup nyaman. Bantalan busanya masih cukup baru, dia memang belum lama kost di rumah ini, mungkin baru setengah tahun. Aku berbaring dengan rileks. Memandangi dinding kamar yang dipenuhi poster Cenit sambil memikirkan apa yang telah kudapat malam ini.

Mula-mula Liani menyerahkan dirinya kepadaku, kemudian Cenit yang memintaku untuk memuaskannya, dan sekarang Rinay, gadis paling pendiam yang jarang ngobrol denganku. Gadis ini pun menginginkan ku pula… hehehe.. dasar gede milik, yeuh

Semilir halus wangi parfum masuk ke hidungku.Terdengar pintu kamar terbuka, perlahan Rinay masuk ke kamar itu. Seperti orang baru bangun tidur. Ia langsung duduk di dipan itu, “Ada apa, Kak?” tanyanya seolah tak mengerti. Aku tersenyum, pandai juga dia menyembunyikan perasaan sebenarnya.

“Eh, kain sarung siapa yang kamu pakai itu, Kak?”

“Hehe.. ini pemberian Cenit tadi..”

Kedua bola mata gadis itu membulat… menatapku seolah tak percaya. Terus terang saja, dia cantik juga. Rambutnya yang ikal itu dibiarkannya tumbuh sampai sebatas punggung. Meski baru bangun ‘tidur’ tapi tak mengurangi kesegaran dan pesona cantik yang terpancar di wajahnya.

Aku menarik gadis itu ke pelukanku, tubuhnya terasa berat karena ia seperti menolak, tapi kemudian malah dia yang merangsek dalam dekapanku.

“Jangan , Kak! Nanti Cenit marah..” katanya berbasa-basi.

“Dia marah kalau aku tidak menayangimu juga….”

“Kamu bisa aja, Kak!” katanya sambil menengadah dan menyentuh pipiku. Aku mengecup bibirnya, dia sangat menikati kecupan kecil itu, matanya terpejam, tubuhnya melunglai, dan aku pun memeluk tubuh sintal itu lebih erat.

Ia membalas pelukanku dan membiarkan bibirnya kulumat… beberapa kali ia mengeluh nikmat. Terasa tubuhnya bergetar ketika aku mulai merengkuhnya. Kemudian aku pun mulai menyusuri seluruh lekuk dan liku tubuh gadis itu. Semakin lama tubuh itu terasa panas, setiap gumpalan dan tonjolan dagingnya terasa begitu membara dipenuhi gairah terpendam.

Aku membaringkan tubuhnya sementara kedua tangannya terus melingkar di leherku. Nafasnya terdengar agak memburu, gadis ini sudah mulai terangsang. Kuperiksa bagian kemaluannya dengan jemariku. Ternyata belum cukup basah, masih terasa agak kering. Kucumbu dia terus supaya gairahnya lebih menggelora….

Entah berapa lama kami saling mencium saling menyusup dan berkelindan, aku pulang suka buah dadanya. Sangat kenyal, besarnya pun sedang saja, tapi putting susunya sangat kecil, hanya sebesar biji kacang hijau. Tampak sekali putting itu sudah mengeras.

Ketika kuremas-remas buah dadanya, wajah gadis itu menengadah, matanya terpejam rapat, bibir agak terbuka. Setiap remasan adalah rangsangan bagi tubuh segar ini. Semakin intensif aku meremas, semakin intens juga dia menikmatinya. Ketika kuraba kemaluannya, lendir pelicin yang kental sudah mulai keluar.

Perlahan aku mengusap-usap jembut halus yang tumbuh di sana. Sesekali agak kutekan agar menyentuh bagian klentitnya. Tuibuhnya menggelinjang karena geli.

Perlahan tapi pasti cairan pelicin itu mulai keluar, merembes ke permukaan dan mengakibatkan jembut-jembut halus itu terasa mulai kuyup. Hmmm.. Rinay sudah siap untuk dimasuki. Sambil memegang pangkal kemaluanku aku pun memasukkannya. Terasa licin dan rapat. Batang kemaluanku seperti menembus lipatan daging hangat yang basah oleh lendir.

Creep…. Masuklah aku ke tubuh Rinay. Gadis itu melepas nafas panjang, merasakan nikmatnya gesekan di kemaluannya. Entah kenapa aku sangat-sangat terangsang dengan gadis ini, mungkin ini bukan yang pertama baginya, tapi… dia melakukannya seperti baru untuk pertama.

Sepuluh menit pertama kami mengadu rasa, menggesek-gesekkannya dengan gerakan rutin. Sementara Rinay pasrah saja sambil memelukku dan membenamkan wajahnya di leherku. Nafasnya semakin lama semakin memburu, tubuhnya semakin panas. Titik-titik keringat mulai keluar dan lama-lama peluhnya semakin membanjir.

Kota kecil ini memang lumayan panas meski di malam hari, apalagi rumah kost itu tidak berAC, tubuhku pun kembali berkeringat. Tapi kami tak peduli, kami terus berpelukan menikmati pergumulan itu.
Kami masih bergumul ketika akhirnya memasuki tahap kedua. Kukeluar-masukkan penisku secara berirama di liang kemaluannya yang pasrah itu. Gadis itu memelukku lebih kuat. Tak peduli dengan tubuh yang bersimbah peluh.

‘Crekecrekecrek…’. Sepuluh menit lamanya aku menggesek-gesek kemaluan Rinay dengan kemaluanku. Terasa punyaku semakin menegang keras. Kemudian aku menekan… Rinay membalas dengan mengempot ke atas. Menggerakkan pinggulnya berputar-putar, ganas sekali putarannya. Aku naik turunkan lagi pantatku beberapa kali, kemudian kutekan dalam-dalam….

“Ahhh…,” gadis itu mendesah nikmat. Kemudian membalas lagi dengan tekanan ke atas, sambil menggoyang pantatnya ke kiri dan kekanan. Lipatan kemaluannya yang hangat terasa semakin kenyal dan licin.

Beberapa kali kami melakukan itu, aku pun jadi tak tahan. Tapi dia belum mencapai puncak. Aku akan membuat dia duluan merasakan kenikmatan.

Aku pun semakin aktif mengocok dan menekan memek Rinay. Tulang kemaluan kami beradu, bibir kemaluanya yang tebal menahan tekanan itu dengan nafsu, terasa hangat dan sangat basah karena lendir mani Rinay sudah melimpah sedari tadi.

Dua menit kemudian gadis itu melolong merasakan vaginanya berdenyut nikmat.. “Ooohhhhh….”

Aku membantunya dengan menekan semakin dalam. Rinay pun membenamkan tubuhnya ke kasur, menahan tindihanku sambil melepas nikmat, seiring dengan mengalirnya air mani prempuan itu dengan lebih deras. Merembes dari lipatan-lipatan kemaluannya.

“Enak sekali, Kak…eigh oh…!”

Berbarengan dengan itu akan pun mencapai puncak. Kemaluanku terasa berkedut seiring dengan menyemburnya air maniku di liang senggama gadis itu. Sementara liang senggama Rinay pun menggepit-gepit tak terkendali karena tak kuasa menahan nikmat yang luar biasa.

Kami masih berpelukan ketika rasa nikmat itu tercapai sudah. Gadis itu diam dalam pelukanku, tubuhnya sangat basah oleh peluh. Hawa panas pun terasa menyergap. Berangsur kami saling melepas pelukan.

Perlahan gadis bangkit itu duduk dari posisinya. Gurat-gurat kepuasan terpancar di wajahnya yang cantik. Sekilas ku lihat memek Rinay yang masih merah dan bibirnya tampak membengkak, cairan-cairan lendir masih menetes dari sela kemaluannya.

“Enak, Rinay?” gadis itu mengangguk. Kemudian ia mengusap keringat yang menitik di dadaku. “Dadamu penuh dengan peluh, Kak. Sini kuusap,” katanya sambil mengelus lembut dadaku yang memang penuh dengan keringat.

Beberapa saat lamanya kami kemudian berbaring bersama di kasurnya yang sempit itu. Rambutnya yang ikal dan panjang itu kubelai. Ia bergerak, menyusupkan tangannya di leherku, kemudian memintaku terlentang, dia ingin tidur di dadaku, katanya. Beberapa saat kemudian Rinay pun jatuh tertidur, tak menyadari air liurnya yang menitik dari sudut bibir. Aku pun segera terbang ke alam mimpi.

Entah jam berapa kami terbangun. Ketika itu aku dan Rinay masih berpelukan, sementara di luar terdengar suara-suara seperti sedang bernyanyi. Oh, ternyata hari sudah siang. Itu adalah suara Cenit yang sedang bernyanyi kecil, sementara di kejauhan terdengar suara orang sedang mandi, barangkali Liani sedang membersihkan tubuhnya.

Rinay pun sudah mulai terjaga, ia masih memelukku, buah dadanya yang kenyal itu menempel erat di dadaku. Dari ruang tengah terdengar Cenit sepertinya sedang menyapu lantai. Sementara dari bibirnya terdengar nyanyian yang sekarang sedang populer.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, kemudian gorden disingkapkan, dan masuklah Cenit ke dalam kamar, menatap kami yang masih bugil hanya berselimut kain sarung.

“Hei, bangun! Belum puas juga ya!”

Aku pura-pura tidur sambil memeluk Rinay lebih erat. Gadis itu terkikik… tapi dia juga pura-pura meneruskan tidurnya. Cenit berlagak marah dan menarik kain sarung penutup tubuh kami.

“Apa mau diteruskan lagi tidurnya? Udah siang tauu,”

Aku menarik kain sarung itu, malu karena kemaluanku sedang menegang setelah beristirahat total beberapa jam. Tapi kalah cepat, Cenit sudah menangkap batang kemaluanku dan mengusap-usap dengan jemarinya.

“Oh, jauh lebih besar dari gagang sapu ini… pantesan enak sekali.” Guraunya sambil tergelak sendiri. “Ya udah, kalau kamu pengen lagi, Rinay. Tuh mumpung lagi berdiri…”

Hampir tak kuat aku menahan tawa dengan canda Cenit, tapi tampaknya Rinay menanggapinya dengan serius, dia menggerakkan pantatnya, memelukku dari atas dan mengempot ke bawah. Bibir kemaluannya terasa menempel di batang kemaluanku.

“Tuuh, kan! Pasti mau lagi deh! Terusin aja, Rinay. Enak kok!” sergah Cenit sambil memegangi pinggang gadis itu, menolongnya mengangkat panta, aku pun memegang pangkal kemaluanku, menghadapkannya ke memek Rinay yang hangat.

“Udah pas belum?” tanya Cenit, Rinay mengangguk, perlahan Rinay menurunkan pantatnya, maka…. Srrluuuup.. batang kemaluanku masuk lagi ke memek Rinay. “Main dari atas enak, lho Rinay! Tekan aja biar lebih kerasa…” bisik Cenit agak keras.

Seperti tak peduli kehadiran Cenit di kamar ini, kami mengulangi permainan semalam, tapi kali ini Posisi Rinay ada di atas. Kusuruh gadis itu menegakkan tubuhnya. Ia menurut dan mendorong tubuhnya dengan meletakkan telapak tangannya di dadaku.

Sekarang posisinya berubah, aku berbaring sementara Rinay duduk mengangkang di atasku. Alat kelamin kami telah menyatu, ketika ia sudah duduk dengan benar, nampak memeknya seperti sedang mengulum kemaluanku sampai ke pangkalnya. Kelentitnya nampak menonjol dan cairan itu kembali mengalir membasahi jembut-jembut halusnya.

Kami saling pandang sementara masih bersatu, bibir Rinay tersenyum, beberapa kali ia menyibakkan rambutnya yang kusut. Perlahan dia mulai mengayun, gerakanya seperti orang sedang naik kuda. Naik turun berirama.

Semenit aku lupa dengan kehadiran Cenit di sana. ternyata ia berdiri di belakang Rinay, memperhatikan kami yang sedang bercinta dengan gaya seperti itu. Gadis itu menyeringai lebar menampakkan sederetan giginya yang putih bersih.

