Cerita dewasa 17 tahun – Cerita Dewasa

Posted on April 9, 2014 | Category :Dewasa | No Comments

ceritasexterbaru.com:

http://www.ceritadewasaplus.com 17 tahun ke atas, cerita dewasa, Kumpulan Cerita Panas. Sat, 28 Apr 2012 10:28:20 +0000 en hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.3.1 http://www.ceritadewasaplus.com/cerita-panas-gara-gara-gadis-pemijat.html http://www.ceritadewasaplus.com/cerita-panas-gara-gara-gadis-pemijat.html#comments Sat, 28 Apr 2012 10:28:14 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1129

read more »]]>

cerita panas “Gara-Gara Gadis Pemijat”

Namaku Andra, sebut saja Andra **** (edited). Aku kuliah di sebuah PTS di Bandung sebuah kota metropolis yang gemerlap, yang identik dengan kehidupan malamnya. Di tengah kuliahku yang padat dan sibuk, aku mempunyai suatu pengalaman yang tak akan kulupakan pada waktu aku masih semester satu dan masih berdampak sampai sekarang. Latar belakangku adalah dari keluarga baik-baik, kami tinggal di sebuah perumahan di kawasan ****** (edited) di Bandung. Sebagai mahasiswa baru aku termasuk aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan, kebetulan aku menyukai kegiatan outdoor ataupun alam bebas. Aku memang mewarisi bakat ayahku yang merupakan seorang pemburu yang handal, hal inilah yang membuat darah petualangku menggelora.

Memasuki pertengahan semester aku mulai kenal dan akrab dengan seorang cewek, sebut saja namanya Ema. Aku tertarik padanya karena ia orangnya juga menyukai kegiatan alam bebas, berburu misalnya. Awalnya sih aku agak heran juga kenapa cewek cantik seperti dia suka “mengokang” senapan yang notabene berat dan kemudian menguliti binatang hasil buruannya dengan beringas. Hemm.. kegaranganya bak macan betina inilah yang aku sukai, aku suka melihat buah dadanya yang menantang dibalut baju pemburu yang ketat dan kebiasaannya menggigit bibir bawahnya ketika mengokang senapan. Bibir merah yang seksi itu sering mengundang gairahku. Karena ada kecocokan, kami akhirnya jadian juga dan resmi pacaran tepatnya pada waktu akhir semester pertama. Kami berdua termasuk pasangan yang serasi, apa mau dikata lagi tubuhku yang tinggi tegap dapat mengimbangi parasnya yang langsing dan padat. Pacaran kami pada awalnya normal-normal saja, yahh.. sebatas ciuman saja biasa kan? Dan aku melihat bahwa Ema itu orangnya blak-blakan kok.

Semuanya berubah setelah pengalamanku di sebuah panti pijat. Hari itu Minggu 12 April 1999 aku masih ingat betul hari itu, aku dan ayahku berburu di sebuah gunung di daerah Jatiluhur tentu saja setelah berburu seharian badan terasa capai dan lemah. Malamnya aku memutuskan untuk mencari sebuah panti pijat di Bandung, dengan mengendarai Land Rover-ku aku mulai menyusuri kota Bandung. Dan akhirnya tempat itu kutemukan juga, aku masuk dan langsung menemui seorang gadis di meja depan dan aku dipersilakan duduk dulu. Tak lama kemudian muncullah seorang gadis yang berpakaian layaknya baby sitter dengan warna putih ketat dan rok setinggi lutut. Wuahh.. cantik juga dia, dan pasti juga merangsang libidoku. Dengan ramah ia mempersilakan aku masuk ke ruang pijat, ruangan selebar 4×4 dengan satu ranjang dan sebuah kipas angin menggantung di atasnya. “Bajunya dibuka dulu ya Bang..” katanya dengan tersenyum manis, “OK lahh..” sambutku dengan semangat. “Tapi kipasnya jangan dinyalain yah, dingin nih..” dia pun mengangguk tanda paham akan keinginanku. Kubuka sweaterku dan aku pun berbaring, aku memang sengaja tidak memakai t-shirt malam itu. “Celananya sekalian dong Bang,” katanya. “Emm.. Lo yang bukain deh, males nih..” dia pun tersenyum dan agaknya memahami juga hasratku. “Ahh.. kamu manja deh,” katanya, dengan cekatan tangannya yang mulus dan lentik itu pun mencopot sabuk di pinggangku kemudian melucuti celanaku. Wah dia kelihatannya agak nafsu juga melihat tubuhku ketika hanya ber-CD, terlihat “adik”-ku manis tersembul dengan gagahnya di dalam sarangnya.

“Eh.. ini dicopot sekalian ya? biar enak nanti mijitnya!”
“Wahh.. itu nanti aja deh, nanti malah berdiri lagi,” kataku setengah bercanda.
Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum manisnya yang menawan. Kemudian aku tengkurap, ia mulai memijitku dari punggung atas ke bawah.
“Wah.. pijitanmu enak ya?” pujiku.
“Nanti kamu akan merasakan yang lebih enak lagi,” jawabnya.
“Oooh jadi servis plus nih?” tanyaku.
“Mmm.. buatmu aku senang melakukannya,” pijatannya semakin ke bawah dan sekarang tangannya sedang menari di pinggangku, wah geli juga nih, dan kemaluanku pun mulai “bereaksi kimia”.
“Eh.. balikkan badan dong!” pintanya.
“Ok.. ok..”
Aku langsung saja berbaring. Tentu saja batanganku yang ereksi berat terlihat semakin menggunung.
“Wahh.. belum-belum saja sudah ngaceng yaa..” godanya sambil tangannya memegang kemaluanku dengan jarinya seakan mengukur besarnya.
“Habisnya kamu merangsang sihh..” kataku.
“Nah kalo begitu sekarang waktunya dicopot yah? biar enak itu punyamu, kan sakit kalau begitu,” pintanya.
“OK, copot aja sendiri,” aku memang udah nggak tahan lagi, abis udah ereksi penuh sih.

Dengan bersemangat gadis itu memelorotkan CD-ku, tentu saja kemaluanku yang sudah berdiri tegak dan keras mengacung tepat di mukanya.
“Ck.. ck.. ckk.. besar amat punyamu, berapa kali ini kamu latih tiap hari,” katanya sembari tertawa.
“Ah.. emangnya aku suka ‘lojon’ apa..” jawabku.
Ia menyentuh kepala kemaluanku dengan penuh nafsu, dan mengelusnya. Tentu saja aku kaget dan keenakan, habis baru pertama kali sih.
“Ahh.. mau kau apakan adikku?” tanyaku.
“Tenanglah belum waktunya,” ia mengelusnya dengan lembut dan merabai juga kantong zakarku.
“Wah.. hh.. jangan berhenti dulu, aku mau keluar nih,” sergahku.
“Haha.. baru digitukan aja udah mau keluar, payah kamu,” ledeknya.
“Entar lagi lah, pijitin dulu badanku,” kataku.
“OK lah..”
Ia mulai mengambil minyak pijat dan memijat tangan dan dadaku. Wahh ia naik dan duduk di perutku. Sialan! belahan dadanya yang putih mulus pun kelihatan, aku pun terbelalak memandangnya.
“Sialan! montok bener tetekmu,” dan tanganku pun mulai gerilya meraba dan memeganginya, ia pun mengerjap, pijatannya pun otomatis terhenti.

Setelah agak lama aku merabai gunungnya ia pun turun dari perutku, ia perlahan membuka kancing bajunya sampai turun ke bawah, sambil menatapku dengan penuh nafsu. Ia sengaja mempermainkan perasaanku dengan agak perlahan membuka bajunya.
“Cepatlahh.. ke sini, kasihan nih adikku udah menunggu lama..” aku sambil mengocok sendiri kemaluanku, habis nggak tahan sih.
“Eits.. jangan!” ia memegang tanganku.
“Ini bagianku,” katanya sambil menuding adikku yang seakan mau meledak.
Tak lama ia kemudian mengambil minyak pijat dan mengoleskan ke kemaluanku.
“Ehmm.. ahh..” aku pun menggelinjang, namun ia tak peduli, malah tangannya semakin cekatan memainkan kemaluanku.
“Augghh.. aku nggak tahan nihh..”
Kemudian ia mulai menghisapnya seraya tangannya mengelus buah zakarku.
“Aduhh.. arghh.. aku mau keluar nihh!”
Kemudian kemaluanku berdenyut dengan keras dan akhirnya “Croott..” maniku memancar dengan derasnya, ia terus mengocoknya seakan maniku seakan dihabiskan oleh kocokannya.
“Aahh..” aku melenguh panjang, badanku semua mengejang. Ia kelihatanya suka cairanku, ia menjilatinya sampai bersih, aku pun lemas.
“Gimana.. enak kan? tapi kamu payah deh baru digituin dikit aja udah ‘KO’,” godanya.
“Habbiss kamu gitukan sih, siapa tahann..”
Ia memakluminya dan agaknya tahu kalau aku baru pertama kalinya.
“Tuh kan lemes, punyamu mengkerut lagi,” sambil ia memainkan kemaluanku yang sudah nggak berdaya lagi.
“Entar ya, nanti kukerasin lagi,” katanya.
“Huff.. OK lah,” kataku pasrah.

Dengan masih menggunakan bra dan CD ia mulai memijatku lagi. Kali ini ia memijat pahaku dan terkadang ia menjilati kemaluanku yang sudah lemas.
“Ihh.. lucu ya kalau sudah lemes, kecil!” ia mengejekku.
Aku yang merasa di-”KO”-nya diam saja. Sembari ia memijat pahaku, dadanya yang montok kadang juga menggesek kakiku, wahh kenyal sekali!
“Kenapa liat-liat, napsu ya ama punyaku?” katanya.
“Wahh, bisa-bisa adikku terusik lagi nih,” jawabku.
Aku sambil mengelus dan mengocok sendiri kemaluanku sembari melihat geliat gadis itu memijatku.
“Wah dasar tukang coli kamu..” serangnya.
“Biar aja, akan kubuktikan kalo aku mampu bangkit lagi dan meng-’KO’ kamu,” kataku dengan semangat.
Benar juga kemaluanku yang tadinya tidur dan lemas lambat laun mulai naik dan mengeras.
“Tuh.. berdiri lagi,” katanya girang.
“Pasti!” kataku.

Aku tidak melewatkan kesempatan itu, segera kuraih tangannya dan aku segera menindihnya.
“Uhh.. pelan dikit doong!” katanya.
“Biar aja, habis kamu napsuin sih..” kataku.
Dengan cepat aku melucuti BH dan CD-nya. Sekarang kelihatan semua gunung kembarnya yang padat berisi dengan puting merahnya serta lubang kemaluannya yang bagus dan merah. Langsung saja kujilati puncak gunungnya dengan penuh nafsu, “Emm.. nikmat, ayo terusin..” desahnya membuatku berdebar. Kulihat tangannya mulai merabai kemaluannya sendiri sehingga kelihatan basah sekarang. Tandanya ia mulai bernafsu berat, aku pun mengambil alih tangannya dan segera menjulurkan lidahku dan kumainkan di lubang kemaluannya yang lezat. Ia semakin menjadi, desahannya semakin keras dan geliat tubuhnya bagaikan cacing, “Ahh.. uhh ayo lah puaskan aku..” ia pun mulai menggapai batang kemaluanku yang sudah keras, “Ayolah masukkan!” tanpa basa-basi aku pun menancapkan barangku ke lubang kemaluannya.
“Slep.. slepp!”
“Arghh.. ihh.. sshh,” ia agak kaget rupanya menerima hujaman pusakaku yang besar itu.
“Uahh.. ennakk..” katanya.

Mulutnya megap-megap kelihatan seperti ikan yang kekurangan air, aku pun semakin semangat memompanya. Tapi apa yang terjadi karena terlalu bernafsunya aku tidak bisa mengontrol maniku. “Heggh.. hegghh.. ahh, ehmm.. aku mau keluar lagi nihh!” kataku.
“Sshh.. ahh ah.. payah lo, gue tanggung ni.. entar donk!”
“Aku sudah tidak tahan lagii..”
Tak lama kemudian batang kemaluanku berdenyut kencang.
“Aaaku keluarr..” erangku.
“Ehh.. cepat cabut!” sergapnya.
Aku pun mencabut batang kemaluanku dan ia pun segera menghisapnya.
“Ahh.. shh..!”
“Crot.. crott.. crott” memancar dengan derasnya maniku memenuhi mulutnya dan berceceran juga di gunung kembarnya yang masih tegang.
“Ugghh..” aku pun langsung tumbang lemas.
“Aduh.. gimana sih, aku nanggung nihh.. loyo kamu.”
Aku sudah tidak bisa berkata lagi, dengan agak sewot ia berdiri.
“Ahh.. kamu menghabiskan cairanku yaa.. lemes nihh,” kataku.
“Udah lahh.. aku pergi,” katanya sewot.
“Ya udah sana.. thanks ya Sayang..” ia pun berlalu sambil tersenyum.

Pengalaman malam itu seakan telah merubah pandanganku tentang cewek. Aku berpikir semua cewek adalah penyuka seks dan penyuka akan kemaluan lelaki. Atas dasar itulah kejadian ini terjadi. Siang itu aku bertemu sama pacarku.
“Ehh.. abis ngapain kamu Ndra? kok kelihatanya lemes amat? sakit yah..” tanyanya.
“Ah nggak kok, kemaren abis berburu sama ayahku,” jawabku singkat.
“Ohh.. gitu ya,” ia kelihatannya mulai paham.
Memang siang itu mukaku kelihatan kusut, sayu dan acak-acakan. Pokoknya kelihatan sekali deh kalau orang habis ML jor-joran, tapi kelihatannya “Yayang”-ku tidak curiga.
“Eh besok hari Rabu kan kita nggak kuliah,” katanya.
“Iya memang enggak..” jawabku.
“Kita berenang yuk?” ajaknya.
“Emm.. OK jadi!” jawabku mantap.
Yayangku memang hobi berenang sih, jadi ya OK saja deh. Karena hari itu sudah sore, waktu menunjukkan pukul 04:55, aku segera menggandeng tangan Ema, “Ayo lah kita pulang, yok kuantar..” dia pun menurut sambil memeluk tanganku di dadanya.

Malamnya aku tidak bisa tidur, gadis pemijat itu pun masih berputar di otakku dan tidak mau pergi. Bayangan-bayangan gerakan tangannya yang luwes serta hisapan kenikmatan yang kurasakan waktu itu tidak bisa dilupakan begitu saja dari benakku, “Sialan! bikin konak aja luh..” gerutuku. Aku pun hanya gelisah dan tidak bisa tidur, karena kemaluanku tegang terus. Aku pun berusaha melupakannya dengan memeluk guling dan berusaha untuk tidur, tetapi hangat liang kemaluannya mencengkeram kuat pusakaku masih saja menghantui pikiranku. “Ahh..aku nggak tahan nih..” segera kucopot celana dan CD-ku, kuambil baby oil di meja, aku pun onani ria dengan nikmatnya, “ahh..” kugerakkan tanganku seolah menirukan gerakan tangan gadis itu sambil membayangkan adegan demi adegan kemarin malam itu. “Huff..” nafasku semakin memburu, gerakan tanganku semakin cepat dibuatnya. Kurang lebih 5 menit kemudian “Crott!” tumpahlah cairan maniku membasahi perut dan sprei sekitarku. Aku pun langsung tidur, “Zzz..”

Paginya pukul 07:00 kakak perempuanku masuk ke kamar untuk membangunkanku. Karena kamarku tidak dikunci, betapa terbelalaknya dia ketika melihat aku tanpa celana tidur terlentang dan melihat batanganku sudah berdiri dan di perutku terdapat bekas mani yang mengering. “Andraa.. apa-apaan kau ini ha!” hardiknya, aku terkejut dan langsung mengambil selimut untuk menutupi batangan kerasku yang menjulang. “Eh .. Kakak.. emm..” kataku gugup. “Kamu ngapain ha..? sudah besar nggak tau malu huh..!” Au cuek saja, malah aku langsung melepas selimut dan meraih celanaku sehingga kemaluanku yang tegang tampak lagi oleh kakakku. “Iiihh.. nggak tau malu, barang gituan dipamerin,” ia bergidik. “Biar aja.. yang penting nikmat,” jawabku enteng, kakak perempuanku yang satu ini memang blak-blakan juga sih. Ia menatapnya dengan santai, kemudian matanya tertuju pada baby oil yang tergeletak di kasurku. “Sialan.. kamu memakai baby oil-ku yah? Dasarr!” Ia ngomel-ngomel dan berlalu, aku pun hanya tertawa cekikikan. “Brak!” terdengar suara pintu dibanting olehnya, “Dasar perempuan! nggak boleh liat cowok seneng,” gerutuku. Aku pun dengan santainya keluar kamar dan sarapan sebelum mandi, kulihat kakak perempuanku sedang lihat TV. “Eh.. Kak minta sampoonya dan sabunnya dong!” pintaku. “Ogah ah.. entar kamu buat macam-macam, pokoknya nggak mau,” jawabnya ketus. “Huhh.. wee!” aku mencibir. Aku langsung saja mandi dan sarapan. Sekitar pukul 08:00 kustater Land Rover kesayanganku dan langsung kupacu ke tempat Ema, mungkin ia sudah menungguku. Benar juga sampai di depan pagar rumahnya ia sudah menungguku di depan teras rumahnya. “Haii.. kok agak terlambat sih Say?” tanyanya. “Eh.. sori nih trouble dengan kakak perempuan,” dalihku. “OK lah, mari kita berangkat!” Kami pun langsung tancap menuju tempat tujuan kami yaitu kolam renang di kawasan Cipanas. Yah, maklum saja itu hari Rabu maka perjalanan kami lancar karena tidak terjebak macet. Kurang lebih 2 jam perjalanan santai kami sampai di tempat tersebut. “Eh.. yang sini sajalah, tempatnya enak loh,” pintanya. “Baiklah Sayaang..” kataku. Kami berdua langsung saja masuk. “Yang, aku ganti dulu yah.. kamu ikut nggak?” ajaknya. “Yuk, sekalian saja aku juga mau ganti.” Di kolam renang itu paling hanya terdapat segelintir orang yang sedang berenang, karena tempat itu ramai biasanya pada hari Minggu. “Emm.. kita ganti baju bersama saja yah? biar asyikk..” katanya. Aku spontan menganggukkan kepalaku. Di dalam ruang ganti kami pun segera meletakkan tas kami dan segera melepas baju, Yayangku ganti baju terlebih dahulu. Ia mencopot dulu kaosnya, Ema memang penyuka kaos ketat dan celana jins, melihatnya melepas kaosnya aku pun hanya terpaku tak berkedip. “Kenapa Sayang.. ayolah lepas bajumu,” katanya sambil tersenyum. “Habbis.. aku suka memandangmu waktu begitu sih,” dan dia hanya tertawa kecil. Aku pun segera mencopot t-shirtku dan celana panjangku dan cuma CD yang kutinggalkan. Tanpa ragu-ragu aku pun memelorotkan CD-ku di depan pacarku karena ingin ganti dengan celana renang, “Wahh.. Yayang ni..” katanya sedikit terkejut. Rupanya ia agak kaget juga melihat batang kemaluanku yang setengah ereksi. “Kok tegang sih Say?” selidiknya manja. “Habis kamu montok sih..” jawabku seraya memakai celana renang yang super ketat. “Wahh.. hemm,” goda pacarku ketika melihat kemaluanku tampak menyembul besar di balik celana renang itu, dia itu memang asyik orangnya. “Nahh.. aku sudah beres,” kataku setelah memakai celana itu. “Eh.. bantu aku dong!” dia tampaknya kesulitan melepas branya. “Sini aku lepasin..” kataku. Kemudian kulepaskan branya. Astaga, sepasang daging montok dan putih terlihat jelas, hemm spontan saja batang kemaluanku tegang dibuatnya. “Ah.. sayang, dadamu indah sekali,” kataku sambil berbisik di belakang telinganya. Langsung saja ia kupeluk dari belakang dan kuciumi telinganya. “Eeh.. kamu ingin ML di sini yah?” jawabnya sambil memegang tengkukku. Aku tidak menjawab. Tanganku langsung bergerilya di kedua gunung kembarnya, kuremas-remas dengan mesra dan kupelintir lembut putingnya yang masih merah segar, “Ah.. Sayang!” desahnya pendek, batang kemaluanku yang sudah tegak kugesek-gesekkan di pantatnya, wahh.. nikmat sekali, dia masih memakai celana sih. “Aduh.. keras sekali, Yayang ngaceng yah..” godanya. “Dah tau nanya.. hh,” kataku terengah. Buah dadanya semakin keras saja, rupanya ia mulai terangsang dengan remasanku dan ciumanku di telinganya. “Ehhmm.. uhh,” lenguhnya sambil memejamkan mata. Melihat gelagat tersebut aku menurunkan tanganku ke ritsleting celananya, kulepas kancingnya dan kupelorotkan ritsletingnya, ia agaknya masih agak ragu juga, terbukti dengan memegang tanganku berupaya menahan gerakan tanganku yang semakin nakal di daerah selangkanganya. Tetapi dengan ciumanku yang membabi buta di daerah tengkuknya dan remasanku yang semakin mesra, akhirnya tanganku dilepasnya, kelihatannya ia sudah terangsang berat. Tanpa basa-basi tanganku langsung menelusup ke CD-nya. Wahh.. terasa bulu-bulu halus menumbuhi sekitar liang kemaluannya. Kuraba klitorisnya, “Aghh.. oouhh.. sayang kamu nakal deh,” dengusnya sambil mengerjap. Ia langsung membalikkan tubuhnya, memelukku erat dan meraih bibirku, “Cupp..” wah ia lihai juga melakukan French Kiss. Dengan penuh nafsu ia melahap bibirku. Cewekku yang satu ini memang binal seperti singa betina kalau sudah terangsang berat. Agak lama kami ber-French Kiss ria, perlahan ia mulai menurunkan kepalanya dan ganti memangsa leherku, “Aahh.. geli sayang,” kataku. Rupanya debar jantungku yang menggelegar tak dirasakan olehnya. ia langsung mendorongku ke tembok, dan ia pun menciumi dadaku yang bidang dan berbulu tipis itu. “Wah.. dadamu seksi yah..” katanya bernafsu. Menjulurlah lidahnya menjilati dadaku “Slurrpp..” jilatan yang cepat dan teratur tersebut tak kuasa menahan adikku kecil yang agak menyembul keluar di balik celana renangku. Jilatannya semakin lama semakin turun dan akhirnya sampai ke pusarku. Tangan pacarku kemudian merabai batang kemaluanku yang sudah keras sekali. Aku pun sangat bernafsu sekali karena mengingatkanku pada gadis panti pijat yang merabai lembut kemaluanku. “Ahh.. Sayang..” desahku tertahan. Dengan cekatan ia memelorotkan celana renangku yang baru saja kupakai, alhasil batanganku yang keras dan panjang pun mendongak gagah di depan mukanya. “Ihh.. gila punyamu Sayang..” katanya. “Ema.. hisap dong Sayang!” pintaku. Ia agak ragu melakukan itu, maklum ia masih virgin sih. Ia belum menuruti permintaanku, ia hanya mengocok pelan namun gerakan kocokannya pun masih kaku, sangat berbeda dengan gadis pemijat tempo hari. “Ssshh.. uahh..” aku pun mendesah panjang menahan kenikmatanku. “Sss.. sayang hisap dong!” Aku pun menarik kepalanya dan mendekatkan bibirnya yang mungil ke kepala kemaluanku, sekali lagi ia agak ragu membuka mulut. “Aah.. nggak mau Say, mana muat di mulutku..” jawabnya ragu. “Egh.. tenang saja sayang, pelan-pelan lah,” Dia agaknya memahami gejolakku yang tak tertahan. Akhirnya ia memegang batanganku dan menjulurkan lidahnya yang mungil menjilati kepala kemaluanku. “Slurpp.. slurpp..” sejuk rasanya. “Mmhh.. ahh, nah begitu Sayang.. ayo teruss.. ahh sshh, buka mulutmu sayang.” Ia masih saja menjilati kepala dan leher kemaluanku yang mengacung menantang langit, lama-lama ia pandai juga menyenangkan lelaki, jilatannya semakin berani dan menjalar ke kantong semarku. “Ih.. bau nih sayang.. tadi nggak mandi ya?” katanya menggoda ketika menjilati buah zakarku yang ditumbuhi bulu-bulu halus, aku memang merawat khusus adikku yang satu ini. “Ihh.. nggak lah sayang, kan yang penting nikmat,” kataku tertahan. Mulut mungil Ema perlahan membuka, aku pun membimbing batang kemluanku masuk ke mulutnya. “Mmhh.. eghh..” terdengar suara itu dari mulut Ema ketika batangku masuk, tampaknya ia menikmatinya. Ia pun mulai menghisapnya dengan bernafsu. “Slerpp.. cep..” “Ahh.. mm.. oohh..” desahku penuh kenikmatan. “Mmmhh.. sayang, nikmatt sekali..” gumamku tidak jelas. Setelah agak lama, aku pun menarik kemaluanku dari mulut Ema. Segera kubopong tubuhnya ke bangku panjang di dalam ruang ganti. Kurebahkan badannya yang lencir dan montok di sana, dengan keadaan pusakaku yang masih mengacung, kupelorotkan celana jins Ema dengan penuh nafsu, “Syuutt..” dan tak lupa CD-nya. Ia pun tampaknya pasrah dan menikmatinya karena tangannya merabai sendiri puting susunya. Kemudian tampaklah lubang kemaluannya yang merah dan basah, aku pun segera mendekatkan kepalaku dan.. “Slurp,” lidahku kujulurkan ke klitorisnya. “Hemm.. slurp..” “Aachh.. uhh!” desahnya panjang menahan kenikmatan yang dirasakan tarian lidahku di kemaluannya yang sangat lincah, makanya Ema mati keenakan dibuatnya. “Sssh.. sshhss..” desisnya bagaikan ular kobra. “Andraa.. aku nggak tahan lagii..” ia menggeliat tak karuan. “Akuu.. nyampai nihh..” Jilatanku semakin kupercepat dan kutambah ciuman mesra ke bibir kemaluannya yang harum, “Cup.. cupp,” kelihatannya ia hampir mencapai puncak karena kemaluannya memerah dan banjir. “Sshh.. aahh.. oohh Yaangg.. aku keluarr..” erangnya menahan kenikmatan yang luar biasa. Benar juga cairan kemaluannya membanjir menebar bau yang khas. Hemm enak, aku masih saja menjilatinya dengan penuh nafsu. “Aduhh.. hh.. Sayang, aku udah nihh..” katanya lemas. “Ma, aku masih konak nih..” kataku meminta. Langsung saja tanganku ditariknya dan mendudukkanku di atas perutnya, batang kemaluanku yang masih tegang menantang belum mendapat jatahnya. Langsung saja Ema mengambil lotion “Tabir Surya” dan mengolesinya ke batang kemaluanku dan ke dadanya yang montok, dan ia segera mengapitkan kedua gunung geulis-nya agar merapat. Ia mengambil lagi lotion itu, dan mengusapkan ke kemaluanku, “Ahh..” aku pun hanya merem-melek. Kemudian ia menarik batang kemaluanku di antara jepitan gunung kembarnya. Wahh.. nikmat juga rasanya, aku pun memaju-mundurkan pantatku layaknya orang yang sedang bersetubuh. “Bagaimana rasanya sayang..” tanyanya manja dan memandangku sinis. “Aahh.. mm.. ss nikmat sayang..” ia pun tertawa kecil. Ia merapatkan lagi gunungnya sehingga rasanya semakin nikmat saja. “Uuahh.. nikkmatt sayangg..!” erangku. Ia hanya tersenyum melihat mukaku yang merah dan terengah menahan nikmat. “Rasain.. habis kamu nakal sih..” katanya. “Tapi lebih.. nikmat memekmu sayang.” “Hush..” katanya. Gerakanku semakin cepat, aku ingin segera mencapai puncak yang nikmat. “Uuhh.. uhh.. mm.. arghh..” erangku tertahan. Tak lama aku merasa hampir keluar. “Sayy.. aku hampir nyampe nihh..” desahku. “Keluarin aja Ndra.. pasti nikmatt..” Tak lama batang kemaluanku berdenyut dan.. “Crott.. crutt..” “Uuahh.. hemm.. sshh!” nikmat sekali rasanya. Spermaku memancar dengan deras dan banyak. “Ooohh..” gumamku. Spermaku memancar membasahi leher Ema yang jenjang dan mengena juga janggut dan bibirnya. “Ihh.. baunya aneh ya..” Ia mencoba membersihkan cairan kental itu dengan tangannya, aku pun turun dari atas tubuhnya. “Aahh.. nikmat Sayang..” tapi dalam hatiku aku belum puas jika belum menjebol liang kemaluan Ema. Ema pun segera membersihkan maniku yang belepotan. “Iihh.. kok kayak gini sih?” tanyanya penuh selidik. “Itu namanya cairan kenikmatan sayang..” jawabku enteng. “Ooo..” katanya pura-pura tahu. “Habis bercinta enaknya berenang yuk?” ajaknya. “OK,” kataku. Ema pun segera berpakaian renang dan aku juga. Setelah siap kami pun keluar kamar, wah ternyata di luar sepi sudah tidak ada orang lagi, padahal masih menunjukkan pukul 2:00 siang. Ternyata lama juga kami bercinta. “Byurr..” kami berdua pun mencebur dan berenang, aku yang sudah terkuras kejantanannya semenjak kemarin malam segera ketepi dan hanya melihat Ema berenang. Gerakan renangnya yang bagai ikan duyung, dibalut baju renangnya yang seksi serta kulitnya yang putih mulus, membangkitkan lagi gairahku. Terbesit di pikiranku untuk bercinta di kolam renang, kebetulan tidak ada orang dan petugas jaganya jauh. “Ema sini sayang..!” panggilku. “OK.. ada apa Ndra?” Ia berenang mendekat ke arahku, aku pun masuk ke air, aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya dengan ganas. “Kamu membuatku nggak tahan sayang..” kataku. Untung saja kolam renangnya tidak dalam sehingga bisa enak kami bercinta. “Ughh..” desahnya agak terkejut, ia pun membalas ciumanku. Aku tidak melucuti pakaian renangnya, aku cuma menyibakkan sedikit cawat bawahnya sehingga liang kemaluannya kelihatan. Uhh, kelihatan menggairahkan sekali kemaluannya di dalam air yang jernih itu. Dengan ganas aku menciumi bibirnya yang basah serta meremas lembut dadanya yang terbalut baju renang yang tipis itu. Ema kelihatan sangat cantik dan segar dengan badan dan rambut yang basah terurai. “Ahh.. sayang.. nanti kelihatan orang,” katanya khawatir. “Tenang Sayang.. tak ada yang melihat kita begini..” kataku. “Baiklah.. Ndra kubuat kamu ‘KO’ di kolam,” tantangnya. Ia langsung memelorotkan celana renangku, batang kemaluanku yang sudah tegang pun menyembul dan kelihatan asyik di dalam air. Ema mengocok kemaluanku di dalam air. “Mmm..” geli dan sejuk rasanya. Tanpa menunggu lama lagi aku ingin memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. “Ema.. kumasukin yah?” Ema pun tanpa ragu menganggukkan kepala tanda setuju. “Baik Sayang..” Kudekap erat tubuhnya agar dekat, ternyata Ema sudah membimbing batang kemaluanku masuk ke lubang kemaluannya. “Argghh..” ia menyeringai ketika kepala kemaluanku menyentuh bibir kemaluannya. Aku pun segera mengangkat Ema ke pinggir kolam dan kubaringkan dia, kutekuk lututnya sehingga lubang kemaluannya kelihatan menganga. “Siap Sayang..” Aku mulai memasukkan sedikit. “Uhh..” padahal baru kepalanya saja yang masuk. “Aahh.. Sayang, punyamu terlalu besarr..” Aku pun segera menekan lagi dan akhirnya “Bless..” seluruhnya bisa masuk. “Uhh.. ahh.. mmhh,” erangnya menahan gesekanku. “Sshh.. ss, enak kan Sayy..” kataku terengah. “Huuff.. uhh.. ayoo terus Ssayy.. ennakk..” Terdengar bunyi yang tak asing lagi, “Crep.. crepp.. sslepp..” asyik kedengarannya, aku semakin giat memompanya. Kemudian aku ingin ganti posisi, aku suruh Ema menungging. “Ayolah Sayang.. puaskan aku..” Ia pun menungging dengan seksinya, terlihat lubang kemaluannya merekah, menarik untuk ditusuk. “Slepp..” batang kemaluanku kumasukkan. “Ahh.. ss.. ahh..” desahnya penuh kenikmatan. Nafasnya semakin memburu. “Huff.. ehh.. mm..” aku terengah. Kupercepat gerakanku, “Slep.. slep.. slep.. slep..” “Ahh.. Ssayangg.. bentar lagi aku nyampe nihh..” kataku terburu. “Aakuu.. jugaa..” Himpitan liang kemaluan Ema yang kencang dan basah membuat maniku tak kuasa lagi untuk keluar, dan akhirnya Ema pun mencapai puncaknya. “Ooohh.. akuu lagi Sayangg..” Cairan kemaluannya pun membanjir, hal ini semakin membuatku juga tidak tahan. “Aaahh.. aku juga Sayangg!” erangku penuh kenikmatan. “Cepat cabut.. keluarin di luarr..!” sergahnya. Dengan cepat segera kucabut kemaluanku, Ema pun tanggap ia pun memegangnya dan mengocoknya dengan cepat. “Aauuhh! nikmatt!” “Crut..” spermaku pun keluar. “Eerghh.. ahh..” tapi sedikit, maklum terforsir. “Aahh.. kok sedikit Sayangg..” katanya meledek. “Eemmhh.. ah.. habis nih cairanku..” Aku pun lemah tak berdaya dan ia pun berbaring di pangkuanku. Aku mengelus rambutnya yang basah, kukecup keningnya, “Cup! I love you Sayang..” Sejak itulah kami sering melakukannya, baik di mobil maupun pada di sebuah gubuk di hutan kala kami berburu bersama. Dalam hatiku aku berkata, gadis pemijatlah yang membuatku jadi begini, membuatku menjadi begini, membuatku menjadi “bercinta”. Yah..!

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/cerita-panas-gara-gara-gadis-pemijat.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-gelora-cinta-tara.html http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-gelora-cinta-tara.html#comments Sat, 28 Apr 2012 10:23:02 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1125

read more »]]>

Panas Cerita ‘Gelora Cinta Tara’

Tara adalah seorang Ibu rumah tangga, yang cukup santun, cantik dan pandai, dia seorang karyawati menengah yang sukses adapun suaminya Nico sangat religius dan agak kaku; malah dapat digolongkan sangat tradisionil jalan berpikirnya.

Kehidupan Tara menjadi berubah dengan segala prubahan zaman serta kariernya, dimana dia bekerja disebuah hotel yang bintang lima di suatu property di kota besar dibagian dunia ini.

Dengan penampilan Tara yang manis, ramah, pandai juga sexy, Tara menjabat sebagai ‘Event Coordinator Manager’, adalah suatu bagian yang memang cukup sibuk, di dunia ‘Hospitality Industry’ dan sering dia harus bekerja sampai larut malam.

Didalam kehidupan social diHotel ada sebuah motto yang tak tertulis bahwa semua orang seharusnya bantu membantu, apa bila orang pernah tidak membantu satu bagian lain, otomatis suatu ketika dia akan kena batunya sendiri karena tidak akan diperlakukan baik bila dia mendapat kesukaran dikemudian hari.

Motto ini dipegang teguh oleh Tara, sejak kepindahaannya dari lain perusahaan, yang benar-benar berbeda nafas dan warna usahanya; namun dengan cepat Tara bisa mengikuti jalur permainannya.

Namun tak mengherankan juga, cara kehidupan yang begitu erat di property Hotel itu akhirnya mereka juga saling menjalin kasih diantara mereka, entah itu orang dari Front house dengan Back house, manager dengan waitress nya, ataupun chef dengan front office officernya; walaupun, ada tertulis bahwa mereka tidak boleh saling melecehkan pegawai, dalam arti pelecehan apapun termasuk sexuality.

Banyak pegawai menyebutkan bahwa Tara adalah seorang yang sexy, menawan dan ramah, dengan kulit ‘fair’ rambut panjang serta ‘grooming’ selalu terjaga, tidak terlalu menyolok dalam berdandan, juga ringan tangan. Mungkin hal ini karena dia dari Indonesia, yang terkenal dengan ramah tamah dan berbudi bahasa halus.

Suatu saat pegawai Hotel dihebohkan dengan kejadian adanya pemerkosaan dan pembunuhan sebelah kanan gedung property Hotel, dilakukan oleh orang lokal yang memang tampang dan cara kehidupannya agak menyeramkan bagi yang menemuinya, namun jumlah mereka tidak banyak, dan makin memudar.

Dengan peristiwa itu, banyak wanita pekerja Hotel itu harus di’escort’ sampai ketempat parkir atau pun tempat pemberhentian bis dimana dia harus mengambil jalur bis menuju ke rumahnya masing2 di malam hari, oleh siapa saja yang bertugas malam itu, bagian front office yang laki-laki, terutama Security.

Tak berbeda dengan Tara, diapun mendapat perlakuan yang sama karena sering kali dia harus selesai jam 22:00 atau 22:30. dimana kadang dia hanya naik bis saya menuju ke suburb dimana dia tinggal.

Disuatu malam, karena Hotel memang sedang sibuk sekali Tara harus pulang malam, Tara menelephone pada suaminya yang sudah dirumah.
“Nic, kerjaan aku belum selesai tuh, mungkin aku sampai agak malam karena harus keluarin leaflets dan brochures ini besok pagi?”
“Biar deh aku naik bus aja ntar kamu jemput di halte bis aja ya?”
“Uchh aku juga lagi nyiapin presentasi buat besok nih Tar, udah deh bila aku udah ngantuk ya sampai ketemu ditempat tidur aja ya”, jawab Nico.
“OK deh soalnya aku belum tahu sampai jam berapa aku selesai, I love you”
“OK I love you too, anak-anak udah pada belajar kok mereka udah mo pada bobo, udah ya muuacch!” kata Nico.
“Ya udah sampai nanti, Mmmuuachh”, sambut Tara dengan agak rasa kesal.
Tara meletakkan telephonenya dan mulai bekerja kembali menyelesaikan pekerjaannya yang menuntut penyelesaian malam itu.

Jam 20:00 dia turun keKantin untuk makan malam, banyak pria yang menayakan akan keberadaannya dan menawarkan untuk panggil aja bila butuh escort. Tarapun menjawab dengan ramah dan santai, sambil memikirkan akan makan apa yang ada dikantin, karena kadang membuat dia bosan juga makanan ala Hotel yang itu-itu juga, terasa kurang rasa, tidak seperti di rumah makan Indonesia atau di warung makan biasa. Akhirnya dia cuma makan cumi yang digoreng pakai tepung dengan sayur mayur dan sedikit nasi goreng yang memang tinggal sedikit.

Tara tak menghiraukan lingkungannya selama makan, karena ingin cepat kembali kepekerjaannya dan pulang tak terlalu malam, rupanya ada seorang yang memperhatikan tingkah lakunya yang agak serius setengah resah.
“Banyak kerja Tara?”
Tarapun menoleh karena kaget rasanya sangat familiar dengan suara itu.
“Oh ya, kok kamu Harry, kok makan sini sih, bukannya kamu harusnya udah pulang tadi 2 jam yang lalu.”
“Ya sama aku juga terjerat kerja nih besok ada Press Release”, kata “Deputy Executive Managing Director” ini menerangkan.

Selesai kerja, Tara pergi kebawah menuju keFront Office untuk minta “escort”, kemudian seorang ditugaskan untuk mengantarnya sampai kehalte bis menunggu sampai dia naik bis.
Namun tiba-tiba Harry menyahut dari belakang, “Biar saya saja yang mengantar Tara”
Maka Tarapun jadi tidak enak hati dan menjawab, “Gak usah deh Harry biar Peter aja yang menantarku, keluargamu menunggumu”
“Ya OK deh Peter, antar Tara kepemberhentian bis, jangan kamu pulang bila dia belum naik bis ya”, godanya.

Sampai dirumah, Nico telah mengorok diperaduannya, melihat anak- anaknya udah lelap, kelihatan sangat suci sekali wajahnya dalam tidur nyenaknya. Cepat Tarapun membersihkan diri dan masuk ke quilt menyusul Nico tidur di malam spring yang agak sejuk itu. Mendekap Nico dari belakang, berusaha melupakan kekesalannya terhadap Nico yang selalu agak masa bodoh.

Segera terjatuhlah Tara tertidur, namun belum pulas sekali; Nico merasa bahwa istrinya telah berada disampingnya, segera dia membalik dan melucuti pakaian Tara, juga dirinya sendiri. Segera dia memasukkan kemaluannya kedalam vagina Tara.
Walaupun Tara agak capek dari kerja masih terpejam matanya, dia tak dapat mengelak perilaku suaminya yang memang tanpa permisi dan basa basi bila ingin menyalurkan syahwatnya, pun pula tanpa “warming up” dan cumbuan; Nico langsung menancapkan kemaluannya dan memompanya sepuasnya, bagaikan sebuah mesin sex yang lagi di”switch on”, semua getaran badan Nico terasa dibadan Tara.

Belum juga Tara merasa mencapai pendakian birahinya, Nico telah sangat memburu nafsunya dan deru nafasnya tak terelakkan, kemudian keluarlah air many Nico dalam rahim Tara , creet, cret, cret. Tarapun menjadi kaget, karena dia masih belum separoh jalan menuju ke puncak pendakiannya dan masih harus berkonsentrasi akan rasa gesekan penis Nico dalam relung kenikmatannya, namun Nico telah KO, dan lunglai di dadanya.

Betapa jengkel dan kecewa hati Tara, akan perlakuan suaminya yang selalu tak pernah memberikan kesempatan untuk berexpresi dan mendapatkan kenikmatan bila mereka membuat cinta. Namun Tara harus menerimanya dengan diam, karena telah beribu kali dia utarakan untuk berbicara mengenai hal yang satu ini, namun Nico, menjawabnya dengan masa bodoh seolah, memang itu tanggung jawab wanita, sebagai pelampyas nafsu suami titik.

Esoknya, Tara kembali bekerja dengan tekunnya, memang kebetulan kamar kerja Tara berada agak pojok dan ngak banyak orang lalu lalang karena memang kegiatannya yang membutuhkan ketenangan, dalam menghadapi para langganannya. Tiba-tiba pintu terbuka tanpa ketukan, ternyata, Harry yang masuk, kontan kaget Tara akan kehadirannya, karena biasanya bila orang masuk tentu mengetuk pintu terlebih dahulu. Matanya agak sayu dan langsung menutup pintu kamar dan berkata,
“Tara, kau tentu tahu bahwa aku menyukaimu, bukan saja pinggul dan dadamu yang indah, namun perilakumu meruntuhkan imanku.”
“Kudambakan kelembutan wanita seperti kau, dan aku tahu, kau akan mengimbangi deru cinta dan nafsuku Tara”, berkata begitu sambil menatap mata Tara yang masih agak terperanjat namun juga sebagai kejutan, karenanya darahnya berdesir kencang sewaktu tangan Harry menggapai tanggannya, dan meremasnya halus.

Ditariknya tangan Tara lembut dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menggapai leher Tara dan menariknya mendekat di mukanya, dalam sekejap bibir Harrypun telah menempel dibibir Tara dengan hangatnya. Terasa, hangat dan bergetar bibir Tara menerima kenyataan indah ini, sesaat Harry mendorong lidahnya dan memainkannya dirongga mulutnya dengan aktif, sambil sesekali menekan dan menghisap liurnya.

Jantung Tara berdegup kencang, dan darah berdesir, keringat mulai membasah, menerima kenikmatan. Hangatnya dekapan yang tak disangka-sangka, membuat tubuhnya bergetar dan menggeridik bulu kuduknya, dalam berpangutan hangat ini. Akan tetapi, dirasakannya ada suatu halangan kenikmatan mereka, karena mereka berciuman terpisahkan antara meja tulis selebar 90 sentimeter. Maka bergesarlah Harry kearah balik meja dimana Tara berdiri, dan langsung mendekatkan dirinya pada Tara dan mendekapkan tangannya dipunggung Tara, kemudian merambatkan tangannya memegang leher dibalik rambut Tara yang panjang sebahu. Diraba dan dielusnya leher Tara dengan lembut, sambil bibirnya terus memangut bibir Tara yang hangat.

Hampir lupa Tara bila dia dalam keadaan dinas; terhenyaklah mereka ketika telephone berdering, serta merta Tara mendorong pelan Harry, mengangkat telp dan menjawabnya setelah sesaat dikuasainya diri dan emosinya sendiri.
“Event coordinator office, Tara speaking”
Ternyata yang telepon dari graphic designer bicara mengenai design yang telah Tara setujui akan langsung di cetak, dan Tara menyetujuinya.

Setelah selesai pembicaraan dengan graphic designer, Harrypun terus memegang tangan Tara lagi, dan mengatakan,
“Tara, jangan lari dariku lagi please, aku mencintaimu”
“Akan kuatur kebahagian kita bersama, will you accept this please”
Tara tak kuasa menjawab, hanya anggukan kepala dengan mata tak berkedip memandang Harry, seolah cahaya kuat yang mempunyai daya tarik yang besar menyedot dirinya hampir dia tak akan bisa melepasnya. Maka Harry pun menegaskan sekali lagi.
“Tara, aku ngak puas dengan anggukanmu, katakan bahwa kau juga merasakannya!”
Akhirnya Tarapun berkata, “Ya Harry, akupun merasakannya dan akan kucoba memenuhi tuntutan jiwaku”
“Kuharap kau sabar Harry, atas kebingunganku ini, namun tak kupungkiri aku mencintaimu juga”
Harry segera menggapai tangan Tara sekali lagi dan mengelusnya sambil mengecup bibir, kemudian meninggalkan ruangan untuk mengadakan “Press Release”.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12:15 siang dan terasa Tara butuh mengisi perutnya yang sudah mulai merengek minta dipenuhi, dan diapun meninggalkan ruangan menuju ke kantin. Tara tak banyak bercanda dengan sejawatnya, hanya sekedar basa basi dan ketawa menyegarkan suasana. Sekembali Tara keruang kerjanya, didapatinya surat tertutup yang ternyata dari Harry.
“Tara, temui aku jam 8 malam di paviliunku room 1431, thank you for your acceptance.”

Terasa berdesir darah menjadi cepat mengalir, terhentaklah jantungnya bagaikan halilintar menjambar dirinya, tak kuasa menahan deru detak jantung yang semakin mengencang, bingung rasanya apa yang akan diperbuat nanti malam, dalih apa yang akan disusunnya untuk memberitahu Nico suaminya. Segera Tara memutuskan menelphone Marrisa ‘Executive Secretary’ di’executive Offce’, memberitahukan bahwa dia ada appointment dokter siang itu dan akan kembali ke Hotel jam 4 sore untuk meneruskan kerjaannya, yang menurut agendanya dia akan selesai dimalam hari. Marrisa menjawab bahwa dia akan mencatat semua pesan-pesan yang masuk dari telephone untuknya.

Kepergian Tara sebetulnya hanya akan menjenguk Nico dikantornya dan sambil minum kopi bersamanya sejenak, kemudian dia pulang bersama Nico untuk bertemu dengan anak-anak, hampir satu setengah jam Tara bermain dengan anak-anaknya, Tara kembali keHotel lagi dan bekerja kembali. Sore jam 6 dia minta “room service” untuk mengirim secangkir kopi kekantornya dan sedikit kue supaya Tara dapat menghemat jam kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu.

Tepat jam 19:50 malam Tara berajak dan menutup pintu menuju ke atas lantai 14 no 31, dimana Harry sudah menunggu nya.
Setelah dia memencet tombol bel Harrypun membuka pintu, seraya mepersilahkan Tara masuk ke dalam Paviliunnya.

Kaget bukan kepalang ketika berhadapan dengan Harry, karena Harry hanya mengenakan jas kamar dan menalikan sabuknya tidak kencang, jadi sebagian paha atasnya yang berbulu kelihatan. Segera Harrypun menyadari keadaan dan merangkul, membimbing Tara kedalam sambil membetulkan jas kamarnya.
Segera, berkatalah Harry, “Tara kamu lelah, releks aja ya bersamaku disini, jangan kau hiraukan penampilanku, saat ini, telah kusiapkan dinner untuk kita berdua, maukah kau menemaniku malam ini?”
Tara menjawab, “Saya yakin ini bukan sebuah order dari atasanku, namun aku datang untuk memenuhi komitmenku kepadamu, ya kita akan bersama beberapa saat malam ini.”

Serta merta Harry menggapai dagu Tara dan segera menempelkan bibir hangatnya kepada Tara dengan penuh kasih dan emosinya.
Tara pun tak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Hari dan menyedotnya dengan keras air liur Harry, dililitkannya lidahnya menyambut lidah Harry dengan penuh rasa getaran birahi, serasa dia bisa menghilangkan sekejap semua kekecewaan bathinnya akan sikap Nico suaminya.

Setelah puas meraka bertautan merekapun berajak untuk makan malam. Selama makan malam, mereka bukan hanya menceritakan pengalaman indah dalam perkawinannya, namun juga kekecewaan dan himpitan dalam rumah tangga mereka masing-masing. Sesekali tangan mereka saling mengelus dan meremas; tak terasakan lilin telah hampir tinggal separoh batang, habis terbakar oleh bara yang romantis dan syahdu. Hampir jam 21:00 mereka selesai makan, Harrypun kemudian masuk dan mengambil jas tidur wanita yang biasa disediakan untuk tamu VIP, bahan dari silky warna kuning lembut pastel dan katanya,
“Tara, ganti ini yuk, nanti pakaian kerja kamu kusut loh”
“Boleh nggak kubukakan pakaianmu, sayang”
“Boleh Harry, tentu sekalian kau akan menyayangiku kan?”
“Ya Tara, gimana kalau kita pindah di kamar tidur saja”, seraya digendongnya Tara dari ruang makan ke kamar tidur dan direbahkannya tubuh molek itu di kasur.

Segera, Harrypun membalik badannya dan menuju ke Audionya memasang satu set lagu-lagu klasik, “Serenade”, Hofstetter ciptaan Haydn, “Waltz of the Flowers” dari Peter Tchaikovsky dan” The four Season: “Spring” dari Vivaldi, dimana lagu-lagunya lembut namun ceria penuh gairah; sangat cocok untuk musim spring, dimana saatnya setiap insan sedang enak-enaknya membuat cinta, karena dunia pernuh warna dan hangatnya pas, nyaman sekali untuk semua insan didunia.

Kembali Harry membalikkan badannya ke Tempat tidur, ternyata Tara telah ganti pakaian dengan jas tidurnya dengan tidak ditalikan sabuknya, terlihatlah bra yang transparan dengan “push up bra style”warna pastel, memberikan kesan seakan payudara Tara hampir tumpah meluap keluar lebih dari sepertiganya. Tangan kiri Tara mengelus-elus payudara yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sedangkan tangan kanannya membelai “pussy”nya yang menyembul mendesak CDnya, karena Tara memang mengenakan celana “mini high cut style”.

Melihat pemandangan yang mempersona itu, segera Harrypun menghampiri Tara dengan deburan darah dan nafsunya, langsung menyambar bibir Tara yang lembut dan hangat, dilumatnya bibirnya dan didorongnya lidahnya untuk mencari lawannya didalam rongga mulut yang tak begitu besar itu. Dan didalam sana ternyata sambutan hangat, agak liar telah siap menari bersamanya didalam dan bertautlah keduanya dengan penuh nafsu birahi.

Getaran jantung serta desiran darah Tara mengantarnya sampai kepintu kenikmatan yang tiada berujung, sementara tangan kanan Harry otomatis mendarat disembulan hangat payudara sebelah kanan Tara yang segar; dielusnya lembut, diselusupkan tanganya dalam bra yang hanya 2/3 menutupinya dan dikeluarkannya buah dada Tara, ditekan, dicarinya puntingnya kemudian dipilin halus seraya ditariknya pelan. Dengan perlakuan ini Tarapun melepas ciuman Harry dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalanya kekiri dan kekanan.

Selepas tautan kedua bibir hangat itu, Harry menyapu dagu dan leher Tara, hingga Tarapun meracau menerima dera kenikmatan ini.
“Harry, getaran dalam tubuhku mendera sukmaku Harry, kenapa kudapatkan ini darimu bukan dari Nico”
“Harry, hantarkan aku mencapai awang-awang bersamamu, berikan aku kesempatan untuk menikmati bara cintaku denganmu Harry.”
“Aaachh shheesstt, aachh aachh”
Harrypun melepas kegiatan mulutnya.
“Tara, aku telah khawatir tadi bila kau akan lari dariku, telah lama kudambakan ini denganmu, aku mencitaimu Tara.”
“Mengapa baru kali ini aku bisa menggapaimu, jangan lagi kau pergi dariku”

Tangan Harry pun segera membuka kaitan branya yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan Ibu jari sebelah kanan Harry, segeralah dua buah gunung kembar indah itu menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah. Segera ditempelkannya bibir hangat Harry pada buahdada Tara sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu, secepat itu juga merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang keatas. Dikulumnya puting itu dengan buasnya, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi Harry. Adapun reaksi Tarapun semakin mengila, mengerang dan melenguh, sambil mengangkat badannya seraya melepaskan Jas tidurnya berserta bra yang telah dibuka Harry dan dilemparkannya dikursi dekat tempat tidur tersebut.

Harry segera menyadari keadaan, dengan giat penuh nafsu Harry menyedot buahdada Tara yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CD Tara dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar keatas, segera dirabanya kearah vertical, dari atas kebawah, yang ternyata ditemuinya sudah basah lembab, tanda cairan birahi tara telah tak tahan menahan dera kenikmatan dari perlakuan Harry. Segera Harrypun menurunkan CD Tara tersebut, mendorongnya dengan kaki kirinya sampai jatuh ke karpet. Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberi sentuhan rangsangan pada memek Tara, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat dan dipangkasnya adapun dibagian belahan memek dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut, rangsangan Harry ini semakin tajam dan hebat hingga Tara meracau.
“Harry touch me please, touch me..”
“Harry make me fly, I want to fly with you darling, please.”

Harry segera membuka belahan gundukan tebal memek Tara, dengan dua jari telunjuk dan jari tengah dibantu dengan Ibu jari nya untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari klitoris Tara; kemudian disapunya dengan telunjuknya ke atas dan kebawah. Tarapun mengerang-erang kuat tak bisa terkontrol. Adapun mulut Harrypun segera menjalar kebawah menyambut klitoris yang telah hangat dengan sentuhan jari telujuknya lalu dijulurkan lidahnya menggatikan kegiatan jari tangannya, disapunnya klitoris yang semakin membesar dan keras itu, ditekannya dengan penuh nafsu, bagai serigala yang sedang yang mendambakan kenikmatan daging rusa atau kembing muda, ataukah sang lebah yang ingin menghisap madu surga dunia bersama Tara; sedang kegiatan tangan kanan Harry tetap melanglang buana dalam lorong kenikmatan Tara menari didalam rongga yang gelap; Tarapun mengelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasmenya yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya; sambil terengah-engah Tara mendorong pantatnya naik, seraya tangannya memegang kepala Harry dan menekannya kebawah sambil meracau.
“Harry, fuck me darling, please fuck me with your tongue”

Harry pun memindahkan tangannya dari relung kenikmatan Tara dan digantikannya dengan lidah yang kuat dan digerakkannya keluar masuk diantara lembah kenikmatan dan relungnya; Tarapun menjerit menerima ledakan Orgasmenya yang pertama, magmanya pun meluap menyemprot keatas hidung Harry yang mancung.
“Harry aku keluaarr, aacchh Harry memekku berdenyut kencang, kiss me please kiss me darling..”
dan.. mengejanglah Tara beberapa waktu sambil tetap meracau.
“Harry kau jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku darling, Please kiss me, acch ini permainan indah Harry baru kali ini aku benar mendapatkannya”

Harry segera bangkit mendekap erat, diatas dadanya Tara yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasmenya; diciumnya mulut Tara dengan kuatnya, yang disambutnya oleh Tara dengan tautan garang, menyerang lidah Harry dalam rongga mulutnya yang indah. Tergoleklah Tara tak berdaya sesaat, Harrypun mencumbunya dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuh Tara yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan matanya yang terpejam dengan penuh cinta; dibiarkannya Tara menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasmenya yang hebat, juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang ia rasakan, kemudian katanya,

“Harry kau memberikan aku kebahagiaan, tak pernah aku merasakan sentuhan laki-laki yang nikmat seperti ini.”
“Dengan Nico, aku lebih hanya menjalankan kewajibanku, mempersembahkan badanku untuknya, dan tak mempunyai hak untuk menikmatinya.”, dengan perasaan getir yang dalam Tara mengucapkannya.
“Sudahlah, jangan kau ucapkan lagi, kita nikmati saja kebersamaan kita berdua, tak ingin rasanya keindahan ini terganggu dengan kekecewaan yang melintas di benak kita masing-masing.”

Dengan sentuhan dan belaian Harry, Tara terbangkit gairah nafsunya lagi, segera dia bangkit, di dorongnya pelah badan Harry yang berada diatasnya, direbahkannya badan Harry disampingnya. Tara menundukkan kepalanya di pipi Harry, dicium dijilatinya pipinya, menjalar kekupingnya, dimasukkannya lidahnya kelobang kuping Harry, sehingga Harrypun meronta menahan gairahnya; kemudian jilatan Tara turun kebawah sampai dipunting susu kiri Hari yang berambut, dibelainya dada Harry yang penuh dengan rambut kecil, sedang tangan kanannya memainkan puting yang sebelah kiri. Menggelinjang Harry mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambatkan gairahnya itu, iapun mengerang, dan mendesah.

Kegiatan Tarapun semakin memanas dengan diturunkannya sapuan lidahnya sembari tangan Tara merangkak ke perut dan dimainkannya lubang pusar Harry sedikit ditekan kebawah dan kesamping, terus dilepaskannya dan dibelainya perut bawah Harry akhirnya sampai kekemaluan Harry yang sudah mengeras namun masih terbalut dc wana biru gelap. Kemudian dibuka, dielus lembut dengan jemari lentiknya batang kemaluan Harry, yang menentang ke atas berwarna kemerahan, kontras dengan kulit Harry yang putih, kepalanya pun telah berbening air birahi. Melihat keadaan yang sudah sangat menggairahkan tersebut, tak sabarlah Tara; segera menempelkan bibir hangatnya kekepala kontol Harry dengan penuh gelora nafsu, disapunya kepala kontol dengan cermat, dihisapnya lubang air seninya, hingga membuat Harry memutar-mutar kepalanya kekiri-kekanan dan mendongkak dongkakkan kepalanya menahan kenikmatan yang sangat indah tiada tara, adapun tangannya menjambak Tara.
“Tara kekasihku, dera nikmat darimu tak tertahankan, kuingin memilikimu seutuhnya Tara”
“Tara please berikan ini ditiap menit di kehidupanku jangan kau lari dariku sayangg, jangan kau lari dariku Tarraa”

Tarapun tidak menjawabnya, hanya lirikan matanya sambil mengedipkannya satu kearah Harry yang sedang kelojotan, sukmanya terbang melayang ke alam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi, diiringi lagu “The four Season: Spring” dari Vivaldi.
Adapun tangan Tara memijat dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, serta lidahnya pun menjilat seluruh permukaan kepala kontol tersebut, temasuk dibagian urat yang sensitive bagian atas sambil dipijat-pijatnya dengan penuh nafsu birahinya.

Sadar akan keadaan Harry yang semakin mendaki puncak kenikmatanya, dan dia sendiripun telah terangsang, denyutan memeknya telah mempengaruhi deburan darah ditubuhnya, dia lepaskan kuluman kontol Harry dan segera dia memposisikan dirinya diatas Harry menghadap dikakinya, dan dimasukkannya kontol tegang Harry dalam relung nikmatnya, segera diputar memompanya naik turun sambil tekan pijatnya dengan otot vagina sekuat tenaganya, ritme gerakannyapun ditambah sampai ke kecepatan maksimal.

Harrypun teriak, sementara Tarapun berfocus menikmati dera gesekan kontol Harry, yang menggesek G-spotnya berulang kali, menimbulkan dera kenikmatan nan indah sekali. Tangan Harrypun tak tinggal diam diremasnya pantat Tara yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusnya, sambil menikmati dera goyangan Tara pada kontolnya akhirnya mereka berdua berteriak..
“Tara aku tak kuat lagi.. berikan kenikmatan lebih lagi Tara, denyutan di ujung kontolku sudak tak tertahankan.”
“Kau pandai seperti kuda binalku, kau liar sekali Tara, kau membuatku melayang Tara, aku mau keluar!”
Lalu disuruhnya Tara memutar badannya menghadap pada dirinya dan dibalikkannya Tara posisi tidur dibawah bersandarkan bantal tinggi dan menaikan kedua kakinya dibahunya, Harrypun bersimpuh di depan memek Tara, sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan ritme yang cepat dan kuat, karena tak tahan lagi Harry akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seolah mau meledak.
“Tara, please, let me release my valve, I am cumming, pleasee..”
“Tunggu Harry, orgasmeku juga mau datang sayang, kita sama-sama”

Akhirnya Creet, creet, creet, tak tertahankan bendungan Harry jebol memuntahkan spermanya di vagina Tara, adapun bersamaan Tarapun mendengus dan meneriaknan erangan nikmatnya; segera disambarnya bibir Harry, dikulumnya dengan hangat dan disodorkannya lidahnya dalam rongga mulut Harry, seraya didekapmya badan Harry yang sama mengejang, basah badan Harry dengan peluh menyatu dengan peluhnya, terkulailah Harry didada Tara, sambil menikmati denyutan vagina Tara, yang kencang menyambut Orgasmenya yang sangat nikmat, selama ini belum pernah ia rasakan.
Dibelainya rambut Tara dengan penuh kasih dan sayang, dikecupnya dahinya.
“Honey, Thank you, I love you so much, I want to grow old with you, please don’t go away from me, you make me a’live again.?

Mereka bangun dan digendongnya Tara dikamar mandi dan di mandikannya Tara dibawah shower dan disabuninya dengan lembut sebagai tanda terima kasihnya dimalam itu. Segera berpakaian mereka kembali, kemudian dihantarkannya Tara kerumah suaminya.
Ditemuinya Nico telah lelap di tempat tidur kembali dengan tenang dan damai, secepatnya tara berganti pakaian tidur, dan menyusul suaminya masuk dalam quiltnya dan mendekap Nico.

Karena nikmatnya permainan cinta malam itu, Tara bermimpi indah, bersama Harry semalaman.

*****

Sejak kejadian malam itu di pavilliun Harry, Tara selalu mendambakan belaian Harry dan ingin selalu merasakan kemaluannya yang menggeliat di dalam vaginanya, bila teringat hal itu Tara selalu menelan ludahnya dan tak jarang dia melamun sejenak dalam kesibukannya, segera terhenyak bila telephone berdering ataupun tersadar bila ia diburu dengan tanggung jawabnya.

Jum’at malam ada sebuah event untuk sebuah Oil Company yang akan merayakan “Hari Jadi” perusahaan tersebut, pesta ini mengikut sertakan sebagian besar staffnya, jadi memang agak besarlah event yang akan diaturnya untuk malam nanti.

Pagi-pagi dia sudah ke field, ruang pesta, dan menyiapkan segala sesuatunya, kontak dengan dapur, mengenai makanan yang akan bergulir untuk nanti malam. Suasana Hotel masih sepi belum banyak pegawai mulai masuk terutama ‘waiters’nya; Tara ada di ruang ruang pesta sendirian, di pantry mencheck untuk terakhir kalinya; tiba-tiba Harry telah mendekapnya dari belakang dan mendaratkan ciumannya dileher Tara seraya menelusuri dagu dan bersarang di bibir lembut Tara.
“Selamat Pagi gadisku, kuingin memuaskanmu disini, nikmatilah sayang kehadiranku.”

Secepat itu juga dinaikkannya Tara diatas “pantry”, bagaikan kilat di perosotkannya CD Tara, kemudian mulut Harry telah bersarang di gundukan nikmat Tara. Tara yang telah biasa dengan perilaku suaminya, maka dia juga bisa menerima perlakuan Harry ini, maka Tara hanya menghisap nafas dalam-dalam dan menahannya sebentar dan dihembuskannya perlahan-lahan; Namun tentu saja dengan Harry mendapatkan sensasi yang lain dan memang dia mengharapkannya perlakuan semacam ini ditiap detik nafas dan hidupannya yang baru.

Dinikmatinya rasa indah di bawah sana sambil menggelepar dan mengerang. Clitorisnya pun merasa semakin membesar dan vaginanya berdenyut kencang tak tertahankan. Tanpa dia sadari tangannya sendiri menggapai payudaranya dibawah blazernya dan di remasnya, beberapa saat kemudian ditelusupkannya tangannya kedalam bluse dan dirabanya puntingnya dan dipelintirnya sendiri, nikmat sekali rasanya seakan membuatnya melayang-layang.

Setelah puas Harry menjilatin dan mengentot vagina Tara dengan lidahnya, berdirilah dia dan menarik retsleting celana panjangnya dan dikeluarkannya kemaluannya dari lubang CDnya.
“Tara, kukunci pintu besar itu jangan kuatir, kita making love disini Okay?”
“Harry lakukanlah, entoti aku dengan gaya dan nafsu birahimu, aku akan menikmatinya”
Harrypun tersenyum dan menusukkan kontol yang tegang dan perkasa itu kedalam vagina Tara yang sudah membasah melelehkan air nikmatnya, karena menahan birahinya.

Sambil berdiri Harry mengentot, memompa kontolnya kuat-kuat dan penuh birahi, sesekali badannya dibungkukkannya, untuk menggapai wajah Tara yang tersenyum manis selama di entotnya. Geregetan rasa Harry melihat wajah yang manis dan penuh gelora cinta di depan matanya. Tara sangat menikmati hujaman kontol Harry dan sambil berkata,
“Harry, terus sayaang puaskan daku, ingin aku mati bersamamu dalam keadaan kau entoti aku begini.”
“Enak Harry enak sekali teruskan.. nikmat batang kontolmu menghentak-hentak ubunku Harryy, ngiluu Harry!”
Segera diangkatnya tubuh Tara.
“Tara pompa kontolku naik turun, kau tentu pandai mengerjakan buat sukmaku melayang bersamamu Taraa”,

Segera Tara digendong menghadapnya dengan kedua kakinya di pinggang nya, serta tanggan Harry memegang pinggang Tara. Segera dikocoknya badan Tara naik-turun, dan Tarapun ikut aktive melakukan permintaannya sambil terus berfucus pada kenikmatan gesekan kontol Haryy, yang membuatnya gilu geli menhujam seluruh tubuhnya hingga bergetar.
“Harry boleh aku keluaar?”
“Ya gadisku kita sama-sama, memekmu hangat menjepit, memilin kuat kontolku, kontolku berdenyut mau keluar spermaku sayang, Oooh kau gadis nakalku.. kau binall!”
Dan orgasmelah mereka berdua dengan rasa bahagia meliputi mereka.

Kemudian diletakkannya tubuh Tara di pantry kembali, sambil melepaskan kontol Harry, digesernya badan Tara sejajar dengan pinggir pantry, kemudian disodorkannya dimulut Tara, segara Tara mengerti maksudnya dikulum dan dihisapnya kontol tegang itu sampai bersih kembali. Cepat-cepat mereka membersihkan diri di “wash basin” di”pantry” itu, segera mereka merapikan baju mereka. Harry mendekap Tara, mencium kening pipi dan mulutnya, sambil mengatakan:
“Kau sempurna, gadisku, kita nikmati hidup ini dengan sebaik-baiknya, seindah matahari bersinar setiap hari..”
“Adakah kamu menikmati permainan kita tadi Tara?” maukan kau menikmatinya ditiap kesempatan ada?”
“Ya Harry saya bahagia, dan menikmatinya ngentot denganmu darling”

Dikecupmya Tara sekali lagi dan mengucapkan selamat kerja, kemudian ditinggalkannya Tara meneruskan pekerjaannya. Adapun Tara sendiri merasa bahagia, nikmat, seolah ringan dalam tubuhnya, karena birahinya tersalurkan baik dengan orang yang dia cintai, dia lalu mengerjakan pekerjaannya dengan suka cita.

Selang dua hari kemudian, dipagi hari, jam 7 pagi Tara sudah ada dikantornya, Tara mendapatkan SMS dari Harry, dimana Tara memang sangat mengharapkannya.
“Datanglah ke lantai 9, aku sedang mencek kamar VIP untuk siang ini, bawa set brochures yang untuk kamar 914, Housekeepernya kelupaan.”
Segera datanglah Tara kelantai 9 dan memberikan nya ke Harry, yang bertemu dilorong dekat kamar penyimpanan Linen Hotel.

Begitu melihat Tara datang, segera Harry membuka kedua lenggannya dan menyambutnya dengan dekapan dan ciumannya dibibir hangat Tara. Sadar akan keadaan, segera dibawanya Tara kekamar linen tersebut segera dilanjutkannya melumat bibir Tara, sambil tangan kirinya meraba pantatnya yang penuh, dan memerosotkan CD dan stokingnya, ditariknya dengan kakinya supaya turun terus ke lantai. Segera setelah itu, tanggannya pindah ke depan menggapai gundukan vagina Tara yang sudah menunggu kenikmatan ciptaan tangan Harry. Tangan Tarapun tak tinggal diam, dan dibukanya retsleting celana Harry dan segera diturukannya semua termasuk celana dalam Harry secepat kilat.
“Tara, kita sambut pagi ini dengan ceria matahari pagi ya, Kita making love disini, para ‘Housemaid’ belum datang, tenang saja kita OK.”

Tara meminta Harry untuk memindahkan kursi ini ke pintu, maka dilakukannya perintah Tara, untuk memindahkan sebuah kursi didepan pintu. Dan dibukanya baju Tara semua dan juga Tara membuka baju Harry, hingga mereka telajang bulat, tak selembar benangpun melekat pada tubuh mereka. Harry memposisikan dirinya berdiri berhadapan dengan Tara, kaki Tara sebelah kiri mengait kaki kanan Harry dan sebaliknya Kaki kiri Harry mengait kaki kanan Tara, segera Harry menyelipkan penisnya dalam vagina Tara, sambil tangan kiri mereka memegangi kaki kiri mereka yang menepel di pantat mereka masing-masing.

Harry mengayun pantatnya kuat-kuat dan Tarapun menjepit, dan mengerakkan vaginanya mengimbangi ayunan Harry, kenikmatan mereka daki bersama, dengan dengausan dan erangan kecil-kecil dari mulut mereka terlepaskan, dan dengan sepenuh tenaga, Harry melaksanakan tugasnya dengan sempurna, hingga Tara mengerang kuat mendapat orgasmenya. Tara merangkul Harry kuat-kuat sambil memangut, dan menghisap liur Harry dengan garang penuh nafsu birahi.

Setelah reda emosi dan getaran seluruh tubuh Tara, dilepaskannya semua posisi itu dan Harrypun minta Tara menungging dengan berpegangan ditiang teroli linen yang terbuat dari kayu yang kuat dan besar itu. Maka ditusukkannya penis merah Harry divagina Tara dari belakang, dan digoyang-goyangkan berulangkali untuk mendapatkan posisi yang nikmat untuk Tara, reaksi tarapun segera merintih menikmati goyangan tersebut, dengan goncangan penis Harry yang menggesek G-spotnya didalam sana, seolah ada sesosok tubuh yang kuasa menarik dorong sukma nya dari ubun-ubun, Tara pun mencengkeram tiang kayu itu sambil meracau tak menentu.

Kemudian dengan ayunan pasti penuh nafsu birahi dihujamkannya penis tegang Harry itu berualang-ulang pada Vagina Tara, terasa Vagina Tara melelehkan cairan kenikmatannya membuat derap penis Harry semakin lincah menari didalam relung nikmat Tara.

Sungguh, nikmat yang dirasakan Tara, diapun mendongak-dongakkan kepalanya sambil meracau.
“Harry, enaak, Haarry teruskan aku sedang mendaki bersamamu sayang.”
“Hunjam memekku keras-keras, layangkan aku ke angkasa, biarkan aku mendapatkan orgameku yang indah lagi Harry!”
Harrypun semakin giat mendapat seruan Tara, di hentakkannya lebih keras kontol yang keras itu di relung nikmat Tara dan akhirnya iapun merasakan denyutan kepala kontolnya tak tertahankan lagi.
“Tarra aku dataang, nikmatilah ini, siapkah kau menerimanya?”
“Ya Harry, aku sudah siap, membungkuklah dan cium punggungku dan remas susuku Harry”
“Cepat lakukanlah aku akan orgasme aacchh sshhtt, Harry enak sekali aku sampai juga Harryy..”
Cepat otomatis, Hary membungkuk dan menciumi punggung Tara, meremas-remas payudara Tara dengan gairahnya yang memuncak.
“Tarra, achh aku keluarr, adduhh enak Tara!”
Sesudah selesai mereka orgasme, lunglailah mereka di kursi duduk dan saling berpangkuan.

Jam menunjukkan jam 8:20 am, telah 1 jam 20 menit mereka bermain cinta di kamar linen lantai 9 tersebut; segera, diraihnya lipatan handuk dari tumpukannya di troli kayu tersebut dan di bersihkannya badanya dengan handuk itu, kemudian berpakain sebaik-baiknya dan mereka berpelukan kembali mengucapkan selamat bekerja, lalu mereka membuang handuk kotornya ke tube, supaya jatuh ke ruang linen di basement, kemudian mereka berpisah.

Tara cepat kekamar mandi wanita di lantai 3 dan cepat-cepat membersihkan badannya di bawah shower, menyabun tubuhnya dan di elus-elus lembut memeknya, sambil tersenyum sendiri mengenang nikmatnya ngentot dengan Harry, terlupakanlah sedikit pedih kehidupan yang ada dihatinya, hidup bersama suaminya Nico. Dibilasnya dibawah shower tubuhnya, segera setelah itu berpakaian, kemudian membetulkan “grooming” wajah dan rambutnya. Segera dia kembali keruang kerja dikantornya, jam menunjukkan 8:50am, segera Tara memulai pekerjaannya hingga selesai. Adapun Harry berlaku sama hanya dia menuju ke Pavilliunnya dan mandi lagi sebentar dan turun ketinggkat 5 di kantor Executive Office dan menunaikan kerja nya kembali dengan aman dan damai. Hari itu sangat indah baginya dan harapannya untuk ngentot dengan Tara selalu menjadi obsesinya disetiap harinya.

Event week end mendatang ada penyelenggaraan ‘Grand Prix’ di kota itu, Hotel penuh dari pertengahan minggu sebelumnya, sebagian staff dapur dan para waiter/waitress dikonsentrasikan kelapangan diweek end itu, dengan membuka dua tenda atas nama Hotel disekitar lapangan pacuan itu; karena banyak para Businesman/woman, dan paraa Celebreties menyaksikan balap mobil Formula 1 itu. Sebagian besar lagi para waitres/waitress dikonsentrasikan untuk event malam hari di restaurant-restaurant diproperty hotel, adapun siang hari memang agak lengang suasana di Hotel. Karena Kebetulan ‘General Manager’nya tugas turun kelapangan, maka Harry ditugaskan incharge didalam property Hotel tersebut.

Kesibukan Tara sudah agak menurun, karena biasanya kesibukan Tara memuncak sebelum event berlangsung. Saat yang indah itu, dimanfaatkan mereka berdua saling mengirim SMS, Harrypun datang kekantor kerja Tara, yang berada di pojok itu, segera ia mengunci pintu kantornya dan diraihnya Tara dengan buasnya kemudian dilucutinya baju bawahnya, semua tanpa kecuali, dan diangkatnya Tara dimeja kerjanya lalu didudukkanya diatas meja kerja, segera dijilatinya memek hangatnya dengan lahapnya. Tara memejamkan matanya, sambil berpegangan kepala Harry menahan serentetan kenikmatan dan denyutan memeknya yang sangat luarbiasa sensasinya; maka digoyangkannya pantatnya sambil duduk, mengharapkan dera dan tusukan lidah Harry untuk segera menggapai dinding dalam rahimnya, Tara mendorong-dorong kepala Harry supaya masuk jauh kedalam selangkangannya. Sambil mengerang, ia menjepit kepala Harry karena dia mendapat Orgasmenya di pagi itu. Harry bangun dari selangkangan Tara setelah Tara mulai merenggangkan selangkangannya dan segera mendekapnya, diciuminya Tara dengan nafsunya yang membara bersama asmaranya menutupi semua perasaan yang ada di pagi itu.

Setelah Tara pulih kembali, dibiarkan dia merebahkan dirinya di meja kerjanya, selang beberapa menit, segera diturunkannya celana Harry, sambil berdiri dijulurkannya kontol tegangnya pada klitoris Tara, dimainkannya lagi klitoris itu dengan kontolnya, hal ini menimbulkan gairah Tara kembali menyelubungi tubuhnya. Setelah Tara menggeliat dan melelehkan getah bening memeknya, Harrypun menusukan kontolnya dalam Vaginanya, segera dipompanya dengan ritme pelan dan kemudiaan cepat, di tariknya lagi, diam sejenak dan dihujamkannya lagi dengan kuat.

Tara belingsatan dan mendongkak-dongkak kembali dan digoyang-goyangkannya kepalanya kekiri dan kekanan sambil giginya menggigit bibir bawahnya dengan kuat untuk menahan dera nikmat yang sangat dia inginkan tiap harinya. Sampai akhirnya Harry mengatakan akan mencapai ejakulasinya, ingin mereka menuangkan sama-sama, dan mereka selesaikan kenikmatan itu dengan sempurna, muncat tiga kali sperma dalam rahim Tara, segera dicabutnya kontol Harry, diputarnya badan Tara kepinggir meja dan disodorkannya kontol Harry kemulut Tara, segera Tara membuka mulutnya dan dikulumnya kontol Harry yang tegang merah, sedang memuncratkan spermanya langsung dalam tenggorokannya, segera ditelannya semua sperma itu, lalu dijilatinya kontol Harry dengan penuh kasih sayang. Setelah selesai session itu, mereka segera merapikan diri dan bekerja kembali.

Jam 11 siang, Tara telephone Marissa mengatakan akan ke dokter lagi, dan Marissa pun akan menolongnya mencatat pesan untuk Tara. Namun sebetulnya Tara hanya naik ke tinggkat 14 kamar No 31, di Paviliun Harry, disana Harry telah menunggu nya, setelah Harry berpesan ke Marissa bahwa dia akan pergi kelapangan balap selama 3 jam, kontrol keadaan di sana.