Kemudian tiba-tiba ia membuka bajunya, menampakkan beha putih dengan buah dada besar di baliknya. Ia pun membuka beha itu, melemparkannya ke sudut kamar, menarik rok panjang, membuka celana dalam sampai akhirnya bugil sama sekali.

Ia pun menyerbu ke arahku, membenamkan wajahku di susunya yang besar dan kenyal, meremas-remas kepalaku dengan jemarinya. Sementara Rinay terus asyik mengayun-ayunkan pantatnya naik turun.

Aku memeluk punggung Cenit, mengulum dan mengunyah susunya yang kenyal. Cewek itu mendengus-dengus ketika putting susunya tergigit lembut.

Lama kami bercinta segitiga seperti itu, mungkin ada seperempat jam.

“Kita enak-enakan bareng, Kak.” Bisik Cenit sambil meremas. Aku setuju, dia sudah hampir sampai puncak, aku pun tak tahan dengan ulah Rinay, yang mengocok-ngocok dari atas….

Cenit melepas pelukannya dan naik ke atas ranjang, mendudukkan pantatnya di dadaku mengangkang lebar menampakkan memeknya yang tercukur rapi. Gundukan dagingnya putih mulus dan kemerahan, bibir kemaluannya tebal dan dipenuhi cairan kental dan hangat.

Ia memajukan memeknya sehingga sampai di mulutku. Kemudian mulai menekan ke arah mukaku. “Ahh… ayo Kak! Aku udah gak tahan lagi nih.”

Sambil meremas pinggang dan pantatnya aku pun beraksi. Mengganyang habis kue pie lembut dan basah itu. Cenit segera merintih-rintih ingin segera melepas nikmat. Sementar di belakangnya Rinay tiba-tiba mengempot dan menekan ke bawah,. Tubuhnya ambRinay ke depan, menimpa punggung Cenit yang sedang menekan mukaku.

Wajahku semakin tertekan oleh gumpalan memek Cenit, sementara pahanya menggepit kedua pipiku dengan kuatnya. Akkkh… aku hampir tidak bisa bernapas. Ya ampun!

“Keluarin bareng, Kak! Aghhh.. ahhh!”

Cenit menekan, Rinay mengempot, dan… aku sesak nafas!

Terdengar suara rintihan panjang berbarengan, Cenit dan Rinay sedang dirasuki kenikmatan. Terasa memek Rinay berdenyut-denyut sembari melepaskan cairan kewanitaannya, sementara mulutku semakin basah oleh cairan memek Cenit yang juga berdenyut melepas nikmat.

Kedua tubuh cewek itu lunglai setelah menikmati segalanya. Mereka ambruk berbarengan ke tubuhku. Berat sekali rasanya menahan dua tubuh perempuan sekaligus, montok-montok lagi.

Seperti menyadari hal itu, Cenit dan Rinay pun bangkit, perlahan Cenit turun dari ranjang, sementara Rinay pun perlahan mengangkat pahanya, kedua tangan bertumpu pada dadaku.

Saat itulah kemaluanku keluar dari liang sanggamanya, cleep.. terdengar seperti bunyi plastik lengket yang sedang dibuka. Tampak kemaluanku masih menegang dan basah bergelimang cairan memek Rinay.

Aku terdiam sejenak, tak tahu harus berbuat apa, karena aku belum lagi mencapai puncak gadis-gadis ini sudah menghentikan permainnya, ketika itulah tiba-tiba Liani masuk ke dalam kamar, melihat kepada Rinay dan Cenit yang sedang mengenakan pakaiannya kembali.

Ketika ia mengalihkan pandangannya ke arahku, matanya terpaku menatap kejantananku yang masih berdiri dengan perkasa, merah dan mengkilat bermandikan cairan kemaluan Rinay.

“Kasihkan sama Liani, Kak!” kata Cenit sambil menyempalkan susunya yang montok itu ke balik beha. Wajah Liani semburat memerah. Mungkin dia tadi mendengar lolongan Cenit dan Rinay yang berbarengan menahan geli dan enak. Aku tak tahu apakah dia juga sudah terangsang dan ingin di gelitik nikmat lagi?

Tampaknya iya, ia mengangkat roknya menampakkan kedua paha yang padat dan putih mulus. Sementara Rinay dan Cenit bergegas keluar kamar, meninggalkan kami berdua saja di sana. semerbak wangi harum tubuh Liasni menusuk hidungku. Gadis ini baru selesai mandi.

Liani naik ke ranjang bersiap-siap hendak memasukkan kejantananku ke memeknya yang, ya ampun, ternyata sudah bengkak merekah merah dan basah pula. Tapi siapa tahan menahan tubuhnya yang tinggi montok itu setelah tadi ditindih oleh dua gadis montok sekaligus.

Aku bangkit duduk, mendorong sedikit tubuh Liani, gadis itu seperti kaget. Tapi dia menurut. Kemudian kusuruh ia berdiri dan … ini dia aku ingin merasakan sesuatu yang lain.

Kusuruh ia berdiri membelakangiku dan menumpukan tangannya di dipan. Posisinya sekarang menungging di depanku, Liani mengerti, ia mengangkat pantatnya lagi, dari belakang disela-sela bongkahan pantatnya, nampak kemaluannya membelah. Cairan kental menitik-nitik banyak sekali.

Meski nafasnya ditahan, aku tahu gemuruh di dadanya sudah sedemikian hebat. Tampak dari buah dadanya yang menggelantung itu bergetar-getar menahan dentaman jantungnya yang meningkat dahsyat.

Aku ingin masuk dari belakang dan kemaluan Liani sudah siap untuk kutusuk dari arah itu. Liani semakin menunggit menampakkan bongkahan pantat dan memek yang merekah. Aku maju menyorongkan kejantananku ke arah belahan nikmat itu. Creepp.. kejantanankupun coba menerobos dan berusaha keras memasuki liang senggama Liani yang terbuka. Tapi gumpalan pantat Liani cukup menahan gerakananku.

Egghh.. aku mencoba lagi dan menekan lebih kuat ke depan. Akhirnya… masuk juga. Oh, rasanya seperti dipilin-pilin. Aku menekan lagi… kemaluan kami semakin berjalin, tapi bongkahan pantat Liani seolah menahan gerakanku sehingga aku harus menekan agak lebih kuat.

“Emhh….” rintih Liani tertahan. “Tekan , Bang…. Emmghhh”

Aku bergerak maju mundur dan menekan-nekan, sekujur batang kemaluanku rasanya seperti dicengkram. Sambil agak membungkuk aku mencoba meraih buah dada Liani, meremas keduanya dari belakang. Hangat besar dan sangat kenyal. Putingnya kuputar-putar dengan dua ujung jari. Membuat gadis itu menggelinjang hebat dan semakin mengangkat pantatnya tinggi-tinggi agar kejantananku masuk lebih dalam.

Tubuh kami semakin berkeringat ketika rasa enak itu semakin memuncak. Aku pun menekan dan menggosok-gosok lagi dinding memek Liani yang merapat. Agak sulit main dari belakang, tapi kami menikmatinya. Beberapa manit kami menikmati permainan itu. Tubuh Liani maju mundur tertekan oleh gerakan tubuhku.

Ketika sedang asyik tiba-tiba gorden kamar kembali terkuak. Sosok tubuh Rinay masuk berkelebat, seperti tak memperhatikan kami gadis itu menuju ke ujung dipan, ternyata celana dalamnya ketinggalan di sana.

Kami tak mempedulikan kehadirannya dan terus saling menekan. Aku menekan ke depan sementara Liani menekan ke belakang. Kemaluan kami sudah begitu menyatu erat bermandikan cairan kental. Tubuh kami pun menegang dan basah oleh keringat yang membanjir. Rasa nikmat semakin meningkat, semakin lama semakin hebat.

“Aghhh…hhhh” aku menggeram menahan rasa. Denyutan-denyutan penuh rasa nikmat menyerang kemaluanku. Liani merintih tak kalah dahsyat… bahkan lebih hebat dari erangan Cenit dan Rinay berbarengan.

“Bang… agh! Enak banget,…oh Aku gak tahan lagi!”

Samar kulihat Rinay mengenakan celana dalamnya…. Ketika itu pula aku dan Liani saling menekan hebat… menahannya dan merasakan detik-detik penuh kenikmatan. Nafas Liani melenguh-lenguh, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Memeknya menyempit dan … srrr….. keluar banjir yang hebat. Tubuhnya bergetar menahan rasa geli yang luar biasa. Aku pun menekan semakin dalam.

Mmhhh… berkali-kali kemaluanku seperti meledak dalam cengkraman memek Liani. Berkali-kali pula lipatan kemaluan gadis itu menyempit dan menggenggam kemaluanku kuat-kuat ketika ia pun melepas nikmat di pagi nan cerah itu.

Rinay mendehem kecil ketika kami menyudahi permainan itu dengan rasa puas. Liani menjatuhkan tubuhnya yang basah oleh titik keringat di dipan, menelentang dengan nafas masih terengah-engah. Bibir kemaluannya nampak membengkak, merah dan berkilat penuh dengan lendir. Rinay pun diam-diam keluar dari kamar, di dekat pintu ia menyibakkan rambut ikalnya, menjeling ke arahku, setelah itu ia pun berlalu.

]]>
http://www.difunde.com/tiga-dara-dusun.html/feed 0 http://www.difunde.com/gairah-liar-wanita.html http://www.difunde.com/gairah-liar-wanita.html#comments Tue, 24 Apr 2012 05:50:13 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=31

Jam weker dimeja kamarku berdering pada jam 09.00 pagi, memang aku mensetting pada jam itu, karena tadi sampai terdengar adzan subuh aku masih belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku menggeliatkan tubuhku terdengar kerotokan pada pinggangku, dengan malas aku bangkit dari tempat tidur… ups.. aku lupa kalo aku tadi tidur dengan tubuh telanjang bulat… kulihat tubuhku dari pantulan cermin besar.. mmm… dalam usia hampir kepala 4, kulihat tubuhku masih bagus dilihat… buah dadaku yang berukuran bra 36 B masih cukup kenyal, pinggangku masih ramping tak berlemak, pinggul dan pantatku kata mas Seno, almarhum suamiku adalah bagian yang terindah dari tubuhku, sangat seksi dan serasi dengan sepasang kakiku yang panjang… wajahku…? kata mas Seno lagi, katanya wajahku lebih pantas dibilang seksi daripada cantik… entahlah penilaian lelaki memang susah dijabarkan oleh perempuan….Sssssshhh… ooohhh… gila, lagi-lagi gairah birahiku meletup dengan tiba-tiba… di depan cermin besar itu aku meremasi buah dada montokku sendiri yang kian mengencang… ammpuuuun… sudah 2 hari 2 malam ini aku sangat menderita karena birahi gila ini… entah berapa belas kali selama 2 hari 2 malam ini aku bermasturbasi…sampe tubuhku benar-benar loyo.

Bahkan pada hari pertama aku sempat melakukan masturbasi di belakang kemudi mobil di tengah keramaian jalan tol, saking ngga ketahan… Semalam, dengan diiringi adegan-adegan syur film bokep koleksi almarhum mas Seno… aku melampiaskan hasrat birahiku secara swalayan, mungkin lebih dari 10 kali sampai pagi menjelang…Maka betapa jengkelku, sekarang belum setengah jam mataku terbuka, gelegak birahi itu meletup lagi… kali ini aku melawan, aku masuk kamar mandi, kuguyur tubuhku dengan shower air dingin… agak menggigil juga tubuhku…. Aku memang wanita berlibido tinggi. Sejak ABG aku sudah kenal masturbasi… menjelang lulus SMU aku mengenal persetubuhan dan berlanjut menjadi doyan disetubuhi… Masa kuliahku adalah masa euphoria sex, karena aku kuliah di Bandung sementara orang tuaku di Jakarta… pada awal masa kuliahku, aku pantas dijuluki Pemburu Seks… beberapa kali aku diusir dari tempat kost yg berbeda, dengan sebab yg hampir sama… yang aku ingat, sore pulang kuliah diantar teman kuliahku, aku lupa namanya… pokoknya keturunan Arab… aku lupa bagaimana awal mulanya, aku bisa nyepong kemaluan Arab ganteng itu di dalam kamarku dalam keadaan pintu ngga terkunci dan Ipah pembantu ibu kost yg nyinyir itu nyelonong masuk kamarku utk menaruh pakaianku yg habis diseterikanya… aku tengah terkagum-kagum dengan volume batang kemaluan Arab ganteng yang lebih besar dari lenganku dan minta ampun panjangnya.

Malam itu juga aku disidang dan harus keluar dari rumah kost itu. Tapi buatku ga ada masalah karena malam itu si Arab ganteng memberikan tumpangan sementara di rumah kontrakannya… tentu saja gairah birahiku yang binal dimanjakan oleh Arab ganteng itu… sepanjang hari… bahkan sampai beberapa hari aku tinggal di rumah kontrakan si Arab ganteng yang berantakan… Kejadian yg lain pernah juga tengah malam, lagi seru-serunya ML sama cowok baruku… tiba-tiba pintu didobrak petugas ronda yg rupanya sudah lama memperhatikan kebiasaanku masukin cowok malam-malam… cowokku dengan tengilnya berhasil kabur… sementara aku lagi-lagi terpaksa harus cari kost baru lagi… Satu lagi yang ga bakal aku lupa, affairku dengan bapak kost, biar sudah tua tapi ganteng dan handsome.. dan yang membuatku bertekuk lutut… mmm… aksi ranjangnya boo’… selalu membuatku bangun kesiangan esoknya… sayang aku menikmati kencan ranjang dengan bapak kost baru tiga kali keburu ketangkap basah sama istrinya… abis siang bolong bapak itu ngajakin naik ranjang… apesnya lagi aku ga akan mampu menolak, kalo tetekku sudah kena diremasinya… baru mau dua kali aku mendapatkan orgasme… eeh…pintu di ketok-ketok dari luar dan terdengar suara ibu kost memanggil namaku… mendengar itu bapak kost yg sedang memainkan batang kemaluannya di liang sanggamaku, jadi gugup dan efeknya justru membuatnya orgasme, untung gak telat nyabut… pejunya berhamburan di atas perutku banyak sekali…. bisa ditebak endingnya… aku harus angkat kaki dari rumah kost saat itu juga…

Nasihat sahabat-sahabatku, banyak merubah perilaku seksualku yang liar… Dengan susah payah aku berhasil menekan hasrat birahiku yang memang luar biasa panas dan aku mengumbarnya… awalnya mana sanggup aku menahan seminggu tanpa aktivitas seksual… bakal uring-uringan dan kepala terasa pecah… Sampai akhirnya aku ketemu dengan mas Seno aktivis mapala kakak kelasku… ngga hanya sosoknya yang jantan… permainan ranjangnyapun luar biasa… permainannya yang agak kasar, mampu membuatku mengerang-erang histeris… Aku ga nyesel, harus married dengan mas Seno karena keburu hamil. Buktinya aku berhasil menyelesaikan kuliah, walaupun sambil mengasuh Astari buah cintaku dengan mas Seno. Status ekonomi kamipun tergolong bagus… Sampai akhirnya 5 tahun yg lalu, kecelakaan mobil di jalan tol merenggut mas Seno dari kami berdua… Selama 5 tahun menjanda, mungkin karena kesibukanku mengurus dan melanjutkan usaha mas Seno yang sedang menanjak pesat dan keberadaan Astari anak tunggalku sudah menginjak usia gadis remaja, aku hanya 2 kali terlibat affair dengan lelaki yg berbeda, itupun juga hanya having fun semata, penyegaran suasana disela-sela kesibukan bisnis… Kehidupan seksualku datar, tanpa gejolak… sesekali aktivitas masturbasi cukup memuaskanku…

Setelah tubuh terasa segar, kukenakan kimono dan keluar kamar…

” Heee… Ron kamu disini..? kok ga sekolah..?” Kudapati Ronie di belakang komputer Astari. Ronie adalah kakak kelas Astari yang hampir setahun ini akrab dengan anak gadisku itu. Anak muda yang sopan dan pandai cerminan produk dari keluarga yang cukup baik dan mapan.

” Iya tante, saya hari ini kebetulan banyak pelajaran kosong jadi bisa pulang lebih awal dan tadi Tari minta tolong saya nungguin tante yg lagi sakit.. kali aja butuh apa-apa” Sahut Ronie sopan, membuatku terharu… Lumayan ngobrol dengan Ronie, penderitaanku agak berkurang…

” Ron, kamu bisa mijit ga..? tolongin pijitin tante dong bentar… leher tante kaku…” pintaku ke Ronie tanpa canggung, karena memang kami sudah akrab sekali, bahkan buatku Ronie kaya anakku sendiri. Ronie duduk menghadap punggungku pijatan demi pijatan kurasakan… tanpa kusadari sentuhan tangan lelaki muda itu terasa nikmat selayaknya sentuhan lelaki yang tengah membangkitkan birahi perempuan… aku mulai mendesah resah… percikan api birahi dengan cepat membakarku tanpa ampun…. sementara tanpa kusadari kimonoku sudah semakin melorot, terdesak tangan Ronie yang kini memijit daerah pinggangku, atas permintaanku sendiri untuk memijit lebih turun…. uuuhh… dadaku terasa sesak.. akibat tete’ku yang semakin mengencang…. aku ingin ada yang meremasinya… Sssshhh.. ooohhh… gilaaa… ngga tahaann… kupegang kedua tangan Ronie, tangan kiriku memegang tangan kirinya dan tangan kananku memegang tangan kanannya kutarik kedepan melingkari tubuhku dan kutangkupkan di buah dadaku…

” Eehh… tante…?” bisik Ronie bingung dari belakang tubuhku

” Ron… tolong remasi tete’ tante…” desisku resah… merasakan sentuhan tangan lelaki pada buah dadaku yg tengah mengencang…. Benar-benar hilang sosok Ronie yg sehari-hari adalah pacar Astari anakku.. yang ada dibenakku saat itu Ronie adalah lelaki muda bertubuh tegap… Ooouuh… Ronie mulai meremasi kemontokan buah dadaku…

” Yaaaaahh.. hhh…hhh… enaaaak Ronn.. ulangi lagi sayaaang.. oooohhh….” tubuhku menggeliat resah… kugapai kepala Ronie dan kutarik ke arah tengkukku yang terbuka karena rambutku kusanggul keatas… Ronie tak menolak dan melakukan permintaanku untuk menciumi tengkukku..

” Ciumi leher tante… hhhmmm..sssshhh.. yaaahh.. kecupin sayaaang.. aaaaccchh… sssshhh..” bisikan dan desah mesraku menuntun Ronie melakukan apa yg kuminta…Aku makin gemas, tubuhku gemetaran hebat… baju kimonoku tinggal menutupi tubuh bawahku karena tali pinggangnya masih terikat. Kubalikkan tubuhku, sejenak kupandangi wajah ganteng Ronie yang matanya terbelalak liar menatap nanar tubuh bagian depanku dengan mimik ngga karuan. Kulingkarkan kedua lenganku di lehernya dan dengan penuh gairah kusosot bibir manisnya… anak muda ini gelagapan menghadapi liarnya bibirku yang mengulum bibirnya dan nakalnya lidahku yang menggeliat menerobos masuk rongga mulutnya… Tapi insting lelakinya segera mengantisipasi, segera dapat mengatasi seranganku.

Baju seragam Ronie dengan cepat kulolosi dan… ooohh… dada yg gempal dan bidang dari salah satu tim inti basket di sekolahnya ini membuat gairahku semakin binal… Kudorong tubuh Ronie untuk rebah disofa… nafas jantannya mulai tak beraturan.. Mmm… pejantan muda ini mulai mengerang-erang dan tubuhnya menggelepar, tatkala bibir dan lidahku menjelajahi permukaan kulit dadanya, bungkahan dada jantannya kuremas dengan gemas.. Aksi bibir dan lidahku terus melata sampai ke pusarnya… Sssshhh… celananya tampak menggembung besar.. entah ada apa dibaliknya..? jantungku berdegup semakin kencang melihatnya… dan mataku terbelalak dibuatnya, sampai aku harus menahan nafas, ketika retsluiting celana abu-abu itu terbuka… kepala kemaluan jantan menyembul keluar dari batas celana dalamnya…. aku dengan tergopoh-gopoh karena tak sabar melorotin celana seragam sekalian dengan celana dalam putihnya sampai ke lutut Ronie… Ooooohhh my God..! teriakku dalam hati… menyaksikan batang kemaluan Ronie yang mengacung di antara pahanya… begitu macho, begitu gagah, begitu indah bentuknya… dengan kepala kemaluannya yang besar tampak mengkilat…

Tanganku terasa gemetaran ketika hendak menyentuh nya… Kembali tubuh Ronie menggerinjal kecil ketika tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… aku makin binal, kudekatkan wajahku untuk mengulum kepala kemaluan yang menggemaskan itu, sambil tetap tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… mendadak tubuh tegap itu meregang hebat diiringi erangan keras… dan bibirku yang setengah terbuka dan tinggal beberapa sentimeter dari kepala kemaluan itu merasakan semburan cairan hangat dengan menyebarkan aroma khas yg sangat kukenal dan kurindukan… apalagi kalo bukan peju lelaki… tanganku refleks mengocok batang kemaluan Ronie makin cepat sambil tanganku yang lain mengurut lembut kantung pelirnya…

Sementara kubiarkan peju yang sangat kental itu menyembur wajahku…. sesekali kusambut dengan lidahku… mmmm… rasa khas itu kembali dikecap oleh lidahku…Terus terang aku sempat kecewa, dengan bobolnya peju Ronie….Tapi beberapa saat batang kemaluan yang masih dalam genggamanku, kurasakan tak menyusut sedikitpun masih tetap keras… tanpa buang waktu, aku merangkak diatas tubuh Ronie yang menggelosoh di sofa… dengan posisi tubuhku jongkok mengangkangi tubuh Ronie, di atas kemaluan Ronie… kutuntun batang kemaluan perkasa yang masih belepotan peju itu kearah liang sanggamaku yang sudah basah kuyub dari tadi… wooohh… ternyata kepala kemaluan itu terlalu besar untuk masuk ke liang sanggamaku… Akhirnya dengan sedikit menahan perih, akibat otot liang sanggama yang dipaksa membuka lebih lebar.. kujejalkan dengan sedikit memaksa ke liang sanggamaku yang sudah tak sabar untuk segera melahap mangsanya….

” Iiiiihhh… bantu dorong sayang…. Oooooowwwwww…” Aku merengek panjang ketika sedikit demi sedikit amblas juga batang kemaluan Ronie menembus liang sanggamaku.. diiring rasa perih yang menggemaskan…

” Sssshhh… mmmhh… ayun pinggulmu keatas sayaaang..” kembali aku menuntun pejantan muda ini untuk memulai persetubuhan…

” Aaaww… aahh… ooww.. pelahan duluuu sayaaang… burung kamu gede banget… perih tauuk..” aku ngedumel manja… ketika Ronie mengayun pinggulnya kuat sekali… Terasa tubuhku bagaikan baterai yang baru dicharge… aliran energi aneh itu mengalir menyebar ke seluruh tubuhku… membuat aku semakin binal memainkan goyangan pinggulku… sementara Ronie ternyata cukup cerdas menyerap pelajaran, bahkan mampu segera mengembangkan… dengan posisi tubuhku diatas, membuatku sangat cepat mencapai orgasme… entahlah atau karena besarnya batang kemaluan Ronie yang menyungkal rapat liang sanggamaku, sehingga seluruh syaraf dinding liang sanggamaku rata dibesutnya… Luar biasa..! dalam waktu kurang dari lima menit setelah orgasmeku yg pertama, kembali aku tak dapat menahan jeritku mengantar rasa nikmatnya orgasme yang kedua… dan… hhwwwoooo…. aaaammmpppuuunnn..!!!! Rupanya Ronie tak mampu menahan lebih lama bobolnya tanggul pejunya… tubuhku dihentak-hentaknya kuat sekali… seakan ingin memasukkan seluruh batang kemaluan sepeler-pelernya ke liang sanggamaku… diiringi erangan mirip suara binatang buas sekarat…

Aku menangis menyesal setelahnya, berkali-kali Ronie memohon maaf atas kejadian yang terjadi siang itu…Tapi anehnya gairah seksualku yang meletup-letup tak terbendung itu, mereda setelah kejadian siang itu… Aktivitas berjalan normal kembali, tapi sudah hampir seminggu ini, aku tak pernah melihat Ronie datang ke rumah.