Segera setelah Tara Masuk ke Paviliun, tak sabar lagi Harry menggendong tara di kamar mandi dan melepas semua bajunya, untuk mandi bersama. Setelah mereka telanjang dimasukkannya Tara dalam bathtub, Harry berdiri dipinggir bathtub, di mintanya Tara menyepong dan mengelus-elus kontolnya, maka di elusnya buah zakar Harry lalu dikulum, dijilatnya dengan lidah nakal Tara, dimain-mainkannya dalam mulutnya, Harry mengerang kuat-kuat sambil matanya dipejamkan. Kemudian dirambatkannya lidah Tara kebatang kontol Harry, sambil menyapu dan menyedot seluruh batang kontol Harry, tangan Tara memilin dan memainkan buah zakarnya yang mengecil.
“Tara, kamu nakal, kamu menggodaku, kulumlah Tara kepala penisku itu, mainkanlah dengan lidah yang nakal itu..”
Diturutinya kemauannya, di kulumnya kepala Panis Harry, dan dimainkannya lidahnya dilingkaran kepala Panis yang menyembul itu.
“Aaacchh Tara, manisku, kau jalang, kau binal.. kau gadisku, kau milikku Taraa, kau selalu memuaskanku Tarra..”
Tara pun melepaskan kulumannya, dan minta dicium mulutnya dengan mulut lembutnya Harry.
“Harry kiss me darling, I need you always, I want to be with you always darling.”

Ditariknya pelan Harry kedalam air dan segera menduduki kontol yang keras itu dan menyelipkannya dalam vaginanya, sambil dia mendongkakkan kepala kearah belakang diayunkannya badannya, memompa penis Harry, dan Harry, memegang pinggang dan punggung belakang Tara menjaga supanya tak terbalik jatuh ke belakang. Sebagai, dewi amor sedang mengamuk Tara melonjak-lonjak memompa penis tegangnya Harry hingga pendakian birahinya mencapai puncaknya dan Tarrapun orgasme lagi.

Harry mengangkat Tara, dibalikkannya badan Tara supaya dia tiduran menungging releks dalam bathtub, kemudian dia tusuk dan pompa memek Tara dari belakang sambil Harry menekuk lututnya dalam air tersebut. Tara mengerang lagi, diiringi dengusan nafas Harry yang memburu, terus penis Harry menghujam dan menari didalam relung nikmatnya Tara dengan bebasnya, erangan dan raugan mereka berdua tak bisa dihindarkan dan akhirnya mereka mencapai orgasmenya yang kesekian kalinya dihari yang indah itu.

Mereka mandi bersama dan menguyur badan bersama, setelah puas mereka mengeringkan badan mereka dan beranjak ke tempat tidur. Melihat badan Tara yang masih telanjang itu, Harry ingin mencumbunya lagi, didorongnya Tara ketempat tidur, dan direbahkannya dia, dengan kaki masih menjutai dipinggir tempat tidur. Dimasukkannya lagi kontolnya walau belum tegang sepenuhnya, dan digoyang-goyangkannya terus menerus, sampai benar-benar keras, didalam liang vagina Tara, kemudian dihujamkannya kencang-kencang kontol buas itu pada memek Tara yang kenyal, sempit menghimpit dan berdenyut di dalam.
“Tara biarkan aku biadab, menuruti nafsu binatangku kepadamu, kaupun akan merasa bahagia dengan perlakuanku ini, katakan bila kau tak menyukainya.”
“Harry lakukanlah, kau wild dan aku menyenanginya, kuingin kontolmu nyelip disana terus dimanapun aku pergi, dari pagi sampai petang, akan ku pilin dan kupijit dengan denyutan memekku terus menerus Harry!”
“Harry aku bosan memakai dcku akan kuganti pakai kontolmu saja didalam sana untuk menutupi memekku”
Harry memejamkan matanya, sambil menjawab, “Heemm, Tara, kau benar-benar binaall!”

Tara, merasakan keindahkan making love dengan Harry, sukmanya menari, seiring deburan darah dan detup jantungnya setiap kali ia mendapatkan hujaman kontol Harry; ngilu, geli, seribu rasa ada dalam tubuhnya seakan ia melayang-layang dialangit yang biru tiada berbatas; hingga sampai saatnya terasa ia akan orgasme lagi.
“Harry aku siap, magma didalam akan segera meledak Harry, berikan spermamu didalam sana”
“Okey Tarra, aku dattaangg segera”
Ddan Creett, creet, creet, sempurnalah pergumulan mereka disiang hari itu. Maka robohlah Harry di badan Tara, dengan penuh peluh di badan dan kepalanya..
Mereka tertidur selama 1.5 jam, kemudian mereka membersihkan diri lagi, berpakaian kembali. Tara keluar dari Paviliun Harry dengan sebelumnya mengecup bibirnya mengucapkan selamat siang dan selamat kerja lagi.

Hari itu Tara pulang sore, karena merasa capek sekali seharian ngentot bersama Harry, dijalan dia membeli makanan kesukaan Nico dan anak-anak. Sesampai dirumah mereka makan malam dan main dengan anak-anak sebentar, dan setelah bercakap-cakap dengan Nico, dibahasnya semua masalah rumah tangga sehari itu, kemudian menyuruh anak-anak tidur. Sedang Nico menggandeng Tara masuk kedalam kamar dan meminta jatahnya yang dua hari tidak didapatkannya dari Tara.
Dalam hati Tara mengeluh, “Mati aku hari ini, sekian kali aku harus mengentot, memekku sudah terasa lelah sekali”, namun sekali lagi ini kewajiban, tak bisa ditolaknya permintaan Nico.
Segera, Nico melucutinya, dan merebahkan Tara di tempat tidurnya, secepat itu juga Nico menghunjam memek Tara, mulailah “mesin sex” tersebut menderu sejalan dengan derap birahi Nico.

Puas Nico, menghujam tanpa perasaan dari depan, dibalikkannya Tara supaya menungging, dan di hujamkannya kontol ngaceng Nico dari belakang, tak lama kemudaian dia sudah memuncratkan sperma birahinya di dalam rahim Tara, tanpa harus mengimbangi perasaan Tara, dalam usahanya mendaki birahinya untuk sama-sama menikmati cinta suami istri yang sedang memadu kasih, dengan cara yang terdalam, yakni ngentot.

Kembali kecewa dalam hati Tara, dan benar-benar kesal akan perilaku Nico, yang selalu sepihak dalam menunaikan tugasnya sebagai suami. Sedih sekali perasaan Tara, namun sekali lagi dia tidak bisa mengelak dan protes kepada Nico suaminya. Esoknya, Tara kembali bekerja, dia mendapat e-mail dari sebuah perusahaan Garment dari designer terbaik di negeri itu, dimana mereka akan mengadakan pameran dan peragaan dalam Hotelnya, kira-kira 10 hari mendatang. Tara segera menyiapkan segala sesuatunya untuk penyelenggaraan pameran dan peragaan pakaian elite ini.

Setiap sore Tara harus tinggal sampai agak larut, menyusun brochures dan undangan kepada orang-orang yang pantes diundang dan penyelenggaraannya. Harrypun harus juga mendorong dan mendukung usaha Tara dalam hal ini, maka kebersamaan mereka tak ada yang mencurigai. Sering Tara tinggal di Paviliunnya, dan mencari tanda tanggannya Harry; bila Harry bilang mau mengerjakannya di pavilliun, dan Tarapun harus datang, walau akhirnya mereka berdua selalu melampyaskan hasrat birahinya di paviliun itu.

Di suatu hari Sabtu, Tara mengatakan ke Nico bahwa dia akan masuk kerja, ada kerjaan yang tidak selesai. Namun setelah dia kerja sejam di kantornya, Harry memanggilnya. Setelah Tara berada di Paviliunnya, sambil minum teh bersama, Harry mengeluarkan amplop tak tertutup diberikannya kepada Tara.
“Tara, aku sangat mencintaimu, aku ingin juga sedikit memiliki cinta kepada anak-anakmu”
“Ini tanda cintaku pada anak-anakmu, karena aku tentunya tak bisa memeluk dan menggapainya, Depositkan uang ini untuk sekolah anak-anakmu”
“Jangan sekali-kali kau pakai, kau akan mendapatkan bagiannya sendiri dariku”

Terperanggah Tara akan kata-kata Harry, dan melelehlah air matanya.
“Harry, apa artinya semuanya ini, akankah kau meninggalkan aku?”
“Tara, Jangan kau berburuk sangka padaku, kau adalah gadis binalku selamanya.”
“Tak akan kutinggalkan dirimu akan selalu kuusahakan yang terbaik untukmu, untuk kita selalu saling memiliki”, maka diciumnya bibir Tara dan dihapusnya air matanya.
Kembali mereka berpangutan, dan diteruskan seharian ngentot berdua diruang tamu setelah minum teh, di dapur sambil memasak, karena Harry dan Tara senang memasak.

Mereka mempunyai tekad menjalani cinta dan kebahagian mereka, mereka tuai dalam “Rumah Besar” sambil melupakan kepedihan hidup dalam keluarganya masing-masing, sampai waktu dan umur memisahkan mereka.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-gelora-cinta-tara.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/birahi-gadis-gadis-pencinta-alam.html http://www.ceritadewasaplus.com/birahi-gadis-gadis-pencinta-alam.html#comments Sat, 28 Apr 2012 10:18:02 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1087

read more »]]>

Namaku Son, mahasiswa semester III, tinggiku 168 cm dan berat 58 kg.

Kejadian ini terjadi pada waktu aku melakukan pendakian gunung Lawu bersama teman-temanku. Lokasiku saat itu berada dekat base camp pertama kearah pendakian gunung Lawu. Aku sedang beristirahat sendirian disini. Tadi malam aku bersama teman-temanku 5 orang sudah melakukan pendakian menuju puncak Lawu dan telah berhasil mencapai puncak Lawu jam 6 pagi tadi.

Sekarang dalam perjalanan pulang, sementara teman-temanku sudah pada turun gunung semua. Kuputuskan untuk beristirahat sebentar di base camp pertama ini sambil mendirikan tenda, biar nanti agak sorean aku turun sendiri menuju pos kami yang dekat dengan rumah penduduk sekitar gunung Lawu ini.

Sore itu pukul 15.10 WIB, aku baru saja selesai menyeduh kopi instanku, ketika tiba-tiba dari arah semak belukar arah barat muncul 2 orang cewek dengan baju dan kondisi acak-acakan.

”Halo Mas?” sapa salah satu cewek itu padaku.

Cewek yang kutaksir berusia 18 tahun kelihatannya anak SMA, rambutnya pendek seperti aktris Agnes Monica. Sedangkan temannya yang satu berambut panjang sebahu mirip-mirip bintang sinetron Bunga lestari.

”Halo juga” jawabku menyembunyikan kekagetanku karena munculnya yang tiba-tiba, sempat terpikir ada setan atau penunggu gunung ini yang mau menggodaku.
”Loh, dari mana, kok berduaan aja?” tanyaku coba berbasa-basi.
”Iya, kita tadi misah dari rombongan, terus nyasar..” jawab cewek itu sambil duduk di depanku.
”Boleh minta minum gak? Kita haus sekali, sudah 5 jam kita jalan muter-muter gak ketemu jalan sama orang” lanjutnya kemudian.

Aneh juga pikirku, padahal perasaanku dari tadi pagi, sering sekali aku berpapasan dengan orang-orang atau rombongan pecinta alam.

”Ada juga air putih, tuh di botol atau mau kopi, sekalian aku buatin?” jawabku.

Cewek yang berbicara denganku tadi ini tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung menghampiri botol minum yang kutunjukan dan segera meminumnya dengan terburu-buru, sedangkan temannya yang satu lagi hanya memperhatikan dan kemudian meminta botol minumku dengan santun.

Kuperhatikan saja tingkah mereka, cewek-cewek muda ini cakep juga khas ABG kota, tapi saat itu mukanya kotor oleh debu dan keringat, kaosnya cuma ditutupi jaket kain, celana jeans dan sepatu olah raga warna hitam, ini sih mau piknik bukan mau naik gunung, abis gak bawa bekal atau peralatan sama sekali.

Mereka minum terus sampai puas kemudian tiduran disamping kompor parafin yang sedang kugunakan untuk memasak air.

”Mas namanya siapa?” tanya cewek yang berambut pendek.
”Namaku Adek sedangkan ini temenku Lina” katanya lagi.
”Namaku Son” jawabku pendek sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
”Ada makanan gak, Mas? Adek laper banget nih..” tanya Adek tanpa basa basi kepadaku yang sedang memperhatikannya.
”Ada juga mie kalo mau, sekalian aja masak mumpung airnya mendidih” jawabku.

Ternyata Adek tidak mau masak sendiri, dia terus berbaring dan minta tolong padaku untuk dimasakin mie.

”Wah kamu ini manja banget ya? Kenal aja barusan tapi udah nyuruh-nyuruh?” godaku pada Adek.
”Tolong deh Mas.. Adek capek banget” “Nanti gantian deh..” rayu Adek padaku.
”Gantian apa ya? Emang nanti kamu mau masak mie lagi? Bayarnya pake pijet aja ya?” godaku lebih lanjut.
”Maunya tuh.. tapi bereslah..” jawab Adek cuek sambil memejamkan matanya.

Kuperhatikan Lina, tapi dia ternyata diam saja, dan hanya mengangguk kecil ketika kutawarkan mie. Sementara aku masak mie instan, Adek kemudian bercerita kisahnya sampai dia dan Lina tersesat berduaan di tengah gunung Lawu ini. Adek berangkat bersama serombongan pecinta alam SMAnya jam 10 siang tadi. Rencananya malam nanti Adek dan rombongan akan mendaki gunung Lawu, tapi waktu menuju base camp kedua, perut Lina sakit, sehingga Adek menemani Lina mencari tempat untuk buang hajat, tetapi setelah selesai ternyata mereka tertinggal dan terpisah dari rombongan.

Setelah mienya siap segera saja pancinya kuberikan pada mereka untuk segera disantap. mMsih saja Adek protes kok tidak ada piringnya.

”Emangnya ini di warung” kataku cuek sambil tersenyum kearah Lina.

Lina hanya tersenyum tipis dengan bibir gemetar.

”kamu sakit ya Lin?” tanyaku.
”Nggak Mas hanya kedinginan” katanya pelan.
”Butuh kehangatan tuh Mas Son” potong Adek sekenanya.

Wah kaget juga aku mendengar celoteh Adek yang terkesan berani. Kuperhatikan keadaan sekitar yang sudah mulai berkabut dan langit gelap sekali. Waduh jangan-jangan sudah mau hujan. Segera saja kubereskan peralatanku.

”Masih pada kuat jalan nggak?” tanyaku pada 2 orang cewek ini.
”Nanti kalau disini hujan, bisa basah semua.. Mending kalo masih bisa jalan kita cepat turun agar nggak kehujanan” lanjutku.

Baru saja selesai aku bicara, tiba-tiba ada kilatan petir disusul dengan suaranya yang keras.

”Duer!!”

Disusul dengan tiupan angin yang kencang membawa rintik-rintik air hujan.

”Nah lo.. benerkan, telat deh kalo kita mau nekat turun sekarang” kataku sambil mematikan kompor parafinku.
”Ya udah, cepet masuk tenda sana, cuaca lagi nggak bersahabat nih, bakal hujan deres disini!” perintahku sambil membereskan peralatanku yang lain karena hujan sudah mulai turun.

Aku, Adek, dan Lina segera berdesak-desakan di dalam tenda kecil parasut, sementara hujan semakin deras disertai bunyi angin yang keras, segera aku memasang lampu kemah kecil yang biasa kubawa kalau aku naik gunung. Lumayanlah cahayanya cukup untuk menerangi di dalam tenda ini. Sementara kurasa hari menjelang maghrib, dan hujan masih saja turun walau tidak deras.

Adek dan Lina duduk meringkuk berdampingan dihadapanku sambil tangannya mendekap kaki.

”Kamu masuk aja ke sleeping bag itu, kelihatannya kok kamu kedinginan sekali” saranku pada Lina yang mulai menggigil kedinginan.
”Tapi copot sepatunya” lanjutku kemudian.

Lina diam saja, tapi menuruti saranku. Akhirnya Adek dan Lina tiduran berhimpitan di dalam sleeping bag sambil berpelukan.
Kuperhatikan saja tingkah mereka berdua,

”Hei kalian pada ngomong dong, jangan diem aja. Jadi serem nih suasananya” ucapku pada Adek dan Lina.
”Mas Son gak kedinginan..” tanya Lina tiba-tiba.
”Ya dingin to, siapa juga yang nggak kedinginan di cuaca seperti ini?” jawabku apa adanya.
”Kalian enak berduan bisa berpelukan gitu.. gak adil” kataku mencoba bercanda.
”Ya Mas Son sini to, kita berpelukan bertiga” kata Adek pendek, tak ada nada bercanda dalam nada omongannya.

”Waduh, gak salah denger nih?” pikirku.

Tak akan ada kesempatan kedua kalau hal ini kutanyakan lagi.

”Ya udah, kalian geser dong. aku mau di tengah biar hangat” kataku cuek sambil membuka resleting sleeping bagku.

Tidak sempat kuperhatikan ekspresi Lina atau Adek karena keadaannya yang remang-remang. Aku merebahkan diri diantara dua cewek yang baru kukenal ini, tak ada kata-kata atau komentar apapun, kulingkarkan kedua tanganku kepada Adek di sebelah kiri dan Lina disebelah kanan. Walau awalnya aku merasa canggung tapi setelah kunikmati dan merasakan dua tubuh hangat mendekapku dan akupun merasa nyaman sekali. Kepala Adek dan Lina bersamaan rebah di dadaku. Kurasakan deru nafas yang memburu dari keduanya dan dariku juga.

”Badan Mas Son hangat ya Lin?” kata Adek pelan seraya tangannya melingkar kebawah dadaku dan kakinya naik menimpa kakiku, barangkali Adek lagi membayangkan aku seperti gulingnya kalau dia pas lagi mau tidur.
”Iya tadi Lin takut sekali, sekarang dipeluk sama Mas Son, Lin jadi nggak takut lagi” jawab Lina pelan sambil mengusap kepalanya di dadaku.

Samar-samar tercium bau wangi dari rambutnya. Kemudian darahku terasa terkesiap saat lutut Adek entah disengaja atau tidak menyenggol burungku.

”Ehm..” aku hanya bisa berdehem kecil ketika kurasa hal itu ternyata mendorong birahiku naik.

Waduh, pikiranku langsung ngeres, rugi juga ya kalau kesempatan selangka seperti ini kusia-siakan, minimal harus ngelaba sesuatu nih..
Iseng-iseng tangan kiriku yang masih leluasa kuberanikan memeluk tubuh Adek mulai meraba-raba kebagian daerah buah dada Adek.

”Ehm..” Adek ternyata hanya berdehem pelan.

Akupun mulai berani meningkatkan aksiku lebih lanjut, aku mencoba meremas lembut susunya. Ternyata Adek hanya diam, dia hanya mendongakkan mukanya menatapku, sambil tangannya juga meraba-raba dan mengelus-elus dadaku. Kucoba mencium rambutnya lalu kukecup kening Adek, sementara tanganku terus meremas-remas susunya dengan tempo agak cepat.

”Aah.. Mas Son” suara Adek terdengar lirih.
”Ada apa Dek?” tanyaku pelan melihat Lina sudah mulai curiga dengan aktivitas yang kulakukan.
”Kamu masih kedinginan ya?” kataku lagi sambil menggeser tubuhnya agar lebih naik lagi.

Sementara tanganku jadi lebih leluasa menelusup ke dalam balik jaketnya dan membuka pengait BHnya yang masih tertutup dengan kaos luarnya. Adek hanya diam saja saat kulakukan hal itu, bahkan saat tanganku sudah sempurna merengkuh susunya dibalik BHnya. Dia menggigit kecil dadaku.

”Ah.. Mas Son..” katanya parau dengan tidak memperdulikan ekspresi Lina yang kebingungan.

Saat kupermainkan puting susunya, tiba-tiba Adek bangkit.

”Mas Son, Adek ma.. masih kedinginan” kata Adek dengan bergetar sambil menghadapkan mukanya ke wajahku sehingga jarak muka kami begitu dekat.

Kurasakan nafasnya memburu mengenai wajahku. Aku hanya bisa diam tercekat ketika Adek mulai menciumi mukaku dengan tidak beraturan, mungkin karena gelap hampir semuanya kena diciumnya. Kurasakan lagi kaki Adek sudah melakukan gerakan yang teratur menggesek-gesek ******ku naik dan turun. Tanpa sadar akupun membalas ciuman Adek, hingga akhirnya bibir kami bertaut. Dengan penuh nafsu Adek mengulum bibirku sambil lidahnya terjulur keluar mencari lidahku. Setelah didapatnya lidahku, dihisapnya dengan kuat sehingga aku sulit bernafas.

”Gila nih, cewek ABG sudah pintar french kiss” ucapku dalam hati.

Tanpa sadar tangan kananku mencengkram pundak Lina.

”Mas sakit Mas pundak Lina” kata Lina tiba-tiba yang menghentikan aktivitasku dengan Adek.
”Oh maaf Lin” jawabku dengan terkejut.

Kuperhatikan ekspresi Lina yang bengong melihatku dengan Adek. Tapi rasa tidak enakku segera hilang karena ternyata Adek tidak menghentikan aktivitasnya, dia tampaknya cuek aja dengan Lina, seakan menganggap Lina tidak ada. Adek terus menciumi telinga dan leherku.

”Mas Son, Adek jadi pengen.. Adek jadi BT, birahi tinggi” kata Adek lirih di telingaku sambil tangannya sudah bergerilya mengusap-usap ******ku yang masih tertutup rapat oleh celana jeansku.

”Waduh.. bagaimana ini” pikirku dalam hati.

Pikiranku serasa buntu. Kupandangi wajah Lina yang kaku melihat polah tingkah Adek yang terus mencumbuku. Lina pun bangkit dari rebahannya sambil beringsut menjauh dari badanku. Tak sempat ku berkata lagi, Adek yang sudah birahi tinggi tanpa ampun menyerangku dengan ganasnya, dicumbunya seluruh wajah dan leherku, malah kini posisinya menaiki tubuhku dan berusaha membuka bajuku.

Aku yakin walau suasananya remang-remang, Lina pasti melihat jelas semua aktivitas kami, bahkan dengan kaos dan BH Adek yang sudah tersingkap keatas dan tanganku yang sedang meremas-remas susu Adek, sekarang jelas terpampang di depan mata Lina. Kepalang tanggung, segera saja kurengkuh tubuh kecil Adek dan kuhisap puting payudaranya yang kecil dan berwarna merah kecoklatan itu secara bergantian dengan posisi adek diatas tubuhku. Pentil itu tampak sudah tegak mengacung karena pemiliknya sudah dilanda nafsu birahi yang sangat tinggi.

”Ah.. ah.. Mas Son..” gumam Adek lirih.
”Enak Mas, terus.. jangan dijilat terus, tapi disedot.. aah..” lanjutnya.

Aktivitas ini kuteruskan dengan mengelus dan meraba pantat Adek yang sejajar dengan ******ku. Kuremas pantat Adek sambil menggesek-gesekan ******ku pada daerah kemaluan Adek yang masih terbungkus dengan celana jeans yang dikenakannya. Kujilati semua yang ada di dada Adek, bahkan kugigit kecil puting mancung itu yang membuat Adek melenguh panjang.

”Aaahh.. sshh..”

Aksiku ternyata membuat Adek blingsatan, dikulumnya bibirku dan diteruskan ke leherku sambil berusaha membuka semua bajuku, nampaknya Adek mau balas dendam melancarkan aksi yang sama dengan yang kulakukan tadi.

Benar saja, begitu bajuku terbuka semua, Adek segera menghisap putingku dan menggigit-gigit putingku dengan ganas. Kurasakan sensasi yang luar biasa yang membuat ******ku semakin tersiksa karena tidak bisa bangun terhalang oleh celana jeansku. Saat itu bisa kuperhatikan Lina di samping kiriku yang sedang menatap nanar aktivitas kami, kulihat tangan kanannya dijepitkan pada dua belah pahanya, entah sedang terangsang atau sedang kedinginan.

Tanpa kata, kuberanikan tangan kananku mengelus paha Lina sambil berusaha meraih tangan Lina. Lina hanya diam saja, bahkan semakin terpaku saat melihat aksi Adek yang terus mencumbu bagian bawah pusarku. Aku yang merasa sangat geli hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.

”Aah.. Dek, jangan dijilat di daerah situ terus.. ge..li se..ka..li..” ujarku dengan nafas tersengal.

Tanpa sadar aku sudah meremas tangan Lina dan Linapun kurasa juga membalas remasan tanganku. Tapi kejadian demi kejadian berlangsung begitu cepat, Adek seolah sudah tidak peduli lagi, dia langsung membuka ikat pinggangku diteruskan dengan membuka resleting celana jeansku. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku saat itu, keperhatikan tingkah Adek sambil tanganku tetap memegang tangan Lina.

Saat resleting celanaku sudah terbuka, Adek meraih ******ku yang masih terbungkus celana dalamku, lalu dielusnya sebentar kemudian ditariknya sampai selutut celana jeansku berikut celana dalamku juga. Tanpa banyak kata, Adek hanya memperhatikan sebentar ******ku kemudian mencium dan menjilat permukaan ******ku.

”Aah..” aku hanya bisa mengeluarkan kata itu saat Adek mulai mengulum ******ku dan mengisapnya.
”Aargh .. Dek, enak sekali Dek” erangku.

”Gila nih anak, baru SMA sudah selihai ini, aku tak habis pikir” gumamku dalam hati.

Saat Adek masih asik berkaraoke dengan ******ku, kulihat sekilas ke Lina, ternyata dia sedang memperhatikanku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya. Kemudian seperti ada dorongan lain kutarik tangan Lina sehingga tubuhnya rebahan lagi disampingku.

”Lin, aku ingin cium bibir kamu” bisikku perlahan di telinga Lina.

Saat itu Lina diam saja sambil tetap menatapku. Kutarik wajahnya mendekat dengan wajahku dan segera kulumat bibir Lina yang mungil itu.

”Eemh ..” suara yang terdengar dari mulut Lina.

Tak ada perlawanan yang berarti dari Lina, Lina diam saja tak membalas ciumanku, entah karena pasrah atau tidak tahu caranya berciuman. Kurasakan getaran birahi yang luar biasa saat ******ku terus dipermainkan oleh Adek sementara konsentrasiku terarah pada Lina yang pasrah. Segera saja aku menciumi dada Lina yang masih terbungkus oleh bajunya sementara tanganku yang satu mengelus-elus selangkangan Lina.

”Aah.. ah..” Lina mulai bereaksi panas saat kusibak bajunya sehingga aku bisa menjilati permukaan susu yang masih tertutup oleh BHnya yang berwarna pink.
”Ya diajari tuh Lina, Mas Son.. sudah gede tapi belum bisa bercinta” kata Adek tiba-tiba.

Kaget juga aku mendengar teguran itu, kuperhatikan Adek tenyata dia sudah tidak menghisap ******ku lagi, tapi sedang membuka celana jeans lalu celana dalamnya sendiri.

”Adek masukkin ya Mas” kata Adek pelan tanpa menunggu persetujuanku sambil mengarahkan ******ku ke lubang kawinnya yang tampak olehku disuburi bebuluan jembut keriting.

Pelan tapi pasti Adek membimbing ******ku untuk masuk penuh ke dalam tempiknya. Kurasakan rasa hangat menjalar dari ******ku ke seluruh tubuhku. Tempik Adek yang sudah basah oleh lendir pelumasnya memudahkan ******ku masuk ke dalamnya.

”Ah.. burung Mas Son gede.. terasa penuh di tempik Adek” katanya mendesis sambil menggoyangkan pantatnya dan memompanya naik turun.
”Ah.. ash.. ah.. enak sekali Mas Son” kata Adek parau sambil mencumbu dadaku lagi.

Aku yang menerima perlakuan demikian tentu saja tidak terima, kuangkat badan Adek dan mendekatkan teteknya ke mulutku sambil terus memompa dari bawah mengimbangi goyangan Adek.

”Huuf.. uh..uh.. aah.. terus Mas” erang Adek memelas.

Kujilati terus dan mengisap puting Adek bergantian kiri dan kanan, sementara Adek menerima perlakuanku seperti kesetanan.

”Ayo Mas.. Son.. terus.. ayo .. teruuss.. Adek mau dapet ni..” katanya bernafsu.

Tak beberapa lama kemudian, dengan kasar Adek mencium dan mengulum bibirku.

”Eeemhp.. aaah..”

Dan kemudian Adek terkulai lemas di dadaku, sementara aku yang masih memompa dari bawah hanya didiamkan Adek tanpa perlawanan lagi.

”Aaa.. berhenti dulu Mas Son, istirahat sebentar, Adek sudah dapat Mas Son” kata Adek lirih mendekapku dengan posisinya masih di atasku dan ******ku masih di dalam liang senggamanyanya.

Kurasakan detak jantung Adek yang bergemuruh di dadaku dan nafasnya yang ngos-ngosan mengenai leherku.

”Makasih ya Mas Son, enak sekali rasanya” kata Adek pelan.

Aku yang belum mendapatkan orgasme, hanya bisa melirik ke arah Lina yang saat itu ada di sampingku, ternyata tangannya sedang meremas-remas teteknya sendiri dibalik BH berendanya yang sudah terbuka. Segera saja kutarik Lina mendekatiku dan menyuruhnya agar ia berposisi push up mendekatkan teteknya kemulutku.

”Aah .. Mas Son..” kata Lina pelan saat tetek kanannya kuhisap.

Saat itu Adek bangkit dari posisi semula dan mencabut tempiknya dari ******ku, kemudian berbaring di sisi kiriku sambil merapikan kaosnya. Aku yang kini leluasa berusaha bangkit sambil mencopot celana jeansku yang masih menempel di lututku. Kuterus meremas-remas tetek Lina sambil mengulum bibir Lina yang kini posisinya berbaring di bawahku. Berbeda dengan yang tadi, kini Lina mulai agresif membalas kulumanku bahkan bibirnya menjulur-julur minta diisap.

Kubimbing tangan Lina untuk memegang ******ku yang masih tegang dan basah karena cairan kawin dari tempik Adek. Semula seakan ragu, tapi kini Lina mengenggam erat ******ku dan seperti sudah alami Lina mengocok ******ku waktu lidahku bermain di bawah telinganya dan lehernya.

”Aah .. Mas Son.. geli ..” hanya itu komentar dari bibir Lina yang seksi itu.

Perlahan lidahku mulai bermain di seluruh dada Lina, dari leher sampai gundukan teteknya kujilati semua, dan kugigit kecil pentil susu Lina yang berwarna kemerahan dan sudah tampak tegang itu.

”Aargh.. aah ..” Lina mulai menggelinjang.

Lina diam saja waktu kubuka ikat pinggangnya dan kubuka kancing celana jeansnya. Kuperhatikan Lina masih memejamkan matanya dan melenguh terus saat kucumbu bagian pentilnya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat ******ku, dan tangan kirinya menekan-nekan kepalaku, sesekali menjambak rambutku. Kemudian tanganku menelusup ke dalam balik celana dalam Lina waktu kancing celana jeans Lina sudah terbuka, kurasakan sambutan hangat bulu-bulu jembut yang masih jarang diatas tempiknya. Kuelus-elus sebentar permukaan liang kawinnya, lalu jari-jariku tak ketinggalan bermain menekan-nekan tempiknya yang sudah basah oleh lendir kawinnya.

”Ah.. Mas.. Son .. aah” suara Lina semakin terdengar parau.

Aku segera mengalihkan cumbuan ke daerah perut Lina dan menurun menuju tempiknya. Kubuka celana dalam berenda yang juga berwarna pink itu tanpa melihat reaksi Lina dan segera menciumi permukaan tempik Lina yang masih ditumbuhi bulu-bulu jembut halus yang jarang-jarang.

”Ah.. jangan Mas Son .. ah..” kata Lina mendesis.

Tentu saja kubiarkan sikap yang menolak tapi mau itu. Lidahku sudah mencapai permukaan tempiknya lalu kujilati yang segera membuatnya menggelinjang dan dengan mudah aku menurunkan celana jeansnya sampai sebatas pahanya. Kujilati terus tempik Lina sampai kedalam-dalam sehingga pertahanan Lina akhirnya jebol juga, pahanya semula yang mengapit kepalaku mulai mengendur dan mulai terbuka mengangkang, sehingga akupun leluasa mencopot seluruh celana jeans dan celana dalamnya.

”Aah .. argh ..” desis Lina pelan.

Posisiku saat itu dengan Lina seperti posisi 69, walau Lina tidak mengoral ******ku aku tidak peduli tetap menjilati tempiknya dengan ganas dan tanpa ampun.

”Aah.. Mas .. truss.. ahhh .. enaak.. Mas .. aah ..” teriak Lina tidak jelas, sampai akhirnya pahanya menjepit erat kepalaku dan ******ku terasa sakit digenggam erat oleh Lina.
”Aaah.. Mas ..” teriakan terakhir Lina bersamaan dengan sedikit cairan birahi yang menyemprot dari dalam tempiknya kedalam mulutku.

Rupanya Lina sudah mendapat orgasme pertamanya walau dengan lidahku.

”Aah.. enak sekali.. Mas Son .. sudah ya Mas Son..” kata Lina pelan sambil tergolek lemah dan pasrah.

Akupun menghentikan aktivitasku dan mengambil nafas dulu karena mulutku jadi pegal-pegal kelamaan asyik mengoral tempiknya. Aku berbaring di tengah dua cewek ini dengan posisi yang terbalik dengan mereka, kepalaku berada diantara kaki-kaki mereka.
Baru sebentar aku mengambil nafas, kurasakan ******ku sudah ada yang memegang lagi.

”Mas main sama Adek lagi ya? Adek jadi nafsu ngeliat Mas Son main sama Lina” kata Adek tiba-tiba yang sudah bangkit dan kini tangannya sedang memegang ******ku.

Aku tak sempat menjawab karena Adek sudah mengulum ******ku lagi, bahkan kini pantatnya beralih ke wajahku, menyorongkan tempiknya kemulutku untuk minta dioral juga seperti tadi aku dengan Lina. Posisiku dengan Adek kini 69 betulan tapi dengan posisiku yang di bawah. Kujilati tempik Adek dengan lidah yang menusuk-nusuk kedalamnya.

”Eeemph .. emmph ..” Adek tak bisa mendesah bebas karena mulutnya penuh dengan ******ku.

Lama kami bermain dengan posisi itu, sampai akhirnya kuhentikan karena aku tidak tahan dengan isapan Adek yang luar biasa itu dan kalau dibiarkan terus akibatnya ******ku bisa muntah-muntah di dalam mulut Adek. Aku bimbing agar Adek berbaring di samping Lina sedangkan aku di atasnya mulai mencumbu lagi dari teteknya dengan menggesek-gesekan ******ku ke permukaan tempiknya yang dipenuhi oleh bulu-bulu jembut yang berwarna hitam pekat itu. Adek seperti mengerti, kemudian membimbing ******ku untuk masuk ke dalam lubang kawinnya. Akupun bangkit sambil mengarahkan ******ku siap untuk menghujam lubang senggama Adek. Pelan tapi pasti kumasukan ******ku mulai dari kepala hingga semuanya masuk ke dalam tempiknya.

”Aaah .. Mas Son ..” desis Adek sambil menggoyang pantatnya.

Kurasakan seret sekali tempiknya, beda sekali dengan yang tadi gesekan itu terasa nikmat menjalar di setiap centi dari ******ku dengan sesekali terasa denyutan pelan dari liang kemaluannya.

”Mas yang keras dong goyangnya.. terasa sekali mentok” kata Adek sambil melingkarkan tangannya ke leherku.

Akupun jadi semangat memompa tubuh ranum yang mungil ini. Di udara dingin seperti ini terasa hangat tapi tidak berkeringat.

”Aah.. ah.. terus Mas .. terusss.. ah.. ah ..” lanjutnya keenakan.

Mungkin sekitar 5 menit aku menggoyang Adek, sampai kemudian aku tidak tahan melihat teteknya yang bergoyang indah dengan puting kecil menantang. Akupun mengulum puting Adek sambil meremas-remasnya dengan gemas, sementara pompaan ******ku telah diimbangi goyangan Adek yang bisa kupastikan goyangan ngebor ala Inul tidak ada apa-apanya.

”Ma.. Mas .. Adek mau dapet laggii.. bareeng yaa.. ah.. ah..” desis Adek histeris.

Aku jadi terangsang sekali mendengar lenguhan Adek yang merangsang itu, kuteruskan aksiku dengan menjilat dan mencium dada, ketiak, leher, telinga dan pipi Adek.

”Aaarg ..” erangnya keras.

Adek mengulum bibirku sambil memejamkan matanya. Nampaknya Adek telah mendapat orgasmenya yang kedua, sementara tubuhnya menegang sebentar dan kemudian melemas walau aku masih memompanya. Aku segera mencabut ******ku dan mengocoknya sebentar untuk menumpahkan pejuku ke perut Adek.

”Crut.. crut..”

Pejuku keluar banyak membasahi perut Adek dan mengenai teteknya.

”Aaah..” akupun melenguh puas saat hasratku telah tersalurkan.

Adek mengusap-usap pejuku di perutnya kemudian membersihkan dengan tisu yang diambil dari celananya, sedangkan Lina mendekat dan melihat aksi Adek, kemudian membantu membersihkan pejuku.

”Baunya seperti santan ya?” komentar Lina sambil mencium tisunya yang penuh dengan pejuku.
”Ya udah. Semua dibereskan dulu” kataku memberi perintah kepada dua cewek yang baru saja bermain cinta denganku ini.
”Kita istirahat dulu ya sambil tiduran, nanti kalo sudah nggak hujan kita putuskan mau turun ke bawah atau bermalam disini ya” lanjutku kemudian.

Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan dua cewek yang mendekapku. Entah mimpi apa aku semalam bisa terjebak dalam situasi seperti ini.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/birahi-gadis-gadis-pencinta-alam.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hari-hari-penuh-keindahan.html http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hari-hari-penuh-keindahan.html#comments Sat, 28 Apr 2012 10:03:22 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1117

read more »]]>

Panas cerita “Hari-Hari Penuh Keindahan”
Namaku Kundalini. Sebenarnya aku malas menceritakan pengalamanku ini kepada orang lain. Apalagi aku harus mengetiknya terlebih dahulu. Tapi tidak apalah, demi pembaca situs 17Tahun.com tercinta ini.

Seperti tadi sudah kunyatakan, namaku Kundalini, cewek 25 tahun, 41 kg, 34B, 27?. Aku tinggal di kota kecil di Jawa Tengah. Setelah menyelesaikan studiku di perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Aku tidak mau terlalu spesifik. Kalaupun ada yang mau menghubungiku, e-mail saja kepadaku.

Aku termasuk orang yang bisa dibilang maniak dalam hubungan seksual. Aku pun mampu bertahan lama dalam menghadapi lawan jenisku. Untungnya aku tergolong pendiam. Sehingga orang tetap mengenalku sebagai Kundalini yang pendiam dan memang aku minder dan kurang banyak berteman. Selama ini aku menjalin hubungan dengan temanku yang bernama Prast. Prast tidak terlalu good looking, namun bisa dikatakan point tujuh, berkulit gelap, tinggi kurus. Bulu matanya kata teman-temanku indah seperti bulu mata cewek. Namun ada sesuatu yang lebih dari sekedar tampilan fisik. Setelah membaca ceritaku, mungkin anda akan paham apa yang dinamakan pria idaman, bagaimana definisinya. Mungkin ini pulalah yang membuat dia banyak mempunyai teman wanita, yang terus terang terkadang (meski jarang) aku agak sedikit cemburu. Menurut ceritanya, dia hanya telah pacaran dengan beberapa cewek, namun kurasa pasti lebih dari puluhan. Dengan dia pulalah aku pertama kali mengenal hubungan seks dan ternyata aku sangat menyukainya. Kami melakukannya hampir setiap malam.

Peristiwa ini berawal 3 tahun yang lalu ketika aku masih kuliah. Waktu itu aku ke rumah Prast. Seperti biasa kami nonton film di rumahnya. Kebetulan waktu itu Prast punya film bagus yang judulnya Powder. Kami rebahan sambil ngobrol. Sementara Prast asyik merokok. Selama ini, hubunganku hanya sebatas snogging, necking atau petting saja. Tidak pernah intercourse. Kalaupun ada yang harus disebutkan lagi, paling heavy petting saja. Namun siang itu terjadi sesuatu yang tidak kami perkirakan sebelumnya. Entah siapa yang memulai, aku atau Prast. Tapi kami saling berpagutan. Sementara tangan Prast masuk ke hem yang kukenakan dan meremas-remas payudaraku.

Satu yang kusukai dari Prast adalah dia selalu membuka bra yang kukenakan tanpa menggunakan tangan, tetapi menggunakan gigi. Itupun tanpa perlu melepas baju yang kupakai. Dia biasanya menggigit hook braku hingga lepas. Aku menyukainya ketika giginya terasa menyentuh punggungku.

Tangan Prast sekarang tidak lagi cuma bermain di payudaraku, namun sudah mulai turun membelai pusarku. Bibirnya pun meniup-niup pusarku. Geli rasanya, namun sangat merangsang. Lidahnya menjilati bulu-bulu yang ada di atas kemaluanku. Bolak-balik dari pusar ke atas kemaluanku. Aku paling suka jika Prast melakukan hal ini. Terutama waktu lidahnya menari menjilati sisi atas, kiri dan kanan dekat kemaluanku. Nikmatnya tidak terkira. Akupun mulai meremas-remas batang kejantanan Prast. Dia sangat menyukainya. Tanganku merogoh masuk ke dalam jeans-nya. Tak puas dengan hanya merogoh, kubuka dan kulepaskan celananya. Celana dalamnya kelihatan penuh dan ujung kemaluannya nongol dari celana dalamnya. Aku tertawa kecil melihatnya, kusentuh dengan menggunakan ujung jariku, Prast menggeliat kegelian dan cekikian. Prast menindihku dan kami bergumul di atas karpet.

Sejauh ini kami hanya bermain sperti ini. Hanya menggesek-gesekkan kemaluan kami tanpa melakukan intercourse. Namun siang itu rupanya lain. Aku meraih celana dalam Prast dan melepasnya, dan Prast pun berbuat demikian padaku. Celana dalamku lepas sudah, sementara baju masih kupakai. Prast sendiri pun demikian. Praktis pusar ke bawah, kami bebas.

Kembali Prast menindihku dibarengi dengan ciuman-ciuman yang mesra. Badanku terasa panas bergelora. Kurasakan badan Prast hangat menindihku. Batang kemaluan Prast menggesek-gesek di belahan kemaluanku. Prast mencoba menusukkannya. Aku pun, jujur saja sudah ingin melakukan persetubuhan, namun aku takut hamil. Tetapi akhirnya Prast membujukku untuk sedikit menggesekkan kepala kemaluannya ke lubang kewanitaanku. Aku menurut saja. Kepala kemaluannya terasa hangat menyentuh klitorisku. Nikmat kurasakan kegelian yang memuncak ketika kepala kemaluan itu menyentuh lembut bibir kewanitaanku. Kami tidak tahan lagi akan sensasi yang tercipta oleh gesekan itu.

Tanpa kusadari, gerakan tubuhku rupanya membuat kepala kemaluan Prast tidak saja menyentuh klitorisku, namun kini telah penetrasi lebih jauh masuk ke lubang kemaluanku. Aku kaget, berusaha menolak. Namun, dorongan untuk mencoba lebih jauh akibat kenikmatan itu telah membutakanku. Kupikir sebentar lagi saja, ah. Tanggung. Aku kaget setengah mati ketika kutarik kemaluan Prast terlihat darah di kepala kemaluannya. Kupikir ini pasti darah keperawananku. Aku menangis, menyesal. Kenapa tidak berhenti waktu kemaluan Prast hanya menyentuh klitorisku. Kembali aku menangis dan menangis menyesalinya. Prast mencoba meredakan tangisku. Namun aku tetap merasa tidak tenang. Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja ke kost-ku.

Seminggu setelah kejadian itu, aku berpikir bahwa aku sudah tidak perawan lagi. Kenapa juga waktu itu aku berhenti sebelum mengalami kenikmatan. Itu juga tidak akan mengubah keadaan. Menangis pun percuma karena kenyataan akan tetap sama. Akhirnya waktu malam itu Prast datang, aku berhubungan badan dengannya. Lagipula aku ingin menikmatinya. Aku tidak mau membohongi diri sendiri. Kami melakukannya di kursi tamu di teras kost-ku yang gelap.

Aku memang lebih suka memakai rok dibanding dengan celana kalau berada di rumah. Karena itulah, mudah saja bagiku untuk bersenggama di teras. Terlebih lagi, kalau di kost-ku, apalagi kalau sedang kencan dengan Prast, aku memang jarang memakai celana dalam. Aku lebih senang yang praktis seperti ini. Meskipun selama ini kami hanya heavy petting saja atau kubiarkan Prast meraba-raba kemaluanku. Namun malam ini aku memutuskan untuk melakukannya karena aku pun sudah tidak perawan, kenapa tidak aku nikmati saja hal ini.

Prast memang ahli dalam foreplay, pandai sekali dia merangsangku sebelum akhirnya kami bersenggama. Rambutku yang panjang sepinggang dinaikkannya dan diciuminya punggung leherku. Turun sampai ke hook bra-ku. Digigitnya pelan dan dilepaskannya dengan mulut. Bagian inilah yang paling kusuka. Gigitannya terasa sangat mesra di punggungku, diangkatnya kaosku dan tangannya terasa mesra membelai punggungku. Aku benci dengan orang yang terburu-buru meremas payudara. Mereka tidak bisa menghargai keindahan seni bercinta.

Aku duduk di atas Prast. Aku merasakan kemaluannya sudah mendesak tegang. Kuraihkan tanganku ke belakang dan menyusup masuk ke celananya. Aku sudah hafal ini. Agak susah memang, namun terasa asyik sekali ketika ujung jariku menyentuh kepala kemaluannya. Perlahan diangkatnya tubuhku. Secara reflek akupun mengangkat rokku sedikit. Dalam posisiku agak sulit untuk melepas kancing celana dan menurunkan ritsluitingnya. Prast membantuku. Kemaluannya kini tegak tinggi. Pernah aku mencoba mengukur kemaluan Prast, panjangnya sekitar 27 senti. Entah itu besar atau hanya sedang-sedang saja. Tetapi indah. Ototnya tampak menggelembung di keremangan terasku yang terpisah tirai bambu dengan jalan raya yang ada di atas kost-ku.

Aku segera menurunkan tubuh sembari membimbing kemaluan Prast ke liang kewanitaanku. Aku turun perlahan, berusaha menikmati segala keindahan yang tercipta dari fantasi cinta kami. Kurasakan agak sakit ketika pertama kali kemaluannya menyeruak masuk ke lubang surgaku. Untungnya kemaluanku sudah basah akibat foreplay yang dilakukannya, sehingga tidak terlalu perih waktu batang kejantanannya penetrasi masuk ke liang senggamaku. Uuugh, nikmatnya selangit. Kurasakan tubuhku memanas dan semakin panas serta melambung tinggi.

Pelan-pelan aku mulai menaik-turunkan tubuhku di atas Prast. Prast pun berusaha mengimbanginya dengan menusukkan batang kemaluannya dari bawah. Sodokan Prast terasa menyakitkan, tetapi juga nikmat. Aku mencoba menurunkan tubuhku secara penuh agar kemaluan Prast masuk semua ke dalam liang senggamaku, namun Prast bilang itu menyakitkan biji pelirnya. Kupikir benar juga. Akhirnya aku memintanya untuk menyodokkan kemaluannya keras-keras dan seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku, karena kupikir dialah yang tahu persis apakah itu menyakitkan bijinya atau tidak.

Ternyata kenikmatan yang tercipta akibat sodokan itu sangat hebat. Aku menggeliat-geliat, sementara Prast tetap mencoba menahan tubuhku agar tidak terlalu banyak bergerak dan jatuh ke tubuhnya. Aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dengan hebat. Gejolak yang kurasa ketika kami hanya melakukan gesekan kemaluan kalah jauh bila dibandingkan dengan kenikmatan yang tercipta waktu batang kejantanan Prast penetrasi ke lubang kemaluanku. Kalau saja aku tahu kenikmatan yang tercipta sedahsyat ini, pasti aku sudah melakukannya dari dulu-dulu. Lagian apa sih enaknya mempertahankan keperawanan.

Kurasakan batang kejantanan Prast menyodok-nyodok dengan kasar. Aku mencoba bergerak memutar, karena gatalnya kemaluanku akibat sodokannya. Tanpa kusadari, ternyata rotasi tubuhku semakin memperhebat kenikmatan yang kurasa. Selama kurang lebih 15 menit batang kejantanan Prast serasa bagai poros yang mengaduk-aduk isi kemaluanku. Prast pun meracau tidak karuan. Aku semakin menggila akibat kenikmatan itu. Putaranku makin kupercepat, searah jarum dan berbalik melawan jarum jam berbarengan dengan gerakan sodokan Prast. Wow, nikmatnya, bung. Anda harus mencoba hal ini dengan pasangan anda.

Prast memintaku untuk menghentikan sebentar permainan gilaku ini. Aku berpikir, aku memang baru sekali ini melakukannya, tetapi memang bercinta hal yang alamiah. Tanpa belajar pun aku rupanya bisa melakukannya. Sejenak kami terengah-engah dan terperangah oleh permainan kami sendiri. Aku baru tahu, permainan gaya inilah yang nantinya dikatakan Prast sebagai gaya anjing (doggy style). Hanya saja kami melakukannya tidak dengan posisi tubuhku bersandar ke tembok/kursi atau berdiri empat kaki seperti anjing dan ditusuk dari belakang. Kami melakukannya dengan dengan cara duduk, yang ternyata nantinya kuketahui memiliki kenikmatan yang sama namun tidak menyakitkan seperti jika dilakukan dengan posisi tubuh bersandar ke tembok/kursi atau apapun.

Kami hampir tidak percaya kami bisa bercinta sehebat itu. Prast dan aku terdiam sejenak, mencoba mengatur nafas dan menenangkan diri akibat sensasi yang begitu intens dari persenggamaan itu. Kalaupun kami mengetahuinya, kami hanya menontonnya dari film-film yang memang sering kami tonton. Namun mengalaminya sendiri adalah satu hal lain yang benar-benar berbeda. Tidak heran kalau banyak orang yang gemar kawin kalau memang kenikmatannya seperti ini. Tidak heran pula kalau banyak kasus seks pranikah, karena memang enak.

Setelah sekitar 5 menit menenangkan diri dan mengatur nafas, Prast menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Kemudian dia menghadap ke arahku dan menusukkan kembali batang kejantanannya ke kemaluanku. Agak susah memang, karena teras kost-ku gelap. Kubimbing batang kejantanannya ke mulut kemaluanku dan secara reflek Prast langsung menusukkan kemaluannya. Oooh, nikmatnya waktu kurasakan kemaluan Prast menggaruk dinding dalam lubang kemaluanku. Kini aku berada di bawah, dengan posisi duduk mengangkang membuka kedua pahaku lebar-lebar. Prast kembali menusukkan dan menggoyang seperti yang kulakukan waktu aku berada di atasnya. Hujaman itu terasa menggelitik dinding kemaluanku yang semakin gatal. Basah makin kurasakan kemaluanku oleh cairanku yang keluar melumasi bagian dalam.

Aku turut mencoba menggoyangkan pantatku, namun agak sulit, karena aku di posisi bawah. Akhirnya aku mencoba mengimbanginya dengan menggoyang ke kiri kanan saja. Tangan Prast yang tadinya bertumpu pada pegangan kursi panjang kuangkat agar meremas payudaraku. Aku sudah tidak tahan lagi. Sensasi ini sudah demikian menggila. Pundak Prast kugigit. Kepalaku terhentak ke kanan dan kiri. Kukibas-kibaskan rambut panjangku. Tak puas, kujambak rambutku sendiri akibat kenikmatan yang kurasa.

Sudah setengah jam lebih kami bersetubuh, namun belum tampak tanda-tanda Prast akan mengakhirinya. Sementara aku sudah gilanya menikmati setiap tusukan batang kejantanannya yang disertai goyangan memutar. Kurasakan bagai tombak yang menghujam. Mengaduk-aduk seluruh syaraf nikmat yang ada dalam kemaluanku. Kalau tidak takut ketahuan oleh teman sekost, mungkin aku sudah berteriak-teriak, mengekspresikan segala kenikmatan yang kurasa.

Tidak tahan lagi aku mencapai puncak setelah sekitar 45 menit bersenggama. Entahlah, apakah itu tergolong lama atau tidak, namun kenikmatan yang kurasa tak mampu kutahan lagi. Dahsyat sekali waktu aku mencapai orgasme senggama pertamaku ini (kalau orgasme akibat gesekan saja sih aku sudah sering mengalaminya, itu pun setelah satu jam atau lebih). Basah kurasakan sampai pahaku, mungkin akibat cairanku yang meluap-luap. Aku menjambak rambutku sendiri. Kedua pahaku kurapatkan, kakiku mencengkeram pinggangnya dan menariknya, memaksanya untuk memasukkan batang kejantanannya secara penuh ke liang senggamaku. Nikmat sekali mencapai orgasme. Prast berbisik lembut agar aku menahan dan tetap bercinta. Anggukanku dibalasnya dengan tusukan tajam yang makin cepat. Kubiarkan saja dia mengobrak-abrik dinding kemaluanku. Pasrah, namun tetap berusaha mengimbangi dan menikmati sembari berharap semoga dia tidak langsung keluar.

Benar saja, baru setelah dua puluh menit aku orgasme, Prast baru mencapai orgasmenya. Dia meracau tidak karuan dan menggenggam pundakku kencang-kencang. Sakit, tapi kucoba menahannya dengan mengatupkan gigiku karena aku tahu Prast memerlukannya. Segera dicabutnya batang kemaluannya dari kemaluanku dan langsung dikocoknya di depanku. Spermanya muncrat dan ditumpahkannya ke payudaraku. Ada sebagian yang mengenai wajahku dan tembok di belakangku. Oooh, nikmatnya, waktu kurasakan hangat spermanya menyentuh kulit payudara dan wajahku. Langsung kuusap. Aku tidak mau begitu saja melewatkan kehangatan spermanya di atas puting payudaraku. Diciuminya aku, kubalas dengan pagutan mesra. Nikmat dan mesra sekali kami malam itu. Meskipun pemula, kini aku tahu teknik untuk menghindari kehamilan dengan mengeluarkan batang kejantanannya dari liang kewanitaanku dan mengocoknya untuk membantu Prast orgasme.

Pengalaman pertama bersenggama inilah yang mungkin akhirnya mempengaruhiku menjadi cewek yang bisa dikatakan gila seks. Bayangkan, kami melakukan ini dua sampai tiga kali setiap malam (kecuali kalau aku sedang menstruasi, tentunya) dengan berbagai gaya yang berbeda. Prast memang pandai dalam membuatku jadi pecinta yang gila, dan yang aku herankan, aku yang pendiam ini terbawa permainannya. Lebih-lebih lagi, kata Prast, dia kadang-kadang sampai heran dan kewalahan mengatasi kemampuanku bertahan dalam bermain seks selama lebih dari satu atau dua jam.

Pernah pada suatu hari, ketika itu kami sedang KKN di desa yang memang terpencil, kebetulan kami ditempatkan di desa yang sama, kami minta ijin untuk pulang ke kota, perguruan tinggi kami untuk mengurus proposal dana KKN. Kost-ku sepi karena KKN di universitasku memang dilaksanakan setiap musim liburan, akhirnya Prast memutuskan untuk menginap di tempatku. Kami bercinta seharian, baik di kamarku, ruang tamu, dapur ataupun kamar mandi. Selama tiga hari kami nikmati kebebasan itu dengan bercinta. Berbagai gaya kami coba karena gairah yang kami pendam hampir sebulan lebih di desa KKN tidak mampu melakukan percintaan.

Siang itu sebelum kami kembali ke desa KKN, kami bercinta sampai menjelang petang. Prast dan aku rebahan di ruang tamu sambil nonton TV. Namun berakhir dengan bergumul, saling mencium. Rangsangan yang dilakukannya sangatlah efektif. Kami yang waktu itu baru saja selesai mandi setelah bercinta, kini mulai terlibat foreplay lagi, yang tampaknya akan disusul dengan percintaan. Satu yang kucinta dari cowok ini adalah kepandaiannya melambungkan emosiku naik turun. Kadang dia bergerak cepat tanpa menghilangkan kemesraan, lalu menurunkan temponya begitu saja seolah tidak niat bercinta dan menungguku untuk aktif memulai percintaan.

Begitu juga siang itu, setelah merangsangku habis-habisan, tiba-tiba dia berhenti diam mematung. Aku yang sadar akan hal itu segera bertindak aktif sebelum suasana menjadi dingin. Aku harus menciumnya dan melepas celananya tanpa menggunakan tangan. Fantasi kami memang cukup liar, kugigit lepas kancing bajunya satu persatu, kuciumi seluruh dada dan perutnya. Lidahku menari menyusuri sampai ke pusar dan kususul dengan kancing celananya. Agak sulit memang, karena tanganku kubiarkan saja diremas oleh Prast. Setelah kancing celana lepas, barulah celana itu kulepaskan dan baju Prast kulepas.

Prast menyuruhku untuk mengambil bantal dari kamarku. Aku heran, gaya apa lagi yang akan kami lakukan, namun kuturuti saja. Aku disuruhnya untuk rebah dan ternyata bantal itu ia pakai untuk mengganjal pantatku. Akibatnya, kemaluanku kurasakan mengembang dan terbuka lebar. Aku heran, tahu darimana dia tentang hal ini. Perlahan, diciuminya pusar dan daerah sekitar kiri dan kanan kemaluanku. Rasanya sungguh menggelitik. Aku gemas dan meraih kepalanya lalu mengarahkannya ke liang senggamaku. Setelah puas menciumi lalu dia mulai menjilati bagian dalam kemaluanku. Dia menyuruhku untuk tidak memakai tanganku. Uuugh, rasanya ingin rasanya aku menempeleng dia akibat siksaan kenikmatan yang amat sangat. Aku tidak mampu berbuat apa-apa. Tanganku hanya mampu mengepal dan mengejang di samping tubuhku, sementara dia dengan bebasnya menjilati klitorisku dan bibir kewanitaanku yang terbuka lebar. Dia tiup lubang senggamaku dengan mesranya, dingin. Kembali aku terbuai, karena tiupannya disusulnya dengan gigitan pada bibir kemaluanku yang kurasakan makin gatal dan panas.

Akhirnya saat yang kunanti tiba juga. Dia mulai bangkit dan dengan mudahnya memasukkan batang kejantanannya ke lubang senggamaku yang terbuka lebar menganga. Tanganku mengangkat ke atas sementara Prast bertumpu pada kedua tanganku. Teriknya siang itu jadi bertambah panas dengan percintaan kami berdua. Kami terdiam beberapa saat lamanya tepat setelah Prast melakukan penetrasi. Aku hapal dia, Prast sedang berusaha menikmati kehangatan bagian dalam kemaluanku. Memang, waktu kami berhenti dan diam, aku bisa merasakan denyutan batang kejantanan Prast dalam lubang senggamaku. Sementara lubangku pun juga berdenyut-denyut memijit batang kemaluannya. Keadaan diam itu justru menambah kenikmatan. Prast memang pandai dalam bercinta. Dia pulalah yang mengajariku cara untuk menggerakkan otot kemaluanku, terutama bibir dan dinding kemaluanku, sehingga aku bisa memijit batangannya tanpa harus melakukan gerakan apapun. Inilah yang kami lakukan siang itu. Mencoba menikmati dalam keadaan diam dengan merasakan denyutan batang kemaluan Prast dan pijitan liang senggamaku.

Setelah beberapa lama, Prast akhirnya bergerak juga naik turun menusukkan batangannya ke lubang senggamaku. Aku secara naluriah mengimbanginya dengan menggoyangkan pantatku. Ternyata bantal yang di taruhnya di pantatku sangat menolong. Biasanya agak susah untuk mengoyangkan pantatku akibat tekanan Prast, namun kali ini gampang saja, karena relatif lebih licin. Hampir lebih dari satu jam kami melakukannya sebelum akhirnya Prast mengangkatku untuk berganti gaya.

Tanpa melepas senjatanya dari liang kemaluanku, Prast mengangkat tubuhku yang relatif kecil (beratku 41 kg). Agak susah memang, tapi dia memang pintar. Waktu dia mencoba mengangkat tubuhku, otomatis aku memeluknya erat dan ini membuat batang kemaluannya tenggelam lebih dalam ke lubang senggamaku. Sementara itu, waktu tubuhnya telah tegak dan aku menggelayut memeluk lehernya, tangannya mengangkat pahaku agar burungnya tidak lepas dari sarangku. Betisku (sebenarnya tungkai) kulingkarkan ke lehernya untuk membantu dia agar aku tidak terjatuh. Dan waktu dia mencoba memperbaiki posisi berdirinya sembari memanggulku, inilah yang kurasakan sangat intens. Batang kejantanannya dengan kasar menyodok kelaminku karena memang tidak ada kontrol waktu tubuhku diangkatnya agar posisi kami lebih baik. Lalu dengan kasarnya tubuhku dilambung-lambungkan pelan. Hujaman batang kemaluannya kurasakan sangat menyiksaku. Tetapi justru tusukan yang terasa kasar, dalam dan tidak terkontrol ini malah menambah intens ketegangan kemaluan kami berdua.

Tetap dalam posisi yang sama, disandarkannya punggungku ke tembok. Waktu dia berjalan ke tembok, karena aku masih menggantung dan kemaluannya masih tetap tertancap di lubang senggamaku, maka sangat terasa hentakan ketika Prast melangkah dan ini membuatku makin gila. Setelah bersandar barulah aku agak tenang. Kami mencoba berhenti sebentar untuk menikmati momen ini. Kurasakan batang kemaluan Prast berdenyut naik turun meskipun dia dalam posisi diam. Sementara kurasakan lendirku turun melumasi batang kejantanan Prast. Kemaluanku pun terasa berdenyut-denyut.

Kulihat Prast merem melek menikmati remasan lubang senggamaku atas batang kejantanannya. Lembut aku diciumnya. Karena sulit untuk mendapatkan kenikmatan waktu bersandar di tembok, aku meminta Prast agar menggendongku keliling ruang tamu. Sebenarnya ini hanya alasanku saja, karena aku telah dibutakan oleh sensasi kenikmatan kasarnya sodokan senjatanya yang tadi kurasakan waktu dia memanggulku. Prast mengiyakan dan langsung mengangkat kembali tubuhku dengan memperbaiki sanggaan atas pahaku dan membawaku berjalan keliling ruang tamu. Pelan saja, pintaku, yang dijawabnya dengan anggukan. Wajahnya tenggelam diantara kedua belah payudaraku yang tidak terlalu besar (dada 34B, lingkar pinggang 27?).

Aduh, nikmatnya merasakan tusukan kasar dalam gerakan jalan lambat seperti ini, batinku. Makin lama, kurasakan jalan Prast bertambah cepat dan hentakan yang terasa makin kuat. Tempo permainan itupun makin cepat. Tanganku makin erat melingkari lehernya. Aku tidak mau jatuh. Sedangkan aku juga tidak mau begitu saja Prast menanggung berat badanku dengan kedua lengannya. Hentakan batangannya makin lama makin hebat. Aku mengerang. Kutancapkan kukuku di punggungnya. Aku hampir orgasme. Inikah kenikmatan cinta?

Setelah mengelilingi ruang tamu empat kali aku akhirnya mencapai orgasme yang sangat nikmat. Direbahkannya aku di meja dapur dan dibiarkannya aku menikmati puncak kenikmatan itu. Tusukannya dipercepat di atas meja itu. Kakiku yang sekarang terangkat di pundaknya, mengejang. Sementara tanganku berpegangan erat pada kedua sisi meja dan tangan Prast bertumpu pada pundakku. Tiba-tiba dicabutnya batang kemaluannya dari lubang surgaku dan dikocoknya di hadapanku. Rupanya ia pun hampir mencapai orgasme. Tak lama kemudian, dimuncratkannya spermanya ke pusarku. Ada sekitar tujuh kali semburan dahsyat disertai beberapa kali muncratan sisa spermanya. Bahkan wajahku pun bersimbah sperma yang tidak sengaja muncrat, bercampur dengan keringat akibat teriknya matahari siang itu dan senggama kami. Puas rasanya siang itu.

Satu hal lagi yang kusukai dari Prast adalah kekuatannya bersenggama. Meskipun telah beberapa kali bersenggama dan memuntahkan spermanya, ia masih kuat untuk melakukannya lagi ketika kami mandi berdua siang itu. Butuh waktu dua jam bagi kami untuk mandi dan bersenggama lagi setelah lebih dari satu jam bersenggama sebelumnya siang itu. Kami mandi di dua kamar mandi yang berseberangan tanpa menutup pintu sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi bersama dan bersetubuh lagi di kamar mandi.

Pernah suatu kali kami mencoba main dengan gaya kasar. Kata Prast ini adalah “bondage” atau penyiksaan. Beberapa kali aku pernah melihatnya waktu kami nonton film blue jepang. Apa salahnya ini kami praktekkan pula.

Waktu itu dua hari setelah ulang tahunku ke duapuluh tiga di bulan september. Mahasiswa baru biasanya masuk sekitar bulan agustus. Sementara mahasiswa lama baru mulai kuliah sekitar awal september. Itupun masih banyak yang bolos hingga akhir september, bahkan lebih. Kost-ku memang masih sepi, karena mayoritas isinya mahasiswa senior. Sebenarnya bisa saja kami bercinta di rumah Prast, karena ia memang tinggal sendirian. Tetapi kami lebih suka melakukannya di kost-ku.

Malam itu, hari rabu sekitar jam delapan lebih (karena layar emas di TV swasta sudah mulai), kami bercinta. Kali ini tanpa foreplay, Prast menyuruhku untuk mengambil sabuk. Aku turuti dan kuambil sabuk kimonoku. Ternyata sabuk kain itu dia gunakan untuk mengikat tanganku. Direbahkannya aku di tempat tidurku. Tanganku menghadap ke atas. Diciuminya aku dengan kasar. Seperti yang telah kukatakan, kami berdua memiliki fantasi seksual yang liar. Meskipun aku pendiam, namun urusan seks aku sangat berpikiran progresif. Kalau ada sesuatu yang baru, kenapa tidak dicoba untuk sekedar menyegarkan suasana.

Prast masih duduk di atas tubuhku, ketika tiba-tiba dirobeknya bajuku dengan kasar. Aku menyukai gayanya. BH-ku pun direnggutnya. Padahal biasanya dia menggigit hook BH-ku sampai lepas. Kali ini sangat berbeda. Setelah itu, giliran rokku yang ditariknya ke bawah hingga kancingnya pun lepas. Seperti telah kukatakan, aku lebih senang memakai rok tanpa celana dalam. Kini aku telah telanjang bulat di hadapannya.

Dia lalu berdiri dan melepas kaos serta celananya satu persatu hingga polos. Kulihat batang kemaluannya mengacung tinggi di atasku. Oooh, indahnya. Dia turun dari kasur dan tubuhku diseretnya hingga kakiku berjuntai di pinggir tempat tidur. Posisi pantatku yang berada di bibir tempat tidur membuat kemaluanku merekah lebar. Sementara tanganku masih terikat ke atas. Dengan kasarnya dipukulkannya batang kemaluannya ke liang kewanitaanku. Sakit sekali rasanya, tapi aku telah terbuai oleh kenikmatan yang akan kunikmati.

Pelan-pelan dia naik ke ranjang dan ditamparkannya kembali batang kemaluannya ke pipi kanan dan kiriku berulang-ulang. Turun dari ranjangku, diambilnya ikat pinggangnya yang kubelikan untuk hadiah ulang tahunnya. Ujung ikat pinggang yang terbuat dari logam itu dipukulkannya ke perut dan kemaluanku. Nikmat sekali rasanya meskipun sakit. Aku mengaduh kesakitan, namun memintanya untuk terus menyakitiku. Tiba-tiba dimasukkanya dua jarinya ke dalam lubang kewanitaanku dan dihujam-hujamkannya dengan kasar. Sementara tangan kanannya digunakannya untuk menjambak rambutku. Kini posisiku seperti udang goreng, melengkung. Satu karena jambakan Prast, dan yang satu lagi karena hunjaman jarinya atas liang senggamaku.

Tidak puas dengan dua jari, kini tiga jarinya dimasukkan ke lubang senggamaku. Jari telunjuk dan manis masuk ke lubang, sementara jari tengahnya menggosok-gosok klitorisku, terasa geli setengah mati. Nikmat bercampur geli, namun aku tidak bisa berbuat-apa-apa karena terikat. Tanganku yang terikat tidak memungkinkan aku bergerak bebas. Kakiku menendang ke sana ke mari. Tiba-tiba Prast menghentikan hujamannya. Diambilnya sabuk yang tadi dipergunakannya untuk mencambukku. Diikatnya kakiku dengan sabuk itu. Satu ke kaki tempat tidur kiri dan kaki kananku diikatnya dengan tali tasnya ke kaki kanan ranjangku. Kini aku tergeletak mengangkang, terikat, telanjang dan tidak berdaya bagaikan wanita jepang dalam film blue.

Prast kulihat kembali mendekati diriku dan menciumi liang kewanitaanku yang terbuka lebar. Diambilnya bantal dan diganjalkannya ke bawah pantatku. Waktu diganjalkannya bantal itu, karena kakiku terikat, otomatis ikut tertarik dan pergelangan kakiku terasa sakit sekali. Kembali ia naik ranjangku dan disodorkannya batang kemaluannya ke wajahku. Posisinya yang berada di atas tubuhku persis tidak memungkinkanku untuk menghindar. Aku tahu, aku harus mengulumnya seperti layaknya permen saja. Dulu waktu pertama kali aku harus mengulum batang kemaluan Prast, terus terang aku merasa jijik. Tetapi Prast memang mungkin telah mempersiapkan segalanya. Biasanya sebelum memintaku mengulum batang kemaluannya, dia ke kamar mandi dulu untuk mencuci barangnya hingga bersih. Sehingga waktu aku pertama kali mengulumnya tidak terlalu merasa jijik.

Kinipun aku akan melakukannya lagi. Segera kujulurkan lidahku untuk menjilatinya. Aku merasa bagaikan anjing yang memohon pada tuannya untuk diberi makan. Aku jilati ujung batang kemaluannya. Prast merem melek kegelian karena nikmat. Ditariknya lagi batang kemaluannya dan dipukulkannya ke pipi dan mataku berulang kali. Aku mengaduh kesakitan, namun itu tidak akan menghentikannya, karena dia tahu aku menyukai dan menikmati rasa sakit yang kualami. Kusodorkan mulutku untuk mengulumnya, namun Prast kembali menyiksaku dengan jalan menaikkan posisi tubuhnya sehingga aku harus berusaha keras untuk dapat menggapai ujung batang kemaluannya. Tubuhku harus meregang, yang tentu saja kembali menyakitkan pergelangan kakiku meskipun kedua tanganku terikat bebas tidak ditalikan di kedua kepala ranjang.

Tiba-tiba saat tubuhku meregang ke atas mencoba menggapai batang kemaluannya, Prast menurunkan tubuhnya, sehingga tak ayal lagi seluruh batang kemaluannya yang sepanjang 27 cm masuk memenuhi seluruh rongga mulutku dan menyentuh anak tekakku. Hampir aku muntah dibuatnya. Bagaimana tidak, kemaluannya yang kupikir cukup panjang itu masuk sampai ke tenggorokanku. Aku sampai tersedak dibuatnya. Segera kukatupkan bibirku ke dalam gigiku sehingga tidak akan melukai batang kemaluannya. Aku tahu ini karena pernah Prast marah karena gigiku menggores batang kemaluannya. Aku segera membasahi batang kemaluannya dengan ludahku, lalu kukulum keluar masuk dengan sangat tersiksa karena kakiku sakit terikat. Prast tidak tinggal diam, tubuhnya maju mundur (naik turun) memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam mulutku. “Emppffh!” Aku tersentak-sentak karena tenggorokanku terisi penuh oleh kemaluannya.

Dia tidak berhenti begitu saja. Tangannya terulur ke belakang dan ujung putingku ditariknya keras-keras. Akibatnya akupun secara reflek dengan bibir terkatup ke gigi menggigit kemaluannya. Mungkin inilah yang menyebabkan dia merasa begitu menikmati permainan ini. Kusedot keras-keras batang kemaluannya, seiring dengan mengerasnya putingku ditarik. Dicubitinya putingku agar hisapanku tambah kencang. Aku tahu apa yang dia sukai dan dia tahu apa yang kubutuhkan. Kenikmatan kasar.

Setelah beberapa lama dicabutnya batang kemaluannya dari mulutku dan kini aku mulai menjilati buah pelirnya. Aku sruput buah pelir yang berbulu tipis itu. Pernah satu kali Prast menamparku karena aku menyedotnya terlalu kencang. Kini, kuberanikan lagi untuk menyedotnya kencang-kencang agar dia menamparku dan aku terpuaskan. Namun reaksinya berbeda. Bukan tamparan yang kuterima, tetapi tangannya meraih jauh ke liang kewanitaanku dan menepuknya keras-keras. Aku mengaduh kenikmatan.

Sekarang dia berdiri di atasku. Kulihat kemaluannya naik turun pertanda nafsu yang memburu tidak karuan. Nafasku pun tersengal-sengal karena ingin mendapatkan kenikmatan yang lebih dari sekedar mengulum batang kemaluan. Aku tertawa terkikik. Prast tersenyum, paham maksudku. Dia turun dari ranjang dan kembali memukulkan batang kemaluannya ke kemaluanku. Batang kemaluannya yang basah oleh ludahku dengan mudah menerobos liang kewanitaanku. Dihujamkannya dengan keras sehingga tubuhku terangkat naik ke atas ranjangku. Kembali kakiku terasa sakit karena tertarik oleh hentakannya itu. Jempolnya tidak diam, namun turut menekan dan memainkan klitorisku.

Aku semakin gila dan kepalaku terayun-ayun ke sana ke mari. Kenikmatan yang kurasa tak tertahankan lagi. Aku jebol dan mencapai orgasme yang teramat sangat tinggi. Baru kali ini aku merasa nikmat dan sakit dalam waktu yang bersamaan setelah lebih dari setengah jam bercinta, itupun itu tidak hanya satu kali saja. Karena Prast tidak menghentikan permainannya meskipun dia tahu aku sudah orgasme. Dia belum, itu yang dia pikirkan. Mau tidak mau aku harus tetap melayaninya. Hujaman demi hujaman yang disertai tekanan atas klitorisku kembali merangsangku dan membuat aku mampu mengimbangi permainannya.

Alat kelamin Prast tetap tegar menusuk lubangku dengan kasarnya. Berulang-ulang kulihat Prast membasahi jarinya dengan ludahnya dan menggunakannya untuk melumasi klitorisku. nikmatnya kurasa sampai ke ubun-ubun. Liang kewanitaanku kembali berlendir setelah agak kering karena orgasme telah lewat. Perih yang kurasakan kini hilang kembali berganti kenikmatan tusukan Prast yang disertai goyangan memutar. Batang kemaluannya kurasakan bagai bor tumpul yang mendera dinding kelaminku. Ujung batang kemaluannya terasa menyodok-nyodok dinding rahimku. (Kalau batang kemaluan anda cukup panjang, pasti inilah yang akan dirasakan oleh pasangan anda).

Tangan kanan Prast kembali beraksi. Kini dengan memukuli pantatku yang terganjal bantal. Sakit tapi nikmatnya terasa sekali, sementara jempol dan jarinya bergantian memainkan klitorisku dan batang kemaluannya menyodok liang kewanitaanku. Semakin sakit aku merasa semakin nikmat. Namun kami bukan pasangan masochis. Kami hanya sekedar bereksperimen dengan gaya bercinta. Aku kembali mengejang karena orgasme, sementara Prast kulihat masih tegar dan menikmati permainan ini. Dua kali sudah aku orgasme. Mungkin inilah yang disebut sebagai multi orgasme. Bahagia sekali rasanya memiliki pasangan yang mampu memuaskan nafsuku.

Prast pun sangat menyukai hal ini. Aku yang dianggap sebagai gadis desa pendiam dan rendah diri oleh teman-teman sekelasku di kampus sebenarnya adalah maniak seks. Sementara orang melihat Prast sebagai pemuda yang kekanak-kanakan karena kesenangannya akan kartun dan video game. Tidak seorang pun yang menyadari bahwa sebenarnya kami adalah pasangan yang sangat panas dalam bercinta.

Hampir dua jam sudah Prast meyetubuhiku dan belum tampak tanda-tanda dia akan orgasme juga. Kekuatan dan gaya bermain seksnya yang mungkin menjadikan aku makin cinta kepadanya. Kuturuti kemauannya untuk terus bersenggama sampai kapan pun.

Dua puluh menit kemudian barulah Prast mulai tampak goyah. Pertahanannya tampaknya akan segera jebol. Aku mulai memompa semangat berusaha memuaskannya. Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya, dia bertambah kencang dan aku bertambah lemah. Tidak, aku tidak boleh kalah, pikirku. Akhirnya aku kembali mengalami orgasme, mengejang keras, menggeretakkan gigi-gigiku karena tangan dan kakiku terikat. Baru lima menit sesudahnya Prast mencabut batang kemaluannya dan bergegas naik ke atas tubuhku dan menjepitkannya di antara kedua belah payudaraku yang ditekannya dengan tangannya sehingga mampu memberi kenikmatan laksana dinding liang kewanitaan. Digesekkannya maju mundur sampai akhirnya spermanya dimuntahkannya di atas payudaraku dan dimintanya aku mengulumnya setelah bersih tidak ada lagi sisa sperma yang menyembur.

Perlahan kurasakan batang kemaluannya mengecil dalam mulutku sehingga dapat kukulum penuh dalam mulutku beserta buah pelirnya. Kami tersenyum puas tepat jam sebelas. Berarti kami bercinta kurang lebih selama tiga jam. Entahlah itu tergolong lama atau tidak, yang penting aku terpuaskan sampai tiga kali dan untungnya aku juga bisa memuaskan Prast meskipun setelah itu kurasakan pergelangan kakiku terasa nyeri akibat ikatan yang terlalu kencang. Malam itu Prast akhirnya menginap di tempatku.