” Dia lagi sibuk Ma… dapat tugas antar jemput saudara sepupunya yang masih SD…” Jawab Astari ketika aku menanyakan tentang Ronie yang tak pernah muncul… Terus terang saja, sejak kejadian itu… pikiranku sangat kacau, disisi aku sebagai Mama Astari aku sangat menyesal dan sedih atas kejadian itu, tapi disisi aku sebagai seorang wanita yang masih punya hasrat dan naluri betina yang utuh… aku tak ingin melupakan kejadian itu… bahkan aku berharap kejadian itu terulang lagi….

Hampir sebulan lamanya Ronie tak muncul ke rumah, akupun maklum, Ronie sebagai remaja hijau, tentu mengalami shock dengan kejadian itu… disitulah muncul rasa berdosaku kepada Ronie dan Astari anakku… Tapi jujur sejujurnya ada terselip rasa rinduku memandang wajah anak muda itu… Aku sering mengintip dari balik gordiyn jendela, saat Astari turun dari boncengan Ronnie… kenapa hatiku berdebar-debar dan sedikit desiran birahiku menggelegak…

Pikiranku makin kacau… setelah beberapa kali kulihat Ronnie mulai nongkrong lagi dirumah… kulihat Ronnie masih salah tingkah di depanku, walaupun aku sdh berusaha menetralisirnya.. iiihhh tapi buat aku… otakku jadi ngeres begitu melihat wajah Ronnie yg innocent… betapa tidak… terbayanglah ekspresi wajahnya ketika tengah menyetubuhiku beberapa waktu yang lalu… ekspresi wajahnya yang begitu sensual dimataku pada saat dia melepas semburan spermanya… suara erangan dan nafas birahinya seakan nempel ditelingaku… maka kekacauan inilah yang mendorongku menerima tawaran Adrian seorang rekan bisnisku untuk makan siang di sebuah hotel berbintang dan setelahnya akupun tak menolak ketika ia mengajakku memasuki sebuah president suite di hotel itu, dengan alasan untuk mencari ketenangan membicarakan pekerjaan… walaupun yang terjadi kemudian adalah rayuan-rayuan mautnya yang kusambut positif… dari remasan tangan… kecupan bibir… jilatan lidahnya yang nakal pada leherku… desah resahku… remasan gemasku… dan… lolosnya pakaian kami satu persatu… payudaraku yang mengencang akibat remasan tangan dan cumbuan bibirnya… hhmmm… jilatannya pada clitorisku… batang kemaluannya yang berbentuk indah, perkasa… memaksa bibirku untuk mengulumnya… ooowww… nikmat hentakan tubuhnya menekan tubuhku… sodokan kejantanannya pada liang sanggamaku mengantarkan kenikmatan orgasmeku dua kali berturut-turut… 2 jam kami melewatkan waktu untuk making love siang itu, kekaguman Adrian atas permainan ranjangku yang begitu hot dan lihay… beberapa kali aku berkencan ranjang dengan Adrian lelaki tinggi besar berstyle dandy… kepuasan sex kuraih dengan sempurna dengan kelihayannya dia memperlakukan perempuan di atas ranjang… tapi bayangan sensual wajah bocah innocent bernama Ronnie itu tak juga sirna…

Sampai pada suatu malam hujan turun dengan deras… rupanya malam itu Ronnie sedang dirumah, berbincang dengan Astari di ruang tamu… sedangkan aku nonton TV diruang belakang…

” Ma, mas Ronnie mo pulang tuh…” terdengar suara Astari dari belakangku…

” Eh… pulang..? hujannya gede banget, tunggu reda aja.. jauh lagi rumah Ronnie..” jawabku spontan sambil bangkit dari dudukku berjalan ke ruang depan… kulihat jam memang sudah terlalu malam untuk bertamu…

” Ronn… ujan begini lebat, udah malem lagi… ntar ada apa-apa di jalan… sudah deh Mama kasih kamu nginep disini, tidur di kamar atas, besok subuh Mama bangunin kamu…” ujarku, terdorong rasa sebagai orang tua yg khawatir kepada anaknya… Ronnie menunduk salah tingkah ga berani menolak..

” Tapi Ronnie harus telpon rumah dulu tante…” sahutnya pelan… dan akhirnya justru aku yang menelpon kerumah Ronnie memintakan ijin orang tua Ronnie, yang ternyata menyambut baik…

Malam semakin larut, sementara hujan semakin hebat diserta guntur dan kilatan petir… Aku tergolek di ranjang, tak dapat memicingkan mata… Siang tadi kembali Aku melewati kencan ranjang dengan Adrian…. tapi… entah kenapa kali ini… susah sekali aku mencapai orgasme… sampai 2 kali Adrian menumpahkan spermanya… sedangkan aku tak sekalipun.. Gilaaa… kenapa justru sekarang wajah bocah itu yang terbayang-bayang di malam dingin ini… iiihhh… birahiku meletup- letup gila… ampuuunn… sekarang bocah itu ada dilantai atas… tunggu apa lagi..??? mmmm… bisikan setan.. aku tak mampu menahan tubuhku yang berjalan manapaki tangga… dan kini aku di depan pintu kamarnya… tanpa mengetuk kubuka pintu… ternyata Ronniepun masih belum tidur…

” Ronnie kamu belum tidur..?” tanyaku gagap… kenapa aku jadi salah tingkah sekarang…?

” Tante juga belum tidur…?” sahutnya… iiihh… jawabannya begitu tegas… aahh… siapa yg menuntunku duduk diranjangnya… mmm… darahku berdesir ketika tahu mata Ronnie menatap dada montokku yg memang tak mengenakan bra, sehingga puting susuku tercetak menonjol dibalik gaun tidurku yg memang berbahan tipis, sehingga semburat kecoklatan aura puting susukupun nampak jelas, kembali aku kehilangan kontrol… dan entahlah bagaimana awalnya dan siapa yang mengawali…. bibirku sudah dalam lumatan bibir Ronnie… sergapan nafsu birahiku tak dapat kuelakkan dan remasan lembut tangan lelaki muda pada buah dadaku melambungkan gairah seksualku… gelitikan lidah nakalnya pada puting susuku membuat tubuhku menggeliat erotis disertai erangan manjaku… satu demi satu pakaian beterbangan meninggalkan tubuh kami… aku begitu hot dan bergairah mencumbui tubuh pacar anakku itu… tapi aku sudah melupakan siapa Ronnie, yang aku tahu Ronnie adalah lelaki muda yang siap memenuhi kebutuhanku ooowww… aku tak menyangka kali ini Ronnie lebih lihay dan lebih berinisiatip melakukan serangan, sampai aku hampir tak percaya ketika Ronnie menyurukkan wajahnya di selangkanganku dan mencumbui bibir kemaluanku…

” Ronnn…. sssshhh…. kamu piiiinteer sekarangg… ooohh.. ammpuunn nikmaaaatnyaa…” desahku merasakan nikmat cumbuan lidahnya pada clitorisku, membuat Ronnie tambah semangat… Ketika permainan yang sesungguhnya berjalan… sebagai wanita dewasa yang telah berpengalaman menghadapi gairah lelaki… aku dibuat megap-megap menghadapi serangan pejantan muda ini… hajaran batang kemaluannya yang perkasa pada liang sanggamaku tak kenal ampun… membuat aku mengerang merintih bahkan menjerit setengah histeris… untung suara hujan yang lebat di timpa suara guruh meredam suaraku…. luluh lantak tubuhku dihajar aksi ganas Ronnie… tapi buatku adalah sebuah sensasi seksual yg sangat luar biasa.. yang mengantarku meraih dua kali kenikmatan orgasme…. tubuh telanjang kami terkapar lunglai di ranjang yang kusut spreinya, tak ada sesal kali ini…

“Ronnie jujur sama Tante… setelah waktu itu kamu maen sama perempuan mana…?” tanyaku datar dg nada dingin.

” Aaah… nggak, sekali-sekalinya cuma sama Tante Arsanti..” jawab Ronnie agak gugup menyebut namaku..

” ga mungkin, kamu mendadak bisa begitu canggih mencumbu Tante…?” desakku… dan akhirnya Ronnie menceritakan pengalaman setelah pengalaman seksualnya yang pertama, Ronnie banyak nonton blue film dan otak cerdasnya banyak menyerap gaya dan cara bercinta dari film-film biru yang ditontonnya…

“Mmmmm… kaciaaan… kamu tentunya kangen mencumbu Tante ya sayaang…?” bisikku sambil kudaratkan kecupanku ke bibirnya, tubuhku bergerak menindih tubuh atletis Ronnie, tubuhku direngkuh dan tubuh kami menempel ketat… kuajarkan permainan lembut… mmmm… anak pintar ini dengan cepat menguasai permainan baru yg kuajarkan… dengan telaten setiap inchi tubuhku dirambahnya dengan remasan, gerayangan tangannya yang nakal… jilatan dan kecupannya merambah setiap bagian tubuhku yang sensitif… tubuhku menggeliat erotis… kadang menggelepar liar… rintihanku mulai terdengar… tak dapat kutahan desah gelisahku… diselingi jeritan gemas…

” Ayo sayaang…hh..hhh… Tante udah ga tahan…” bisikku lembut, setelah aku nggak tahan lagi merasakan kuluman dan jilatan Ronnie pada clitorisku…

” Aoooouuuhhh… Roooonnn….hhh…hhhh…” suaraku terdengar bergetar memelas… mataku meredup sayu menatap wajah imut Ronnie, manakala liang sanggamaku untuk kesekian kalinya ditembus batang kemaluan bongsor milik Ronnie, namun kali ini Ronnie menekan pelan sekali, sehingga terjadi gesekan nikmaaaaat yang lama sekali… sehingga kedua kakiku yang melingkari pinggangnya seakan mengejang, tak tahan menahan kenikmatan yang luar biasa…

“Enaaak Tante..?” bisiknya lembut sambil tersenyum manis, ketika liang sanggamaku sudah tak ada tempat lagi bagi batang kemaluannya… iiih… menggemaskan bibirnya… aku menjawab dengan mengangkat alis… bibirku kembali menyambar bibir yang menggemaskan itu… ciuman dan kuluman panjang dimulai, dorongan gelegak birahi kami memang luarbiasa, permainan semakin panas dan semakin liar, ekspresi kami total menyembur tanpa kendali…kembali tubuhku dihentak-hentak oleh tenaga perkasa Ronnie dengan garangnya… jeritan dan rintihanku silih berganti ditimpa dengus nafas birahi ronnie yang mengeros buas…

“Aaaahhhkkk…. Roonnnie ssaayaang…. aammppuuunn…ooowww… ssshhh… niiikmaaat banggeet ssiih…???” rengekku dengan suara memelas, namun tarian pinggulku dengan gemulai masih dengan sengit mengcounter rajaman batang kemaluan Ronnie di liang sanggamaku sehingga terdengar bunyi berceprotan di selangkanganku… gillaaa.. susah untuk kuceritakan sensasi malam itu…

“Tante…hhh…hh.. Ronnie ampiir… sssshhh..” desis ronnie dengan suara bergetar… matanya garang menatapku… iiihhh mengerikan, tapi aku sngat menyukai ekspresi ini

” Ayoooo sayaanggg…. semburkan bareng Tante… ooouuuuhhhh….!!” Ya ammppuuun… mengerikan sekali… tubuhku terguncang-guncang hebat, akibat hentakan tubuh Ronnie menghajar liang sanggamaku pada detik puncak… mulutku menganga lebar tanpa suara, tanganku mencengkeram erat pinggiran ranjang…. dan entah apa yang terjadi, karena pada saat itu orgasmekupun meletus dahsyat…

Entah berapa lama suasana hening, hanya suara nafas kami terengah-engah yg terdengar…. hujan di luar rupanya sudah berhenti juga….

” Tante… boleh Ronnie pulang sekarang, hujan kayanya sudah berhenti…” suara Ronnie memecah keheningan…

” Hmmm… sebenernya Tante masih pingin meluk kamu, pingin cumbuin kamu sayaaang… ini ditinggal buat Tante aja yah..?” sambil kuremas batang kemaluan yg masih sembab…

“Titit kamu buat Tante aja ya sayaang… jangan buat orang lain… apalagi buat Astari… awas Tante bisa marah besar..” sambungku dengan nada serius… Ronniepun mengangguk tegas. Kuantar Ronnie ke garasi tempat motornya diparkir, kubiarkan tubuhku bugil, telanjang bulat…. Gila… digarasi masih sempat kulakukan oral sex… kutelan habis peju segar yg menyembur di dalam mulutku…. Capek yang luar biasa kurasakan setelahnya, badan rasanya lengket-lengket dan bau gak jelas…

]]>
http://www.difunde.com/gairah-liar-wanita.html/feed 0 http://www.difunde.com/seks-dengan-si-kembar.html http://www.difunde.com/seks-dengan-si-kembar.html#comments Mon, 23 Apr 2012 17:49:29 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=29

Badan Adi terasa pegal-pegal pagi itu, setelah kemarin malam tiba di rumah bibinya di Tasikmalaya. Perjalanan dari Jakarta dengan bis selama lebih dari lima jam membuatnya lelah. Karenanya pagi itu bibinya menyuruhnya untuk dipijat guna melemaskan otot-ototnya.

Semula Adi menolak karena dia tidak terbiasa dipijat. Tetapi setelah dia tahu yang akan memijatnya adalah Dea, perempuan yang setiap pagi membantu bibinya sehari-hari dan menyiapkan segala keperluan sebelum kepasar untuk berjualan, akhirnya Adi berminat juga. Sebagai anak SMA, pikiran-pikiran kotor tentang dipijiti perempuan melintas dibenaknya, siapa tahu dapat bonus setelah dipijat.

Sebelumnya Adi telah melihat Dea pagi itu ketika mempersiapkan keperluan bibinya yang akan berjualan di pasar. Dea perempuan berusia dua puluhan tahun, berwajah sangat lumayan dengan kulitnya yang kuning langsat dan tubuhnya yang padat berisi, terlihat dibalik kebaya yang dipakainya. Dea bukanlah pembantu, tugas utamanya hanya menemani sambil menunggui rumah ketika bibinya yang janda berdagang dipasar. Ia masih kerabat jauh dari bibinya, sedangkan suaminya sedang bekerja di Arab Saudi.

Kini sambil tengkurap dilantai beralaskan kasur tipis dengan hanya mengenakan kaus singlet dan kain sarung, Adi sedang menikmati pijatan Dea. Jemari tangan perempuan mulai memijati betisnya yang kaku. Pijatannya lembut tapi cukup bertenaga.

“Pijatan kamu enak, belajar dimana ?” tanya Adi membuka pembicaraan
“Ah, tidak belajar dari mana-mana, bisa sendiri” jawab Dea dengan logat Sunda yang kental.
“Oh begitu” kata Adi sambil terus merasakan pijatan
“Sudah lama ikut Bi Karta?” tanyanya lagi
“Sudah sekitar tujuh bulan” jawab Dea “Sejak Kang Sudin suami saya kerja ke Arab Saudi”
“Sudah lama juga ya” timpal Adi ” Kang Sudin suka pulang ?”
“Belum pernah, habis dikontraknya satu tahun sih. Jadi satu tahun baru boleh pulang” jelas Dea.
“Waduh lama juga ya. Apa ngga kesepian ?” tanya Adi memancing
“Yah, gimana lagi. Namanya juga cari rejeki” jawab Dea yang jemarinya mulai memijati paha Adi.

Dipijatinya paha itu mulai dari belakang lutut terus keatas menyusup kebalik kain sarung yang dipakai Adi. Dea agak jengah ketika tangannya menyusup hingga pinggul Adi dan menyadari pemuda itu tidak pakai celana dalam. Mukanya agak memerah tetapi tetap diteruskan pijatannya.

Bahkan sambil merenggangkan kedua paha Adi, tangannya menyusuri pijatan hingga mendekati pangkal paha. Dan karena licin oleh minyak, jemarinya nyelonong hingga menyentuh biji peler Adi.

“Aduh jangan disodok dong !” seru Adi pura-pura kaget.
“Aduh maaf, licin sih” ucapnya menahan malu. “Habis aden tidak pakai celana sih”
“Eh maaf, saya pikir biar semuanya kepijat” jawab Adi nakal.

Akhirnya setelah bagian paha Dea pindah kebagian pinggang dan Adi membuka kaus singletnya ketika pijatan itu terus kepunggung dan pundaknya.
Pijatan Dea memang terasa enak buat Adi atau karena yang memijatnya perempuan. Tapi yang terang selusuran jemari berminyak disekujur badannya telah membuat Adi merem-melek bersensasi, hingga tanpa sadar secara perlahan batang kontolnya menegang. Hal ini yang membuatnya gelagapan ketika Dea menyuruhnya terlentang untuk dipijat bagian depan.

“Eh bagian depannya juga ya?” tanyanya gugup.
“Iya, biar sekalian” jawab Dea terdengan merdu di telinga Adi.

Dengan perlahan diputar tubuhnya celentang, sementara tangannya sibuk membereskan kain sarungnya agar acungan batang kontolnya tidak terlihat.
Sebenarnya Dea tahu apa yang terjadi, tapi ia pura-pura tak melihat dan sambil tersenyum kecil meneruskan pijatannya mulai dari kaki lagi.

Sambil berbaring Adi berusaha bersikap tenang dan menikmati pijitan Dea sambil menatapi wajah Dea yang menunduk.Wajah Dea cukup menarik, rambutnya yang panjang digelung kebelakang, hidungnya bangir, bibirnya yang merah alami dengan bulu-bulu hitam halus diatasmya, mengingatkan Adi pada penyanyi dangdut Iis Dahlia. Demikian juga dengan tangannya berbulu halus.

Dan sesuatu yang menyembul dibalik baju kebayanya membuat Adi semakin naik spaning. Baju kebaya dengan belahan yang cukup rendah telah menampilkan juga belahan buah dada Dea yang putih. Ditambah dengan posisi Dea yang berlutut dan membungkuk, hingga belahan itu semakin mencuat. Apalagi kedua tangannya yang sedang memijat menekan buah dadanya dari samping sehingga gunung kembar yang padat berisi itu makin membusung.

Adi menelan ludah melihat itu sehingga membuat batang kontolnya semakin tegang, dan dengan malu-malu diberesi kain sarungnya agar menyamarkan tonjolan yang terjadi. Adi semakin gelisah ketika tangan Dea mulai merambahi pahanya. Disamping semakin jelasnya pemandangan pada buah dada itu, juga karena pijatan jemari Dea semakin mendekati pangkal pahanya.

Dea juga telah melihat perubahan itu sejak tadi. Perlahan hasratnya sebagai perempuan yang ditinggal lama oleh suami, bangkit. Tapi ada keraguan di dirinya, antara hasrat yang mulai menggelora dan kesetiaan kepada suami. Sambil menimbang-nimbang, jemari tangannya terus memijati kedua paha Adi yang kain sarungnya telah tersingkap keatas hingga hanya menutupi pangkal pahanya.

Adi pemuda delapan belas tahun yang masih hijau soal seks. Pengetahuan yang didapatnya cuma dari cerita teman, buku dan VCD porno. Hingga menghadapi situasi itu membuat dirinya grogi. Mau menerkam dia takut Dea berteriak dan menuduhnya mau memperkosa. Dia belum bisa melihat dan membedakan reaksi seorang perempuan.

Akhirnya dia memilih diam dan terus menikmati pijatan Dea yang kini makin keatas menyusup kebalik kain sarungnya. Jemari Dea memijiti pinggul dikiri kanan pangkal paha Adi. Hal mana membuat Adi semakin blingsatan apalagi secara sengaja atau tidak jemari Dea sesekali menyentuh bulu-bulu jembutnya.

“Manuknya bangun ya?” tanya Dea akhirnya sambil tertawa kecil menyadari ‘burung’ diselangkangan pemuda itu semakin mengacung.

Hasratnya rupanya telah mengalahkan kesetiaan. Tapi seperti juga Adi, Dea masih ragu-ragu terhadap reaksi pemuda itu.

“Ehh..iya” jawab Adi gelagapan ” Habis pijitan kamu enak sekali sih”
“Ah masa, tapi itu artinya aden normal” kata Dea menimpali
“Eceu ngga apa-apa, ngga tersinggung ?” tanya Adi
“Ah nggak apa-apa, saya pan sudah biasa lihat punya suami” jawab Dea makin berani.
“Oh iya” kata Adi juga semakin berani.
“Ngomong-ngomong bagus mana punya saya sama punya Kang Sudin ?” tanyanya lagi.
“Ah mana saya tahu, sayakan belum pernah lihat punya aden” jawab Dea memancing.
” Kalau mau lihat, ya dibuka saja” kata Adi sambil menyibakkan kain sarungnya hingga mencuatlah batang kontol yang telah sepenuhnya ngaceng.

Dea sedikit terkejut tapi dilihat juga batang kontol yang sudah tegang itu.

“Bagaimana ?” tanya Adi bernafsu.
“Eeee….nggg…. sama saja bagusnya. Cuma punya aden lebih besar dan panjang” jawab Dea sambil tertawa kecil dan tak sadar jemarinya yang memang berada disekitar pangkal paha itu mulai membelai bulu-bulu jembut keriting yang mulai tumbuh subur.

“Kata orang, perempuan lebih suka burung yang gede” pancing Adi berani.
“Ah, kata siapa ” jawab Dea tersipu sambil matanya tetap menatap batang kontol pemuda itu yang mengangguk-angguk, sementara itu jemarinya masih membelai bulu jembut menghitam dan nafasnya mulai memburu. Heran juga dia, masih bocah tapi burung nya sudah sebesar itu.

Memang batang kontol Adi lebih besar dan panjang dari kepunyaan Sudin suaminya. Dan Dea juga telah mendengar dari Iis sudaranya, semakin besar batang kontol lelaki semakin nikmat hujamannya dirasakan oleh memek perempuan.

“Ya kata orang, saya juga belum tahu” jawab Adi
“Belum tahu. Memang aden belum pernah melakukan ?” tanya Dea antusias.
“Belum, sayakan masih perjaka ting-ting nih. Ajarin dong” kata Adi semakin berani.
“Ah aden bisa saja, diajarkan apa sih ?” tanya Dea pura-pura bodoh.
“Diajarin bagaimana melakukannya ” kata Adi yang tangannya sudah memegang tangan Dea dan mendorongnya agar menyentuh batang kontolnya.

Dan Dea menuruti dengan membelai perlahan otot tegang itu.

“Benar aden belum pernah?” tanya lagi.
“Berani sumpah,” kata Adi meyakinkan ” melihat perempuan telanjang saja saya belum pernah”

Dea semakin tergerak, jemarinya semakin berani meremasi batang kontol Adi, yang membuat pemuda itu semakin bernafsu. Demikian juga dengan Adi, tangannya mulai berani merabai buah dada Dea dan meremasnya. Dea mengelinjang menikmati remasan itu. Telah lama ia tidak menikmati sentuhan lelaki.