Setelah membersihkan badan, kami rebahan di kasur lipat tipis milik temanku sambil nonton berita menjelang tengah malam salah satu TV swasta. Tubuh kami masih terbalut handuk saja. Namun karena agak dingin, aku mengambil selimut di kamar dan berpelukan agar lebih hangat. Handuk kami lempar ke tempat pakaian kotorku. Kami terbiasa tidur telanjang berdua di rumah Prast. Di bawah selimut, kami berdua berpelukan, telanjang, sembari nonton TV. Segar sekali rasanya mandi setelah bercinta. Pikiranku jadi lebih tenang dan lebih jernih. Entah karena apa aku tak tahu.

Kira-kira jam setengah dua dini hari, saat program TV sudah habis, Prast membopongku ke kamar. Aku kecapaian setengah mati setelah tiga kali orgasme malam itu. Prast selalu memilih sisi kanan ranjang. Itu tidak masalah, karena aku bisa tidur di sisi manapun. Namun ternyata, aku tidak dapat tidur pulas karena Prast selalu menggangguku dengan rabaan-rabaan nakal di pusarku dan bagian atas kemaluanku yang terasa sangat menggelitik. Aku balas dengan mencoba meraba batang kemaluannya, tetapi, astaga, ternyata batang kemaluannya sudah tegang mengacung dan aku tertawa ngakak karena selimut kami jadi mirip tenda pramuka. Digesek-gesekkannya batang kemaluannya ke perutku. Aku yang tadinya kegelian kini jadi terangsang.

Tawaku berubah jadi sensasi aneh yang menjalari seluruh tubuhku. Akupun mulai bereaksi dengan mencari tangan Prast dan membimbing tangannya untuk meraba dan meremas payudaraku. Aku memang terkadang gampang panas. Mungkin ini pulalah yang disukai Prast dariku. Sementara tangannya meremas payudaraku, tanganku bergerak ke bawah, mencoba menggapai batang kemaluannya. Aku selalu menikmati momen-momen seperti ini. Kugenggam batang kemaluan Prast, kurasakan kehangatannya di telapakku dan kupejamkan mataku menikmati segenap sensasi yang muncul. Rasa hangat yang aneh, yang disertai berdirinya buluku seiring dengan sentuhan kulit tubuh telanjang kami berdua di bawah selimut.

Tiba-tiba Prast beranjak turun dari ranjangku dan bergegas ke ruang tamu. Aku heran, kenapa dia berbuat begitu. Ternyata dia mengambil toples yang berisi kripik singkong. Aku memang suka menyimpan keripik singkong yang jadi kesukaannya. Apa lagi yang hendak dilakukannya. Gaya bercinta yang selalu baru membuat aku terheran-heran atas fantasinya. Sekarang apa lagi yang akan terjadi, aku hanya bisa menebak-nebak.

Diangkatnya selimut yang menutupi tubuhku, lalu ditariknya kakiku sehingga badanku terseret agak ke pinggir ranjang. Diremasnya keripik singkong itu kecil-kecil dan ditaburkannya di sekujur badanku. Kini aku sudah mulai bisa menebak jalan pikirannya. Setelah rata ditaburkannya keripik singkong itu di atas badanku, perlahan dia naik ke atas ranjang dan rebah di sampingku. Posisi tubuhnya miring sehingga memungkinkannya bersentuhan langsung dengan kulitku. Dia mulai dengan mencoba menjilati seluruh kripik yang ditaburkannya ke sekujur badanku.

Kini aku dihinggapi sensasi aneh ketika ujung kripik singkong yang kasar tersebut meyentuh kulitku sewaktu akan dimakan Prast. Campuran antara kasarnya ujung singkong dan lembutnya ujung lidah Prast menciptakan fantasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ini sangat berbeda dengan rabaan atau ciuman mesra bibir Prast yang biasanya menghujani punggung dan dadaku. Tanganku memelintir puting payudaraku sendiri keenakan. Kutarik kencang-kencang agar rasa gatal akibat gesekan ujung kasar keripik itu kalah. Tetapi hal ini tidak terlau banyak menolong. Aku makin panas dan bertambah horny.

Kubiarkan lidahnya menari-nari di atas tubuhku, menjilati bersih semua kripik singkong yang ia taburkan. Sementara aku mencoba menikmati segenap sensasi yang timbul dengan berdiam diri. Semakin aku berusaha menekan, semakin tersiksa aku, namun kenikmatan yang kudapat akibat siksaan itulah yang membuatku tetap bertahan untuk mencapai titik akhir yang paling nikmat. Terdengar gila memang, cewek seperti aku yang pendiam ternyata memiliki fantasi seksual yang aneh. Mungkin ini pula yang membuatku melayani Prast untuk main kasar tanpa harus menjadi seorang sadomasochis. Prast lah yang mengajari semua yang aku tahu, termasuk semua istilah seksual yang tadinya adalah tabu bagiku. Karena Prast pulalah, fantasi seksualku makin menggila. Tampaknya aku memang berpotensi untuk memiliki fantasi seksual yang agak sakit.

Tak perlu kukatakan betapa nikmatnya waktu lidahnya berputar-putar di sekeliling putingku karena aku yakin pasti anda sudah tahu. Namun waktu lidahnya mulai menjilati pusarku, inilah bagian yang paling kusukai. Aku justru merasa sangat terangsang ketika jemari atau lidah Prast membelai bagian antara pusar dan lubang kelaminku. Tanpa dimintapun, Prast sudah tahu dan sedikit berlama-lama ketika mencapai bagian ini. Pria satu ini memang penuh pengertian dan jagoan bercinta.

Setelah puas dengan sedikit foreplay, Prast berbisik lembut kepadaku untuk mengambil agar agak memiringkan badanku. Pasti ada posisi baru, bathinku. Aku turuti kemauannya, kumiringkan badanku ke kiri. Prast segera mengambil posisi di dekat selangkanganku dan menelentangkan badannya. Selangkangan kami bertemu. Aku mulai paham, poros bertemu poros. Kaki kanan Prast di dadaku, sedangkan yang kiri di punggungku. Begitu pula dengan kakiku yang ada di dada dan di bawah punggungnya yang sengaja diangkatnya sedikit. Perlahan Prast menusukkan batang kemaluannya ke lubang kewanitaanku.

Nafasku tertahan waktu Prast memintaku untuk beringsut mendekat. Seiring aku mendekat, batang kemaluannya makin terbenam ke lubang senggamaku dan gerakanku menciptakan sensasi aneh. Mungkin ini terjadi karena batang kemaluan Prast secara tidak beraturan membentur dinding liang kewanitaanku. Posisi gunting seperti ini sungguh memberi kami kenikmatan yang teramat sangat. Ini kurasakan karena dengan posisi begini, batang kemaluan Prast bisa masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaanku. Bahkan kurasakan tulang kemaluannya keras membentur dinding luar lubang liang kewanitaanku.

Untuk memudahkan gerakannya, Prast sedikit mengangkat tubuhnya dengan jalan bertumpu pada tangannya. Posenya seperti orang senam kuda-kuda pelana. Kakinya sedikit menekuk tepat di depan perutku. Dengan cara seperti ini, tubuhnya bisa bergerak seperti naik turun, tapi dalam kondisi miring. Dia memulainya dengan gerakan perlahan, namun secara pasti makin bertambah cepat. Tubuhku terhentak-hentak tidak karuan karena sodokannya dari bawah tersebut. Aku berusaha untuk turut bergerak, namun terasa agak sulit, dan terlebih lagi Prast memintaku untuk menikmati saja setiap tusukannya. Aku tidak tahan, lagi. Ayo kundalini, tahan orgasmemu sebentar lagi, bisikku dalam hati. Terus terang sangat sulit bagiku untuk tidak langsung orgasme dengan posisi senggama seperti ini.

Aku berusaha menahan orgasme dengan menekan kenikmatan yang kurasakan. Secara psikologis aku memang agak tertekan kalau begini. Aku tahan semampuku, namun jebol juga pertahananku. Aku tidak kuat lagi untuk menahan segenap cairan yang sudah meluap-luap di dalam kemaluanku. Aku rengkuh betis Prast dan kutarik sekuatnya agar batang kemaluannya terbenan seluruhnya ketika aku orgasme. Kutahan beberapa waktu dan Prast menurut saja. Kupikir dia tahu aku mencapai puncakku. Kurasakan hangat dan nikmat. Aku pasrah saja dan membiarkan Prast melanjutkan permainan kami. Lagian aku juga menikmati setiap tusukan Prast ketika kami bersenggama.

Tak lama kemudian kulihat lutut Prast sedikit bergetar. Pasti dia sudah hampir memuncak, pikirku. Dan benar saja. Gerakan Prast cepat dan bertambah cepat serta tidak teratur. Kini dia tidak saja menghujamkan batang kemaluannya, namun juga menggoyangkannya. Mau tidak mau aku yang tadinya pasrah menikmati, akhirnya jadi tambah tinggi juga karena tusukan yang disertai goyangan ini. “Ehhg..”, jeritku tertahan. Aku mencoba menahan diri ketika kurasakan Prast mencabut batang kemaluannya dan duduk mendekatiku. Secara refleks, langsung kukocok batang kemaluannya, sementara tangan Prast meraih liang kewanitaanku dan memainkan klitorisku dengan jari tengahnya (mungkin karena hal ini tanda jari tengah dianggap “saru”). Dengan gemasnya jari Prast menekan-nekan klitorisku, dan ini membuatku makin terangsang.

Segera saja kumasukkan sebagian batang kemaluannya ke mulutku dan aku oral dia, keluar masuk mulutku sambil kumainkan lidahku di glan batang kemaluannya. Tak tahan dengan hisapan dan jilatan lidahku, Prast akhirnya memuntahkan seluruh spermanya. Ditekannya kepalaku agar seluruh batang kemaluannya masuk ke mulut, dan benar-benar menyentuh anak tekakku. Kurasakan enam kali semburan keras diikuti beberapa kali semburan kecil. Semua spermanya tertelan olehku. Aku hampir muntah ketika batang kemaluannya menyentuh anak tekakku. Untung aku sudah agak terbiasa dengan batang kemaluannya yang, menurutku, lumayan panjang. Sebenarnya aku agak jijik kalau harus meminum spermanya. Tapi kali ini apa boleh buat, ini juga tidak terhindarkan dan langsung masuk ke tenggorokanku. Ketika itu akupun tidak terlalu merasakan jijik karena sedang terbuai kenikmatan jari Prast yang dengan kerasnya menekan dan memutar-mutar di klitorisku serta meremas bibir kemaluanku dengan ganasnya. Perbuatannya memaksaku untuk mencapai orgasme kedua yang hanya berbeda beberapa saat dengan saat Prast mencapai puncaknya.

Hari itu kami bangun agak telat, pada saat acara musik TV swasta yang ditayangkan setiap jam 08.30 pagi sudah hampir usai. Kami nikmati hari berdua saja dan hanya keluar rumah kost untuk membeli makanan. Mungkin lain kali akan kuceritakan pengalaman lainnya yang tidak kalah menariknya. Semoga yang satu ini mampu menghidupkan suasana di tempat anda dan menjadi referensi anda bercinta atau sekedar bacaan iseng saja jika senggang.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hari-hari-penuh-keindahan.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hengky.html http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hengky.html#comments Sat, 28 Apr 2012 07:54:25 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1108

read more »]]>

Panas Cerita “Hengky”

Perkenalkan namaku Yenny, sebentar lagi aku akan berumur 25 tahun. Meskipun kini aku sudah hampir setahun menikah, tetapi pengalamanku ngesex dengan mantanku (sebut saja Hengky) tak dapat kulupakan, dan itulah yang akan kuceritakan berikut ini.

*****

Sebagai gambaran diriku, tinggi 170 cm, 65 kg, 32A. Kulit putih khas keturunan Tionghoa, rambut lurus panjang tergerai, dengan menggunakan bandana, ataupun dikuncir memamerkan tengkukku, selalu mengundang perhatian pria. Di manapun dan siapapun, pasti melirik. Dengan mata bulat, dan hidung mancung, pinggul yang aduhai, pokoknya jika pembaca melihatku, pasti akan melotot. Dijamin!!

Bandung, September 1999

Hari ini aku kuliah sampai jam 11.00, di tengah teriknya mentari kota ini, aku berjalan bergegas, menyeberangi Jalan Merdeka, aku menuju ke Purnawarman, lalu dengan angkot jurusan Ledeng, menuju ke rumahku di kawasan Cipaganti. Rumah yang dibelikan oleh ayahku, yang kutinggali bersama seorang adik, dan 3 orang dayang.

Hengky pacarku, adalah seorang mahasiswa fakultas teknik dari Universitas yang sama, tapi lokasi kampusnya beda denganku. Beberapa tahun kemudian, lokasi kampusku kemudian dipindahkan.

Hari ini, seperti biasanya, selesai kuliah Hengky datang, Sekitar pukul 13.00, Hengky datang, kami duduk di depan TV. Tidak lama berselang saat para dayang beristirahat di kamar mereka, tangan Hengky meraih bahuku dan menarik tubuhku sehingga rebah di pangkuannya. Bibir kami lalu saling berpagutan, tangannya menjelajahi dadaku. Menelusup ke bawah dasterku, meremas payudara kiri dan kanan bergantian.

“Kau merokok lagi yah?” tanyaku.
“Tidak, tadi di kampus, anak-anak merokok semua, jadi bajuku juga bau asap!” elaknya.
“Kenapa mulutmu bau rokok juga?”
“Ah.. Tidak apalah kalo cuma sebatang!” jawabnya, langsung menyergap bibirku kembali.

Saat bibirnya mulai menjelajah turun ke leherku, aku semakin tak tahan, tangannya menarik Bra-ku ke atas, sehingga tangannya langsung menyentuh kulit buah dadaku. Diputar-putarnya pentilku bergantian. Kemaluanku mulai becek, batang kemaluan Hengky terasa mengeras di punggungku, mengganjal. Saat rasa gatal di kemaluanku memuncak, aku bangkit, dan mengatur posisi tubuhku menjadi merangkak membelakangi Hengky yang duduk bersandar. Tangan Hengky, meremas bola pantatku, yang sebelahnya merayap masuk melalui bagian bawah rokku. Tangannya merayap di pahaku, meremas dengan liar, menambah perasaan nikmat. Kugoyangkan pinggulku meminta perhatian tangannya agar cepat membelai kemaluanku yang gatal. Saat yang ditunggu tiba, tangannya merambat perlahan di tepian karet celanaku, berputar-putar, menambah gairahku.

“Oh.. Sayang..” desisan keluar dari sudut bibirku.

Perasaan was-was agar tidak terdengar oleh para dayang timbul. Hengky semakin liar, kain segitiga itu ditariknya, dan dengan bantuanku, diloloskan melalui sepasang kaki panjangku. Tangannya membelai lembut vaginaku, membuatku semakin melebarkan jarak antara kedua pahaku. Sangat asyik menikmati pekerjaan tangannya, membelai dan sesekali meremas dan mencubit bibir vaginaku.

“Auw.. Sayang..” Aku menjerit ketika tiba-tiba terasa hangat dan basah menyentuh selangkanganku, rupanya Hengky mulai menggunakan mulutnya. Napasnya terasa keras di daerah duburku, lidahnya menyentuh, dan merangsek ke vaginaku. Sesekali dengan keras menyelinap ke celah sempit selangkanganku.

Aku semakin menggila saat tangannya menyergap payudaraku yang tergantung dibalik daster. Terasa textur kain, dikombinasikan dengan pijatan lembut pada putingku, ingin rasanya aku menjerit. Satu hal yang kusuka pada Hengky, adalah kebiasaannya mencukur kumis dan jenggotnya sekali dalam seminggu, saat ini terasa mulai tumbuh, dan digesek-gesekkan seputar bola pinggulku. Terasa seperti amplas, menggaruk lembut seputaran bokongku.

Vaginaku terasa basah, bercampur liur dan cairan syahwatku, Hengky jelas menikmati cita rasa cairan itu, bahkan cenderung ketagihan. Saat aku sedang terbuai nikmatnya oral sex, tiba-tiba terdengar pintu pagar dibuka orang. Aku bergegas menurunkan dasterku, dan kembali mengambil posisi duduk di samping Hengky, menonton film di HBO, yang entah apa judulnya.

Ternyata adikku pulang, seketika itu juga, seorang dayang bangun, membuka pintu dan mengambil tas kuliahnya. Yuly, sebut saja demikian, adikku bungsu dari 4 bersaudara, selisih 1 tahun denganku. Kuliah di universitas yang sama dengan kami, namun beda fakultas. Kampusnya selokasi dengan Hengky, Yuly melintasi kami dan menuju ke ruang makan. Melihat potensi ancaman yang semakin besar, Hengky mengajakku relokasi menuntaskan pekerjaan kami. Aku berdiri, dan menuju ke kamarku. Hengky tidak beranjak, matanya menatap TV, seolah asyik mengikuti jalan cerita film tersebut. Padahal aku yakin, tak ada sepotong ceritapun yang bisa nyangkut di otaknya. Saat aku selesai berganti pakaian, aku menarik tangan Hengky, seolah memaksanya bangun.

“Kau mau kemana?” Yuly bertanya dari arah dapur.
“Mau ke Palasari, cari textbook!” jawabku.
“Aku mau titip donk!” Yuly bangkit dari meja makan.
“Nggak ah, nanti salah! Mendingan kau barengan teman-temanmu”
“Malas saya, nggak tahu dimana Palasari!” Balas Yuly.

Memang Yuly barusan beberapa Minggu tinggal di Bandung, setelah menyelesaikan SMU. Sedangkan aku telah setahun lebih. Aku menunjukkan keenggananku dititipi buku, soalnya kami sama sekali tidak berminat ke Palasari. Hanya sekedar alasan untuk keluar rumah.

“Masih panas, sorean lagi deh.” Hengky berkata, tetapi dari matanya memberikan isyarat.
“Nggak ah, nanti tidak sempat memilih.”

Aku memberikan alasan, seraya menarik tangannya. Dengan memasang tampang seolah masih asyik menonton, Hengky, meraih remote dan mematikan TV. Saat kami berjalan menyusuri gang sepi, kutarik tangan Hengky, yang memegang tanganku dan meletakkannya di dadaku. Dengan liar Hengky langsung meremas lembut, menaikkan nafsuku yang sempat tenggelam tadi.

“Hehe belum kapok yah, tadi hampir aja ketangkap!” Hengky berkata lirih.
“Gimana donk, pengen banget nih!” kilahku.
“Lihat nih!” Hengky merogoh kantongnya, menarik secarik kain, dan ternyata celana dalamku.
“Tadi kau ke kamar nggak sekalian dibawa sih?” Tanya Hengky.

Saat itu sebuah angkot berhenti di depan kami. Aku naik dan seperti biasa mengambil posisi di belakang sopir. Posisi teraman, saat itu angkot dalam keadaan kosong dan berhenti menunggu penumpang di Jalan Cipaganti.

Lima belas menit menunggu tanpa hasil, Angkotnya jalan, kutarik tangan kanan Hengky, kuletakkan di pahaku dan kututupi dengan tas. Tangan itu langsung meraba dan menggesek vaginaku dari luar celana. Dengan menampilkan mimik sebiasa mungkin, sehingga sopir angkot tak akan menyangka apa yang terjadi di bawah sana. Tak berapa lama, angkot kembali berhenti di depan Ny. Suharti, menaikkan 2 orang. Aku agak kecewa, berarti selama perjalanan berikutnya akan terasa garing dan panas.

Di depan kampus, kedua orang itu turun, kami melanjutkan perjalanan, sekitar 50 meter, lalu turun dan berjalan kaki ke kost Hengky. Kost Hengky, sebuah tempat kost kelas menengah bawah, 60 kamar, terletak di belakang kampus, campur pria dan wanita. Saat memasuki aula tengah, tampak beberapa mahasiswa teman Hengky sedang main kartu, beberapa lembar seribuan di tengah meja, 5 orang pemain dan tampak 3 orang komentator. Hengky memberikan kunci kamarnya kepadaku, dan berbincang sejenak dengan para penjudi sambil sesekali mengomentari permainan.

Aku masuk ke kamar Hengky, yang agak berantakan, lembaran kertas penuh gambar, beberapa penuh tulisan angka berserakan di lantai kamar. Jendela kamar yang dilapisi kertas hitam membuat cahaya matahari sulit tembus.

Sayup-sayup masih terdengar suara mereka di ruangan tengah. Meskipun berjarak sekitar 10 meter dari kamar ini, tetapi keriuhan yang ditimbulkan masih terasa. Gairahku bangkit saat terdengar suara langkah khas Hengky. Saat pintu ditutup, kami berpelukan, sambil berciuman, tangan Hengky merayap masuk dari bawah kaosku, meremas payudaraku, memencet puting susuku. Lidah yang saling dorong di antara jepitan bibir kami membuatku sungguh melayang, membuat kemaluanku terasa lembab.

Tangan Hengky mendorong tubuhku, dan membalik badanku, sehingga aku berdiri membelakanginya. Hengky menyelipkan kedua lengannya di ketiakku dam kembali memeluk tubuhku, dan tangannya meraba dadaku dengan leluasa, kali ini kedua tangannya dapat bekerja secara bersamaan. Memang harus kuakui Hengky bertindak tepat, dengan membalik tubuhku, kedua tangannya dapat berkerja dengan bebas, merayap di dadaku, kadang turun meremas kemaluanku dari luar jeansku, sehingga hanya terasa sentuhan ringan. Hengky memeluk tubuhku semakin erat, sehingga terasa hembusan napasnya di leherku yang makin membakar birahi.

“Sayang..” Hengky berbisik ke telingaku, yang membuatku menoleh, dan langsung terasa bibirku diserbu, kembali ciuman panas berulang.

Kali ini aku tidak bisa terlampau bebas bergerak, karena kedua lengan Hengky terasa ketat menjepit badanku. Tanganku hanya dapat kuarahkan ke selangkangan Hengky, itupun masih terasa terlampau jauh. Di pantatku terasa ganjalan, disebabkan kemaluan Hengky yang telah ‘Erma” (Ereksi Maksimum). Tangan Hengky terasa membuka kancing celanaku, terasa getaran lembut saat tangannya menarik turun retsleting, posisi ini memungkinkan Hengky membuka celanaku tanpa menghentikan ciuman kami. Saat telah terbuka, Hengky menarik turun celana itu sehingga melewati pinggulku, dan sebelah tangannya menyerbu masuk ke balik celana dalamku, sedangkan yang sebelahnya kembali ke dadaku, meremas-remas payudaraku.

Saat tangannya perlahan mencapai rambut kemaluanku, berputar-putar sebentar di sana, kemudian terus turun mendekati celah kemaluanku dari arah jam 12. Tak ada jari yang menyusup ke celah bibir vaginaku, telapak tangannya terus ke bawah, menaungi kemaluanku, sehingga membuatku makin gelisah. Aku mengangkat sebelah kakiku, guna melepaskan celana panjangku. Saat aku mengangkat kaki, terasa ada jari yang terpeleset menggesek bibir vagina sebelah dalam. Sebuah sentuhan ringan yang sungguh membuatku makin melayang.

Gesekan itu makin membuatku ketagihan, sehingga aku melakukan ritual melepas celana panjang secara perlahan, sambil menggerakkan pinggulku, berharap ada jari Hengky yang kembali tersesat ke jalan yang benar. Sensasi yang sangat indah, sampai sekarang belum kudapatkan dari suamiku, meskipun gaya pacaran kami juga tak begitu bersih, tapi sangat jarang dia mengerjaiku dari belakang, aku ingin memintanya, tapi takut menunjukkan pengalamanku.

Back to story, Hengky kali ini menciumi tengkukku, setelah tangannya menyingkirkan rambutku ke depan. Terasa tengkukku dijilat kecil, dan napasnya menghembus anak rambutku. Aku sangat menyukai jilatan di tengkuk, sehingga tanganku meraih rambut panjangku, dan memeganginya di ubun-ubunku. Ini semakin membuat Hengky leluasa menciumi tengkukku, dan meremas buah dadaku. Berulang-ulang jilatannya mengelilingi leherku, sebelah tangan di vaginaku dan sebelahnya lagi dipayudaraku. Sampai akhirnya Hengky menghentikan ketiga serangannya, yang memberikanku kesempatan mengatur napasku yang sudah kembang kempis.

Kali ini Hengky mengangkat kaosku, dan melepaskannya melalui kepalaku. Setelah terlepas, Hengky kembali menciumi tengkukku, dan aku kembali memegang rambutku di ubun-ubun yang tadi terlepas saat Hengky menanggalkan bajuku. Jilatannya lebih bebas berputar, terasa begitu nikmat saat jilatannya bergerak menyusuri tulang belakang turun, diikuti hembusan napasnya yang halus di kulitku. Saat lidahnya terhalang BH, Hengky tidak melepasnya, tetapi jilatannya menyusuri tali BH, ke samping tubuhku terus menjilati secara halus naik lagi ke arah pundak, dan kembali turun ke sisi tubuhku.

Tanganku yang memegangi rambut di atas kepalaku, membuatnya semakin mudah menjilati daerah sekitar ketiakku yang selalu tercukur bersih. Sungguh kali ini membuat kedua kakiku tak mampu menyangga bobot tubuhku. Aku langsung berjalan dan duduk di kasur Hengky yang hanya dialas di atas lantai tanpa dipan. Hengky melepaskan kaos dan celananya, sehingga tampak kemaluannya membuat celana dalamnya menyembul, ia lalu memungut pakaianku dan menggantungnya di belakang pintu kamar bersama pakaiannya.

Di luar masih terdengar suara para penghuni kost yang masih asyik berjudi. Hengky berjalan ke kasur, dan mendorong tubuhku sehingga rebah. Hengky menindih tubuhku dan kami kembali berciuman. Kali ini lebih ganas, lidah Hengky terasa sangat agresif merangsek ke rongga mulutku, sehingga bisa kusedot dengan sekuat tenaga. Dengan bertumpu pada sikutnya, Hengky menggerak-gerakkan pinggulnya menyodok daerah selangkanganku. Aku pun menggerakkan pinggulku untuk menambah sensasi gerakan Hengky.

Ciuman Hengky kini berubah menjadi jilatan yang menyusuri leherku, turun terus ke arah dadaku, dan kembali ke samping tubuhku. Hengky lalu bangkit dan membalik badanku lagi, sehingga aku kini telungkup. Hengky melepaskan kait BH-ku dan kini menjilati punggungku sepanjang tulang belakang, membuatku menggigit bibirku guna menahan suara desah kenikmatan yang kurasakan. Aku makin menenggelamkan wajahku ke bantal, tatkala lidah Hengky tiba di daerah pinggulku.

Tangannya menurunkan karet celana dalamku dan menciumi daerah sekitar belahan pantatku, yang membuatku mengangkat sedikit pinggulku. Rupanya gerakan otomatis tubuhku itu dimanfaatkan oleh Hengky untuk menurunkan celana dalamku sampai sebatas paha, dalam posisi setengah menungging memberikan Hengky kesempatan menjilati daerah sensitif yang sangat sempit antara dubur dan vaginaku.

Sungguh sensasional, getaran yang diberikan dari lidahnya langsung menaikkan tegangan birahiku ke titik tertinggi. Energi berupa sentuhan lidah yang sangat ringan diteruskan secara merata dan sama besar ke seluruh jaringan saraf kenikmatanku. Ini menyerupai prinsip kerja Hidrolik, dengan gaya yang kecil dari lidahnya, mampu menghasilkan gaya angkat yang sangat besar yang diteruskan melalui aliran darahku, kebetulan Hengky adalah mahasiswa Fakultas Teknik mungkin ini adalah salah satu praktek ilmu yang didapatnya.

Well, setelah mengalami orgasme aku langsung jatuh telungkup, ini membuat akses ke daerah celah sempit di pinggulku tertutup dari serangan Hengky, sehingga dia membaringkan dirinya di sampingku, seraya menumpangkan kakinya ke atas pantatku, dan tangannya membelai rambutku dan mengelus punggungku yang agak basah karena jilatan Hengky dan keringatku sendiri. Hengky menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua, karena memang Bandung pada saat-saat itu dalam masa pancaroba dari musim panas ke musim hujan, sehingga suhu udara sangat dingin dibandingkan dengan bulan-bulan lain dalam setahun.

Saat aku mencoba memulihkan kesadaranku, kurasakan kemaluan Hengky yang masih terbungkus celana dalam mengganjal di pahaku, aku menghadapkan wajahku ke arah Hengky, yang tampak tersenyum sangat simpatik ke arahku.

“Astaga, enak sekali rasanya, saya tidak akan melupakan saat ini.” Bisikku sambil mengelus pipi Hengky.
“Aku juga tidak mau kehilangan waktu untuk menciummu sayang.” Balas Hengky dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, cukup dekat sehingga hidungku yang mancung dapat terjangkau oleh lidahnya.

Bibirku bisa menciumi dagunya yang terasa kasar ditumbuhi jenggot pendek. Aku membalikkan tubuhku, sehingga kami berdua saling berhadapan dalam posisi rebahan side by side. Pada saat jeda ini kami biasanya bercakap-cakap, menyatukan perbedaan pikiran, berbagai masalah kuliah, keluarga, bahkan masalah keuangan biasa kami diskusikan. Aku tak ingat masalah yang kami bicarakan saat itu, tapi aku ingat, setiap kali kami selesai bercinta, rasa cinta di dalam hatiku senantiasa bertambah kepadanya.

Tangan Hengky meraba-raba buah dadaku, menyentuh-nyentuhkan ujung kukunya di pentil susuku, membuat gairahku bangkit kembali. Tanganku merambat menyusuri dadanya, dan perutnya yang ditumbuhi rambut yang cukup lebat.

Aku merapatkan tubuhku, sehingga kami dapat saling berciuman. Kali ini tanganku merogoh celana dalam Hengky dan mengelus batang kemaluannya dan juga kedua buah pelirnya. Sambil terus berciuman, aku mendorong tubuhnya hingga telentang, dan kutindih dadanya dengan sebagian tubuhku, sehingga tanganku dapat dengan leluasa bermain dengan kejantanannya. Aku terus memagut bibirnya, dan perlahan turun ke dadanya, dan ke puting.

“Terbalik sayang.” Hengky berkata.
“Terbalik apa?” Aku heran dan bertanya.
“Mestinya saya yang netek, bukan kau!” katanya sambil mendorong tubuhku hingga rebah.

Tidak kuat melawan tenaganya, sehingga aku hanya rebah tak berdaya. Hengky menindih tubuhku, dan menyedot puting susuku. Dan sangat efektif untuk membangkitkan gairahku. Segera terasa cairan di liang senggamaku, Hengky menciumi dadaku dan melempar selimut yang menutupi tubuh kami. Saat itu tak kusia-siakan, aku bangkit dan menduduki perutnya, kusodorkan dadaku ke mulutnya, sehingga Hengky langsung rebah telentang.

Tanganku meraba ke bawah, mengocok kemaluannya yang telah keras. Sedotan Hengky di puting susuku terasa melambungkan gairahku. Aku lalu turun dan melepaskan celana dalamku dan membantu Hengky melepaskan celana dalamnya. Melihat penisnya yang Erma, aku langsung menciumi batang itu, menjilati sepanjang batangnya, berputar-putar di kantung pelirnya, sambil sebelah tanganku merayap di perutnya. Saat aku memasukkan batang kemaluannya ke rongga mulutku, terdengar desah Hengky seperti baru melepaskan beban di pundaknya.

“Oh.. Enak sekali Yang.” Suara Hengky terdengar lirih, sambil tangannya menyibak rambutku, sehingga ia dapat memandang mulutku yang sedang mengulum kemaluannya.

Menatap matanya yang keenakan, menambah semangatku dan makin mempercepat gerakan kepalaku, dan menambah kuat sedotan mulutku. Kadang kuselingi dengan permainan lidah di dalam mulutku, menjilati kepala penisnya. Saat kutarik hingga hanya kepalanya penisnya tersisa di mulutku, lidahku kugerak-gerakkan seolah sedang berciuman. Kulihat Hengky tidak mampu bersuara, hanya mulutnya yang terbuka, mencoba menghirup lebih banyak oksigen. Hengky adalah pria pertama yang kuoral, meskipun keperawananku bukan kuserahkan padanya. Nanti akan kuceritakan saat hilangnya keperawananku, juga bagaimana aku memperoleh kepuasan dari kakakku.

“Sini sayang, aku ingin mencium memekmu.” Hengky berkata.

Aku berputar, sehingga selangkanganku berhadapan dengan wajahnya. Kami berposisi 69, dan masing-masing melakukan kegiatan sendiri. Saat lidah Hengky menyapu vaginaku, aku langsung melayang, terasa Hengky menyapu semua cairan vaginaku, membersihkan semua lendir di celah vaginaku. Sangat nikmat terasa, membuatku semakin liar mengulum penisnya.

Penis Hengky berukuran normal pria Indonesia, tampak gagah tersunat rapi. Ini yang membuatku sangat menikmati oral sex, ini merupakan penis bersunat pertama yang kudapatkan, dengan lelaki sebelumnya belum kutemukan. Aku sangat menikmati setiap kontur penis Hengky, dengan menggerakkan lidahku mengitari palkon, menelusuri setiap titik di bagian itu membuatku semakin tergila-gila pada benda itu.

Dengan sedikit mengerahkan tenaga karena harus melawan arah natural penis itu. Setiap kali penis itu terlepas dari jepitan bibirku, langsung terpental seolah terbuat dari bahan elastis. Hengky melipat lututnya, sehingga kepalaku berada di tengah kedua pahanya, dengan kedua tanganku aku menahan posisi pahanya agar tidak mengurangi daerah pergerakan kepalaku. Sementara di arah yang berlawanan, terasa sangat nikmat Hengky menjilati itilku, sementara tangannya masuk ke liang senggamaku, bergerak keluar masuk terlalu nikmat untuk dideskripsikan di sini.

Tak mau ketinggalan, aku pun mengeluarkan kemampuan oral terbaikku, kujilati sepanjang urat besar di bagian bawah batang penis Hengky, dan kuteruskan sampai ke pelernya, tidak hanya sampai di situ, lidahku terus ke arah duburnya, menjilat dengan liar, tampak menunjukkan hasil, Hengky menggerakkan pinggulnya ke atas, membuat lidahku bisa semakin jauh menjelajahi daerah selangkangannya.

“Sayang, masukin..” kata Hengky.

Aku lalu bangkit, dan mengubah posisiku, kali ini aku berhadapan dengan Hengky, dengan bertumpu pada lututku. Kuraih penis Hengky dari tangannya yang sedang mengelus, dan langsung kuarahkan ke vaginaku. Terasa nikmat saat benda itu menerobos masuk secara perlahan, menyusuri celah vaginaku. Kulihat Hengky tersenyum, matanya terpejam, kulepaskan tanganku dari batangnya, dan mulai memelintir putingnya.

Hengky membuka matanya, dan tangannya meraih payudaraku. Sambil meremas payudaraku, Hengky menggerak-gerakkan pinggulnya, memaksa penisnya masuk lebih dalam lagi. Aku juga senantiasa bergerak menyesuaikan gerakan kami berdua. Kadang dengan agak memiringkan tubuhku, sehingga pada saat Hengky menarik kemaluannya, sangat terasa gesekan di sisi dalam vaginaku.

Tiba-tiba aku merasakan peningkatan rangsangan, saat Hengky mengarahkan jari telunjuknya ke klitorisku, sehingga menguras seluruh pertahananku. Digesek dan ditekan membuat diriku terasa melayang dan kehilangan pijakan. Tubuhku langsung ambruk seketika, menindih Hengky, perubahan posisi ini membuat Hengky tidak bebas menggerakkan jemarinya yang terhimpit di antara tubuh kami. Tetapi pinggulnya tetap bergoyang lembut, mengantarkan diriku menikmati detik demi detik puncak kenikmatan seksual.

Setelah melalui orgasme, perlahan gairahku kembali berkobar, dengan goyangan batang penis di tengah jepitan vaginaku. Hengky dengan konstan tetap menstimulasi vaginaku dengan batang nikmatnya. Aku mengangkat badanku, dan memutar membelakangi Hengky, setelah mengarahkan, penis Hengky langsung kududuki, dan menelan habis semua batang penis Hengky. Posisi favoritku, selain doggy style, juga woman on top, sehingga dengan berada di atas dan membelakangi Hengky, terjadi kombinasi optimum. Apalagi saat Hengky bangkit setengah duduk, dan tangannya menggapai buah dadaku yang ikut bergoyang, menambah sensasi kenikmatan posisi ini.

Tak lama Hengky kemudian mendorong tubuhku, dan mengambil alih posisi di atas, dengan napasnya yang menderu, ia menyelipkan penisnya ke vaginaku. Setelah mendiamkan sejenak, Hengky mulai bergoyang, lututku ditekuk dan agak diangkat sehingga pinggulku ikut terangkat. Sebelah tangannya membantu menahan kedua kakiku, sedangkan yang satunya menyerbu klitoris yang kurang mendapat sentuhan pada posisi ini. Kami sering mendiskusikan berbagai posisi, sehingga bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan setiap posisi favorit kami.

Posisi ini adalah favorit Hengky, sebab ia bisa melihat dengan jelas bagaimana proses keluar masuk batang penisnya ke vaginaku. Kadang dengan menggunakan jempol dan jari tengahnya ia merapatkan kedua belahan vaginaku, dan jari telunjuknya mengerjai itilku. Setelah bergoyang beberapa menit, Hengky lantas mencabut penisnya, dan mengocoknya dengan tangan, dan segera muncrat spermanya, kental putih dan bau yang khas segera memenuhi ruangan kamarnya itu.

“Ah.. Enak sekali sayangku..” Hengky akhirnya mampu mengeluarkan suaranya setelah mengalami ejakulasi.
“Saya selalu mau main denganmu, kapanpun kau mau!” Kataku sambil berusaha membantunya mengocok penisnya.

Ia lalu berbaring di sisiku, dan mengambil kertas tissue. Setelah membersihkan seluruh tumpahan spermanya, ia memelukku dengan erat dan menciumi bibirku. Seluruh badanku terasa lemas, terutama daerah pinggulku, namun di sisi lain, terasa pikiranku fresh. Sungguh indah kenikmatan seks. Saat kuletakkan kepalaku di dada Hengky, dan dibelai dengan lembut, sambil sesekali mencoba mengatur rambutku, saat itu tak terbayangkan bahwa kemudian kami harus putus.

Kami putus setahun setelah Hengky lulus kuliah dan pindah ke Jakarta. Meskipun selama periode itu ia sering ke Bandung untuk weekend, tetapi itu saja tak mampu mempertahankan hubungan kami. Aku, seorang wanita bersuami, yang telah memberikan kesetiaan dan kegadisanku kepada orang lain. Syukurlah suamiku adalah seorang yang tolol, ia sungguh percaya bahwa ia adalah lelaki pertama yang merobek vaginaku. Aku masih selalu membayangkan Hengky, terutama saat sedang bersenggama dengan suamiku, dan aku sangat beruntung mendapatkan suami yang cukup tolol, sehingga kecuranganku selama ini bisa kututupi dengan mudah.

Saya percaya bahwa kami bukanlah satu-satunya pasangan mahasiswa yang melakukan hubungan seks, mungkin suamiku juga pernah melakukannya. Cerita ini mulai saya susun pada tahun 2001, saat aku putus dengan Hengky, berusaha sesedikit mungkin mengubah conversation, lokasi tidak saya rinci terlalu jauh. Sekedar mengingat cerita indah di antara kami, sekaligus sebagai tumpahan perasaan sesalku saat menyetujui anjuran orang tuaku untuk memutus hubungan kami.

Biarlah, setidaknya aku berusaha mempertahankan citra diriku sebagai anak yang penurut, juga setidaknya menghapus kecurigaan keluargaku yang meragukan status keperawananku. Pembaca bisa menghubungi saya, melalui penulis, salah seorang e-friends, yang tidak pernah mengetahui ID saya secara jelas. Lebih aman sekiranya kita bercerita kepada seseorang yang tidak kita kenal, sehingga probabilitas bocor bisa mendekati titik nol. Salam.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hengky.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/secret-passion.html http://www.ceritadewasaplus.com/secret-passion.html#comments Fri, 27 Apr 2012 22:51:51 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1055

read more »]]>

Aku mengenal Evi ketika sama-sama menunggu giliran bicara di sebuah Wartel yang pada malam itu cukup penuh. Dari awal kuperhatikan cewek itu sangat menarik perhatianku. Penampilannya asyik! Kulitnya yang putih dan bodinya yang bahenol membuatku berkali-kali mencoba mencuri pandang ke arahnya. Dandanannya juga oke. Dengan t-shirt ketat warna merah mencolok dipadu dengan celana jeans-nya yang juga ketat, membuat pinggulnya yang cukup besar terlihat padat berisi. Wah? boleh juga nih cewek, pikirku.

Sambil tetap menunggu giliran, berkali-kali kulayangkan pandanganku ke arahnya, dan berkali-kali pula kukagumi kepadatan tubuhnya. Merasa diperhatikan, cewek itu mulai berani membalas tatapanku. Ah ternyata manis juga! Dan ketika cewek itu menyunggingkan senyum manis di bibirnya, naluri kelaki-lakianku langsung bergolak. Kuhampiri dia sambil membalas senyumannya.”Sendiri?” sapaku sok akrab sambil menempatkan diri di kursi tepat di sebelahnya. Dia mengangguk. Senyumnya terlihat malu-malu.

“Mau nelpon kemana?” serangku selanjutnya.
Ah, yang malu-malu seperti ini yang bikin gemes.
“Ke Cirebon,” jawabnya singkatnya. Tapi kemudian dia mulai berani bertanya.
“Eh iya, kode telepon Cirebon berapa ya?”
Kusebutkan kode area kota udang itu sambil mengernyitkan dahi,
“Kok mau nelepon ke Cirebon nggak tahu kodenya sih?”
Dia tertawa kecil.
“Saya perlu nelpon temen saya di sana, tapi yang ada cuma nomor telpon saja tanpa dikasih kode areanya.”
“Ooo..” anggukku sambil berpikir bingung.

Tanya apalagi ya? He..he.. kadang aku sering bingung, kesempatan bagus seperti itu terganggu oleh hilangnya konsentrasi pembicaraan. Mungkin karena aku terlalu terfokus pada barang bagus yang menonjol di dadanya ya? Terus terang saja, dengan t-shirt ketat yang dipakainya, payudaranya terlalu indah untuk dibiarkan sebagai pajangan. Aku menelan ludah, sementara tanganku sudah tidak tahan untuk mengelusnya, dan pikiranku mulai membayangkan bagaimana indahnya kalau t-shirt merah itu tidak menutupinya. Pikiranku mulai mengembara kemana-mana.

“Mas, gilirannya tuh!” colekan halus di lenganku membuyarkan lamunanku.
“Eh, kenapa?” kataku gelagapan.
“Kok malah ngelamun sih? Udah gilirannya tuh. Jadi nelpon nggak?” cewek itu tertawa melihatku kebingungan sendiri.
“Kamu duluan deh,” tawarku sok baik, padahal sesungguhnya aku jadi lupa mau menelepon siapa. Aku tertawa dalam hati.

Selesai bicara dan membayar, kutemukan cewek itu sedang berdiri di luar Wartel. Aha, aku kegirangan. Berdebar-debar kuhampiri dia.
“Kok belum pulang, lagi nungguin saya ya?” godaku.
Cewek itu melirik menggoda,
“Emang nggak boleh?”Kalau tidak banyak orang di Wartel itu ingin aku berteriak girang. Hanya saja aku masih punya rasa malu, apalagi dari tadi tidak sedikit orang yang memperhatikan aku berdua (sebenarnya mungkin memperhatikan cewek itu).
“Ayo deh aku anterin. Pulangnya emang kemana?” pertanyaan yang tepat menurutku dan ajakan yang biasanya paling umum di kalangan laki-laki (iseng). Bercanda.
“Aku lagi nungguin becak, soalnya rumahku jauh,” tolaknya.

Aku tahu dia pura-pura, karena itu kupegang saja tangannya dan kubimbing dia ke dalam mobil.”Ayolah, mumpung aku lagi baik nih. Kebetulan aku bawa pulang kendaraan kantor!” kataku jujur. Aku tidak mau sok ngaku-ngaku kalau aku cukup mampu untuk punya mobil sendiri. Cewek itu manut saja ketika kubukakan pintu depan dan langsung duduk dengan manis. Aku tersenyum dalam hati, sukses nih!

Namanya Evi. Umurnya 26 tahun. Janda muda dengan satu orang anak umur setahun. Semula aku kaget ketika dia mengatakan status jandanya. Ah, protesku tak percaya waktu itu. Dengan penampilannya yang seperti itu tak ada yang akan menyangka kalau dia seorang janda. Bagaimana mungkin tubuh yang sintal dan menggoda seperti itu telah menghasilkan seorang anak?

Sore itu Evi meneleponku ke kantor. Dari nadanya kutahu ia habis menangis, atau malah mungkin sedang menangis. Dia memintaku datang ke rumahnya nanti malam. Antara percaya dan tidak, kuakui bahwa undangan ini cukup membuatku bersemangat. Tak ada salahnya menjadi teman bicara seseorang yang sedang mempunyai masalah, pikirku. Jam delapan malam aku datangi rumahnya. Begitu mendengar suara mobilku, Evi langsung keluar rumah tanpa sempat aku turun terlebih dahulu. Dengan mata yang terlihat bengkak karena habis menangis dia langsung naik dan duduk di depan di sebelahku. Dadaku langsung berdesir melihat Evi hanya mengenakan baju tidur pendek dengan tali kecil yang menggantung di pundaknya. Belahan atas dasternya yang cukup rendah menyebabkan sepasang payudaranya yang putih dan indah mencuat setengahnya. Putingnya tampak menonjol di balik dasternya yang berwarna biru pucat. Kurasakan ada yang mulai bergerak di balik celana dalamku. Ah, aku menelan ludah, payudara itu benar-benar indah! Evi mengangkat kaki kanannya dan menumpangkannya di atas paha kirinya sehingga mengakibatkan dasternya merosot sampai ke pangkal paha yang mengakibatkan pahanya yang putih dan mulus terlihat jelas. Sekilas celana dalamnya yang berwarna krem mengintip dari balik dasternya yang tersingkap.

“Kita ngobrol sambil jalan aja Gi, boleh kan?” katanya sambil menoleh ke arahku. Aku tidak tahu apakah dia sadar dasternya tersingkap atau tidak, dan aku tak peduli. Aku mengangguk sambil mulai menjalankan mobilku. Aku tidak berani bertanya tentang masalahnya karena terus terang saja aku mulai tidak bisa berpikir jernih. “Terima kasih kamu mau datang Gi. Kamu baik sekali! Padahal kamu baru mengenalku dua hari saja.” Evi menyentuh tangan kiriku dan menggenggamnya erat. Mobil kujalankan pelan-pelan karena aku tidak mau kehilangan moment ini cepat-cepat.”Nggak apa-apa, aku senang bisa menemanimu,” jawabku sambil menoleh ke arahnya. Mataku kemudian menangkap pemandangan indah lagi di balik dasternya. Payudara yang tanpa dihalangi bra itu menantangku untuk terus memelototinya. Evi menggeser duduknya merapat ke arahku. Kaki kanannya diangkat melewati tongkat perseneling sehingga aku dapat merasakan kakinya mulai merapat ke kakiku. Penisku mulai menegang dan mulai terasa tidak nyaman di dalam celana dalamku. Sementara itu Evi semakin menggenggam erat tanganku. Lambat laun dia mulai membawa tanganku ke arah pahanya dan menggesek-gesekkan telapak tanganku di atasnya. Ah, aku merasakan permukaan kulit yang lembut dengan bulu-bulu halus yang dapat kurasakan.

Kulirik Evi memejamkan matanya seakan sedang menikmati sentuhanku. Tangannya tetap membimbingku menjelajahi permukaan pahanya yang halus lembut. Akhirnya Evi melepaskan tangannya dan membiarkan tanganku bergerak sendiri. Kujelajahi paha Evi dari atas lututnya ke atas perlahan-lahan sampai aku mulai mulai menyusupkan tanganku ke selangkangannya yang lembab. Jalanan cukup sepi, dan memang kuarahkan jalanku ke jalan-jalan sepi sehingga tidak akan merepotkan konsentrasiku. “Ah..” Evi mengerang ketika kusentuh vaginanya yang masih terbungkus celana dalam tipisnya. Kedua tangannya menyusup ke dalam dasternya untuk menjangkau payudaranya yang mulai terasa sensitif. Dia mulai menggeliat-geliat seirama dengan sentuhan tanganku di vaginanya.

“Oh terus Gi, terus.. Ah!”
Aku mulai menekankan jari tengahku ke belahan vagina Evi yang semakin lembab dan basah. Seiring dengan desahan Evi yang semakin cepat, aku merasakan darahku bergolak dan nafsuku memuncak. Kuparkirkan mobilku di pinggir jalan yang cukup gelap karena terlindung pepohonan rindang di atasnya. Kulepas setir di peganganku, kupeluk Evi dan kucari bibirnya dengan semangat yang membara. Kucium bibirnya yang lembut dengan penuh nafsu sementara tangan kananku mulai menjelajah ke dalam dasternya. Kuremas payudaranya yang telah dilepaskan oleh tangan Evi dengan keras. Kuremas dan kuremas lagi bergantian kiri dan kanan. Sementara jari tangan kiriku mulai menyelinap di balik celana dalamnya yang terpaksa kusingkap oleh jari-jariku. “Ah..” Evi mengerang nikmat. Ciumannya menjadi semakin bernafsu. Kulumat bibirnya dengan nikmat dan kumainkan kedua tanganku di posisi masing-masing. Aku yakin organ tubuhku mengerti akan tugasnya masing-masing.

Nafsuku terus naik, hal ini membuat penisku menegang kuat dan menggeliat-geliat di dalam celana dalamku tanpa sempat dapat kukeluarkan. Evi mencoba menyusupkan tangannya ke dalam celanaku, hanya saja sabuk yang mengikat erat celana jeansku dan posisi duduk kami yang tidak menentu mengakibatkan dia kesulitan, sehingga dia beralih dengan meremas-remas dadaku. Nafasku berhembus sama kuat dengan nafas Evi yang semakin cepat. “Lugi.. Ah.. terus.. oh!” Evi mendesis tak jelas karena bibirnya masih belum bisa lepas dari bibirku. Keringat mulai mengalir dari tubuhku dan Evi yang mulai kepanasan terkurung di dalam mobil yang tak ber-AC dengan jendela tertutup.

Tiba-tiba Evi mendorongku dan mencoba melepaskan bibirku dari bibirnya. Aku kaget. Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi Evi sudah melompat ke kursi belakang dan menarik tanganku. Dengan tergesa dia mencoba melepaskan bajuku dan aku pun berusaha memerosotkan dasternya. Dalam kegelapan malam dan ruang dalam mobil yang tertutup aku masih bisa melihat bodinya begitu montok begitu dasternya terlepas. Celana jeans-ku mulai terasa longgar begitu sabuknya berhasil dibuka oleh Evi. Kubuka kancing celanaku dan kupelorotkan sekalian dengan celana dalamku. Penisku berdiri tegak seakan berhasil terlepas dari belenggu. Tanpa sempat bernafas dulu Evi sudah menarikku dan merebahkanku di jok mobil.

“Oh, besar sekali kepunyaanmu Gi,” Evi mulai menggenggam penisku dan mempermainkannya. Giliran aku yang mengerang sekarang. “Ah.. Nikmatnya.” Aku hanya bisa memejamkan mata sambil menikmati sentuhan kenikmatan itu ketika kemudian kurasakan sentuhan dingin dan basah di seluruh batang penisku. Ternyata Evi sudah mempermainkannya dengan mulutnya. “Ohh aahh,” aku mengejang. Antara rasa geli dan nikmat menyatu begitu Evi mengulum penisku dan memainkan lidah di kepala penisku. Dia begitu bernafsu seperti singa lapar yang mendapatkan santapan. Kalaupun ada orang atau mobil yang lewat, rasanya aku sudah tidak mempedulikannya. Aku dan Evi begitu terbuai dalam permainan yang memabukkan. Kurasakan Evi begitu lihainya memanjakan penisku dengan mulut dan lidahnya. Dan Aku merasakan penisku itu bagaikan sebuah es krim bagi Evi yang dengan rakusnya menjilati di seluruh bagian. Sesekali dia menjilat dan meremas buah zakarku yang membuatku menjerit tertahan.

Batang kemaluanku semakin tegang ketika Evi mulai merangkak naik ke atasku yang masih duduk bersandar ke belakang jok mobil. Dia menciumku dengan beringas sambil menyesuaikan duduknya di atas pahaku. Payudaranya yang kencang menyentuh dadaku dengan lembut dan putingnya yang keras menusuk-nusuk lembut dan bergeser-geser di dadaku. Kutuntun batang penisku untuk menemukan lubang vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat di sekitarnya. Evi menjerit dan mengigit lembut bibirku ketika kutemukan lubang vaginanya dan kulesakkan penisku ke dalamnya. “Aahh sshh,” desahnya berulang-ulang ketika pantatnya mulai dinaikkan dan diturunkan. Aku pun mencoba menekan dan menaik-turunkan pantatku ke atas ke bawah mengiringi irama yang dimainkan Evi. Kubiarkan Evi mengendalikan permainan karena toh aku juga sangat menikmatinya.

Kulepaskan ciumanku dan kuarahkan bibirku ke arah payudaranya yang bergayut di depan wajahku. Kuciumi payudara dengan putingnya yang indah yang sudah kukagumi sejak aku bertemu pertama kalinya itu masih dengan nafsu yang menggebu-gebu. Kurasakan vagina Evi semakin basah dan desakan di dalam penisku semakin menguat. Perlahan kupercepat kocokan penisku ke dalam vagina Evi, dan kurasa Evi pun mengerti sehingga dia pun mempercepat gerakan pinggulnya. “Terus Vi.. Ahh terus.. Semakin cepat!” aku mengerang hebat. Desakan itu semakin kuat dan sangat nikmat. Keringatku dan Evi semakin mengalir deras dimana-mana seperti pelari marathon yang berusaha mempercepat larinya untuk mencapai garis finish. “Sekarang!” aku mengerang lagi ketika desakan kuat di dalam penisku hampir tak dapat kutahan lagi. Evi meloncat turun dan berjongkok di depan penisku. Tangan kirinya mengocok cepat batang penisku yang sudah sangat licin dengan cairan dari vagina Evi.

“Srroott.. srroott,” akhirnya pertahananku bobol dengan memuntahkan air mani yang cukup banyak ke arah wajah Evi dan rambutnya. Aku bersandar kelelahan dan membiarkan Evi menjilati sisa air mani yang berleleran dengan rakus. Rasa ngilu dan geli terasa bercampur dengan sisa kenikmatan yang sudah kurasakan. Kubuka sedikit kaca jendela dan kubiarkan angin malam menghembuskan dinginnya ke arah kami berdua. Terasa segar menerpa keringat yang masih mengalir. Evi beranjak dari jongkoknya dan merebahkan badannya di dadaku. Kupeluk dia dengan erat dan kukecup dahinya dengan lembut. Berdua kami berpelukan dalam keadaan telanjang bulat, melepaskan rasa letih dan lelah yang tiba-tiba menyerang kami.

“Terima kasih Gi,” desah Evi perlahan.
“Aku yang terima kasih Vi,” jawabku perlahan juga.

Kuantarkan Evi pulang sebelum jam berdentang dua belas kali. Evi menahanku ketika aku bermaksud turun dari mobil.
“Nggak usah Gi, cukup sampai di sini saja.”
“Vi, harusnya aku membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi, bukannya..”
Aku tak bisa menyelesaikan kalimatku karena Evi memotongnya.
“Nggak papa Gi, kamu tidak perlu tahu dan aku pun tidak ingin membahasnya denganmu.”
Evi melenggang turun dan masuk ke rumah. Dan tahu tidak netter, sampai pertemuan-pertemuan selanjutnya pun Evi tidak pernah mau menceritakan masalahnya pada waktu dia menangis dulu. Kurasa aku pun tidak perlu lagi memaksanya untuk memberitahu kan? Mungkin itu malah lebih baik!

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/secret-passion.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/captured-family.html http://www.ceritadewasaplus.com/captured-family.html#comments Fri, 27 Apr 2012 10:51:53 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=405

read more »]]>

The Bruner family was on their way back home from vacation, and all of them were
rather tired. Rock Bruner was proud that he had been able to finally afford the
cross-country trip that he had always promised to his family, but until this
year they had been unable to go. They’d been on the go for two weeks, had been
to California and were now only several hundred miles from home. Rock’s wife
Linda was in the front seat asleep, and the two teenagers, fifteen-year-old Mark
and fourteen-year-old Becky, were in the back seat looking out the windows at
the passing countryside.

Suddenly, a thunderstorm came upon them. The sky turned black and the rain
pelted the windshield as Rock struggled to maintain the car on the slick road.
Thunder rumbled and lightning flashed and all at once the whole family was
scared.

“Rock, we have to find a place to pull over. There’s no way we can continue on
in this storm like this,” said Linda, shivering with fright.

Mr. Bruner agreed. “You’re right, Linda. But there’s no town for miles, and I
don’t see a house or shelter anywhere. There’s no place to stop.”

Becky exclaimed, “Look, Daddy! Over there! A big house!” Lightning illuminated
the stormy sky and outlined a two story mansion just off the road. “Let’s see if
they’ll let us stay there while the storm’s going on.”

Linda looked at Rock with pleading eyes. “Please, Rock. Let’s stop at the house.
Surely these are dependable, nice people way out here in the middle of nowhere.
We’ll be safer there.”

Rock agreed. “OK. I’ll stop. You’re right. We’ll be a lot safer there. Mark
nodded his head, as if to say he thought so too

The family got out of the car and rushed to the huge porch to stay dry. Rock
caught a glance at his daughter’s soaked t-shirt and just about shit. “Damn,” he
thought. “Her tits look just like her mother’s did as a teenager.” Shaking his
head for thinking about tits at a perilous time like this, he reached up and
rang the bell. He heard no response. He tried the door, and it opened easily.
“Looks like it’s abandoned,” he announced. “Let’s go on in and stay out of the
weather.”

Becky spied an oil lamp perched on a nearby table. “Daddy, light this lamp so we
can see,” she said. Rock pulled out a lighter, which he kept for the big cigars
he occasionally smoked, and lit the lamp.

The room was huge, and seemed to be fairly spartan except for a large sofa and a
few pieces of furniture. The family sat down on the sofa and began to dry out
when suddenly they heard a noise. Rock turned around a look of shock came over
his face as he saw three huge, bearded men walk into the room!

“What in the hell are ya’ll doin’ on this property?” the biggest of the men
asked.”

One of the big guys pulls out a pistol and holds it against Rock’s head.
Grinning, the other two men approach Rock’s lovely wife Linda and begin to paw
her tits, right there in front of the kids. “Don’t move!” The man holding the
gun to their father’s temple orders. “You just sit there an’ watch while your
mommy gets friendly, or I’ll blow your daddy’s head clean off!” “Let’s see what
we got here…”

One of the men tore open Linda’s blouse, exposing her large, meaty breasts. The
were really something… Linda’s tits were still the stuff Playboy centerfolds
were made of… giant mounds of firm flesh, perfectly round and upturned. As the
horrified youngsters look on, each of the men took one in hand… squeezing and
pulling at it, twisting Linda’s pert little nipples sadistically. Linda gasped
in embarrassment.

“Stop!” Cried fourteen-year-old Becky, “Leave my mommy alone!” One of the two
men pawing Linda slapped the other on the shoulder. “I can’t wait to get some of
that!” he said, his eyes ro 1000 aming over Linda and Rock’s fourteen-year-old
daughter. “Oh no, please…” Linda begged, looking up at the men as they pawed
her mouth-watering jugs. “Please don’t hurt my baby…” The men looked at each
other and grinned.

“I’ll tell you what…” said the man with the gun. “If you were to be real nice
to us, an’ do exactly like we said, maybe we wouldn’t have to hurt your
husband… or fuck your little girl.” he added as an afterthought. “I
understand…” Linda Brunner said, unhesitantly.

“Linda…” Rock began.

“Rock, it’s the only way.” Linda turned to her two teenagers. “Kids… your
mother’s going to have to do something… I…”

“Shut up, bitch!” one of the men barked, “You don’t speak unless spoken to. Now
get to work.” Linda took a deep breath. She knew what these men wanted. Reaching
out with both hands, she fumbled for the zippers on their jeans. Finding them,
she pulled them down together, then took a deep breath and reached inside to
fish for their cocks.

As she slid her hands into the two brother’s jeans, Linda’s eyes went wide with
surprise. They were absolutely huge! As she pulled first one, then the other out
of their pants, Linda stared, unable to help herself. Neither man’s cock was
hard, yet both were a over a foot long and thick as Rock’s wrist!

“Oh my god! “Linda gasped, and all three men laughed.

“All us brothers got big dicks, missus.” said the one with the gun. “The biggest
in the whole fuckin’ world, I’ll bet… Now you get to work on my brothers
before I tell them to wet their dicks in little sweet-cheeks over there…”

“Alright…” Linda said, nodding. She took hold of both cocks at the base,
pulling at them, feeling the weight of both massive lengths of flesh. The two
vein-covered tubes of meat throbbed in her hands, jerking and twitching
obscenely. Linda turned to face the man on her left and took his huge cock into
her mouth.

“Oh god, mommy…” Linda heard her daughter groan in disgust as she tasted the
strange man’s dick.

Linda felt horrible… absolutely humiliated for having to perform this act in
front of her husband and two children, but Linda knew that their only hope lie
in her pleasing these men. She knew she had to do everything in her power to
make that happen, so she sucked him… really sucked him, taking his huge cock
into her throat like she did her husband, pressing forward, forcing the bulbous
head past the restriction of her throat… swallowing… sliding her lips down
the shaft… feeling the thick shaft slide down, down, until her lips pressed
against his pubic hairs… letting her tongue flick out to carress his balls
before pulling back… slowly… seductively…

“Uhhh man…” the guy said, looking at Rock. “Your wife sure can suck a mean
dick!”

“Ummmmmmmm,” Linda gurgled as she pulled her face off of the man’s stiffening
cock.

A string of saliva stretched from her lips to the tip of the man’s prick.
Without a word, Linda turned and swallowed the second man, gulping his prick
greedily… bobbing her head, her lips making wet, obscene sucking sounds on his
dick.

“Will you two kids look at your momma…” One of the brothers teased, “She took
to suckin’ our dicks like some kinda fuckin’ whore!” All three men got a kick
out of that.

They laughed uproariously as Linda worked back and forth between them, sucking
their giant cocks for all she was worth. “You know something?” The man with the
gun said in Rock’s ear, “I think she likes suckin’ two dicks at once! Yeah…it
looks to me like your wife is havin’ herself a good ‘ol time!!” Rock looked at
his lovely wife, her head bobbing… her lips sliding up and down first one
shaft and then the other… her throat working as she swallowed the two
brother’s thick, throbbing cocks. “Oh Linda…” he said, his voice full of pain
and sadness.

Little Becky watched, absolutely horrified to see her mother working so hard to
please these two men with her mouth. She fo 1000 und it hard to believe that she
could even get her mouth over either one of them, they were so fat… let alone
actually take the foot-plus lengths of meat all the way down her throat! She was
too young to understand why her mother had agreed to do this terrible thing so
readily… All she knew was that her mother was letting these men put their
things in her mouth… no that wasn’t true… she wasn’t letting them… she was
doing it herself! She was sucking them!

Her older brother Mark was equally horrified, but found himself unable to resist
staring at his mother’s large, meaty breasts. He felt guilty, but he had never
seen tits that big or that perfect before, except in magazines, and the way
those two men squeezed and pulled at them… Well it was kind of exciting in a
weird sort of way. If he pretended for a moment that it wasn’t his mother…
that she was just some big-titted whore… NO! He couldn’t think like that! But
it was too late… he couldn’t stop his own cock from hardening in his pants,
and to his utter shame, one of the men noticed.

“Hey look! Junior’s gettin’ a hardon watchin’ his momma give us head!” “No… it
ain’t that…” said the other, “He like’s lookin’ at momma’s big fuckin’
titties.”

“Why don’t you show Junior your pussy, missus?” One of the men suggested. That
one caught Linda off guard. She stopped, looking up at the men in surprise.
“Now…” The man said, looking meaningfully at Becky.

Linda nodded, her face red with embarrassment. Linda reached up under her skirt
and took hold of the waistband of her panties. Lifting her rump off the seat,
she pulled them down to her knees, then leaned forward and let them fall to the
floor around her ankles. She kicked them aside, then let her legs fall open,
exposing her pussy to the three men, and to her two teenage children. “Look…
she shaves it!” One of the men pointed out.

It was true. Linda kept her crotch shaved smooth and bare because that’s the way
Rock liked it. Now, however, it made her feel more like a whore to have these
men see her like that. A moment later Linda’s face got redder still, as one of
the men reached down to grope her big, firm jugs with both hands while the
second crammed two fat finger’s into her cunt.

“Look at your momma’s pussy boy… You wanna know why she shaves it? It’s
because she likes to show it off… Yeah, she likes to show her pussy off
wherever she goes. Ain’t that right, missus?”

Linda had gone right back to sucking their cocks, leaving her legs splayed open.
Now she pulled her mouth off of a fat, purple dick-head with a loud smacking
sound, and turned to face her two teenage children. She knew what was expected
of her, and she was determined to play the game just the way these men liked it.

“Yes…” she said, ashamed that her children might think she was for real, “I
like to show off my pussy…”

“Where, bitch? Tell me where you like to show it off the most!”

Linda’s mind raced. She needed to think of something fast… something that
these men wanted to hear. “I’m a teacher…” Linda began, and it was true.. She
taught tenth grade English at a local high-school. “I never wear panties when I
teach class.. I like to sit in front of the room and spread my legs, so all the
boys can see my pussy.” Please kids… please don’t believe any of this…

Mark heard his mother and reeled in shock. It never occurred to him that she was
lying… He looked at her, sitting there with her pussy exposed, those two men
groping at her big mouth-watering tits. She didn’t seem frightened and she
certainly wasn’t trying to resist. Hell, she was as hot as any girl in any
fuck-mag he had ever seen. He imagined her in class, letting her legs fall open,
pulling her skirt up, showing it to all the boys, and his cock twitched.

“Yeah I knew you was a hot number…” one of them said, “Is that all you do is
let them look?”

Linda looked up at the man, trying her best to act the part. Oh Mark… Becky…
1000 I’m sorry… “No…” she said, pulling on their cocks, rubbing them in her
face as she spoke.

“Sometimes I make a whole bunch of them stay after class. I like to get down on
my knees and blow them…all of them… sucking all their cocks one after the
other… And sometimes I make them eat my pussy…”

“Hey… if she likes havin’ her pussy licked by young boys so much, why don’t we
let junior do it?” one of the brothers said, grinning at fifteen-year-old Mark.
“Yeah, let’s make him eat it!” Suggested another.

The one digging his fingers into Linda’s pussy nodded.

“Yeah, that’s a good idea. Hey boy… get over here an’ eat your momma’s pussy.”
Whem Mark didn’t move, the man got up and drug the boy over, pushing him to his
knees between his mother’s wide-spread thighs. “Eat your momma’s pussy, boy.”

“No!” Mark said in a frightened voice.

While the first brother continued grope Linda’s impressive knockers roughly, the
second grabbed her by the hair and pulled her head back. “Make him do it,
missus.” He said. “Make him do it or I’ll let the wind blow through your
husband’s head.” Linda knew that the man was serious. They’d all be killed if
they didn’t do exactly as they were told. “Yeah… show us all what a whore you
are…” said the one with the gun.

That was it, Linda knew. That was what the men wanted. They wanted to see her
degrade herself… to have to play the part of the whore in front of her family.
Well if that was the only way to survive, then that’s what she’d do. Linda would
be a whore now for these men and worry about the consequences later, when they
were safe.

Linda reached out and took her son’s head in both hands. She looked up at her
captors. “Eat me…” she said, and pulled him forward, Linda pressed her son’s
face into her crotch. “Lick it, Mark… lick my pussy.” Sensing how dangerous
their predicament was, Mark began to lap at his mother’s gash.

“Uhhhhh…” Linda grunted, not faking, as her son’s tongue flipped across her
clit and then dug deep into her cunt-hole. He’s good. She thought to herself.
He’s done this before.

While Mark ate his momma’s pussy, one of the men switched places with the man
holding the gun to Rock’s head. The third brother, anxious to join in the fun,
pulled out his cock and moved up beside Linda. “Time to make it three cocks in
your hot fuckin’ mouth, whore!”

Linda opened her mouth and gobbled up the third brother’s fuck-stick without
hesitation. The other brother moved up on her left, and once again, Linda was
moving her head back and forth, sucking two giant cocks at once. Only this time,
her fifteen-year-old son Mark was between her wide-spread legs, expertly
slurping at her cunt.

He’s too good… Linda thought as her pussy twitched. Oh god, Mark… stop
licking at my clit! “Ommmmmmmm…” Linda groaned around the fat cock in her
mouth, unable to help herself, then blushed as the three men laughed.

Mark dug his tongue into his mother’s cunt, tasting the juice that was starting
to flow. At the same time he slid his hands up the front of her body, taking
hold of her jugs, squeezing and pinching at the swollen, hardening nipples as he
ate her. Part of him knew he was going too far, but another part of him was
excited… delighted to have his mother’s fat titties in his hand’s… reveling
in the taste of her sloppy, nasty cunt.

Oh Mark, what are you doing!?! Linda tried to fight the feeling in her cunt but
it proved much too strong to resist. She pulled her knees up to her shoulders,
opening her cunt to his tongue. Gasping in shame, Linda threw back her head and
came in her son’s face.

“Uhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!” she groaned, as the sparks went off between
her legs, and her cunt gushed juice onto Mark’s tongue. She heard the three
brother’s laughing again, and found to her surprise that it added to her
pleasure. They’re watching my son eat my pussy! She thought, and a hot flash
shot through her body. Linda drop 1000 ped her feet to the floor and lifted her
ass off the seat, working her hips, rubbing her drooling fuck-hole into her
teenage son’s face.

When it was over, one of the men pulled Mark to his feet. Linda looked up at her
son, seeing her own cunt-juice glistening on his face. Beside her, the two men
worked their cocks with their hands. “Get your cock out, boy.” One of them
ordered.

The other grabbed Linda by the hair and pulled her off the chair, stripping her
naked before pushing her to her knees in front of the boy. “Don’t worry about
your momma, boy…” One of the men said, kneeling behind Linda. “We ain’t makin’
her do anything she don’t wanna do. You saw the way she sucked our dicks… all
three of us! An’ you heard her talk about suckin’ all them school boys… She
ain’t nothin’ but a fuckin’ whore, boy… Why shouldn’t you get your dick sucked
too?” Reaching under Linda’s arms he lifted up the twin mounds of firm flesh.
They were too much for even his large hands to handle, but he squeezed them
painfully, the nipples poking up ino the air, looking hard and swollen. “Jus’
look at these big fuckin’ titties…” he said, jiggling them nastily. “I know
you like ‘em, boy…Go on an’ touch ‘em.” Mark swallowed, and reached out
hesitantly to take hold of his mother’s tits.

“Yeah, that’s it, boy… Squeeze your momma’s big fuckin’ jugs.” The man
continued to hold Linda’s tits up so the boy could play with them, and grinned
hugely when he saw the excited look in Mark’s eye. “Suck on ‘em, boy…Go on.
Suck on that nasty whore’s jugs.”

Mark leaned forward and put his mouth over one of Linda’s nipples. He began to
smack and slurp away at first one and then the other, thinking about all the
boys at school who had probably done the same thing…

Linda groaned helplessly, and the teenager’s breath quickened. She liked it! A
moment later, he stepped back and began to fumble with his zipper.

“Yeah, boy. That’s right. Make the filthy slut suck your cock, an then we’ll all
take turns fuckin’ her.” Mark pulled his dick from his pants and moved forward.

“Oh Mark, no…” Behind him he could hear his father gasp.

“Just suck my dick!” the boy hissed, and pushed his pecker into his mother’s
mouth.

“Umphhh!” Linda gasped, as Mark began to fuck her face. It was disgusting…
obscene… Linda didn’t know what had come over her son, yet she knew she had no
choice, so she sucked it… sucked her own son’s cock with the same skill she
had used on the three other men. “How’s your son’s dick taste, missus? Is it
good?”

“Roll her over onto her back.” One suggested a minute or so later. “Let the boy
fuck his mother.” Little Becky sat on the sofa, watching the scene wide-eyed and
terrified, as the men forced her mother to lie on her back with her legs spread
apart. She was only fourteen, but she looked a lot younger because of her size.
She was only four-foot-seven and about 85 pounds, and although she had dated
once or twice, she had never let a boy touch her. That’s why this was all so
unbelievable… like some kind of horrible nightmare. She heard one of the men
speaking to her brother. “Go on, boy…. Fuck the whore.”

Becky couldn’t believe her eyes as Mark climbed between their mother’s thighs.
He took his penis in one hand and guided it into Linda’s snatch, lowering his
weight onto her, letting his cock slide up into her hot, moist channel.
“Ohhhhhhh!” he groaned, feeling his mother’s tight wet pussy squeezing his cock.
He had never done it before, and it felt even better than he had expected!

Once again, the man holding the gun traded places with one of the others. As the
last brother took his turn guarding Rock, the other two took turns straddling
his lovely wife’s head, pushing their cocks down her throat while his son fucked
her pussy.

Rock was numb with shock and helplessness. It was bad enough that he was unable
to stop the men from using his wife, but to have to watch while his only son
fucked her… 1000 driving his stiff dick up into her pussy again and again…
to have to listen to Linda’s gasps of shame turn to groans of pleasure as she
sucked at the two brother’s dicks and lifted her cunt up to meet her young son’s
cock.

“Uhgaah…” Linda grunted, pulling her mouth off of a stiff prick. “Fuck
me…Ahh god baby, fuck me!!!” An instant later Linda’s pussy exploded.

“Uhhhhhhhhhhhhhhgoddddddddddddddddddd!!!” she screamed, squirming beneath her
teenage son. She squeezed her fluttering pussy around her son’s penis and saw
his eyes glaze over. “Squirt it in me baby…” She cooed. “Come on… Squirt it
in momma’s pussy.”

However, the men had other plans for the boy’s spunk. One of them grabbed the
boy by the shoulder and literally tore him from between Linda’s legs.

“Make the filthy slut swallow it.” He told the boy, pushing him forward. “Go on,
boy… You know you wanna put your dick in your momma’s mouth an’ give her a
nice, big mouthful of cum, don’t ‘ya!?!” Mark looked at the man and then nodded.

“Yeah…” he said and leaned over his mother, pushing his cock into her mouth.
Linda’s pussy was still twitching as her boy leaned over her, and she took his
cock into her mouth gladly.

She wanted to suck him…wanted to make him cum! Rock and Becky were unimportant
now… as long as they behaved they’d be safe. All that mattered now was how
much she wanted to get fucked, and how badly she needed to taste her son’s
jism… to feel his hot, sticky load dribbling down her throat. She knew it was
wrong… that it was incest… yet she had loved being forced to fuck her own
son.

It had been dirty… so degrading! And she knew Mark had enjoyed it too. She
looked up to meet her son’s eyes as he worked his cock in and out of her tightly
sucking lips. “Oh god…” he grunted, “I’m gonna do it! I’m gonna do it in her
mouth!”

Rock and little Becky watched, frozen in shock, as Linda grabbed her son’s ass,
pulling him forward and taking his prick all the way down her throat… holding
him there with her lips pressed against his pelvis as he unloaded his balls.

“Unghh!” he gasped, his body convulsing as he shot a jet of goo down his
mother’s throat. “Uhhhgod…” Another squirt. He jerked his hips, pulling his
dick from Linda’s mouth. His penis literally erupted with a force and quantity
of jism that only teenage boys can produce, a thick white stream gushing
straight into his mother’s open mouth.

“Mmmmmmm” Linda gurgled. She swallowed greedily, cum running from the corners of
her mouth. “Fuck momma’s face, baby.” she begged. “Shoot it down my throat.”

Rock thought he’d be sick as he watched his son force his spurting penis down
into Linda’s throat… all he could see was the way Linda’s eyes shone as she
gulped again and again and again…In less than a minute it was over.

Mark pulled his limp dick from his mother’s mouth and rolled over onto his back,
exhausted.

“Are the three of you gonna fuck me now?” Linda was hot as a firecracker. She
lay on her back with her legs splayed wide, fingering herself and squeezing her
massive jugs as she looked up at the men. “Are the three of you gonna fuck me
now?” She asked, her own son’s cum hanging from her chin.

“No, I don’t think so…” The man holding the gun said, grinning. “Ya’ see, we
like the young stuff!”

As he spoke, the two other men converged on little Becky. “Stay away!” Becky
pleaded, trying vainly to scramble over the couch, but the men caught her and
held her between them.

Linda scrambled to her feet, but the man with the gun stopped her, motioning for
her to get back on the floor with her son.

“Get down there an’ 69 with your son…” he commanded. “Get his dick hard an’
maybe I’ll let him fuck ya’ some more.” Linda obeyed, squatting on her son’s
face, leaning forward to take Mark’s prick into her mouth, sucking him as she
watched the men holding her struggling young daughter.

“Jesus, she’s so f 1000 uckin’ little!” said one. It was true. Little Becky
barely came up to their waists.

“How old are you little girl?” One of them asked.

“F-fourteen…” she replied, sniffling.

The two men smiled at each other..

“She’s gonna have tits like her mother…” As he spoke, the man pulled up the
front of Becky’s T-shirt, exposing the cutest, pointiest little set of teenage
titties you’ve ever seen.

“God damn!” The man grinned, “We gonna pork us a pretty little schoolgirl!”
Becky started to cry as the two men turned her around, and forced her to kneel
on the sofa. They had her bent way over the back of the couch with her knees
together and her cute little rear end stuck up in the air. One of the men held
little Becky’s arms while the other unbuttoned her cutt-offs. Then he grabbed
her shorts and panties in both hands and whipped them down around her knees,
leaving the youngster’s sweet little baby-fat ass bared for them all to see.

Without a word, the man climbed up behind the youngster while his brother held
her. He wedged the huge, swollen head of his thick, eighteen-inch dick in the
crack of the tiny teenager’s ass and shoved. The fourteen year old screamed and
the big man cursed. “Hold her still, will ya? I’m tryin’ to get it in her
butt…”

“Oh god!” Rock hissed, as the realization hit him. They were going to sodomize
her! These huge men were going to sodomize his tiny little girl! “Please…” he
begged, “Don’t hurt her…”

Linda sobbed as she sucked on her son’s dick.

Becky looked up, tears flowing down her cheeks.

“Daddyyyyy!!!” she cried, and a moment later her eyes flew wide in surprise, as
the monstrous cock-head popped into her tender, virgin anus.

“Aaahhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” The little girl screamed, her face contorted
in pain. The man hesitated with just the head of his massive cock in her sweet
little schoolgirl butt. It looked like a god-damned baseball bat sticking out
from between her baby-fat cheeks…the tight, puckered ring of her tiny virgin
anus was clearly visible, twitching and jerking around the impossibly fat shaft.

The man grabbed Becky by her by the pony tail and shoved, driving more than half
of his hard, fat cock up into the teenager’s spasming butt-hole. He turned his
head, looked Rock straight in the eye, and grinned as he jerked his hips,
whipping his cock completely from the little girl’s butt. The youngster’s mouth
fell open and she sucked in a big gulp of air. He immediately placed it against
the fourteen-year-olds fluttering anus and shoved it back in to the balls.

“Gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh!!!” Becky bawled, as the entire foot and
a half of hard, fat meat was packed up into her bowels. “It burns, oh god daddy,
it burns so bad!” “Do ‘er again, Buck!” The one holding Becky said.

The one called Buck nodded and whipped his dick from little Becky’s buns, only
this time he took hold of her ass with both hands and spread her cheeks. The
poor girl’s abused and burning butt-hole was clenching and unclenching
uncontrollably, looking so tiny in the big man’s hands. “Look at that, Chip…”
He told the other. “Tightest little shit-hole you’ll ever fuck!” He moved in
again, brutally slamming his prick back up into little Becky’s rear-end. He
began to stroke the girl… working every inch of his oversized cock in and out
of her ass-hole, pumping the entire length up into the fourteen-year-old’s
little baby-fat buns so hard he knocked the wind out of her. Meanwhile, his
brother had his cock in his hand, rubbing it in the crying schoolgirl’s face,
trying to get it in her mouth. “Suck on it, you little bitch… put it in your
mouth like your momma did…”

Becky was bawling like a baby, babbling about how badly her ass-hole hurt,
begging them to stop, yet at the same time she obeyed, licking at the thick
shaft of meat dangling in her face… smacking and sucking at… reasoning on an
unconscious level that this was the only way to m 1000 ake the pain stop.

“Man she can’t even get it in her mouth…” The man said, sounding disappointed.
“And I really wanted to see sweet-cheeks with a mouthful of cock!”

“I got an idea…” said the man holding the gun to Rock’s head. “Let’s make her
do her daddy!”

Both brothers agreed readily, and Rock was instructed to pull out his dick. He
refused, and the man pulled back the hammer with a loud click. Having no other
choice, Rock undid his pants and pulled out his flaccid prick.

Meanwhile, the two brother’s continued to abuse Rock’s sobbing teenage daughter.
“Get over there, you little whore…” The man fucking Becky’s butt said. He
simply reached under the small girl and lifted her up, keeping her impaled on
his dick as he carried her over, dropping to his knees again in front of her old
man.

“Suck your daddy’s dick, you little cunt!” The man holding the gun said. He
leaned down to Rock’s ear.

You just lean back and enjoy it mister… ain’t no hurry, cause me an’ the boys
are gonna spend the next couple of hours pumpin’ your little girl’s butt!” Rock
made a sound like a strangle groan, but didn’t move. There was nothing he could
do. He watched helplessly, as the big man drove his monster cock deep into his
little girl’s ass as hard as he could, over and over, obviously enjoying the way
she whimpered and sobbed, commanding the youngster to suck Rock’s dick. He saw
Becky lift her head, her eyes unfocused. “Daddy…” she said as her fingers
closed around Rock’s limp penis. Craning her neck forward, little Becky took her
father’s dick into her mouth. “There ya’ go, sweet-thing! Suck on daddy’s dick
while I pump your tight little shit-hole!”

Linda felt Mark turn his head between her legs, so he could watch as the man
sodomized his little sister. She felt his prick begin to stiffen in her mouth as
the man drove his huge prick up into Becky’s butt-hole again and again.

My god… he’s actually enjoying all of this, she thought, and a moment later
she felt her son’s finger pressing at her own anus, trying to work it in there.
“No Mark… don’t” she said, and was instantly sorry she did. The man who was
watching turned his head and grinned.

“Look…” he said, nudging the man cornholing the little girl. “Junior wants to
fuck his mother’s shitter!” “Go give him a hand.” The other replied. “I’m Ok
here.”

The man walked over and grabbed Linda by the hair.

“Roll over, bitch.” he said, and Linda was forced to obey. She lay flat on her
stomach, her firm, tanned buns sticking up invitingly. Mark didn’t need any
encouragement. He climbed up behind his mother and pushed his cock up into her
ass, and not gently either, but savagely, brutally like the man had done to his
sister.

“Ahhhhhaaaaaaaaaaaaaa!” Linda wailed, as Mark drove the Hershey Highway.
Meanwhile Becky continued to suck her father’s dick while the big man reamed out
her ass. The man who had helped Mark got up and approached his brother. “Lemme
get some of that…” he said.

The other man grinned and whipped his slimey cock from little Becky’s ass-hole.
The teenager grunted nastily and pulled her mouth off of her father’s cock,
looking back over her shoulder just in time to see the men change places.

“Oh god no…” she groaned, but a moment later the second man’s cock had slid
painfully up into her butt.

“Oh daddy, help me…” the youngster pleaded between grunts and gasps. “They’re
takin’ turns…They’re takin’ turns in my heinie!!!”

The minutes clicked slowly by. The first brother to fuck Becky’s ass replaced
the one holding the gun, and he too took his turn in the little girl’s butt. She
still thrashed and moaned from the pain, sobbing and sucking away at her
father’s cock. Linda on the other hand had quieted down. Rock was disgusted to
see that after several minutes of butt-fucking she had begun to grunt like an
animal, sticking her shapely ass up into the air so her son could plow it better
with his dic 1000 k. “How is that, boy?” one of the men asked.

“It’s tight…” Mark hissed through clenched teeth. “Oh momma, your ass-hole’s
so tight!” Rock heard his wife moan and saw her reach back to grab the boys
hands, pulling them forward, lifting the front of her body off the floor
momentarily, so the boy could get hold of her gigantic jugs.

“Squeeze them while you cornhole me…” Linda begged, surprising Rock with her
language. “Hurt my ass-hole, baby. Come on. Make it hurt!” Mark began to savage
his mother, pounding his dick up her ass. Linda wailed and shivered, and said
something Rock would never forget.

“You can fuck my butt anytime you want, baby… from now on… You just say the
word and I’ll bend over for you. I’ll even bend over for your friends, too!
Would you like that, baby? Would you like me to let all your friends do it too?”
The three brothers broke into peals of laughter.

The minutes turned into ten, and then twenty. The three brothers had switched
again and again, each of them having five or six turns apiece up little Becky’s
ass. To Rock’s absolute horror, the tiny, 85 pound schoolgirl begin to mew
nastily, and he saw her back arch and her ass begin to quiver. At the same time
she began to suck him feverishly, her lips sucking and smacking at his cock in a
way that was impossible to ignore. Rock felt his cock begin to harden in his
little girl’s mouth.

“Oh it’s good now daddy…” Becky cooed, “Let me make you feel good too…” She
went back to sucking her father’s cock hungrily, while around her the three
brother’s laughed uproariously.

Mark had been watching his sister the whole time. Hearing her now was just too
much for him. He grunted and shot his load up into his mother’s ass-hole. Linda
gasped and clenched her ass-cheeks as tightly as she could. “Oh god yeah mom
squeeze it!” he yelled, and pumped her like a jackhammer.

The man sodomizing Becky pulled his cock from her ass and threw her to the floor
beside her mother and brother. “Make the little tramp clean your dick off in her
mouth!” He told Mark.

As Becky’s older brother grinned and pulled his slimy prick out of his mother’s
ass, the little girl rolled over onto her back, her mouth open and inviting.
“I’ve always wanted to do this, Becky…” Mark said, as he slid his dirty dick
into his sister’s mouth.

He took both of the youngster’s tits in hand and squeezed them, letting his
sister do all the work. Becky moaned and took her time sucking him clean,
obviously enjoying the terrible act. Then, to the three brother’s immense
enjoyment, Mark had an idea of his own. He pulled his little sister by the hair,
dragging her over to where her mother lay, exhausted, cum oozing from her
freshly fucked ass-hole.

“Lick it up…” Mark said, pushing little Becky’s face between the greasy cheeks
of her mother’s ass. “Clean out her ass with your tongue!”

Little Becky obeyed instantly, noisily slurping and lapping at her mother’s
filthy butt-hole, using her tongue to scoop the jism from her mother’s anus and
then gulping it down.

Grinning, Mark climbed up behind her and parted her buns, looking at her tiny
fucked-out anus. “Oh Becky…I’m gonna fuck your poop-chute!” he said, and sunk
his still-stiff prick deep into his little sister’s rear.

“Ohhhhhhhhhhhhh…” Becky groaned, her face covered with the slime from her
mother’s ass. She was so excited, she cursed for the very first time. “Fuck me,
Markie… Fuck my rear-end hard!”

The men gathered round, encouraging the boy to ream his sister harder, laughing
as he slammed his dick up into her. With every stroke the little girl moved
closer to her very first orgasm. Uhhhhgod Markie…” she groaned, “Don’t stop…
I… I… uhhhhhhhhhhhhhhh!!!”

The little 85 pound youngster thrashed and squirmed uncontrollably as she came,
her ass-hole impaled on her big brother’s dick. Before she had a chance to stop,
one of the men pulled Mark off of her and rammed his massive fu 1000 ck-stick
straight up the girl’s butt.

“Eeeeeiiiieeeeeeeeeeeeeeeeee!!!” Becky shrieked as she came again, harder this
time… her ass-hole clenching on the fat shaft, pinching it as her ass bucked
and twitched below him.

“Ahhhghhhh!!” the man grunted, and unleashed a torrent of hot jism up into
Becky’s rectum. He turned his head to look at Rock. “I just busted my nut up
your little girl’s butt…” he said, milking the last few drops into the
teenager’s behind.

“My turn.” said the second brother. He climbed up behind Becky and inserted his
fat prick in her butt. Almost immediately, the little girl began working towards
another orgasm.

“Your little girl’s a natural butt-slut!” he told Rock. “Yeah…” he said, “This
won’t take long…”

As he stroked the youngster, his brother forced the little girl to lick his cock
clean, which she did, cumming again halfway through the project… shivering and
shaking and moaning as she licked the slime from the cock. In less than a
minute, he too pumped a large load up into the little girl’s bowels.

“God, this tramps hole is gettin’ nasty!” he said, as he pulled his filthy cock
from Becky’s ass. He moved around in front of the girl and grinned as she licked
it like a lollypop. It was the third one’s turn after that.

He followed the other’s example, fucking her brutally for a minute or so before
busting his nut in the fourteen-year-old’s tight little ass. When they had
finished, they made the little girl squat over her mother’s face, forcing the
older woman to catch the jism on her tongue and swallow it, as it oozed out of
her daughter’s ass. Little Becky squatted over her mother’s face, leaning
forward on her hands. Every time her mother’s tongue flicked across her burning
anus she twitched and spasmed. She could feel a great gob of cum still up in her
ass… the combined cum from all three men.

She pushed her ass-hole down onto her mother’s stiff tongue, and reaching down
she spread her cheeks with both hands, relaxing the muscles there. With a nasty
farting sound, the cum dribbled out of her, slowly at first and then plopping
out in a goey glob right into her mother’s open mouth.

“Uhhhhhhh!!!” little Becky groaned, cumming. Linda slurped and gulped down the
nasty mess, digging in her cunt with both hands. Still not satisfied, the men
had the two females 69 next… enjoying the sight of mother and daughter
slurping at each other’s pussies…. the mother on the bottom and the cute
little teenager on the top, with her tender ass-hole exposed.

The man with the gun motioned Rock over. “Fuck her butt-hole.” he said. “Lemme
see you bust your little girl’s butt.” Rock dropped to his knees behind Becky,
his cock in his hand.

He didn’t have any choice. He put the head against her slimy, drooling ass-hole
and pushed, his cock sliding easily into the well-fucked hole. Little Becky
pulled her goo-covered face from her mother’s crotch and looked back at her
father.

“Don’t worry, daddy…” she sighed, “I like it now…” Rock closed his eyes and
stroked her, easy at first, but harder and harder as the men urged him on. Soon
he was really plowing her… fucking her butt-hole as hard as he could.

Becky was groaning and tossing her head, obviously enjoying it immensely. “Oh
god daddy… it feels so good…. I’m gonna let all the boys at school put their
things up there… an’ the teachers too… an’… an’… everybody!”

As Rock listened to his daughter babble on, he felt his prick began to swell in
her tight little ass. He pushed her face into his wife’s cunt, listened to her
slurp at the sloppy, greasy gash. He grabbed her firm little titties and stroked
her… humping her teenage butt-hole like a wild dog.

“You do that, Becky…” Rock grunted, “You hear? I want you to ask every boy at
school to put his cock in your ass…”

“Yes, daddy.” Becky moaned, “I swear I will…”

“You’re a little whore, Becky… A sloppy, tight-a 476 ssed little fuckin’
whore!” Rock grunted and a jet of cum burst up into Becky’s butt. He quickly
pulled his cock from her tight little shitter and pushed it right into her
mouth.

“Swallow daddy’s cum, you little slut… Swallow it like you’re gonna swallow
all those loads at school!” Becky groaned and drank her father’s jism. When she
finished, the three men threw them their clothes, and then pushed them out onto
the porch, slamming the door. The family looked at each other for a moment and
then dressed, before starting back towards the car.

They walked for a mile or so, dense trees lining both sides of the road. Rock
and Linda were walking behind their two kids, and Rock’s eyes fell to the damp
spot on his daughter’s shorts… cum leaking from her ass-hole.

He looked to his right and saw Linda staring too.

“Are you thinking what I’m thinking?” she asked.

Rock grinned. “Sure am…”

He took little Becky’s hand and led her into the woods.

“Come on, honey…” Linda said, leading her son by the hand. “Momma needs her
butt fucked…”

Incoming search terms:

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/captured-family.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/pesta-seks.html http://www.ceritadewasaplus.com/pesta-seks.html#comments Thu, 26 Apr 2012 22:51:59 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1003

read more »]]>

Kulepaskan keperawananku pada pacar pertamaku. Vega namanya. Sejak awal ia memang hanya iseng padaku. Teman-temanku berkata bahwa ia hanya akan memacariku sampai aku melepaskan keperawananku padanya. Saat itu, pulang sekolah, seperti biasa ia menjemputku. Kebetulan orang tuaku sedang keluar kota. Aku tahu bahwa ia tidak akan mengantarku pulang.

Ternyata benar. Ia membawaku ke sebuah motel. Dengan gayanya yang sok Don Juan, ia melepaskan pakaianku. Saat itu yang ada dalam kepalaku hanya perasaan ingin tahu. Lalu Vega menelanjangiku, dan menidurkan aku ke atas ranjang. Kubiarkan ia meremas remas payudaraku yang besar (36B). Ada rasa aneh seperti menggelitik saat itu. Vega menciumi dan menjilati puting susuku. Lalu tangannya yang satu lagi menjalar ke vaginaku. “Akhh..” tak terasa aku mendesah. Lidah Vega menjilati putingku lalu beralih ke payudaraku yang satu lagi. Kedua putingku mengeras.

Tiba-tiba kurasakan jari Vega masuk ke dalam vaginaku. Dan ia memain-mainkan jarinya. Aku merasa nikmat, namun juga sedikit sakit. “Oohh.. Sakit, Veg..” ujarku. Vega terus menjilat dan menyedot putingku. Aku menggeliat-geliat sementara tanganku menjambak rambutnya. Saat itu Vega langsung membuka pakaiannya. Kami berdua kini sama-sama telanjang. Aku dapat melihat penisnya yang menegang, tersembul ketika ia melepaskan celana dalamnya. Bulu-bulu lebat memenuhi kemaluan dan pahanya. Tanpa basa-basi, Vega langsung memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. “Aaww!!” Aku merasa kesakitan. Aku berusaha mendorong Vega, tetapi ia sangat kuat. Kelihatan sekali bahwa ia sangat bersusah payah untuk memasukkan kemaluannya.

Vega merentangkan kedua pahaku dan kembali berusaha memasukkan penisnya. “Akhh.. Sakit, Veg..” Lalu, bles.. tiba-tiba penisnya sudah masuk ke dalam vaginaku. Dengan cepat ia menggesek, mendorong penisnya dalam vaginaku. “Kamu suka nggak, sayang. Kamu suka nggak sama punyaku?” ujarnya sambil terus mendorong penisnya tanpa memperhatikan aku yang mengerang dan menjambaki rambutnya. Ditengah-tengah rasa sakitku, sebenarnya aku merasakan kenikmatan.

Lalu tiba-tiba Vega mencengkram bahuku dan tiba-tiba ia mengerang dan mengeluarkan penisnya dan menjulurkannya ke atas dadaku. Creett.. Sperma menyembur dan membawahi dadaku. Kulihat kepuasan di wajah Vega. Aku tak mengerti apa yang terjadi saat itu. Kemudian Vega menggeletakkan dirinya di sebelahku. Aku bangkit dan membersihkan sperma di dadaku. Saat itu aku melihat darah sedikit di atas sprei. Saat itu juga aku menyadari bahwa aku tidak perawan lagi. Benar juga, seperti kata teman-temanku, Vega memang memutuskan aku, beberapa hari setelah itu. Anehnya, aku tidak menyesal. Malahan saat itu aku merasa bahwa aku menjadi berbeda dan lebih kuat.

Selang beberapa tahun setelah itu, aku berpacaran dengan beberapa teman lelakiku dan selalu berhubungan initim. Begitu lepas SMA, Papa mengirim aku ke UK untuk sekolah manajemen. Di sana aku tinggal sendiri di sebuah apartemen milik kerabat Papa. Ada sebuah bar di sana yang bernama Lorga. Setiap akhir pekan aku selalu ke sana. Lama-lama, para bertender di sana kenal denganku. Saat itu aku betul-betul jenuh dengan kehidupan seksku. London sangat bebas. Aku pernah tidur dengan bermacam-macam lelaki. Black, White, Chinese, Japan, hampir segala ras pernah aku pacari dan getting laid. Pink, salah satu bartender di Lorga, yang kebetulan pernah getting laid denganku menyarankan untuk datang ke sebuah pesta pribadi temannya.

Lalu aku pun pergi ke sana. Rupanya pesta itu adalah sebuah pesta seks. Tanpa tahu temannya, aku pun bergabung dengan keramaian di sana. Ketika aku datang, semua orang sudah saling menempel dan ada pula yang sudah memulai. Musik underground terdengar memenuhi dadaku. Awalnya aku bingung hendak apa.

Akhirnya aku bergabung dengan sebuah kelompok di sebuah sudut, lima orang lelaki dan dua orang wanita, semuanya telanjang. Aku lepaskan seluruh pakaianku dan bergabung dengan mereka. Ketika aku mendekat, mereka semuanya tidak ada yang terganggu. Salah satu pria di situ, seorang pria latin (Namanya Ronnie, dari Itali) memiliki penis yang sangat besar “menganggur”. Yang lain, penisnya sedang di jilat oleh kedua wanita itu. Aku meremas penis pria itu. Pria itu sedang menjilati puting salah satu wanita di situ. Aku pun mulai mengulum penisnya.

Tiba-tiba kakiku direnggangkan oleh seorang lelaki. Aku merasakan basah di vaginaku. Rupanya seorang lelaki Negro tengah menjilati vaginaku. Tanganku mulai menekan-nekan penis pria itu sementara pria Negro itu menyedot vaginaku. Dan seorang lelaki yang sedang bercinta dengan seorang wanita lain menjilati puting payudaraku. Sungguh hebat dan nikmat. Aku sangat terangsang.

Tiba-tiba pria yang sedang aku sedot penisnya menarik kepalaku. Ia menatapku lalu menciumi bibirku. Kelihatannya ia ingin memasukkan penisnya ke dalam vaginaku, tetapi mereka mengeroyokku. Tiba-tiba si Negro membalikkan tubuhku. Rupanya ia ingin doggy style denganku. Ia memasukkan penisnya yang sangat besar ke dalam lubang vaginaku. Lalu ia mengocok penisnya ke dalam vaginaku. Aku sangat terangsang. Pria Itali itu memperhatikanku. Entah mengapa aku seperti tertantang. Terlihat seorang wanita di depanku baru selesai disetubuhi oleh seorang lelaki. Aku langsung menciumi puting wanita itu dan menciumi bibir wanita itu. Pria Itali itu mendekati kami dan memasukkan penisnya ke dalam vagina wanita itu. Doggy style juga, sama seperti si Negro denganku.

Namun aku tak mampu lagi untuk memperhatikan pria Itali itu karena tiba-tiba dua orang lelaki mendekati aku dan menarik rambutku, minta agar aku melakukan blow job. Aku lalu menjilati penis lelaki itu, sementara salah satu wanita di dekatku menghisap puting payudaraku. Malam itu malam terhebat yang pernah aku lewati. Tubuhku disembur oleh sperma dari bermacam-macam lelaki di situ.

Ketika pagi, tubuh-tubuh telanjang bergeletakan di lantai. Tanpa aku sadari. Pria Itali itu rebahan di sampingku. “What’s your name?” tanyanya. Akupun memberikan nama, alamat dan nomor teleponku. Ronnie, pria itu mengundangku untuk datang ke pertemuan berikutnya yang kebetulan dilaksanakan di rumahnya. Aku langsung menyanggupi. Ketika aku pulang, aku tetap tidak mengenali mereka, merekapun tidak mengetahui siapa aku, kecuali Ronnie.

Langsung ke weekend berikutnya, aku datang ke rumah Ronnie. Rupanya pesta belum dimulai. Hanya aku sendiri di situ, berdua dengan Ronnie. Kami tidak mengobrol karena Ronnie langsung menelanjangiku. Kali ini ia malah tidak melepaskan pakaiannya. Ia malah mengenakan sebuah rantai di leherku. “Your going to love this.” Katanya. Lalu Ronnie melepaskan kemejanya. Pada saat yang bersamaan, terdengar ketukan di pintu. Ronnie membukakan pintu. Tiga orang pria masuk. Salah satunya pria Negro bartender itu yang kulihat di pesta yang lalu. Mereka kelihatan senang melihatku. Langsung saja mereka melepaskan kemeja mereka.

Dua orang yang lain masuk ke kamar Ronnie dan kembali dengan sebuah kamera video. Ronnie mulai menarik rantaiku dan menyuruhku duduk di lantai. Pria Negro itu mengikatkan tambang kecil di seluruh tubuhku. Aku tidak dapat bergerak. Tangan dan kakiku diikat menjadi satu. Ronnie melepaskan celananya dan menekan kepalaku sementara si Negro memegangi pahaku dan mulai menciumi vaginaku. Pria yang lainnya mulai melepaskan pakaiannya sementara yang satu lagi merekam kami. Anehnya, aku benar-benar menyukainya. Ronnie benar. Aku menghisap penis Ronnie. Ronnie menjambak rambutku. Si Negro menjilati klitorisku hingga betul-betul becek. Pria yang satu lagi, lebih kurus dari Ronnie, si Negro dan yang memegang video menciumi payudaraku. Lalu si Negro selesai menciumi vaginaku. Ia memukuli pantatku hingga aku kesakitan. Mulutku penuh dengan penis Ronnie. Sementara aku merasa pantatku panas karena dipukuli oleh si Negro.

Si pria kurus melepaskan ikatanku. Si Negro menarik pinggulku hingga si pria kurus berada di bawahku, sementara Ronnie, sambil memegangi rantai leherku, terus kujilati penisnya. Tiba-tiba, si pria kurus memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Tetapi aku merasakan si Negro membuka pantatku. Awalnya aku agak cemas. Aku melepaskan penis Ronnie dari dalam mulutku, tetapi Ronnie, menarik rantai leherku dan menekan kepalaku agar aku terus menjilati penisnya.

Dan bleg, aku merasakan penis si Negro masuk ke dalam pantatku. “Akhh.. It’s hurt! ” jeritku, namun Ronnie menamparku dan kembali menarik rantai leherku dan memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Aku merasa diperkosa. Si pria kurus menekan-nekankan penisnya ke dalam vaginaku, sementara si Negro terus menekankan penisnya ke dalam duburku, sementara si pria video terus merekam. Ronnie semakin keras menjambak rambutku. Tanpa terasa aku menikmatinya. Mungkin karena sempit, si Negro orgasme duluan. Ia menyemprotkan spermanya ke punggungku. Pria video kelihatan sangat horny. Ia mengoper video itu ke pria Negro dan menggantikan posisi pria Negro, membuka celananya dan mengeluarkan alat vitalnya yang sudah mengeras ke dalam duburku. Aku betul-betul merasa nikmat. “Aakhh.. I think I’m coming..” desahku.

Ronnie berhenti memaksaku untuk menjilati penisnya, sementara pria kurus terus menekan penisnya sambil menjilati puting payudaraku dan si pria video terus menekan-nekankan duburnya. oohh.. yeaahh.. akkhh!! I’m coming.. ” jeritku sambil merejang, menegang, sementara pria kurus terus mengulum puting susuku dan menekan-nekankan penisnya. Dan aku orgasme. Pria kurus tidak lama kemudian juga menyemprotkan spermanya. Begitu pula pria video. Pria kurus membanting tubuhku dan menyemprotkan spermanya ke tubuh dan mulutku. Aku merasa sangat lelah. Namun aku menggosok-gosokkan sperma ke seluruh tubuhku.

Pria Negro mendekatkan kameranya kepadaku, dari mulutku yang penuh sperma, ke tanganku yang mengusap-usapkan sperma dan ke vaginaku yang sangat basah. Setelah itu ketiga pria itu menciumi bibirku, putingku dan mengatakan bahwa aku sangat hebat. Ronnie masuk sambil membawa segelas air dan sebuah pil. Ronnie juga memujiku. Ia menyuruhku untuk meminum pil itu. Ia mengatakan bahwa aku akan menjadi pulih dan lebih kuat setelah minum pil itu.

Benar juga. Belum berapa lama, aku sudah merasa bertenaga. Aku menanyakan pada mereka untuk apa video itu. Rupanya mereka mengoleksi video-video semacam itu. Aku meminta kopinya. Aku tak keberatan dengan video itu. Aku menyukai dan sangat menikmati suasana tadi. Ronnie menawarkan aku untuk ikut kembali minggu depan. Namun minggu depan mereka akan mengadakannya di alam terbuka. Aku sangat tertarik. Begitulah kehidupanku di sana. Setiap akhir pekan, selalu ada new experience bersama Ronnie. Terkadang, aku merindukan suasana itu di Jakarta. Adakah?

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/pesta-seks.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/i-meet-beca.html http://www.ceritadewasaplus.com/i-meet-beca.html#comments Thu, 26 Apr 2012 10:52:18 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=392

read more »]]>

I Meet Beca

I stopped my bike and planted both feet on the ground. Approaching me was
a young jogger. The girl had a sweat band around her head, her hair in two
braids and a smile on her face. Her sweat soaked t-shirt was plastered
against her two perfect mounds. At the summit of each was a perfect point
the shape of an olive. I was so intent on starring at this beauty I fell
over on my bike. She stopped and looked down at me with a smile and said,

“I don’t know whether to laugh or cry for you.”

“I don’t either,” I replied while the hand brake lever stuck me in the boob
and my legs were wrapped around the bars of the bike.

The beauty helped me get untangled and then helped me up and asked if I was
alright. I replied that my breast hurt where the lever had been. She smiled
and suggested she would make it better and gently squeezed it. My knee was
quite scraped and began to bleed a little. But I couldn’t take my eyes off
my angel.

“Why don’t we go to my apartment,” She asked, “It’s not far from here, just
around the block. Then we can do something about that knee of yours.”

Here apartment was more like a small house, all on one floor. We entered
thru the front door and angel lead me down the hall and into a bedroom.
She started to strip her soaked clothing off and I watched with a little
amazement. Here was a beautiful young girl stripping in front of a woman
she had just met. Actually we hadn’t formally met yet.

When she was down to her panties she came to me and said,

“Let’s take a look at that scrape.”

She lifted my leg up placed it on a chair while she examined my wound. I
thought this girl has done this before. She looked at me and smiled and
said,

“This wound needs a good cleaning and then a bandage. I think in the
shower would be the best place to wash it.”

Once again I was amazed but thought to my self, I wonder how far this young
lady is willing to go. She was standing right by my side as if waiting to
help me up. I put a hand on each of her hips and looked up at her smiling
face.

“There is something I’d like to do before we hit the shower,” I told her.

“What is that?” she asked.

I stood up, keeping my hands in place on her hips. I gently pushed her
back towards the bed until she fell over on it. Then I put a hand on each
thigh and spread them. The crotch of her panties was just as wet as her
t-shirt had been. I couldn’t wait to nibble and lick this hot, wet cunt.

“What are you doing?” She asked with urgency in her voice.

“I’m going to dine on a beautiful woman’s hot sweaty pussy,” I replied.

Her voice seemed to say, I don’t know about this, but her body said, I’m
all yours. So I didn’t hesitate any longer. I ran the tip of my tongue up
the inside of her thigh till I felt the smooth wetness of her panties.
Then I grasped them in my teeth and pulled on them. My beautiful little
girl lifted her hips so I could slide them down. The heavy sweaty smell
that had engulfed my senses was now be tempered by the strong and wonderful
aroma of her sex. I buried my face in her pussy, inhaling deeply as my
tongue pushed its way in to her love hole. Then our movements became as
one as she moaned and writhed about and I gripped her tightly to continue
my cleaning. Her clit stood out like a small cock and I sucked it like it
was one.

I had only been playing for a few minutes when she erupted like a volcanic
geyser. I clamped my mouth over her cunt hole so as not to loose any of
her love juice. Suddenly she lay quiet as if she had passed out. I
continued to gently lick about her pussy and into the valley between her
buns where her rose bud resided. Then each thigh was carefully cleaned and
then I sat back. This lovely little girl just laid there, a big smile on
her face and eyes closed. Then she opened them and looked at me.

“My you don’t waste any time getting what you want, do you?”

“I learned long ago that time wasted is never recovered. Now we can
proceed with that shower knowing what we are really about.”

During the shower and while drying off we were constantly at each others
bodies. I loved the feeling of the warm shower spray on my head while my
face was buried in her pussy while she seemed to prefer sucking my nipples
like a baby at its mothers. But that was to change. When we had finished
drying each other my little one took charge and led me to her bed. I found
myself flat on my back, legs spread while this little angel began making
love to my cunny. Her first action was to tease with a gentle touch of her
fingers, up and down the lips of my hole. Then she flicked my clit until I
was about to explode and then began with her tongue.

My little friend loved licking my pussy and while she didn’t seem to be
very experience she definitely knew what to do. First her lips would be
pulling my clit, then I could feel her tongue fucking my cunt and all the
while her fingers were doing a dance up and down my thighs and up and down
the crack between my buns. A tip of her finger even found my rosebud
several times. I too am a squirter and when my first climax approached I
grabbed her head, pushing my pelvis hard against her face. She drank my
juice like a thirsty child and continued licking and sucking until I
collapsed. I laid there absolutely exhausted. She brought me around by
asking,

“Which one would you like first?”

I opened my eyes just as she unrolled a large bundle that contained
probably 8 or 10 love toys. Long slender ones, big bulky black ones, a
harness for a two way strap on and several different types of vibrators. I
couldn’t believe how well equipped my new lover was. I leaned up on one
elbow and surveyed my choices. I picked a medium sized cock and the
harness and said,

“I want to fuck you with this one to start with,” I said, pulling the
harness out of the bundle. As part of the harness there was a large elbow
shaped cock like thing that went into my pussy and she attached the cock
that would be used on her. We soon were kissing and playing with each
others tits while the cock hammered in and out of her pussy and I was
favored with action with the one in me. I told my little one that when a
climax approached to tell me cause I wanted to drink at her fountain. It
was long before I found myself lapping up her love juice after a tremendous
effort.

We traded positions and the harness and cock several times over the next
few hours. I had never been with such a love child. Finally when neither
of us could move we just laid there in each others arms and enjoyed the
feeling of bare skin against bare skin. Then my little lover said,

“I think we had better have some solid food, don’t you?

I then realized how starved I was. I glanced at her bedside clock and saw
that it was almost 10. We had been making out for nearly 5 hours. I slowly
rolled out of bed and agreed with her that food was very necessary. I
started to pick up my cloths and she scolded me saying, “No cloths my love
I want to be able to see your beauty while we eat.

While we prepared something to eat we chatted like school girls. Sometimes
both talking at the same time, not listening to the other. Suddenly I put
my hand on her arm and said,

“I know every inch of your body and know what you taste like fresh from a
run or fresh from a shower but I don’t know your name.”

My little one replied, “Beca, if it’s important. What’s yours?”

“Carrie”, I replied.

We both sort of laughed and said that we were glad the formalities were out
of the way. Beca asked where I was staying and I told her and then she
asked how much longer I had in England. I told her about 10 days and she
told me she had to go to work in about 3 hours but would take the next 10
days off and we would really get to know each other. I thought to myself I
thought I knew her pretty well all ready.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/i-meet-beca.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/clubhouse.html http://www.ceritadewasaplus.com/clubhouse.html#comments Wed, 25 Apr 2012 22:51:59 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=389

read more »]]>

I had just turned sixteen when dad went to the doctor and found out he only had six weeks to live. He had been sick for months and had finally decided to see the doctor. A week later, mom was coming home from work and was hit by a car that ran a red light and she was killed. It was a realtor, talking on her cell and not paying attention. Three things happened.

Dad saw a lawyer and had me declared an adult. He sued the realtor and her company and he invested the half million dollar life insurance money in my name. Three weeks later, he died in his sleep. The law suit had just settled two days before. Suddenly I was left alone.

Our town wasn’t huge, we only had maybe five hundred kids in high school. I wasn’t a jock or a nerd. I had friends that were one or the other. Besides dad’s life insurance money and the money from the law suit, dad’s mortgage insurance paid off the house. I invested everything but a hundred thousand. That was my yearly budget for this year.

I lived on the edge of town. Our house was an older one that sat on fifty acres, mostly woods that made it secluded. We had this big barn that mom and dad had let me use as a clubhouse when I was younger. It was a month after dad had died that one of my friends had an idea to cheer me up. He was a jock and unlike me, had been with a few girls.

He was popular, but I kidded him that he was a porn addict because he was always watching porn. I should describe myself. I am 5’11”, brown hair and blue eyes. I have a larger than average dick, eight and a half inches long and two thick.

He told me, he and some of our friend were going to build something in the clubhouse. Doug and the others started bringing in lumber and that made me curious but he always chased me away, saying I had to wait. Two weeks later he walked me into the barn alone. They had built ten rooms along the two long walls and put a couple of glass showers in at the other end with toilets sitting in the open between them.

On the twelve foot beams they had built another floor and added six more rooms. Between the rooms on the bottom floor was a mixture of different couches and chairs along with a small kitchen. In each room they had built a wooden frame for a queen size bed. I shook my head, “What the hell?”

Doug grinned, “It’s a new clubhouse for guys and girls to… get together.”

I looked at Doug, “First, that isn’t going to help me. Second, no girl is going to want to use a bedroom where she can’t put her clothes someplace. Third you need some other type of entertainment.”

Doug grinned, “Don’t worry about finding a girl.”

I sighed, “Fine. Have someone take those old mattresses off, they look like shit. I need someone else with a big truck to go shopping with me. You go into the house and have someone help you bring dad’s big sixty inch out and grab the DVD player too.”

I spent the afternoon buying sixteen new mattresses and tasteful wooden clothes hangers for the walls of each room. I bought sheets and blankets for the beds as well as an electric heater for each room. Just for the hell of it, I bought a new king size bedroom set for myself.

The next two weeks were strange, Doug and some of the others were all over the school talking to girls from all grades. It was a Friday morning and I had only gotten a little sleep the night before. Doug stopped me before our first class, “We need some refreshments.”

I just looked at him and he shrugged, “Everyone is tapped out from building the clubhouse. We’re going to have a party tonight.”

I shook my head, “No drugs or alcohol. I don’t need the sheriff giving me grief.”

He grinned, “Just soda or juice. We’ll need chips, pizzas and maybe some frozen food.”

I was surprised at how many girls talked to me that day. After school, I stopped to pick a bunch of stuff up. Doug had marked the area in front of the barn where people could park. I put everything away in the refrigerator in the barn as Doug picked out a couple of movies and everyone started arriving around five.

I was really surprised at how many girls had shown up, there were eighteen of them. Doug stood up on a chair and held out his hands. “Welcome everybody. This is our first meeting. We are going to start off with our claiming. Since we did this for Mike, he will be first…”

He didn’t even finish talking when I was surprised by two girls that raised their hands. They were standing together, one was the head Junior Varsity cheerleader named Elizabeth and the other was a young freshman named Sandy, she was one of the smartest girls in school. “We want him.”

Doug stopped, “Well, um… the guy is supposed to pick his slave.”

Doug was looking at me as I stared back in shock, “Slave?”

Everyone laughed as the two girls walked to me. I looked at them as they came up, “Slaves?”

They grinned and the cheerleader spoke up, “Think you can handle two of us?”

I looked at Doug and then I laughed and threw up my hands, “Sure.”

Doug grinned, pulled a key on a silver chain out of a fish bowl and tossed it to me. I glanced at the number to see that it was on the second floor. Elizabeth took a look and started pulling me up the stairs after her. When I unlocked the door and we went in, they were surprised and grinned. They both turned to each other and began helping each other undress.

I hesitated and then slowly started undressing. By the time I was pulling my pants off, they were both naked and watching me. They both grinned when my boxers came down and they saw my cock. Sandy knelt and wrapped her hand around my cock, “um, over eight inches and maybe two thick.”

Elizabeth laughed, “Not just that, his balls are nice and big.”

Sandy looked over her shoulder at Elizabeth and grinned, “Can I go first?”

I shook my head and stood up, “Girls… uh… I… I haven’t, you know, done this before.”

They both smiled and stood to embraced me, “We know.”

They pushed me back onto the bed and suddenly it was funny. I laughed as I grabbed a surprised Elizabeth. I pulled her up my body and spread her legs above my face. I looked between her legs at a surprised looking Sandy, “Didn’t you want to go first beautiful?”

Sandy laughed and straddled my hips. I watched her grasp my cock and guide it to her pussy. I groaned as my cock slowly entered her and pulled down on Elizabeth. She laughed as her pussy slid over my face. I shivered and started licking her wonderful pussy. Elizabeth shivered as Sandy began to move. First grinding back and forth and then fucking my cock a few strokes before repeating it.

I couldn’t believe the feeling of Sandy’s tight warm pussy sliding over my cock, but Elizabeth, I loved the taste right away and couldn’t get enough. She started humping and bucking down into my face when I began sucking and licking her clit. Sandy was shuddering with my cock buried all the way up to her womb. I could barely hear her cry out, “oh my god, I’m cumming!”

As her pussy tightened, the feel of her shuddering pussy sent me over the edge. I shuddered and arched my back as I moaned into Elizabeth’s pussy. As I began spraying cum up inside Sandy, Elizabeth started shaking and humping hard against my face before suddenly squirting me with her girl cum.

It was a few minutes before she swung her leg over me with a red face. Sandy was slumped a little and followed Elizabeth’s in lying beside me. I pulled Elizabeth back and gave her a kiss, “Thank you.”

I caressed her face a minute before turning to Sandy and doing to same thing. Sandy giggled a minute later as she wiped my face, “I thought she only did that to me.”

I laughed, “I loved it.”

Elizabeth went to her elbow and looked at me, “You do know you guys are just supposed to fuck us?”

I stared up at the ceiling grinning, “You said you want to be my slave so I will enjoy you how I want.”

Sandy laughed and Elizabeth grinned before straddling me and guiding my still hard cock to her pussy. She kept looking into my eyes as she slowly sat down, my cock sliding into her wonderful silky pussy. She finally closed her eyes and sighed and gave a shiver as Sandy reached up to caress her breasts.

Elizabeth opened her eyes and looked down into mine. “You know as slaves, that after you finish claiming us we have to go back and let the other masters have their turn.”

I looked into her eyes, “Nobody has told me anything.”

Elizabeth smiled and slowly lay on me, “We know. That’s why I’m telling you now.”

I could feel her pussy grasping and releasing me as Sandy caressed my cheek, “The girls came here to get fucked without any hassles. Any master can fuck us over the weekend.”

Elizabeth shivered and gave me a kiss, “During the week, the slave only fucks her master.”

I shivered slightly and looked from Elizabeth to Sandy, “How long are you going to be my slaves?”

Sandy grinned, “Until you release us or we ask to be released.”

I caressed Elizabeth’s butt, “So, you’re mine through the week, but on the weekends we have these parties and only the other masters get to fuck you?”

Elizabeth shivered and nodded with Sandy as her pussy grabbed at my cock again. I lay there thinking about it and at first there was jealousy, but then I remembered I was a master. I smiled and reached out to tug gently on one of Sandy’s nipples. “So, while you two fuck the other masters, I fuck the other slaves?”

They grinned and Elizabeth actually fucked up and down with her hips. Elizabeth rolled, pulling me with her. I ended between her legs and she smiled, “Fuck me master.”

I pulled back and started to fuck her slow and deep. I gave Elizabeth a kiss and looked at Sandy as she moved closer, “You both wanted me to claim you together. Does that mean you are lovers?”

Sandy looked at Elizabeth as she shivered and tried to hug me tighter, “Yes. We never told anyone, but you are our master now.”

I gave Elizabeth a kiss before leaning out to kiss Sandy, “I’ll keep your secret.”

I looked at Elizabeth’s lust glazed eyes and grinned as I started fucking her harder. It wasn’t long before she jerked and started shuddering repeatedly. As her pussy tightened around my cock, I started cumming against her womb. Elizabeth jerked with each spurt of cum and murmured, “So warm.”

When I was done, it took me another minute to get my breath and slowly and reluctantly pull out. Sandy caressed my chest, “Well, do you accept our claim?”

I laughed and pulled her over Elizabeth and kissed her hard. I pulled back and softly caressed her face, “Until you ask to be released.”

She grinned and sighed before kissing Elizabeth, “Then we need to go back downstairs.”

Elizabeth touched my cheek, “I really enjoyed it.”

I laughed, “Since it was my first time?”

She grinned and gave me a quick kiss before rolling out of bed. They walked towards the door and I cleared my throat. When they looked back I gestured to their clothes and Sandy grinned, “Sorry, the rules say we have to stay naked. This is your room for the weekend. We come back here to sleep when we get tired.”

I looked from her to Elizabeth, “I have to stay naked too?”

They grinned as they opened the door, “Not if you don’t want to.”

I smiled and climbed out of the bed and hesitated before shrugging and just picked up my key and putting it around my neck before leaving. Elizabeth and Sandy were talking to three other girls when I came downstairs. They looked at me, Elizabeth and Sandy were smiling but the three other girls stared at my still hard cock.

I padded quietly to the small kitchen area and poured a small glass of juice. I was just turning away when one of the girls walked up to me. Her name was Sarah, she was smiling with a red face. I noticed a small trail of cum on her inner thigh. She reached out and wrapped her hand around my cock, “God your big.”

I looked down at her hand and then reached out to softly caress one of her breast. “These are very nice too.”

She laughed and looked back at Elizabeth and Sandy. “You did both of them and your still hard?”

I smiled, “It was my first time. I was saving up.”

Sarah laughed and released my cock, “Would you fuck me master?”

I took a drink of juice, put the glass on the counter and took her hand. I walked straight to Elizabeth and Sandy. I gave each a quick kiss, “Enjoy your selves.”

They both grinned as I led Sarah up the stairs. I opened the room and led Sarah to the bed. I pushed her onto the bed and followed her. I began kissing her and caressing her body, letting my hand slowly find its way to her cummy pussy. I began running my fingers through her slit while she moaned and shivered. I gently teased and tickled her clit for a few minutes.

She moaned and shuddered as I began slipping one finger into her hole. I began slowly finger fucking her, going from her clit, down into her leaking cunt. When she started humping up at my hand, I pushed a second finger into her. I curled my fingers so that they went in and then up under her pelvic bone. I would rub hard across a soft sponging area before pulling out.

Sarah suddenly started having small seizures, her cunt tightened and she squirted cum. A second later she shivered really hard and did it again and then again. I finally pulled my fingers out and moved between her legs. I pushed into her shaking body and she groaned as I started to slowly fuck her going deeper with each thrust. Sarah didn’t stop shaking and shuddering the whole time.

By the time I was all the way in and pushing against her womb, she was moving erratically and incoherent. I started fucking her harder and faster and fifteen minutes later I came. Sarah bucked and thrashed under me as I spurted and sprayed the inside of her pussy. When I finally finished and pulled out, she was still shuddering through another orgasm.

I lay beside her and just held her until she finally sighed and shivered one last time. She slowly turned her head to look at me and smiled. I grinned and kissed her cheek, “Thanks Sarah.”

I rolled out of bed and held out a hand to help her. When we came down stairs, Elizabeth and Sandy were both gone. There was another moment of jealousy before Sarah laughed as she kissed my cheek and walked away muttering, “Damn, he’s still hard.”

My glass was still on the counter so I finished it. I thought about everything that had happened and grinned. I gave a little wave at the four girls watching a movie and walked out. I didn’t even think about being naked. I walked in the back door of my house as the phone rang. It was the mother of Paul, one of the guys in the clubhouse. I told her we had been out back and she gave me a message for Paul.

I thought about it and unplugged one of the remote cordless phones. Next was my mom’s laptop. I carried both back to the clubhouse. When I came in, the girls all looked up and grinned. I plugged the phone in and brought the laptop to a couch. I walked to the other end of the barn and washed my bare feet in one of the showers.
I fixed a frozen dinner and came back to the couch as two of the guys brought a girl back. She was grinning and cum covered her whole groin. While I ate several girls sat down by me and looked at the dinner, “That isn’t pizza!”

I grinned, “I bought pizza if you really want it, but there are other things in there.”

One of the girls, Mary, leaned over to see what I was doing. “A database?”

I nodded absently, “For masters to record their… sessions and for slaves to record theirs.”

The girls laughed and Mary wrapped her hand around my cock, “It looks like you need another session.”

I grinned and set the laptop on the coffee table before standing up. I turned and took Mary’s hand, “In that case slave.”

The girls laughed as Mary grinned and stood up. I had sex with a total of seven girls before I got too sensitive. Everyone seemed to like the idea of a database and Sandy even made it look better. It was almost midnight, when I called it a night. I started up the stairs and both Elizabeth and Sandy were suddenly following behind me.

I smiled as they followed me into my room. I waited for them to get on the bed before turning out the lights and switching on the tiny in wall subdued light. They both grinned at me as I unfolded the blankets at the foot of the bed and pulled them up. I climbed into bed beside Sandy and absently tugged on one of her nipples, “Did you girls have fun?”

They both grinned and Sandy snuggled against me, while Elizabeth moved up behind her. It was quiet as I tried to sleep, having a naked girl next to me was a distraction though. I caressed Sandy’s body and quietly asked, “How are we going to… I mean, during the week…”

Sandy giggled, “You had seven of us and you want more?”

I grinned and gave her a squeeze, “Maybe later, I meant… you know, what are you going to tell your parents?”

Elizabeth sighed, “My mother doesn’t care what I do as long as she doesn’t have to get involved.”

I looked over Sandy at her, “And if you spent the whole week at my house?”

I could see Elizabeth smile as she opened her eyes, “She wouldn’t care. It would just mean she didn’t have to cook or wash my clothes.”

I smiled and put my head down, “What about you Sandy?”

She laughed, “I told mom I was going to become a boy’s sex slave and she laughed. She said to let her know if my master was any good. She said she might want to borrow him.”

I grinned and closed my eyes, “Am I any good?”

Sandy and Elizabeth both laughed. Sandy kissed my cheek, “We got the best deal. Everyone you have been with has told us you are the best so far.”

Elizabeth giggled, “Sarah said she was going to start worshiping you.”

I laughed, “Sarah was fun.”

I woke to quiet, Sandy was snuggled up against Elizabeth and was sleeping soundly. My watch told me what time it was and I carefully slid out of bed. I put my old clothes on even though I felt dirty. No one was up when I went downstairs. I walked out to my dad’s car and drove to the market.

I bought stuff for breakfast and headed home. I had been thinking about what we were doing and had an idea. In the clubhouse, I put everything away as several sleepy eyed girl watched. I stopped to give one a caress on my way past, “I bought several things for breakfast.”

She grinned, “And want something else to go with it?”

I laughed as I headed up the stairs, “Maybe later if you’ll take a rain check.”

I opened my door to see Sandy and Elizabeth kissing and caressing each other. I quietly closed the door and stripped without them even noticing. I slid into the bed next to Elizabeth and she jerked away from Sandy with a squeak. I grinned and pushed her back, “Finish what you started, slave.”

Sandy giggled and Elizabeth looked at me red faced before grinning and turning back to Sandy. I watched them make love and it made me hard but I enjoyed every moment. They finally sighed and pulled apart. I kissed Elizabeth and moved over her to kiss Sandy. I rolled out of bed, “Time to get up. I have plans.”

They laughed and Elizabeth smiled, “We’re just supposed to fuck other masters today.”

I grinned, “That can wait. Showers and then I need you to get everyone together.”

Showers were fun and by the time we got out, most of the others were up. It didn’t take long for the girls to gather on the couches. All the guys stood behind them trying to wake up as they wondered what was up. I grinned, “Good morning lovely slaves. I hope we haven’t gotten you too sore.”

The girls laughed and I smiled as I looked at the other guys. “I’m sure you all know that this was a surprise to me.”

I waited for them to finish laughing and continued. “I think even my slaves planned on capturing me.”

They laughed again as Elizabeth and Sandy grinned. I took a breath, “I want to thank you, all of you. I guess I never realized how many people were my friends until I needed them. Now, I know the guys all want to spend the day having sex, but if they did, they wouldn’t have anything for tonight.”

Everyone laughed and I grinned, “Instead, I had an idea. You girls would have to approve it, all of you. I will take everyone to the mall and buy each girl a gold filigree choker, a collar if you will. I want it to look nice and tasteful. It will have a small gold name plate with her master’s name engraved on it.

It will have a small gold ring, a plain gold wedding band. I will also buy a six foot gold chain for each girl. On the weekends you girls attach the chain to the gold ring and the master that you are… servicing, leads you to and back, by your gold leash.”

They laughed and I smiled, “Well, girls what do you think?”

They whispered and murmured while I waited and then, one by one, they agreed. I smiled, “Good. Now all we need to do is get everybody to the mall.”

That took almost an hour. When I walked into the jewelry shop, it was dead. I asked for the manager and explain what I wanted as the girls began to arrive. It turned out that they would have to special order everything I wanted, which would take a few days, which was fine. He sat each girl down and measured her neck and wrote the name for the small name plate (I didn’t tell him what the name meant.)

I treated everyone to lunch and then it was back to the club. It was a wonderful weekend, I was the only one to fuck each and every slave. No one wanted to go home Sunday afternoon. The beds had all been stripped and I was washing cummy sheets, when someone rang the bell. I opened the door to Elizabeth holding two suitcases and Sandy holding one of her own.

I opened the door wider and let them in. Elizabeth was the first one in and she kissed my cheek on the way past, “I’ll put these in our bedroom.”

I looked at the cases and grinned as Sandy stopped to give me a kiss. “My mom went out of town for a week and said to come stay with my new master.”

I grinned, “Anytime.”

Sandy laughed as Elizabeth came back into the room. She was grinning, “Come look at the bedroom.”

Sandy grinned and followed Elizabeth back to my room. I thought about dinner and my two surprise guests. The girls found me in the kitchen. I was pulling chicken out to make a simple chicken and rice dinner when they returned. I smiled at the girls, “Did you like the bedroom?”

Dinner was quiet with a lot of looks between us. When it was over, I sat back with a sigh. Sandy and Elizabeth kept sneaking touches and I finally laughed, “Alright you two, ready for my first order?”

They grinned as I stood up with dirty dishes and walked to the sink. I looked back, “Go take a long bath together. Use the bath beads that were left on the side of the tub. You are not allowed to wash or touch yourself. You have to wash each other.”

They grinned and Elizabeth was pulling Sandy out of her chair and down the hall in no time. I smiled as I watched them walk away. I cleaned up and put another load of laundry in. After I finished folding the last sheet, I walked back to the master bath and found Elizabeth and Sandy caressing each other. They smiled at me as I knelt beside the tub, “So, you are mine for a week.”

They grinned and I reached out to softly caress one of Sandy’s tits. “Finish your bath and come to bed.”

I leaned over and gave them both a quick kiss before standing and walking out. I thought about what I was going to do as I moved onto the bed. They came out a few minutes later and smiled as they walked naked to the bed. They crawled up on each side of me and I turned to Sandy. I softly kissed her before pulling back, “Can I go down on you?”

She laughed softly, “You don’t even have to ask.”

I gave her a soft kiss and moved down her body and between her legs. Her pussy was shaved clean and I grinned. I licked through her beautiful slit and tugged on her clit with my lips. Sandy grunted and shivered, “Oh that feels good.”

I sucked on her clit, teasing it with my tongue while slipping a finger into her pussy. She put her hands behind my head as I started finger fucking her and wiggling my tongue against her clit. When her hips began to slowly hump up into my face, I slipped a second finger into her. Instead of just finger fucking her, I turned my hand over.

I kept licking and sucking her clit as I began to curl my fingers and fuck up behind her pelvic bone. Sandy was moaning and shaking as I felt her body slowly tighten. My lips were fastened around her clit while my tongue teased it and my two fingers were fucking up into the soft spot I had found.

She was grunting, her body trembling as it strained. Suddenly it happened, Sandy jerked and convulsed in shuddering seizures. Her pussy spasmed tight around my fingers and she squirted and screamed. “OH MY GOD! YES!”

She spasmed and jerked again a couple of seconds later as she squirted and screamed, “FUCK!”

Her head was jerking back and forth and her body twisted and turned. She shuddered hard, squirting again while screaming, “YYYEEESSSS!”

Her body dropped back to the bed. She was panting and trembling and shaking. She spasmed again suddenly and squirted me once more. “Fuck!”

She shuddered as I pulled my face away from her pussy, “mmmmm.”

I smiled and moved to lie beside her, when the bed shifted and I looked at Elizabeth. She was grinning, “I’ve never heard her screaming before.”

Sandy covered her eyes with her hand and kept shivering. I smiled and started feeling and caressing, Elizabeth. Sandy pulled her hand away from her eyes and turned her head to look at me. She caressed my butt and I gave one of Elizabeth’s nipples a gentle tug, “May I fuck you?”

Elizabeth grinned and pulled me on top of her. I pushed her legs open wider with my knees and she reached down to guide my cock to her wet pussy. I pushed into her wonderful pussy while she shivered and groaned. I stopped with my cock pushing tight against her womb.

I gave her a quick kiss and pulled back to start fucking her with steady deep strokes. Every stroke ended with me pushing against her womb. After a few minutes she grunted and I stopped moving as my cock slid into her womb.

It was the first time I had pushed into a woman’s womb. I looked into a surprised Elizabeth’s face, her whole body was shaking. Elizabeth hugged me tighter, “God, I’ve never had anyone do that.”

Sandy was suddenly snuggled up next to us. She touched Elizabeth’s shoulder, “Do what Liz?”

Elizabeth shivered, “Push his cock into my womb.”

I slowly pulled back, feeling her womb close. Elizabeth sighed, “Next time don’t stop.”

I smiled, “Next time?”

She grinned and Sandy giggled. I went back to fucking her, but with long, deep strokes. When I pushed into her womb again a couple of minutes later, I changed how I was fucking her. I stay as deep as I could and went to short strokes and kept grinding against her. Ten minutes later she gasped and suddenly started shaking and thrashing around with her pussy squeezing me.

That was all I could handle and I pushed into her womb harder and started cumming. I pumped thick clumps of sperm into her while she grunted and shuddered. I pulled out of her and lay next to her trying to catch my breath. It was a minute before Elizabeth looked at me, “You wouldn’t have an extra collar around would you?”

Sandy laughed and I smiled and leaned over to give her a kiss. I remembered something in my mother’s jewelry box and rolled out of bed. I walked into the walk in closet and to the jewelry box. I found the gold and jade choker mom had gotten from her mother and the silver and emerald one dad had bought her.

I walked straight to the bed and took Elizabeth’s hand. I pulled her to the edge of the bed and sat her up. I opened the slim case with the jade choker and they gasped. “I don’t know if this will fit, it’s very old.”

I guess it was fate because it did fit. I smiled, “It doesn’t have a name plate, but… I claim you as my slave.”

Sandy clapped and Elizabeth grinned. I turned to Sandy and opened the other case, they both stared as I brought out the choker. I looked at Sandy, “My dad gave this to my mom for their anniversary.”

I wasn’t surprised when it fit around her neck. I looked into her face, “I claim you as my slave.”

I looked at the girls and sighed. I moved onto the bed and sat facing both of them. Sandy and Elizabeth knew something was up and faced me. I looked at them, “People have gotten a wrong impression about me. I guess I am rich, but only in a sense. Since my parents died, I have pretty much closed everyone out.

That was why Doug and some of the other did what they did. Sure, I know they also did it for a chance to have sex, I’m not blind. Elizabeth, you and Sandy came as a surprise. I never expected one girl to want to spend any time with me and there both of you were. I know you choose to do it because it also let you spend time together, but you shared that time with me there, trusting me.”

I took a breath, “To be honest, I didn’t expect it to last beyond the weekend. With both of you moving in… I am a little unsure. What I am sure of is that I do want to spend more time with you and not just in a bed.”

I looked at both of them, “I’m beating around the bush. I am new at this, if I mess up, tell me.”

Elizabeth was the first to move. She crawled to me and pushed me onto my back while Sandy joined her. She caressed my face, “I asked you to claim me because I wanted you. Sandy and I are lovers and I hope that won’t change, but we each had our own reason to do what we did. I have seen you for two years and saw a chance to finally get you.”

I grinned, “Two years?”

She nodded but Sandy touched my face, “I wanted to claim you for the same reason. Elizabeth and I get along so well because we like the same things. As soon as I saw you, I wanted you. The club was just my way to do it.”

She paused, “And after our session of lovemaking, I don’t want another man.”

Sandy and Elizabeth laughed, “We sound like Sarah.”

Elizabeth smiled, “Anything else?”

I smiled, “Anyone want to put pajamas on and help me put the sheets back on in the clubhouse?”

I will never forget that week, Sandy or Elizabeth fucked or sucked me every morning and night. The afternoons were when I made them spend time together. During the week I bought more food for the clubhouse after receiving requests.

It was Thursday when I got the gold collars from the jewelers. I bought new release movies Friday on the way home. Sandy and Elizabeth had teasing me all day so I was horny. I parked and went into the house where the girls were whispering.

I smiled and set the bag of movies down on the table and gave them each a kiss. They laughed and wiggled away, Sandy shook her finger, “Not today.”

I grinned as I headed towards the bedroom to change, “spoil sports.”

I heard cars pulling in as I changed and picked up the large bag of collars on my way out. Elizabeth turned from the kitchen window when I came in, “Everyone is here.”

I nodded to the bags of movies, “I was late because I got the movies you and Sandy wanted.”

She smiled and came closer to caress my chest and kiss me softly. Sandy laughed as she walked up behind Elizabeth and put her arms around her, “If you behave we might let you sneak one in tonight.”

I laughed and kissed her over Elizabeth’s shoulder. I sighed and looked at Elizabeth as I reached behind her neck for the clasp on her collar. Her hands came up to grip mine. I smiled, “A collar for a collar.”

She let my hands go and I pulled her collar off and took her hand and set it in her hand. “Go put it on the bed.”

She smiled and nodded before turning to the hall. I looked at Sandy and held out my arms. She came into them smoothly and put her head against my chest. I hugged her and let my hands move to her collar. I removed it and dropped it into her hand, “Go put it beside Elizabeth’s.”

She nodded and passed Elizabeth on her way back. I picked up the movies and held out my hand to her. She took my hand timidly and I smiled, “I have your other collar. I know you want to wear the one I already gave you but that wouldn’t be fair to your friends.”

Elizabeth sighed as Sandy came back, “I know, it was just…”

Sandy took her hand, “That we thought…”

I turned to face them, “We don’t have to go to the clubhouse.”

Elizabeth and Sandy both smiled and Elizabeth squeezed my hand. “Then we wouldn’t get to hear your disciple preaching…”

I squeezed Elizabeth’s hand and she smiled at Sandy, “Sandy and I need to let the other guys fuck us. We already know you are the one we want. They are just to give us experience.”

She looked at me and Sandy stepped close to kiss me hard before stepping back, “And you need to experience other women.”

I smiled and turned toward the door to lead them out. We crossed and walked into the clubhouse where everyone was talking. Doug saw me and jumped up on a chair, “Is anyone missing?”

After a moment he nodded, “Okay, we can start…”

I held up my hand, “I have business first.”

He looked at me as I raised the bag of collar and he nodded. I walked to the front and faced everyone before pulling a slim case out and calling the girl up to me. I slipped the collar on and called her master and handed the leash to him. One after the other I put a collar on each girl. Sandy and Elizabeth were last and I held their leashes in one hand as I nodded to Doug.

He grinned and stood on the chair again, “okay. Mike had a point last week. We need to be doing something beside sex. Several of us have brought movies and we are going to draw names for a live sex show tonight and tomorrow night. I would like your idea’s on what you want them to do.”

A slave raised her hand and Doug pointed to her. She grinned and looked at me, “The slaves took a poll from last week and Mike was voted the best overall lover. We would like him to put on one of the shows.”

Doug was grinning as he looked at me, “Consider it scheduled for tonight, any volunteers to be his victim?”

Elizabeth laughed and whispered something to Sandy who laughed as everyone looked at them. Elizabeth held her hand up and Doug smiled, “You want to volunteer?”

Elizabeth grinned and I could see she was looking at Sarah, “Yeah, I volunteer Sarah.”

All the girls giggled and Sarah blushed and then laughed, “Alright, as soon as we put our clothes away everyone come back here.”

David grinned and pulled a key out of the bowl before tossing it to me. I glanced at it and Elizabeth took my hand while Sandy grabbed her other one and started pulling me through the crowd towards the other end of the clubhouse. Our room was almost the last one on the bottom floor and I unlocked it and led the girls in. They grinned and kiss me before turning to face each other.

I always like watching them together. They kissed as their hands began feeling and undressing each other. When they were naked I laughed and pushed them towards the bed as I gathered their clothes and turned to hang them up. When I turned around they were right there reaching out to undress me. When I was naked they rubbed their breasts on me as they laughed and then they were leading me out the door.

I grinned as they led me down to a large couch where a few others were gathering. Elizabeth and Sandy both had wrapped their leash around their waist and the other slaves grinned and followed suit. Elizabeth held me on one side and Sandy held me from the other. Sarah came back with an alluring sway to her hips that had the other guys drooling. Doug stepped up on a coffee table, “Is everyone here?”

Everyone cheered and he grinned before bowing to me, “You’re on.”

Elizabeth laughed and pushed me towards Sarah, “Your disciple awaits.”

Everyone laughed and Sarah grinned. I smiled and took her leash when she held it out. I looked at Doug, “Remind me to buy another bed for out here.”

He grinned and everyone laughed as I turned Sarah and laid her back on a large cushioned footstool. I knelt beside her and caressed her body, cupping a breast and then caressing her pelvis. She shivered as I leaned over to lick and suck on a nipple. I kissed down her body and moved between her legs. I kissed her erect clit as everyone murmured and she sighed and shivered.

I licked through her pussy and pushed my tongue up inside her as she shivered. She groaned and shuddered as I sucked on her clit and wiggled my tongue against it. I slipped two fingers up inside her to rub her g spot. She gasped and jerked as her pussy tightened, “Yes!”

I kept licking through her pussy as I rubbed her g spot with my fingers. A couple of minutes later she was almost vibrating as she tossed her head and humped up into my face. She arched her back suddenly as her body stiffened. She jerked and then did it again before howling and thrashing around as she squirting in my face, “YYYEEESSSSSSS!”

She bucked and jerked as she squirted again, squeezing my fingers, “FFFUUUUCCCCCKKKKKK!”

She jerked violently and started convulsing as she squirted once more, “OOOOOOHHHHHH… GGGOOOODDDDD!”

I pulled my fingers out of her and kissed her clit before moving up her spasm racked body. I kissed her as I pushed my drooling cock into her. She was very wet as my cock pushed into her deep. Sarah shuddered hard and lifted her legs into the air, “YYYYEEEEEESSSSSSS!”

I pressed against her as the head of my cock pushed against her cervix. I started long, slow thrusts that almost pulled my cock out. I put everything out of my head as Sarah started thrashing around. Her pussy was contracting to grip my cock every time I pulled out. She was shaking her head a few minutes later and arched her back before squirting and screaming, “FFFFFUUUUUCCCCCCCKKKKKKK!”

I continued to fuck her but decided not to prolong it. I started fucking her a little harder and kissed her. Sarah jerked and continued to spasm as her pussy milked my cock. A few minutes later I pushed into her harder and held still as my cock throbbed. When it erupted with a huge gushing stream of cum through her open cervix and into her womb she screamed, “OOOHHHH… GGGGOOOOODDDDDDD… YYYYYEEEEESSSSSSS!”

I held her bucking body as she thrashed around while I pumped huge spurts of sperm into her. It was a long couple of minutes before Sarah began to relax. My cock was still hard as it throbbed and pulsed against the opening to her womb. I finally pulled out and stood up to everyone clapping. Sarah dropped her legs as she twitched and spasmed. I reached down to pulled her up and hug her, “Thank you Sarah.”

She groaned and shivered before grinning, “That’s what a slave is for.”

Everyone laughed and I moved to sit on the couch as they all started talking. Elizabeth and Sandy bent to kiss my cheek before turning to other masters and holding out their leashes. As the room cleared slowly, Carly sat down beside me, “You’re still hard.”

She held out her leash and grinned, “You don’t have to make me scream like Sarah.”

I laughed and stood as I took her leash. I led her to my room and she moved onto the bed after I removed the leash. I followed and spread her legs before licking through her pussy. She shivered and cupped the back of my head. I continued to lick and tease her clit while she shivered and moaned. It was a few minutes before she spasmed and covered her pussy.

I moved up her body and pushed into her wet warm pussy. I fucked her slowly, stopping to grind and press against her each time I was deep inside her. Carly began shaking and jerking as her pussy continued to spasm and ripple around my cock. A couple of minutes after I started she gasped and arched her back, “YES!”

She jerked and started convulsing as her pussy contracted. I kept fucking her as she thrashed around and tossed her head moaning, “Oh fuck!”

I smiled but kept moving as she finally went to erratic jerks and twitches. It was almost fifteen minutes before I groaned and shoved into her nice and deep. My cock throbbed a couple of times before suddenly spewing huge jets of cum. Carly jerked hard and spasmed as her pussy gripped my pumping cock. I spurted and spewed deep inside her and then relaxed and slowing pulled out. I moved off her and caressed a firm breast, “Thanks Carly.”

She laughed and rolled out of bed, “Your welcome master.”

I grinned and followed her out of bed and after replacing the leash we went out into the common area. Almost everyone was back and sitting around watching a movie. I grinned and caressed Carly’s bare butt before handing her leash to her. I went towards the kitchen and something to drink. It was completely different than last weekend. More relaxed as everyone realized this wasn’t just about sex.

Every now or then one girl or guy would say something and disappear. Elizabeth and Sandy both appeared to sit with me several times. I finally leaned over a couch as the movie ended and caressed Alyssa, “Would you come with me slave?”

She blushed and I knew she was having her period, one of the guys had said something. She stood and opened her mouth but I held up my hand for her leash. She put her leash in my hand and followed me. I surprised her by heading towards the showers and removing her leash and hanging it with the towels before pulling her in with me.

The walls of the shower were glass so everyone saw when I kissed her and backed her up to the wall. I knelt and spread her legs slightly before licking her clit. She jerked and put her hand on my head, “Don’t…”

I looked up into her worried face, “hush.”

I leaned in and went back to licking and sucking on her clit. It was a minute before her hips thrust out and she cried out, “YES!”

She jerked and shuddered as I started humming and raking my teeth over her clit. She spasmed and jerked erratically before I finally stood and embraced her. I kissed her and smiled, “Can I fuck you now?”

She shuddered and groaned before turning and putting her hands against the wall. I spread her legs and bent to push my cock into her. I held her hips and fucked her slowly with deep strokes. I felt her pussy squeezing my cock as she shivered and shuddered. Her head dropped and she kept shuddering as I fucked her harder.

I reached around pulling one of her hands down to rub her clit. She started thrusting back harder as her tight pussy spasmed and rippled around my cock. Alyssa jerked erratically and cried out, “Fuck me!”

I shoved into her shaking body to spurt jets of cum as she shuddered and spasmed. She kept thrusting back as I continued to squirt my cum into her. She tossed her head and groaned as I finally stopped cumming and slowly pulled out. I turned to rinse off as Alyssa stood and turned. I grinned and pulled her under the water and began washing her.

She finally laughed and pushed me back before turning to get out. That was when she saw the small crowd and blushed. Her master came to hold a towel for her and dry her off. I took another towel that Doug tossed to me as he shook his head. Everyone went back to the living area where they started making dinners. Elizabeth and Sandy appeared to eat with me. They were grinning and Sandy squeezed my hand, “Thanks for taking care of Alyssa.”

I grinned, “Actually she took care of me.”

They both laughed and Elizabeth leaned over to kiss my cheek. After dinner was another movie that most of the girls wanted to see. Sandy and Elizabeth had taught me a lot in the week they had lived with me. I sat on the couch with several girls as the guys would occasionally lead one away. When the movie ended a brunette named Ivy leaned over the back of the couch, “master?”

I glanced at her and she grinned, “I’m horny.”

I grinned as everyone around us laughed. I stood and held out my hand for her leash. She handed it to me and followed as I went to my room. Her pussy was a little cummy but I removed her leash and pushed her back on the bed. I moved between her legs and started teasing her clit. Ivy shuddered and groaned as her hips pushed up. It wasn’t long before she started shuddering and shaking.

I moved up and slowly pushed into her. Ivy groaned and thrust up as I pushed the rest of the way into her pussy. I was buried with the head of my cock pressed against her womb before I pulled back and started to fuck her with deep strokes. Ivy groaned and shuddered after a minute and held me as her hips met mine, “Fuck!”

I grinned and fucked her hard for a minute before burying my cock to hump against her. She jerked and screamed as her pussy contracted around my cock, “FUCK! YES!”

I used short grinding thrusts and she kept jerking and spasming as she tossed her head and moaned. I pulled back until I was almost out of her and then started slow deep thrusts. Ivy groaned as her warm pussy spasmed around my cock, “GOD!”

I kept fucking her slowly and her body gradually stiffened until she suddenly went crazy, bucking and jerking. She writhed around as I started fucking her harder trying to cum. Her body went tense and she screamed, “OH MY FUCKING GOD! YYYYYEEEEEEESSSSSSSSSSSSSS!”

I shoved into her and began spurting jets of cum as she twitched and shuddered. She dropped to the bed panting and shook her head as I pulled out and lay beside her. I cupped a breast and tugged on the nipples, “That was a good fuck.”

She started laughing and turned to kiss me. I slid out of bed and grabbed her leash as she followed. When we came out everyone started clapping and whistling. I blushed and looked at Ivy’s red face. She finally grinned and bowed. I handed her the leash and headed toward the kitchen. Elizabeth slipped under my arm, “I’m jealous.”

I smiled, “You get that all the time.”

She laughed and turned me to give me a passionately kiss. She caressed my face, “I need to be fucked and all the guys are already worn out.”

I was surprised and looked around before grinning, “Let me get something to drink and then we can call it a night.”

She grinned and turned towards one of the couches, “Let me get Sandy.”

I grabbed a few bottles of water and turned to go back to my room. Several girls waved and called goodnight as I passed. Sandy and Elizabeth were waiting beside the door when I got there. When I closed the door they were kissing. I shook my head and pushed them towards the bed. I set the water beside the bed and followed the girls onto the bed. I rubbed Elizabeth’s messy pussy, “How could the other guys be worn out already?”

She shuddered and Sandy laughed, “Because the other girls fucked them today.”

I laughed and lay next to Elizabeth and lifted her leg before pushing into her cummy pussy. She groaned and went back to kissing Sandy as I fucked her slowly from behind. She felt like I had fucked her four or five time and was almost sloppy with cum. I reached around her to cup a breast and tug on her nipple. Elizabeth jerked and shuddered hard as her pussy squeezed my cock, “SHIT!”

I grinned and kissed the nap of her neck. Sandy laughed and pulled away, “Fuck her missionary.”

Elizabeth laughed and pulled away before rolling onto her back. I moved between her legs and Sandy guided my cock to her messy pussy. I pushed into her and started fucking her hard, grinding against her. It was a couple of minutes before Elizabeth jerked and spasmed erratically.

Her pussy contracted around my cock and she started shaking. When her body stiffened, I buried my cock and just held her. Elizabeth finally sagged to the bed and hugged me, “You always do it just right.”

Sandy laughed as she rolled onto her back, “Fuck me now.”

I grinned, “You two are nymphomaniacs.”

They laughed as I pulled out of Elizabeth and moved between Sandy’s spread legs. I slowly pushed into her cummy pussy and she sighed as her warm cunt squeezed my cock. I started off slowly but used long, deep thrusts. Sandy wrapped her legs around me and each time I buried my cock she pressed up hard. It was a few minutes before her pussy tightened and she gasped before stiffening, “MIKE!”

Sandy grunted and started thrashing around as I continued to fuck her. I was going faster and a little harder. Sandy was breathing hard and shaking as she met each of my thrusts. When I shuddered and jabbed into her and held still she jerked and cried out, “I’M CUMMING!”

I shook my head as I started spurting and pumping cum against her womb. Sandy shuddered uncontrollably and I continued to cum deep inside her body. When I stopped she sighed and her legs dropped to the bed. I grinned and pulled out before rolling onto my back and pushing her towards Elizabeth who grinned and pulled her close to snuggle.

This weekend was a little different then last weekend. The other guys had learned a lesson and began trying to please the girls. Saturday I fucked ten girls before pulling Elizabeth and Sandy to bed exhausted. I fucked three more before everyone left Sunday afternoon.

Sandy and Elizabeth were in the bath and I was doing laundry again when the doorbell rang. I knew who the woman was as soon as I opened the door. She looked just like Sandy only a little older. I smiled and opened the door all the way. “Sandy is taking a bath with Elizabeth. I’ll get her.”

She smiled, “I’m Cloud and I’ll find her if you just point the way.”

I pointed towards the hall and she turned to head that way. I waited and then went back to the doing laundry. Ten minutes later Sandy came out naked. She grinned and hugged me, “Mom wants to borrow you.”

I straightened her collar, “And did you say yes?”

Sandy laughed, “Elizabeth is sitting on the edge of the bed saving me a seat.”

I grinned, “I guess that means yes.”

She took my hand and pulled me after her. When I walked into the bedroom it was to see a naked Cloud in the center of my bed with Elizabeth sitting on the edge. I released Sandy and undressed before climbing onto the bed and laying down next to her mother. I smiled and cupped her full breasts, “Feeling horny?”

She grinned, “Yes, my daughter said you could cure that.”

I laughed and turned to move down her body. “Just provide a treatment.”

She laughed and spread her legs as I moved between them. I caressed her beautifully trimmed pussy and leaned close to kiss the small erect clit. I licked up through her pussy, stopping to nibble on her inner lips while she shivered and lifted her hips. I teased her clit with my tongue while rubbing along the sides of her pussy with my thumbs. When I sucked in her clit, I squeezed it between my lips and hummed.

Cloud shuddered and I moved lower to push my tongue up inside her. I went back to teasing her clit as I slipped a couple of fingers into her. As I sucked on her clit and wiggled it back and forth with my tongue I was fucking my fingers up against her g spot. It wasn’t long before she was breathing hard as her body jerked and spasmed.

When her body went rigid I covered my teeth and bit her clit gently. She went crazy, bucking and thrashing around as she screamed, “FFUUUCCCCKKKKKK! YYYYYYYEEEEEEEEESSSSSSSSSSSSSSS!”

She squirted in my face and continued to shudder violently, thrusting her pelvis into my face over and over. She squirted again as her back arched, “YYYEEESSSS!”

I pulled my fingers out and moved up her body pushing my cock into slippery pussy easily. I pushed all the way to the back of her pussy as she continued to spasm. I started off fucking her with long, deep thrusts that only seemed to make Cloud go into convulsions. “FFFUUUUUUCCCCCCCKKKKKKKK… MMMMMMEEEEEE!”

Elizabeth and Sandy both laughed as I buried my cock to hump and press against her. Cloud was writhing around and almost whimpering as her body was wracked with spasms. I fucked her hard trying to cum and she arched her back and stopped moving, “YYYYYYYEEEEEEEEESSSSSSSSSS!”

A minute later I pushed into her womb to pump a large spurt of sperm. She shook but held still as I filled her and then she dropped to the bed letting my cock slip out of her as she lay panting, “Damn!”

I moved off her and smiled at Elizabeth and Sandy, “Call me if she needs more.”

They grinned and Cloud groaned as she rolled onto her side. I went back to my laundry. When I came into the kitchen later, Elizabeth and Sandy were busy making dinner while Cloud was sitting at the table. I smiled and washed my hands before kissing the two girls, “Thanks for getting it started for me.”

Sandy looked at her mother and grinned, “We thought you deserved a treat.”

I laughed as I took over making dinner. Cloud cleared her throat, “I was talking to the girls.”

I looked at her and she actually blushed, “Would you mind another slave?”

I looked at Sandy and Elizabeth, “The club…”

Elizabeth grinned and put her arm around my waist, “We were thinking something more private.”

I smiled, “Private?”

Sandy came to hug Elizabeth and look over her shoulder, “Like just between us.”

I looked at Cloud as she continued to blush, “Since you both are telling me…”

Elizabeth caressed my face, “We think it would be a good idea.”

I nodded, “Okay but we’ll need to go shopping for her collar.”

Cloud looked at Elizabeth and Sandy and they were fingering their jeweled choker necklaces. She grinned, “Can I get one in red?”

The club lasted two more years and then everyone began moving away, to college or jobs. Sandy and Elizabeth didn’t mind, they both went to a local college. We still keep the Clubhouse up and every once in a while even spend a weekend there when a friend comes back to visit.