Dan Adi semakin berani, jemarinya mulai membuka satu-persatu peniti di baju kebaya Dea yang telah pasrah. Mata Adi berbinar ketika peniti itu telah lepas semua dan buah dada ranum yang masih terbungkus oleh BH semakin menonjol keluar.

Segera saja ia bangkit duduk dan memegang pundak Dea yang juga bersimpuh pasrah. Dipandanginya seputar belahan putih mulus yang juga ditumbuhi bulu-bulu halus, kontras dengan kulitnya yang putih. Diusap-usapnya belahan dada itu perlahan yang membuat Dea semakin bergetar dan tangan Adi terus naik ke leher hingga ke dagu.
Diangkatnya dagu itu hingga muka Dea menengadah. Matanya terlihat pasrah namun menyimpan hasrat yang mengelora. Bibirnya merekah basah, mengundang untuk dikecup. Maka diciumnya bibir merah merekah itu dengan bernafsu.

Dea pun menyambut ciuman itu dengan hangat, sementara tangannya makin keras meremasi batang kontol Adi. Dan tangan Adi juga tidak tinggal diam, setelah membuka baju kebaya Dea, segera saja tangannya membuka pengait BH yang membungkus buah dada yang montok itu. Maka mencuatlah sepasang gunung montok yang sedari tadi menarik minat Adi.

Dea secara refleks semakin meremas dan mengocok batang kontol Adi ketika pemuda itu dengan bernafsu meremasi buah dadanya yang telah terbuka. Sementara itu ciuman mereka semakin bernafsu. Meski belum pernah bercinta dengan perempuan tapi soal ciuman dan rabaan, Adi cukup pengalaman. Hanya sebatas itulah yang dapat dilakukan bersama pacarnya, Dewi.

Adi mengeluarkan semua jurus menciumnya, lidahnya menjulur menjelajah ke dalam mulut Dea. Demikian juga dengan Dea, berusaha mengimbangi dengan kemampuan yang dimiliki. Melihat kemampuan pemuda itu, Dea ragu akan pengakuannya belum pernah bercinta dengan perempuan. Namun nafsu yang kian menggebu menghapus semua keraguannya, yang penting hasratnya harus tertuntaskan.

Setelah puas menciumi mulut Dea, perlahan mulutnya mulai menyusuri leher perempuan itu terus kebawah ke belahan dadanya yang ranum. Dea mendesah ketika ujung lidah Adi mulai menjilati seputar buah dadanya yang ranum, terus ke putingnya yang semakin mengeras dan menghisapnya seperti bayi.

“Ahh.. den, gelii.. ” rintih Dea.

Adi dengan bernafsu terus meremasi dan menghisap buah dada ranum yang itu. Dikeluarkan semua jurus bercinta yang dia ingat, untuk memuaskan hasratnya yang kian menggebu. Baru pertama kali itulah ia menciumi buah dada wanita secara utuh. Dengan Dewi pacarnya hanya sebatas meraba dan meremas, itu pun masih berpakaian.

Buah dada Dea yang padat berisi memang sangat menarik hasrat lelaki. Bentuknya padat berisi, tidak terlalu besar tapi montok. Ditambahi dengan bulu-bulu halus disekitarnya menambah daya tarik alias semakin nafsuin. Demikian juga dengan Adi dengan tidak puas-puasnya mulut dan tangannya secara bergantian meremasi dan melumati sepasang gunung montok nan lembut.

Dea dengan penuh gairah menikmati semua sentuhan itu. Dan Adi yang batang kontolnya terus dirangsang remasan tangan Dea, secara perlahan nafsunya semakin tinggi. Kocokan dan remasan itu dirasakan semakin nikmat sehingga batang kontolnya semakin tegang dan sensitif.

Seketika Adi bangkit berlutut dan melepaskan kulumannya dari buah dada Dea. Batang kontolnya yang telah sepenuhnya tegang itu ditempelkan diantara buah dada Dea yang montok dan digesek-gesekkan turun-naik . Dea mula-mula bingung, tapi kemudian mengimbangi dengan menekan kedua buah dadanya hingga batang kontol itu terjepit diantaranya.

Hal ini semakin menambah kenikmatan bagi Adi yang semakin giat mengesekkan batang kontolnya. Demikian juga dengan Dea yang baru pertama melakukan posisi itu, dirasakan ada sensasi lain batang kontol lelaki mengesek-gesek diantara belahan dadanya. Sementara itu Adi juga merasakan sensasi yang sama, sehingga tidak beberapa lama kemudian Adi merasa bahwa ia akan segera orgasme, maka dipercepat kocokannya dan tanpa bisa dicegah muncratlah cairan hangat dari lubang kontolnya yang masih terjepit diantara buah dada Dea.

“Ahc…!” rintih Adi sambil melepaskan hasratnya.
“….! ..…! ……!”

Sesaat Adi merasa persendiannya meregang oleh perasaan nikmat yang beberapa detik dirasakan.
Dea terkejut tidak menyadari pemuda itu telah orgasme. Dea baru sadar ketika dadanya yang menjepit batang kontol itu dilumuri cairan hangat yang sebagian lagi memerciki leher dan dagunya.

“Hi hi.. sudah keluar ya den ? ” kata Dea terkikik melihat batang kontol pemuda itu menumpahkan lahar panasnya diantara jepitan buah dadanya.

Tapi jepitan buah dadanya pada batang kontol itu tidak dilepaskan, Dea juga merasakan nikmat ketika seputar dadanya terasa hangat oleh percikan cairan putih kental yang dikeluarkan kontol pemuda itu

“Habis jepitan kamu enak sekali” jawab Adi menutupi rasa malunya.

Sebenarnya posisi itu dilakukan reflek saja ketika dirasakan mendekati orgasme. Dia tiba-tiba teringat film porno yang pernah ditonton dan ingin mempraktekkannya, dengan hasil nikmat yang luar biasa.

Keduanya kemudian terduduk. Dea sibuk membersihkan lumuran sperma didadanya dengan melap pada kainnya yang sudah terlanjur terkena. Nafasnya masih memburu. Sementara Adi masih mengatur nafasnya sambil membersihkan batang kontolnya yang masih separuh tegang. Nampak keduanya masih bernafsu untuk meneruskan ronde selanjutnya.

Terutama Dea, yang nafsu birahinya belum terlampiaskan, yang lalu bangkit berdiri dan segera membuka kainnya sambil mengeraikan rambutnya yang panjang. Adi penatap perempuan itu yang cuma memakai celana dalam. Tubuh telanjang Dea memang semakin terlihat menggairahkan.

Postur tubuhnya sedang saja dengan kulit putih khas gadis Sunda. Lekukan-lekukan ditubuhnya itulah yang membuat birahi lelaki langsung “konak”. Buahdadanya menggantung padat berisi dengan puting kemerahan yang sudah berdiri tegak mengacung di kedua puncaknya, serta pinggang yang ramping dan pinggul yang montok.
Kakinya dihiasi paha yang berisi dan betis yang ramping mulus. Semuanya, meski Dea gadis desa, terkesan terawat.
Apalagi ketika Dea membuka celana dalamnya, semakin jelasnya keseksian perempuan itu. Terpampanglah dengan jelas pangkal paha dengan bulu-bulu jembut menghitam lebat, kontras dengan kulitnya yang putih. Bulu-bulu jembut itu tidak hanya tumbuh di seputar pangkal pahanya tapi merebak tipis keatas hingga ke sekitar pusarnya.

Adi menelan ludah, perlahan batang kontolnya mulai bangkit. Hal itu memang yang dimaksud Dea untuk segera menaikkan nafsu pemuda itu.

“Tubuh kamu bagus betul, mengairahkan” kata Adi sambil menelan ludah dan segera bangkit berdiri hingga mereka saling berhadapan.

Batang kontol Adi yang telah tegang mengacung bebas yang segera ditangkap tangan Dea dan diremas-remasnya. Demikian juga dengan Adi. Tangannya segera menggerayangi buah dada ranum yang mempesonanya. Sementara tangan yang satunya menyusuri ke selangkangan Dea. Dirabanya bulu-bulu jembut yang lebat dan hitam itu. Dan sesuatu dibaliknya pastilah lebih menggairahkan.
Dea mendesah ketika jemari pemuda itu mulai merambahi bagian-bagian sensitifnya, lalu mereka saling berciuman kembali untuk semakin menaikkan nafsu masing-masing.

“Oh den….., terus den…ah..!” rintih Dea kian bernafsu ketika jemari Adi mulai menyusup ke selangkangannya dan menyentuh bibir memeknya yang telah basah.

Dengan ujung jarinya disusupkan ke belahan memek Dea yang telah merenggangkan kedua pahanya.

Kembali Adi ingin mempraktekkan film porno yang pernah ditontonnya. Disuruhnya Dea untuk berbaring terlentang sedangkan ia berada diatasnya. Kepalanya tepat diatas selangkangan Dea dan selangkangannya diatas kepala Dea.
Dea mula-mula bingung. Didepan mukanya batang kontol yang mengacung menggantung tegang seolah mau menghujamnya. Dengan polos batang kontol itu cuma diremas-remas. Tubuh Dea bergetar ketika dirasakan tangan, mulut dan lidah Adi mulai menjelajahi bibir memeknya dengan penuh nafsu.

Memang Adi mulai merambah lembah di pangkal paha wanita itu. Disibakkannya bulu-bulu jembut keriting yang melingkari lubang memek di selangkangan Dea. Matanya nanar melihat kemaluan perempuan untuk yang pertama. Belahan itu terlihat lembab dan ketika dengan jemarinya dikuakkan, terlihatlah memek yang putih kemerahan telah basah karena lendir birahi. Dengan tidak sabar dicium dan dijilatinya belahan itu. Harum.

“Ah…den, geli….” Rintih Dea menikmati sentuhan lidah pada memeknya yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Sudin suaminya dalam bercinta tidak memakai teknik macam-macam, mencium bibir, meraba dada, lalu langsung memasukan batang kontol ke dalam memeknya. Dan gayanya itu-itu juga, Sudin diatas, Dea dibawah. Beberapa menit kemudian Sudin keluar tanpa memperdulikan apakah istrinya juga puas. Selama Dea menikah dia belum pernah merasakan dan tahu tentang orgasme.

Karena itu apa yang dilakukan Adi terhadapnya merupakan pengalaman pertama yang sangat menggairahkan. Sekarang bukan Dea yang mengajari Adi tapi sebaliknya Adi yang pegang kendali.

‘Ayo dong De, manukku dihisap” kata Adi ketika dirasakannya Dea hanya memegang dan meremasi kontolnya saja.

Dea tertegun, ia belum pernah melakukannya, tapi keinginan tahunya lebih besar untuk mencoba. Perlahan didekatkan batang kontol dalam genggaman tangannya yang telah tegang itu k emulutnya yang terbuka. Terasa asing ketika kepala kontol yang keras dan kecoklatan itu menyentuh bibirnya.

“Pakai lidahnya De, jilati” perintah Adi.

Dea menuruti, ujung lidahnya perlahan dijulurkan menyentuh kepala kontol dan mulai menjilati.

“Ah.. ya terus De begitu, nikmat euy!” desah Adi diantara kesibukannya merambah hutan lebat berdanau hangat.

Sentuhan lidah Dea terasa nikmat, tapi Adi ingin yang lebih hot. Maka diturunkan pinggulnya hingga batang kontolnya itu semakin masuk kemulut Dea.
Dea menyambutnya dengan membuka mulutnya lebih lebar hingga kepala kontol yang besar itu masuk semua ke dalam mulutnya yang kecil. Digunakan lidahnya untuk mengelitik dan menghisap kepala kontol itu yang membuat Adi menggerinjal kenikmatan.

Dea ternyata cepat belajar. Kini mulut dan lidahnya semakin aktif mengulum dan menjilati batang kontol pemuda itu, meski masih kaku tapi tetap dirasakan Adi nikmatnya luar biasa. Dea juga merasakan sensasi lain dalam melakukannya, mengingatkannya sewaktu mengulum es lilin, disamping juga nikmat yang dirasakan dari jilatan lidah Adi di lubang memeknya.
Mulut mereka terus melakukan tugasnya masing-masing. Keduanya sama-sama belum pengalaman melakukannya, karenanya buat mereka sensasi yang dirasakan sangat luar biasa.