Cloud was an influence on both Sandy and Elizabeth, especially Elizabeth. She was at every game and supported her like her mother never had. Sandy and Elizabeth are both planning their first pregnancy now. They all subtly guide my life now as well, but still love to play slave.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/clubhouse.html/feed 0

http://www.ceritadewasaplus.com 17 tahun ke atas, cerita dewasa, Kumpulan Cerita Panas. Sat, 28 Apr 2012 10:28:20 +0000 en hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.3.1 http://www.ceritadewasaplus.com/cerita-panas-gara-gara-gadis-pemijat.html http://www.ceritadewasaplus.com/cerita-panas-gara-gara-gadis-pemijat.html#comments Sat, 28 Apr 2012 10:28:14 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1129

read more »]]>

cerita panas “Gara-Gara Gadis Pemijat”

Namaku Andra, sebut saja Andra **** (edited). Aku kuliah di sebuah PTS di Bandung sebuah kota metropolis yang gemerlap, yang identik dengan kehidupan malamnya. Di tengah kuliahku yang padat dan sibuk, aku mempunyai suatu pengalaman yang tak akan kulupakan pada waktu aku masih semester satu dan masih berdampak sampai sekarang. Latar belakangku adalah dari keluarga baik-baik, kami tinggal di sebuah perumahan di kawasan ****** (edited) di Bandung. Sebagai mahasiswa baru aku termasuk aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan, kebetulan aku menyukai kegiatan outdoor ataupun alam bebas. Aku memang mewarisi bakat ayahku yang merupakan seorang pemburu yang handal, hal inilah yang membuat darah petualangku menggelora.

Memasuki pertengahan semester aku mulai kenal dan akrab dengan seorang cewek, sebut saja namanya Ema. Aku tertarik padanya karena ia orangnya juga menyukai kegiatan alam bebas, berburu misalnya. Awalnya sih aku agak heran juga kenapa cewek cantik seperti dia suka “mengokang” senapan yang notabene berat dan kemudian menguliti binatang hasil buruannya dengan beringas. Hemm.. kegaranganya bak macan betina inilah yang aku sukai, aku suka melihat buah dadanya yang menantang dibalut baju pemburu yang ketat dan kebiasaannya menggigit bibir bawahnya ketika mengokang senapan. Bibir merah yang seksi itu sering mengundang gairahku. Karena ada kecocokan, kami akhirnya jadian juga dan resmi pacaran tepatnya pada waktu akhir semester pertama. Kami berdua termasuk pasangan yang serasi, apa mau dikata lagi tubuhku yang tinggi tegap dapat mengimbangi parasnya yang langsing dan padat. Pacaran kami pada awalnya normal-normal saja, yahh.. sebatas ciuman saja biasa kan? Dan aku melihat bahwa Ema itu orangnya blak-blakan kok.

Semuanya berubah setelah pengalamanku di sebuah panti pijat. Hari itu Minggu 12 April 1999 aku masih ingat betul hari itu, aku dan ayahku berburu di sebuah gunung di daerah Jatiluhur tentu saja setelah berburu seharian badan terasa capai dan lemah. Malamnya aku memutuskan untuk mencari sebuah panti pijat di Bandung, dengan mengendarai Land Rover-ku aku mulai menyusuri kota Bandung. Dan akhirnya tempat itu kutemukan juga, aku masuk dan langsung menemui seorang gadis di meja depan dan aku dipersilakan duduk dulu. Tak lama kemudian muncullah seorang gadis yang berpakaian layaknya baby sitter dengan warna putih ketat dan rok setinggi lutut. Wuahh.. cantik juga dia, dan pasti juga merangsang libidoku. Dengan ramah ia mempersilakan aku masuk ke ruang pijat, ruangan selebar 4×4 dengan satu ranjang dan sebuah kipas angin menggantung di atasnya. “Bajunya dibuka dulu ya Bang..” katanya dengan tersenyum manis, “OK lahh..” sambutku dengan semangat. “Tapi kipasnya jangan dinyalain yah, dingin nih..” dia pun mengangguk tanda paham akan keinginanku. Kubuka sweaterku dan aku pun berbaring, aku memang sengaja tidak memakai t-shirt malam itu. “Celananya sekalian dong Bang,” katanya. “Emm.. Lo yang bukain deh, males nih..” dia pun tersenyum dan agaknya memahami juga hasratku. “Ahh.. kamu manja deh,” katanya, dengan cekatan tangannya yang mulus dan lentik itu pun mencopot sabuk di pinggangku kemudian melucuti celanaku. Wah dia kelihatannya agak nafsu juga melihat tubuhku ketika hanya ber-CD, terlihat “adik”-ku manis tersembul dengan gagahnya di dalam sarangnya.

“Eh.. ini dicopot sekalian ya? biar enak nanti mijitnya!”
“Wahh.. itu nanti aja deh, nanti malah berdiri lagi,” kataku setengah bercanda.
Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum manisnya yang menawan. Kemudian aku tengkurap, ia mulai memijitku dari punggung atas ke bawah.
“Wah.. pijitanmu enak ya?” pujiku.
“Nanti kamu akan merasakan yang lebih enak lagi,” jawabnya.
“Oooh jadi servis plus nih?” tanyaku.
“Mmm.. buatmu aku senang melakukannya,” pijatannya semakin ke bawah dan sekarang tangannya sedang menari di pinggangku, wah geli juga nih, dan kemaluanku pun mulai “bereaksi kimia”.
“Eh.. balikkan badan dong!” pintanya.
“Ok.. ok..”
Aku langsung saja berbaring. Tentu saja batanganku yang ereksi berat terlihat semakin menggunung.
“Wahh.. belum-belum saja sudah ngaceng yaa..” godanya sambil tangannya memegang kemaluanku dengan jarinya seakan mengukur besarnya.
“Habisnya kamu merangsang sihh..” kataku.
“Nah kalo begitu sekarang waktunya dicopot yah? biar enak itu punyamu, kan sakit kalau begitu,” pintanya.
“OK, copot aja sendiri,” aku memang udah nggak tahan lagi, abis udah ereksi penuh sih.

Dengan bersemangat gadis itu memelorotkan CD-ku, tentu saja kemaluanku yang sudah berdiri tegak dan keras mengacung tepat di mukanya.
“Ck.. ck.. ckk.. besar amat punyamu, berapa kali ini kamu latih tiap hari,” katanya sembari tertawa.
“Ah.. emangnya aku suka ‘lojon’ apa..” jawabku.
Ia menyentuh kepala kemaluanku dengan penuh nafsu, dan mengelusnya. Tentu saja aku kaget dan keenakan, habis baru pertama kali sih.
“Ahh.. mau kau apakan adikku?” tanyaku.
“Tenanglah belum waktunya,” ia mengelusnya dengan lembut dan merabai juga kantong zakarku.
“Wah.. hh.. jangan berhenti dulu, aku mau keluar nih,” sergahku.
“Haha.. baru digitukan aja udah mau keluar, payah kamu,” ledeknya.
“Entar lagi lah, pijitin dulu badanku,” kataku.
“OK lah..”
Ia mulai mengambil minyak pijat dan memijat tangan dan dadaku. Wahh ia naik dan duduk di perutku. Sialan! belahan dadanya yang putih mulus pun kelihatan, aku pun terbelalak memandangnya.
“Sialan! montok bener tetekmu,” dan tanganku pun mulai gerilya meraba dan memeganginya, ia pun mengerjap, pijatannya pun otomatis terhenti.

Setelah agak lama aku merabai gunungnya ia pun turun dari perutku, ia perlahan membuka kancing bajunya sampai turun ke bawah, sambil menatapku dengan penuh nafsu. Ia sengaja mempermainkan perasaanku dengan agak perlahan membuka bajunya.
“Cepatlahh.. ke sini, kasihan nih adikku udah menunggu lama..” aku sambil mengocok sendiri kemaluanku, habis nggak tahan sih.
“Eits.. jangan!” ia memegang tanganku.
“Ini bagianku,” katanya sambil menuding adikku yang seakan mau meledak.
Tak lama ia kemudian mengambil minyak pijat dan mengoleskan ke kemaluanku.
“Ehmm.. ahh..” aku pun menggelinjang, namun ia tak peduli, malah tangannya semakin cekatan memainkan kemaluanku.
“Augghh.. aku nggak tahan nihh..”
Kemudian ia mulai menghisapnya seraya tangannya mengelus buah zakarku.
“Aduhh.. arghh.. aku mau keluar nihh!”
Kemudian kemaluanku berdenyut dengan keras dan akhirnya “Croott..” maniku memancar dengan derasnya, ia terus mengocoknya seakan maniku seakan dihabiskan oleh kocokannya.
“Aahh..” aku melenguh panjang, badanku semua mengejang. Ia kelihatanya suka cairanku, ia menjilatinya sampai bersih, aku pun lemas.
“Gimana.. enak kan? tapi kamu payah deh baru digituin dikit aja udah ‘KO’,” godanya.
“Habbiss kamu gitukan sih, siapa tahann..”
Ia memakluminya dan agaknya tahu kalau aku baru pertama kalinya.
“Tuh kan lemes, punyamu mengkerut lagi,” sambil ia memainkan kemaluanku yang sudah nggak berdaya lagi.
“Entar ya, nanti kukerasin lagi,” katanya.
“Huff.. OK lah,” kataku pasrah.

Dengan masih menggunakan bra dan CD ia mulai memijatku lagi. Kali ini ia memijat pahaku dan terkadang ia menjilati kemaluanku yang sudah lemas.
“Ihh.. lucu ya kalau sudah lemes, kecil!” ia mengejekku.
Aku yang merasa di-”KO”-nya diam saja. Sembari ia memijat pahaku, dadanya yang montok kadang juga menggesek kakiku, wahh kenyal sekali!
“Kenapa liat-liat, napsu ya ama punyaku?” katanya.
“Wahh, bisa-bisa adikku terusik lagi nih,” jawabku.
Aku sambil mengelus dan mengocok sendiri kemaluanku sembari melihat geliat gadis itu memijatku.
“Wah dasar tukang coli kamu..” serangnya.
“Biar aja, akan kubuktikan kalo aku mampu bangkit lagi dan meng-’KO’ kamu,” kataku dengan semangat.
Benar juga kemaluanku yang tadinya tidur dan lemas lambat laun mulai naik dan mengeras.
“Tuh.. berdiri lagi,” katanya girang.
“Pasti!” kataku.

Aku tidak melewatkan kesempatan itu, segera kuraih tangannya dan aku segera menindihnya.
“Uhh.. pelan dikit doong!” katanya.
“Biar aja, habis kamu napsuin sih..” kataku.
Dengan cepat aku melucuti BH dan CD-nya. Sekarang kelihatan semua gunung kembarnya yang padat berisi dengan puting merahnya serta lubang kemaluannya yang bagus dan merah. Langsung saja kujilati puncak gunungnya dengan penuh nafsu, “Emm.. nikmat, ayo terusin..” desahnya membuatku berdebar. Kulihat tangannya mulai merabai kemaluannya sendiri sehingga kelihatan basah sekarang. Tandanya ia mulai bernafsu berat, aku pun mengambil alih tangannya dan segera menjulurkan lidahku dan kumainkan di lubang kemaluannya yang lezat. Ia semakin menjadi, desahannya semakin keras dan geliat tubuhnya bagaikan cacing, “Ahh.. uhh ayo lah puaskan aku..” ia pun mulai menggapai batang kemaluanku yang sudah keras, “Ayolah masukkan!” tanpa basa-basi aku pun menancapkan barangku ke lubang kemaluannya.
“Slep.. slepp!”
“Arghh.. ihh.. sshh,” ia agak kaget rupanya menerima hujaman pusakaku yang besar itu.
“Uahh.. ennakk..” katanya.

Mulutnya megap-megap kelihatan seperti ikan yang kekurangan air, aku pun semakin semangat memompanya. Tapi apa yang terjadi karena terlalu bernafsunya aku tidak bisa mengontrol maniku. “Heggh.. hegghh.. ahh, ehmm.. aku mau keluar lagi nihh!” kataku.
“Sshh.. ahh ah.. payah lo, gue tanggung ni.. entar donk!”
“Aku sudah tidak tahan lagii..”
Tak lama kemudian batang kemaluanku berdenyut kencang.
“Aaaku keluarr..” erangku.
“Ehh.. cepat cabut!” sergapnya.
Aku pun mencabut batang kemaluanku dan ia pun segera menghisapnya.
“Ahh.. shh..!”
“Crot.. crott.. crott” memancar dengan derasnya maniku memenuhi mulutnya dan berceceran juga di gunung kembarnya yang masih tegang.
“Ugghh..” aku pun langsung tumbang lemas.
“Aduh.. gimana sih, aku nanggung nihh.. loyo kamu.”
Aku sudah tidak bisa berkata lagi, dengan agak sewot ia berdiri.
“Ahh.. kamu menghabiskan cairanku yaa.. lemes nihh,” kataku.
“Udah lahh.. aku pergi,” katanya sewot.
“Ya udah sana.. thanks ya Sayang..” ia pun berlalu sambil tersenyum.

Pengalaman malam itu seakan telah merubah pandanganku tentang cewek. Aku berpikir semua cewek adalah penyuka seks dan penyuka akan kemaluan lelaki. Atas dasar itulah kejadian ini terjadi. Siang itu aku bertemu sama pacarku.
“Ehh.. abis ngapain kamu Ndra? kok kelihatanya lemes amat? sakit yah..” tanyanya.
“Ah nggak kok, kemaren abis berburu sama ayahku,” jawabku singkat.
“Ohh.. gitu ya,” ia kelihatannya mulai paham.
Memang siang itu mukaku kelihatan kusut, sayu dan acak-acakan. Pokoknya kelihatan sekali deh kalau orang habis ML jor-joran, tapi kelihatannya “Yayang”-ku tidak curiga.
“Eh besok hari Rabu kan kita nggak kuliah,” katanya.
“Iya memang enggak..” jawabku.
“Kita berenang yuk?” ajaknya.
“Emm.. OK jadi!” jawabku mantap.
Yayangku memang hobi berenang sih, jadi ya OK saja deh. Karena hari itu sudah sore, waktu menunjukkan pukul 04:55, aku segera menggandeng tangan Ema, “Ayo lah kita pulang, yok kuantar..” dia pun menurut sambil memeluk tanganku di dadanya.

Malamnya aku tidak bisa tidur, gadis pemijat itu pun masih berputar di otakku dan tidak mau pergi. Bayangan-bayangan gerakan tangannya yang luwes serta hisapan kenikmatan yang kurasakan waktu itu tidak bisa dilupakan begitu saja dari benakku, “Sialan! bikin konak aja luh..” gerutuku. Aku pun hanya gelisah dan tidak bisa tidur, karena kemaluanku tegang terus. Aku pun berusaha melupakannya dengan memeluk guling dan berusaha untuk tidur, tetapi hangat liang kemaluannya mencengkeram kuat pusakaku masih saja menghantui pikiranku. “Ahh..aku nggak tahan nih..” segera kucopot celana dan CD-ku, kuambil baby oil di meja, aku pun onani ria dengan nikmatnya, “ahh..” kugerakkan tanganku seolah menirukan gerakan tangan gadis itu sambil membayangkan adegan demi adegan kemarin malam itu. “Huff..” nafasku semakin memburu, gerakan tanganku semakin cepat dibuatnya. Kurang lebih 5 menit kemudian “Crott!” tumpahlah cairan maniku membasahi perut dan sprei sekitarku. Aku pun langsung tidur, “Zzz..”

Paginya pukul 07:00 kakak perempuanku masuk ke kamar untuk membangunkanku. Karena kamarku tidak dikunci, betapa terbelalaknya dia ketika melihat aku tanpa celana tidur terlentang dan melihat batanganku sudah berdiri dan di perutku terdapat bekas mani yang mengering. “Andraa.. apa-apaan kau ini ha!” hardiknya, aku terkejut dan langsung mengambil selimut untuk menutupi batangan kerasku yang menjulang. “Eh .. Kakak.. emm..” kataku gugup. “Kamu ngapain ha..? sudah besar nggak tau malu huh..!” Au cuek saja, malah aku langsung melepas selimut dan meraih celanaku sehingga kemaluanku yang tegang tampak lagi oleh kakakku. “Iiihh.. nggak tau malu, barang gituan dipamerin,” ia bergidik. “Biar aja.. yang penting nikmat,” jawabku enteng, kakak perempuanku yang satu ini memang blak-blakan juga sih. Ia menatapnya dengan santai, kemudian matanya tertuju pada baby oil yang tergeletak di kasurku. “Sialan.. kamu memakai baby oil-ku yah? Dasarr!” Ia ngomel-ngomel dan berlalu, aku pun hanya tertawa cekikikan. “Brak!” terdengar suara pintu dibanting olehnya, “Dasar perempuan! nggak boleh liat cowok seneng,” gerutuku. Aku pun dengan santainya keluar kamar dan sarapan sebelum mandi, kulihat kakak perempuanku sedang lihat TV. “Eh.. Kak minta sampoonya dan sabunnya dong!” pintaku. “Ogah ah.. entar kamu buat macam-macam, pokoknya nggak mau,” jawabnya ketus. “Huhh.. wee!” aku mencibir. Aku langsung saja mandi dan sarapan. Sekitar pukul 08:00 kustater Land Rover kesayanganku dan langsung kupacu ke tempat Ema, mungkin ia sudah menungguku. Benar juga sampai di depan pagar rumahnya ia sudah menungguku di depan teras rumahnya. “Haii.. kok agak terlambat sih Say?” tanyanya. “Eh.. sori nih trouble dengan kakak perempuan,” dalihku. “OK lah, mari kita berangkat!” Kami pun langsung tancap menuju tempat tujuan kami yaitu kolam renang di kawasan Cipanas. Yah, maklum saja itu hari Rabu maka perjalanan kami lancar karena tidak terjebak macet. Kurang lebih 2 jam perjalanan santai kami sampai di tempat tersebut. “Eh.. yang sini sajalah, tempatnya enak loh,” pintanya. “Baiklah Sayaang..” kataku. Kami berdua langsung saja masuk. “Yang, aku ganti dulu yah.. kamu ikut nggak?” ajaknya. “Yuk, sekalian saja aku juga mau ganti.” Di kolam renang itu paling hanya terdapat segelintir orang yang sedang berenang, karena tempat itu ramai biasanya pada hari Minggu. “Emm.. kita ganti baju bersama saja yah? biar asyikk..” katanya. Aku spontan menganggukkan kepalaku. Di dalam ruang ganti kami pun segera meletakkan tas kami dan segera melepas baju, Yayangku ganti baju terlebih dahulu. Ia mencopot dulu kaosnya, Ema memang penyuka kaos ketat dan celana jins, melihatnya melepas kaosnya aku pun hanya terpaku tak berkedip. “Kenapa Sayang.. ayolah lepas bajumu,” katanya sambil tersenyum. “Habbis.. aku suka memandangmu waktu begitu sih,” dan dia hanya tertawa kecil. Aku pun segera mencopot t-shirtku dan celana panjangku dan cuma CD yang kutinggalkan. Tanpa ragu-ragu aku pun memelorotkan CD-ku di depan pacarku karena ingin ganti dengan celana renang, “Wahh.. Yayang ni..” katanya sedikit terkejut. Rupanya ia agak kaget juga melihat batang kemaluanku yang setengah ereksi. “Kok tegang sih Say?” selidiknya manja. “Habis kamu montok sih..” jawabku seraya memakai celana renang yang super ketat. “Wahh.. hemm,” goda pacarku ketika melihat kemaluanku tampak menyembul besar di balik celana renang itu, dia itu memang asyik orangnya. “Nahh.. aku sudah beres,” kataku setelah memakai celana itu. “Eh.. bantu aku dong!” dia tampaknya kesulitan melepas branya. “Sini aku lepasin..” kataku. Kemudian kulepaskan branya. Astaga, sepasang daging montok dan putih terlihat jelas, hemm spontan saja batang kemaluanku tegang dibuatnya. “Ah.. sayang, dadamu indah sekali,” kataku sambil berbisik di belakang telinganya. Langsung saja ia kupeluk dari belakang dan kuciumi telinganya. “Eeh.. kamu ingin ML di sini yah?” jawabnya sambil memegang tengkukku. Aku tidak menjawab. Tanganku langsung bergerilya di kedua gunung kembarnya, kuremas-remas dengan mesra dan kupelintir lembut putingnya yang masih merah segar, “Ah.. Sayang!” desahnya pendek, batang kemaluanku yang sudah tegak kugesek-gesekkan di pantatnya, wahh.. nikmat sekali, dia masih memakai celana sih. “Aduh.. keras sekali, Yayang ngaceng yah..” godanya. “Dah tau nanya.. hh,” kataku terengah. Buah dadanya semakin keras saja, rupanya ia mulai terangsang dengan remasanku dan ciumanku di telinganya. “Ehhmm.. uhh,” lenguhnya sambil memejamkan mata. Melihat gelagat tersebut aku menurunkan tanganku ke ritsleting celananya, kulepas kancingnya dan kupelorotkan ritsletingnya, ia agaknya masih agak ragu juga, terbukti dengan memegang tanganku berupaya menahan gerakan tanganku yang semakin nakal di daerah selangkanganya. Tetapi dengan ciumanku yang membabi buta di daerah tengkuknya dan remasanku yang semakin mesra, akhirnya tanganku dilepasnya, kelihatannya ia sudah terangsang berat. Tanpa basa-basi tanganku langsung menelusup ke CD-nya. Wahh.. terasa bulu-bulu halus menumbuhi sekitar liang kemaluannya. Kuraba klitorisnya, “Aghh.. oouhh.. sayang kamu nakal deh,” dengusnya sambil mengerjap. Ia langsung membalikkan tubuhnya, memelukku erat dan meraih bibirku, “Cupp..” wah ia lihai juga melakukan French Kiss. Dengan penuh nafsu ia melahap bibirku. Cewekku yang satu ini memang binal seperti singa betina kalau sudah terangsang berat. Agak lama kami ber-French Kiss ria, perlahan ia mulai menurunkan kepalanya dan ganti memangsa leherku, “Aahh.. geli sayang,” kataku. Rupanya debar jantungku yang menggelegar tak dirasakan olehnya. ia langsung mendorongku ke tembok, dan ia pun menciumi dadaku yang bidang dan berbulu tipis itu. “Wah.. dadamu seksi yah..” katanya bernafsu. Menjulurlah lidahnya menjilati dadaku “Slurrpp..” jilatan yang cepat dan teratur tersebut tak kuasa menahan adikku kecil yang agak menyembul keluar di balik celana renangku. Jilatannya semakin lama semakin turun dan akhirnya sampai ke pusarku. Tangan pacarku kemudian merabai batang kemaluanku yang sudah keras sekali. Aku pun sangat bernafsu sekali karena mengingatkanku pada gadis panti pijat yang merabai lembut kemaluanku. “Ahh.. Sayang..” desahku tertahan. Dengan cekatan ia memelorotkan celana renangku yang baru saja kupakai, alhasil batanganku yang keras dan panjang pun mendongak gagah di depan mukanya. “Ihh.. gila punyamu Sayang..” katanya. “Ema.. hisap dong Sayang!” pintaku. Ia agak ragu melakukan itu, maklum ia masih virgin sih. Ia belum menuruti permintaanku, ia hanya mengocok pelan namun gerakan kocokannya pun masih kaku, sangat berbeda dengan gadis pemijat tempo hari. “Ssshh.. uahh..” aku pun mendesah panjang menahan kenikmatanku. “Sss.. sayang hisap dong!” Aku pun menarik kepalanya dan mendekatkan bibirnya yang mungil ke kepala kemaluanku, sekali lagi ia agak ragu membuka mulut. “Aah.. nggak mau Say, mana muat di mulutku..” jawabnya ragu. “Egh.. tenang saja sayang, pelan-pelan lah,” Dia agaknya memahami gejolakku yang tak tertahan. Akhirnya ia memegang batanganku dan menjulurkan lidahnya yang mungil menjilati kepala kemaluanku. “Slurpp.. slurpp..” sejuk rasanya. “Mmhh.. ahh, nah begitu Sayang.. ayo teruss.. ahh sshh, buka mulutmu sayang.” Ia masih saja menjilati kepala dan leher kemaluanku yang mengacung menantang langit, lama-lama ia pandai juga menyenangkan lelaki, jilatannya semakin berani dan menjalar ke kantong semarku. “Ih.. bau nih sayang.. tadi nggak mandi ya?” katanya menggoda ketika menjilati buah zakarku yang ditumbuhi bulu-bulu halus, aku memang merawat khusus adikku yang satu ini. “Ihh.. nggak lah sayang, kan yang penting nikmat,” kataku tertahan. Mulut mungil Ema perlahan membuka, aku pun membimbing batang kemluanku masuk ke mulutnya. “Mmhh.. eghh..” terdengar suara itu dari mulut Ema ketika batangku masuk, tampaknya ia menikmatinya. Ia pun mulai menghisapnya dengan bernafsu. “Slerpp.. cep..” “Ahh.. mm.. oohh..” desahku penuh kenikmatan. “Mmmhh.. sayang, nikmatt sekali..” gumamku tidak jelas. Setelah agak lama, aku pun menarik kemaluanku dari mulut Ema. Segera kubopong tubuhnya ke bangku panjang di dalam ruang ganti. Kurebahkan badannya yang lencir dan montok di sana, dengan keadaan pusakaku yang masih mengacung, kupelorotkan celana jins Ema dengan penuh nafsu, “Syuutt..” dan tak lupa CD-nya. Ia pun tampaknya pasrah dan menikmatinya karena tangannya merabai sendiri puting susunya. Kemudian tampaklah lubang kemaluannya yang merah dan basah, aku pun segera mendekatkan kepalaku dan.. “Slurp,” lidahku kujulurkan ke klitorisnya. “Hemm.. slurp..” “Aachh.. uhh!” desahnya panjang menahan kenikmatan yang dirasakan tarian lidahku di kemaluannya yang sangat lincah, makanya Ema mati keenakan dibuatnya. “Sssh.. sshhss..” desisnya bagaikan ular kobra. “Andraa.. aku nggak tahan lagii..” ia menggeliat tak karuan. “Akuu.. nyampai nihh..” Jilatanku semakin kupercepat dan kutambah ciuman mesra ke bibir kemaluannya yang harum, “Cup.. cupp,” kelihatannya ia hampir mencapai puncak karena kemaluannya memerah dan banjir. “Sshh.. aahh.. oohh Yaangg.. aku keluarr..” erangnya menahan kenikmatan yang luar biasa. Benar juga cairan kemaluannya membanjir menebar bau yang khas. Hemm enak, aku masih saja menjilatinya dengan penuh nafsu. “Aduhh.. hh.. Sayang, aku udah nihh..” katanya lemas. “Ma, aku masih konak nih..” kataku meminta. Langsung saja tanganku ditariknya dan mendudukkanku di atas perutnya, batang kemaluanku yang masih tegang menantang belum mendapat jatahnya. Langsung saja Ema mengambil lotion “Tabir Surya” dan mengolesinya ke batang kemaluanku dan ke dadanya yang montok, dan ia segera mengapitkan kedua gunung geulis-nya agar merapat. Ia mengambil lagi lotion itu, dan mengusapkan ke kemaluanku, “Ahh..” aku pun hanya merem-melek. Kemudian ia menarik batang kemaluanku di antara jepitan gunung kembarnya. Wahh.. nikmat juga rasanya, aku pun memaju-mundurkan pantatku layaknya orang yang sedang bersetubuh. “Bagaimana rasanya sayang..” tanyanya manja dan memandangku sinis. “Aahh.. mm.. ss nikmat sayang..” ia pun tertawa kecil. Ia merapatkan lagi gunungnya sehingga rasanya semakin nikmat saja. “Uuahh.. nikkmatt sayangg..!” erangku. Ia hanya tersenyum melihat mukaku yang merah dan terengah menahan nikmat. “Rasain.. habis kamu nakal sih..” katanya. “Tapi lebih.. nikmat memekmu sayang.” “Hush..” katanya. Gerakanku semakin cepat, aku ingin segera mencapai puncak yang nikmat. “Uuhh.. uhh.. mm.. arghh..” erangku tertahan. Tak lama aku merasa hampir keluar. “Sayy.. aku hampir nyampe nihh..” desahku. “Keluarin aja Ndra.. pasti nikmatt..” Tak lama batang kemaluanku berdenyut dan.. “Crott.. crutt..” “Uuahh.. hemm.. sshh!” nikmat sekali rasanya. Spermaku memancar dengan deras dan banyak. “Ooohh..” gumamku. Spermaku memancar membasahi leher Ema yang jenjang dan mengena juga janggut dan bibirnya. “Ihh.. baunya aneh ya..” Ia mencoba membersihkan cairan kental itu dengan tangannya, aku pun turun dari atas tubuhnya. “Aahh.. nikmat Sayang..” tapi dalam hatiku aku belum puas jika belum menjebol liang kemaluan Ema. Ema pun segera membersihkan maniku yang belepotan. “Iihh.. kok kayak gini sih?” tanyanya penuh selidik. “Itu namanya cairan kenikmatan sayang..” jawabku enteng. “Ooo..” katanya pura-pura tahu. “Habis bercinta enaknya berenang yuk?” ajaknya. “OK,” kataku. Ema pun segera berpakaian renang dan aku juga. Setelah siap kami pun keluar kamar, wah ternyata di luar sepi sudah tidak ada orang lagi, padahal masih menunjukkan pukul 2:00 siang. Ternyata lama juga kami bercinta. “Byurr..” kami berdua pun mencebur dan berenang, aku yang sudah terkuras kejantanannya semenjak kemarin malam segera ketepi dan hanya melihat Ema berenang. Gerakan renangnya yang bagai ikan duyung, dibalut baju renangnya yang seksi serta kulitnya yang putih mulus, membangkitkan lagi gairahku. Terbesit di pikiranku untuk bercinta di kolam renang, kebetulan tidak ada orang dan petugas jaganya jauh. “Ema sini sayang..!” panggilku. “OK.. ada apa Ndra?” Ia berenang mendekat ke arahku, aku pun masuk ke air, aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya dengan ganas. “Kamu membuatku nggak tahan sayang..” kataku. Untung saja kolam renangnya tidak dalam sehingga bisa enak kami bercinta. “Ughh..” desahnya agak terkejut, ia pun membalas ciumanku. Aku tidak melucuti pakaian renangnya, aku cuma menyibakkan sedikit cawat bawahnya sehingga liang kemaluannya kelihatan. Uhh, kelihatan menggairahkan sekali kemaluannya di dalam air yang jernih itu. Dengan ganas aku menciumi bibirnya yang basah serta meremas lembut dadanya yang terbalut baju renang yang tipis itu. Ema kelihatan sangat cantik dan segar dengan badan dan rambut yang basah terurai. “Ahh.. sayang.. nanti kelihatan orang,” katanya khawatir. “Tenang Sayang.. tak ada yang melihat kita begini..” kataku. “Baiklah.. Ndra kubuat kamu ‘KO’ di kolam,” tantangnya. Ia langsung memelorotkan celana renangku, batang kemaluanku yang sudah tegang pun menyembul dan kelihatan asyik di dalam air. Ema mengocok kemaluanku di dalam air. “Mmm..” geli dan sejuk rasanya. Tanpa menunggu lama lagi aku ingin memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. “Ema.. kumasukin yah?” Ema pun tanpa ragu menganggukkan kepala tanda setuju. “Baik Sayang..” Kudekap erat tubuhnya agar dekat, ternyata Ema sudah membimbing batang kemaluanku masuk ke lubang kemaluannya. “Argghh..” ia menyeringai ketika kepala kemaluanku menyentuh bibir kemaluannya. Aku pun segera mengangkat Ema ke pinggir kolam dan kubaringkan dia, kutekuk lututnya sehingga lubang kemaluannya kelihatan menganga. “Siap Sayang..” Aku mulai memasukkan sedikit. “Uhh..” padahal baru kepalanya saja yang masuk. “Aahh.. Sayang, punyamu terlalu besarr..” Aku pun segera menekan lagi dan akhirnya “Bless..” seluruhnya bisa masuk. “Uhh.. ahh.. mmhh,” erangnya menahan gesekanku. “Sshh.. ss, enak kan Sayy..” kataku terengah. “Huuff.. uhh.. ayoo terus Ssayy.. ennakk..” Terdengar bunyi yang tak asing lagi, “Crep.. crepp.. sslepp..” asyik kedengarannya, aku semakin giat memompanya. Kemudian aku ingin ganti posisi, aku suruh Ema menungging. “Ayolah Sayang.. puaskan aku..” Ia pun menungging dengan seksinya, terlihat lubang kemaluannya merekah, menarik untuk ditusuk. “Slepp..” batang kemaluanku kumasukkan. “Ahh.. ss.. ahh..” desahnya penuh kenikmatan. Nafasnya semakin memburu. “Huff.. ehh.. mm..” aku terengah. Kupercepat gerakanku, “Slep.. slep.. slep.. slep..” “Ahh.. Ssayangg.. bentar lagi aku nyampe nihh..” kataku terburu. “Aakuu.. jugaa..” Himpitan liang kemaluan Ema yang kencang dan basah membuat maniku tak kuasa lagi untuk keluar, dan akhirnya Ema pun mencapai puncaknya. “Ooohh.. akuu lagi Sayangg..” Cairan kemaluannya pun membanjir, hal ini semakin membuatku juga tidak tahan. “Aaahh.. aku juga Sayangg!” erangku penuh kenikmatan. “Cepat cabut.. keluarin di luarr..!” sergahnya. Dengan cepat segera kucabut kemaluanku, Ema pun tanggap ia pun memegangnya dan mengocoknya dengan cepat. “Aauuhh! nikmatt!” “Crut..” spermaku pun keluar. “Eerghh.. ahh..” tapi sedikit, maklum terforsir. “Aahh.. kok sedikit Sayangg..” katanya meledek. “Eemmhh.. ah.. habis nih cairanku..” Aku pun lemah tak berdaya dan ia pun berbaring di pangkuanku. Aku mengelus rambutnya yang basah, kukecup keningnya, “Cup! I love you Sayang..” Sejak itulah kami sering melakukannya, baik di mobil maupun pada di sebuah gubuk di hutan kala kami berburu bersama. Dalam hatiku aku berkata, gadis pemijatlah yang membuatku jadi begini, membuatku menjadi begini, membuatku menjadi “bercinta”. Yah..!

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/cerita-panas-gara-gara-gadis-pemijat.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-gelora-cinta-tara.html http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-gelora-cinta-tara.html#comments Sat, 28 Apr 2012 10:23:02 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1125

read more »]]>

Panas Cerita ‘Gelora Cinta Tara’

Tara adalah seorang Ibu rumah tangga, yang cukup santun, cantik dan pandai, dia seorang karyawati menengah yang sukses adapun suaminya Nico sangat religius dan agak kaku; malah dapat digolongkan sangat tradisionil jalan berpikirnya.

Kehidupan Tara menjadi berubah dengan segala prubahan zaman serta kariernya, dimana dia bekerja disebuah hotel yang bintang lima di suatu property di kota besar dibagian dunia ini.

Dengan penampilan Tara yang manis, ramah, pandai juga sexy, Tara menjabat sebagai ‘Event Coordinator Manager’, adalah suatu bagian yang memang cukup sibuk, di dunia ‘Hospitality Industry’ dan sering dia harus bekerja sampai larut malam.

Didalam kehidupan social diHotel ada sebuah motto yang tak tertulis bahwa semua orang seharusnya bantu membantu, apa bila orang pernah tidak membantu satu bagian lain, otomatis suatu ketika dia akan kena batunya sendiri karena tidak akan diperlakukan baik bila dia mendapat kesukaran dikemudian hari.

Motto ini dipegang teguh oleh Tara, sejak kepindahaannya dari lain perusahaan, yang benar-benar berbeda nafas dan warna usahanya; namun dengan cepat Tara bisa mengikuti jalur permainannya.

Namun tak mengherankan juga, cara kehidupan yang begitu erat di property Hotel itu akhirnya mereka juga saling menjalin kasih diantara mereka, entah itu orang dari Front house dengan Back house, manager dengan waitress nya, ataupun chef dengan front office officernya; walaupun, ada tertulis bahwa mereka tidak boleh saling melecehkan pegawai, dalam arti pelecehan apapun termasuk sexuality.

Banyak pegawai menyebutkan bahwa Tara adalah seorang yang sexy, menawan dan ramah, dengan kulit ‘fair’ rambut panjang serta ‘grooming’ selalu terjaga, tidak terlalu menyolok dalam berdandan, juga ringan tangan. Mungkin hal ini karena dia dari Indonesia, yang terkenal dengan ramah tamah dan berbudi bahasa halus.

Suatu saat pegawai Hotel dihebohkan dengan kejadian adanya pemerkosaan dan pembunuhan sebelah kanan gedung property Hotel, dilakukan oleh orang lokal yang memang tampang dan cara kehidupannya agak menyeramkan bagi yang menemuinya, namun jumlah mereka tidak banyak, dan makin memudar.

Dengan peristiwa itu, banyak wanita pekerja Hotel itu harus di’escort’ sampai ketempat parkir atau pun tempat pemberhentian bis dimana dia harus mengambil jalur bis menuju ke rumahnya masing2 di malam hari, oleh siapa saja yang bertugas malam itu, bagian front office yang laki-laki, terutama Security.

Tak berbeda dengan Tara, diapun mendapat perlakuan yang sama karena sering kali dia harus selesai jam 22:00 atau 22:30. dimana kadang dia hanya naik bis saya menuju ke suburb dimana dia tinggal.

Disuatu malam, karena Hotel memang sedang sibuk sekali Tara harus pulang malam, Tara menelephone pada suaminya yang sudah dirumah.
“Nic, kerjaan aku belum selesai tuh, mungkin aku sampai agak malam karena harus keluarin leaflets dan brochures ini besok pagi?”
“Biar deh aku naik bus aja ntar kamu jemput di halte bis aja ya?”
“Uchh aku juga lagi nyiapin presentasi buat besok nih Tar, udah deh bila aku udah ngantuk ya sampai ketemu ditempat tidur aja ya”, jawab Nico.
“OK deh soalnya aku belum tahu sampai jam berapa aku selesai, I love you”
“OK I love you too, anak-anak udah pada belajar kok mereka udah mo pada bobo, udah ya muuacch!” kata Nico.
“Ya udah sampai nanti, Mmmuuachh”, sambut Tara dengan agak rasa kesal.
Tara meletakkan telephonenya dan mulai bekerja kembali menyelesaikan pekerjaannya yang menuntut penyelesaian malam itu.

Jam 20:00 dia turun keKantin untuk makan malam, banyak pria yang menayakan akan keberadaannya dan menawarkan untuk panggil aja bila butuh escort. Tarapun menjawab dengan ramah dan santai, sambil memikirkan akan makan apa yang ada dikantin, karena kadang membuat dia bosan juga makanan ala Hotel yang itu-itu juga, terasa kurang rasa, tidak seperti di rumah makan Indonesia atau di warung makan biasa. Akhirnya dia cuma makan cumi yang digoreng pakai tepung dengan sayur mayur dan sedikit nasi goreng yang memang tinggal sedikit.

Tara tak menghiraukan lingkungannya selama makan, karena ingin cepat kembali kepekerjaannya dan pulang tak terlalu malam, rupanya ada seorang yang memperhatikan tingkah lakunya yang agak serius setengah resah.
“Banyak kerja Tara?”
Tarapun menoleh karena kaget rasanya sangat familiar dengan suara itu.
“Oh ya, kok kamu Harry, kok makan sini sih, bukannya kamu harusnya udah pulang tadi 2 jam yang lalu.”
“Ya sama aku juga terjerat kerja nih besok ada Press Release”, kata “Deputy Executive Managing Director” ini menerangkan.

Selesai kerja, Tara pergi kebawah menuju keFront Office untuk minta “escort”, kemudian seorang ditugaskan untuk mengantarnya sampai kehalte bis menunggu sampai dia naik bis.
Namun tiba-tiba Harry menyahut dari belakang, “Biar saya saja yang mengantar Tara”
Maka Tarapun jadi tidak enak hati dan menjawab, “Gak usah deh Harry biar Peter aja yang menantarku, keluargamu menunggumu”
“Ya OK deh Peter, antar Tara kepemberhentian bis, jangan kamu pulang bila dia belum naik bis ya”, godanya.

Sampai dirumah, Nico telah mengorok diperaduannya, melihat anak- anaknya udah lelap, kelihatan sangat suci sekali wajahnya dalam tidur nyenaknya. Cepat Tarapun membersihkan diri dan masuk ke quilt menyusul Nico tidur di malam spring yang agak sejuk itu. Mendekap Nico dari belakang, berusaha melupakan kekesalannya terhadap Nico yang selalu agak masa bodoh.

Segera terjatuhlah Tara tertidur, namun belum pulas sekali; Nico merasa bahwa istrinya telah berada disampingnya, segera dia membalik dan melucuti pakaian Tara, juga dirinya sendiri. Segera dia memasukkan kemaluannya kedalam vagina Tara.
Walaupun Tara agak capek dari kerja masih terpejam matanya, dia tak dapat mengelak perilaku suaminya yang memang tanpa permisi dan basa basi bila ingin menyalurkan syahwatnya, pun pula tanpa “warming up” dan cumbuan; Nico langsung menancapkan kemaluannya dan memompanya sepuasnya, bagaikan sebuah mesin sex yang lagi di”switch on”, semua getaran badan Nico terasa dibadan Tara.

Belum juga Tara merasa mencapai pendakian birahinya, Nico telah sangat memburu nafsunya dan deru nafasnya tak terelakkan, kemudian keluarlah air many Nico dalam rahim Tara , creet, cret, cret. Tarapun menjadi kaget, karena dia masih belum separoh jalan menuju ke puncak pendakiannya dan masih harus berkonsentrasi akan rasa gesekan penis Nico dalam relung kenikmatannya, namun Nico telah KO, dan lunglai di dadanya.

Betapa jengkel dan kecewa hati Tara, akan perlakuan suaminya yang selalu tak pernah memberikan kesempatan untuk berexpresi dan mendapatkan kenikmatan bila mereka membuat cinta. Namun Tara harus menerimanya dengan diam, karena telah beribu kali dia utarakan untuk berbicara mengenai hal yang satu ini, namun Nico, menjawabnya dengan masa bodoh seolah, memang itu tanggung jawab wanita, sebagai pelampyas nafsu suami titik.

Esoknya, Tara kembali bekerja dengan tekunnya, memang kebetulan kamar kerja Tara berada agak pojok dan ngak banyak orang lalu lalang karena memang kegiatannya yang membutuhkan ketenangan, dalam menghadapi para langganannya. Tiba-tiba pintu terbuka tanpa ketukan, ternyata, Harry yang masuk, kontan kaget Tara akan kehadirannya, karena biasanya bila orang masuk tentu mengetuk pintu terlebih dahulu. Matanya agak sayu dan langsung menutup pintu kamar dan berkata,
“Tara, kau tentu tahu bahwa aku menyukaimu, bukan saja pinggul dan dadamu yang indah, namun perilakumu meruntuhkan imanku.”
“Kudambakan kelembutan wanita seperti kau, dan aku tahu, kau akan mengimbangi deru cinta dan nafsuku Tara”, berkata begitu sambil menatap mata Tara yang masih agak terperanjat namun juga sebagai kejutan, karenanya darahnya berdesir kencang sewaktu tangan Harry menggapai tanggannya, dan meremasnya halus.

Ditariknya tangan Tara lembut dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menggapai leher Tara dan menariknya mendekat di mukanya, dalam sekejap bibir Harrypun telah menempel dibibir Tara dengan hangatnya. Terasa, hangat dan bergetar bibir Tara menerima kenyataan indah ini, sesaat Harry mendorong lidahnya dan memainkannya dirongga mulutnya dengan aktif, sambil sesekali menekan dan menghisap liurnya.

Jantung Tara berdegup kencang, dan darah berdesir, keringat mulai membasah, menerima kenikmatan. Hangatnya dekapan yang tak disangka-sangka, membuat tubuhnya bergetar dan menggeridik bulu kuduknya, dalam berpangutan hangat ini. Akan tetapi, dirasakannya ada suatu halangan kenikmatan mereka, karena mereka berciuman terpisahkan antara meja tulis selebar 90 sentimeter. Maka bergesarlah Harry kearah balik meja dimana Tara berdiri, dan langsung mendekatkan dirinya pada Tara dan mendekapkan tangannya dipunggung Tara, kemudian merambatkan tangannya memegang leher dibalik rambut Tara yang panjang sebahu. Diraba dan dielusnya leher Tara dengan lembut, sambil bibirnya terus memangut bibir Tara yang hangat.

Hampir lupa Tara bila dia dalam keadaan dinas; terhenyaklah mereka ketika telephone berdering, serta merta Tara mendorong pelan Harry, mengangkat telp dan menjawabnya setelah sesaat dikuasainya diri dan emosinya sendiri.
“Event coordinator office, Tara speaking”
Ternyata yang telepon dari graphic designer bicara mengenai design yang telah Tara setujui akan langsung di cetak, dan Tara menyetujuinya.

Setelah selesai pembicaraan dengan graphic designer, Harrypun terus memegang tangan Tara lagi, dan mengatakan,
“Tara, jangan lari dariku lagi please, aku mencintaimu”
“Akan kuatur kebahagian kita bersama, will you accept this please”
Tara tak kuasa menjawab, hanya anggukan kepala dengan mata tak berkedip memandang Harry, seolah cahaya kuat yang mempunyai daya tarik yang besar menyedot dirinya hampir dia tak akan bisa melepasnya. Maka Harry pun menegaskan sekali lagi.
“Tara, aku ngak puas dengan anggukanmu, katakan bahwa kau juga merasakannya!”
Akhirnya Tarapun berkata, “Ya Harry, akupun merasakannya dan akan kucoba memenuhi tuntutan jiwaku”
“Kuharap kau sabar Harry, atas kebingunganku ini, namun tak kupungkiri aku mencintaimu juga”
Harry segera menggapai tangan Tara sekali lagi dan mengelusnya sambil mengecup bibir, kemudian meninggalkan ruangan untuk mengadakan “Press Release”.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12:15 siang dan terasa Tara butuh mengisi perutnya yang sudah mulai merengek minta dipenuhi, dan diapun meninggalkan ruangan menuju ke kantin. Tara tak banyak bercanda dengan sejawatnya, hanya sekedar basa basi dan ketawa menyegarkan suasana. Sekembali Tara keruang kerjanya, didapatinya surat tertutup yang ternyata dari Harry.
“Tara, temui aku jam 8 malam di paviliunku room 1431, thank you for your acceptance.”

Terasa berdesir darah menjadi cepat mengalir, terhentaklah jantungnya bagaikan halilintar menjambar dirinya, tak kuasa menahan deru detak jantung yang semakin mengencang, bingung rasanya apa yang akan diperbuat nanti malam, dalih apa yang akan disusunnya untuk memberitahu Nico suaminya. Segera Tara memutuskan menelphone Marrisa ‘Executive Secretary’ di’executive Offce’, memberitahukan bahwa dia ada appointment dokter siang itu dan akan kembali ke Hotel jam 4 sore untuk meneruskan kerjaannya, yang menurut agendanya dia akan selesai dimalam hari. Marrisa menjawab bahwa dia akan mencatat semua pesan-pesan yang masuk dari telephone untuknya.

Kepergian Tara sebetulnya hanya akan menjenguk Nico dikantornya dan sambil minum kopi bersamanya sejenak, kemudian dia pulang bersama Nico untuk bertemu dengan anak-anak, hampir satu setengah jam Tara bermain dengan anak-anaknya, Tara kembali keHotel lagi dan bekerja kembali. Sore jam 6 dia minta “room service” untuk mengirim secangkir kopi kekantornya dan sedikit kue supaya Tara dapat menghemat jam kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu.

Tepat jam 19:50 malam Tara berajak dan menutup pintu menuju ke atas lantai 14 no 31, dimana Harry sudah menunggu nya.
Setelah dia memencet tombol bel Harrypun membuka pintu, seraya mepersilahkan Tara masuk ke dalam Paviliunnya.

Kaget bukan kepalang ketika berhadapan dengan Harry, karena Harry hanya mengenakan jas kamar dan menalikan sabuknya tidak kencang, jadi sebagian paha atasnya yang berbulu kelihatan. Segera Harrypun menyadari keadaan dan merangkul, membimbing Tara kedalam sambil membetulkan jas kamarnya.
Segera, berkatalah Harry, “Tara kamu lelah, releks aja ya bersamaku disini, jangan kau hiraukan penampilanku, saat ini, telah kusiapkan dinner untuk kita berdua, maukah kau menemaniku malam ini?”
Tara menjawab, “Saya yakin ini bukan sebuah order dari atasanku, namun aku datang untuk memenuhi komitmenku kepadamu, ya kita akan bersama beberapa saat malam ini.”

Serta merta Harry menggapai dagu Tara dan segera menempelkan bibir hangatnya kepada Tara dengan penuh kasih dan emosinya.
Tara pun tak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Hari dan menyedotnya dengan keras air liur Harry, dililitkannya lidahnya menyambut lidah Harry dengan penuh rasa getaran birahi, serasa dia bisa menghilangkan sekejap semua kekecewaan bathinnya akan sikap Nico suaminya.

Setelah puas meraka bertautan merekapun berajak untuk makan malam. Selama makan malam, mereka bukan hanya menceritakan pengalaman indah dalam perkawinannya, namun juga kekecewaan dan himpitan dalam rumah tangga mereka masing-masing. Sesekali tangan mereka saling mengelus dan meremas; tak terasakan lilin telah hampir tinggal separoh batang, habis terbakar oleh bara yang romantis dan syahdu. Hampir jam 21:00 mereka selesai makan, Harrypun kemudian masuk dan mengambil jas tidur wanita yang biasa disediakan untuk tamu VIP, bahan dari silky warna kuning lembut pastel dan katanya,
“Tara, ganti ini yuk, nanti pakaian kerja kamu kusut loh”
“Boleh nggak kubukakan pakaianmu, sayang”
“Boleh Harry, tentu sekalian kau akan menyayangiku kan?”
“Ya Tara, gimana kalau kita pindah di kamar tidur saja”, seraya digendongnya Tara dari ruang makan ke kamar tidur dan direbahkannya tubuh molek itu di kasur.

Segera, Harrypun membalik badannya dan menuju ke Audionya memasang satu set lagu-lagu klasik, “Serenade”, Hofstetter ciptaan Haydn, “Waltz of the Flowers” dari Peter Tchaikovsky dan” The four Season: “Spring” dari Vivaldi, dimana lagu-lagunya lembut namun ceria penuh gairah; sangat cocok untuk musim spring, dimana saatnya setiap insan sedang enak-enaknya membuat cinta, karena dunia pernuh warna dan hangatnya pas, nyaman sekali untuk semua insan didunia.

Kembali Harry membalikkan badannya ke Tempat tidur, ternyata Tara telah ganti pakaian dengan jas tidurnya dengan tidak ditalikan sabuknya, terlihatlah bra yang transparan dengan “push up bra style”warna pastel, memberikan kesan seakan payudara Tara hampir tumpah meluap keluar lebih dari sepertiganya. Tangan kiri Tara mengelus-elus payudara yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sedangkan tangan kanannya membelai “pussy”nya yang menyembul mendesak CDnya, karena Tara memang mengenakan celana “mini high cut style”.

Melihat pemandangan yang mempersona itu, segera Harrypun menghampiri Tara dengan deburan darah dan nafsunya, langsung menyambar bibir Tara yang lembut dan hangat, dilumatnya bibirnya dan didorongnya lidahnya untuk mencari lawannya didalam rongga mulut yang tak begitu besar itu. Dan didalam sana ternyata sambutan hangat, agak liar telah siap menari bersamanya didalam dan bertautlah keduanya dengan penuh nafsu birahi.

Getaran jantung serta desiran darah Tara mengantarnya sampai kepintu kenikmatan yang tiada berujung, sementara tangan kanan Harry otomatis mendarat disembulan hangat payudara sebelah kanan Tara yang segar; dielusnya lembut, diselusupkan tanganya dalam bra yang hanya 2/3 menutupinya dan dikeluarkannya buah dada Tara, ditekan, dicarinya puntingnya kemudian dipilin halus seraya ditariknya pelan. Dengan perlakuan ini Tarapun melepas ciuman Harry dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalanya kekiri dan kekanan.

Selepas tautan kedua bibir hangat itu, Harry menyapu dagu dan leher Tara, hingga Tarapun meracau menerima dera kenikmatan ini.
“Harry, getaran dalam tubuhku mendera sukmaku Harry, kenapa kudapatkan ini darimu bukan dari Nico”
“Harry, hantarkan aku mencapai awang-awang bersamamu, berikan aku kesempatan untuk menikmati bara cintaku denganmu Harry.”
“Aaachh shheesstt, aachh aachh”
Harrypun melepas kegiatan mulutnya.
“Tara, aku telah khawatir tadi bila kau akan lari dariku, telah lama kudambakan ini denganmu, aku mencitaimu Tara.”
“Mengapa baru kali ini aku bisa menggapaimu, jangan lagi kau pergi dariku”

Tangan Harry pun segera membuka kaitan branya yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan Ibu jari sebelah kanan Harry, segeralah dua buah gunung kembar indah itu menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah. Segera ditempelkannya bibir hangat Harry pada buahdada Tara sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu, secepat itu juga merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang keatas. Dikulumnya puting itu dengan buasnya, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi Harry. Adapun reaksi Tarapun semakin mengila, mengerang dan melenguh, sambil mengangkat badannya seraya melepaskan Jas tidurnya berserta bra yang telah dibuka Harry dan dilemparkannya dikursi dekat tempat tidur tersebut.

Harry segera menyadari keadaan, dengan giat penuh nafsu Harry menyedot buahdada Tara yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CD Tara dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar keatas, segera dirabanya kearah vertical, dari atas kebawah, yang ternyata ditemuinya sudah basah lembab, tanda cairan birahi tara telah tak tahan menahan dera kenikmatan dari perlakuan Harry. Segera Harrypun menurunkan CD Tara tersebut, mendorongnya dengan kaki kirinya sampai jatuh ke karpet. Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberi sentuhan rangsangan pada memek Tara, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat dan dipangkasnya adapun dibagian belahan memek dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut, rangsangan Harry ini semakin tajam dan hebat hingga Tara meracau.
“Harry touch me please, touch me..”
“Harry make me fly, I want to fly with you darling, please.”

Harry segera membuka belahan gundukan tebal memek Tara, dengan dua jari telunjuk dan jari tengah dibantu dengan Ibu jari nya untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari klitoris Tara; kemudian disapunya dengan telunjuknya ke atas dan kebawah. Tarapun mengerang-erang kuat tak bisa terkontrol. Adapun mulut Harrypun segera menjalar kebawah menyambut klitoris yang telah hangat dengan sentuhan jari telujuknya lalu dijulurkan lidahnya menggatikan kegiatan jari tangannya, disapunnya klitoris yang semakin membesar dan keras itu, ditekannya dengan penuh nafsu, bagai serigala yang sedang yang mendambakan kenikmatan daging rusa atau kembing muda, ataukah sang lebah yang ingin menghisap madu surga dunia bersama Tara; sedang kegiatan tangan kanan Harry tetap melanglang buana dalam lorong kenikmatan Tara menari didalam rongga yang gelap; Tarapun mengelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasmenya yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya; sambil terengah-engah Tara mendorong pantatnya naik, seraya tangannya memegang kepala Harry dan menekannya kebawah sambil meracau.
“Harry, fuck me darling, please fuck me with your tongue”

Harry pun memindahkan tangannya dari relung kenikmatan Tara dan digantikannya dengan lidah yang kuat dan digerakkannya keluar masuk diantara lembah kenikmatan dan relungnya; Tarapun menjerit menerima ledakan Orgasmenya yang pertama, magmanya pun meluap menyemprot keatas hidung Harry yang mancung.
“Harry aku keluaarr, aacchh Harry memekku berdenyut kencang, kiss me please kiss me darling..”
dan.. mengejanglah Tara beberapa waktu sambil tetap meracau.
“Harry kau jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku darling, Please kiss me, acch ini permainan indah Harry baru kali ini aku benar mendapatkannya”

Harry segera bangkit mendekap erat, diatas dadanya Tara yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasmenya; diciumnya mulut Tara dengan kuatnya, yang disambutnya oleh Tara dengan tautan garang, menyerang lidah Harry dalam rongga mulutnya yang indah. Tergoleklah Tara tak berdaya sesaat, Harrypun mencumbunya dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuh Tara yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan matanya yang terpejam dengan penuh cinta; dibiarkannya Tara menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasmenya yang hebat, juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang ia rasakan, kemudian katanya,

“Harry kau memberikan aku kebahagiaan, tak pernah aku merasakan sentuhan laki-laki yang nikmat seperti ini.”
“Dengan Nico, aku lebih hanya menjalankan kewajibanku, mempersembahkan badanku untuknya, dan tak mempunyai hak untuk menikmatinya.”, dengan perasaan getir yang dalam Tara mengucapkannya.
“Sudahlah, jangan kau ucapkan lagi, kita nikmati saja kebersamaan kita berdua, tak ingin rasanya keindahan ini terganggu dengan kekecewaan yang melintas di benak kita masing-masing.”

Dengan sentuhan dan belaian Harry, Tara terbangkit gairah nafsunya lagi, segera dia bangkit, di dorongnya pelah badan Harry yang berada diatasnya, direbahkannya badan Harry disampingnya. Tara menundukkan kepalanya di pipi Harry, dicium dijilatinya pipinya, menjalar kekupingnya, dimasukkannya lidahnya kelobang kuping Harry, sehingga Harrypun meronta menahan gairahnya; kemudian jilatan Tara turun kebawah sampai dipunting susu kiri Hari yang berambut, dibelainya dada Harry yang penuh dengan rambut kecil, sedang tangan kanannya memainkan puting yang sebelah kiri. Menggelinjang Harry mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambatkan gairahnya itu, iapun mengerang, dan mendesah.

Kegiatan Tarapun semakin memanas dengan diturunkannya sapuan lidahnya sembari tangan Tara merangkak ke perut dan dimainkannya lubang pusar Harry sedikit ditekan kebawah dan kesamping, terus dilepaskannya dan dibelainya perut bawah Harry akhirnya sampai kekemaluan Harry yang sudah mengeras namun masih terbalut dc wana biru gelap. Kemudian dibuka, dielus lembut dengan jemari lentiknya batang kemaluan Harry, yang menentang ke atas berwarna kemerahan, kontras dengan kulit Harry yang putih, kepalanya pun telah berbening air birahi. Melihat keadaan yang sudah sangat menggairahkan tersebut, tak sabarlah Tara; segera menempelkan bibir hangatnya kekepala kontol Harry dengan penuh gelora nafsu, disapunya kepala kontol dengan cermat, dihisapnya lubang air seninya, hingga membuat Harry memutar-mutar kepalanya kekiri-kekanan dan mendongkak dongkakkan kepalanya menahan kenikmatan yang sangat indah tiada tara, adapun tangannya menjambak Tara.
“Tara kekasihku, dera nikmat darimu tak tertahankan, kuingin memilikimu seutuhnya Tara”
“Tara please berikan ini ditiap menit di kehidupanku jangan kau lari dariku sayangg, jangan kau lari dariku Tarraa”

Tarapun tidak menjawabnya, hanya lirikan matanya sambil mengedipkannya satu kearah Harry yang sedang kelojotan, sukmanya terbang melayang ke alam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi, diiringi lagu “The four Season: Spring” dari Vivaldi.
Adapun tangan Tara memijat dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, serta lidahnya pun menjilat seluruh permukaan kepala kontol tersebut, temasuk dibagian urat yang sensitive bagian atas sambil dipijat-pijatnya dengan penuh nafsu birahinya.

Sadar akan keadaan Harry yang semakin mendaki puncak kenikmatanya, dan dia sendiripun telah terangsang, denyutan memeknya telah mempengaruhi deburan darah ditubuhnya, dia lepaskan kuluman kontol Harry dan segera dia memposisikan dirinya diatas Harry menghadap dikakinya, dan dimasukkannya kontol tegang Harry dalam relung nikmatnya, segera diputar memompanya naik turun sambil tekan pijatnya dengan otot vagina sekuat tenaganya, ritme gerakannyapun ditambah sampai ke kecepatan maksimal.

Harrypun teriak, sementara Tarapun berfocus menikmati dera gesekan kontol Harry, yang menggesek G-spotnya berulang kali, menimbulkan dera kenikmatan nan indah sekali. Tangan Harrypun tak tinggal diam diremasnya pantat Tara yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusnya, sambil menikmati dera goyangan Tara pada kontolnya akhirnya mereka berdua berteriak..
“Tara aku tak kuat lagi.. berikan kenikmatan lebih lagi Tara, denyutan di ujung kontolku sudak tak tertahankan.”
“Kau pandai seperti kuda binalku, kau liar sekali Tara, kau membuatku melayang Tara, aku mau keluar!”
Lalu disuruhnya Tara memutar badannya menghadap pada dirinya dan dibalikkannya Tara posisi tidur dibawah bersandarkan bantal tinggi dan menaikan kedua kakinya dibahunya, Harrypun bersimpuh di depan memek Tara, sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan ritme yang cepat dan kuat, karena tak tahan lagi Harry akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seolah mau meledak.
“Tara, please, let me release my valve, I am cumming, pleasee..”
“Tunggu Harry, orgasmeku juga mau datang sayang, kita sama-sama”

Akhirnya Creet, creet, creet, tak tertahankan bendungan Harry jebol memuntahkan spermanya di vagina Tara, adapun bersamaan Tarapun mendengus dan meneriaknan erangan nikmatnya; segera disambarnya bibir Harry, dikulumnya dengan hangat dan disodorkannya lidahnya dalam rongga mulut Harry, seraya didekapmya badan Harry yang sama mengejang, basah badan Harry dengan peluh menyatu dengan peluhnya, terkulailah Harry didada Tara, sambil menikmati denyutan vagina Tara, yang kencang menyambut Orgasmenya yang sangat nikmat, selama ini belum pernah ia rasakan.
Dibelainya rambut Tara dengan penuh kasih dan sayang, dikecupnya dahinya.
“Honey, Thank you, I love you so much, I want to grow old with you, please don’t go away from me, you make me a’live again.?

Mereka bangun dan digendongnya Tara dikamar mandi dan di mandikannya Tara dibawah shower dan disabuninya dengan lembut sebagai tanda terima kasihnya dimalam itu. Segera berpakaian mereka kembali, kemudian dihantarkannya Tara kerumah suaminya.
Ditemuinya Nico telah lelap di tempat tidur kembali dengan tenang dan damai, secepatnya tara berganti pakaian tidur, dan menyusul suaminya masuk dalam quiltnya dan mendekap Nico.

Karena nikmatnya permainan cinta malam itu, Tara bermimpi indah, bersama Harry semalaman.

*****

Sejak kejadian malam itu di pavilliun Harry, Tara selalu mendambakan belaian Harry dan ingin selalu merasakan kemaluannya yang menggeliat di dalam vaginanya, bila teringat hal itu Tara selalu menelan ludahnya dan tak jarang dia melamun sejenak dalam kesibukannya, segera terhenyak bila telephone berdering ataupun tersadar bila ia diburu dengan tanggung jawabnya.

Jum’at malam ada sebuah event untuk sebuah Oil Company yang akan merayakan “Hari Jadi” perusahaan tersebut, pesta ini mengikut sertakan sebagian besar staffnya, jadi memang agak besarlah event yang akan diaturnya untuk malam nanti.

Pagi-pagi dia sudah ke field, ruang pesta, dan menyiapkan segala sesuatunya, kontak dengan dapur, mengenai makanan yang akan bergulir untuk nanti malam. Suasana Hotel masih sepi belum banyak pegawai mulai masuk terutama ‘waiters’nya; Tara ada di ruang ruang pesta sendirian, di pantry mencheck untuk terakhir kalinya; tiba-tiba Harry telah mendekapnya dari belakang dan mendaratkan ciumannya dileher Tara seraya menelusuri dagu dan bersarang di bibir lembut Tara.
“Selamat Pagi gadisku, kuingin memuaskanmu disini, nikmatilah sayang kehadiranku.”

Secepat itu juga dinaikkannya Tara diatas “pantry”, bagaikan kilat di perosotkannya CD Tara, kemudian mulut Harry telah bersarang di gundukan nikmat Tara. Tara yang telah biasa dengan perilaku suaminya, maka dia juga bisa menerima perlakuan Harry ini, maka Tara hanya menghisap nafas dalam-dalam dan menahannya sebentar dan dihembuskannya perlahan-lahan; Namun tentu saja dengan Harry mendapatkan sensasi yang lain dan memang dia mengharapkannya perlakuan semacam ini ditiap detik nafas dan hidupannya yang baru.

Dinikmatinya rasa indah di bawah sana sambil menggelepar dan mengerang. Clitorisnya pun merasa semakin membesar dan vaginanya berdenyut kencang tak tertahankan. Tanpa dia sadari tangannya sendiri menggapai payudaranya dibawah blazernya dan di remasnya, beberapa saat kemudian ditelusupkannya tangannya kedalam bluse dan dirabanya puntingnya dan dipelintirnya sendiri, nikmat sekali rasanya seakan membuatnya melayang-layang.

Setelah puas Harry menjilatin dan mengentot vagina Tara dengan lidahnya, berdirilah dia dan menarik retsleting celana panjangnya dan dikeluarkannya kemaluannya dari lubang CDnya.
“Tara, kukunci pintu besar itu jangan kuatir, kita making love disini Okay?”
“Harry lakukanlah, entoti aku dengan gaya dan nafsu birahimu, aku akan menikmatinya”
Harrypun tersenyum dan menusukkan kontol yang tegang dan perkasa itu kedalam vagina Tara yang sudah membasah melelehkan air nikmatnya, karena menahan birahinya.

Sambil berdiri Harry mengentot, memompa kontolnya kuat-kuat dan penuh birahi, sesekali badannya dibungkukkannya, untuk menggapai wajah Tara yang tersenyum manis selama di entotnya. Geregetan rasa Harry melihat wajah yang manis dan penuh gelora cinta di depan matanya. Tara sangat menikmati hujaman kontol Harry dan sambil berkata,
“Harry, terus sayaang puaskan daku, ingin aku mati bersamamu dalam keadaan kau entoti aku begini.”
“Enak Harry enak sekali teruskan.. nikmat batang kontolmu menghentak-hentak ubunku Harryy, ngiluu Harry!”
Segera diangkatnya tubuh Tara.
“Tara pompa kontolku naik turun, kau tentu pandai mengerjakan buat sukmaku melayang bersamamu Taraa”,

Segera Tara digendong menghadapnya dengan kedua kakinya di pinggang nya, serta tanggan Harry memegang pinggang Tara. Segera dikocoknya badan Tara naik-turun, dan Tarapun ikut aktive melakukan permintaannya sambil terus berfucus pada kenikmatan gesekan kontol Haryy, yang membuatnya gilu geli menhujam seluruh tubuhnya hingga bergetar.
“Harry boleh aku keluaar?”
“Ya gadisku kita sama-sama, memekmu hangat menjepit, memilin kuat kontolku, kontolku berdenyut mau keluar spermaku sayang, Oooh kau gadis nakalku.. kau binall!”
Dan orgasmelah mereka berdua dengan rasa bahagia meliputi mereka.

Kemudian diletakkannya tubuh Tara di pantry kembali, sambil melepaskan kontol Harry, digesernya badan Tara sejajar dengan pinggir pantry, kemudian disodorkannya dimulut Tara, segara Tara mengerti maksudnya dikulum dan dihisapnya kontol tegang itu sampai bersih kembali. Cepat-cepat mereka membersihkan diri di “wash basin” di”pantry” itu, segera mereka merapikan baju mereka. Harry mendekap Tara, mencium kening pipi dan mulutnya, sambil mengatakan:
“Kau sempurna, gadisku, kita nikmati hidup ini dengan sebaik-baiknya, seindah matahari bersinar setiap hari..”
“Adakah kamu menikmati permainan kita tadi Tara?” maukan kau menikmatinya ditiap kesempatan ada?”
“Ya Harry saya bahagia, dan menikmatinya ngentot denganmu darling”

Dikecupmya Tara sekali lagi dan mengucapkan selamat kerja, kemudian ditinggalkannya Tara meneruskan pekerjaannya. Adapun Tara sendiri merasa bahagia, nikmat, seolah ringan dalam tubuhnya, karena birahinya tersalurkan baik dengan orang yang dia cintai, dia lalu mengerjakan pekerjaannya dengan suka cita.

Selang dua hari kemudian, dipagi hari, jam 7 pagi Tara sudah ada dikantornya, Tara mendapatkan SMS dari Harry, dimana Tara memang sangat mengharapkannya.
“Datanglah ke lantai 9, aku sedang mencek kamar VIP untuk siang ini, bawa set brochures yang untuk kamar 914, Housekeepernya kelupaan.”
Segera datanglah Tara kelantai 9 dan memberikan nya ke Harry, yang bertemu dilorong dekat kamar penyimpanan Linen Hotel.

Begitu melihat Tara datang, segera Harry membuka kedua lenggannya dan menyambutnya dengan dekapan dan ciumannya dibibir hangat Tara. Sadar akan keadaan, segera dibawanya Tara kekamar linen tersebut segera dilanjutkannya melumat bibir Tara, sambil tangan kirinya meraba pantatnya yang penuh, dan memerosotkan CD dan stokingnya, ditariknya dengan kakinya supaya turun terus ke lantai. Segera setelah itu, tanggannya pindah ke depan menggapai gundukan vagina Tara yang sudah menunggu kenikmatan ciptaan tangan Harry. Tangan Tarapun tak tinggal diam, dan dibukanya retsleting celana Harry dan segera diturukannya semua termasuk celana dalam Harry secepat kilat.
“Tara, kita sambut pagi ini dengan ceria matahari pagi ya, Kita making love disini, para ‘Housemaid’ belum datang, tenang saja kita OK.”

Tara meminta Harry untuk memindahkan kursi ini ke pintu, maka dilakukannya perintah Tara, untuk memindahkan sebuah kursi didepan pintu. Dan dibukanya baju Tara semua dan juga Tara membuka baju Harry, hingga mereka telajang bulat, tak selembar benangpun melekat pada tubuh mereka. Harry memposisikan dirinya berdiri berhadapan dengan Tara, kaki Tara sebelah kiri mengait kaki kanan Harry dan sebaliknya Kaki kiri Harry mengait kaki kanan Tara, segera Harry menyelipkan penisnya dalam vagina Tara, sambil tangan kiri mereka memegangi kaki kiri mereka yang menepel di pantat mereka masing-masing.

Harry mengayun pantatnya kuat-kuat dan Tarapun menjepit, dan mengerakkan vaginanya mengimbangi ayunan Harry, kenikmatan mereka daki bersama, dengan dengausan dan erangan kecil-kecil dari mulut mereka terlepaskan, dan dengan sepenuh tenaga, Harry melaksanakan tugasnya dengan sempurna, hingga Tara mengerang kuat mendapat orgasmenya. Tara merangkul Harry kuat-kuat sambil memangut, dan menghisap liur Harry dengan garang penuh nafsu birahi.

Setelah reda emosi dan getaran seluruh tubuh Tara, dilepaskannya semua posisi itu dan Harrypun minta Tara menungging dengan berpegangan ditiang teroli linen yang terbuat dari kayu yang kuat dan besar itu. Maka ditusukkannya penis merah Harry divagina Tara dari belakang, dan digoyang-goyangkan berulangkali untuk mendapatkan posisi yang nikmat untuk Tara, reaksi tarapun segera merintih menikmati goyangan tersebut, dengan goncangan penis Harry yang menggesek G-spotnya didalam sana, seolah ada sesosok tubuh yang kuasa menarik dorong sukma nya dari ubun-ubun, Tara pun mencengkeram tiang kayu itu sambil meracau tak menentu.

Kemudian dengan ayunan pasti penuh nafsu birahi dihujamkannya penis tegang Harry itu berualang-ulang pada Vagina Tara, terasa Vagina Tara melelehkan cairan kenikmatannya membuat derap penis Harry semakin lincah menari didalam relung nikmat Tara.

Sungguh, nikmat yang dirasakan Tara, diapun mendongak-dongakkan kepalanya sambil meracau.
“Harry, enaak, Haarry teruskan aku sedang mendaki bersamamu sayang.”
“Hunjam memekku keras-keras, layangkan aku ke angkasa, biarkan aku mendapatkan orgameku yang indah lagi Harry!”
Harrypun semakin giat mendapat seruan Tara, di hentakkannya lebih keras kontol yang keras itu di relung nikmat Tara dan akhirnya iapun merasakan denyutan kepala kontolnya tak tertahankan lagi.
“Tarra aku dataang, nikmatilah ini, siapkah kau menerimanya?”
“Ya Harry, aku sudah siap, membungkuklah dan cium punggungku dan remas susuku Harry”
“Cepat lakukanlah aku akan orgasme aacchh sshhtt, Harry enak sekali aku sampai juga Harryy..”
Cepat otomatis, Hary membungkuk dan menciumi punggung Tara, meremas-remas payudara Tara dengan gairahnya yang memuncak.
“Tarra, achh aku keluarr, adduhh enak Tara!”
Sesudah selesai mereka orgasme, lunglailah mereka di kursi duduk dan saling berpangkuan.

Jam menunjukkan jam 8:20 am, telah 1 jam 20 menit mereka bermain cinta di kamar linen lantai 9 tersebut; segera, diraihnya lipatan handuk dari tumpukannya di troli kayu tersebut dan di bersihkannya badanya dengan handuk itu, kemudian berpakain sebaik-baiknya dan mereka berpelukan kembali mengucapkan selamat bekerja, lalu mereka membuang handuk kotornya ke tube, supaya jatuh ke ruang linen di basement, kemudian mereka berpisah.

Tara cepat kekamar mandi wanita di lantai 3 dan cepat-cepat membersihkan badannya di bawah shower, menyabun tubuhnya dan di elus-elus lembut memeknya, sambil tersenyum sendiri mengenang nikmatnya ngentot dengan Harry, terlupakanlah sedikit pedih kehidupan yang ada dihatinya, hidup bersama suaminya Nico. Dibilasnya dibawah shower tubuhnya, segera setelah itu berpakaian, kemudian membetulkan “grooming” wajah dan rambutnya. Segera dia kembali keruang kerja dikantornya, jam menunjukkan 8:50am, segera Tara memulai pekerjaannya hingga selesai. Adapun Harry berlaku sama hanya dia menuju ke Pavilliunnya dan mandi lagi sebentar dan turun ketinggkat 5 di kantor Executive Office dan menunaikan kerja nya kembali dengan aman dan damai. Hari itu sangat indah baginya dan harapannya untuk ngentot dengan Tara selalu menjadi obsesinya disetiap harinya.

Event week end mendatang ada penyelenggaraan ‘Grand Prix’ di kota itu, Hotel penuh dari pertengahan minggu sebelumnya, sebagian staff dapur dan para waiter/waitress dikonsentrasikan kelapangan diweek end itu, dengan membuka dua tenda atas nama Hotel disekitar lapangan pacuan itu; karena banyak para Businesman/woman, dan paraa Celebreties menyaksikan balap mobil Formula 1 itu. Sebagian besar lagi para waitres/waitress dikonsentrasikan untuk event malam hari di restaurant-restaurant diproperty hotel, adapun siang hari memang agak lengang suasana di Hotel. Karena Kebetulan ‘General Manager’nya tugas turun kelapangan, maka Harry ditugaskan incharge didalam property Hotel tersebut.

Kesibukan Tara sudah agak menurun, karena biasanya kesibukan Tara memuncak sebelum event berlangsung. Saat yang indah itu, dimanfaatkan mereka berdua saling mengirim SMS, Harrypun datang kekantor kerja Tara, yang berada di pojok itu, segera ia mengunci pintu kantornya dan diraihnya Tara dengan buasnya kemudian dilucutinya baju bawahnya, semua tanpa kecuali, dan diangkatnya Tara dimeja kerjanya lalu didudukkanya diatas meja kerja, segera dijilatinya memek hangatnya dengan lahapnya. Tara memejamkan matanya, sambil berpegangan kepala Harry menahan serentetan kenikmatan dan denyutan memeknya yang sangat luarbiasa sensasinya; maka digoyangkannya pantatnya sambil duduk, mengharapkan dera dan tusukan lidah Harry untuk segera menggapai dinding dalam rahimnya, Tara mendorong-dorong kepala Harry supaya masuk jauh kedalam selangkangannya. Sambil mengerang, ia menjepit kepala Harry karena dia mendapat Orgasmenya di pagi itu. Harry bangun dari selangkangan Tara setelah Tara mulai merenggangkan selangkangannya dan segera mendekapnya, diciuminya Tara dengan nafsunya yang membara bersama asmaranya menutupi semua perasaan yang ada di pagi itu.

Setelah Tara pulih kembali, dibiarkan dia merebahkan dirinya di meja kerjanya, selang beberapa menit, segera diturunkannya celana Harry, sambil berdiri dijulurkannya kontol tegangnya pada klitoris Tara, dimainkannya lagi klitoris itu dengan kontolnya, hal ini menimbulkan gairah Tara kembali menyelubungi tubuhnya. Setelah Tara menggeliat dan melelehkan getah bening memeknya, Harrypun menusukan kontolnya dalam Vaginanya, segera dipompanya dengan ritme pelan dan kemudiaan cepat, di tariknya lagi, diam sejenak dan dihujamkannya lagi dengan kuat.

Tara belingsatan dan mendongkak-dongkak kembali dan digoyang-goyangkannya kepalanya kekiri dan kekanan sambil giginya menggigit bibir bawahnya dengan kuat untuk menahan dera nikmat yang sangat dia inginkan tiap harinya. Sampai akhirnya Harry mengatakan akan mencapai ejakulasinya, ingin mereka menuangkan sama-sama, dan mereka selesaikan kenikmatan itu dengan sempurna, muncat tiga kali sperma dalam rahim Tara, segera dicabutnya kontol Harry, diputarnya badan Tara kepinggir meja dan disodorkannya kontol Harry kemulut Tara, segera Tara membuka mulutnya dan dikulumnya kontol Harry yang tegang merah, sedang memuncratkan spermanya langsung dalam tenggorokannya, segera ditelannya semua sperma itu, lalu dijilatinya kontol Harry dengan penuh kasih sayang. Setelah selesai session itu, mereka segera merapikan diri dan bekerja kembali.

Jam 11 siang, Tara telephone Marissa mengatakan akan ke dokter lagi, dan Marissa pun akan menolongnya mencatat pesan untuk Tara. Namun sebetulnya Tara hanya naik ke tinggkat 14 kamar No 31, di Paviliun Harry, disana Harry telah menunggu nya, setelah Harry berpesan ke Marissa bahwa dia akan pergi kelapangan balap selama 3 jam, kontrol keadaan di sana.

Segera setelah Tara Masuk ke Paviliun, tak sabar lagi Harry menggendong tara di kamar mandi dan melepas semua bajunya, untuk mandi bersama. Setelah mereka telanjang dimasukkannya Tara dalam bathtub, Harry berdiri dipinggir bathtub, di mintanya Tara menyepong dan mengelus-elus kontolnya, maka di elusnya buah zakar Harry lalu dikulum, dijilatnya dengan lidah nakal Tara, dimain-mainkannya dalam mulutnya, Harry mengerang kuat-kuat sambil matanya dipejamkan. Kemudian dirambatkannya lidah Tara kebatang kontol Harry, sambil menyapu dan menyedot seluruh batang kontol Harry, tangan Tara memilin dan memainkan buah zakarnya yang mengecil.
“Tara, kamu nakal, kamu menggodaku, kulumlah Tara kepala penisku itu, mainkanlah dengan lidah yang nakal itu..”
Diturutinya kemauannya, di kulumnya kepala Panis Harry, dan dimainkannya lidahnya dilingkaran kepala Panis yang menyembul itu.
“Aaacchh Tara, manisku, kau jalang, kau binal.. kau gadisku, kau milikku Taraa, kau selalu memuaskanku Tarra..”
Tara pun melepaskan kulumannya, dan minta dicium mulutnya dengan mulut lembutnya Harry.
“Harry kiss me darling, I need you always, I want to be with you always darling.”

Ditariknya pelan Harry kedalam air dan segera menduduki kontol yang keras itu dan menyelipkannya dalam vaginanya, sambil dia mendongkakkan kepala kearah belakang diayunkannya badannya, memompa penis Harry, dan Harry, memegang pinggang dan punggung belakang Tara menjaga supanya tak terbalik jatuh ke belakang. Sebagai, dewi amor sedang mengamuk Tara melonjak-lonjak memompa penis tegangnya Harry hingga pendakian birahinya mencapai puncaknya dan Tarrapun orgasme lagi.

Harry mengangkat Tara, dibalikkannya badan Tara supaya dia tiduran menungging releks dalam bathtub, kemudian dia tusuk dan pompa memek Tara dari belakang sambil Harry menekuk lututnya dalam air tersebut. Tara mengerang lagi, diiringi dengusan nafas Harry yang memburu, terus penis Harry menghujam dan menari didalam relung nikmatnya Tara dengan bebasnya, erangan dan raugan mereka berdua tak bisa dihindarkan dan akhirnya mereka mencapai orgasmenya yang kesekian kalinya dihari yang indah itu.

Mereka mandi bersama dan menguyur badan bersama, setelah puas mereka mengeringkan badan mereka dan beranjak ke tempat tidur. Melihat badan Tara yang masih telanjang itu, Harry ingin mencumbunya lagi, didorongnya Tara ketempat tidur, dan direbahkannya dia, dengan kaki masih menjutai dipinggir tempat tidur. Dimasukkannya lagi kontolnya walau belum tegang sepenuhnya, dan digoyang-goyangkannya terus menerus, sampai benar-benar keras, didalam liang vagina Tara, kemudian dihujamkannya kencang-kencang kontol buas itu pada memek Tara yang kenyal, sempit menghimpit dan berdenyut di dalam.
“Tara biarkan aku biadab, menuruti nafsu binatangku kepadamu, kaupun akan merasa bahagia dengan perlakuanku ini, katakan bila kau tak menyukainya.”
“Harry lakukanlah, kau wild dan aku menyenanginya, kuingin kontolmu nyelip disana terus dimanapun aku pergi, dari pagi sampai petang, akan ku pilin dan kupijit dengan denyutan memekku terus menerus Harry!”
“Harry aku bosan memakai dcku akan kuganti pakai kontolmu saja didalam sana untuk menutupi memekku”
Harry memejamkan matanya, sambil menjawab, “Heemm, Tara, kau benar-benar binaall!”

Tara, merasakan keindahkan making love dengan Harry, sukmanya menari, seiring deburan darah dan detup jantungnya setiap kali ia mendapatkan hujaman kontol Harry; ngilu, geli, seribu rasa ada dalam tubuhnya seakan ia melayang-layang dialangit yang biru tiada berbatas; hingga sampai saatnya terasa ia akan orgasme lagi.
“Harry aku siap, magma didalam akan segera meledak Harry, berikan spermamu didalam sana”
“Okey Tarra, aku dattaangg segera”
Ddan Creett, creet, creet, sempurnalah pergumulan mereka disiang hari itu. Maka robohlah Harry di badan Tara, dengan penuh peluh di badan dan kepalanya..
Mereka tertidur selama 1.5 jam, kemudian mereka membersihkan diri lagi, berpakaian kembali. Tara keluar dari Paviliun Harry dengan sebelumnya mengecup bibirnya mengucapkan selamat siang dan selamat kerja lagi.

Hari itu Tara pulang sore, karena merasa capek sekali seharian ngentot bersama Harry, dijalan dia membeli makanan kesukaan Nico dan anak-anak. Sesampai dirumah mereka makan malam dan main dengan anak-anak sebentar, dan setelah bercakap-cakap dengan Nico, dibahasnya semua masalah rumah tangga sehari itu, kemudian menyuruh anak-anak tidur. Sedang Nico menggandeng Tara masuk kedalam kamar dan meminta jatahnya yang dua hari tidak didapatkannya dari Tara.
Dalam hati Tara mengeluh, “Mati aku hari ini, sekian kali aku harus mengentot, memekku sudah terasa lelah sekali”, namun sekali lagi ini kewajiban, tak bisa ditolaknya permintaan Nico.
Segera, Nico melucutinya, dan merebahkan Tara di tempat tidurnya, secepat itu juga Nico menghunjam memek Tara, mulailah “mesin sex” tersebut menderu sejalan dengan derap birahi Nico.

Puas Nico, menghujam tanpa perasaan dari depan, dibalikkannya Tara supaya menungging, dan di hujamkannya kontol ngaceng Nico dari belakang, tak lama kemudaian dia sudah memuncratkan sperma birahinya di dalam rahim Tara, tanpa harus mengimbangi perasaan Tara, dalam usahanya mendaki birahinya untuk sama-sama menikmati cinta suami istri yang sedang memadu kasih, dengan cara yang terdalam, yakni ngentot.

Kembali kecewa dalam hati Tara, dan benar-benar kesal akan perilaku Nico, yang selalu sepihak dalam menunaikan tugasnya sebagai suami. Sedih sekali perasaan Tara, namun sekali lagi dia tidak bisa mengelak dan protes kepada Nico suaminya. Esoknya, Tara kembali bekerja, dia mendapat e-mail dari sebuah perusahaan Garment dari designer terbaik di negeri itu, dimana mereka akan mengadakan pameran dan peragaan dalam Hotelnya, kira-kira 10 hari mendatang. Tara segera menyiapkan segala sesuatunya untuk penyelenggaraan pameran dan peragaan pakaian elite ini.

Setiap sore Tara harus tinggal sampai agak larut, menyusun brochures dan undangan kepada orang-orang yang pantes diundang dan penyelenggaraannya. Harrypun harus juga mendorong dan mendukung usaha Tara dalam hal ini, maka kebersamaan mereka tak ada yang mencurigai. Sering Tara tinggal di Paviliunnya, dan mencari tanda tanggannya Harry; bila Harry bilang mau mengerjakannya di pavilliun, dan Tarapun harus datang, walau akhirnya mereka berdua selalu melampyaskan hasrat birahinya di paviliun itu.

Di suatu hari Sabtu, Tara mengatakan ke Nico bahwa dia akan masuk kerja, ada kerjaan yang tidak selesai. Namun setelah dia kerja sejam di kantornya, Harry memanggilnya. Setelah Tara berada di Paviliunnya, sambil minum teh bersama, Harry mengeluarkan amplop tak tertutup diberikannya kepada Tara.
“Tara, aku sangat mencintaimu, aku ingin juga sedikit memiliki cinta kepada anak-anakmu”
“Ini tanda cintaku pada anak-anakmu, karena aku tentunya tak bisa memeluk dan menggapainya, Depositkan uang ini untuk sekolah anak-anakmu”
“Jangan sekali-kali kau pakai, kau akan mendapatkan bagiannya sendiri dariku”

Terperanggah Tara akan kata-kata Harry, dan melelehlah air matanya.
“Harry, apa artinya semuanya ini, akankah kau meninggalkan aku?”
“Tara, Jangan kau berburuk sangka padaku, kau adalah gadis binalku selamanya.”
“Tak akan kutinggalkan dirimu akan selalu kuusahakan yang terbaik untukmu, untuk kita selalu saling memiliki”, maka diciumnya bibir Tara dan dihapusnya air matanya.
Kembali mereka berpangutan, dan diteruskan seharian ngentot berdua diruang tamu setelah minum teh, di dapur sambil memasak, karena Harry dan Tara senang memasak.

Mereka mempunyai tekad menjalani cinta dan kebahagian mereka, mereka tuai dalam “Rumah Besar” sambil melupakan kepedihan hidup dalam keluarganya masing-masing, sampai waktu dan umur memisahkan mereka.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-gelora-cinta-tara.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/birahi-gadis-gadis-pencinta-alam.html http://www.ceritadewasaplus.com/birahi-gadis-gadis-pencinta-alam.html#comments Sat, 28 Apr 2012 10:18:02 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1087

read more »]]>

Namaku Son, mahasiswa semester III, tinggiku 168 cm dan berat 58 kg.

Kejadian ini terjadi pada waktu aku melakukan pendakian gunung Lawu bersama teman-temanku. Lokasiku saat itu berada dekat base camp pertama kearah pendakian gunung Lawu. Aku sedang beristirahat sendirian disini. Tadi malam aku bersama teman-temanku 5 orang sudah melakukan pendakian menuju puncak Lawu dan telah berhasil mencapai puncak Lawu jam 6 pagi tadi.

Sekarang dalam perjalanan pulang, sementara teman-temanku sudah pada turun gunung semua. Kuputuskan untuk beristirahat sebentar di base camp pertama ini sambil mendirikan tenda, biar nanti agak sorean aku turun sendiri menuju pos kami yang dekat dengan rumah penduduk sekitar gunung Lawu ini.

Sore itu pukul 15.10 WIB, aku baru saja selesai menyeduh kopi instanku, ketika tiba-tiba dari arah semak belukar arah barat muncul 2 orang cewek dengan baju dan kondisi acak-acakan.

”Halo Mas?” sapa salah satu cewek itu padaku.

Cewek yang kutaksir berusia 18 tahun kelihatannya anak SMA, rambutnya pendek seperti aktris Agnes Monica. Sedangkan temannya yang satu berambut panjang sebahu mirip-mirip bintang sinetron Bunga lestari.

”Halo juga” jawabku menyembunyikan kekagetanku karena munculnya yang tiba-tiba, sempat terpikir ada setan atau penunggu gunung ini yang mau menggodaku.
”Loh, dari mana, kok berduaan aja?” tanyaku coba berbasa-basi.
”Iya, kita tadi misah dari rombongan, terus nyasar..” jawab cewek itu sambil duduk di depanku.
”Boleh minta minum gak? Kita haus sekali, sudah 5 jam kita jalan muter-muter gak ketemu jalan sama orang” lanjutnya kemudian.

Aneh juga pikirku, padahal perasaanku dari tadi pagi, sering sekali aku berpapasan dengan orang-orang atau rombongan pecinta alam.

”Ada juga air putih, tuh di botol atau mau kopi, sekalian aku buatin?” jawabku.

Cewek yang berbicara denganku tadi ini tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung menghampiri botol minum yang kutunjukan dan segera meminumnya dengan terburu-buru, sedangkan temannya yang satu lagi hanya memperhatikan dan kemudian meminta botol minumku dengan santun.

Kuperhatikan saja tingkah mereka, cewek-cewek muda ini cakep juga khas ABG kota, tapi saat itu mukanya kotor oleh debu dan keringat, kaosnya cuma ditutupi jaket kain, celana jeans dan sepatu olah raga warna hitam, ini sih mau piknik bukan mau naik gunung, abis gak bawa bekal atau peralatan sama sekali.

Mereka minum terus sampai puas kemudian tiduran disamping kompor parafin yang sedang kugunakan untuk memasak air.

”Mas namanya siapa?” tanya cewek yang berambut pendek.
”Namaku Adek sedangkan ini temenku Lina” katanya lagi.
”Namaku Son” jawabku pendek sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
”Ada makanan gak, Mas? Adek laper banget nih..” tanya Adek tanpa basa basi kepadaku yang sedang memperhatikannya.
”Ada juga mie kalo mau, sekalian aja masak mumpung airnya mendidih” jawabku.

Ternyata Adek tidak mau masak sendiri, dia terus berbaring dan minta tolong padaku untuk dimasakin mie.

”Wah kamu ini manja banget ya? Kenal aja barusan tapi udah nyuruh-nyuruh?” godaku pada Adek.
”Tolong deh Mas.. Adek capek banget” “Nanti gantian deh..” rayu Adek padaku.
”Gantian apa ya? Emang nanti kamu mau masak mie lagi? Bayarnya pake pijet aja ya?” godaku lebih lanjut.
”Maunya tuh.. tapi bereslah..” jawab Adek cuek sambil memejamkan matanya.

Kuperhatikan Lina, tapi dia ternyata diam saja, dan hanya mengangguk kecil ketika kutawarkan mie. Sementara aku masak mie instan, Adek kemudian bercerita kisahnya sampai dia dan Lina tersesat berduaan di tengah gunung Lawu ini. Adek berangkat bersama serombongan pecinta alam SMAnya jam 10 siang tadi. Rencananya malam nanti Adek dan rombongan akan mendaki gunung Lawu, tapi waktu menuju base camp kedua, perut Lina sakit, sehingga Adek menemani Lina mencari tempat untuk buang hajat, tetapi setelah selesai ternyata mereka tertinggal dan terpisah dari rombongan.

Setelah mienya siap segera saja pancinya kuberikan pada mereka untuk segera disantap. mMsih saja Adek protes kok tidak ada piringnya.

”Emangnya ini di warung” kataku cuek sambil tersenyum kearah Lina.

Lina hanya tersenyum tipis dengan bibir gemetar.

”kamu sakit ya Lin?” tanyaku.
”Nggak Mas hanya kedinginan” katanya pelan.
”Butuh kehangatan tuh Mas Son” potong Adek sekenanya.

Wah kaget juga aku mendengar celoteh Adek yang terkesan berani. Kuperhatikan keadaan sekitar yang sudah mulai berkabut dan langit gelap sekali. Waduh jangan-jangan sudah mau hujan. Segera saja kubereskan peralatanku.

”Masih pada kuat jalan nggak?” tanyaku pada 2 orang cewek ini.
”Nanti kalau disini hujan, bisa basah semua.. Mending kalo masih bisa jalan kita cepat turun agar nggak kehujanan” lanjutku.

Baru saja selesai aku bicara, tiba-tiba ada kilatan petir disusul dengan suaranya yang keras.

”Duer!!”

Disusul dengan tiupan angin yang kencang membawa rintik-rintik air hujan.

”Nah lo.. benerkan, telat deh kalo kita mau nekat turun sekarang” kataku sambil mematikan kompor parafinku.
”Ya udah, cepet masuk tenda sana, cuaca lagi nggak bersahabat nih, bakal hujan deres disini!” perintahku sambil membereskan peralatanku yang lain karena hujan sudah mulai turun.

Aku, Adek, dan Lina segera berdesak-desakan di dalam tenda kecil parasut, sementara hujan semakin deras disertai bunyi angin yang keras, segera aku memasang lampu kemah kecil yang biasa kubawa kalau aku naik gunung. Lumayanlah cahayanya cukup untuk menerangi di dalam tenda ini. Sementara kurasa hari menjelang maghrib, dan hujan masih saja turun walau tidak deras.

Adek dan Lina duduk meringkuk berdampingan dihadapanku sambil tangannya mendekap kaki.

”Kamu masuk aja ke sleeping bag itu, kelihatannya kok kamu kedinginan sekali” saranku pada Lina yang mulai menggigil kedinginan.
”Tapi copot sepatunya” lanjutku kemudian.

Lina diam saja, tapi menuruti saranku. Akhirnya Adek dan Lina tiduran berhimpitan di dalam sleeping bag sambil berpelukan.
Kuperhatikan saja tingkah mereka berdua,

”Hei kalian pada ngomong dong, jangan diem aja. Jadi serem nih suasananya” ucapku pada Adek dan Lina.
”Mas Son gak kedinginan..” tanya Lina tiba-tiba.
”Ya dingin to, siapa juga yang nggak kedinginan di cuaca seperti ini?” jawabku apa adanya.
”Kalian enak berduan bisa berpelukan gitu.. gak adil” kataku mencoba bercanda.
”Ya Mas Son sini to, kita berpelukan bertiga” kata Adek pendek, tak ada nada bercanda dalam nada omongannya.

”Waduh, gak salah denger nih?” pikirku.

Tak akan ada kesempatan kedua kalau hal ini kutanyakan lagi.

”Ya udah, kalian geser dong. aku mau di tengah biar hangat” kataku cuek sambil membuka resleting sleeping bagku.

Tidak sempat kuperhatikan ekspresi Lina atau Adek karena keadaannya yang remang-remang. Aku merebahkan diri diantara dua cewek yang baru kukenal ini, tak ada kata-kata atau komentar apapun, kulingkarkan kedua tanganku kepada Adek di sebelah kiri dan Lina disebelah kanan. Walau awalnya aku merasa canggung tapi setelah kunikmati dan merasakan dua tubuh hangat mendekapku dan akupun merasa nyaman sekali. Kepala Adek dan Lina bersamaan rebah di dadaku. Kurasakan deru nafas yang memburu dari keduanya dan dariku juga.

”Badan Mas Son hangat ya Lin?” kata Adek pelan seraya tangannya melingkar kebawah dadaku dan kakinya naik menimpa kakiku, barangkali Adek lagi membayangkan aku seperti gulingnya kalau dia pas lagi mau tidur.
”Iya tadi Lin takut sekali, sekarang dipeluk sama Mas Son, Lin jadi nggak takut lagi” jawab Lina pelan sambil mengusap kepalanya di dadaku.

Samar-samar tercium bau wangi dari rambutnya. Kemudian darahku terasa terkesiap saat lutut Adek entah disengaja atau tidak menyenggol burungku.

”Ehm..” aku hanya bisa berdehem kecil ketika kurasa hal itu ternyata mendorong birahiku naik.

Waduh, pikiranku langsung ngeres, rugi juga ya kalau kesempatan selangka seperti ini kusia-siakan, minimal harus ngelaba sesuatu nih..
Iseng-iseng tangan kiriku yang masih leluasa kuberanikan memeluk tubuh Adek mulai meraba-raba kebagian daerah buah dada Adek.

”Ehm..” Adek ternyata hanya berdehem pelan.

Akupun mulai berani meningkatkan aksiku lebih lanjut, aku mencoba meremas lembut susunya. Ternyata Adek hanya diam, dia hanya mendongakkan mukanya menatapku, sambil tangannya juga meraba-raba dan mengelus-elus dadaku. Kucoba mencium rambutnya lalu kukecup kening Adek, sementara tanganku terus meremas-remas susunya dengan tempo agak cepat.

”Aah.. Mas Son” suara Adek terdengar lirih.
”Ada apa Dek?” tanyaku pelan melihat Lina sudah mulai curiga dengan aktivitas yang kulakukan.
”Kamu masih kedinginan ya?” kataku lagi sambil menggeser tubuhnya agar lebih naik lagi.

Sementara tanganku jadi lebih leluasa menelusup ke dalam balik jaketnya dan membuka pengait BHnya yang masih tertutup dengan kaos luarnya. Adek hanya diam saja saat kulakukan hal itu, bahkan saat tanganku sudah sempurna merengkuh susunya dibalik BHnya. Dia menggigit kecil dadaku.

”Ah.. Mas Son..” katanya parau dengan tidak memperdulikan ekspresi Lina yang kebingungan.

Saat kupermainkan puting susunya, tiba-tiba Adek bangkit.

”Mas Son, Adek ma.. masih kedinginan” kata Adek dengan bergetar sambil menghadapkan mukanya ke wajahku sehingga jarak muka kami begitu dekat.

Kurasakan nafasnya memburu mengenai wajahku. Aku hanya bisa diam tercekat ketika Adek mulai menciumi mukaku dengan tidak beraturan, mungkin karena gelap hampir semuanya kena diciumnya. Kurasakan lagi kaki Adek sudah melakukan gerakan yang teratur menggesek-gesek ******ku naik dan turun. Tanpa sadar akupun membalas ciuman Adek, hingga akhirnya bibir kami bertaut. Dengan penuh nafsu Adek mengulum bibirku sambil lidahnya terjulur keluar mencari lidahku. Setelah didapatnya lidahku, dihisapnya dengan kuat sehingga aku sulit bernafas.

”Gila nih, cewek ABG sudah pintar french kiss” ucapku dalam hati.

Tanpa sadar tangan kananku mencengkram pundak Lina.

”Mas sakit Mas pundak Lina” kata Lina tiba-tiba yang menghentikan aktivitasku dengan Adek.
”Oh maaf Lin” jawabku dengan terkejut.

Kuperhatikan ekspresi Lina yang bengong melihatku dengan Adek. Tapi rasa tidak enakku segera hilang karena ternyata Adek tidak menghentikan aktivitasnya, dia tampaknya cuek aja dengan Lina, seakan menganggap Lina tidak ada. Adek terus menciumi telinga dan leherku.

”Mas Son, Adek jadi pengen.. Adek jadi BT, birahi tinggi” kata Adek lirih di telingaku sambil tangannya sudah bergerilya mengusap-usap ******ku yang masih tertutup rapat oleh celana jeansku.

”Waduh.. bagaimana ini” pikirku dalam hati.

Pikiranku serasa buntu. Kupandangi wajah Lina yang kaku melihat polah tingkah Adek yang terus mencumbuku. Lina pun bangkit dari rebahannya sambil beringsut menjauh dari badanku. Tak sempat ku berkata lagi, Adek yang sudah birahi tinggi tanpa ampun menyerangku dengan ganasnya, dicumbunya seluruh wajah dan leherku, malah kini posisinya menaiki tubuhku dan berusaha membuka bajuku.

Aku yakin walau suasananya remang-remang, Lina pasti melihat jelas semua aktivitas kami, bahkan dengan kaos dan BH Adek yang sudah tersingkap keatas dan tanganku yang sedang meremas-remas susu Adek, sekarang jelas terpampang di depan mata Lina. Kepalang tanggung, segera saja kurengkuh tubuh kecil Adek dan kuhisap puting payudaranya yang kecil dan berwarna merah kecoklatan itu secara bergantian dengan posisi adek diatas tubuhku. Pentil itu tampak sudah tegak mengacung karena pemiliknya sudah dilanda nafsu birahi yang sangat tinggi.

”Ah.. ah.. Mas Son..” gumam Adek lirih.
”Enak Mas, terus.. jangan dijilat terus, tapi disedot.. aah..” lanjutnya.

Aktivitas ini kuteruskan dengan mengelus dan meraba pantat Adek yang sejajar dengan ******ku. Kuremas pantat Adek sambil menggesek-gesekan ******ku pada daerah kemaluan Adek yang masih terbungkus dengan celana jeans yang dikenakannya. Kujilati semua yang ada di dada Adek, bahkan kugigit kecil puting mancung itu yang membuat Adek melenguh panjang.

”Aaahh.. sshh..”

Aksiku ternyata membuat Adek blingsatan, dikulumnya bibirku dan diteruskan ke leherku sambil berusaha membuka semua bajuku, nampaknya Adek mau balas dendam melancarkan aksi yang sama dengan yang kulakukan tadi.

Benar saja, begitu bajuku terbuka semua, Adek segera menghisap putingku dan menggigit-gigit putingku dengan ganas. Kurasakan sensasi yang luar biasa yang membuat ******ku semakin tersiksa karena tidak bisa bangun terhalang oleh celana jeansku. Saat itu bisa kuperhatikan Lina di samping kiriku yang sedang menatap nanar aktivitas kami, kulihat tangan kanannya dijepitkan pada dua belah pahanya, entah sedang terangsang atau sedang kedinginan.

Tanpa kata, kuberanikan tangan kananku mengelus paha Lina sambil berusaha meraih tangan Lina. Lina hanya diam saja, bahkan semakin terpaku saat melihat aksi Adek yang terus mencumbu bagian bawah pusarku. Aku yang merasa sangat geli hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.

”Aah.. Dek, jangan dijilat di daerah situ terus.. ge..li se..ka..li..” ujarku dengan nafas tersengal.

Tanpa sadar aku sudah meremas tangan Lina dan Linapun kurasa juga membalas remasan tanganku. Tapi kejadian demi kejadian berlangsung begitu cepat, Adek seolah sudah tidak peduli lagi, dia langsung membuka ikat pinggangku diteruskan dengan membuka resleting celana jeansku. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku saat itu, keperhatikan tingkah Adek sambil tanganku tetap memegang tangan Lina.

Saat resleting celanaku sudah terbuka, Adek meraih ******ku yang masih terbungkus celana dalamku, lalu dielusnya sebentar kemudian ditariknya sampai selutut celana jeansku berikut celana dalamku juga. Tanpa banyak kata, Adek hanya memperhatikan sebentar ******ku kemudian mencium dan menjilat permukaan ******ku.

”Aah..” aku hanya bisa mengeluarkan kata itu saat Adek mulai mengulum ******ku dan mengisapnya.
”Aargh .. Dek, enak sekali Dek” erangku.

”Gila nih anak, baru SMA sudah selihai ini, aku tak habis pikir” gumamku dalam hati.

Saat Adek masih asik berkaraoke dengan ******ku, kulihat sekilas ke Lina, ternyata dia sedang memperhatikanku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya. Kemudian seperti ada dorongan lain kutarik tangan Lina sehingga tubuhnya rebahan lagi disampingku.

”Lin, aku ingin cium bibir kamu” bisikku perlahan di telinga Lina.

Saat itu Lina diam saja sambil tetap menatapku. Kutarik wajahnya mendekat dengan wajahku dan segera kulumat bibir Lina yang mungil itu.

”Eemh ..” suara yang terdengar dari mulut Lina.

Tak ada perlawanan yang berarti dari Lina, Lina diam saja tak membalas ciumanku, entah karena pasrah atau tidak tahu caranya berciuman. Kurasakan getaran birahi yang luar biasa saat ******ku terus dipermainkan oleh Adek sementara konsentrasiku terarah pada Lina yang pasrah. Segera saja aku menciumi dada Lina yang masih terbungkus oleh bajunya sementara tanganku yang satu mengelus-elus selangkangan Lina.

”Aah.. ah..” Lina mulai bereaksi panas saat kusibak bajunya sehingga aku bisa menjilati permukaan susu yang masih tertutup oleh BHnya yang berwarna pink.
”Ya diajari tuh Lina, Mas Son.. sudah gede tapi belum bisa bercinta” kata Adek tiba-tiba.

Kaget juga aku mendengar teguran itu, kuperhatikan Adek tenyata dia sudah tidak menghisap ******ku lagi, tapi sedang membuka celana jeans lalu celana dalamnya sendiri.

”Adek masukkin ya Mas” kata Adek pelan tanpa menunggu persetujuanku sambil mengarahkan ******ku ke lubang kawinnya yang tampak olehku disuburi bebuluan jembut keriting.

Pelan tapi pasti Adek membimbing ******ku untuk masuk penuh ke dalam tempiknya. Kurasakan rasa hangat menjalar dari ******ku ke seluruh tubuhku. Tempik Adek yang sudah basah oleh lendir pelumasnya memudahkan ******ku masuk ke dalamnya.

”Ah.. burung Mas Son gede.. terasa penuh di tempik Adek” katanya mendesis sambil menggoyangkan pantatnya dan memompanya naik turun.
”Ah.. ash.. ah.. enak sekali Mas Son” kata Adek parau sambil mencumbu dadaku lagi.

Aku yang menerima perlakuan demikian tentu saja tidak terima, kuangkat badan Adek dan mendekatkan teteknya ke mulutku sambil terus memompa dari bawah mengimbangi goyangan Adek.

”Huuf.. uh..uh.. aah.. terus Mas” erang Adek memelas.

Kujilati terus dan mengisap puting Adek bergantian kiri dan kanan, sementara Adek menerima perlakuanku seperti kesetanan.

”Ayo Mas.. Son.. terus.. ayo .. teruuss.. Adek mau dapet ni..” katanya bernafsu.

Tak beberapa lama kemudian, dengan kasar Adek mencium dan mengulum bibirku.

”Eeemhp.. aaah..”

Dan kemudian Adek terkulai lemas di dadaku, sementara aku yang masih memompa dari bawah hanya didiamkan Adek tanpa perlawanan lagi.

”Aaa.. berhenti dulu Mas Son, istirahat sebentar, Adek sudah dapat Mas Son” kata Adek lirih mendekapku dengan posisinya masih di atasku dan ******ku masih di dalam liang senggamanyanya.

Kurasakan detak jantung Adek yang bergemuruh di dadaku dan nafasnya yang ngos-ngosan mengenai leherku.

”Makasih ya Mas Son, enak sekali rasanya” kata Adek pelan.

Aku yang belum mendapatkan orgasme, hanya bisa melirik ke arah Lina yang saat itu ada di sampingku, ternyata tangannya sedang meremas-remas teteknya sendiri dibalik BH berendanya yang sudah terbuka. Segera saja kutarik Lina mendekatiku dan menyuruhnya agar ia berposisi push up mendekatkan teteknya kemulutku.

”Aah .. Mas Son..” kata Lina pelan saat tetek kanannya kuhisap.

Saat itu Adek bangkit dari posisi semula dan mencabut tempiknya dari ******ku, kemudian berbaring di sisi kiriku sambil merapikan kaosnya. Aku yang kini leluasa berusaha bangkit sambil mencopot celana jeansku yang masih menempel di lututku. Kuterus meremas-remas tetek Lina sambil mengulum bibir Lina yang kini posisinya berbaring di bawahku. Berbeda dengan yang tadi, kini Lina mulai agresif membalas kulumanku bahkan bibirnya menjulur-julur minta diisap.

Kubimbing tangan Lina untuk memegang ******ku yang masih tegang dan basah karena cairan kawin dari tempik Adek. Semula seakan ragu, tapi kini Lina mengenggam erat ******ku dan seperti sudah alami Lina mengocok ******ku waktu lidahku bermain di bawah telinganya dan lehernya.

”Aah .. Mas Son.. geli ..” hanya itu komentar dari bibir Lina yang seksi itu.

Perlahan lidahku mulai bermain di seluruh dada Lina, dari leher sampai gundukan teteknya kujilati semua, dan kugigit kecil pentil susu Lina yang berwarna kemerahan dan sudah tampak tegang itu.

”Aargh.. aah ..” Lina mulai menggelinjang.

Lina diam saja waktu kubuka ikat pinggangnya dan kubuka kancing celana jeansnya. Kuperhatikan Lina masih memejamkan matanya dan melenguh terus saat kucumbu bagian pentilnya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat ******ku, dan tangan kirinya menekan-nekan kepalaku, sesekali menjambak rambutku. Kemudian tanganku menelusup ke dalam balik celana dalam Lina waktu kancing celana jeans Lina sudah terbuka, kurasakan sambutan hangat bulu-bulu jembut yang masih jarang diatas tempiknya. Kuelus-elus sebentar permukaan liang kawinnya, lalu jari-jariku tak ketinggalan bermain menekan-nekan tempiknya yang sudah basah oleh lendir kawinnya.

”Ah.. Mas.. Son .. aah” suara Lina semakin terdengar parau.

Aku segera mengalihkan cumbuan ke daerah perut Lina dan menurun menuju tempiknya. Kubuka celana dalam berenda yang juga berwarna pink itu tanpa melihat reaksi Lina dan segera menciumi permukaan tempik Lina yang masih ditumbuhi bulu-bulu jembut halus yang jarang-jarang.

”Ah.. jangan Mas Son .. ah..” kata Lina mendesis.

Tentu saja kubiarkan sikap yang menolak tapi mau itu. Lidahku sudah mencapai permukaan tempiknya lalu kujilati yang segera membuatnya menggelinjang dan dengan mudah aku menurunkan celana jeansnya sampai sebatas pahanya. Kujilati terus tempik Lina sampai kedalam-dalam sehingga pertahanan Lina akhirnya jebol juga, pahanya semula yang mengapit kepalaku mulai mengendur dan mulai terbuka mengangkang, sehingga akupun leluasa mencopot seluruh celana jeans dan celana dalamnya.

”Aah .. argh ..” desis Lina pelan.

Posisiku saat itu dengan Lina seperti posisi 69, walau Lina tidak mengoral ******ku aku tidak peduli tetap menjilati tempiknya dengan ganas dan tanpa ampun.

”Aah.. Mas .. truss.. ahhh .. enaak.. Mas .. aah ..” teriak Lina tidak jelas, sampai akhirnya pahanya menjepit erat kepalaku dan ******ku terasa sakit digenggam erat oleh Lina.
”Aaah.. Mas ..” teriakan terakhir Lina bersamaan dengan sedikit cairan birahi yang menyemprot dari dalam tempiknya kedalam mulutku.

Rupanya Lina sudah mendapat orgasme pertamanya walau dengan lidahku.

”Aah.. enak sekali.. Mas Son .. sudah ya Mas Son..” kata Lina pelan sambil tergolek lemah dan pasrah.

Akupun menghentikan aktivitasku dan mengambil nafas dulu karena mulutku jadi pegal-pegal kelamaan asyik mengoral tempiknya. Aku berbaring di tengah dua cewek ini dengan posisi yang terbalik dengan mereka, kepalaku berada diantara kaki-kaki mereka.
Baru sebentar aku mengambil nafas, kurasakan ******ku sudah ada yang memegang lagi.

”Mas main sama Adek lagi ya? Adek jadi nafsu ngeliat Mas Son main sama Lina” kata Adek tiba-tiba yang sudah bangkit dan kini tangannya sedang memegang ******ku.

Aku tak sempat menjawab karena Adek sudah mengulum ******ku lagi, bahkan kini pantatnya beralih ke wajahku, menyorongkan tempiknya kemulutku untuk minta dioral juga seperti tadi aku dengan Lina. Posisiku dengan Adek kini 69 betulan tapi dengan posisiku yang di bawah. Kujilati tempik Adek dengan lidah yang menusuk-nusuk kedalamnya.

”Eeemph .. emmph ..” Adek tak bisa mendesah bebas karena mulutnya penuh dengan ******ku.

Lama kami bermain dengan posisi itu, sampai akhirnya kuhentikan karena aku tidak tahan dengan isapan Adek yang luar biasa itu dan kalau dibiarkan terus akibatnya ******ku bisa muntah-muntah di dalam mulut Adek. Aku bimbing agar Adek berbaring di samping Lina sedangkan aku di atasnya mulai mencumbu lagi dari teteknya dengan menggesek-gesekan ******ku ke permukaan tempiknya yang dipenuhi oleh bulu-bulu jembut yang berwarna hitam pekat itu. Adek seperti mengerti, kemudian membimbing ******ku untuk masuk ke dalam lubang kawinnya. Akupun bangkit sambil mengarahkan ******ku siap untuk menghujam lubang senggama Adek. Pelan tapi pasti kumasukan ******ku mulai dari kepala hingga semuanya masuk ke dalam tempiknya.

”Aaah .. Mas Son ..” desis Adek sambil menggoyang pantatnya.

Kurasakan seret sekali tempiknya, beda sekali dengan yang tadi gesekan itu terasa nikmat menjalar di setiap centi dari ******ku dengan sesekali terasa denyutan pelan dari liang kemaluannya.

”Mas yang keras dong goyangnya.. terasa sekali mentok” kata Adek sambil melingkarkan tangannya ke leherku.

Akupun jadi semangat memompa tubuh ranum yang mungil ini. Di udara dingin seperti ini terasa hangat tapi tidak berkeringat.

”Aah.. ah.. terus Mas .. terusss.. ah.. ah ..” lanjutnya keenakan.

Mungkin sekitar 5 menit aku menggoyang Adek, sampai kemudian aku tidak tahan melihat teteknya yang bergoyang indah dengan puting kecil menantang. Akupun mengulum puting Adek sambil meremas-remasnya dengan gemas, sementara pompaan ******ku telah diimbangi goyangan Adek yang bisa kupastikan goyangan ngebor ala Inul tidak ada apa-apanya.

”Ma.. Mas .. Adek mau dapet laggii.. bareeng yaa.. ah.. ah..” desis Adek histeris.

Aku jadi terangsang sekali mendengar lenguhan Adek yang merangsang itu, kuteruskan aksiku dengan menjilat dan mencium dada, ketiak, leher, telinga dan pipi Adek.

”Aaarg ..” erangnya keras.

Adek mengulum bibirku sambil memejamkan matanya. Nampaknya Adek telah mendapat orgasmenya yang kedua, sementara tubuhnya menegang sebentar dan kemudian melemas walau aku masih memompanya. Aku segera mencabut ******ku dan mengocoknya sebentar untuk menumpahkan pejuku ke perut Adek.

”Crut.. crut..”

Pejuku keluar banyak membasahi perut Adek dan mengenai teteknya.

”Aaah..” akupun melenguh puas saat hasratku telah tersalurkan.

Adek mengusap-usap pejuku di perutnya kemudian membersihkan dengan tisu yang diambil dari celananya, sedangkan Lina mendekat dan melihat aksi Adek, kemudian membantu membersihkan pejuku.

”Baunya seperti santan ya?” komentar Lina sambil mencium tisunya yang penuh dengan pejuku.
”Ya udah. Semua dibereskan dulu” kataku memberi perintah kepada dua cewek yang baru saja bermain cinta denganku ini.
”Kita istirahat dulu ya sambil tiduran, nanti kalo sudah nggak hujan kita putuskan mau turun ke bawah atau bermalam disini ya” lanjutku kemudian.

Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan dua cewek yang mendekapku. Entah mimpi apa aku semalam bisa terjebak dalam situasi seperti ini.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/birahi-gadis-gadis-pencinta-alam.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hari-hari-penuh-keindahan.html http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hari-hari-penuh-keindahan.html#comments Sat, 28 Apr 2012 10:03:22 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1117

read more »]]>

Panas cerita “Hari-Hari Penuh Keindahan”
Namaku Kundalini. Sebenarnya aku malas menceritakan pengalamanku ini kepada orang lain. Apalagi aku harus mengetiknya terlebih dahulu. Tapi tidak apalah, demi pembaca situs 17Tahun.com tercinta ini.

Seperti tadi sudah kunyatakan, namaku Kundalini, cewek 25 tahun, 41 kg, 34B, 27?. Aku tinggal di kota kecil di Jawa Tengah. Setelah menyelesaikan studiku di perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Aku tidak mau terlalu spesifik. Kalaupun ada yang mau menghubungiku, e-mail saja kepadaku.

Aku termasuk orang yang bisa dibilang maniak dalam hubungan seksual. Aku pun mampu bertahan lama dalam menghadapi lawan jenisku. Untungnya aku tergolong pendiam. Sehingga orang tetap mengenalku sebagai Kundalini yang pendiam dan memang aku minder dan kurang banyak berteman. Selama ini aku menjalin hubungan dengan temanku yang bernama Prast. Prast tidak terlalu good looking, namun bisa dikatakan point tujuh, berkulit gelap, tinggi kurus. Bulu matanya kata teman-temanku indah seperti bulu mata cewek. Namun ada sesuatu yang lebih dari sekedar tampilan fisik. Setelah membaca ceritaku, mungkin anda akan paham apa yang dinamakan pria idaman, bagaimana definisinya. Mungkin ini pulalah yang membuat dia banyak mempunyai teman wanita, yang terus terang terkadang (meski jarang) aku agak sedikit cemburu. Menurut ceritanya, dia hanya telah pacaran dengan beberapa cewek, namun kurasa pasti lebih dari puluhan. Dengan dia pulalah aku pertama kali mengenal hubungan seks dan ternyata aku sangat menyukainya. Kami melakukannya hampir setiap malam.

Peristiwa ini berawal 3 tahun yang lalu ketika aku masih kuliah. Waktu itu aku ke rumah Prast. Seperti biasa kami nonton film di rumahnya. Kebetulan waktu itu Prast punya film bagus yang judulnya Powder. Kami rebahan sambil ngobrol. Sementara Prast asyik merokok. Selama ini, hubunganku hanya sebatas snogging, necking atau petting saja. Tidak pernah intercourse. Kalaupun ada yang harus disebutkan lagi, paling heavy petting saja. Namun siang itu terjadi sesuatu yang tidak kami perkirakan sebelumnya. Entah siapa yang memulai, aku atau Prast. Tapi kami saling berpagutan. Sementara tangan Prast masuk ke hem yang kukenakan dan meremas-remas payudaraku.

Satu yang kusukai dari Prast adalah dia selalu membuka bra yang kukenakan tanpa menggunakan tangan, tetapi menggunakan gigi. Itupun tanpa perlu melepas baju yang kupakai. Dia biasanya menggigit hook braku hingga lepas. Aku menyukainya ketika giginya terasa menyentuh punggungku.

Tangan Prast sekarang tidak lagi cuma bermain di payudaraku, namun sudah mulai turun membelai pusarku. Bibirnya pun meniup-niup pusarku. Geli rasanya, namun sangat merangsang. Lidahnya menjilati bulu-bulu yang ada di atas kemaluanku. Bolak-balik dari pusar ke atas kemaluanku. Aku paling suka jika Prast melakukan hal ini. Terutama waktu lidahnya menari menjilati sisi atas, kiri dan kanan dekat kemaluanku. Nikmatnya tidak terkira. Akupun mulai meremas-remas batang kejantanan Prast. Dia sangat menyukainya. Tanganku merogoh masuk ke dalam jeans-nya. Tak puas dengan hanya merogoh, kubuka dan kulepaskan celananya. Celana dalamnya kelihatan penuh dan ujung kemaluannya nongol dari celana dalamnya. Aku tertawa kecil melihatnya, kusentuh dengan menggunakan ujung jariku, Prast menggeliat kegelian dan cekikian. Prast menindihku dan kami bergumul di atas karpet.

Sejauh ini kami hanya bermain sperti ini. Hanya menggesek-gesekkan kemaluan kami tanpa melakukan intercourse. Namun siang itu rupanya lain. Aku meraih celana dalam Prast dan melepasnya, dan Prast pun berbuat demikian padaku. Celana dalamku lepas sudah, sementara baju masih kupakai. Prast sendiri pun demikian. Praktis pusar ke bawah, kami bebas.

Kembali Prast menindihku dibarengi dengan ciuman-ciuman yang mesra. Badanku terasa panas bergelora. Kurasakan badan Prast hangat menindihku. Batang kemaluan Prast menggesek-gesek di belahan kemaluanku. Prast mencoba menusukkannya. Aku pun, jujur saja sudah ingin melakukan persetubuhan, namun aku takut hamil. Tetapi akhirnya Prast membujukku untuk sedikit menggesekkan kepala kemaluannya ke lubang kewanitaanku. Aku menurut saja. Kepala kemaluannya terasa hangat menyentuh klitorisku. Nikmat kurasakan kegelian yang memuncak ketika kepala kemaluan itu menyentuh lembut bibir kewanitaanku. Kami tidak tahan lagi akan sensasi yang tercipta oleh gesekan itu.

Tanpa kusadari, gerakan tubuhku rupanya membuat kepala kemaluan Prast tidak saja menyentuh klitorisku, namun kini telah penetrasi lebih jauh masuk ke lubang kemaluanku. Aku kaget, berusaha menolak. Namun, dorongan untuk mencoba lebih jauh akibat kenikmatan itu telah membutakanku. Kupikir sebentar lagi saja, ah. Tanggung. Aku kaget setengah mati ketika kutarik kemaluan Prast terlihat darah di kepala kemaluannya. Kupikir ini pasti darah keperawananku. Aku menangis, menyesal. Kenapa tidak berhenti waktu kemaluan Prast hanya menyentuh klitorisku. Kembali aku menangis dan menangis menyesalinya. Prast mencoba meredakan tangisku. Namun aku tetap merasa tidak tenang. Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja ke kost-ku.

Seminggu setelah kejadian itu, aku berpikir bahwa aku sudah tidak perawan lagi. Kenapa juga waktu itu aku berhenti sebelum mengalami kenikmatan. Itu juga tidak akan mengubah keadaan. Menangis pun percuma karena kenyataan akan tetap sama. Akhirnya waktu malam itu Prast datang, aku berhubungan badan dengannya. Lagipula aku ingin menikmatinya. Aku tidak mau membohongi diri sendiri. Kami melakukannya di kursi tamu di teras kost-ku yang gelap.

Aku memang lebih suka memakai rok dibanding dengan celana kalau berada di rumah. Karena itulah, mudah saja bagiku untuk bersenggama di teras. Terlebih lagi, kalau di kost-ku, apalagi kalau sedang kencan dengan Prast, aku memang jarang memakai celana dalam. Aku lebih senang yang praktis seperti ini. Meskipun selama ini kami hanya heavy petting saja atau kubiarkan Prast meraba-raba kemaluanku. Namun malam ini aku memutuskan untuk melakukannya karena aku pun sudah tidak perawan, kenapa tidak aku nikmati saja hal ini.

Prast memang ahli dalam foreplay, pandai sekali dia merangsangku sebelum akhirnya kami bersenggama. Rambutku yang panjang sepinggang dinaikkannya dan diciuminya punggung leherku. Turun sampai ke hook bra-ku. Digigitnya pelan dan dilepaskannya dengan mulut. Bagian inilah yang paling kusuka. Gigitannya terasa sangat mesra di punggungku, diangkatnya kaosku dan tangannya terasa mesra membelai punggungku. Aku benci dengan orang yang terburu-buru meremas payudara. Mereka tidak bisa menghargai keindahan seni bercinta.

Aku duduk di atas Prast. Aku merasakan kemaluannya sudah mendesak tegang. Kuraihkan tanganku ke belakang dan menyusup masuk ke celananya. Aku sudah hafal ini. Agak susah memang, namun terasa asyik sekali ketika ujung jariku menyentuh kepala kemaluannya. Perlahan diangkatnya tubuhku. Secara reflek akupun mengangkat rokku sedikit. Dalam posisiku agak sulit untuk melepas kancing celana dan menurunkan ritsluitingnya. Prast membantuku. Kemaluannya kini tegak tinggi. Pernah aku mencoba mengukur kemaluan Prast, panjangnya sekitar 27 senti. Entah itu besar atau hanya sedang-sedang saja. Tetapi indah. Ototnya tampak menggelembung di keremangan terasku yang terpisah tirai bambu dengan jalan raya yang ada di atas kost-ku.

Aku segera menurunkan tubuh sembari membimbing kemaluan Prast ke liang kewanitaanku. Aku turun perlahan, berusaha menikmati segala keindahan yang tercipta dari fantasi cinta kami. Kurasakan agak sakit ketika pertama kali kemaluannya menyeruak masuk ke lubang surgaku. Untungnya kemaluanku sudah basah akibat foreplay yang dilakukannya, sehingga tidak terlalu perih waktu batang kejantanannya penetrasi masuk ke liang senggamaku. Uuugh, nikmatnya selangit. Kurasakan tubuhku memanas dan semakin panas serta melambung tinggi.

Pelan-pelan aku mulai menaik-turunkan tubuhku di atas Prast. Prast pun berusaha mengimbanginya dengan menusukkan batang kemaluannya dari bawah. Sodokan Prast terasa menyakitkan, tetapi juga nikmat. Aku mencoba menurunkan tubuhku secara penuh agar kemaluan Prast masuk semua ke dalam liang senggamaku, namun Prast bilang itu menyakitkan biji pelirnya. Kupikir benar juga. Akhirnya aku memintanya untuk menyodokkan kemaluannya keras-keras dan seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku, karena kupikir dialah yang tahu persis apakah itu menyakitkan bijinya atau tidak.

Ternyata kenikmatan yang tercipta akibat sodokan itu sangat hebat. Aku menggeliat-geliat, sementara Prast tetap mencoba menahan tubuhku agar tidak terlalu banyak bergerak dan jatuh ke tubuhnya. Aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dengan hebat. Gejolak yang kurasa ketika kami hanya melakukan gesekan kemaluan kalah jauh bila dibandingkan dengan kenikmatan yang tercipta waktu batang kejantanan Prast penetrasi ke lubang kemaluanku. Kalau saja aku tahu kenikmatan yang tercipta sedahsyat ini, pasti aku sudah melakukannya dari dulu-dulu. Lagian apa sih enaknya mempertahankan keperawanan.

Kurasakan batang kejantanan Prast menyodok-nyodok dengan kasar. Aku mencoba bergerak memutar, karena gatalnya kemaluanku akibat sodokannya. Tanpa kusadari, ternyata rotasi tubuhku semakin memperhebat kenikmatan yang kurasa. Selama kurang lebih 15 menit batang kejantanan Prast serasa bagai poros yang mengaduk-aduk isi kemaluanku. Prast pun meracau tidak karuan. Aku semakin menggila akibat kenikmatan itu. Putaranku makin kupercepat, searah jarum dan berbalik melawan jarum jam berbarengan dengan gerakan sodokan Prast. Wow, nikmatnya, bung. Anda harus mencoba hal ini dengan pasangan anda.

Prast memintaku untuk menghentikan sebentar permainan gilaku ini. Aku berpikir, aku memang baru sekali ini melakukannya, tetapi memang bercinta hal yang alamiah. Tanpa belajar pun aku rupanya bisa melakukannya. Sejenak kami terengah-engah dan terperangah oleh permainan kami sendiri. Aku baru tahu, permainan gaya inilah yang nantinya dikatakan Prast sebagai gaya anjing (doggy style). Hanya saja kami melakukannya tidak dengan posisi tubuhku bersandar ke tembok/kursi atau berdiri empat kaki seperti anjing dan ditusuk dari belakang. Kami melakukannya dengan dengan cara duduk, yang ternyata nantinya kuketahui memiliki kenikmatan yang sama namun tidak menyakitkan seperti jika dilakukan dengan posisi tubuh bersandar ke tembok/kursi atau apapun.

Kami hampir tidak percaya kami bisa bercinta sehebat itu. Prast dan aku terdiam sejenak, mencoba mengatur nafas dan menenangkan diri akibat sensasi yang begitu intens dari persenggamaan itu. Kalaupun kami mengetahuinya, kami hanya menontonnya dari film-film yang memang sering kami tonton. Namun mengalaminya sendiri adalah satu hal lain yang benar-benar berbeda. Tidak heran kalau banyak orang yang gemar kawin kalau memang kenikmatannya seperti ini. Tidak heran pula kalau banyak kasus seks pranikah, karena memang enak.

Setelah sekitar 5 menit menenangkan diri dan mengatur nafas, Prast menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Kemudian dia menghadap ke arahku dan menusukkan kembali batang kejantanannya ke kemaluanku. Agak susah memang, karena teras kost-ku gelap. Kubimbing batang kejantanannya ke mulut kemaluanku dan secara reflek Prast langsung menusukkan kemaluannya. Oooh, nikmatnya waktu kurasakan kemaluan Prast menggaruk dinding dalam lubang kemaluanku. Kini aku berada di bawah, dengan posisi duduk mengangkang membuka kedua pahaku lebar-lebar. Prast kembali menusukkan dan menggoyang seperti yang kulakukan waktu aku berada di atasnya. Hujaman itu terasa menggelitik dinding kemaluanku yang semakin gatal. Basah makin kurasakan kemaluanku oleh cairanku yang keluar melumasi bagian dalam.

Aku turut mencoba menggoyangkan pantatku, namun agak sulit, karena aku di posisi bawah. Akhirnya aku mencoba mengimbanginya dengan menggoyang ke kiri kanan saja. Tangan Prast yang tadinya bertumpu pada pegangan kursi panjang kuangkat agar meremas payudaraku. Aku sudah tidak tahan lagi. Sensasi ini sudah demikian menggila. Pundak Prast kugigit. Kepalaku terhentak ke kanan dan kiri. Kukibas-kibaskan rambut panjangku. Tak puas, kujambak rambutku sendiri akibat kenikmatan yang kurasa.

Sudah setengah jam lebih kami bersetubuh, namun belum tampak tanda-tanda Prast akan mengakhirinya. Sementara aku sudah gilanya menikmati setiap tusukan batang kejantanannya yang disertai goyangan memutar. Kurasakan bagai tombak yang menghujam. Mengaduk-aduk seluruh syaraf nikmat yang ada dalam kemaluanku. Kalau tidak takut ketahuan oleh teman sekost, mungkin aku sudah berteriak-teriak, mengekspresikan segala kenikmatan yang kurasa.

Tidak tahan lagi aku mencapai puncak setelah sekitar 45 menit bersenggama. Entahlah, apakah itu tergolong lama atau tidak, namun kenikmatan yang kurasa tak mampu kutahan lagi. Dahsyat sekali waktu aku mencapai orgasme senggama pertamaku ini (kalau orgasme akibat gesekan saja sih aku sudah sering mengalaminya, itu pun setelah satu jam atau lebih). Basah kurasakan sampai pahaku, mungkin akibat cairanku yang meluap-luap. Aku menjambak rambutku sendiri. Kedua pahaku kurapatkan, kakiku mencengkeram pinggangnya dan menariknya, memaksanya untuk memasukkan batang kejantanannya secara penuh ke liang senggamaku. Nikmat sekali mencapai orgasme. Prast berbisik lembut agar aku menahan dan tetap bercinta. Anggukanku dibalasnya dengan tusukan tajam yang makin cepat. Kubiarkan saja dia mengobrak-abrik dinding kemaluanku. Pasrah, namun tetap berusaha mengimbangi dan menikmati sembari berharap semoga dia tidak langsung keluar.

Benar saja, baru setelah dua puluh menit aku orgasme, Prast baru mencapai orgasmenya. Dia meracau tidak karuan dan menggenggam pundakku kencang-kencang. Sakit, tapi kucoba menahannya dengan mengatupkan gigiku karena aku tahu Prast memerlukannya. Segera dicabutnya batang kemaluannya dari kemaluanku dan langsung dikocoknya di depanku. Spermanya muncrat dan ditumpahkannya ke payudaraku. Ada sebagian yang mengenai wajahku dan tembok di belakangku. Oooh, nikmatnya, waktu kurasakan hangat spermanya menyentuh kulit payudara dan wajahku. Langsung kuusap. Aku tidak mau begitu saja melewatkan kehangatan spermanya di atas puting payudaraku. Diciuminya aku, kubalas dengan pagutan mesra. Nikmat dan mesra sekali kami malam itu. Meskipun pemula, kini aku tahu teknik untuk menghindari kehamilan dengan mengeluarkan batang kejantanannya dari liang kewanitaanku dan mengocoknya untuk membantu Prast orgasme.

Pengalaman pertama bersenggama inilah yang mungkin akhirnya mempengaruhiku menjadi cewek yang bisa dikatakan gila seks. Bayangkan, kami melakukan ini dua sampai tiga kali setiap malam (kecuali kalau aku sedang menstruasi, tentunya) dengan berbagai gaya yang berbeda. Prast memang pandai dalam membuatku jadi pecinta yang gila, dan yang aku herankan, aku yang pendiam ini terbawa permainannya. Lebih-lebih lagi, kata Prast, dia kadang-kadang sampai heran dan kewalahan mengatasi kemampuanku bertahan dalam bermain seks selama lebih dari satu atau dua jam.

Pernah pada suatu hari, ketika itu kami sedang KKN di desa yang memang terpencil, kebetulan kami ditempatkan di desa yang sama, kami minta ijin untuk pulang ke kota, perguruan tinggi kami untuk mengurus proposal dana KKN. Kost-ku sepi karena KKN di universitasku memang dilaksanakan setiap musim liburan, akhirnya Prast memutuskan untuk menginap di tempatku. Kami bercinta seharian, baik di kamarku, ruang tamu, dapur ataupun kamar mandi. Selama tiga hari kami nikmati kebebasan itu dengan bercinta. Berbagai gaya kami coba karena gairah yang kami pendam hampir sebulan lebih di desa KKN tidak mampu melakukan percintaan.

Siang itu sebelum kami kembali ke desa KKN, kami bercinta sampai menjelang petang. Prast dan aku rebahan di ruang tamu sambil nonton TV. Namun berakhir dengan bergumul, saling mencium. Rangsangan yang dilakukannya sangatlah efektif. Kami yang waktu itu baru saja selesai mandi setelah bercinta, kini mulai terlibat foreplay lagi, yang tampaknya akan disusul dengan percintaan. Satu yang kucinta dari cowok ini adalah kepandaiannya melambungkan emosiku naik turun. Kadang dia bergerak cepat tanpa menghilangkan kemesraan, lalu menurunkan temponya begitu saja seolah tidak niat bercinta dan menungguku untuk aktif memulai percintaan.

Begitu juga siang itu, setelah merangsangku habis-habisan, tiba-tiba dia berhenti diam mematung. Aku yang sadar akan hal itu segera bertindak aktif sebelum suasana menjadi dingin. Aku harus menciumnya dan melepas celananya tanpa menggunakan tangan. Fantasi kami memang cukup liar, kugigit lepas kancing bajunya satu persatu, kuciumi seluruh dada dan perutnya. Lidahku menari menyusuri sampai ke pusar dan kususul dengan kancing celananya. Agak sulit memang, karena tanganku kubiarkan saja diremas oleh Prast. Setelah kancing celana lepas, barulah celana itu kulepaskan dan baju Prast kulepas.

Prast menyuruhku untuk mengambil bantal dari kamarku. Aku heran, gaya apa lagi yang akan kami lakukan, namun kuturuti saja. Aku disuruhnya untuk rebah dan ternyata bantal itu ia pakai untuk mengganjal pantatku. Akibatnya, kemaluanku kurasakan mengembang dan terbuka lebar. Aku heran, tahu darimana dia tentang hal ini. Perlahan, diciuminya pusar dan daerah sekitar kiri dan kanan kemaluanku. Rasanya sungguh menggelitik. Aku gemas dan meraih kepalanya lalu mengarahkannya ke liang senggamaku. Setelah puas menciumi lalu dia mulai menjilati bagian dalam kemaluanku. Dia menyuruhku untuk tidak memakai tanganku. Uuugh, rasanya ingin rasanya aku menempeleng dia akibat siksaan kenikmatan yang amat sangat. Aku tidak mampu berbuat apa-apa. Tanganku hanya mampu mengepal dan mengejang di samping tubuhku, sementara dia dengan bebasnya menjilati klitorisku dan bibir kewanitaanku yang terbuka lebar. Dia tiup lubang senggamaku dengan mesranya, dingin. Kembali aku terbuai, karena tiupannya disusulnya dengan gigitan pada bibir kemaluanku yang kurasakan makin gatal dan panas.

Akhirnya saat yang kunanti tiba juga. Dia mulai bangkit dan dengan mudahnya memasukkan batang kejantanannya ke lubang senggamaku yang terbuka lebar menganga. Tanganku mengangkat ke atas sementara Prast bertumpu pada kedua tanganku. Teriknya siang itu jadi bertambah panas dengan percintaan kami berdua. Kami terdiam beberapa saat lamanya tepat setelah Prast melakukan penetrasi. Aku hapal dia, Prast sedang berusaha menikmati kehangatan bagian dalam kemaluanku. Memang, waktu kami berhenti dan diam, aku bisa merasakan denyutan batang kejantanan Prast dalam lubang senggamaku. Sementara lubangku pun juga berdenyut-denyut memijit batang kemaluannya. Keadaan diam itu justru menambah kenikmatan. Prast memang pandai dalam bercinta. Dia pulalah yang mengajariku cara untuk menggerakkan otot kemaluanku, terutama bibir dan dinding kemaluanku, sehingga aku bisa memijit batangannya tanpa harus melakukan gerakan apapun. Inilah yang kami lakukan siang itu. Mencoba menikmati dalam keadaan diam dengan merasakan denyutan batang kemaluan Prast dan pijitan liang senggamaku.

Setelah beberapa lama, Prast akhirnya bergerak juga naik turun menusukkan batangannya ke lubang senggamaku. Aku secara naluriah mengimbanginya dengan menggoyangkan pantatku. Ternyata bantal yang di taruhnya di pantatku sangat menolong. Biasanya agak susah untuk mengoyangkan pantatku akibat tekanan Prast, namun kali ini gampang saja, karena relatif lebih licin. Hampir lebih dari satu jam kami melakukannya sebelum akhirnya Prast mengangkatku untuk berganti gaya.

Tanpa melepas senjatanya dari liang kemaluanku, Prast mengangkat tubuhku yang relatif kecil (beratku 41 kg). Agak susah memang, tapi dia memang pintar. Waktu dia mencoba mengangkat tubuhku, otomatis aku memeluknya erat dan ini membuat batang kemaluannya tenggelam lebih dalam ke lubang senggamaku. Sementara itu, waktu tubuhnya telah tegak dan aku menggelayut memeluk lehernya, tangannya mengangkat pahaku agar burungnya tidak lepas dari sarangku. Betisku (sebenarnya tungkai) kulingkarkan ke lehernya untuk membantu dia agar aku tidak terjatuh. Dan waktu dia mencoba memperbaiki posisi berdirinya sembari memanggulku, inilah yang kurasakan sangat intens. Batang kejantanannya dengan kasar menyodok kelaminku karena memang tidak ada kontrol waktu tubuhku diangkatnya agar posisi kami lebih baik. Lalu dengan kasarnya tubuhku dilambung-lambungkan pelan. Hujaman batang kemaluannya kurasakan sangat menyiksaku. Tetapi justru tusukan yang terasa kasar, dalam dan tidak terkontrol ini malah menambah intens ketegangan kemaluan kami berdua.

Tetap dalam posisi yang sama, disandarkannya punggungku ke tembok. Waktu dia berjalan ke tembok, karena aku masih menggantung dan kemaluannya masih tetap tertancap di lubang senggamaku, maka sangat terasa hentakan ketika Prast melangkah dan ini membuatku makin gila. Setelah bersandar barulah aku agak tenang. Kami mencoba berhenti sebentar untuk menikmati momen ini. Kurasakan batang kemaluan Prast berdenyut naik turun meskipun dia dalam posisi diam. Sementara kurasakan lendirku turun melumasi batang kejantanan Prast. Kemaluanku pun terasa berdenyut-denyut.

Kulihat Prast merem melek menikmati remasan lubang senggamaku atas batang kejantanannya. Lembut aku diciumnya. Karena sulit untuk mendapatkan kenikmatan waktu bersandar di tembok, aku meminta Prast agar menggendongku keliling ruang tamu. Sebenarnya ini hanya alasanku saja, karena aku telah dibutakan oleh sensasi kenikmatan kasarnya sodokan senjatanya yang tadi kurasakan waktu dia memanggulku. Prast mengiyakan dan langsung mengangkat kembali tubuhku dengan memperbaiki sanggaan atas pahaku dan membawaku berjalan keliling ruang tamu. Pelan saja, pintaku, yang dijawabnya dengan anggukan. Wajahnya tenggelam diantara kedua belah payudaraku yang tidak terlalu besar (dada 34B, lingkar pinggang 27?).

Aduh, nikmatnya merasakan tusukan kasar dalam gerakan jalan lambat seperti ini, batinku. Makin lama, kurasakan jalan Prast bertambah cepat dan hentakan yang terasa makin kuat. Tempo permainan itupun makin cepat. Tanganku makin erat melingkari lehernya. Aku tidak mau jatuh. Sedangkan aku juga tidak mau begitu saja Prast menanggung berat badanku dengan kedua lengannya. Hentakan batangannya makin lama makin hebat. Aku mengerang. Kutancapkan kukuku di punggungnya. Aku hampir orgasme. Inikah kenikmatan cinta?

Setelah mengelilingi ruang tamu empat kali aku akhirnya mencapai orgasme yang sangat nikmat. Direbahkannya aku di meja dapur dan dibiarkannya aku menikmati puncak kenikmatan itu. Tusukannya dipercepat di atas meja itu. Kakiku yang sekarang terangkat di pundaknya, mengejang. Sementara tanganku berpegangan erat pada kedua sisi meja dan tangan Prast bertumpu pada pundakku. Tiba-tiba dicabutnya batang kemaluannya dari lubang surgaku dan dikocoknya di hadapanku. Rupanya ia pun hampir mencapai orgasme. Tak lama kemudian, dimuncratkannya spermanya ke pusarku. Ada sekitar tujuh kali semburan dahsyat disertai beberapa kali muncratan sisa spermanya. Bahkan wajahku pun bersimbah sperma yang tidak sengaja muncrat, bercampur dengan keringat akibat teriknya matahari siang itu dan senggama kami. Puas rasanya siang itu.

Satu hal lagi yang kusukai dari Prast adalah kekuatannya bersenggama. Meskipun telah beberapa kali bersenggama dan memuntahkan spermanya, ia masih kuat untuk melakukannya lagi ketika kami mandi berdua siang itu. Butuh waktu dua jam bagi kami untuk mandi dan bersenggama lagi setelah lebih dari satu jam bersenggama sebelumnya siang itu. Kami mandi di dua kamar mandi yang berseberangan tanpa menutup pintu sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi bersama dan bersetubuh lagi di kamar mandi.

Pernah suatu kali kami mencoba main dengan gaya kasar. Kata Prast ini adalah “bondage” atau penyiksaan. Beberapa kali aku pernah melihatnya waktu kami nonton film blue jepang. Apa salahnya ini kami praktekkan pula.

Waktu itu dua hari setelah ulang tahunku ke duapuluh tiga di bulan september. Mahasiswa baru biasanya masuk sekitar bulan agustus. Sementara mahasiswa lama baru mulai kuliah sekitar awal september. Itupun masih banyak yang bolos hingga akhir september, bahkan lebih. Kost-ku memang masih sepi, karena mayoritas isinya mahasiswa senior. Sebenarnya bisa saja kami bercinta di rumah Prast, karena ia memang tinggal sendirian. Tetapi kami lebih suka melakukannya di kost-ku.

Malam itu, hari rabu sekitar jam delapan lebih (karena layar emas di TV swasta sudah mulai), kami bercinta. Kali ini tanpa foreplay, Prast menyuruhku untuk mengambil sabuk. Aku turuti dan kuambil sabuk kimonoku. Ternyata sabuk kain itu dia gunakan untuk mengikat tanganku. Direbahkannya aku di tempat tidurku. Tanganku menghadap ke atas. Diciuminya aku dengan kasar. Seperti yang telah kukatakan, kami berdua memiliki fantasi seksual yang liar. Meskipun aku pendiam, namun urusan seks aku sangat berpikiran progresif. Kalau ada sesuatu yang baru, kenapa tidak dicoba untuk sekedar menyegarkan suasana.

Prast masih duduk di atas tubuhku, ketika tiba-tiba dirobeknya bajuku dengan kasar. Aku menyukai gayanya. BH-ku pun direnggutnya. Padahal biasanya dia menggigit hook BH-ku sampai lepas. Kali ini sangat berbeda. Setelah itu, giliran rokku yang ditariknya ke bawah hingga kancingnya pun lepas. Seperti telah kukatakan, aku lebih senang memakai rok tanpa celana dalam. Kini aku telah telanjang bulat di hadapannya.

Dia lalu berdiri dan melepas kaos serta celananya satu persatu hingga polos. Kulihat batang kemaluannya mengacung tinggi di atasku. Oooh, indahnya. Dia turun dari kasur dan tubuhku diseretnya hingga kakiku berjuntai di pinggir tempat tidur. Posisi pantatku yang berada di bibir tempat tidur membuat kemaluanku merekah lebar. Sementara tanganku masih terikat ke atas. Dengan kasarnya dipukulkannya batang kemaluannya ke liang kewanitaanku. Sakit sekali rasanya, tapi aku telah terbuai oleh kenikmatan yang akan kunikmati.

Pelan-pelan dia naik ke ranjang dan ditamparkannya kembali batang kemaluannya ke pipi kanan dan kiriku berulang-ulang. Turun dari ranjangku, diambilnya ikat pinggangnya yang kubelikan untuk hadiah ulang tahunnya. Ujung ikat pinggang yang terbuat dari logam itu dipukulkannya ke perut dan kemaluanku. Nikmat sekali rasanya meskipun sakit. Aku mengaduh kesakitan, namun memintanya untuk terus menyakitiku. Tiba-tiba dimasukkanya dua jarinya ke dalam lubang kewanitaanku dan dihujam-hujamkannya dengan kasar. Sementara tangan kanannya digunakannya untuk menjambak rambutku. Kini posisiku seperti udang goreng, melengkung. Satu karena jambakan Prast, dan yang satu lagi karena hunjaman jarinya atas liang senggamaku.

Tidak puas dengan dua jari, kini tiga jarinya dimasukkan ke lubang senggamaku. Jari telunjuk dan manis masuk ke lubang, sementara jari tengahnya menggosok-gosok klitorisku, terasa geli setengah mati. Nikmat bercampur geli, namun aku tidak bisa berbuat-apa-apa karena terikat. Tanganku yang terikat tidak memungkinkan aku bergerak bebas. Kakiku menendang ke sana ke mari. Tiba-tiba Prast menghentikan hujamannya. Diambilnya sabuk yang tadi dipergunakannya untuk mencambukku. Diikatnya kakiku dengan sabuk itu. Satu ke kaki tempat tidur kiri dan kaki kananku diikatnya dengan tali tasnya ke kaki kanan ranjangku. Kini aku tergeletak mengangkang, terikat, telanjang dan tidak berdaya bagaikan wanita jepang dalam film blue.

Prast kulihat kembali mendekati diriku dan menciumi liang kewanitaanku yang terbuka lebar. Diambilnya bantal dan diganjalkannya ke bawah pantatku. Waktu diganjalkannya bantal itu, karena kakiku terikat, otomatis ikut tertarik dan pergelangan kakiku terasa sakit sekali. Kembali ia naik ranjangku dan disodorkannya batang kemaluannya ke wajahku. Posisinya yang berada di atas tubuhku persis tidak memungkinkanku untuk menghindar. Aku tahu, aku harus mengulumnya seperti layaknya permen saja. Dulu waktu pertama kali aku harus mengulum batang kemaluan Prast, terus terang aku merasa jijik. Tetapi Prast memang mungkin telah mempersiapkan segalanya. Biasanya sebelum memintaku mengulum batang kemaluannya, dia ke kamar mandi dulu untuk mencuci barangnya hingga bersih. Sehingga waktu aku pertama kali mengulumnya tidak terlalu merasa jijik.

Kinipun aku akan melakukannya lagi. Segera kujulurkan lidahku untuk menjilatinya. Aku merasa bagaikan anjing yang memohon pada tuannya untuk diberi makan. Aku jilati ujung batang kemaluannya. Prast merem melek kegelian karena nikmat. Ditariknya lagi batang kemaluannya dan dipukulkannya ke pipi dan mataku berulang kali. Aku mengaduh kesakitan, namun itu tidak akan menghentikannya, karena dia tahu aku menyukai dan menikmati rasa sakit yang kualami. Kusodorkan mulutku untuk mengulumnya, namun Prast kembali menyiksaku dengan jalan menaikkan posisi tubuhnya sehingga aku harus berusaha keras untuk dapat menggapai ujung batang kemaluannya. Tubuhku harus meregang, yang tentu saja kembali menyakitkan pergelangan kakiku meskipun kedua tanganku terikat bebas tidak ditalikan di kedua kepala ranjang.

Tiba-tiba saat tubuhku meregang ke atas mencoba menggapai batang kemaluannya, Prast menurunkan tubuhnya, sehingga tak ayal lagi seluruh batang kemaluannya yang sepanjang 27 cm masuk memenuhi seluruh rongga mulutku dan menyentuh anak tekakku. Hampir aku muntah dibuatnya. Bagaimana tidak, kemaluannya yang kupikir cukup panjang itu masuk sampai ke tenggorokanku. Aku sampai tersedak dibuatnya. Segera kukatupkan bibirku ke dalam gigiku sehingga tidak akan melukai batang kemaluannya. Aku tahu ini karena pernah Prast marah karena gigiku menggores batang kemaluannya. Aku segera membasahi batang kemaluannya dengan ludahku, lalu kukulum keluar masuk dengan sangat tersiksa karena kakiku sakit terikat. Prast tidak tinggal diam, tubuhnya maju mundur (naik turun) memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam mulutku. “Emppffh!” Aku tersentak-sentak karena tenggorokanku terisi penuh oleh kemaluannya.

Dia tidak berhenti begitu saja. Tangannya terulur ke belakang dan ujung putingku ditariknya keras-keras. Akibatnya akupun secara reflek dengan bibir terkatup ke gigi menggigit kemaluannya. Mungkin inilah yang menyebabkan dia merasa begitu menikmati permainan ini. Kusedot keras-keras batang kemaluannya, seiring dengan mengerasnya putingku ditarik. Dicubitinya putingku agar hisapanku tambah kencang. Aku tahu apa yang dia sukai dan dia tahu apa yang kubutuhkan. Kenikmatan kasar.

Setelah beberapa lama dicabutnya batang kemaluannya dari mulutku dan kini aku mulai menjilati buah pelirnya. Aku sruput buah pelir yang berbulu tipis itu. Pernah satu kali Prast menamparku karena aku menyedotnya terlalu kencang. Kini, kuberanikan lagi untuk menyedotnya kencang-kencang agar dia menamparku dan aku terpuaskan. Namun reaksinya berbeda. Bukan tamparan yang kuterima, tetapi tangannya meraih jauh ke liang kewanitaanku dan menepuknya keras-keras. Aku mengaduh kenikmatan.

Sekarang dia berdiri di atasku. Kulihat kemaluannya naik turun pertanda nafsu yang memburu tidak karuan. Nafasku pun tersengal-sengal karena ingin mendapatkan kenikmatan yang lebih dari sekedar mengulum batang kemaluan. Aku tertawa terkikik. Prast tersenyum, paham maksudku. Dia turun dari ranjang dan kembali memukulkan batang kemaluannya ke kemaluanku. Batang kemaluannya yang basah oleh ludahku dengan mudah menerobos liang kewanitaanku. Dihujamkannya dengan keras sehingga tubuhku terangkat naik ke atas ranjangku. Kembali kakiku terasa sakit karena tertarik oleh hentakannya itu. Jempolnya tidak diam, namun turut menekan dan memainkan klitorisku.

Aku semakin gila dan kepalaku terayun-ayun ke sana ke mari. Kenikmatan yang kurasa tak tertahankan lagi. Aku jebol dan mencapai orgasme yang teramat sangat tinggi. Baru kali ini aku merasa nikmat dan sakit dalam waktu yang bersamaan setelah lebih dari setengah jam bercinta, itupun itu tidak hanya satu kali saja. Karena Prast tidak menghentikan permainannya meskipun dia tahu aku sudah orgasme. Dia belum, itu yang dia pikirkan. Mau tidak mau aku harus tetap melayaninya. Hujaman demi hujaman yang disertai tekanan atas klitorisku kembali merangsangku dan membuat aku mampu mengimbangi permainannya.

Alat kelamin Prast tetap tegar menusuk lubangku dengan kasarnya. Berulang-ulang kulihat Prast membasahi jarinya dengan ludahnya dan menggunakannya untuk melumasi klitorisku. nikmatnya kurasa sampai ke ubun-ubun. Liang kewanitaanku kembali berlendir setelah agak kering karena orgasme telah lewat. Perih yang kurasakan kini hilang kembali berganti kenikmatan tusukan Prast yang disertai goyangan memutar. Batang kemaluannya kurasakan bagai bor tumpul yang mendera dinding kelaminku. Ujung batang kemaluannya terasa menyodok-nyodok dinding rahimku. (Kalau batang kemaluan anda cukup panjang, pasti inilah yang akan dirasakan oleh pasangan anda).

Tangan kanan Prast kembali beraksi. Kini dengan memukuli pantatku yang terganjal bantal. Sakit tapi nikmatnya terasa sekali, sementara jempol dan jarinya bergantian memainkan klitorisku dan batang kemaluannya menyodok liang kewanitaanku. Semakin sakit aku merasa semakin nikmat. Namun kami bukan pasangan masochis. Kami hanya sekedar bereksperimen dengan gaya bercinta. Aku kembali mengejang karena orgasme, sementara Prast kulihat masih tegar dan menikmati permainan ini. Dua kali sudah aku orgasme. Mungkin inilah yang disebut sebagai multi orgasme. Bahagia sekali rasanya memiliki pasangan yang mampu memuaskan nafsuku.

Prast pun sangat menyukai hal ini. Aku yang dianggap sebagai gadis desa pendiam dan rendah diri oleh teman-teman sekelasku di kampus sebenarnya adalah maniak seks. Sementara orang melihat Prast sebagai pemuda yang kekanak-kanakan karena kesenangannya akan kartun dan video game. Tidak seorang pun yang menyadari bahwa sebenarnya kami adalah pasangan yang sangat panas dalam bercinta.

Hampir dua jam sudah Prast meyetubuhiku dan belum tampak tanda-tanda dia akan orgasme juga. Kekuatan dan gaya bermain seksnya yang mungkin menjadikan aku makin cinta kepadanya. Kuturuti kemauannya untuk terus bersenggama sampai kapan pun.

Dua puluh menit kemudian barulah Prast mulai tampak goyah. Pertahanannya tampaknya akan segera jebol. Aku mulai memompa semangat berusaha memuaskannya. Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya, dia bertambah kencang dan aku bertambah lemah. Tidak, aku tidak boleh kalah, pikirku. Akhirnya aku kembali mengalami orgasme, mengejang keras, menggeretakkan gigi-gigiku karena tangan dan kakiku terikat. Baru lima menit sesudahnya Prast mencabut batang kemaluannya dan bergegas naik ke atas tubuhku dan menjepitkannya di antara kedua belah payudaraku yang ditekannya dengan tangannya sehingga mampu memberi kenikmatan laksana dinding liang kewanitaan. Digesekkannya maju mundur sampai akhirnya spermanya dimuntahkannya di atas payudaraku dan dimintanya aku mengulumnya setelah bersih tidak ada lagi sisa sperma yang menyembur.

Perlahan kurasakan batang kemaluannya mengecil dalam mulutku sehingga dapat kukulum penuh dalam mulutku beserta buah pelirnya. Kami tersenyum puas tepat jam sebelas. Berarti kami bercinta kurang lebih selama tiga jam. Entahlah itu tergolong lama atau tidak, yang penting aku terpuaskan sampai tiga kali dan untungnya aku juga bisa memuaskan Prast meskipun setelah itu kurasakan pergelangan kakiku terasa nyeri akibat ikatan yang terlalu kencang. Malam itu Prast akhirnya menginap di tempatku.