Adi yang berencana hanya dua hari di rumah bibinya bertekad selama mungkin tinggal dirumah bibinya untuk dapat terus bercinta dengan perempuan yang telah membuatnya kepelet. Sepuluh kali sehari juga dia sanggup melakukan. Dia merasa tidak rugi keperjakaannya hilang oleh perempuan ini.

Demikian juga dengan Dea, pengalaman yang tengah dialami kini telah membuatnya mabuk kepayang. Belum pernah selama ini dia merasakan nikmat yang sangat mengebu saat bercinta seperti sekarang. Kulumanan dan jilatannya pada batang kontol dan lubang memeknya yang dijilati mulut pemuda itu membuat seluruh tubuhnya bergetar dialiri setrum kenikmatan yang memabukkan. Hingga gairahnya semakin meninggi dan tanpa disadari orgasme yang belum pernah dirasakan melandanya.

“Aduh gusti..! Achh..!” desahnya parau ketika dirasakan sesuatu didalam memeknya berdesir-desir dan menjalar keseluruh tubuhnya mendatangkan kenikmatan luar biasa yang belum pernah dirasakan. Tiba-tiba tubuh Dea menjadi sangat sensitif mengerinjal kegelian menerima jilatan mulut Adi, hingga ditolaknya tubuh pemuda itu dari atas tubuhnya.

“Hi..hi geli ah!…” desisnya menahan tawa.

Adi bingung menanggapi kelakuan Dea, dia juga sama bodohnya.

“Eh kenapa sih ?” tanyanya bingung melihat Dea yang berbaring meringkuk mendekapkan kedua tangannya kedada sambil senyum-senyum.
“Engga tahu ya, perasaan tadi mau pipis tapi cuma terasa keluar didalam dan tiba-tiba kerasa geli semua” jawabnya juga bingung.
“Oh begitu, itu artinya kamu tadi orgasme” kata Adi setelah menganalisa jawaban Dea.
“Orgasme ?, apa itu ?” tanya Dea masih bingung.
“Itu sama seperti saya tadi keluarin air mani” jawab Adi.
“Oh begitu, tapi kok ngga keluar keluar airnya ?” tanyanya lagi
“Itu karena Eceu perempuan, keluarnya di dalaem” jawab Adi sekenanya, soalnya dia juga kurang paham masalah itu disamping nafsunya masih tinggi belum terlampiaskan.
“Ayo atuh dilanjutkan, si otong masih ngaceng nih” ajak Adi sambil mengacungkan batang kontolnya yang memang masih tegang.

Dea tersenyum penuh arti langsung berbaring celentang dengan kaki ditekuk dan kedua pahanya mengangkang. Rambutnya yang panjang tergerai di atas kasur. Adi segera pengatur posisi diatas tubuh Dea. Rupanya Adi ingin segera melakukan hubungan sex yang sebenarnya.

Dengan berdebar diarahkan batang kontolnya ke lubang memek Dea yang sudah basah. Tubuhnya berdesir ketika kepala kontolnya menyentuh bibir memek yang telah merekah.

“Ahhh..!” desis Dea merasakan nikmat sentuhan dan selusuran kepala kontol Adi yang besar di lubang memeknya yang sempit.

Adi perlahan mendorong pinggulnya hingga kepala kontolnya semakin meyelusup ke belahan memek yang telah basah itu.

“Ah..den terus masukin” desis Dea memberi semangat.

Telah beberapa bulan lubang memeknya tidak disinggahi kontol lelaki hingga debaran yang dirasakan seperti pada malam pertama.

Demikian juga dengan Adi, selusuran batang kontolnya pada lubang memek Dea yang lembut mendatangkan sensasi yang selama ini cuma dia angankan lewat mimpi. Dengan kekuatan penuh didorongnya batang kontolnya menerobos lubang kenikmatan yang paling dalam.

“Aduh gusti ! ” teriak Dea tertahan merasakan hujaman batang kontol yang besar dan keras itu ke lubang memeknya yang sempit.

Memang batang kontol Adi yang besar cukup seret masuk ke dalam lubang memek Dea yang meskipun sudah tidak perawan tapi masih cukup sempit.
Untung cairan birahi di dalam lubang memek Dea cukup licin hingga membantu masuknya batang kontol itu lebih dalam.

“Ah..! enak euy!” desis Adi ketika seluruh batang kontolnya telah tertancap di lubang memek Dea yang merasa nyeri sedikit pada lubang memeknya akibat besar dan panjangnya batang kontol itu. Tapi perasaan nyeri itu tak lama hilang ketika perlahan Adi mulai mengerakkan batang kontolnya keluar masuk lubang memeknya.

Dea merintih kenikmatan merasakan gesekan di dalam lubang memeknya, kedua pahanya semakin diregangkan. Demikian juga dengan Adi, gerakan maju mundur batang kontolnya di dalam memek Dea betul-betul mendatangkan kenikmatan yang luar biasa.

Adi merasa semakin bernafsu mengerakkan batang kontolnya yang kian keras dan tegang, hingga mendatangkan rasa nikmat yang selama ini cuma dihayalkan lewat mimpi. Kini secara nyata ia melakukan persetubuhan dengan perempuan yang bukan saja cantik dan bertubuh indah, tapi juga goyangan pinggulnya memberi kenikmatan yang lebih.

Memang Dea yang secara tak sadar berusaha mengimbangi gerakan Adi di atasnya, menggerak-gerakkan pinggulnya bagaikan penari jaipongan. Memutar, kadang menghentak maju. Hal mana membuat Adi semakin syurr.

“Ah ! De, yeah begitu. Enak sekali!” Desis Adi
“Ayo den, goyang terus biar tuntas” Dea juga tidak mau kalah memberi semangat.

Dan mereka semakin hot mengerakkan tubuhnya untuk mencari kenikmatan masing-masing. Mereka tidak memperdulikan lagi keadaan sekelilingnya, dalam pikiran mereka cuma ada bagaimana mencapai kenikmatan setinggi mungkin. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan perbuatan mereka dari balik jendela. Sepasang mata yang berbinar penuh nafsu.

Adi mendekap tubuh Dea dan membalikkan posisi mereka menjadi Adi di bawah dan Dea diatas.

“Ayo De, goyanganya ” pinta Adi agar perempuan itu lebih aktif.

Dan Dea yang berada diatas menjadi lebih leluasa menggerakkan pinggulnya, bukan hanya naik turun tapi juga memutar.

“Ah !” desis Adi ketika terasa batang kontolnya bagai dipelintir bila Dea memutar pinggulnya seperti orang sedang mengulek.

Tangan Adi tidak tinggal diam, diremasinya buah dada montok yang menggantung itu sehingga mendatangkan rangsangan bagi Dea.
Tubuh Dea menghentak-hentak bagaikan penunggang kuda liar. Belum pernah dia merasa senikmat ini dalam melakukan senggama. Semua gerakannya dilakukan secara naluri, karena dia belum pernah melakukannya dalam gaya demikian, tapi benar-benar mendatangkan kenikmatan yang sangat.

Demikian juga dengan Adi, pengalaman pertama yang benar-benar tak akan terlupakan.
Mereka terus melakukannya dengan lebih giat. Dea yang berada diatas seolah mengendalikan permainan. Perlahan dia tahu gerakan apa yang mendatangkan nikmat yang lebih buat dirinya dan juga pemuda itu. Gerakan batang kontol yang besar dan keras di dalam lubang memeknya telah pula menggesek-gesek kelentitnya, hingga semakin menambah gairahnya.

Perlahan tapi pasti nafsu keduanya semakin tinggi. Adi merasakan batang kontolnya semakin sensitif. Demikian juga dengan Dea yang di dalam lubang memeknya semakin berdenyut nikmat, sehingga semakin dipercepat goyangannya.

“Ayo De, gayang terus sampai tuntas ! ” teriak Adi keenakan dan bersamaan dengan itu batang kontolnya berdenyut-denyut dan tanpa bisa dicegah memuncratkan cairan kenikmatan didalam lubang memek Dea.

“…! …..!…. …!”
” Ahhh…..ahh !” desis Adi parau merasakan kenikmatan yang luar biasa.
“Ayo den keluarkan semuanya !” teriak Dea yang goyangannya semakin menggila karena merasakan juga nikmat oleh semburan cairan hangat dari kontol Adi didalam liang memeknya.

Sehingga tanpa disadari membuatnya mencapai klimaks yang belum pernah dirasakan.

” Duh Gusti !….. nikmat !” desisnya ketika dirasakan otot-otot di dalam lubang memeknya meregang dan terasa berdesir nikmat.

Lebih nikmat dari yang dirasakan sebelumnya, karena adanya gesekan batang kontol didalamnya.

Tubuh Dea ambruk menindih tubuh Adi. Tulang-tulangnya terasa mau copot. Nafasnya memburu dengan butiran keringat membasahi sekujur tubuhnya. Adi mendekap tubuh telanjang itu. Nafasnya juga memburu. Mencoba mengingat apa yang barusan dialami, tapi sukar dibayangkan. Sementara kemaluan mereka masih saling bertaut.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh pintu samping yang terbuka. Seketika itu mereka segera melepaskan dekapan dan membereskan diri. Adi segera meraih kain sarungnya demikian juga dengan Dea segera menutupi tubuhnya dengan kain kebayanya.

Dari pintu tengah muncul perempuan muda, mirip dengan Dea. Wajahnya memerah dengan senyum yang bergairah. Rupanya perempuan ini yang mengintip perbuatan keduanya dan tak dapat menahan hasrat atas apa yang disaksikan, hingga menerobos masuk untuk nimbrung.

“Maaf ya De, Iis tidak tahan ngeliatnya ” katanya sambil mendekati keduanya.
“Eh Iis, ada apa ?” tanya Dea gugup sambil terus merapikan pakaiannya.
“Ah kamu, jangan malu-malu. Iis sudah lihat dari tadi ” katanya lagi

Adi bengong melihat semuanya. Seorang perempuan, sangat mirip Dea, berada dihadapannya.

“Eh De, punya pacar tidak bilang-bilang. Siapa ini ?” tanya perempuan yang dipanggil Iis sambil melirik Adi dan tersenyum menggoda.
“Ini Den Adi, keponakannya teteh Karta” jawab Dea ” Jangan bilang kang Sudin ya”
“Oh, pantes ganteng, ngga heran Dede kepincut ” kata Iis menggoda
“Maaf ya den, ini Iis saudara kembar saya saya” kata Dea menerangkan.
“Ya ya…” ucap Adi baru mengerti, pantas mirip.
“Maaf ya den, bikin kaget. Habis permainan aden dan Dede seru sekali, saya jadi ngga tahan” kata Iis tanpa malu-malu.
“Eh…ngga apa-apa ” jawab Adi gugup.

Dea segera menarik Iis ke kamar dan berbicara serius. Tak lama Dea keluar dengan wajah memerah dan mendekati Adi.

“Maaf ya den, Iis kepingin juga main dengan Aden” kata Dea sambil menunduk.
“Hah ” Adi sedikit kaget ” suaminya dimana ?”
“Iis janda ” jawab Dea
“Oh begitu ” kata Adi ragu.

Berarti dia harus melayani dua perempuan sekaligus, kembar lagi,pikirnya.

“Kamu sendiri bagaimana, keberatan tidak ?” tanya Adi
“Itu sih terserah Aden” kata Dea
“Boleh deh, tapi kamu ikut juga ” kata Adi
“Maksud aden ?” tanya Dea tak mengerti
“Iya kita main bertiga” kata Adi lagi
“Bertiga, bagaimana caranya” tanya Dea lagi
“Gampang De, bisa diatur ” celetuk Iis yang menguping pembicaraan mereka.
“Ayo den ” ajak Iis tak sabar dan tanpa malu-malu segera membuka pakaiannya.

Tidak berbeda dengan Dea, Iis juga berkulit putih bersih. Hanya tubuhnya sedikit lebih tinggi. Tapi wajahnya memang mirip Dea, bak pinang dibelah dua. Dan ketika Iis telah telanjang bulat, maka sama seksinya dengan Dea. Buah dadanya padat berisi dengan puting susu yang kecoklatan, pinggangnya ramping, pinggulnya montok dengan bulu-bulu jembut di pangkal pahanya hitam lebat dan keriting.

Adi menelan ludah, tidak terbayangkan sebelumnya harus bercinta dengan dua perempuan kembar sekaligus.
Iis ternyata lebih agresif dari Dea. Didekatinya Adi dan langsung mengulum bibir pemuda itu dengan bernafsu membuat Adi sedikit gelagapan dan mencoba mengimbangi. Maka keduanya terlibat dalam cumbuaan yang bergelora disaksikan Dea yang masih tertegun.

Pengalaman hari ini benar-benar luar biasa bagi Dea. Pertama kali ia tidur dengan lelaki lain yang bukan suaminya dan mendapatkan kenikmatan yang menggetarkan. Sekarang ia menyaksikan saudara kembarnya sedang bergelut mesra dengan Adi. Baru pertama itu dia menyaksikan perempuan dan lelaki bercinta, di depan matanya pula.

Tanpa sadar ia menyimak semua perbuatan mereka dengan gairah yang perlahan bangkit. Iis memang lebih punya pengalaman dengan lelaki. Ia telah kawin cerai dua kali. Sedangkan tidur atau selingkuh dengan lelaki lain entah sudah berapa banyak. Karena itu Iis lebih aktif dan tahu bagaimana mencumbui lelaki dan memberikan rangsangan bagi pasangannya dan dirinya.

Kini mulutnya mulai merambahi dada Adi yang telah terlentang pasrah, sementara tangannya telah meremasi batang kontol besar yang telah tegang itu. Jilatan lidahnya didada Adi memberikan rangsangan yang nikmat bagi pemuda itu. apalagi ketika mulutnya semakin turun kebawah , ke perutnya terus ke pangkal pahanya.

Adi merem-melek keenakan ketika batang kontolnya mulai dijilati mulut Iis dengan penuh nafsu. Kuluman dan jilatan mulut Iis memang jauh lebih pintar dari Dea yang masih amatiran. Apalagi ketika Iis mengajak Dea untuk ikut nimbrung menjilati batang kontol yang semakin tegang mengeras itu.

Dengan patuh Dea, yang juga telah dilanda nafsu, mengikuti ajakan Iis. Maka batang kontol itu kini dikerubuti oleh jilatan dan kuluman mulut dua perempuan kembar. Iis seperti mengajari Dea bagaimana caranya memperlakukan kemaluan lelaki. Karena sehabis ia melakukan gerakan tertentu dengan mulutnya, disuruhnya Dea melakukan hal yang sama. Sehingga batang kontol Adi secara bergantian dikulum, dijilat dan dihisap oleh mulut kedua perempuan kembar itu. Adi benar-benar merasakan kenikmatan diperlakukan seperti itu, tubuhnya bergetar menahan rangsangan yang sedang melandanya.

Sementara itu Adi juga tidak tinggal diam. Kedua tangannya juga mulai merambahi pinggul kedua perempuan itu yang menungging. Tangannya merambahi belahan kemaluan si kembar yang juga telah merekah. Dengan jemarinya dirabai bibir kemaluan diantara lembah berbulu lebat itu. Jari tengahnya disusupkan kedalam lubang memek yang basah setelah sebelumnya mengelitiki kelentit yang membuat kedua perempuan itu mengelinjang geli.

“Ayo den terus, enak ah!” desis Iis keenakan.

Ketiganya terus saling merangsangi pasangannya hingga akhirnya Iis menghentikan kulumannya dan bangkit. Rupanya ia telah sangat bernafsu untuk menuntaskan birahinya. Langsung saja diatur posisinya sambil berjongkok mengangkangi batang kontol yang tegang dan masih dipegang Dea.

“Ayo De arahkan” pintanya

Diturunkan pinggulnya dan Dea dengan patuh mengarahkan batang kontol Adi yang dipegangnya ke lubang memek Iis yang merekah basah.
Iis segera menekan pinggulnya ketika kepala kontol itu telah tepat didepan lubang memeknya, sehingga dengan lancar batang kontol itu terhujam masuk ke dalam lubang kenikmatannya.

“Duh bapa !” desisnya merasakan nikmat ketika batang kontol yang besar dan keras itu mengelorosor masuk kedalam lubang memeknya yang telah gatal-gatal nikmat.

Adi juga merasakan kenikmatan yang sama dan semakin nikmat ketika Iis mulai mengerakkan pinggulnya turun naik dengan berirama. Adi mulai bisa merasakan bahwa goyangan Iis memang lebih pintar tapi lubang memek Iis terasa lebih longgar dibandingkan punya Dea. Mungkin karena Iis telah tidur dengan banyak lelaki sehingga lubangnya terasa lebih besar.

Tidak demikian dengan Iis hujaman batang kontol Adi dirasakan cukup besar dan keras sehingga mendatangkan kenikmatan yang sangat.
Tubuh Iis menghentak-hentak bagaikan penunggang kuda liar. Ditariknya Dea yang bengong agar menempatkan selangkangannya diatas mulut Adi untuk dijilati.

Maka kembali ketiganya terlibat dalam pertandingan yang seru dan nikmat. Adi sambil celantang menikmati batang kontolnya yang keluar masuk memek Iis sambil mulutnya mulai menjilati lubang memek Dea yang setengah berjongkok dengan kedua paha yang mengangkang. Sementara mulut Dea ikut pula melumati puting buah dada Iis yang sudah berdiri tegak dengan sombongnya karena birahi yang amat sangat yang melandanya.

Hujaman kontol Adi di lubang memeknya dirasakan sangat nikmat oleh Iis, entah karena sudah cukup lama tidak melakukan persetubuhan atau memang karena kontol itu panjang dan besar. Sehingga makin lama gerakan dan goyangan pinggul Iis makin menggila karena dirasakan puncak syahwatnya semakin dekat. Akhirnya dengan gerakan yang menghentak ditekannya pinggulnya kebawah sehingga batang kontol itu menghujam sedalam-dalamnya kedalam lubang memeknya.

“Duhh…!….ahhhh!” pekiknya panjang ketika dirasakan sesuatu berdesir didalam lubang memeknya dan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa.

Tubuhnya terasa lunglai dan ambruk mendekap tubuh Dea yang masih menjilati buah dadanya.

“Aduh De enaknya..” desisnya.
“Sudah keluar Is?” tanya Dea yang dijawab Iis dengan anggukkan.
“”Ayo atuh gantian, Dede juga sudah mau lagi” kata Dea tidak malu-malu lagi.

Iis sebenarnya masih mau melanjutkan gerakannya karena dirasakan batang kontol Adi yang masih terhujam di lubang memeknya masih terasa mengacung.

“Silakan” kata Iis sambil bangkit dan terlepaslah pertautan kemaluan mereka.

Memang batang kontol Adi masih keras mengacung. Rupanya kondisi Adi masih fit biarpun telah bertempur dengan dua perempuan. Kini ia ingin cari posisi lain, disuruhnya Dea menungging dan disodok dari belakang.
Pinggul Dea yang putih mulus dan montok mendongak keatas dengan belahan jembutnya yang berbulu lebat mengintip diantara pangkal pahanya. Adi menelan ludah melihat pemandangan itu. Sambil mengelus-elus batang kontolnya didekati pinggul perempuan itu yang sudah menunggu. Diarahkan batang kontolnya kebelahan yang terjepit diantara paha yang juga putih mulus.

Dengan dorongan lembut dimasukan batang kontolnya kedalam lubang memek itu. terasa sempit karena dengan posisi itu lubang memek itu terjepit kedua paha.

“Ah….!” Desis Dea ketika dirasakan batang kontol yang besar dan tegang menyelusup kedalam lubang memeknya.

Dengan memegang pinggul gadis itu perlahan digerakkan pinggulnya sehingga batang kontolnya mundur maju didalam lubang memek yang masih terasa sempit itu. Dea menggigit bibirnya merasakan nikmat demikian juga dengan Adi, gesekan batang kontolnya didalam lubang memek itu mendatang sensasi yang luar biasa.

Adi mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan berirama. Tubuh Dea ikut terguncang-guncang mengikuti gerakan itu.

“Ah …Den, terussss Den” desis Dea semakin bernafsu.

Sementara itu Iis juga mulai bernafsu lagi menyaksikan adegan yang tengah berlangsung, dengan perlahan ditempatkan tubuhnya dibawah tubuh Dea dengan kepalanya berada diantara paha Dea sedangkan pangkal pahanya yang mengangkang dibawah muka Dea untuk dijilati.

Tangan Iis merabai selangkangan Adi dan mengusap-usap biji pelernya serta merabai bibir kemaluan Dea yang sedang dihujami batang kontol Adi. Sementara Dea telah pula menjilati selangkangan Iis terutama bibir memeknya yang ditutupi rimbunan bulu-bulu jembut keriting.

Kembali ketiganya bertarung mancari kenikmatan. Adi berpikir berarti sehabis Dea, dia harus melayani Iis yang sudah mulai birahi lagi. Gila, pikirnya. Tapi ia yakin sanggup mengatasinya. Memang semangat mudanya membuatnya semakin penuh keyakinan untuk melakukannya. Maka goyangannya semakin cepat saja.

Dan Dea juga merasakan semakin nikmat, apalagi kelentitnya yang dirabai Iis membuatnya semakin naik birahi. Hingga akhirnya sesuatu mendesir didalam kemaluannya.

“Ah……uhh….ahhh!” pekiknya kesetanan merasakan orgasme yang kesekian kali di pagi ini.

Adi tahu Dea sudah klimaks tapi dirinya belum merasakan.

“Gantian De, memekku sudah gatel lagi” pinta Iis. Dea faham dan Adi mencabut batang kontolnya.

“Ayo Den, tuntaskan ” pinta Iis masih terbaring dengan kedua kaki mengangkang.

Adi segera mengatur posisi diatasnya dan langsung menghujamkan batang kontolnya ke lubang memek Iis yang telah menganga.

“Ahh ..!” desisinya sambil mendekap tubuh Adi erat.

Kembali keduanya berpacu menggapai nikmat masing-masing. Adi dengan hentakan-hentakan keras mengerakkan pinggulnya maju mundur menghujamankan batang kontolnya ke dalam liang memek Iis.

“Ayo den, tancap terus.” Desah Iis menikmati hujaman Adi yang secara perlahan merasakan bahwa batang kontolnya semakin keras dan sensitif.

Demikian juga dengan Iis, lubang memeknya semakin licin dan nikmat. Nampaknya keduanya akan segera mencapai puncak persenggamaan. Mereka berpacu semakin binal dan liar. Keduanya ingin menuntaskan permainan dengan kenikmatan yang setinggi-tingginya.

Hingga akhirnya Iis mendekap keras tubuh Adi sambil melenguh kenikmatan dan bersamaan dengan itu Adi juga mengerang.

“….!…..!….!”
“Ahhhh….ahhh!” desis Adi
“Duh bapa, enak sekali” desis Iis hampir bersamaan.

Tubuh keduanya meregang tapi berdekapan erat. Keringat bercucuran dan bersatu. Tuntas sudah pertempuran segitiga di pagi itu.

]]>
http://www.difunde.com/seks-dengan-si-kembar.html/feed 0 http://www.difunde.com/pelajar-asik-ml-bokep-film-download.html http://www.difunde.com/pelajar-asik-ml-bokep-film-download.html#comments Mon, 23 Apr 2012 05:52:21 +0000 admin

http://www.difunde.com/?p=136

Pelajar Asik ML bokep film download
Pelajar Asik ML bokep film download
]]>
http://www.difunde.com/pelajar-asik-ml-bokep-film-download.html/feed 0

» Tags: , ,

Comments 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>