Setelah membersihkan badan, kami rebahan di kasur lipat tipis milik temanku sambil nonton berita menjelang tengah malam salah satu TV swasta. Tubuh kami masih terbalut handuk saja. Namun karena agak dingin, aku mengambil selimut di kamar dan berpelukan agar lebih hangat. Handuk kami lempar ke tempat pakaian kotorku. Kami terbiasa tidur telanjang berdua di rumah Prast. Di bawah selimut, kami berdua berpelukan, telanjang, sembari nonton TV. Segar sekali rasanya mandi setelah bercinta. Pikiranku jadi lebih tenang dan lebih jernih. Entah karena apa aku tak tahu.

Kira-kira jam setengah dua dini hari, saat program TV sudah habis, Prast membopongku ke kamar. Aku kecapaian setengah mati setelah tiga kali orgasme malam itu. Prast selalu memilih sisi kanan ranjang. Itu tidak masalah, karena aku bisa tidur di sisi manapun. Namun ternyata, aku tidak dapat tidur pulas karena Prast selalu menggangguku dengan rabaan-rabaan nakal di pusarku dan bagian atas kemaluanku yang terasa sangat menggelitik. Aku balas dengan mencoba meraba batang kemaluannya, tetapi, astaga, ternyata batang kemaluannya sudah tegang mengacung dan aku tertawa ngakak karena selimut kami jadi mirip tenda pramuka. Digesek-gesekkannya batang kemaluannya ke perutku. Aku yang tadinya kegelian kini jadi terangsang.

Tawaku berubah jadi sensasi aneh yang menjalari seluruh tubuhku. Akupun mulai bereaksi dengan mencari tangan Prast dan membimbing tangannya untuk meraba dan meremas payudaraku. Aku memang terkadang gampang panas. Mungkin ini pulalah yang disukai Prast dariku. Sementara tangannya meremas payudaraku, tanganku bergerak ke bawah, mencoba menggapai batang kemaluannya. Aku selalu menikmati momen-momen seperti ini. Kugenggam batang kemaluan Prast, kurasakan kehangatannya di telapakku dan kupejamkan mataku menikmati segenap sensasi yang muncul. Rasa hangat yang aneh, yang disertai berdirinya buluku seiring dengan sentuhan kulit tubuh telanjang kami berdua di bawah selimut.

Tiba-tiba Prast beranjak turun dari ranjangku dan bergegas ke ruang tamu. Aku heran, kenapa dia berbuat begitu. Ternyata dia mengambil toples yang berisi kripik singkong. Aku memang suka menyimpan keripik singkong yang jadi kesukaannya. Apa lagi yang hendak dilakukannya. Gaya bercinta yang selalu baru membuat aku terheran-heran atas fantasinya. Sekarang apa lagi yang akan terjadi, aku hanya bisa menebak-nebak.

Diangkatnya selimut yang menutupi tubuhku, lalu ditariknya kakiku sehingga badanku terseret agak ke pinggir ranjang. Diremasnya keripik singkong itu kecil-kecil dan ditaburkannya di sekujur badanku. Kini aku sudah mulai bisa menebak jalan pikirannya. Setelah rata ditaburkannya keripik singkong itu di atas badanku, perlahan dia naik ke atas ranjang dan rebah di sampingku. Posisi tubuhnya miring sehingga memungkinkannya bersentuhan langsung dengan kulitku. Dia mulai dengan mencoba menjilati seluruh kripik yang ditaburkannya ke sekujur badanku.

Kini aku dihinggapi sensasi aneh ketika ujung kripik singkong yang kasar tersebut meyentuh kulitku sewaktu akan dimakan Prast. Campuran antara kasarnya ujung singkong dan lembutnya ujung lidah Prast menciptakan fantasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ini sangat berbeda dengan rabaan atau ciuman mesra bibir Prast yang biasanya menghujani punggung dan dadaku. Tanganku memelintir puting payudaraku sendiri keenakan. Kutarik kencang-kencang agar rasa gatal akibat gesekan ujung kasar keripik itu kalah. Tetapi hal ini tidak terlau banyak menolong. Aku makin panas dan bertambah horny.

Kubiarkan lidahnya menari-nari di atas tubuhku, menjilati bersih semua kripik singkong yang ia taburkan. Sementara aku mencoba menikmati segenap sensasi yang timbul dengan berdiam diri. Semakin aku berusaha menekan, semakin tersiksa aku, namun kenikmatan yang kudapat akibat siksaan itulah yang membuatku tetap bertahan untuk mencapai titik akhir yang paling nikmat. Terdengar gila memang, cewek seperti aku yang pendiam ternyata memiliki fantasi seksual yang aneh. Mungkin ini pula yang membuatku melayani Prast untuk main kasar tanpa harus menjadi seorang sadomasochis. Prast lah yang mengajari semua yang aku tahu, termasuk semua istilah seksual yang tadinya adalah tabu bagiku. Karena Prast pulalah, fantasi seksualku makin menggila. Tampaknya aku memang berpotensi untuk memiliki fantasi seksual yang agak sakit.

Tak perlu kukatakan betapa nikmatnya waktu lidahnya berputar-putar di sekeliling putingku karena aku yakin pasti anda sudah tahu. Namun waktu lidahnya mulai menjilati pusarku, inilah bagian yang paling kusukai. Aku justru merasa sangat terangsang ketika jemari atau lidah Prast membelai bagian antara pusar dan lubang kelaminku. Tanpa dimintapun, Prast sudah tahu dan sedikit berlama-lama ketika mencapai bagian ini. Pria satu ini memang penuh pengertian dan jagoan bercinta.

Setelah puas dengan sedikit foreplay, Prast berbisik lembut kepadaku untuk mengambil agar agak memiringkan badanku. Pasti ada posisi baru, bathinku. Aku turuti kemauannya, kumiringkan badanku ke kiri. Prast segera mengambil posisi di dekat selangkanganku dan menelentangkan badannya. Selangkangan kami bertemu. Aku mulai paham, poros bertemu poros. Kaki kanan Prast di dadaku, sedangkan yang kiri di punggungku. Begitu pula dengan kakiku yang ada di dada dan di bawah punggungnya yang sengaja diangkatnya sedikit. Perlahan Prast menusukkan batang kemaluannya ke lubang kewanitaanku.

Nafasku tertahan waktu Prast memintaku untuk beringsut mendekat. Seiring aku mendekat, batang kemaluannya makin terbenam ke lubang senggamaku dan gerakanku menciptakan sensasi aneh. Mungkin ini terjadi karena batang kemaluan Prast secara tidak beraturan membentur dinding liang kewanitaanku. Posisi gunting seperti ini sungguh memberi kami kenikmatan yang teramat sangat. Ini kurasakan karena dengan posisi begini, batang kemaluan Prast bisa masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaanku. Bahkan kurasakan tulang kemaluannya keras membentur dinding luar lubang liang kewanitaanku.

Untuk memudahkan gerakannya, Prast sedikit mengangkat tubuhnya dengan jalan bertumpu pada tangannya. Posenya seperti orang senam kuda-kuda pelana. Kakinya sedikit menekuk tepat di depan perutku. Dengan cara seperti ini, tubuhnya bisa bergerak seperti naik turun, tapi dalam kondisi miring. Dia memulainya dengan gerakan perlahan, namun secara pasti makin bertambah cepat. Tubuhku terhentak-hentak tidak karuan karena sodokannya dari bawah tersebut. Aku berusaha untuk turut bergerak, namun terasa agak sulit, dan terlebih lagi Prast memintaku untuk menikmati saja setiap tusukannya. Aku tidak tahan, lagi. Ayo kundalini, tahan orgasmemu sebentar lagi, bisikku dalam hati. Terus terang sangat sulit bagiku untuk tidak langsung orgasme dengan posisi senggama seperti ini.

Aku berusaha menahan orgasme dengan menekan kenikmatan yang kurasakan. Secara psikologis aku memang agak tertekan kalau begini. Aku tahan semampuku, namun jebol juga pertahananku. Aku tidak kuat lagi untuk menahan segenap cairan yang sudah meluap-luap di dalam kemaluanku. Aku rengkuh betis Prast dan kutarik sekuatnya agar batang kemaluannya terbenan seluruhnya ketika aku orgasme. Kutahan beberapa waktu dan Prast menurut saja. Kupikir dia tahu aku mencapai puncakku. Kurasakan hangat dan nikmat. Aku pasrah saja dan membiarkan Prast melanjutkan permainan kami. Lagian aku juga menikmati setiap tusukan Prast ketika kami bersenggama.

Tak lama kemudian kulihat lutut Prast sedikit bergetar. Pasti dia sudah hampir memuncak, pikirku. Dan benar saja. Gerakan Prast cepat dan bertambah cepat serta tidak teratur. Kini dia tidak saja menghujamkan batang kemaluannya, namun juga menggoyangkannya. Mau tidak mau aku yang tadinya pasrah menikmati, akhirnya jadi tambah tinggi juga karena tusukan yang disertai goyangan ini. “Ehhg..”, jeritku tertahan. Aku mencoba menahan diri ketika kurasakan Prast mencabut batang kemaluannya dan duduk mendekatiku. Secara refleks, langsung kukocok batang kemaluannya, sementara tangan Prast meraih liang kewanitaanku dan memainkan klitorisku dengan jari tengahnya (mungkin karena hal ini tanda jari tengah dianggap “saru”). Dengan gemasnya jari Prast menekan-nekan klitorisku, dan ini membuatku makin terangsang.

Segera saja kumasukkan sebagian batang kemaluannya ke mulutku dan aku oral dia, keluar masuk mulutku sambil kumainkan lidahku di glan batang kemaluannya. Tak tahan dengan hisapan dan jilatan lidahku, Prast akhirnya memuntahkan seluruh spermanya. Ditekannya kepalaku agar seluruh batang kemaluannya masuk ke mulut, dan benar-benar menyentuh anak tekakku. Kurasakan enam kali semburan keras diikuti beberapa kali semburan kecil. Semua spermanya tertelan olehku. Aku hampir muntah ketika batang kemaluannya menyentuh anak tekakku. Untung aku sudah agak terbiasa dengan batang kemaluannya yang, menurutku, lumayan panjang. Sebenarnya aku agak jijik kalau harus meminum spermanya. Tapi kali ini apa boleh buat, ini juga tidak terhindarkan dan langsung masuk ke tenggorokanku. Ketika itu akupun tidak terlalu merasakan jijik karena sedang terbuai kenikmatan jari Prast yang dengan kerasnya menekan dan memutar-mutar di klitorisku serta meremas bibir kemaluanku dengan ganasnya. Perbuatannya memaksaku untuk mencapai orgasme kedua yang hanya berbeda beberapa saat dengan saat Prast mencapai puncaknya.

Hari itu kami bangun agak telat, pada saat acara musik TV swasta yang ditayangkan setiap jam 08.30 pagi sudah hampir usai. Kami nikmati hari berdua saja dan hanya keluar rumah kost untuk membeli makanan. Mungkin lain kali akan kuceritakan pengalaman lainnya yang tidak kalah menariknya. Semoga yang satu ini mampu menghidupkan suasana di tempat anda dan menjadi referensi anda bercinta atau sekedar bacaan iseng saja jika senggang.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hari-hari-penuh-keindahan.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hengky.html http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hengky.html#comments Sat, 28 Apr 2012 07:54:25 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1108

read more »]]>

Panas Cerita “Hengky”

Perkenalkan namaku Yenny, sebentar lagi aku akan berumur 25 tahun. Meskipun kini aku sudah hampir setahun menikah, tetapi pengalamanku ngesex dengan mantanku (sebut saja Hengky) tak dapat kulupakan, dan itulah yang akan kuceritakan berikut ini.

*****

Sebagai gambaran diriku, tinggi 170 cm, 65 kg, 32A. Kulit putih khas keturunan Tionghoa, rambut lurus panjang tergerai, dengan menggunakan bandana, ataupun dikuncir memamerkan tengkukku, selalu mengundang perhatian pria. Di manapun dan siapapun, pasti melirik. Dengan mata bulat, dan hidung mancung, pinggul yang aduhai, pokoknya jika pembaca melihatku, pasti akan melotot. Dijamin!!

Bandung, September 1999

Hari ini aku kuliah sampai jam 11.00, di tengah teriknya mentari kota ini, aku berjalan bergegas, menyeberangi Jalan Merdeka, aku menuju ke Purnawarman, lalu dengan angkot jurusan Ledeng, menuju ke rumahku di kawasan Cipaganti. Rumah yang dibelikan oleh ayahku, yang kutinggali bersama seorang adik, dan 3 orang dayang.

Hengky pacarku, adalah seorang mahasiswa fakultas teknik dari Universitas yang sama, tapi lokasi kampusnya beda denganku. Beberapa tahun kemudian, lokasi kampusku kemudian dipindahkan.

Hari ini, seperti biasanya, selesai kuliah Hengky datang, Sekitar pukul 13.00, Hengky datang, kami duduk di depan TV. Tidak lama berselang saat para dayang beristirahat di kamar mereka, tangan Hengky meraih bahuku dan menarik tubuhku sehingga rebah di pangkuannya. Bibir kami lalu saling berpagutan, tangannya menjelajahi dadaku. Menelusup ke bawah dasterku, meremas payudara kiri dan kanan bergantian.

“Kau merokok lagi yah?” tanyaku.
“Tidak, tadi di kampus, anak-anak merokok semua, jadi bajuku juga bau asap!” elaknya.
“Kenapa mulutmu bau rokok juga?”
“Ah.. Tidak apalah kalo cuma sebatang!” jawabnya, langsung menyergap bibirku kembali.

Saat bibirnya mulai menjelajah turun ke leherku, aku semakin tak tahan, tangannya menarik Bra-ku ke atas, sehingga tangannya langsung menyentuh kulit buah dadaku. Diputar-putarnya pentilku bergantian. Kemaluanku mulai becek, batang kemaluan Hengky terasa mengeras di punggungku, mengganjal. Saat rasa gatal di kemaluanku memuncak, aku bangkit, dan mengatur posisi tubuhku menjadi merangkak membelakangi Hengky yang duduk bersandar. Tangan Hengky, meremas bola pantatku, yang sebelahnya merayap masuk melalui bagian bawah rokku. Tangannya merayap di pahaku, meremas dengan liar, menambah perasaan nikmat. Kugoyangkan pinggulku meminta perhatian tangannya agar cepat membelai kemaluanku yang gatal. Saat yang ditunggu tiba, tangannya merambat perlahan di tepian karet celanaku, berputar-putar, menambah gairahku.

“Oh.. Sayang..” desisan keluar dari sudut bibirku.

Perasaan was-was agar tidak terdengar oleh para dayang timbul. Hengky semakin liar, kain segitiga itu ditariknya, dan dengan bantuanku, diloloskan melalui sepasang kaki panjangku. Tangannya membelai lembut vaginaku, membuatku semakin melebarkan jarak antara kedua pahaku. Sangat asyik menikmati pekerjaan tangannya, membelai dan sesekali meremas dan mencubit bibir vaginaku.

“Auw.. Sayang..” Aku menjerit ketika tiba-tiba terasa hangat dan basah menyentuh selangkanganku, rupanya Hengky mulai menggunakan mulutnya. Napasnya terasa keras di daerah duburku, lidahnya menyentuh, dan merangsek ke vaginaku. Sesekali dengan keras menyelinap ke celah sempit selangkanganku.

Aku semakin menggila saat tangannya menyergap payudaraku yang tergantung dibalik daster. Terasa textur kain, dikombinasikan dengan pijatan lembut pada putingku, ingin rasanya aku menjerit. Satu hal yang kusuka pada Hengky, adalah kebiasaannya mencukur kumis dan jenggotnya sekali dalam seminggu, saat ini terasa mulai tumbuh, dan digesek-gesekkan seputar bola pinggulku. Terasa seperti amplas, menggaruk lembut seputaran bokongku.

Vaginaku terasa basah, bercampur liur dan cairan syahwatku, Hengky jelas menikmati cita rasa cairan itu, bahkan cenderung ketagihan. Saat aku sedang terbuai nikmatnya oral sex, tiba-tiba terdengar pintu pagar dibuka orang. Aku bergegas menurunkan dasterku, dan kembali mengambil posisi duduk di samping Hengky, menonton film di HBO, yang entah apa judulnya.

Ternyata adikku pulang, seketika itu juga, seorang dayang bangun, membuka pintu dan mengambil tas kuliahnya. Yuly, sebut saja demikian, adikku bungsu dari 4 bersaudara, selisih 1 tahun denganku. Kuliah di universitas yang sama dengan kami, namun beda fakultas. Kampusnya selokasi dengan Hengky, Yuly melintasi kami dan menuju ke ruang makan. Melihat potensi ancaman yang semakin besar, Hengky mengajakku relokasi menuntaskan pekerjaan kami. Aku berdiri, dan menuju ke kamarku. Hengky tidak beranjak, matanya menatap TV, seolah asyik mengikuti jalan cerita film tersebut. Padahal aku yakin, tak ada sepotong ceritapun yang bisa nyangkut di otaknya. Saat aku selesai berganti pakaian, aku menarik tangan Hengky, seolah memaksanya bangun.

“Kau mau kemana?” Yuly bertanya dari arah dapur.
“Mau ke Palasari, cari textbook!” jawabku.
“Aku mau titip donk!” Yuly bangkit dari meja makan.
“Nggak ah, nanti salah! Mendingan kau barengan teman-temanmu”
“Malas saya, nggak tahu dimana Palasari!” Balas Yuly.

Memang Yuly barusan beberapa Minggu tinggal di Bandung, setelah menyelesaikan SMU. Sedangkan aku telah setahun lebih. Aku menunjukkan keenggananku dititipi buku, soalnya kami sama sekali tidak berminat ke Palasari. Hanya sekedar alasan untuk keluar rumah.

“Masih panas, sorean lagi deh.” Hengky berkata, tetapi dari matanya memberikan isyarat.
“Nggak ah, nanti tidak sempat memilih.”

Aku memberikan alasan, seraya menarik tangannya. Dengan memasang tampang seolah masih asyik menonton, Hengky, meraih remote dan mematikan TV. Saat kami berjalan menyusuri gang sepi, kutarik tangan Hengky, yang memegang tanganku dan meletakkannya di dadaku. Dengan liar Hengky langsung meremas lembut, menaikkan nafsuku yang sempat tenggelam tadi.

“Hehe belum kapok yah, tadi hampir aja ketangkap!” Hengky berkata lirih.
“Gimana donk, pengen banget nih!” kilahku.
“Lihat nih!” Hengky merogoh kantongnya, menarik secarik kain, dan ternyata celana dalamku.
“Tadi kau ke kamar nggak sekalian dibawa sih?” Tanya Hengky.

Saat itu sebuah angkot berhenti di depan kami. Aku naik dan seperti biasa mengambil posisi di belakang sopir. Posisi teraman, saat itu angkot dalam keadaan kosong dan berhenti menunggu penumpang di Jalan Cipaganti.

Lima belas menit menunggu tanpa hasil, Angkotnya jalan, kutarik tangan kanan Hengky, kuletakkan di pahaku dan kututupi dengan tas. Tangan itu langsung meraba dan menggesek vaginaku dari luar celana. Dengan menampilkan mimik sebiasa mungkin, sehingga sopir angkot tak akan menyangka apa yang terjadi di bawah sana. Tak berapa lama, angkot kembali berhenti di depan Ny. Suharti, menaikkan 2 orang. Aku agak kecewa, berarti selama perjalanan berikutnya akan terasa garing dan panas.

Di depan kampus, kedua orang itu turun, kami melanjutkan perjalanan, sekitar 50 meter, lalu turun dan berjalan kaki ke kost Hengky. Kost Hengky, sebuah tempat kost kelas menengah bawah, 60 kamar, terletak di belakang kampus, campur pria dan wanita. Saat memasuki aula tengah, tampak beberapa mahasiswa teman Hengky sedang main kartu, beberapa lembar seribuan di tengah meja, 5 orang pemain dan tampak 3 orang komentator. Hengky memberikan kunci kamarnya kepadaku, dan berbincang sejenak dengan para penjudi sambil sesekali mengomentari permainan.

Aku masuk ke kamar Hengky, yang agak berantakan, lembaran kertas penuh gambar, beberapa penuh tulisan angka berserakan di lantai kamar. Jendela kamar yang dilapisi kertas hitam membuat cahaya matahari sulit tembus.

Sayup-sayup masih terdengar suara mereka di ruangan tengah. Meskipun berjarak sekitar 10 meter dari kamar ini, tetapi keriuhan yang ditimbulkan masih terasa. Gairahku bangkit saat terdengar suara langkah khas Hengky. Saat pintu ditutup, kami berpelukan, sambil berciuman, tangan Hengky merayap masuk dari bawah kaosku, meremas payudaraku, memencet puting susuku. Lidah yang saling dorong di antara jepitan bibir kami membuatku sungguh melayang, membuat kemaluanku terasa lembab.

Tangan Hengky mendorong tubuhku, dan membalik badanku, sehingga aku berdiri membelakanginya. Hengky menyelipkan kedua lengannya di ketiakku dam kembali memeluk tubuhku, dan tangannya meraba dadaku dengan leluasa, kali ini kedua tangannya dapat bekerja secara bersamaan. Memang harus kuakui Hengky bertindak tepat, dengan membalik tubuhku, kedua tangannya dapat berkerja dengan bebas, merayap di dadaku, kadang turun meremas kemaluanku dari luar jeansku, sehingga hanya terasa sentuhan ringan. Hengky memeluk tubuhku semakin erat, sehingga terasa hembusan napasnya di leherku yang makin membakar birahi.

“Sayang..” Hengky berbisik ke telingaku, yang membuatku menoleh, dan langsung terasa bibirku diserbu, kembali ciuman panas berulang.

Kali ini aku tidak bisa terlampau bebas bergerak, karena kedua lengan Hengky terasa ketat menjepit badanku. Tanganku hanya dapat kuarahkan ke selangkangan Hengky, itupun masih terasa terlampau jauh. Di pantatku terasa ganjalan, disebabkan kemaluan Hengky yang telah ‘Erma” (Ereksi Maksimum). Tangan Hengky terasa membuka kancing celanaku, terasa getaran lembut saat tangannya menarik turun retsleting, posisi ini memungkinkan Hengky membuka celanaku tanpa menghentikan ciuman kami. Saat telah terbuka, Hengky menarik turun celana itu sehingga melewati pinggulku, dan sebelah tangannya menyerbu masuk ke balik celana dalamku, sedangkan yang sebelahnya kembali ke dadaku, meremas-remas payudaraku.

Saat tangannya perlahan mencapai rambut kemaluanku, berputar-putar sebentar di sana, kemudian terus turun mendekati celah kemaluanku dari arah jam 12. Tak ada jari yang menyusup ke celah bibir vaginaku, telapak tangannya terus ke bawah, menaungi kemaluanku, sehingga membuatku makin gelisah. Aku mengangkat sebelah kakiku, guna melepaskan celana panjangku. Saat aku mengangkat kaki, terasa ada jari yang terpeleset menggesek bibir vagina sebelah dalam. Sebuah sentuhan ringan yang sungguh membuatku makin melayang.

Gesekan itu makin membuatku ketagihan, sehingga aku melakukan ritual melepas celana panjang secara perlahan, sambil menggerakkan pinggulku, berharap ada jari Hengky yang kembali tersesat ke jalan yang benar. Sensasi yang sangat indah, sampai sekarang belum kudapatkan dari suamiku, meskipun gaya pacaran kami juga tak begitu bersih, tapi sangat jarang dia mengerjaiku dari belakang, aku ingin memintanya, tapi takut menunjukkan pengalamanku.

Back to story, Hengky kali ini menciumi tengkukku, setelah tangannya menyingkirkan rambutku ke depan. Terasa tengkukku dijilat kecil, dan napasnya menghembus anak rambutku. Aku sangat menyukai jilatan di tengkuk, sehingga tanganku meraih rambut panjangku, dan memeganginya di ubun-ubunku. Ini semakin membuat Hengky leluasa menciumi tengkukku, dan meremas buah dadaku. Berulang-ulang jilatannya mengelilingi leherku, sebelah tangan di vaginaku dan sebelahnya lagi dipayudaraku. Sampai akhirnya Hengky menghentikan ketiga serangannya, yang memberikanku kesempatan mengatur napasku yang sudah kembang kempis.

Kali ini Hengky mengangkat kaosku, dan melepaskannya melalui kepalaku. Setelah terlepas, Hengky kembali menciumi tengkukku, dan aku kembali memegang rambutku di ubun-ubun yang tadi terlepas saat Hengky menanggalkan bajuku. Jilatannya lebih bebas berputar, terasa begitu nikmat saat jilatannya bergerak menyusuri tulang belakang turun, diikuti hembusan napasnya yang halus di kulitku. Saat lidahnya terhalang BH, Hengky tidak melepasnya, tetapi jilatannya menyusuri tali BH, ke samping tubuhku terus menjilati secara halus naik lagi ke arah pundak, dan kembali turun ke sisi tubuhku.

Tanganku yang memegangi rambut di atas kepalaku, membuatnya semakin mudah menjilati daerah sekitar ketiakku yang selalu tercukur bersih. Sungguh kali ini membuat kedua kakiku tak mampu menyangga bobot tubuhku. Aku langsung berjalan dan duduk di kasur Hengky yang hanya dialas di atas lantai tanpa dipan. Hengky melepaskan kaos dan celananya, sehingga tampak kemaluannya membuat celana dalamnya menyembul, ia lalu memungut pakaianku dan menggantungnya di belakang pintu kamar bersama pakaiannya.

Di luar masih terdengar suara para penghuni kost yang masih asyik berjudi. Hengky berjalan ke kasur, dan mendorong tubuhku sehingga rebah. Hengky menindih tubuhku dan kami kembali berciuman. Kali ini lebih ganas, lidah Hengky terasa sangat agresif merangsek ke rongga mulutku, sehingga bisa kusedot dengan sekuat tenaga. Dengan bertumpu pada sikutnya, Hengky menggerak-gerakkan pinggulnya menyodok daerah selangkanganku. Aku pun menggerakkan pinggulku untuk menambah sensasi gerakan Hengky.

Ciuman Hengky kini berubah menjadi jilatan yang menyusuri leherku, turun terus ke arah dadaku, dan kembali ke samping tubuhku. Hengky lalu bangkit dan membalik badanku lagi, sehingga aku kini telungkup. Hengky melepaskan kait BH-ku dan kini menjilati punggungku sepanjang tulang belakang, membuatku menggigit bibirku guna menahan suara desah kenikmatan yang kurasakan. Aku makin menenggelamkan wajahku ke bantal, tatkala lidah Hengky tiba di daerah pinggulku.

Tangannya menurunkan karet celana dalamku dan menciumi daerah sekitar belahan pantatku, yang membuatku mengangkat sedikit pinggulku. Rupanya gerakan otomatis tubuhku itu dimanfaatkan oleh Hengky untuk menurunkan celana dalamku sampai sebatas paha, dalam posisi setengah menungging memberikan Hengky kesempatan menjilati daerah sensitif yang sangat sempit antara dubur dan vaginaku.

Sungguh sensasional, getaran yang diberikan dari lidahnya langsung menaikkan tegangan birahiku ke titik tertinggi. Energi berupa sentuhan lidah yang sangat ringan diteruskan secara merata dan sama besar ke seluruh jaringan saraf kenikmatanku. Ini menyerupai prinsip kerja Hidrolik, dengan gaya yang kecil dari lidahnya, mampu menghasilkan gaya angkat yang sangat besar yang diteruskan melalui aliran darahku, kebetulan Hengky adalah mahasiswa Fakultas Teknik mungkin ini adalah salah satu praktek ilmu yang didapatnya.

Well, setelah mengalami orgasme aku langsung jatuh telungkup, ini membuat akses ke daerah celah sempit di pinggulku tertutup dari serangan Hengky, sehingga dia membaringkan dirinya di sampingku, seraya menumpangkan kakinya ke atas pantatku, dan tangannya membelai rambutku dan mengelus punggungku yang agak basah karena jilatan Hengky dan keringatku sendiri. Hengky menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua, karena memang Bandung pada saat-saat itu dalam masa pancaroba dari musim panas ke musim hujan, sehingga suhu udara sangat dingin dibandingkan dengan bulan-bulan lain dalam setahun.

Saat aku mencoba memulihkan kesadaranku, kurasakan kemaluan Hengky yang masih terbungkus celana dalam mengganjal di pahaku, aku menghadapkan wajahku ke arah Hengky, yang tampak tersenyum sangat simpatik ke arahku.

“Astaga, enak sekali rasanya, saya tidak akan melupakan saat ini.” Bisikku sambil mengelus pipi Hengky.
“Aku juga tidak mau kehilangan waktu untuk menciummu sayang.” Balas Hengky dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, cukup dekat sehingga hidungku yang mancung dapat terjangkau oleh lidahnya.

Bibirku bisa menciumi dagunya yang terasa kasar ditumbuhi jenggot pendek. Aku membalikkan tubuhku, sehingga kami berdua saling berhadapan dalam posisi rebahan side by side. Pada saat jeda ini kami biasanya bercakap-cakap, menyatukan perbedaan pikiran, berbagai masalah kuliah, keluarga, bahkan masalah keuangan biasa kami diskusikan. Aku tak ingat masalah yang kami bicarakan saat itu, tapi aku ingat, setiap kali kami selesai bercinta, rasa cinta di dalam hatiku senantiasa bertambah kepadanya.

Tangan Hengky meraba-raba buah dadaku, menyentuh-nyentuhkan ujung kukunya di pentil susuku, membuat gairahku bangkit kembali. Tanganku merambat menyusuri dadanya, dan perutnya yang ditumbuhi rambut yang cukup lebat.

Aku merapatkan tubuhku, sehingga kami dapat saling berciuman. Kali ini tanganku merogoh celana dalam Hengky dan mengelus batang kemaluannya dan juga kedua buah pelirnya. Sambil terus berciuman, aku mendorong tubuhnya hingga telentang, dan kutindih dadanya dengan sebagian tubuhku, sehingga tanganku dapat dengan leluasa bermain dengan kejantanannya. Aku terus memagut bibirnya, dan perlahan turun ke dadanya, dan ke puting.

“Terbalik sayang.” Hengky berkata.
“Terbalik apa?” Aku heran dan bertanya.
“Mestinya saya yang netek, bukan kau!” katanya sambil mendorong tubuhku hingga rebah.

Tidak kuat melawan tenaganya, sehingga aku hanya rebah tak berdaya. Hengky menindih tubuhku, dan menyedot puting susuku. Dan sangat efektif untuk membangkitkan gairahku. Segera terasa cairan di liang senggamaku, Hengky menciumi dadaku dan melempar selimut yang menutupi tubuh kami. Saat itu tak kusia-siakan, aku bangkit dan menduduki perutnya, kusodorkan dadaku ke mulutnya, sehingga Hengky langsung rebah telentang.

Tanganku meraba ke bawah, mengocok kemaluannya yang telah keras. Sedotan Hengky di puting susuku terasa melambungkan gairahku. Aku lalu turun dan melepaskan celana dalamku dan membantu Hengky melepaskan celana dalamnya. Melihat penisnya yang Erma, aku langsung menciumi batang itu, menjilati sepanjang batangnya, berputar-putar di kantung pelirnya, sambil sebelah tanganku merayap di perutnya. Saat aku memasukkan batang kemaluannya ke rongga mulutku, terdengar desah Hengky seperti baru melepaskan beban di pundaknya.

“Oh.. Enak sekali Yang.” Suara Hengky terdengar lirih, sambil tangannya menyibak rambutku, sehingga ia dapat memandang mulutku yang sedang mengulum kemaluannya.

Menatap matanya yang keenakan, menambah semangatku dan makin mempercepat gerakan kepalaku, dan menambah kuat sedotan mulutku. Kadang kuselingi dengan permainan lidah di dalam mulutku, menjilati kepala penisnya. Saat kutarik hingga hanya kepalanya penisnya tersisa di mulutku, lidahku kugerak-gerakkan seolah sedang berciuman. Kulihat Hengky tidak mampu bersuara, hanya mulutnya yang terbuka, mencoba menghirup lebih banyak oksigen. Hengky adalah pria pertama yang kuoral, meskipun keperawananku bukan kuserahkan padanya. Nanti akan kuceritakan saat hilangnya keperawananku, juga bagaimana aku memperoleh kepuasan dari kakakku.

“Sini sayang, aku ingin mencium memekmu.” Hengky berkata.

Aku berputar, sehingga selangkanganku berhadapan dengan wajahnya. Kami berposisi 69, dan masing-masing melakukan kegiatan sendiri. Saat lidah Hengky menyapu vaginaku, aku langsung melayang, terasa Hengky menyapu semua cairan vaginaku, membersihkan semua lendir di celah vaginaku. Sangat nikmat terasa, membuatku semakin liar mengulum penisnya.

Penis Hengky berukuran normal pria Indonesia, tampak gagah tersunat rapi. Ini yang membuatku sangat menikmati oral sex, ini merupakan penis bersunat pertama yang kudapatkan, dengan lelaki sebelumnya belum kutemukan. Aku sangat menikmati setiap kontur penis Hengky, dengan menggerakkan lidahku mengitari palkon, menelusuri setiap titik di bagian itu membuatku semakin tergila-gila pada benda itu.

Dengan sedikit mengerahkan tenaga karena harus melawan arah natural penis itu. Setiap kali penis itu terlepas dari jepitan bibirku, langsung terpental seolah terbuat dari bahan elastis. Hengky melipat lututnya, sehingga kepalaku berada di tengah kedua pahanya, dengan kedua tanganku aku menahan posisi pahanya agar tidak mengurangi daerah pergerakan kepalaku. Sementara di arah yang berlawanan, terasa sangat nikmat Hengky menjilati itilku, sementara tangannya masuk ke liang senggamaku, bergerak keluar masuk terlalu nikmat untuk dideskripsikan di sini.

Tak mau ketinggalan, aku pun mengeluarkan kemampuan oral terbaikku, kujilati sepanjang urat besar di bagian bawah batang penis Hengky, dan kuteruskan sampai ke pelernya, tidak hanya sampai di situ, lidahku terus ke arah duburnya, menjilat dengan liar, tampak menunjukkan hasil, Hengky menggerakkan pinggulnya ke atas, membuat lidahku bisa semakin jauh menjelajahi daerah selangkangannya.

“Sayang, masukin..” kata Hengky.

Aku lalu bangkit, dan mengubah posisiku, kali ini aku berhadapan dengan Hengky, dengan bertumpu pada lututku. Kuraih penis Hengky dari tangannya yang sedang mengelus, dan langsung kuarahkan ke vaginaku. Terasa nikmat saat benda itu menerobos masuk secara perlahan, menyusuri celah vaginaku. Kulihat Hengky tersenyum, matanya terpejam, kulepaskan tanganku dari batangnya, dan mulai memelintir putingnya.

Hengky membuka matanya, dan tangannya meraih payudaraku. Sambil meremas payudaraku, Hengky menggerak-gerakkan pinggulnya, memaksa penisnya masuk lebih dalam lagi. Aku juga senantiasa bergerak menyesuaikan gerakan kami berdua. Kadang dengan agak memiringkan tubuhku, sehingga pada saat Hengky menarik kemaluannya, sangat terasa gesekan di sisi dalam vaginaku.

Tiba-tiba aku merasakan peningkatan rangsangan, saat Hengky mengarahkan jari telunjuknya ke klitorisku, sehingga menguras seluruh pertahananku. Digesek dan ditekan membuat diriku terasa melayang dan kehilangan pijakan. Tubuhku langsung ambruk seketika, menindih Hengky, perubahan posisi ini membuat Hengky tidak bebas menggerakkan jemarinya yang terhimpit di antara tubuh kami. Tetapi pinggulnya tetap bergoyang lembut, mengantarkan diriku menikmati detik demi detik puncak kenikmatan seksual.

Setelah melalui orgasme, perlahan gairahku kembali berkobar, dengan goyangan batang penis di tengah jepitan vaginaku. Hengky dengan konstan tetap menstimulasi vaginaku dengan batang nikmatnya. Aku mengangkat badanku, dan memutar membelakangi Hengky, setelah mengarahkan, penis Hengky langsung kududuki, dan menelan habis semua batang penis Hengky. Posisi favoritku, selain doggy style, juga woman on top, sehingga dengan berada di atas dan membelakangi Hengky, terjadi kombinasi optimum. Apalagi saat Hengky bangkit setengah duduk, dan tangannya menggapai buah dadaku yang ikut bergoyang, menambah sensasi kenikmatan posisi ini.

Tak lama Hengky kemudian mendorong tubuhku, dan mengambil alih posisi di atas, dengan napasnya yang menderu, ia menyelipkan penisnya ke vaginaku. Setelah mendiamkan sejenak, Hengky mulai bergoyang, lututku ditekuk dan agak diangkat sehingga pinggulku ikut terangkat. Sebelah tangannya membantu menahan kedua kakiku, sedangkan yang satunya menyerbu klitoris yang kurang mendapat sentuhan pada posisi ini. Kami sering mendiskusikan berbagai posisi, sehingga bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan setiap posisi favorit kami.

Posisi ini adalah favorit Hengky, sebab ia bisa melihat dengan jelas bagaimana proses keluar masuk batang penisnya ke vaginaku. Kadang dengan menggunakan jempol dan jari tengahnya ia merapatkan kedua belahan vaginaku, dan jari telunjuknya mengerjai itilku. Setelah bergoyang beberapa menit, Hengky lantas mencabut penisnya, dan mengocoknya dengan tangan, dan segera muncrat spermanya, kental putih dan bau yang khas segera memenuhi ruangan kamarnya itu.

“Ah.. Enak sekali sayangku..” Hengky akhirnya mampu mengeluarkan suaranya setelah mengalami ejakulasi.
“Saya selalu mau main denganmu, kapanpun kau mau!” Kataku sambil berusaha membantunya mengocok penisnya.

Ia lalu berbaring di sisiku, dan mengambil kertas tissue. Setelah membersihkan seluruh tumpahan spermanya, ia memelukku dengan erat dan menciumi bibirku. Seluruh badanku terasa lemas, terutama daerah pinggulku, namun di sisi lain, terasa pikiranku fresh. Sungguh indah kenikmatan seks. Saat kuletakkan kepalaku di dada Hengky, dan dibelai dengan lembut, sambil sesekali mencoba mengatur rambutku, saat itu tak terbayangkan bahwa kemudian kami harus putus.

Kami putus setahun setelah Hengky lulus kuliah dan pindah ke Jakarta. Meskipun selama periode itu ia sering ke Bandung untuk weekend, tetapi itu saja tak mampu mempertahankan hubungan kami. Aku, seorang wanita bersuami, yang telah memberikan kesetiaan dan kegadisanku kepada orang lain. Syukurlah suamiku adalah seorang yang tolol, ia sungguh percaya bahwa ia adalah lelaki pertama yang merobek vaginaku. Aku masih selalu membayangkan Hengky, terutama saat sedang bersenggama dengan suamiku, dan aku sangat beruntung mendapatkan suami yang cukup tolol, sehingga kecuranganku selama ini bisa kututupi dengan mudah.

Saya percaya bahwa kami bukanlah satu-satunya pasangan mahasiswa yang melakukan hubungan seks, mungkin suamiku juga pernah melakukannya. Cerita ini mulai saya susun pada tahun 2001, saat aku putus dengan Hengky, berusaha sesedikit mungkin mengubah conversation, lokasi tidak saya rinci terlalu jauh. Sekedar mengingat cerita indah di antara kami, sekaligus sebagai tumpahan perasaan sesalku saat menyetujui anjuran orang tuaku untuk memutus hubungan kami.

Biarlah, setidaknya aku berusaha mempertahankan citra diriku sebagai anak yang penurut, juga setidaknya menghapus kecurigaan keluargaku yang meragukan status keperawananku. Pembaca bisa menghubungi saya, melalui penulis, salah seorang e-friends, yang tidak pernah mengetahui ID saya secara jelas. Lebih aman sekiranya kita bercerita kepada seseorang yang tidak kita kenal, sehingga probabilitas bocor bisa mendekati titik nol. Salam.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/panas-cerita-hengky.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/secret-passion.html http://www.ceritadewasaplus.com/secret-passion.html#comments Fri, 27 Apr 2012 22:51:51 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1055

read more »]]>

Aku mengenal Evi ketika sama-sama menunggu giliran bicara di sebuah Wartel yang pada malam itu cukup penuh. Dari awal kuperhatikan cewek itu sangat menarik perhatianku. Penampilannya asyik! Kulitnya yang putih dan bodinya yang bahenol membuatku berkali-kali mencoba mencuri pandang ke arahnya. Dandanannya juga oke. Dengan t-shirt ketat warna merah mencolok dipadu dengan celana jeans-nya yang juga ketat, membuat pinggulnya yang cukup besar terlihat padat berisi. Wah? boleh juga nih cewek, pikirku.

Sambil tetap menunggu giliran, berkali-kali kulayangkan pandanganku ke arahnya, dan berkali-kali pula kukagumi kepadatan tubuhnya. Merasa diperhatikan, cewek itu mulai berani membalas tatapanku. Ah ternyata manis juga! Dan ketika cewek itu menyunggingkan senyum manis di bibirnya, naluri kelaki-lakianku langsung bergolak. Kuhampiri dia sambil membalas senyumannya.”Sendiri?” sapaku sok akrab sambil menempatkan diri di kursi tepat di sebelahnya. Dia mengangguk. Senyumnya terlihat malu-malu.

“Mau nelpon kemana?” serangku selanjutnya.
Ah, yang malu-malu seperti ini yang bikin gemes.
“Ke Cirebon,” jawabnya singkatnya. Tapi kemudian dia mulai berani bertanya.
“Eh iya, kode telepon Cirebon berapa ya?”
Kusebutkan kode area kota udang itu sambil mengernyitkan dahi,
“Kok mau nelepon ke Cirebon nggak tahu kodenya sih?”
Dia tertawa kecil.
“Saya perlu nelpon temen saya di sana, tapi yang ada cuma nomor telpon saja tanpa dikasih kode areanya.”
“Ooo..” anggukku sambil berpikir bingung.

Tanya apalagi ya? He..he.. kadang aku sering bingung, kesempatan bagus seperti itu terganggu oleh hilangnya konsentrasi pembicaraan. Mungkin karena aku terlalu terfokus pada barang bagus yang menonjol di dadanya ya? Terus terang saja, dengan t-shirt ketat yang dipakainya, payudaranya terlalu indah untuk dibiarkan sebagai pajangan. Aku menelan ludah, sementara tanganku sudah tidak tahan untuk mengelusnya, dan pikiranku mulai membayangkan bagaimana indahnya kalau t-shirt merah itu tidak menutupinya. Pikiranku mulai mengembara kemana-mana.

“Mas, gilirannya tuh!” colekan halus di lenganku membuyarkan lamunanku.
“Eh, kenapa?” kataku gelagapan.
“Kok malah ngelamun sih? Udah gilirannya tuh. Jadi nelpon nggak?” cewek itu tertawa melihatku kebingungan sendiri.
“Kamu duluan deh,” tawarku sok baik, padahal sesungguhnya aku jadi lupa mau menelepon siapa. Aku tertawa dalam hati.

Selesai bicara dan membayar, kutemukan cewek itu sedang berdiri di luar Wartel. Aha, aku kegirangan. Berdebar-debar kuhampiri dia.
“Kok belum pulang, lagi nungguin saya ya?” godaku.
Cewek itu melirik menggoda,
“Emang nggak boleh?”Kalau tidak banyak orang di Wartel itu ingin aku berteriak girang. Hanya saja aku masih punya rasa malu, apalagi dari tadi tidak sedikit orang yang memperhatikan aku berdua (sebenarnya mungkin memperhatikan cewek itu).
“Ayo deh aku anterin. Pulangnya emang kemana?” pertanyaan yang tepat menurutku dan ajakan yang biasanya paling umum di kalangan laki-laki (iseng). Bercanda.
“Aku lagi nungguin becak, soalnya rumahku jauh,” tolaknya.

Aku tahu dia pura-pura, karena itu kupegang saja tangannya dan kubimbing dia ke dalam mobil.”Ayolah, mumpung aku lagi baik nih. Kebetulan aku bawa pulang kendaraan kantor!” kataku jujur. Aku tidak mau sok ngaku-ngaku kalau aku cukup mampu untuk punya mobil sendiri. Cewek itu manut saja ketika kubukakan pintu depan dan langsung duduk dengan manis. Aku tersenyum dalam hati, sukses nih!

Namanya Evi. Umurnya 26 tahun. Janda muda dengan satu orang anak umur setahun. Semula aku kaget ketika dia mengatakan status jandanya. Ah, protesku tak percaya waktu itu. Dengan penampilannya yang seperti itu tak ada yang akan menyangka kalau dia seorang janda. Bagaimana mungkin tubuh yang sintal dan menggoda seperti itu telah menghasilkan seorang anak?

Sore itu Evi meneleponku ke kantor. Dari nadanya kutahu ia habis menangis, atau malah mungkin sedang menangis. Dia memintaku datang ke rumahnya nanti malam. Antara percaya dan tidak, kuakui bahwa undangan ini cukup membuatku bersemangat. Tak ada salahnya menjadi teman bicara seseorang yang sedang mempunyai masalah, pikirku. Jam delapan malam aku datangi rumahnya. Begitu mendengar suara mobilku, Evi langsung keluar rumah tanpa sempat aku turun terlebih dahulu. Dengan mata yang terlihat bengkak karena habis menangis dia langsung naik dan duduk di depan di sebelahku. Dadaku langsung berdesir melihat Evi hanya mengenakan baju tidur pendek dengan tali kecil yang menggantung di pundaknya. Belahan atas dasternya yang cukup rendah menyebabkan sepasang payudaranya yang putih dan indah mencuat setengahnya. Putingnya tampak menonjol di balik dasternya yang berwarna biru pucat. Kurasakan ada yang mulai bergerak di balik celana dalamku. Ah, aku menelan ludah, payudara itu benar-benar indah! Evi mengangkat kaki kanannya dan menumpangkannya di atas paha kirinya sehingga mengakibatkan dasternya merosot sampai ke pangkal paha yang mengakibatkan pahanya yang putih dan mulus terlihat jelas. Sekilas celana dalamnya yang berwarna krem mengintip dari balik dasternya yang tersingkap.

“Kita ngobrol sambil jalan aja Gi, boleh kan?” katanya sambil menoleh ke arahku. Aku tidak tahu apakah dia sadar dasternya tersingkap atau tidak, dan aku tak peduli. Aku mengangguk sambil mulai menjalankan mobilku. Aku tidak berani bertanya tentang masalahnya karena terus terang saja aku mulai tidak bisa berpikir jernih. “Terima kasih kamu mau datang Gi. Kamu baik sekali! Padahal kamu baru mengenalku dua hari saja.” Evi menyentuh tangan kiriku dan menggenggamnya erat. Mobil kujalankan pelan-pelan karena aku tidak mau kehilangan moment ini cepat-cepat.”Nggak apa-apa, aku senang bisa menemanimu,” jawabku sambil menoleh ke arahnya. Mataku kemudian menangkap pemandangan indah lagi di balik dasternya. Payudara yang tanpa dihalangi bra itu menantangku untuk terus memelototinya. Evi menggeser duduknya merapat ke arahku. Kaki kanannya diangkat melewati tongkat perseneling sehingga aku dapat merasakan kakinya mulai merapat ke kakiku. Penisku mulai menegang dan mulai terasa tidak nyaman di dalam celana dalamku. Sementara itu Evi semakin menggenggam erat tanganku. Lambat laun dia mulai membawa tanganku ke arah pahanya dan menggesek-gesekkan telapak tanganku di atasnya. Ah, aku merasakan permukaan kulit yang lembut dengan bulu-bulu halus yang dapat kurasakan.

Kulirik Evi memejamkan matanya seakan sedang menikmati sentuhanku. Tangannya tetap membimbingku menjelajahi permukaan pahanya yang halus lembut. Akhirnya Evi melepaskan tangannya dan membiarkan tanganku bergerak sendiri. Kujelajahi paha Evi dari atas lututnya ke atas perlahan-lahan sampai aku mulai mulai menyusupkan tanganku ke selangkangannya yang lembab. Jalanan cukup sepi, dan memang kuarahkan jalanku ke jalan-jalan sepi sehingga tidak akan merepotkan konsentrasiku. “Ah..” Evi mengerang ketika kusentuh vaginanya yang masih terbungkus celana dalam tipisnya. Kedua tangannya menyusup ke dalam dasternya untuk menjangkau payudaranya yang mulai terasa sensitif. Dia mulai menggeliat-geliat seirama dengan sentuhan tanganku di vaginanya.

“Oh terus Gi, terus.. Ah!”
Aku mulai menekankan jari tengahku ke belahan vagina Evi yang semakin lembab dan basah. Seiring dengan desahan Evi yang semakin cepat, aku merasakan darahku bergolak dan nafsuku memuncak. Kuparkirkan mobilku di pinggir jalan yang cukup gelap karena terlindung pepohonan rindang di atasnya. Kulepas setir di peganganku, kupeluk Evi dan kucari bibirnya dengan semangat yang membara. Kucium bibirnya yang lembut dengan penuh nafsu sementara tangan kananku mulai menjelajah ke dalam dasternya. Kuremas payudaranya yang telah dilepaskan oleh tangan Evi dengan keras. Kuremas dan kuremas lagi bergantian kiri dan kanan. Sementara jari tangan kiriku mulai menyelinap di balik celana dalamnya yang terpaksa kusingkap oleh jari-jariku. “Ah..” Evi mengerang nikmat. Ciumannya menjadi semakin bernafsu. Kulumat bibirnya dengan nikmat dan kumainkan kedua tanganku di posisi masing-masing. Aku yakin organ tubuhku mengerti akan tugasnya masing-masing.

Nafsuku terus naik, hal ini membuat penisku menegang kuat dan menggeliat-geliat di dalam celana dalamku tanpa sempat dapat kukeluarkan. Evi mencoba menyusupkan tangannya ke dalam celanaku, hanya saja sabuk yang mengikat erat celana jeansku dan posisi duduk kami yang tidak menentu mengakibatkan dia kesulitan, sehingga dia beralih dengan meremas-remas dadaku. Nafasku berhembus sama kuat dengan nafas Evi yang semakin cepat. “Lugi.. Ah.. terus.. oh!” Evi mendesis tak jelas karena bibirnya masih belum bisa lepas dari bibirku. Keringat mulai mengalir dari tubuhku dan Evi yang mulai kepanasan terkurung di dalam mobil yang tak ber-AC dengan jendela tertutup.

Tiba-tiba Evi mendorongku dan mencoba melepaskan bibirku dari bibirnya. Aku kaget. Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi Evi sudah melompat ke kursi belakang dan menarik tanganku. Dengan tergesa dia mencoba melepaskan bajuku dan aku pun berusaha memerosotkan dasternya. Dalam kegelapan malam dan ruang dalam mobil yang tertutup aku masih bisa melihat bodinya begitu montok begitu dasternya terlepas. Celana jeans-ku mulai terasa longgar begitu sabuknya berhasil dibuka oleh Evi. Kubuka kancing celanaku dan kupelorotkan sekalian dengan celana dalamku. Penisku berdiri tegak seakan berhasil terlepas dari belenggu. Tanpa sempat bernafas dulu Evi sudah menarikku dan merebahkanku di jok mobil.

“Oh, besar sekali kepunyaanmu Gi,” Evi mulai menggenggam penisku dan mempermainkannya. Giliran aku yang mengerang sekarang. “Ah.. Nikmatnya.” Aku hanya bisa memejamkan mata sambil menikmati sentuhan kenikmatan itu ketika kemudian kurasakan sentuhan dingin dan basah di seluruh batang penisku. Ternyata Evi sudah mempermainkannya dengan mulutnya. “Ohh aahh,” aku mengejang. Antara rasa geli dan nikmat menyatu begitu Evi mengulum penisku dan memainkan lidah di kepala penisku. Dia begitu bernafsu seperti singa lapar yang mendapatkan santapan. Kalaupun ada orang atau mobil yang lewat, rasanya aku sudah tidak mempedulikannya. Aku dan Evi begitu terbuai dalam permainan yang memabukkan. Kurasakan Evi begitu lihainya memanjakan penisku dengan mulut dan lidahnya. Dan Aku merasakan penisku itu bagaikan sebuah es krim bagi Evi yang dengan rakusnya menjilati di seluruh bagian. Sesekali dia menjilat dan meremas buah zakarku yang membuatku menjerit tertahan.

Batang kemaluanku semakin tegang ketika Evi mulai merangkak naik ke atasku yang masih duduk bersandar ke belakang jok mobil. Dia menciumku dengan beringas sambil menyesuaikan duduknya di atas pahaku. Payudaranya yang kencang menyentuh dadaku dengan lembut dan putingnya yang keras menusuk-nusuk lembut dan bergeser-geser di dadaku. Kutuntun batang penisku untuk menemukan lubang vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat di sekitarnya. Evi menjerit dan mengigit lembut bibirku ketika kutemukan lubang vaginanya dan kulesakkan penisku ke dalamnya. “Aahh sshh,” desahnya berulang-ulang ketika pantatnya mulai dinaikkan dan diturunkan. Aku pun mencoba menekan dan menaik-turunkan pantatku ke atas ke bawah mengiringi irama yang dimainkan Evi. Kubiarkan Evi mengendalikan permainan karena toh aku juga sangat menikmatinya.

Kulepaskan ciumanku dan kuarahkan bibirku ke arah payudaranya yang bergayut di depan wajahku. Kuciumi payudara dengan putingnya yang indah yang sudah kukagumi sejak aku bertemu pertama kalinya itu masih dengan nafsu yang menggebu-gebu. Kurasakan vagina Evi semakin basah dan desakan di dalam penisku semakin menguat. Perlahan kupercepat kocokan penisku ke dalam vagina Evi, dan kurasa Evi pun mengerti sehingga dia pun mempercepat gerakan pinggulnya. “Terus Vi.. Ahh terus.. Semakin cepat!” aku mengerang hebat. Desakan itu semakin kuat dan sangat nikmat. Keringatku dan Evi semakin mengalir deras dimana-mana seperti pelari marathon yang berusaha mempercepat larinya untuk mencapai garis finish. “Sekarang!” aku mengerang lagi ketika desakan kuat di dalam penisku hampir tak dapat kutahan lagi. Evi meloncat turun dan berjongkok di depan penisku. Tangan kirinya mengocok cepat batang penisku yang sudah sangat licin dengan cairan dari vagina Evi.

“Srroott.. srroott,” akhirnya pertahananku bobol dengan memuntahkan air mani yang cukup banyak ke arah wajah Evi dan rambutnya. Aku bersandar kelelahan dan membiarkan Evi menjilati sisa air mani yang berleleran dengan rakus. Rasa ngilu dan geli terasa bercampur dengan sisa kenikmatan yang sudah kurasakan. Kubuka sedikit kaca jendela dan kubiarkan angin malam menghembuskan dinginnya ke arah kami berdua. Terasa segar menerpa keringat yang masih mengalir. Evi beranjak dari jongkoknya dan merebahkan badannya di dadaku. Kupeluk dia dengan erat dan kukecup dahinya dengan lembut. Berdua kami berpelukan dalam keadaan telanjang bulat, melepaskan rasa letih dan lelah yang tiba-tiba menyerang kami.

“Terima kasih Gi,” desah Evi perlahan.
“Aku yang terima kasih Vi,” jawabku perlahan juga.

Kuantarkan Evi pulang sebelum jam berdentang dua belas kali. Evi menahanku ketika aku bermaksud turun dari mobil.
“Nggak usah Gi, cukup sampai di sini saja.”
“Vi, harusnya aku membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi, bukannya..”
Aku tak bisa menyelesaikan kalimatku karena Evi memotongnya.
“Nggak papa Gi, kamu tidak perlu tahu dan aku pun tidak ingin membahasnya denganmu.”
Evi melenggang turun dan masuk ke rumah. Dan tahu tidak netter, sampai pertemuan-pertemuan selanjutnya pun Evi tidak pernah mau menceritakan masalahnya pada waktu dia menangis dulu. Kurasa aku pun tidak perlu lagi memaksanya untuk memberitahu kan? Mungkin itu malah lebih baik!

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/secret-passion.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/captured-family.html http://www.ceritadewasaplus.com/captured-family.html#comments Fri, 27 Apr 2012 10:51:53 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=405

read more »]]>

The Bruner family was on their way back home from vacation, and all of them were
rather tired. Rock Bruner was proud that he had been able to finally afford the
cross-country trip that he had always promised to his family, but until this
year they had been unable to go. They’d been on the go for two weeks, had been
to California and were now only several hundred miles from home. Rock’s wife
Linda was in the front seat asleep, and the two teenagers, fifteen-year-old Mark
and fourteen-year-old Becky, were in the back seat looking out the windows at
the passing countryside.

Suddenly, a thunderstorm came upon them. The sky turned black and the rain
pelted the windshield as Rock struggled to maintain the car on the slick road.
Thunder rumbled and lightning flashed and all at once the whole family was
scared.

“Rock, we have to find a place to pull over. There’s no way we can continue on
in this storm like this,” said Linda, shivering with fright.

Mr. Bruner agreed. “You’re right, Linda. But there’s no town for miles, and I
don’t see a house or shelter anywhere. There’s no place to stop.”

Becky exclaimed, “Look, Daddy! Over there! A big house!” Lightning illuminated
the stormy sky and outlined a two story mansion just off the road. “Let’s see if
they’ll let us stay there while the storm’s going on.”

Linda looked at Rock with pleading eyes. “Please, Rock. Let’s stop at the house.
Surely these are dependable, nice people way out here in the middle of nowhere.
We’ll be safer there.”

Rock agreed. “OK. I’ll stop. You’re right. We’ll be a lot safer there. Mark
nodded his head, as if to say he thought so too

The family got out of the car and rushed to the huge porch to stay dry. Rock
caught a glance at his daughter’s soaked t-shirt and just about shit. “Damn,” he
thought. “Her tits look just like her mother’s did as a teenager.” Shaking his
head for thinking about tits at a perilous time like this, he reached up and
rang the bell. He heard no response. He tried the door, and it opened easily.
“Looks like it’s abandoned,” he announced. “Let’s go on in and stay out of the
weather.”

Becky spied an oil lamp perched on a nearby table. “Daddy, light this lamp so we
can see,” she said. Rock pulled out a lighter, which he kept for the big cigars
he occasionally smoked, and lit the lamp.

The room was huge, and seemed to be fairly spartan except for a large sofa and a
few pieces of furniture. The family sat down on the sofa and began to dry out
when suddenly they heard a noise. Rock turned around a look of shock came over
his face as he saw three huge, bearded men walk into the room!

“What in the hell are ya’ll doin’ on this property?” the biggest of the men
asked.”

One of the big guys pulls out a pistol and holds it against Rock’s head.
Grinning, the other two men approach Rock’s lovely wife Linda and begin to paw
her tits, right there in front of the kids. “Don’t move!” The man holding the
gun to their father’s temple orders. “You just sit there an’ watch while your
mommy gets friendly, or I’ll blow your daddy’s head clean off!” “Let’s see what
we got here…”

One of the men tore open Linda’s blouse, exposing her large, meaty breasts. The
were really something… Linda’s tits were still the stuff Playboy centerfolds
were made of… giant mounds of firm flesh, perfectly round and upturned. As the
horrified youngsters look on, each of the men took one in hand… squeezing and
pulling at it, twisting Linda’s pert little nipples sadistically. Linda gasped
in embarrassment.

“Stop!” Cried fourteen-year-old Becky, “Leave my mommy alone!” One of the two
men pawing Linda slapped the other on the shoulder. “I can’t wait to get some of
that!” he said, his eyes ro 1000 aming over Linda and Rock’s fourteen-year-old
daughter. “Oh no, please…” Linda begged, looking up at the men as they pawed
her mouth-watering jugs. “Please don’t hurt my baby…” The men looked at each
other and grinned.

“I’ll tell you what…” said the man with the gun. “If you were to be real nice
to us, an’ do exactly like we said, maybe we wouldn’t have to hurt your
husband… or fuck your little girl.” he added as an afterthought. “I
understand…” Linda Brunner said, unhesitantly.

“Linda…” Rock began.

“Rock, it’s the only way.” Linda turned to her two teenagers. “Kids… your
mother’s going to have to do something… I…”

“Shut up, bitch!” one of the men barked, “You don’t speak unless spoken to. Now
get to work.” Linda took a deep breath. She knew what these men wanted. Reaching
out with both hands, she fumbled for the zippers on their jeans. Finding them,
she pulled them down together, then took a deep breath and reached inside to
fish for their cocks.

As she slid her hands into the two brother’s jeans, Linda’s eyes went wide with
surprise. They were absolutely huge! As she pulled first one, then the other out
of their pants, Linda stared, unable to help herself. Neither man’s cock was
hard, yet both were a over a foot long and thick as Rock’s wrist!

“Oh my god! “Linda gasped, and all three men laughed.

“All us brothers got big dicks, missus.” said the one with the gun. “The biggest
in the whole fuckin’ world, I’ll bet… Now you get to work on my brothers
before I tell them to wet their dicks in little sweet-cheeks over there…”

“Alright…” Linda said, nodding. She took hold of both cocks at the base,
pulling at them, feeling the weight of both massive lengths of flesh. The two
vein-covered tubes of meat throbbed in her hands, jerking and twitching
obscenely. Linda turned to face the man on her left and took his huge cock into
her mouth.

“Oh god, mommy…” Linda heard her daughter groan in disgust as she tasted the
strange man’s dick.

Linda felt horrible… absolutely humiliated for having to perform this act in
front of her husband and two children, but Linda knew that their only hope lie
in her pleasing these men. She knew she had to do everything in her power to
make that happen, so she sucked him… really sucked him, taking his huge cock
into her throat like she did her husband, pressing forward, forcing the bulbous
head past the restriction of her throat… swallowing… sliding her lips down
the shaft… feeling the thick shaft slide down, down, until her lips pressed
against his pubic hairs… letting her tongue flick out to carress his balls
before pulling back… slowly… seductively…

“Uhhh man…” the guy said, looking at Rock. “Your wife sure can suck a mean
dick!”

“Ummmmmmmm,” Linda gurgled as she pulled her face off of the man’s stiffening
cock.

A string of saliva stretched from her lips to the tip of the man’s prick.
Without a word, Linda turned and swallowed the second man, gulping his prick
greedily… bobbing her head, her lips making wet, obscene sucking sounds on his
dick.

“Will you two kids look at your momma…” One of the brothers teased, “She took
to suckin’ our dicks like some kinda fuckin’ whore!” All three men got a kick
out of that.

They laughed uproariously as Linda worked back and forth between them, sucking
their giant cocks for all she was worth. “You know something?” The man with the
gun said in Rock’s ear, “I think she likes suckin’ two dicks at once! Yeah…it
looks to me like your wife is havin’ herself a good ‘ol time!!” Rock looked at
his lovely wife, her head bobbing… her lips sliding up and down first one
shaft and then the other… her throat working as she swallowed the two
brother’s thick, throbbing cocks. “Oh Linda…” he said, his voice full of pain
and sadness.

Little Becky watched, absolutely horrified to see her mother working so hard to
please these two men with her mouth. She fo 1000 und it hard to believe that she
could even get her mouth over either one of them, they were so fat… let alone
actually take the foot-plus lengths of meat all the way down her throat! She was
too young to understand why her mother had agreed to do this terrible thing so
readily… All she knew was that her mother was letting these men put their
things in her mouth… no that wasn’t true… she wasn’t letting them… she was
doing it herself! She was sucking them!

Her older brother Mark was equally horrified, but found himself unable to resist
staring at his mother’s large, meaty breasts. He felt guilty, but he had never
seen tits that big or that perfect before, except in magazines, and the way
those two men squeezed and pulled at them… Well it was kind of exciting in a
weird sort of way. If he pretended for a moment that it wasn’t his mother…
that she was just some big-titted whore… NO! He couldn’t think like that! But
it was too late… he couldn’t stop his own cock from hardening in his pants,
and to his utter shame, one of the men noticed.

“Hey look! Junior’s gettin’ a hardon watchin’ his momma give us head!” “No… it
ain’t that…” said the other, “He like’s lookin’ at momma’s big fuckin’
titties.”

“Why don’t you show Junior your pussy, missus?” One of the men suggested. That
one caught Linda off guard. She stopped, looking up at the men in surprise.
“Now…” The man said, looking meaningfully at Becky.

Linda nodded, her face red with embarrassment. Linda reached up under her skirt
and took hold of the waistband of her panties. Lifting her rump off the seat,
she pulled them down to her knees, then leaned forward and let them fall to the
floor around her ankles. She kicked them aside, then let her legs fall open,
exposing her pussy to the three men, and to her two teenage children. “Look…
she shaves it!” One of the men pointed out.

It was true. Linda kept her crotch shaved smooth and bare because that’s the way
Rock liked it. Now, however, it made her feel more like a whore to have these
men see her like that. A moment later Linda’s face got redder still, as one of
the men reached down to grope her big, firm jugs with both hands while the
second crammed two fat finger’s into her cunt.

“Look at your momma’s pussy boy… You wanna know why she shaves it? It’s
because she likes to show it off… Yeah, she likes to show her pussy off
wherever she goes. Ain’t that right, missus?”

Linda had gone right back to sucking their cocks, leaving her legs splayed open.
Now she pulled her mouth off of a fat, purple dick-head with a loud smacking
sound, and turned to face her two teenage children. She knew what was expected
of her, and she was determined to play the game just the way these men liked it.

“Yes…” she said, ashamed that her children might think she was for real, “I
like to show off my pussy…”

“Where, bitch? Tell me where you like to show it off the most!”

Linda’s mind raced. She needed to think of something fast… something that
these men wanted to hear. “I’m a teacher…” Linda began, and it was true.. She
taught tenth grade English at a local high-school. “I never wear panties when I
teach class.. I like to sit in front of the room and spread my legs, so all the
boys can see my pussy.” Please kids… please don’t believe any of this…

Mark heard his mother and reeled in shock. It never occurred to him that she was
lying… He looked at her, sitting there with her pussy exposed, those two men
groping at her big mouth-watering tits. She didn’t seem frightened and she
certainly wasn’t trying to resist. Hell, she was as hot as any girl in any
fuck-mag he had ever seen. He imagined her in class, letting her legs fall open,
pulling her skirt up, showing it to all the boys, and his cock twitched.

“Yeah I knew you was a hot number…” one of them said, “Is that all you do is
let them look?”

Linda looked up at the man, trying her best to act the part. Oh Mark… Becky…
1000 I’m sorry… “No…” she said, pulling on their cocks, rubbing them in her
face as she spoke.

“Sometimes I make a whole bunch of them stay after class. I like to get down on
my knees and blow them…all of them… sucking all their cocks one after the
other… And sometimes I make them eat my pussy…”

“Hey… if she likes havin’ her pussy licked by young boys so much, why don’t we
let junior do it?” one of the brothers said, grinning at fifteen-year-old Mark.
“Yeah, let’s make him eat it!” Suggested another.

The one digging his fingers into Linda’s pussy nodded.

“Yeah, that’s a good idea. Hey boy… get over here an’ eat your momma’s pussy.”
Whem Mark didn’t move, the man got up and drug the boy over, pushing him to his
knees between his mother’s wide-spread thighs. “Eat your momma’s pussy, boy.”

“No!” Mark said in a frightened voice.

While the first brother continued grope Linda’s impressive knockers roughly, the
second grabbed her by the hair and pulled her head back. “Make him do it,
missus.” He said. “Make him do it or I’ll let the wind blow through your
husband’s head.” Linda knew that the man was serious. They’d all be killed if
they didn’t do exactly as they were told. “Yeah… show us all what a whore you
are…” said the one with the gun.

That was it, Linda knew. That was what the men wanted. They wanted to see her
degrade herself… to have to play the part of the whore in front of her family.
Well if that was the only way to survive, then that’s what she’d do. Linda would
be a whore now for these men and worry about the consequences later, when they
were safe.

Linda reached out and took her son’s head in both hands. She looked up at her
captors. “Eat me…” she said, and pulled him forward, Linda pressed her son’s
face into her crotch. “Lick it, Mark… lick my pussy.” Sensing how dangerous
their predicament was, Mark began to lap at his mother’s gash.

“Uhhhhh…” Linda grunted, not faking, as her son’s tongue flipped across her
clit and then dug deep into her cunt-hole. He’s good. She thought to herself.
He’s done this before.

While Mark ate his momma’s pussy, one of the men switched places with the man
holding the gun to Rock’s head. The third brother, anxious to join in the fun,
pulled out his cock and moved up beside Linda. “Time to make it three cocks in
your hot fuckin’ mouth, whore!”

Linda opened her mouth and gobbled up the third brother’s fuck-stick without
hesitation. The other brother moved up on her left, and once again, Linda was
moving her head back and forth, sucking two giant cocks at once. Only this time,
her fifteen-year-old son Mark was between her wide-spread legs, expertly
slurping at her cunt.

He’s too good… Linda thought as her pussy twitched. Oh god, Mark… stop
licking at my clit! “Ommmmmmmm…” Linda groaned around the fat cock in her
mouth, unable to help herself, then blushed as the three men laughed.

Mark dug his tongue into his mother’s cunt, tasting the juice that was starting
to flow. At the same time he slid his hands up the front of her body, taking
hold of her jugs, squeezing and pinching at the swollen, hardening nipples as he
ate her. Part of him knew he was going too far, but another part of him was
excited… delighted to have his mother’s fat titties in his hand’s… reveling
in the taste of her sloppy, nasty cunt.

Oh Mark, what are you doing!?! Linda tried to fight the feeling in her cunt but
it proved much too strong to resist. She pulled her knees up to her shoulders,
opening her cunt to his tongue. Gasping in shame, Linda threw back her head and
came in her son’s face.

“Uhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!” she groaned, as the sparks went off between
her legs, and her cunt gushed juice onto Mark’s tongue. She heard the three
brother’s laughing again, and found to her surprise that it added to her
pleasure. They’re watching my son eat my pussy! She thought, and a hot flash
shot through her body. Linda drop 1000 ped her feet to the floor and lifted her
ass off the seat, working her hips, rubbing her drooling fuck-hole into her
teenage son’s face.

When it was over, one of the men pulled Mark to his feet. Linda looked up at her
son, seeing her own cunt-juice glistening on his face. Beside her, the two men
worked their cocks with their hands. “Get your cock out, boy.” One of them
ordered.

The other grabbed Linda by the hair and pulled her off the chair, stripping her
naked before pushing her to her knees in front of the boy. “Don’t worry about
your momma, boy…” One of the men said, kneeling behind Linda. “We ain’t makin’
her do anything she don’t wanna do. You saw the way she sucked our dicks… all
three of us! An’ you heard her talk about suckin’ all them school boys… She
ain’t nothin’ but a fuckin’ whore, boy… Why shouldn’t you get your dick sucked
too?” Reaching under Linda’s arms he lifted up the twin mounds of firm flesh.
They were too much for even his large hands to handle, but he squeezed them
painfully, the nipples poking up ino the air, looking hard and swollen. “Jus’
look at these big fuckin’ titties…” he said, jiggling them nastily. “I know
you like ‘em, boy…Go on an’ touch ‘em.” Mark swallowed, and reached out
hesitantly to take hold of his mother’s tits.

“Yeah, that’s it, boy… Squeeze your momma’s big fuckin’ jugs.” The man
continued to hold Linda’s tits up so the boy could play with them, and grinned
hugely when he saw the excited look in Mark’s eye. “Suck on ‘em, boy…Go on.
Suck on that nasty whore’s jugs.”

Mark leaned forward and put his mouth over one of Linda’s nipples. He began to
smack and slurp away at first one and then the other, thinking about all the
boys at school who had probably done the same thing…

Linda groaned helplessly, and the teenager’s breath quickened. She liked it! A
moment later, he stepped back and began to fumble with his zipper.

“Yeah, boy. That’s right. Make the filthy slut suck your cock, an then we’ll all
take turns fuckin’ her.” Mark pulled his dick from his pants and moved forward.

“Oh Mark, no…” Behind him he could hear his father gasp.

“Just suck my dick!” the boy hissed, and pushed his pecker into his mother’s
mouth.

“Umphhh!” Linda gasped, as Mark began to fuck her face. It was disgusting…
obscene… Linda didn’t know what had come over her son, yet she knew she had no
choice, so she sucked it… sucked her own son’s cock with the same skill she
had used on the three other men. “How’s your son’s dick taste, missus? Is it
good?”

“Roll her over onto her back.” One suggested a minute or so later. “Let the boy
fuck his mother.” Little Becky sat on the sofa, watching the scene wide-eyed and
terrified, as the men forced her mother to lie on her back with her legs spread
apart. She was only fourteen, but she looked a lot younger because of her size.
She was only four-foot-seven and about 85 pounds, and although she had dated
once or twice, she had never let a boy touch her. That’s why this was all so
unbelievable… like some kind of horrible nightmare. She heard one of the men
speaking to her brother. “Go on, boy…. Fuck the whore.”

Becky couldn’t believe her eyes as Mark climbed between their mother’s thighs.
He took his penis in one hand and guided it into Linda’s snatch, lowering his
weight onto her, letting his cock slide up into her hot, moist channel.
“Ohhhhhhh!” he groaned, feeling his mother’s tight wet pussy squeezing his cock.
He had never done it before, and it felt even better than he had expected!

Once again, the man holding the gun traded places with one of the others. As the
last brother took his turn guarding Rock, the other two took turns straddling
his lovely wife’s head, pushing their cocks down her throat while his son fucked
her pussy.

Rock was numb with shock and helplessness. It was bad enough that he was unable
to stop the men from using his wife, but to have to watch while his only son
fucked her… 1000 driving his stiff dick up into her pussy again and again…
to have to listen to Linda’s gasps of shame turn to groans of pleasure as she
sucked at the two brother’s dicks and lifted her cunt up to meet her young son’s
cock.

“Uhgaah…” Linda grunted, pulling her mouth off of a stiff prick. “Fuck
me…Ahh god baby, fuck me!!!” An instant later Linda’s pussy exploded.

“Uhhhhhhhhhhhhhhgoddddddddddddddddddd!!!” she screamed, squirming beneath her
teenage son. She squeezed her fluttering pussy around her son’s penis and saw
his eyes glaze over. “Squirt it in me baby…” She cooed. “Come on… Squirt it
in momma’s pussy.”

However, the men had other plans for the boy’s spunk. One of them grabbed the
boy by the shoulder and literally tore him from between Linda’s legs.

“Make the filthy slut swallow it.” He told the boy, pushing him forward. “Go on,
boy… You know you wanna put your dick in your momma’s mouth an’ give her a
nice, big mouthful of cum, don’t ‘ya!?!” Mark looked at the man and then nodded.

“Yeah…” he said and leaned over his mother, pushing his cock into her mouth.
Linda’s pussy was still twitching as her boy leaned over her, and she took his
cock into her mouth gladly.

She wanted to suck him…wanted to make him cum! Rock and Becky were unimportant
now… as long as they behaved they’d be safe. All that mattered now was how
much she wanted to get fucked, and how badly she needed to taste her son’s
jism… to feel his hot, sticky load dribbling down her throat. She knew it was
wrong… that it was incest… yet she had loved being forced to fuck her own
son.

It had been dirty… so degrading! And she knew Mark had enjoyed it too. She
looked up to meet her son’s eyes as he worked his cock in and out of her tightly
sucking lips. “Oh god…” he grunted, “I’m gonna do it! I’m gonna do it in her
mouth!”

Rock and little Becky watched, frozen in shock, as Linda grabbed her son’s ass,
pulling him forward and taking his prick all the way down her throat… holding
him there with her lips pressed against his pelvis as he unloaded his balls.

“Unghh!” he gasped, his body convulsing as he shot a jet of goo down his
mother’s throat. “Uhhhgod…” Another squirt. He jerked his hips, pulling his
dick from Linda’s mouth. His penis literally erupted with a force and quantity
of jism that only teenage boys can produce, a thick white stream gushing
straight into his mother’s open mouth.

“Mmmmmmm” Linda gurgled. She swallowed greedily, cum running from the corners of
her mouth. “Fuck momma’s face, baby.” she begged. “Shoot it down my throat.”

Rock thought he’d be sick as he watched his son force his spurting penis down
into Linda’s throat… all he could see was the way Linda’s eyes shone as she
gulped again and again and again…In less than a minute it was over.

Mark pulled his limp dick from his mother’s mouth and rolled over onto his back,
exhausted.

“Are the three of you gonna fuck me now?” Linda was hot as a firecracker. She
lay on her back with her legs splayed wide, fingering herself and squeezing her
massive jugs as she looked up at the men. “Are the three of you gonna fuck me
now?” She asked, her own son’s cum hanging from her chin.

“No, I don’t think so…” The man holding the gun said, grinning. “Ya’ see, we
like the young stuff!”

As he spoke, the two other men converged on little Becky. “Stay away!” Becky
pleaded, trying vainly to scramble over the couch, but the men caught her and
held her between them.

Linda scrambled to her feet, but the man with the gun stopped her, motioning for
her to get back on the floor with her son.

“Get down there an’ 69 with your son…” he commanded. “Get his dick hard an’
maybe I’ll let him fuck ya’ some more.” Linda obeyed, squatting on her son’s
face, leaning forward to take Mark’s prick into her mouth, sucking him as she
watched the men holding her struggling young daughter.

“Jesus, she’s so f 1000 uckin’ little!” said one. It was true. Little Becky
barely came up to their waists.

“How old are you little girl?” One of them asked.

“F-fourteen…” she replied, sniffling.

The two men smiled at each other..

“She’s gonna have tits like her mother…” As he spoke, the man pulled up the
front of Becky’s T-shirt, exposing the cutest, pointiest little set of teenage
titties you’ve ever seen.

“God damn!” The man grinned, “We gonna pork us a pretty little schoolgirl!”
Becky started to cry as the two men turned her around, and forced her to kneel
on the sofa. They had her bent way over the back of the couch with her knees
together and her cute little rear end stuck up in the air. One of the men held
little Becky’s arms while the other unbuttoned her cutt-offs. Then he grabbed
her shorts and panties in both hands and whipped them down around her knees,
leaving the youngster’s sweet little baby-fat ass bared for them all to see.

Without a word, the man climbed up behind the youngster while his brother held
her. He wedged the huge, swollen head of his thick, eighteen-inch dick in the
crack of the tiny teenager’s ass and shoved. The fourteen year old screamed and
the big man cursed. “Hold her still, will ya? I’m tryin’ to get it in her
butt…”

“Oh god!” Rock hissed, as the realization hit him. They were going to sodomize
her! These huge men were going to sodomize his tiny little girl! “Please…” he
begged, “Don’t hurt her…”

Linda sobbed as she sucked on her son’s dick.

Becky looked up, tears flowing down her cheeks.

“Daddyyyyy!!!” she cried, and a moment later her eyes flew wide in surprise, as
the monstrous cock-head popped into her tender, virgin anus.

“Aaahhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” The little girl screamed, her face contorted
in pain. The man hesitated with just the head of his massive cock in her sweet
little schoolgirl butt. It looked like a god-damned baseball bat sticking out
from between her baby-fat cheeks…the tight, puckered ring of her tiny virgin
anus was clearly visible, twitching and jerking around the impossibly fat shaft.

The man grabbed Becky by her by the pony tail and shoved, driving more than half
of his hard, fat cock up into the teenager’s spasming butt-hole. He turned his
head, looked Rock straight in the eye, and grinned as he jerked his hips,
whipping his cock completely from the little girl’s butt. The youngster’s mouth
fell open and she sucked in a big gulp of air. He immediately placed it against
the fourteen-year-olds fluttering anus and shoved it back in to the balls.

“Gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh!!!” Becky bawled, as the entire foot and
a half of hard, fat meat was packed up into her bowels. “It burns, oh god daddy,
it burns so bad!” “Do ‘er again, Buck!” The one holding Becky said.

The one called Buck nodded and whipped his dick from little Becky’s buns, only
this time he took hold of her ass with both hands and spread her cheeks. The
poor girl’s abused and burning butt-hole was clenching and unclenching
uncontrollably, looking so tiny in the big man’s hands. “Look at that, Chip…”
He told the other. “Tightest little shit-hole you’ll ever fuck!” He moved in
again, brutally slamming his prick back up into little Becky’s rear-end. He
began to stroke the girl… working every inch of his oversized cock in and out
of her ass-hole, pumping the entire length up into the fourteen-year-old’s
little baby-fat buns so hard he knocked the wind out of her. Meanwhile, his
brother had his cock in his hand, rubbing it in the crying schoolgirl’s face,
trying to get it in her mouth. “Suck on it, you little bitch… put it in your
mouth like your momma did…”

Becky was bawling like a baby, babbling about how badly her ass-hole hurt,
begging them to stop, yet at the same time she obeyed, licking at the thick
shaft of meat dangling in her face… smacking and sucking at… reasoning on an
unconscious level that this was the only way to m 1000 ake the pain stop.

“Man she can’t even get it in her mouth…” The man said, sounding disappointed.
“And I really wanted to see sweet-cheeks with a mouthful of cock!”

“I got an idea…” said the man holding the gun to Rock’s head. “Let’s make her
do her daddy!”

Both brothers agreed readily, and Rock was instructed to pull out his dick. He
refused, and the man pulled back the hammer with a loud click. Having no other
choice, Rock undid his pants and pulled out his flaccid prick.

Meanwhile, the two brother’s continued to abuse Rock’s sobbing teenage daughter.
“Get over there, you little whore…” The man fucking Becky’s butt said. He
simply reached under the small girl and lifted her up, keeping her impaled on
his dick as he carried her over, dropping to his knees again in front of her old
man.

“Suck your daddy’s dick, you little cunt!” The man holding the gun said. He
leaned down to Rock’s ear.

You just lean back and enjoy it mister… ain’t no hurry, cause me an’ the boys
are gonna spend the next couple of hours pumpin’ your little girl’s butt!” Rock
made a sound like a strangle groan, but didn’t move. There was nothing he could
do. He watched helplessly, as the big man drove his monster cock deep into his
little girl’s ass as hard as he could, over and over, obviously enjoying the way
she whimpered and sobbed, commanding the youngster to suck Rock’s dick. He saw
Becky lift her head, her eyes unfocused. “Daddy…” she said as her fingers
closed around Rock’s limp penis. Craning her neck forward, little Becky took her
father’s dick into her mouth. “There ya’ go, sweet-thing! Suck on daddy’s dick
while I pump your tight little shit-hole!”

Linda felt Mark turn his head between her legs, so he could watch as the man
sodomized his little sister. She felt his prick begin to stiffen in her mouth as
the man drove his huge prick up into Becky’s butt-hole again and again.

My god… he’s actually enjoying all of this, she thought, and a moment later
she felt her son’s finger pressing at her own anus, trying to work it in there.
“No Mark… don’t” she said, and was instantly sorry she did. The man who was
watching turned his head and grinned.

“Look…” he said, nudging the man cornholing the little girl. “Junior wants to
fuck his mother’s shitter!” “Go give him a hand.” The other replied. “I’m Ok
here.”

The man walked over and grabbed Linda by the hair.

“Roll over, bitch.” he said, and Linda was forced to obey. She lay flat on her
stomach, her firm, tanned buns sticking up invitingly. Mark didn’t need any
encouragement. He climbed up behind his mother and pushed his cock up into her
ass, and not gently either, but savagely, brutally like the man had done to his
sister.

“Ahhhhhaaaaaaaaaaaaaa!” Linda wailed, as Mark drove the Hershey Highway.
Meanwhile Becky continued to suck her father’s dick while the big man reamed out
her ass. The man who had helped Mark got up and approached his brother. “Lemme
get some of that…” he said.

The other man grinned and whipped his slimey cock from little Becky’s ass-hole.
The teenager grunted nastily and pulled her mouth off of her father’s cock,
looking back over her shoulder just in time to see the men change places.

“Oh god no…” she groaned, but a moment later the second man’s cock had slid
painfully up into her butt.

“Oh daddy, help me…” the youngster pleaded between grunts and gasps. “They’re
takin’ turns…They’re takin’ turns in my heinie!!!”

The minutes clicked slowly by. The first brother to fuck Becky’s ass replaced
the one holding the gun, and he too took his turn in the little girl’s butt. She
still thrashed and moaned from the pain, sobbing and sucking away at her
father’s cock. Linda on the other hand had quieted down. Rock was disgusted to
see that after several minutes of butt-fucking she had begun to grunt like an
animal, sticking her shapely ass up into the air so her son could plow it better
with his dic 1000 k. “How is that, boy?” one of the men asked.

“It’s tight…” Mark hissed through clenched teeth. “Oh momma, your ass-hole’s
so tight!” Rock heard his wife moan and saw her reach back to grab the boys
hands, pulling them forward, lifting the front of her body off the floor
momentarily, so the boy could get hold of her gigantic jugs.

“Squeeze them while you cornhole me…” Linda begged, surprising Rock with her
language. “Hurt my ass-hole, baby. Come on. Make it hurt!” Mark began to savage
his mother, pounding his dick up her ass. Linda wailed and shivered, and said
something Rock would never forget.

“You can fuck my butt anytime you want, baby… from now on… You just say the
word and I’ll bend over for you. I’ll even bend over for your friends, too!
Would you like that, baby? Would you like me to let all your friends do it too?”
The three brothers broke into peals of laughter.

The minutes turned into ten, and then twenty. The three brothers had switched
again and again, each of them having five or six turns apiece up little Becky’s
ass. To Rock’s absolute horror, the tiny, 85 pound schoolgirl begin to mew
nastily, and he saw her back arch and her ass begin to quiver. At the same time
she began to suck him feverishly, her lips sucking and smacking at his cock in a
way that was impossible to ignore. Rock felt his cock begin to harden in his
little girl’s mouth.

“Oh it’s good now daddy…” Becky cooed, “Let me make you feel good too…” She
went back to sucking her father’s cock hungrily, while around her the three
brother’s laughed uproariously.

Mark had been watching his sister the whole time. Hearing her now was just too
much for him. He grunted and shot his load up into his mother’s ass-hole. Linda
gasped and clenched her ass-cheeks as tightly as she could. “Oh god yeah mom
squeeze it!” he yelled, and pumped her like a jackhammer.

The man sodomizing Becky pulled his cock from her ass and threw her to the floor
beside her mother and brother. “Make the little tramp clean your dick off in her
mouth!” He told Mark.

As Becky’s older brother grinned and pulled his slimy prick out of his mother’s
ass, the little girl rolled over onto her back, her mouth open and inviting.
“I’ve always wanted to do this, Becky…” Mark said, as he slid his dirty dick
into his sister’s mouth.

He took both of the youngster’s tits in hand and squeezed them, letting his
sister do all the work. Becky moaned and took her time sucking him clean,
obviously enjoying the terrible act. Then, to the three brother’s immense
enjoyment, Mark had an idea of his own. He pulled his little sister by the hair,
dragging her over to where her mother lay, exhausted, cum oozing from her
freshly fucked ass-hole.

“Lick it up…” Mark said, pushing little Becky’s face between the greasy cheeks
of her mother’s ass. “Clean out her ass with your tongue!”

Little Becky obeyed instantly, noisily slurping and lapping at her mother’s
filthy butt-hole, using her tongue to scoop the jism from her mother’s anus and
then gulping it down.

Grinning, Mark climbed up behind her and parted her buns, looking at her tiny
fucked-out anus. “Oh Becky…I’m gonna fuck your poop-chute!” he said, and sunk
his still-stiff prick deep into his little sister’s rear.

“Ohhhhhhhhhhhhh…” Becky groaned, her face covered with the slime from her
mother’s ass. She was so excited, she cursed for the very first time. “Fuck me,
Markie… Fuck my rear-end hard!”

The men gathered round, encouraging the boy to ream his sister harder, laughing
as he slammed his dick up into her. With every stroke the little girl moved
closer to her very first orgasm. Uhhhhgod Markie…” she groaned, “Don’t stop…
I… I… uhhhhhhhhhhhhhhh!!!”

The little 85 pound youngster thrashed and squirmed uncontrollably as she came,
her ass-hole impaled on her big brother’s dick. Before she had a chance to stop,
one of the men pulled Mark off of her and rammed his massive fu 1000 ck-stick
straight up the girl’s butt.

“Eeeeeiiiieeeeeeeeeeeeeeeeee!!!” Becky shrieked as she came again, harder this
time… her ass-hole clenching on the fat shaft, pinching it as her ass bucked
and twitched below him.

“Ahhhghhhh!!” the man grunted, and unleashed a torrent of hot jism up into
Becky’s rectum. He turned his head to look at Rock. “I just busted my nut up
your little girl’s butt…” he said, milking the last few drops into the
teenager’s behind.

“My turn.” said the second brother. He climbed up behind Becky and inserted his
fat prick in her butt. Almost immediately, the little girl began working towards
another orgasm.

“Your little girl’s a natural butt-slut!” he told Rock. “Yeah…” he said, “This
won’t take long…”

As he stroked the youngster, his brother forced the little girl to lick his cock
clean, which she did, cumming again halfway through the project… shivering and
shaking and moaning as she licked the slime from the cock. In less than a
minute, he too pumped a large load up into the little girl’s bowels.

“God, this tramps hole is gettin’ nasty!” he said, as he pulled his filthy cock
from Becky’s ass. He moved around in front of the girl and grinned as she licked
it like a lollypop. It was the third one’s turn after that.

He followed the other’s example, fucking her brutally for a minute or so before
busting his nut in the fourteen-year-old’s tight little ass. When they had
finished, they made the little girl squat over her mother’s face, forcing the
older woman to catch the jism on her tongue and swallow it, as it oozed out of
her daughter’s ass. Little Becky squatted over her mother’s face, leaning
forward on her hands. Every time her mother’s tongue flicked across her burning
anus she twitched and spasmed. She could feel a great gob of cum still up in her
ass… the combined cum from all three men.

She pushed her ass-hole down onto her mother’s stiff tongue, and reaching down
she spread her cheeks with both hands, relaxing the muscles there. With a nasty
farting sound, the cum dribbled out of her, slowly at first and then plopping
out in a goey glob right into her mother’s open mouth.

“Uhhhhhhh!!!” little Becky groaned, cumming. Linda slurped and gulped down the
nasty mess, digging in her cunt with both hands. Still not satisfied, the men
had the two females 69 next… enjoying the sight of mother and daughter
slurping at each other’s pussies…. the mother on the bottom and the cute
little teenager on the top, with her tender ass-hole exposed.

The man with the gun motioned Rock over. “Fuck her butt-hole.” he said. “Lemme
see you bust your little girl’s butt.” Rock dropped to his knees behind Becky,
his cock in his hand.

He didn’t have any choice. He put the head against her slimy, drooling ass-hole
and pushed, his cock sliding easily into the well-fucked hole. Little Becky
pulled her goo-covered face from her mother’s crotch and looked back at her
father.

“Don’t worry, daddy…” she sighed, “I like it now…” Rock closed his eyes and
stroked her, easy at first, but harder and harder as the men urged him on. Soon
he was really plowing her… fucking her butt-hole as hard as he could.

Becky was groaning and tossing her head, obviously enjoying it immensely. “Oh
god daddy… it feels so good…. I’m gonna let all the boys at school put their
things up there… an’ the teachers too… an’… an’… everybody!”

As Rock listened to his daughter babble on, he felt his prick began to swell in
her tight little ass. He pushed her face into his wife’s cunt, listened to her
slurp at the sloppy, greasy gash. He grabbed her firm little titties and stroked
her… humping her teenage butt-hole like a wild dog.

“You do that, Becky…” Rock grunted, “You hear? I want you to ask every boy at
school to put his cock in your ass…”

“Yes, daddy.” Becky moaned, “I swear I will…”

“You’re a little whore, Becky… A sloppy, tight-a 476 ssed little fuckin’
whore!” Rock grunted and a jet of cum burst up into Becky’s butt. He quickly
pulled his cock from her tight little shitter and pushed it right into her
mouth.

“Swallow daddy’s cum, you little slut… Swallow it like you’re gonna swallow
all those loads at school!” Becky groaned and drank her father’s jism. When she
finished, the three men threw them their clothes, and then pushed them out onto
the porch, slamming the door. The family looked at each other for a moment and
then dressed, before starting back towards the car.

They walked for a mile or so, dense trees lining both sides of the road. Rock
and Linda were walking behind their two kids, and Rock’s eyes fell to the damp
spot on his daughter’s shorts… cum leaking from her ass-hole.

He looked to his right and saw Linda staring too.

“Are you thinking what I’m thinking?” she asked.

Rock grinned. “Sure am…”

He took little Becky’s hand and led her into the woods.

“Come on, honey…” Linda said, leading her son by the hand. “Momma needs her
butt fucked…”

Incoming search terms:

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/captured-family.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/pesta-seks.html http://www.ceritadewasaplus.com/pesta-seks.html#comments Thu, 26 Apr 2012 22:51:59 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=1003

read more »]]>

Kulepaskan keperawananku pada pacar pertamaku. Vega namanya. Sejak awal ia memang hanya iseng padaku. Teman-temanku berkata bahwa ia hanya akan memacariku sampai aku melepaskan keperawananku padanya. Saat itu, pulang sekolah, seperti biasa ia menjemputku. Kebetulan orang tuaku sedang keluar kota. Aku tahu bahwa ia tidak akan mengantarku pulang.

Ternyata benar. Ia membawaku ke sebuah motel. Dengan gayanya yang sok Don Juan, ia melepaskan pakaianku. Saat itu yang ada dalam kepalaku hanya perasaan ingin tahu. Lalu Vega menelanjangiku, dan menidurkan aku ke atas ranjang. Kubiarkan ia meremas remas payudaraku yang besar (36B). Ada rasa aneh seperti menggelitik saat itu. Vega menciumi dan menjilati puting susuku. Lalu tangannya yang satu lagi menjalar ke vaginaku. “Akhh..” tak terasa aku mendesah. Lidah Vega menjilati putingku lalu beralih ke payudaraku yang satu lagi. Kedua putingku mengeras.

Tiba-tiba kurasakan jari Vega masuk ke dalam vaginaku. Dan ia memain-mainkan jarinya. Aku merasa nikmat, namun juga sedikit sakit. “Oohh.. Sakit, Veg..” ujarku. Vega terus menjilat dan menyedot putingku. Aku menggeliat-geliat sementara tanganku menjambak rambutnya. Saat itu Vega langsung membuka pakaiannya. Kami berdua kini sama-sama telanjang. Aku dapat melihat penisnya yang menegang, tersembul ketika ia melepaskan celana dalamnya. Bulu-bulu lebat memenuhi kemaluan dan pahanya. Tanpa basa-basi, Vega langsung memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. “Aaww!!” Aku merasa kesakitan. Aku berusaha mendorong Vega, tetapi ia sangat kuat. Kelihatan sekali bahwa ia sangat bersusah payah untuk memasukkan kemaluannya.

Vega merentangkan kedua pahaku dan kembali berusaha memasukkan penisnya. “Akhh.. Sakit, Veg..” Lalu, bles.. tiba-tiba penisnya sudah masuk ke dalam vaginaku. Dengan cepat ia menggesek, mendorong penisnya dalam vaginaku. “Kamu suka nggak, sayang. Kamu suka nggak sama punyaku?” ujarnya sambil terus mendorong penisnya tanpa memperhatikan aku yang mengerang dan menjambaki rambutnya. Ditengah-tengah rasa sakitku, sebenarnya aku merasakan kenikmatan.

Lalu tiba-tiba Vega mencengkram bahuku dan tiba-tiba ia mengerang dan mengeluarkan penisnya dan menjulurkannya ke atas dadaku. Creett.. Sperma menyembur dan membawahi dadaku. Kulihat kepuasan di wajah Vega. Aku tak mengerti apa yang terjadi saat itu. Kemudian Vega menggeletakkan dirinya di sebelahku. Aku bangkit dan membersihkan sperma di dadaku. Saat itu aku melihat darah sedikit di atas sprei. Saat itu juga aku menyadari bahwa aku tidak perawan lagi. Benar juga, seperti kata teman-temanku, Vega memang memutuskan aku, beberapa hari setelah itu. Anehnya, aku tidak menyesal. Malahan saat itu aku merasa bahwa aku menjadi berbeda dan lebih kuat.

Selang beberapa tahun setelah itu, aku berpacaran dengan beberapa teman lelakiku dan selalu berhubungan initim. Begitu lepas SMA, Papa mengirim aku ke UK untuk sekolah manajemen. Di sana aku tinggal sendiri di sebuah apartemen milik kerabat Papa. Ada sebuah bar di sana yang bernama Lorga. Setiap akhir pekan aku selalu ke sana. Lama-lama, para bertender di sana kenal denganku. Saat itu aku betul-betul jenuh dengan kehidupan seksku. London sangat bebas. Aku pernah tidur dengan bermacam-macam lelaki. Black, White, Chinese, Japan, hampir segala ras pernah aku pacari dan getting laid. Pink, salah satu bartender di Lorga, yang kebetulan pernah getting laid denganku menyarankan untuk datang ke sebuah pesta pribadi temannya.

Lalu aku pun pergi ke sana. Rupanya pesta itu adalah sebuah pesta seks. Tanpa tahu temannya, aku pun bergabung dengan keramaian di sana. Ketika aku datang, semua orang sudah saling menempel dan ada pula yang sudah memulai. Musik underground terdengar memenuhi dadaku. Awalnya aku bingung hendak apa.

Akhirnya aku bergabung dengan sebuah kelompok di sebuah sudut, lima orang lelaki dan dua orang wanita, semuanya telanjang. Aku lepaskan seluruh pakaianku dan bergabung dengan mereka. Ketika aku mendekat, mereka semuanya tidak ada yang terganggu. Salah satu pria di situ, seorang pria latin (Namanya Ronnie, dari Itali) memiliki penis yang sangat besar “menganggur”. Yang lain, penisnya sedang di jilat oleh kedua wanita itu. Aku meremas penis pria itu. Pria itu sedang menjilati puting salah satu wanita di situ. Aku pun mulai mengulum penisnya.

Tiba-tiba kakiku direnggangkan oleh seorang lelaki. Aku merasakan basah di vaginaku. Rupanya seorang lelaki Negro tengah menjilati vaginaku. Tanganku mulai menekan-nekan penis pria itu sementara pria Negro itu menyedot vaginaku. Dan seorang lelaki yang sedang bercinta dengan seorang wanita lain menjilati puting payudaraku. Sungguh hebat dan nikmat. Aku sangat terangsang.

Tiba-tiba pria yang sedang aku sedot penisnya menarik kepalaku. Ia menatapku lalu menciumi bibirku. Kelihatannya ia ingin memasukkan penisnya ke dalam vaginaku, tetapi mereka mengeroyokku. Tiba-tiba si Negro membalikkan tubuhku. Rupanya ia ingin doggy style denganku. Ia memasukkan penisnya yang sangat besar ke dalam lubang vaginaku. Lalu ia mengocok penisnya ke dalam vaginaku. Aku sangat terangsang. Pria Itali itu memperhatikanku. Entah mengapa aku seperti tertantang. Terlihat seorang wanita di depanku baru selesai disetubuhi oleh seorang lelaki. Aku langsung menciumi puting wanita itu dan menciumi bibir wanita itu. Pria Itali itu mendekati kami dan memasukkan penisnya ke dalam vagina wanita itu. Doggy style juga, sama seperti si Negro denganku.

Namun aku tak mampu lagi untuk memperhatikan pria Itali itu karena tiba-tiba dua orang lelaki mendekati aku dan menarik rambutku, minta agar aku melakukan blow job. Aku lalu menjilati penis lelaki itu, sementara salah satu wanita di dekatku menghisap puting payudaraku. Malam itu malam terhebat yang pernah aku lewati. Tubuhku disembur oleh sperma dari bermacam-macam lelaki di situ.

Ketika pagi, tubuh-tubuh telanjang bergeletakan di lantai. Tanpa aku sadari. Pria Itali itu rebahan di sampingku. “What’s your name?” tanyanya. Akupun memberikan nama, alamat dan nomor teleponku. Ronnie, pria itu mengundangku untuk datang ke pertemuan berikutnya yang kebetulan dilaksanakan di rumahnya. Aku langsung menyanggupi. Ketika aku pulang, aku tetap tidak mengenali mereka, merekapun tidak mengetahui siapa aku, kecuali Ronnie.

Langsung ke weekend berikutnya, aku datang ke rumah Ronnie. Rupanya pesta belum dimulai. Hanya aku sendiri di situ, berdua dengan Ronnie. Kami tidak mengobrol karena Ronnie langsung menelanjangiku. Kali ini ia malah tidak melepaskan pakaiannya. Ia malah mengenakan sebuah rantai di leherku. “Your going to love this.” Katanya. Lalu Ronnie melepaskan kemejanya. Pada saat yang bersamaan, terdengar ketukan di pintu. Ronnie membukakan pintu. Tiga orang pria masuk. Salah satunya pria Negro bartender itu yang kulihat di pesta yang lalu. Mereka kelihatan senang melihatku. Langsung saja mereka melepaskan kemeja mereka.

Dua orang yang lain masuk ke kamar Ronnie dan kembali dengan sebuah kamera video. Ronnie mulai menarik rantaiku dan menyuruhku duduk di lantai. Pria Negro itu mengikatkan tambang kecil di seluruh tubuhku. Aku tidak dapat bergerak. Tangan dan kakiku diikat menjadi satu. Ronnie melepaskan celananya dan menekan kepalaku sementara si Negro memegangi pahaku dan mulai menciumi vaginaku. Pria yang lainnya mulai melepaskan pakaiannya sementara yang satu lagi merekam kami. Anehnya, aku benar-benar menyukainya. Ronnie benar. Aku menghisap penis Ronnie. Ronnie menjambak rambutku. Si Negro menjilati klitorisku hingga betul-betul becek. Pria yang satu lagi, lebih kurus dari Ronnie, si Negro dan yang memegang video menciumi payudaraku. Lalu si Negro selesai menciumi vaginaku. Ia memukuli pantatku hingga aku kesakitan. Mulutku penuh dengan penis Ronnie. Sementara aku merasa pantatku panas karena dipukuli oleh si Negro.

Si pria kurus melepaskan ikatanku. Si Negro menarik pinggulku hingga si pria kurus berada di bawahku, sementara Ronnie, sambil memegangi rantai leherku, terus kujilati penisnya. Tiba-tiba, si pria kurus memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Tetapi aku merasakan si Negro membuka pantatku. Awalnya aku agak cemas. Aku melepaskan penis Ronnie dari dalam mulutku, tetapi Ronnie, menarik rantai leherku dan menekan kepalaku agar aku terus menjilati penisnya.

Dan bleg, aku merasakan penis si Negro masuk ke dalam pantatku. “Akhh.. It’s hurt! ” jeritku, namun Ronnie menamparku dan kembali menarik rantai leherku dan memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Aku merasa diperkosa. Si pria kurus menekan-nekankan penisnya ke dalam vaginaku, sementara si Negro terus menekankan penisnya ke dalam duburku, sementara si pria video terus merekam. Ronnie semakin keras menjambak rambutku. Tanpa terasa aku menikmatinya. Mungkin karena sempit, si Negro orgasme duluan. Ia menyemprotkan spermanya ke punggungku. Pria video kelihatan sangat horny. Ia mengoper video itu ke pria Negro dan menggantikan posisi pria Negro, membuka celananya dan mengeluarkan alat vitalnya yang sudah mengeras ke dalam duburku. Aku betul-betul merasa nikmat. “Aakhh.. I think I’m coming..” desahku.

Ronnie berhenti memaksaku untuk menjilati penisnya, sementara pria kurus terus menekan penisnya sambil menjilati puting payudaraku dan si pria video terus menekan-nekankan duburnya. oohh.. yeaahh.. akkhh!! I’m coming.. ” jeritku sambil merejang, menegang, sementara pria kurus terus mengulum puting susuku dan menekan-nekankan penisnya. Dan aku orgasme. Pria kurus tidak lama kemudian juga menyemprotkan spermanya. Begitu pula pria video. Pria kurus membanting tubuhku dan menyemprotkan spermanya ke tubuh dan mulutku. Aku merasa sangat lelah. Namun aku menggosok-gosokkan sperma ke seluruh tubuhku.

Pria Negro mendekatkan kameranya kepadaku, dari mulutku yang penuh sperma, ke tanganku yang mengusap-usapkan sperma dan ke vaginaku yang sangat basah. Setelah itu ketiga pria itu menciumi bibirku, putingku dan mengatakan bahwa aku sangat hebat. Ronnie masuk sambil membawa segelas air dan sebuah pil. Ronnie juga memujiku. Ia menyuruhku untuk meminum pil itu. Ia mengatakan bahwa aku akan menjadi pulih dan lebih kuat setelah minum pil itu.

Benar juga. Belum berapa lama, aku sudah merasa bertenaga. Aku menanyakan pada mereka untuk apa video itu. Rupanya mereka mengoleksi video-video semacam itu. Aku meminta kopinya. Aku tak keberatan dengan video itu. Aku menyukai dan sangat menikmati suasana tadi. Ronnie menawarkan aku untuk ikut kembali minggu depan. Namun minggu depan mereka akan mengadakannya di alam terbuka. Aku sangat tertarik. Begitulah kehidupanku di sana. Setiap akhir pekan, selalu ada new experience bersama Ronnie. Terkadang, aku merindukan suasana itu di Jakarta. Adakah?

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/pesta-seks.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/i-meet-beca.html http://www.ceritadewasaplus.com/i-meet-beca.html#comments Thu, 26 Apr 2012 10:52:18 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=392

read more »]]>

I Meet Beca

I stopped my bike and planted both feet on the ground. Approaching me was
a young jogger. The girl had a sweat band around her head, her hair in two
braids and a smile on her face. Her sweat soaked t-shirt was plastered
against her two perfect mounds. At the summit of each was a perfect point
the shape of an olive. I was so intent on starring at this beauty I fell
over on my bike. She stopped and looked down at me with a smile and said,

“I don’t know whether to laugh or cry for you.”

“I don’t either,” I replied while the hand brake lever stuck me in the boob
and my legs were wrapped around the bars of the bike.

The beauty helped me get untangled and then helped me up and asked if I was
alright. I replied that my breast hurt where the lever had been. She smiled
and suggested she would make it better and gently squeezed it. My knee was
quite scraped and began to bleed a little. But I couldn’t take my eyes off
my angel.

“Why don’t we go to my apartment,” She asked, “It’s not far from here, just
around the block. Then we can do something about that knee of yours.”

Here apartment was more like a small house, all on one floor. We entered
thru the front door and angel lead me down the hall and into a bedroom.
She started to strip her soaked clothing off and I watched with a little
amazement. Here was a beautiful young girl stripping in front of a woman
she had just met. Actually we hadn’t formally met yet.

When she was down to her panties she came to me and said,

“Let’s take a look at that scrape.”

She lifted my leg up placed it on a chair while she examined my wound. I
thought this girl has done this before. She looked at me and smiled and
said,

“This wound needs a good cleaning and then a bandage. I think in the
shower would be the best place to wash it.”

Once again I was amazed but thought to my self, I wonder how far this young
lady is willing to go. She was standing right by my side as if waiting to
help me up. I put a hand on each of her hips and looked up at her smiling
face.

“There is something I’d like to do before we hit the shower,” I told her.

“What is that?” she asked.

I stood up, keeping my hands in place on her hips. I gently pushed her
back towards the bed until she fell over on it. Then I put a hand on each
thigh and spread them. The crotch of her panties was just as wet as her
t-shirt had been. I couldn’t wait to nibble and lick this hot, wet cunt.

“What are you doing?” She asked with urgency in her voice.

“I’m going to dine on a beautiful woman’s hot sweaty pussy,” I replied.

Her voice seemed to say, I don’t know about this, but her body said, I’m
all yours. So I didn’t hesitate any longer. I ran the tip of my tongue up
the inside of her thigh till I felt the smooth wetness of her panties.
Then I grasped them in my teeth and pulled on them. My beautiful little
girl lifted her hips so I could slide them down. The heavy sweaty smell
that had engulfed my senses was now be tempered by the strong and wonderful
aroma of her sex. I buried my face in her pussy, inhaling deeply as my
tongue pushed its way in to her love hole. Then our movements became as
one as she moaned and writhed about and I gripped her tightly to continue
my cleaning. Her clit stood out like a small cock and I sucked it like it
was one.

I had only been playing for a few minutes when she erupted like a volcanic
geyser. I clamped my mouth over her cunt hole so as not to loose any of
her love juice. Suddenly she lay quiet as if she had passed out. I
continued to gently lick about her pussy and into the valley between her
buns where her rose bud resided. Then each thigh was carefully cleaned and
then I sat back. This lovely little girl just laid there, a big smile on
her face and eyes closed. Then she opened them and looked at me.

“My you don’t waste any time getting what you want, do you?”

“I learned long ago that time wasted is never recovered. Now we can
proceed with that shower knowing what we are really about.”

During the shower and while drying off we were constantly at each others
bodies. I loved the feeling of the warm shower spray on my head while my
face was buried in her pussy while she seemed to prefer sucking my nipples
like a baby at its mothers. But that was to change. When we had finished
drying each other my little one took charge and led me to her bed. I found
myself flat on my back, legs spread while this little angel began making
love to my cunny. Her first action was to tease with a gentle touch of her
fingers, up and down the lips of my hole. Then she flicked my clit until I
was about to explode and then began with her tongue.

My little friend loved licking my pussy and while she didn’t seem to be
very experience she definitely knew what to do. First her lips would be
pulling my clit, then I could feel her tongue fucking my cunt and all the
while her fingers were doing a dance up and down my thighs and up and down
the crack between my buns. A tip of her finger even found my rosebud
several times. I too am a squirter and when my first climax approached I
grabbed her head, pushing my pelvis hard against her face. She drank my
juice like a thirsty child and continued licking and sucking until I
collapsed. I laid there absolutely exhausted. She brought me around by
asking,

“Which one would you like first?”

I opened my eyes just as she unrolled a large bundle that contained
probably 8 or 10 love toys. Long slender ones, big bulky black ones, a
harness for a two way strap on and several different types of vibrators. I
couldn’t believe how well equipped my new lover was. I leaned up on one
elbow and surveyed my choices. I picked a medium sized cock and the
harness and said,

“I want to fuck you with this one to start with,” I said, pulling the
harness out of the bundle. As part of the harness there was a large elbow
shaped cock like thing that went into my pussy and she attached the cock
that would be used on her. We soon were kissing and playing with each
others tits while the cock hammered in and out of her pussy and I was
favored with action with the one in me. I told my little one that when a
climax approached to tell me cause I wanted to drink at her fountain. It
was long before I found myself lapping up her love juice after a tremendous
effort.

We traded positions and the harness and cock several times over the next
few hours. I had never been with such a love child. Finally when neither
of us could move we just laid there in each others arms and enjoyed the
feeling of bare skin against bare skin. Then my little lover said,

“I think we had better have some solid food, don’t you?

I then realized how starved I was. I glanced at her bedside clock and saw
that it was almost 10. We had been making out for nearly 5 hours. I slowly
rolled out of bed and agreed with her that food was very necessary. I
started to pick up my cloths and she scolded me saying, “No cloths my love
I want to be able to see your beauty while we eat.

While we prepared something to eat we chatted like school girls. Sometimes
both talking at the same time, not listening to the other. Suddenly I put
my hand on her arm and said,

“I know every inch of your body and know what you taste like fresh from a
run or fresh from a shower but I don’t know your name.”

My little one replied, “Beca, if it’s important. What’s yours?”

“Carrie”, I replied.

We both sort of laughed and said that we were glad the formalities were out
of the way. Beca asked where I was staying and I told her and then she
asked how much longer I had in England. I told her about 10 days and she
told me she had to go to work in about 3 hours but would take the next 10
days off and we would really get to know each other. I thought to myself I
thought I knew her pretty well all ready.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/i-meet-beca.html/feed 0 http://www.ceritadewasaplus.com/clubhouse.html http://www.ceritadewasaplus.com/clubhouse.html#comments Wed, 25 Apr 2012 22:51:59 +0000 admin

http://www.ceritadewasaplus.com/?p=389

read more »]]>

I had just turned sixteen when dad went to the doctor and found out he only had six weeks to live. He had been sick for months and had finally decided to see the doctor. A week later, mom was coming home from work and was hit by a car that ran a red light and she was killed. It was a realtor, talking on her cell and not paying attention. Three things happened.

Dad saw a lawyer and had me declared an adult. He sued the realtor and her company and he invested the half million dollar life insurance money in my name. Three weeks later, he died in his sleep. The law suit had just settled two days before. Suddenly I was left alone.

Our town wasn’t huge, we only had maybe five hundred kids in high school. I wasn’t a jock or a nerd. I had friends that were one or the other. Besides dad’s life insurance money and the money from the law suit, dad’s mortgage insurance paid off the house. I invested everything but a hundred thousand. That was my yearly budget for this year.

I lived on the edge of town. Our house was an older one that sat on fifty acres, mostly woods that made it secluded. We had this big barn that mom and dad had let me use as a clubhouse when I was younger. It was a month after dad had died that one of my friends had an idea to cheer me up. He was a jock and unlike me, had been with a few girls.

He was popular, but I kidded him that he was a porn addict because he was always watching porn. I should describe myself. I am 5’11”, brown hair and blue eyes. I have a larger than average dick, eight and a half inches long and two thick.

He told me, he and some of our friend were going to build something in the clubhouse. Doug and the others started bringing in lumber and that made me curious but he always chased me away, saying I had to wait. Two weeks later he walked me into the barn alone. They had built ten rooms along the two long walls and put a couple of glass showers in at the other end with toilets sitting in the open between them.

On the twelve foot beams they had built another floor and added six more rooms. Between the rooms on the bottom floor was a mixture of different couches and chairs along with a small kitchen. In each room they had built a wooden frame for a queen size bed. I shook my head, “What the hell?”

Doug grinned, “It’s a new clubhouse for guys and girls to… get together.”

I looked at Doug, “First, that isn’t going to help me. Second, no girl is going to want to use a bedroom where she can’t put her clothes someplace. Third you need some other type of entertainment.”

Doug grinned, “Don’t worry about finding a girl.”

I sighed, “Fine. Have someone take those old mattresses off, they look like shit. I need someone else with a big truck to go shopping with me. You go into the house and have someone help you bring dad’s big sixty inch out and grab the DVD player too.”

I spent the afternoon buying sixteen new mattresses and tasteful wooden clothes hangers for the walls of each room. I bought sheets and blankets for the beds as well as an electric heater for each room. Just for the hell of it, I bought a new king size bedroom set for myself.

The next two weeks were strange, Doug and some of the others were all over the school talking to girls from all grades. It was a Friday morning and I had only gotten a little sleep the night before. Doug stopped me before our first class, “We need some refreshments.”

I just looked at him and he shrugged, “Everyone is tapped out from building the clubhouse. We’re going to have a party tonight.”

I shook my head, “No drugs or alcohol. I don’t need the sheriff giving me grief.”

He grinned, “Just soda or juice. We’ll need chips, pizzas and maybe some frozen food.”

I was surprised at how many girls talked to me that day. After school, I stopped to pick a bunch of stuff up. Doug had marked the area in front of the barn where people could park. I put everything away in the refrigerator in the barn as Doug picked out a couple of movies and everyone started arriving around five.

I was really surprised at how many girls had shown up, there were eighteen of them. Doug stood up on a chair and held out his hands. “Welcome everybody. This is our first meeting. We are going to start off with our claiming. Since we did this for Mike, he will be first…”

He didn’t even finish talking when I was surprised by two girls that raised their hands. They were standing together, one was the head Junior Varsity cheerleader named Elizabeth and the other was a young freshman named Sandy, she was one of the smartest girls in school. “We want him.”

Doug stopped, “Well, um… the guy is supposed to pick his slave.”

Doug was looking at me as I stared back in shock, “Slave?”

Everyone laughed as the two girls walked to me. I looked at them as they came up, “Slaves?”

They grinned and the cheerleader spoke up, “Think you can handle two of us?”

I looked at Doug and then I laughed and threw up my hands, “Sure.”

Doug grinned, pulled a key on a silver chain out of a fish bowl and tossed it to me. I glanced at the number to see that it was on the second floor. Elizabeth took a look and started pulling me up the stairs after her. When I unlocked the door and we went in, they were surprised and grinned. They both turned to each other and began helping each other undress.

I hesitated and then slowly started undressing. By the time I was pulling my pants off, they were both naked and watching me. They both grinned when my boxers came down and they saw my cock. Sandy knelt and wrapped her hand around my cock, “um, over eight inches and maybe two thick.”

Elizabeth laughed, “Not just that, his balls are nice and big.”

Sandy looked over her shoulder at Elizabeth and grinned, “Can I go first?”

I shook my head and stood up, “Girls… uh… I… I haven’t, you know, done this before.”

They both smiled and stood to embraced me, “We know.”

They pushed me back onto the bed and suddenly it was funny. I laughed as I grabbed a surprised Elizabeth. I pulled her up my body and spread her legs above my face. I looked between her legs at a surprised looking Sandy, “Didn’t you want to go first beautiful?”

Sandy laughed and straddled my hips. I watched her grasp my cock and guide it to her pussy. I groaned as my cock slowly entered her and pulled down on Elizabeth. She laughed as her pussy slid over my face. I shivered and started licking her wonderful pussy. Elizabeth shivered as Sandy began to move. First grinding back and forth and then fucking my cock a few strokes before repeating it.

I couldn’t believe the feeling of Sandy’s tight warm pussy sliding over my cock, but Elizabeth, I loved the taste right away and couldn’t get enough. She started humping and bucking down into my face when I began sucking and licking her clit. Sandy was shuddering with my cock buried all the way up to her womb. I could barely hear her cry out, “oh my god, I’m cumming!”

As her pussy tightened, the feel of her shuddering pussy sent me over the edge. I shuddered and arched my back as I moaned into Elizabeth’s pussy. As I began spraying cum up inside Sandy, Elizabeth started shaking and humping hard against my face before suddenly squirting me with her girl cum.

It was a few minutes before she swung her leg over me with a red face. Sandy was slumped a little and followed Elizabeth’s in lying beside me. I pulled Elizabeth back and gave her a kiss, “Thank you.”

I caressed her face a minute before turning to Sandy and doing to same thing. Sandy giggled a minute later as she wiped my face, “I thought she only did that to me.”

I laughed, “I loved it.”

Elizabeth went to her elbow and looked at me, “You do know you guys are just supposed to fuck us?”

I stared up at the ceiling grinning, “You said you want to be my slave so I will enjoy you how I want.”

Sandy laughed and Elizabeth grinned before straddling me and guiding my still hard cock to her pussy. She kept looking into my eyes as she slowly sat down, my cock sliding into her wonderful silky pussy. She finally closed her eyes and sighed and gave a shiver as Sandy reached up to caress her breasts.

Elizabeth opened her eyes and looked down into mine. “You know as slaves, that after you finish claiming us we have to go back and let the other masters have their turn.”

I looked into her eyes, “Nobody has told me anything.”

Elizabeth smiled and slowly lay on me, “We know. That’s why I’m telling you now.”

I could feel her pussy grasping and releasing me as Sandy caressed my cheek, “The girls came here to get fucked without any hassles. Any master can fuck us over the weekend.”

Elizabeth shivered and gave me a kiss, “During the week, the slave only fucks her master.”

I shivered slightly and looked from Elizabeth to Sandy, “How long are you going to be my slaves?”

Sandy grinned, “Until you release us or we ask to be released.”

I caressed Elizabeth’s butt, “So, you’re mine through the week, but on the weekends we have these parties and only the other masters get to fuck you?”

Elizabeth shivered and nodded with Sandy as her pussy grabbed at my cock again. I lay there thinking about it and at first there was jealousy, but then I remembered I was a master. I smiled and reached out to tug gently on one of Sandy’s nipples. “So, while you two fuck the other masters, I fuck the other slaves?”

They grinned and Elizabeth actually fucked up and down with her hips. Elizabeth rolled, pulling me with her. I ended between her legs and she smiled, “Fuck me master.”

I pulled back and started to fuck her slow and deep. I gave Elizabeth a kiss and looked at Sandy as she moved closer, “You both wanted me to claim you together. Does that mean you are lovers?”

Sandy looked at Elizabeth as she shivered and tried to hug me tighter, “Yes. We never told anyone, but you are our master now.”

I gave Elizabeth a kiss before leaning out to kiss Sandy, “I’ll keep your secret.”

I looked at Elizabeth’s lust glazed eyes and grinned as I started fucking her harder. It wasn’t long before she jerked and started shuddering repeatedly. As her pussy tightened around my cock, I started cumming against her womb. Elizabeth jerked with each spurt of cum and murmured, “So warm.”

When I was done, it took me another minute to get my breath and slowly and reluctantly pull out. Sandy caressed my chest, “Well, do you accept our claim?”

I laughed and pulled her over Elizabeth and kissed her hard. I pulled back and softly caressed her face, “Until you ask to be released.”

She grinned and sighed before kissing Elizabeth, “Then we need to go back downstairs.”

Elizabeth touched my cheek, “I really enjoyed it.”

I laughed, “Since it was my first time?”

She grinned and gave me a quick kiss before rolling out of bed. They walked towards the door and I cleared my throat. When they looked back I gestured to their clothes and Sandy grinned, “Sorry, the rules say we have to stay naked. This is your room for the weekend. We come back here to sleep when we get tired.”

I looked from her to Elizabeth, “I have to stay naked too?”

They grinned as they opened the door, “Not if you don’t want to.”

I smiled and climbed out of the bed and hesitated before shrugging and just picked up my key and putting it around my neck before leaving. Elizabeth and Sandy were talking to three other girls when I came downstairs. They looked at me, Elizabeth and Sandy were smiling but the three other girls stared at my still hard cock.

I padded quietly to the small kitchen area and poured a small glass of juice. I was just turning away when one of the girls walked up to me. Her name was Sarah, she was smiling with a red face. I noticed a small trail of cum on her inner thigh. She reached out and wrapped her hand around my cock, “God your big.”

I looked down at her hand and then reached out to softly caress one of her breast. “These are very nice too.”

She laughed and looked back at Elizabeth and Sandy. “You did both of them and your still hard?”

I smiled, “It was my first time. I was saving up.”

Sarah laughed and released my cock, “Would you fuck me master?”

I took a drink of juice, put the glass on the counter and took her hand. I walked straight to Elizabeth and Sandy. I gave each a quick kiss, “Enjoy your selves.”

They both grinned as I led Sarah up the stairs. I opened the room and led Sarah to the bed. I pushed her onto the bed and followed her. I began kissing her and caressing her body, letting my hand slowly find its way to her cummy pussy. I began running my fingers through her slit while she moaned and shivered. I gently teased and tickled her clit for a few minutes.

She moaned and shuddered as I began slipping one finger into her hole. I began slowly finger fucking her, going from her clit, down into her leaking cunt. When she started humping up at my hand, I pushed a second finger into her. I curled my fingers so that they went in and then up under her pelvic bone. I would rub hard across a soft sponging area before pulling out.

Sarah suddenly started having small seizures, her cunt tightened and she squirted cum. A second later she shivered really hard and did it again and then again. I finally pulled my fingers out and moved between her legs. I pushed into her shaking body and she groaned as I started to slowly fuck her going deeper with each thrust. Sarah didn’t stop shaking and shuddering the whole time.

By the time I was all the way in and pushing against her womb, she was moving erratically and incoherent. I started fucking her harder and faster and fifteen minutes later I came. Sarah bucked and thrashed under me as I spurted and sprayed the inside of her pussy. When I finally finished and pulled out, she was still shuddering through another orgasm.

I lay beside her and just held her until she finally sighed and shivered one last time. She slowly turned her head to look at me and smiled. I grinned and kissed her cheek, “Thanks Sarah.”

I rolled out of bed and held out a hand to help her. When we came down stairs, Elizabeth and Sandy were both gone. There was another moment of jealousy before Sarah laughed as she kissed my cheek and walked away muttering, “Damn, he’s still hard.”

My glass was still on the counter so I finished it. I thought about everything that had happened and grinned. I gave a little wave at the four girls watching a movie and walked out. I didn’t even think about being naked. I walked in the back door of my house as the phone rang. It was the mother of Paul, one of the guys in the clubhouse. I told her we had been out back and she gave me a message for Paul.

I thought about it and unplugged one of the remote cordless phones. Next was my mom’s laptop. I carried both back to the clubhouse. When I came in, the girls all looked up and grinned. I plugged the phone in and brought the laptop to a couch. I walked to the other end of the barn and washed my bare feet in one of the showers.
I fixed a frozen dinner and came back to the couch as two of the guys brought a girl back. She was grinning and cum covered her whole groin. While I ate several girls sat down by me and looked at the dinner, “That isn’t pizza!”

I grinned, “I bought pizza if you really want it, but there are other things in there.”

One of the girls, Mary, leaned over to see what I was doing. “A database?”

I nodded absently, “For masters to record their… sessions and for slaves to record theirs.”

The girls laughed and Mary wrapped her hand around my cock, “It looks like you need another session.”

I grinned and set the laptop on the coffee table before standing up. I turned and took Mary’s hand, “In that case slave.”

The girls laughed as Mary grinned and stood up. I had sex with a total of seven girls before I got too sensitive. Everyone seemed to like the idea of a database and Sandy even made it look better. It was almost midnight, when I called it a night. I started up the stairs and both Elizabeth and Sandy were suddenly following behind me.

I smiled as they followed me into my room. I waited for them to get on the bed before turning out the lights and switching on the tiny in wall subdued light. They both grinned at me as I unfolded the blankets at the foot of the bed and pulled them up. I climbed into bed beside Sandy and absently tugged on one of her nipples, “Did you girls have fun?”

They both grinned and Sandy snuggled against me, while Elizabeth moved up behind her. It was quiet as I tried to sleep, having a naked girl next to me was a distraction though. I caressed Sandy’s body and quietly asked, “How are we going to… I mean, during the week…”

Sandy giggled, “You had seven of us and you want more?”

I grinned and gave her a squeeze, “Maybe later, I meant… you know, what are you going to tell your parents?”

Elizabeth sighed, “My mother doesn’t care what I do as long as she doesn’t have to get involved.”

I looked over Sandy at her, “And if you spent the whole week at my house?”

I could see Elizabeth smile as she opened her eyes, “She wouldn’t care. It would just mean she didn’t have to cook or wash my clothes.”

I smiled and put my head down, “What about you Sandy?”

She laughed, “I told mom I was going to become a boy’s sex slave and she laughed. She said to let her know if my master was any good. She said she might want to borrow him.”

I grinned and closed my eyes, “Am I any good?”

Sandy and Elizabeth both laughed. Sandy kissed my cheek, “We got the best deal. Everyone you have been with has told us you are the best so far.”

Elizabeth giggled, “Sarah said she was going to start worshiping you.”

I laughed, “Sarah was fun.”

I woke to quiet, Sandy was snuggled up against Elizabeth and was sleeping soundly. My watch told me what time it was and I carefully slid out of bed. I put my old clothes on even though I felt dirty. No one was up when I went downstairs. I walked out to my dad’s car and drove to the market.

I bought stuff for breakfast and headed home. I had been thinking about what we were doing and had an idea. In the clubhouse, I put everything away as several sleepy eyed girl watched. I stopped to give one a caress on my way past, “I bought several things for breakfast.”

She grinned, “And want something else to go with it?”

I laughed as I headed up the stairs, “Maybe later if you’ll take a rain check.”

I opened my door to see Sandy and Elizabeth kissing and caressing each other. I quietly closed the door and stripped without them even noticing. I slid into the bed next to Elizabeth and she jerked away from Sandy with a squeak. I grinned and pushed her back, “Finish what you started, slave.”

Sandy giggled and Elizabeth looked at me red faced before grinning and turning back to Sandy. I watched them make love and it made me hard but I enjoyed every moment. They finally sighed and pulled apart. I kissed Elizabeth and moved over her to kiss Sandy. I rolled out of bed, “Time to get up. I have plans.”

They laughed and Elizabeth smiled, “We’re just supposed to fuck other masters today.”

I grinned, “That can wait. Showers and then I need you to get everyone together.”

Showers were fun and by the time we got out, most of the others were up. It didn’t take long for the girls to gather on the couches. All the guys stood behind them trying to wake up as they wondered what was up. I grinned, “Good morning lovely slaves. I hope we haven’t gotten you too sore.”

The girls laughed and I smiled as I looked at the other guys. “I’m sure you all know that this was a surprise to me.”

I waited for them to finish laughing and continued. “I think even my slaves planned on capturing me.”

They laughed again as Elizabeth and Sandy grinned. I took a breath, “I want to thank you, all of you. I guess I never realized how many people were my friends until I needed them. Now, I know the guys all want to spend the day having sex, but if they did, they wouldn’t have anything for tonight.”

Everyone laughed and I grinned, “Instead, I had an idea. You girls would have to approve it, all of you. I will take everyone to the mall and buy each girl a gold filigree choker, a collar if you will. I want it to look nice and tasteful. It will have a small gold name plate with her master’s name engraved on it.

It will have a small gold ring, a plain gold wedding band. I will also buy a six foot gold chain for each girl. On the weekends you girls attach the chain to the gold ring and the master that you are… servicing, leads you to and back, by your gold leash.”

They laughed and I smiled, “Well, girls what do you think?”

They whispered and murmured while I waited and then, one by one, they agreed. I smiled, “Good. Now all we need to do is get everybody to the mall.”

That took almost an hour. When I walked into the jewelry shop, it was dead. I asked for the manager and explain what I wanted as the girls began to arrive. It turned out that they would have to special order everything I wanted, which would take a few days, which was fine. He sat each girl down and measured her neck and wrote the name for the small name plate (I didn’t tell him what the name meant.)

I treated everyone to lunch and then it was back to the club. It was a wonderful weekend, I was the only one to fuck each and every slave. No one wanted to go home Sunday afternoon. The beds had all been stripped and I was washing cummy sheets, when someone rang the bell. I opened the door to Elizabeth holding two suitcases and Sandy holding one of her own.

I opened the door wider and let them in. Elizabeth was the first one in and she kissed my cheek on the way past, “I’ll put these in our bedroom.”

I looked at the cases and grinned as Sandy stopped to give me a kiss. “My mom went out of town for a week and said to come stay with my new master.”

I grinned, “Anytime.”

Sandy laughed as Elizabeth came back into the room. She was grinning, “Come look at the bedroom.”

Sandy grinned and followed Elizabeth back to my room. I thought about dinner and my two surprise guests. The girls found me in the kitchen. I was pulling chicken out to make a simple chicken and rice dinner when they returned. I smiled at the girls, “Did you like the bedroom?”

Dinner was quiet with a lot of looks between us. When it was over, I sat back with a sigh. Sandy and Elizabeth kept sneaking touches and I finally laughed, “Alright you two, ready for my first order?”

They grinned as I stood up with dirty dishes and walked to the sink. I looked back, “Go take a long bath together. Use the bath beads that were left on the side of the tub. You are not allowed to wash or touch yourself. You have to wash each other.”

They grinned and Elizabeth was pulling Sandy out of her chair and down the hall in no time. I smiled as I watched them walk away. I cleaned up and put another load of laundry in. After I finished folding the last sheet, I walked back to the master bath and found Elizabeth and Sandy caressing each other. They smiled at me as I knelt beside the tub, “So, you are mine for a week.”

They grinned and I reached out to softly caress one of Sandy’s tits. “Finish your bath and come to bed.”

I leaned over and gave them both a quick kiss before standing and walking out. I thought about what I was going to do as I moved onto the bed. They came out a few minutes later and smiled as they walked naked to the bed. They crawled up on each side of me and I turned to Sandy. I softly kissed her before pulling back, “Can I go down on you?”

She laughed softly, “You don’t even have to ask.”

I gave her a soft kiss and moved down her body and between her legs. Her pussy was shaved clean and I grinned. I licked through her beautiful slit and tugged on her clit with my lips. Sandy grunted and shivered, “Oh that feels good.”

I sucked on her clit, teasing it with my tongue while slipping a finger into her pussy. She put her hands behind my head as I started finger fucking her and wiggling my tongue against her clit. When her hips began to slowly hump up into my face, I slipped a second finger into her. Instead of just finger fucking her, I turned my hand over.

I kept licking and sucking her clit as I began to curl my fingers and fuck up behind her pelvic bone. Sandy was moaning and shaking as I felt her body slowly tighten. My lips were fastened around her clit while my tongue teased it and my two fingers were fucking up into the soft spot I had found.

She was grunting, her body trembling as it strained. Suddenly it happened, Sandy jerked and convulsed in shuddering seizures. Her pussy spasmed tight around my fingers and she squirted and screamed. “OH MY GOD! YES!”

She spasmed and jerked again a couple of seconds later as she squirted and screamed, “FUCK!”

Her head was jerking back and forth and her body twisted and turned. She shuddered hard, squirting again while screaming, “YYYEEESSSS!”

Her body dropped back to the bed. She was panting and trembling and shaking. She spasmed again suddenly and squirted me once more. “Fuck!”

She shuddered as I pulled my face away from her pussy, “mmmmm.”

I smiled and moved to lie beside her, when the bed shifted and I looked at Elizabeth. She was grinning, “I’ve never heard her screaming before.”

Sandy covered her eyes with her hand and kept shivering. I smiled and started feeling and caressing, Elizabeth. Sandy pulled her hand away from her eyes and turned her head to look at me. She caressed my butt and I gave one of Elizabeth’s nipples a gentle tug, “May I fuck you?”

Elizabeth grinned and pulled me on top of her. I pushed her legs open wider with my knees and she reached down to guide my cock to her wet pussy. I pushed into her wonderful pussy while she shivered and groaned. I stopped with my cock pushing tight against her womb.

I gave her a quick kiss and pulled back to start fucking her with steady deep strokes. Every stroke ended with me pushing against her womb. After a few minutes she grunted and I stopped moving as my cock slid into her womb.

It was the first time I had pushed into a woman’s womb. I looked into a surprised Elizabeth’s face, her whole body was shaking. Elizabeth hugged me tighter, “God, I’ve never had anyone do that.”

Sandy was suddenly snuggled up next to us. She touched Elizabeth’s shoulder, “Do what Liz?”

Elizabeth shivered, “Push his cock into my womb.”

I slowly pulled back, feeling her womb close. Elizabeth sighed, “Next time don’t stop.”

I smiled, “Next time?”

She grinned and Sandy giggled. I went back to fucking her, but with long, deep strokes. When I pushed into her womb again a couple of minutes later, I changed how I was fucking her. I stay as deep as I could and went to short strokes and kept grinding against her. Ten minutes later she gasped and suddenly started shaking and thrashing around with her pussy squeezing me.

That was all I could handle and I pushed into her womb harder and started cumming. I pumped thick clumps of sperm into her while she grunted and shuddered. I pulled out of her and lay next to her trying to catch my breath. It was a minute before Elizabeth looked at me, “You wouldn’t have an extra collar around would you?”

Sandy laughed and I smiled and leaned over to give her a kiss. I remembered something in my mother’s jewelry box and rolled out of bed. I walked into the walk in closet and to the jewelry box. I found the gold and jade choker mom had gotten from her mother and the silver and emerald one dad had bought her.

I walked straight to the bed and took Elizabeth’s hand. I pulled her to the edge of the bed and sat her up. I opened the slim case with the jade choker and they gasped. “I don’t know if this will fit, it’s very old.”

I guess it was fate because it did fit. I smiled, “It doesn’t have a name plate, but… I claim you as my slave.”

Sandy clapped and Elizabeth grinned. I turned to Sandy and opened the other case, they both stared as I brought out the choker. I looked at Sandy, “My dad gave this to my mom for their anniversary.”

I wasn’t surprised when it fit around her neck. I looked into her face, “I claim you as my slave.”

I looked at the girls and sighed. I moved onto the bed and sat facing both of them. Sandy and Elizabeth knew something was up and faced me. I looked at them, “People have gotten a wrong impression about me. I guess I am rich, but only in a sense. Since my parents died, I have pretty much closed everyone out.

That was why Doug and some of the other did what they did. Sure, I know they also did it for a chance to have sex, I’m not blind. Elizabeth, you and Sandy came as a surprise. I never expected one girl to want to spend any time with me and there both of you were. I know you choose to do it because it also let you spend time together, but you shared that time with me there, trusting me.”

I took a breath, “To be honest, I didn’t expect it to last beyond the weekend. With both of you moving in… I am a little unsure. What I am sure of is that I do want to spend more time with you and not just in a bed.”

I looked at both of them, “I’m beating around the bush. I am new at this, if I mess up, tell me.”

Elizabeth was the first to move. She crawled to me and pushed me onto my back while Sandy joined her. She caressed my face, “I asked you to claim me because I wanted you. Sandy and I are lovers and I hope that won’t change, but we each had our own reason to do what we did. I have seen you for two years and saw a chance to finally get you.”

I grinned, “Two years?”

She nodded but Sandy touched my face, “I wanted to claim you for the same reason. Elizabeth and I get along so well because we like the same things. As soon as I saw you, I wanted you. The club was just my way to do it.”

She paused, “And after our session of lovemaking, I don’t want another man.”

Sandy and Elizabeth laughed, “We sound like Sarah.”

Elizabeth smiled, “Anything else?”

I smiled, “Anyone want to put pajamas on and help me put the sheets back on in the clubhouse?”

I will never forget that week, Sandy or Elizabeth fucked or sucked me every morning and night. The afternoons were when I made them spend time together. During the week I bought more food for the clubhouse after receiving requests.

It was Thursday when I got the gold collars from the jewelers. I bought new release movies Friday on the way home. Sandy and Elizabeth had teasing me all day so I was horny. I parked and went into the house where the girls were whispering.

I smiled and set the bag of movies down on the table and gave them each a kiss. They laughed and wiggled away, Sandy shook her finger, “Not today.”

I grinned as I headed towards the bedroom to change, “spoil sports.”

I heard cars pulling in as I changed and picked up the large bag of collars on my way out. Elizabeth turned from the kitchen window when I came in, “Everyone is here.”

I nodded to the bags of movies, “I was late because I got the movies you and Sandy wanted.”

She smiled and came closer to caress my chest and kiss me softly. Sandy laughed as she walked up behind Elizabeth and put her arms around her, “If you behave we might let you sneak one in tonight.”

I laughed and kissed her over Elizabeth’s shoulder. I sighed and looked at Elizabeth as I reached behind her neck for the clasp on her collar. Her hands came up to grip mine. I smiled, “A collar for a collar.”

She let my hands go and I pulled her collar off and took her hand and set it in her hand. “Go put it on the bed.”

She smiled and nodded before turning to the hall. I looked at Sandy and held out my arms. She came into them smoothly and put her head against my chest. I hugged her and let my hands move to her collar. I removed it and dropped it into her hand, “Go put it beside Elizabeth’s.”

She nodded and passed Elizabeth on her way back. I picked up the movies and held out my hand to her. She took my hand timidly and I smiled, “I have your other collar. I know you want to wear the one I already gave you but that wouldn’t be fair to your friends.”

Elizabeth sighed as Sandy came back, “I know, it was just…”

Sandy took her hand, “That we thought…”

I turned to face them, “We don’t have to go to the clubhouse.”

Elizabeth and Sandy both smiled and Elizabeth squeezed my hand. “Then we wouldn’t get to hear your disciple preaching…”

I squeezed Elizabeth’s hand and she smiled at Sandy, “Sandy and I need to let the other guys fuck us. We already know you are the one we want. They are just to give us experience.”

She looked at me and Sandy stepped close to kiss me hard before stepping back, “And you need to experience other women.”

I smiled and turned toward the door to lead them out. We crossed and walked into the clubhouse where everyone was talking. Doug saw me and jumped up on a chair, “Is anyone missing?”

After a moment he nodded, “Okay, we can start…”

I held up my hand, “I have business first.”

He looked at me as I raised the bag of collar and he nodded. I walked to the front and faced everyone before pulling a slim case out and calling the girl up to me. I slipped the collar on and called her master and handed the leash to him. One after the other I put a collar on each girl. Sandy and Elizabeth were last and I held their leashes in one hand as I nodded to Doug.

He grinned and stood on the chair again, “okay. Mike had a point last week. We need to be doing something beside sex. Several of us have brought movies and we are going to draw names for a live sex show tonight and tomorrow night. I would like your idea’s on what you want them to do.”

A slave raised her hand and Doug pointed to her. She grinned and looked at me, “The slaves took a poll from last week and Mike was voted the best overall lover. We would like him to put on one of the shows.”

Doug was grinning as he looked at me, “Consider it scheduled for tonight, any volunteers to be his victim?”

Elizabeth laughed and whispered something to Sandy who laughed as everyone looked at them. Elizabeth held her hand up and Doug smiled, “You want to volunteer?”

Elizabeth grinned and I could see she was looking at Sarah, “Yeah, I volunteer Sarah.”

All the girls giggled and Sarah blushed and then laughed, “Alright, as soon as we put our clothes away everyone come back here.”

David grinned and pulled a key out of the bowl before tossing it to me. I glanced at it and Elizabeth took my hand while Sandy grabbed her other one and started pulling me through the crowd towards the other end of the clubhouse. Our room was almost the last one on the bottom floor and I unlocked it and led the girls in. They grinned and kiss me before turning to face each other.

I always like watching them together. They kissed as their hands began feeling and undressing each other. When they were naked I laughed and pushed them towards the bed as I gathered their clothes and turned to hang them up. When I turned around they were right there reaching out to undress me. When I was naked they rubbed their breasts on me as they laughed and then they were leading me out the door.

I grinned as they led me down to a large couch where a few others were gathering. Elizabeth and Sandy both had wrapped their leash around their waist and the other slaves grinned and followed suit. Elizabeth held me on one side and Sandy held me from the other. Sarah came back with an alluring sway to her hips that had the other guys drooling. Doug stepped up on a coffee table, “Is everyone here?”

Everyone cheered and he grinned before bowing to me, “You’re on.”

Elizabeth laughed and pushed me towards Sarah, “Your disciple awaits.”

Everyone laughed and Sarah grinned. I smiled and took her leash when she held it out. I looked at Doug, “Remind me to buy another bed for out here.”

He grinned and everyone laughed as I turned Sarah and laid her back on a large cushioned footstool. I knelt beside her and caressed her body, cupping a breast and then caressing her pelvis. She shivered as I leaned over to lick and suck on a nipple. I kissed down her body and moved between her legs. I kissed her erect clit as everyone murmured and she sighed and shivered.

I licked through her pussy and pushed my tongue up inside her as she shivered. She groaned and shuddered as I sucked on her clit and wiggled my tongue against it. I slipped two fingers up inside her to rub her g spot. She gasped and jerked as her pussy tightened, “Yes!”

I kept licking through her pussy as I rubbed her g spot with my fingers. A couple of minutes later she was almost vibrating as she tossed her head and humped up into my face. She arched her back suddenly as her body stiffened. She jerked and then did it again before howling and thrashing around as she squirting in my face, “YYYEEESSSSSSS!”

She bucked and jerked as she squirted again, squeezing my fingers, “FFFUUUUCCCCCKKKKKK!”

She jerked violently and started convulsing as she squirted once more, “OOOOOOHHHHHH… GGGOOOODDDDD!”

I pulled my fingers out of her and kissed her clit before moving up her spasm racked body. I kissed her as I pushed my drooling cock into her. She was very wet as my cock pushed into her deep. Sarah shuddered hard and lifted her legs into the air, “YYYYEEEEEESSSSSSS!”

I pressed against her as the head of my cock pushed against her cervix. I started long, slow thrusts that almost pulled my cock out. I put everything out of my head as Sarah started thrashing around. Her pussy was contracting to grip my cock every time I pulled out. She was shaking her head a few minutes later and arched her back before squirting and screaming, “FFFFFUUUUUCCCCCCCKKKKKKK!”

I continued to fuck her but decided not to prolong it. I started fucking her a little harder and kissed her. Sarah jerked and continued to spasm as her pussy milked my cock. A few minutes later I pushed into her harder and held still as my cock throbbed. When it erupted with a huge gushing stream of cum through her open cervix and into her womb she screamed, “OOOHHHH… GGGGOOOOODDDDDDD… YYYYYEEEEESSSSSSS!”

I held her bucking body as she thrashed around while I pumped huge spurts of sperm into her. It was a long couple of minutes before Sarah began to relax. My cock was still hard as it throbbed and pulsed against the opening to her womb. I finally pulled out and stood up to everyone clapping. Sarah dropped her legs as she twitched and spasmed. I reached down to pulled her up and hug her, “Thank you Sarah.”

She groaned and shivered before grinning, “That’s what a slave is for.”

Everyone laughed and I moved to sit on the couch as they all started talking. Elizabeth and Sandy bent to kiss my cheek before turning to other masters and holding out their leashes. As the room cleared slowly, Carly sat down beside me, “You’re still hard.”

She held out her leash and grinned, “You don’t have to make me scream like Sarah.”

I laughed and stood as I took her leash. I led her to my room and she moved onto the bed after I removed the leash. I followed and spread her legs before licking through her pussy. She shivered and cupped the back of my head. I continued to lick and tease her clit while she shivered and moaned. It was a few minutes before she spasmed and covered her pussy.

I moved up her body and pushed into her wet warm pussy. I fucked her slowly, stopping to grind and press against her each time I was deep inside her. Carly began shaking and jerking as her pussy continued to spasm and ripple around my cock. A couple of minutes after I started she gasped and arched her back, “YES!”

She jerked and started convulsing as her pussy contracted. I kept fucking her as she thrashed around and tossed her head moaning, “Oh fuck!”

I smiled but kept moving as she finally went to erratic jerks and twitches. It was almost fifteen minutes before I groaned and shoved into her nice and deep. My cock throbbed a couple of times before suddenly spewing huge jets of cum. Carly jerked hard and spasmed as her pussy gripped my pumping cock. I spurted and spewed deep inside her and then relaxed and slowing pulled out. I moved off her and caressed a firm breast, “Thanks Carly.”

She laughed and rolled out of bed, “Your welcome master.”

I grinned and followed her out of bed and after replacing the leash we went out into the common area. Almost everyone was back and sitting around watching a movie. I grinned and caressed Carly’s bare butt before handing her leash to her. I went towards the kitchen and something to drink. It was completely different than last weekend. More relaxed as everyone realized this wasn’t just about sex.

Every now or then one girl or guy would say something and disappear. Elizabeth and Sandy both appeared to sit with me several times. I finally leaned over a couch as the movie ended and caressed Alyssa, “Would you come with me slave?”

She blushed and I knew she was having her period, one of the guys had said something. She stood and opened her mouth but I held up my hand for her leash. She put her leash in my hand and followed me. I surprised her by heading towards the showers and removing her leash and hanging it with the towels before pulling her in with me.

The walls of the shower were glass so everyone saw when I kissed her and backed her up to the wall. I knelt and spread her legs slightly before licking her clit. She jerked and put her hand on my head, “Don’t…”

I looked up into her worried face, “hush.”

I leaned in and went back to licking and sucking on her clit. It was a minute before her hips thrust out and she cried out, “YES!”

She jerked and shuddered as I started humming and raking my teeth over her clit. She spasmed and jerked erratically before I finally stood and embraced her. I kissed her and smiled, “Can I fuck you now?”

She shuddered and groaned before turning and putting her hands against the wall. I spread her legs and bent to push my cock into her. I held her hips and fucked her slowly with deep strokes. I felt her pussy squeezing my cock as she shivered and shuddered. Her head dropped and she kept shuddering as I fucked her harder.

I reached around pulling one of her hands down to rub her clit. She started thrusting back harder as her tight pussy spasmed and rippled around my cock. Alyssa jerked erratically and cried out, “Fuck me!”

I shoved into her shaking body to spurt jets of cum as she shuddered and spasmed. She kept thrusting back as I continued to squirt my cum into her. She tossed her head and groaned as I finally stopped cumming and slowly pulled out. I turned to rinse off as Alyssa stood and turned. I grinned and pulled her under the water and began washing her.

She finally laughed and pushed me back before turning to get out. That was when she saw the small crowd and blushed. Her master came to hold a towel for her and dry her off. I took another towel that Doug tossed to me as he shook his head. Everyone went back to the living area where they started making dinners. Elizabeth and Sandy appeared to eat with me. They were grinning and Sandy squeezed my hand, “Thanks for taking care of Alyssa.”

I grinned, “Actually she took care of me.”

They both laughed and Elizabeth leaned over to kiss my cheek. After dinner was another movie that most of the girls wanted to see. Sandy and Elizabeth had taught me a lot in the week they had lived with me. I sat on the couch with several girls as the guys would occasionally lead one away. When the movie ended a brunette named Ivy leaned over the back of the couch, “master?”

I glanced at her and she grinned, “I’m horny.”

I grinned as everyone around us laughed. I stood and held out my hand for her leash. She handed it to me and followed as I went to my room. Her pussy was a little cummy but I removed her leash and pushed her back on the bed. I moved between her legs and started teasing her clit. Ivy shuddered and groaned as her hips pushed up. It wasn’t long before she started shuddering and shaking.

I moved up and slowly pushed into her. Ivy groaned and thrust up as I pushed the rest of the way into her pussy. I was buried with the head of my cock pressed against her womb before I pulled back and started to fuck her with deep strokes. Ivy groaned and shuddered after a minute and held me as her hips met mine, “Fuck!”

I grinned and fucked her hard for a minute before burying my cock to hump against her. She jerked and screamed as her pussy contracted around my cock, “FUCK! YES!”

I used short grinding thrusts and she kept jerking and spasming as she tossed her head and moaned. I pulled back until I was almost out of her and then started slow deep thrusts. Ivy groaned as her warm pussy spasmed around my cock, “GOD!”

I kept fucking her slowly and her body gradually stiffened until she suddenly went crazy, bucking and jerking. She writhed around as I started fucking her harder trying to cum. Her body went tense and she screamed, “OH MY FUCKING GOD! YYYYYEEEEEEESSSSSSSSSSSSSS!”

I shoved into her and began spurting jets of cum as she twitched and shuddered. She dropped to the bed panting and shook her head as I pulled out and lay beside her. I cupped a breast and tugged on the nipples, “That was a good fuck.”

She started laughing and turned to kiss me. I slid out of bed and grabbed her leash as she followed. When we came out everyone started clapping and whistling. I blushed and looked at Ivy’s red face. She finally grinned and bowed. I handed her the leash and headed toward the kitchen. Elizabeth slipped under my arm, “I’m jealous.”

I smiled, “You get that all the time.”

She laughed and turned me to give me a passionately kiss. She caressed my face, “I need to be fucked and all the guys are already worn out.”

I was surprised and looked around before grinning, “Let me get something to drink and then we can call it a night.”

She grinned and turned towards one of the couches, “Let me get Sandy.”

I grabbed a few bottles of water and turned to go back to my room. Several girls waved and called goodnight as I passed. Sandy and Elizabeth were waiting beside the door when I got there. When I closed the door they were kissing. I shook my head and pushed them towards the bed. I set the water beside the bed and followed the girls onto the bed. I rubbed Elizabeth’s messy pussy, “How could the other guys be worn out already?”

She shuddered and Sandy laughed, “Because the other girls fucked them today.”

I laughed and lay next to Elizabeth and lifted her leg before pushing into her cummy pussy. She groaned and went back to kissing Sandy as I fucked her slowly from behind. She felt like I had fucked her four or five time and was almost sloppy with cum. I reached around her to cup a breast and tug on her nipple. Elizabeth jerked and shuddered hard as her pussy squeezed my cock, “SHIT!”

I grinned and kissed the nap of her neck. Sandy laughed and pulled away, “Fuck her missionary.”

Elizabeth laughed and pulled away before rolling onto her back. I moved between her legs and Sandy guided my cock to her messy pussy. I pushed into her and started fucking her hard, grinding against her. It was a couple of minutes before Elizabeth jerked and spasmed erratically.

Her pussy contracted around my cock and she started shaking. When her body stiffened, I buried my cock and just held her. Elizabeth finally sagged to the bed and hugged me, “You always do it just right.”

Sandy laughed as she rolled onto her back, “Fuck me now.”

I grinned, “You two are nymphomaniacs.”

They laughed as I pulled out of Elizabeth and moved between Sandy’s spread legs. I slowly pushed into her cummy pussy and she sighed as her warm cunt squeezed my cock. I started off slowly but used long, deep thrusts. Sandy wrapped her legs around me and each time I buried my cock she pressed up hard. It was a few minutes before her pussy tightened and she gasped before stiffening, “MIKE!”

Sandy grunted and started thrashing around as I continued to fuck her. I was going faster and a little harder. Sandy was breathing hard and shaking as she met each of my thrusts. When I shuddered and jabbed into her and held still she jerked and cried out, “I’M CUMMING!”

I shook my head as I started spurting and pumping cum against her womb. Sandy shuddered uncontrollably and I continued to cum deep inside her body. When I stopped she sighed and her legs dropped to the bed. I grinned and pulled out before rolling onto my back and pushing her towards Elizabeth who grinned and pulled her close to snuggle.

This weekend was a little different then last weekend. The other guys had learned a lesson and began trying to please the girls. Saturday I fucked ten girls before pulling Elizabeth and Sandy to bed exhausted. I fucked three more before everyone left Sunday afternoon.

Sandy and Elizabeth were in the bath and I was doing laundry again when the doorbell rang. I knew who the woman was as soon as I opened the door. She looked just like Sandy only a little older. I smiled and opened the door all the way. “Sandy is taking a bath with Elizabeth. I’ll get her.”

She smiled, “I’m Cloud and I’ll find her if you just point the way.”

I pointed towards the hall and she turned to head that way. I waited and then went back to the doing laundry. Ten minutes later Sandy came out naked. She grinned and hugged me, “Mom wants to borrow you.”

I straightened her collar, “And did you say yes?”

Sandy laughed, “Elizabeth is sitting on the edge of the bed saving me a seat.”

I grinned, “I guess that means yes.”

She took my hand and pulled me after her. When I walked into the bedroom it was to see a naked Cloud in the center of my bed with Elizabeth sitting on the edge. I released Sandy and undressed before climbing onto the bed and laying down next to her mother. I smiled and cupped her full breasts, “Feeling horny?”

She grinned, “Yes, my daughter said you could cure that.”

I laughed and turned to move down her body. “Just provide a treatment.”

She laughed and spread her legs as I moved between them. I caressed her beautifully trimmed pussy and leaned close to kiss the small erect clit. I licked up through her pussy, stopping to nibble on her inner lips while she shivered and lifted her hips. I teased her clit with my tongue while rubbing along the sides of her pussy with my thumbs. When I sucked in her clit, I squeezed it between my lips and hummed.

Cloud shuddered and I moved lower to push my tongue up inside her. I went back to teasing her clit as I slipped a couple of fingers into her. As I sucked on her clit and wiggled it back and forth with my tongue I was fucking my fingers up against her g spot. It wasn’t long before she was breathing hard as her body jerked and spasmed.

When her body went rigid I covered my teeth and bit her clit gently. She went crazy, bucking and thrashing around as she screamed, “FFUUUCCCCKKKKKK! YYYYYYYEEEEEEEEESSSSSSSSSSSSSSS!”

She squirted in my face and continued to shudder violently, thrusting her pelvis into my face over and over. She squirted again as her back arched, “YYYEEESSSS!”

I pulled my fingers out and moved up her body pushing my cock into slippery pussy easily. I pushed all the way to the back of her pussy as she continued to spasm. I started off fucking her with long, deep thrusts that only seemed to make Cloud go into convulsions. “FFFUUUUUUCCCCCCCKKKKKKKK… MMMMMMEEEEEE!”

Elizabeth and Sandy both laughed as I buried my cock to hump and press against her. Cloud was writhing around and almost whimpering as her body was wracked with spasms. I fucked her hard trying to cum and she arched her back and stopped moving, “YYYYYYYEEEEEEEEESSSSSSSSSS!”

A minute later I pushed into her womb to pump a large spurt of sperm. She shook but held still as I filled her and then she dropped to the bed letting my cock slip out of her as she lay panting, “Damn!”

I moved off her and smiled at Elizabeth and Sandy, “Call me if she needs more.”

They grinned and Cloud groaned as she rolled onto her side. I went back to my laundry. When I came into the kitchen later, Elizabeth and Sandy were busy making dinner while Cloud was sitting at the table. I smiled and washed my hands before kissing the two girls, “Thanks for getting it started for me.”

Sandy looked at her mother and grinned, “We thought you deserved a treat.”

I laughed as I took over making dinner. Cloud cleared her throat, “I was talking to the girls.”

I looked at her and she actually blushed, “Would you mind another slave?”

I looked at Sandy and Elizabeth, “The club…”

Elizabeth grinned and put her arm around my waist, “We were thinking something more private.”

I smiled, “Private?”

Sandy came to hug Elizabeth and look over her shoulder, “Like just between us.”

I looked at Cloud as she continued to blush, “Since you both are telling me…”

Elizabeth caressed my face, “We think it would be a good idea.”

I nodded, “Okay but we’ll need to go shopping for her collar.”

Cloud looked at Elizabeth and Sandy and they were fingering their jeweled choker necklaces. She grinned, “Can I get one in red?”

The club lasted two more years and then everyone began moving away, to college or jobs. Sandy and Elizabeth didn’t mind, they both went to a local college. We still keep the Clubhouse up and every once in a while even spend a weekend there when a friend comes back to visit.

Cloud was an influence on both Sandy and Elizabeth, especially Elizabeth. She was at every game and supported her like her mother never had. Sandy and Elizabeth are both planning their first pregnancy now. They all subtly guide my life now as well, but still love to play slave.

]]>
http://www.ceritadewasaplus.com/clubhouse.html/feed 0

» Tags: , ,

Comments 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>